Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) sekarang ini telah menjadi masalah

kesehatan yang sangat penting di negara-negara berkembang tropis. Angka kejadian


demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) meningkat secara signifikan
pada beberapa tahun terakhir. Setiap tahunnya diperkirakan 50-100 juta kasus dari
demam dengue dan sekitar 250.000-500.000 kasus terjadi di dunia. Penyakit DBD
ini telah menyerang lebih dari 20 negara dengan jumlah kasus lebih dari 17.000
kasus termasuk 225 kasus kematian. Pergantian berbagai jenis serotype dari DBD
telah dilaporkan dari berbagai negara. DBD dapat mengenai anak-anak dan orang
dewasa, serta infeksi sekunder dari jenis virus DBD yang berbeda serotype
merupakan faktor resiko keparahan penyakit DBD.1
Di Indonesia, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah
Dengue (DBD) merupakan penyakit akibat virus yang masih menjadi masalah
kesehatan di masyarakat. Departemen Kementrian Kesehatan melaporkan sampai
pertengahan tahun 2011 penyakit DBD telah menjadi masalah endemik di 122
kecamatan, 1800 desa dan menjadi kejadian luar biasa (KLB) pada tahun 2005
dengan angka kematian sekitar 2%. Pada tahun 2006, kasus DBD sekitar 104.656
kasus dengan angka kematian 1,03% dan pada tahun 2007 jumlah kasus mencapai
140.000 dengan angka kematian 1%.1
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemik di provinsi Aceh
dengan jumlah kasus di tahun 2007 sebanyak 40,03/1 juta penduduk yang naik
secara signifikan menjadi 51,82/1 juta penduduk pada tahun 2008. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi daerah di provinsi Aceh sangat cocok bagi tempat
berkembang biak nya nyamuk Aedes aegepty sebagai nyamuk penyebar virus DBD.
Dari data Dinas Kesehatan Propinsi Aceh, didapatkan data bahwa hanya 39,22%
dari rumah tangga yang bebas dari nyamuk ini.1

Banyak cara dapat diterapkan dalam upaya pencegahan penyakit DBD


seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD), dan
peningkatan perilaku yang sesuai seperti kebiasaan tidur, penggunaan obat anti
nyamuk, kelambu, serta kebiasaan tidak menggantung baju sembarangan. Cara-cara
pencegahan penyakit DBD dapat diterapkan dengan pendekatan program-program
pendidikan, pemberian bubuk abate secara gratis serta peningkatan keterlibatan
masyarakat dalam upaya peningkatan kebersihan lingkungan.1
Menentukan upayaupaya pencegahan DBD menjadi hal penting yang harus
dilakukan untuk mencegah kemungkinan kejadian luar biasa dari penyakit DBD.
Puskesmas memegang peranan penting sebagai unit pelayanan kesehatan terdepan
dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang salah satunya adalah
pencegahan dan penanggulangan DBD. Puskesmas diharapkan dapat melakukan
pencegahan penularan penyakit serta mengurangi angka kesakitan dan kematian
akibat DBD baik dengan penanganan aktif maupun dengan penyuluhan.2

1.2

Perumusan Masalah

Angka kesakitan DBD yang masih tinggi terutama pada masyarakat Desa

Keude Krueng di Puskesmas Kuta Makmur.


Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui tentang pencegahan dan
penanggulangan awal DBD yang benar.

1.3

Tujuan

1.3.1

Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang pencegahan dan penanggulangan awal DBD di

rumah secara menyeluruh.

1.3.2

Tujuan khusus

1. Diketahuinya sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan


penanggulangan awal DBD yang benar di Puskesmas Kuta Makmur.
2. Diketahuinya informasi mengenai penyakit DBD serta gejala-gejala yang
dapat dijumapi pada DBD dan cara pencegahannya.
3. Diketahuinya cara penggunaan bubuk abate dalam membunuh jentik
nyamuk.
4. Diketahuinya tempat-tempat berkembangbiak jentik nyamuk DBD.

1.4

Manfaat

1.4.1

Manfaat Teoritik
Mini projek ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman belajar di lapangan

melalui studi kasus dan untuk meningkatkan pengetahuan. Selain itu melatih dalam
menilai suatu kemampuan dan kecermatan dalam berinteraksi di dalam masyarakat
serta mencari alternatif penyelesaian dari suatu masalah dan memutuskan
penyelesaiannya.

1.4.2

Manfaat Aplikatif

1. Mengetahui tentang penyakit DBD yang diharapkan dapat dilakukan


pencegahan dengan meningkatkan edukasi dan informasi pada masyarakat.
2. Sebagai informasi dan data bagi pelaksana program terutama yang akan
melaksanakan program yang berhubungan dengan mini projek ini dan
khususnya bagi penulis dapat menambah wacana keilmuan dan wawasan di
bidang ilmu penyakit menular.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Demam Berdarah Dengue


Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis
demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia, dan diasetis hemoragik. Pada DBD terjadi
perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
atau penumpukan cairan di rongga tubuh.2
2.2

Epidemiologi
Virus dengue tersebar sangat luas di benua Asia, Afrika, Amerika dan juga

Austrlia dengan endemisitas dan kombinasi tipe virus yang belum tentu sama. Asia
Tenggara termasuk salah satu wilayah endemik dimana ke empat tipe virus dapat
ditemukan.1
Di Indonesia dilaporkan sampai pertengahan tahun 2011 penyakit DBD telah
menjadi masalah endemik di 122 kecamatan, 1800 desa dan menjadi kejadian luar
biasa (KLB) pada tahun 2005 dengan angka kematian sekitar 2%. Pada tahun 2006,
kasus DBD sekitar 104.656 kasus dengan angka kematian 1,03% dan pada tahun
2007 jumlah kasus mencapai 140.000 dengan angka kematian 1%.1
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes
(terutama A. aegypti dan

A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya

berkaitan dengan sanitasi lingkngan dengan tersedianya tempat perindukan bagi


nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih ( bak mandi, kaleng bekas, dan
tempat penampungan air).2
Beberapa faktor yang berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue,
yaitu : 2
1) Vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasaan mengigit, kepadatan vektor di
lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain;

2) Penjamu, terdapatnya penderita di lingkungan/ keluarga, mobilisasi dan paparan


terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin;
3) Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.
2.3 Etiologi
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk
dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan
diameter nukleokasid 30 nm dan ketebalan selubung 10 nm, sehingga diameter
virion kira-kira 50 nm.Flavivirus terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan
berat moleku 4 x106. 3
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang
semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demem berdarah dengue.
Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe
terbanyak.3
2.4

Penularan
Virus dengue ditularkan ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes

yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti. Virus dengue mampu berkembang biak
dalam tubuh manusia, binatang lain seperti monyet, simpanse, kelinci, mencit,
marmot, tikus dan jug hamster serta serangga, khususnya nyamuk. Manusia adalah
penjamu utama yang dikenai virus, meskipun studi telah menunjukkan bahwa
binatang primata pada beberapa bagian dunia dapat terinfeksi dan mungkin
bertindak sebagai sumber virus untuk nyamuk penggigit. Walaupun binatang primata
merupakan hospes alami virus, viremia yang timbul biasanya lebih rendah dan
pendek masanya. Pada manusia masa viremia berkisar 2-12 hari, sementara pada
binatang primata 1-2 hari dan titer virus dalam darah manusia dapat mencapai lebih
dari seratus kali dibandingkan darah binatang primata.3,4

2.5

Manifestasi Klinis

2.5.1

Demam Dengue
Anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat mengalami baik sindrom

demam atau penyakit klasik yang dapat melemahkan dengan onset mendadak
demam tinggi, kadang-kadang dengan dua puncak (double saddle), sakit kepala
berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot, tulang dan sendi, mual dan muntah, dan
ruam. Biasanya ditemukan leukopenia dan mungkin tampak trombositopenia.1,4
Pada beberapa kasus epidemik, DF dapat disertai dengan komplikasi
perdarahan, seperti epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan gastrointestinal,
hematuria dan menorrhagi. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila tendon dan
otot perut ditekan. Komplikasi lain yang jarang adalah orkhitis, ovaritis, keratitis,
dan retinitis.5,6
2.5.2

Demam Berdarah Dengue


Kasus dengue ditandai dengan adanya 4 manifestasi klinis mayor: demam

tinggi, fenomena perdarahan, dan sering adanya hepatomegali dan kegagalan


sirkulasi. Trombositopenia sedang sampai nyata disertai dengan hemokonsentrasi
secara bersamaan, merupakan temuan laboratorium pada kasus DHF. Perubahan
patofisiologi utama yang menentukan keparahan penyakit pada DHF dan yang
membedakannya dari DF adalah adanya perembesan plasma, yang ditandai dengan
adanya peningkatan hematokrit (misalnya hemokonsentrasi), efusi serosa dan
hipoproteinemia. Trombositopenia dan hemokonsentrasi dapat terdeteksi sebelum
demam menghilang dan onset syok.4,5
2.5.3

Sindrom Syok Dengue


Keadaan pasien yang berkembang ke arah syok tiba-tiba memburuk setelah

demam 2-7 hari. Perburukan ini terjadi pada waktu atau segera setelah penurunan
suhu tiba-tiba antara hari ke-3 dan ke-7 sakit. Terdapat tanda khas dari kegagalan
sirkulasi: kulit menjadi dingin, bintik merah, dan kongesti; sianosis sekitar oral
sering terjadi; nadi cepat. Pasien pada awalnya menjadi letargi, kemudian menjadi
gelisah dan dengan cepat memasuki tahap kritis dari syok.4,5,7

DSS biasanya ditandai dengan nadi cepat, lemah dengan penurunan tekanan
nadi (<20 mmHg, tanpa memperhatikan tingkat tekanan) atau hipotensi dengan kulit
dingin dan lembab dan gelisah. Pasien dapat melewati tahap syok berat, dengan
tekanan darah atau nadi menjadi tidak terbaca. Namun, kebanyakan pasien tetap
sadar hampir pada tahap terminal. Durasi syok pendek, secara khas pasien
meninggal dalam 12-24 jam, atau sembuh dengan cepat setelah terapi pengganti
volume yang tepat. Syok yang tidak teratasi dapat menimbulkan komplikasi, dengan
adanya asidosis metabolik, perdarahan berat saluran cerna dan organ lainnya, dan
mempunyai prognosis yang buruk. Pasien dengan perdarahan intrakranial dapat
mengalami kejang dan koma. Ensefalopati, yang dilaporkan, kadang dapat terjadi
dalam hubungannya dengan gangguan metabolik dan elektrolit atau perdarahan
intrakranial.4,5
Tingkat Keparahan Demam Berdarah Dengue.1
Derajat I : Demam disertai gejala konstitusional non spesifik, satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah tes torniquet positif dan atau mudah
memar.
Derajat II : Perdarahan spontan selain pada derajat I, biasanya bentuk perdarahan
kulit atau perdarahan lain.
Derajat III : Gagal sirkulasi yang ditandai dengan nadi cepat dan lemah serta
penurunan tekanan nadi atau hipotensi, dengan adanya kulit dingin
dan lembab serta gelisah.
Derajat IV : Syok berat dengan tekanan darah atau nadi tidak teraba.
2.6

Diagnosa Klinis
Dalam menegakkan diagnosis DHF,beberapa indikasi yang penting perlu

mendapatkan perhatian antara lain:4


Tanda dari infeksi dengue:
-

Demam tinggi
facial flusing
Tidak ada tanda ISPA
Tidak tampak tanda fokal infeksi
Uji tourniquet positif

Trombositopenia
Hematokrit naik
Indikator Fase Syok

Hari sakit ke 4-5


Suhu turun
Nadi cepat tanpa demam
Tekanan nadi turun/hipotensi
Leukopenia < 50000/nm3
WHO (1997) memberi pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis
DHF, disamping menentukan derajat penyakit:1,4
Klinis

Mendapatkan demam tinggi, tanpa sebab jelas berlangsung trus-menerus selama 2-7

hari
Perdarahan (uji tornique positif) seperti petechie, epitaksis, hematemesis, dan lain-

lain.
Hepatomegali
Syok: nadi kecil dan cepat dengan tekanan nadi 20 mmHg, atau hipotensi disertai
gelisah dan akral dingin.
Laboratorium:

Trombositopenia ( 100.000/l)
Hemokonsentrasi (kadar Ht 20 % dari normal)
2.7

Diagnosa Laboratorium
Pada DF akan dijumpai leukopenia pada hari ke-2 atau hari ke-3. Air seni

mungkin ditemukan albuminuria ringan. Sumsum tulang pada awal sakit biasanya
hiposeluler, dan pada hari ke-5 terdapat gangguan maturasi, sedangkan pada hari ke10 biasanya sudah kembali normal.8
Anti dengue IgM yang dideteksi dengan MAC-ELISA tampak pada sebagian
pasien dengan infeksi primer saat masih demam, dan pada sebagian lagi tampak
dalam 2-3 hari penurunan suhu tubuh. Pada pasien dengue 80% menunjukkan kadar
antibodi IgM yang terdeteksi pada hari ke-5 sakit, dan 99% pada hari ke-10. Sekali
terdeteksi, kadar IgM meningkat dengan cepat dan tampak memuncak sekitar 2
minggu setelah muncul gejala, lalu turun sampai kadar yang tidak terdeteksi selama
2-3 bulan. Anti dengue IgG tampak setelahnya.2,8

Infeksi sekunder dengan virus dengue mengakibatkan timbulnya kadar IgG


anti dengue sebelum atau bersamaan dengan IgM. Bila terdeteksi, kadar IgG
meningkat dengan cepat, dengan puncak 2 minggu setelah onset gejala, lalu turun
dalam 3-6 bulan. Netralisasi antibodi terhadap virus terjadi dengan cepat yang
meningkat seiring dengan peningkatan demam dan mempengaruhi penemuan virus
dari serum.2,6
Interpretasi pemeriksaan serologi Haemaaglutination Inhibiton Test, yaitu:2,9

Pada infeksi primer, titer antibodi HI masa akut, bila serum diperoleh sebelum
hari ke-4 sakit < 20 dan titer akan naik 4 kali pada masa konvalesen tapi tidak
lebih 1:1280.

Pada infeksi sekunder, adanya infeksi baru ditandai titer antibodi HI < 1:20 pada
masa akut, sedangkan pada masa konvalesen titer 1:2560. Tanda lain infeksi
sekunder bila titer antibodi akut 1:20 dan titer naik pada masa konvalesen.
Pendekatan Diagnostik

Isolasi virus

Deteksi antigen pada jaringan terfiksasi

Reverse Transcription PCR Amplification of Dengue RNA

Tes serologis

MAC ELISA

Tes Haemaaglutinasi Inhibition

Tes netralisasi

Immunoassay dot-blot

Tes fiksasi-komplemen
Trombositopenia dan hemokonsentrasi merupakan gejala khas pada DHF.
Penurunan jumlah trombosit sampai di bawah 100.000 per mm 3 biasanya dijumpai
antara hari ke-3 dan ke-8, sering sebelum atau bersamaan dengan perubahan
hematokrit. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih
dianggap menjadi bukti adanya peningkatan permeabilitas vaskuler dan kebocoran

plasma. Perlu diperhatikan bahwa kadar hematokrit dapat dipengaruhi baik


penggantian dini volume atau oleh perdarahan.2,5,6
Pada DHF, jumlah sel darah putih bervariasi pada awal penyakit, berkisar
dari leukopenia sampai leukositosis ringan. Albuminuria ringan yang bersifat
sementara kadang-kadang terjadi. Pada kebanyakan kasus, faktor koagulasi atau
faktor fibrinolitik menunjukkan penurunan fibrinogen, protrombin, faktor VIII,
faktor XII, dan antitrombin III. Penurunan antiplasmin-alpha (inhibitor alphaplasmin) dijumpai pada beberapa kasus. Pada kasus berat dengan kelainan hati yang
nyata, terdapat penurunan pada kadar faktor protrombin, vitamin K, faktor V, VII,
IX, dan X.2
Temuan lainnya terdapat adanya hipoproteinemia, hiponatremia, dan
peningkatan kadar serum aspartat aminotransferase. Asidosis metabolik sering
terjadi pada kasus syok yang lama. Pemeriksaan sinar X pada dada menunjukkan
adanya efusi pleura, kebanyakan pada sisi kanan. Pada syok berat, efusi pleura
bilateral bisa terdapat.5,6
2.8

Diagnosa Banding

a.

Pada awal perjalanan penyakit, diagnosa banding mencakup infeksi


bakteri,virus atau infeksi seperti parasit : demam tifoid, campak, influenza,
hepatitis,

demam

chikungunya,

leptospirosis,

dan

malaria.

Adanya

trombositopenia yang jelas disertai hemokonsentrasi dapat membedakan antara


DBD dengan penyakit lain.11
b.

Sulit membedakan DHF derajat sedang dengan Chikungunya Hemorrhagic


Fever (CHF) . Pada CHF serangan demamnya lebih mendadak, masa demam
lebih pendek, suhu lebih tinggi, hampir selalu disertai ruam makulopapular,
injeksi konjungtiva, dan lebih sering dijumpai nyeri sendi. Proporsi uji torniquet
positif, petekie dan epistaksis hampir sama dengan DBD. Pada CHF tidak
ditemukan perdarahan gastrointestinal dan syok.11

c.

Perdarahan seperti petekie dan ekimosis ditemukan pada beberapa penyakit


infeksi, misalnya sepsis, meningitis meningokokus. Pada sepsis, sejak semula
pasien tampak sakit berat, demam naik turun dan ditemukan tanda tanda

10

infeksi. Disamping itu jelas terdapat leukositosis disertai dominasi sel


polimorfonuklear (pergeseran ke kiri pada hitung jenis). Pemeriksaan laju endap
darah (LED) dapat dipergunakan untuk membedakan infeksi bakteri dengan
virus. Pada meningitis meningokokus jelas terdapat gejala rangsangan meningeal
dan kelainan pada pemeriksaan cairan serebrospinal.
d.

Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) sulit dibedakan dengan DBD


derajat II, oleh karena didapatkan demam disertai perdarahan dibawah kulit.
Pada hari hari pertama diagnosis ITP sulit dibedakan dengan penyakit DBD,
tetapi pada ITP demam cepat menghilang, tidak dijumpai leukopeni, tidak
dijumpai hemokonsentrasi, tidak dijumpai pergeseran kekanan pada hitung jenis,
dan pada fase penyembuhan DBD jumlah tombosit lebih cepat kembali normal
dari pada ITP.2

e.

Perdarahan dapat juga terjadi pada leukemia atau anemia aplastik. Pada
leukemia demam tidak teratur, kelenjar limfe dapat teraba dan anak sangat
anemis. Pemeriksaan darah tepi dan sumsum tulang akan memperjelas diagnosis
leukemia. Pada anemia aplastik anak sangat anemis, demam timbul karena
infeksi sekunder. Pada pemeriksaan darah ditemukan pansitopenia.2,5

2.9

Komplikasi
Manifestasi ini termasuk fenomena sistem saraf pusat seperti kejang,

spastisitas, perubahan kesadaran, dan paresis sementara. Bentuk kejang halus


kadang terjadi pada fase demam pada bayi. Intoksikasi air akibat pemberian cairan
isotonik berlebihan untuk mengatasi pasien DHF/ DSS dengan hiponatremi dapat
menimbulkan ensefalopati. Perawatan dengan sangat hati-hati harus dilakukan untuk
mencegah komplikasi iatrogenik termasuk sepsis, pneumonia, infeksi luka, dan
hidrasi berlebihan.5,10,
Serotipe dengue 1, 2, dan 3 telah diisolasi dari pasien yang meninggal karena
gagal hati, dengan infeksi dengue primer maupun sekunder. Hepatosit nekrosis
sekunder ditemukan meluas pada beberapa kasus ini. Manifestasi lainnya mencakup
gagal ginjal dan sindrom uremik hemolitik, kadang pada pasien dengan keadaan
defisiensi glukosa-6-fosfat dehisrogenase (G6PD) dan hemoglobinopati.5

11

2.10

Penatalaksanaan

2.10.1 DBD tanpa syok (derajat I dan II) 11


A. Medikamentosa

Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol bukan aspirin


Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan (misalnya

antasid, antiemetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam hati.


Kortikosteroid diberikan pada DBD enselopati apabila terdapat perdarahan

saluran cerna kortikoteroid tidak diberikan.


Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.

B. Suportif

Kehilangan

permeabilitas kapiler dan perdarahan.


Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan untuk mengatasi masa peralihan

dari fase demam ke fase penuruan suhu dengan baik.


Cairan intravana diperlukan apabila (1) anak terus-menerus muntah, tidak mau

cairan

plasma

perlu

diatasi

sebagai

upaya

menngkatkan

minum, demam tinggi, dehidrasi dapat mempercepat terjadinya syok, (2) nilai
hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaaan berkala.
2.10.2 DBD disertai syok (sindrom syok dengue, derajat III dan IV) 11

Penggantian volume plasma segera, cairan intravena larutan ringer laktat 10-20
ml/kg secara bolus diberikan dalam waktu 30 menit. Apabila syok belum teratasi
tetap berikan Ringer Laktat 2 ml/kg ditambah koloid 20-30 ml/kg/jam, maksimal

1500 ml/hari.
Pemberian cairan 10 ml/kg tetap diberikan sampai 24 jam pasca syok. Volume
cairan diturunkan menjadi 7 ml/kg dan selanjutnya 5 ml, dan 3 ml apabila tanda

vital baik dan adanya penurunan Ht.


Jumlah urin 2 ml/kg/jam merupakan indikasi bahwa sirkulasi membaik.
Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi 48 jam setelah syok teratasi.
Oksigen diberikan 2-4 l/menit pada DBD syok.
Indikasi pemberian darah:

12

Terdapat perdarahan secara klinis


Setelah pemberian cairan kristaloid dan koloid, syok menetap, hematokrit

turun, diduga telah terjadi perdarahan, berikan darah segar 10 cc/kg.


Apabila kadar hematokrit tetap > 40 vol%, maka berikan darah volume kecil
Plasma segar beku dan trombosit digunakan untuk koreksi gangguan
koagulopati pada kadar trombosit < 50.000/mm yang disertai perdarahan

atau DIC pada syok berat yang menimbulkan perdarahan masif.


Pemberian transfusi suspensi trombosit pada DIC harus selalu disertai
dengan plasma segar (berisi faktor koaglasi yang diperlukan), untuk
mencegah perdarahan lebih hebat.

Tersangka DBD
Demam tinggi,
mendadak terusmenerus < 7 hari,
tidak disertai infeksi
saluran nafas bagian
atas, badan lemas,
Ada Kedaruratan
Tanda syok
Muntah terusmenerus
Kejang
Kesadaran
menurun
Muntah darah
Berak hitam

Tidak ada
Periksa uji
torniquet
Uji Torniquet
Uji Torniquet
(+)
(-)
Rawat jalan
Parasetamol
Kontrol tiap hari
sampai demam
hilang
13

Jumlah
trombosit
100.000 /ul

Jumlah
trombosit
100.000 /ul
Rawat
Inap

Nilai tanda klinis,


Rawat
periksa trombosit &
Minum banyak
Jalan1,5
Ht bila demam
2 liter/hari
menetap setelah
Parasetamol
hari ke-3
Kontrol tiap hari
sampai demam
turun
Periksa
Hb, Ht,
Perhatian
untuk orang
Pesan
bila
timbul
tua
tanda syok, yaitu
gelisah, lemah,
kaki / tangan dingin,
sakit perut, BAB
hitam, BAK kurang
Lab: Hb & Ht naik,
trombosit turun
Segera bawa ke rumah
sakit

Gambar 2.2 Tatalaksana kasus tersangka DBD

DBD derajat I atau derajat II tanpa peningkatan


hematokirit
Gejala klinis: demam 2-7 hari,
uji tourniquet positif atau
perdarahan spontan.
Lab:hematokrit tidak
meningkat, trombositopenia
Pasien masih dapat minum
Beri minum banyak 1-2
liter/hari atau 1 sd mkn tiap 5
menit
Jenis minuman: air putih, the
manis, sirup, jus buah, susu,
oralit

Pasien tidak dapat minum


Pasien muntah terus-menerus
Pasang infuse NaCl
0,9%: dekstrose 5%
(1:3), tetesan rumatan
sesuai berat badan
Periksa Hb, Ht,
trombosit tiap 6-12 jam

14

Monitor gejala klinis dan


laboratorium
Perahtikan tanda syok
Palpasi hati setiap hari
Awasi perdarahan
Perbaikan klinis dan
laboratoris

Ht naik dan atau trombosit


turun
Infus ganti Ringer
Laktat (tetesan
disesuaikan)

Pulang (lihat kriteria memulangkan


pasien)

Gambar 2.3 Tatalaksana kasus DBD derajat I dan derajat II tanpa peningkatan
hematokrit

DBD derajat II dengan peningkatan


Ht 20%
Cairan
awal RL/NaCl 0,9% atau
RLD5/NaCl 0,9%+D5, 6-7
Monitor tanda vital/nilai
Ht dan trombosit
ml/kg/jam*
tiap 6 jam
Perbaika
Tidak gelisah
n
Nadi kuat
Tekanan darah stabi
Diuresis cukup (1
ml/kg/jam)

Tidak ada
Gelisah
perbaikan
Distres pernafasan
Frekuensi nadi naik
Ht tetap tinggi/naik
Diuresis kurang/tidak
ada

15

Tetesan
dikurangi
5 ml/kg/jam
Perbaikan
Sesuaikan tetesan
3
ml/kg/jam

Tanda vital
Ht
memburuk
meningkat
Perbaika
n

Tetesan dinaikkan
10-15 ml/kg/jam
Tetesan dinaikkan
Evaluasi 15
menit
Tanda vital tidak

stabil
Distres
pernafasan
Ht naik
Koloid
20-30 ml/kg

IVFD stop pada 24-48


jam
Bila tanda vital/Ht
stabil dieresis cukup

Hb/Ht
turun

Transfusi darah segar


10 ml/kg

Perbaika
n

* BB 20 kg
Ket : RA = Ringer Asetat
Gambar 2.4 Tatalaksana kasus DBD derajat II dengan peningkatan hemokonsentrasi
20%

DBD derajat III


& IV
1. Oksigenasi (Berikan O2 2-4 liter)
2. Pengganti volume plasma segera (cairan
Ringer Laktat/NaCl 0,9% 20
kristaloid)
ml/kg secepatnya (bolus dalam

Evaluasi 30 menit, apakah syok


teratasi?
Pantau tanda vital tiap 30 menit
Catat keseimangan cairan selama pemberian
cairan intravena

16

Syok
teratasi
Kesadaran membaik
Nadi teraba kuat
Tekanan nadi > 20
mmHg
Tidak sesak
nafas/sianosis
Ekstremitas hangat
Cairan dan tetesan
disesuaikan 10 ml/kg/jam
Evaluasi
Tanda vital
ketat
Tanda
perdarahan
Diuresis
Hb,dalam
HT, 24 jam/Ht
Stabil
< 40
Syok
Tetesan 5 ml/kg/jam
teratasi
Tetesan 3
ml/kg/jam
Infus stop tidak >
48 jam
Setelah syok

Syok tidak
teratasi
Kesadaran menurun
Nadi lambat/tidak
teraba
Tekanan nadi < 20
mmHg
Distres pernafasan
Kulit dingin dan
lembab
Lanjutkan cairan 20
ml/kg/jam
Tambahkan
koloid/plasma
Dekstran/FPP
Koreksi
asidosis
Evaluasi 1

Syok belum
teratasi
Ht
Ht tetap
turun
tinggi/naik
Transfusi darah
Koloid 20
segar
10 mg/kg
ml/kg
diulang sesuai
kebutuhan

Gambar 2.5 Tatalaksana kasus DBD derajat III dan IV


Kriteria berikut harus dijumpai sebelum pasien sembuh dari DHF/ DSS
dipulangkan:8

Hilangnya demam setidaknya 24 jam tanpa penggunaan antipiretik.

Kembalinya nafsu makan.

Perbaikan klinis.

Produksi urin baik.

Hematokrit stabil.

Telah melewati setidaknya 2 hari setelah sembuh dari syok.

Tidak ada distress pernapasan pada efusi pleura atau asites.

Jumlah trombosit lebih dari 50.000 per mm

17

2.11

Pemantauan
Hal yang vital tata laksana DBD derajat apapun adalah pemantauan:8

Tanda klinis, apakah syok telah teratasi dengan baik, adakah pembesaran hati,
tanda perdarahan saluran cerna, tanda ensefalopati, harus dimonitor dan

dievaluasi untuk menilai hasil pengobatan.


Kadar hemoglobin, hematokrit, dan trombosit tiap 6 jam, minimal tiap 12 jam.
Keseimbangan cairan, catat jumlah cairan yang masuk, diuresis ditampung dan

jumlah perdarahan.
Pada DBD syok, lakukan cross match darah untuk persiapan transfusi darah
apabila diperlukan. Pasien DBD perlu dirujuk ke ICU Anak atas indikasi:
o Syok berkepanjangan (syok yang tidak teratasi > 60 menit)
o Syok berulang (pada umumnyya disebabkan oleh perarahan internal)
o Perdarahan saluran cerna hebat
o DBD ensefalopati

2.12

Langkah Promotif/Preventif
Jumlah kasus biasanya meningkat bersamaan dengan peningkatan curah

hujan maka jumlah kasus berbeda tiap daerah. Pada umumnya di Indonesia
meningkat saat musim hujan, sejak bulan Desember sampai dengan April-Mei setiap
tahun.6
Pencegahan/penberantasan DBD dengan membasmi nyamuk dan sarangnya
dengan melakukan tindakan 3M, yaitu:8

Menguras tempat penampungan air secara teratur seminggu sekali atau

menaburkan bubuk larvasida (abate)


Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
Mengubur / menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

18

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer diperoleh
melalui wawancara langsung kepada para masyarakat Desa Keude Krueng dengan
menggunakan kuisioner daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. Data primer
meliputi data tentang pengetahuan, sikap dan perlaku masyarakat.
3.2 Metode Pelaksanaan

19

Pelaksanaan mini project dilakukan dengan metode Penyuluhan.


3.3 Langkah Langkah yang dilakukan
Pelaksanaan program dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pemberian materi penyuluhan tentang
Definisi dan Penyebab Penyakit DBD
Cara Penularan Penyakit DBD
Gejala dan Tanda Penyakit DBD
Penatalaksaan Awal Penderita DBD
Cara Mencegah Penyakit DBD
Cara Penggunaan Bubuk Abate
2. Tanya Jawab dengan menggunakan kuesioner.
3. Pembagian bubuk abate
4. Evaluasi serta pemantauan langsung ke rumah-rumah warga
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi dalam pelaksanaan mini project ini adalah seluruh masyarakat Desa
Keude Krueng Kecamatan Kuta Makmur.
3.4.2 Sampel
Sampel dalam pelaksanaan mini project ini ditentukan dengan metode total
sampling, yaitu seluruh masyarakat Desa Keude Krueng dengan kriteria sebagai
berikut.
a. Kriteria Inklusi
Seluruh masyarakat Desa Keude Krueng yang datang untuk menghadiri
acara kegiatan tentang pelaksanaan kegiatan penyuluhan DBD serta
pembagian bubuk abate.
b. Kriteria Eksklusi
Masyarakat Desa Keude Krueng yang tidak hadir pada saat kegiatan sedang
dilakukan.
3.5 Metode Pengukuran

20

Menurut Suharsimi Arikunto (1988), aspek pengukuran dengan kategori


baik, cukup, dan kurang terlebih dahulu menentukan kriteria (tolak ukur) yang akan
dijadikan penentuan.
1. Pengukuran Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh masyarakat tentang
peyakit DBD dan pencegahannya, diukur dengan 10 pertanyaan setiap
pertanyaan yang benar diberi nilai 10 dan salah diberi nilai 0, sehingga nilai
tertinggi adalah 100. Nilai tersebut dikategorikan menjadi :

Kategori baik bila jawaban responden benar >75% dengan total 76-

100
Kategori cukup bila jawaban responden benar 40-75% dengan total

nilai 40-75
Kategori kurang jawaban responden benar <40% dengan total nilai 0-

39
2. Pengukuran Sikap
Sikap adalah tanggapan atau pandangan masyarakat tentang penyakit DBD,
diukur dengan 10 pertanyaan. Penilaian diberikan dengan angka 10 jika
responden setuju dan angka 0 jika tidak setuju, sehingga tertinggi adalah 100
dan terendah adalah 0. Nilai tersebut dikategorikan menjadi :
Kategori baik bila jawaban responden benar >75% dengan total 76

100
Kategori cukup bila jawaban responden benar 40-75% dengan total

nilai 40-75
Kategori kurang jawaban responden benar <40% dengan total nilai 0-

39
3. Pengukuran Tindakan
Tindakan adalah hal-hal yang dilakukan masyarakat tentang pencegahan
DBD, diukur dengan 10 pertanyaan. Penilaian diberikan dengan angka 10
jika responden menjawab benar dan angka 0 jika responden menjawab salah.
Nilai tersebut dikategorikan menjadi :
Kategori baik bila jawaban responden benar >75% dengan total 76

100
Kategori cukup bila jawaban responden benar 40-75% dengan total
nilai 40-75

21

Kategori kurang jawaban responden benar <40% dengan total nilai 039

3.6 Waktu Dan Tempat


Pelaksanaan kegiatan dilakukan di wilayah Puskesmas Kuta Makmur yaitu
di Meunasah Desa Keude Krueng, yang dilaksanakan pada tanggal 8 April 19
April 2013.

BAB IV
HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum


Kecamatan Kuta Makmur merupakan salah satu kecamatan dalam
Kabupaten Aceh Utara. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas kuta
Makmur sebanyak 187 orang.
4.2 Data Geografis
Kecamatan Kuta Makmur merupakan salah satu kecamatan dalam
Kabupaten Aceh Utara mempunyai luas wilayah 151,32 km 2 (15.132 Ha) dengan
batas wilayah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Pemerintah Kota Lhokseumawe
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Simpang Kramat dan Kabupaten
Bener Meria
3) Sebelah Barat dengan Kecamatan Nisam
4) Sebelah timur berbatasan dengan Simpang Kramat dan Kota Lhokseumawe

22

Jumlah desa sebanyak 43 desa terdiri dari desa dengan status sebanyak 39
desa dan desa non status sebanyak 4 desa. Terdapat 131 dusun di Kecamatan Kuta
Makmur.
Letak geografis Kecamatan Kuta Makmur berdasarkan desa terdiri dari
dataran (67%) dan berbukit (33%). Luas tanah berdasarkan penggunaannya terdiri
dari 1.951 Ha (12,89%) merupakan lahan sawah dan 13.181 Ha (87,11%) bukan
sawah. Sumber utama penghasilan keluarga terdiri dari pertanian 62,54%,
perindustrian 0,84%, perdagangan 5,90%, transportasi 0,99% dan jasa lainnya
29,74%.
a. Kemukiman Blang Ara
1. Keude Blang Ara
2. Blang Ara
3. Buket
4. Blang Talon
5. Cot Rheu
6. Krueng Manyang
7. Bayu
8. Blang Ado
9. Dayah Meunara
10. Mns. Kumbang
11. Blang Riek
12. Mc. Bahagia
13. Lhok Jhok
14. Alue Rambe
15. Cempeudak
16. Seu nebok Drien
17. Cot Merbo
b. Kemukiman Beureughang
1. Cot Seutui
2. Langkuta
3. Saweuk
4. Meuria
5. Kulam
6. Cot Seumiyong
7. Mulieng Meucat
8. PT. Rayeuk I
9. Mulieng Manyang
10. Kereusek
11. Krueng Seupeng
12. PT. Rayeuk II

23

13. Sidomulyo
14. Babah Lueng
15. Alue Putro Manoe
16. Alue Sagoweng
17. Alue Mbang
18. Bevak
c. Kemukiman Keude Krueng
1. Pulo Rayeuk
2. Pulo Barat
3. Pulo Iboih
4. Keude Krueng
5. Krueng Seunong
6. Guha Uleu
7. Blang Gurah
8. Cemeucet
4.3 Data Demografis
Jumlah penduduk kecamatan Kuta Makmur pada tahun 2011 berjumlah 22.028
jiwa terddiri dari 10.846 (49,24%) laki-laki dan 11.183 (50,76%) perempuan dengan
jumlah kepala keluarga 4.993. Sex ratio laki-laki terhadap perempuan sebesar 97% ,
artinya untuk setiap 100 wanita terdaoat 97 pria dan kepadatan penduduk sebesar
146 jiwa/km2.
Perkembangan pembangunan kependudukan dipengaruhi oleh pencapaina
keberhasilan program keluarga berencana. Data badan pusat Statistik kabupaten
Aceh Utara tahun 2011 menunjukkan bahwa jumlah pasangan usia subur (PUS)
adalah 3.745 pasangan. Dari jumlah tersebut 138 PUS (3,68%) adalah peserta KB
aktif dan 68 pasangan (1,81%) adalah peserta KB baru. Sebagian besar peserta KB
menggunakan kontrasepsi suntikan dan pil, masing-masing 76,35 % dan 21,85%.
Partisipasi pria menggunakan KB masih sangat rendah yaitu hanya 1,80%.
Berdasarkan data tersebut bahwa pembangunan, tergambarkan bahwa
pembangunan kependudukan Kecamatan Kuta Makmur belum menunjukkan hasil
yang menggembirakan. Upaya menurunkan tingkat fertility rate (TFR) harus
dilakukan dengan meningkatkan jumlah peserta KB aktif sehingga fertilitas dapat
ditekan. Tingkat fertilitas perlu dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan dan
mengurangi beban tanggungan.

24

Jumlah pendudul lanjut usia pada tahun 2011 penduduk berjumlah 2.140
orang. Peningkatan jumlah usia tua menunjukkan keberhasilan upaya kesehatan
dengan meningkatnya usia harapan hidup, di sisi lain adanya tantangan upaya
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada lanjut usia melalui
program posyandu lanjut usia.
Semakin meningkatnya jumlah usia lansia berdampak terhadap meningkatnya
kebutuhan pelayanan kesehatan terutama pelayanan penyakit degenaeratif. Penyakit
degenaretaif yang bersifat kronik membutuhkan perwatan yang lama dan
berkelanjutan.
Bertambahnya usia harapan hidup masyarakat perlu peningkatan program
promosi dan preventif dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Promosi
kesehatan melalui sosialisai perilaku hidup bersih dan sehat , perbaikan gizi
masyarakat, perbaikan gaya hidup , konsultasi gizi dan keterjaminan kesehtana
lansia. Upaya preventif melalui deteksi dini dan pencegahan faktor risiko penyakit
mwenular dan degeneratif, diharapkan kualitas hidup masyarakat lebih baik dan
pembiayaan kesehatan untuk kuratif dan rehabilitatif dapat ditekan.
4.4 Sumber Daya Kesehatan yang ada
Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kuta Makmur sebanyak 187
orang, yang terdiri dari PNS 71 orang (37%), PTT 35 orang (18%), dan Honor/Bakti
81 orang (43%). Adapun jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kuta
Makmur menurut jenjang pendidikan yaitu :
No

Jenis Kegiatan

Jenis Tenaga

Jumlah

Keterangan

Kepala Puskesmas

SKM (S2)

Kepala Tata Usaha

Sarjana Kes. Masy

Unit Tata

R/R, Perencanaan, Evaluasi

D3 Statistik/ SMA

Usaha

Bendahara & Ur. Umum

SMEA/ SMA

Supir

SMA

Penjaga Puskesmas/ CS

SD

25

Karcis, Kartu, dan RM

Perawat/ SMA

Poliklinik Umum

Dokter Umum

Poliklinik Umum

Perawat

10

Poliklinik Umum

Pekarya

11

Poliklinik Gigi

Dokter Gigi

12

Poliklinik Gigi

Perawat Gigi

13

Poliklinik Lansia

Dokter Umum

14
15

Poliklinik Lansia
Klinik KIA&KB

Perawat
Dokter Umum

3
1

16

Klinik KIA & KB

Bidan

10

17

Perkesmas

Bidan

Kes. Gizi Keluarga

Akademi Gizi

18

UKGS

Dokter gigi

Tugas rangkap

19

UKS

Perawat

Tugas rangkap

20

Laboratorium

Analis

21

Apotik

Ass. Apoteker

22

Apotik

Juru obat

23
24

Radiologi
Surveilance &

APRO
Epidemiologi/

1
1

Penanggulangan

Perawat

Kesling

Sanitarian/ D3

25

Unit 3

Unit 2

Unit 6

Unit 1

Kesehatan
26
27

Imunisasi
Peran serta masyarakat

Perawat/ Bidan
Bidan

2
-

28

Penyuluhan

SKM/ Perawat

29
30
31

Kesehatan Pengembangan
JPKM
Perawatan

D3 Kesehatan
Perawat/ D3 Askes
Dokter Umum

3
-

Tugas rangkap

32

Perawatan/ UGD

Perawat

Unit 5

33

Kamar Persalinan

Bidan

Tugas rangkap

34
35
36

Fisioterapi
Puskesmas Pembantu
Poskesdes

D3 Fisioterapi
Perawat/ Bidan
Perawat/ Bidan

2
16
2

Untuk 4 Pustu
Untuk 2

Unit 4

Tugas rangkap

26

Poskesdes
Total

71

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang ada


Sarana kesehatan saat ini sudah banyak mengalami kemajuan, hal ini tidak
terlepas dari besarnya dukungan PEMDA Aceh Utara. Walaupun demikian masih
banyak juga sarana kesehatan yang memerlukan penambahan, terutama POLINDES
dan POSKESDES. Dari 43 desa hanya 14 desa yang sudah ada POLINDES.
Adapun sarana kesehatan yang ada:
1.

Puskesmas Induk dengan fasilitas rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin
dan UGD

2.

Puskesmas pembantu 4 unit :


a.

Puskesmas pembantu Alue Rambe,

b.

Puskesmas Pembantu Mc. Bahagia

c.

Puskesmas Pembantu Cot Seutui

d.

Puskesmas Pembantu Sidomulyo

3.

Polindes 14 Unit, yang berada didesa :


a.

Pulo Rayeuk

b.

Pulo Barat

c.

Blang Talon

d.

Blang Ado

e.

Babah Lueng

f.

Langkuta

g.

Cot Rheu

h.

Cot Merbo

i.

Guha Uleu

j.

Krueng Seunong

k.

Buket

l.

Saweuk

m.

Alue Rambe

n.

Cimpedak

27

4.

Poskesdes 2 unit, yang berada didesa


a.

Pulo Iboih

b.

Guha Uleu

4.6 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


4.6.1 Prevalensi masalah kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah Intervensi
Sebelum dilakukan penyuluhan tentang pencegahan DBD didapatkan
persentase masyarakat dari 38 orang adalah :
Tabel 4.2 Distribusi Pengetahuan tentang Pencegahan DBD
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (orang)
16
10
12
38

%
42,1
26,3
31,6
100

Berdasarkan tabel 4.2 di atas menunjukkan dari 38 responden 16 responden


(42,1 %) mempunyai tingkat pengetahuan baik sebelum penyuluhan, 10 responden
(26,3 %) mempunyai tingkat pengetahuan cukup sebelum penyuluhan, dan 12
responden (31.6 %) mempunyai tingkat pengetahuan kurang sebelum penyuluhan.

Tabel 4.3 Distribusi Sikap Masyarakat tentang Pencegahan DBD


Sikap
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (orang)
15
11
12
38

%
39,5
28,9
31,6
100

Berdasarkan tabel 4.3 di atas menunjukkan dari 38 responden 15 responden


(39,5%) mempunyai sikap yang baik sebelum penyuluhan, 11 responden (28,9%)
mempunyai sikap yang cukup sebelum penyuluhan, dan 12 responden (31,6%)
mempunyai sikap yang kurang sebelum penyuluhan.

28

Tabel 4.4 Distribusi Tindakan Masyarakat tentang Pencegahan DBD


Tindakan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (orang)
8
12
18
38

%
21,1
31,6
47,3
100

Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan dari 38 responden 8 responden


(21,1 %) mempunyai tindakan yang baik sebelum penyuluhan, 12 responden
(31,6%) mempunyai tindakan yang cukup sebelum penyuluhan, dan 18 responden
(47,3%) mempunyai tindakan yang kurang sebelum penyuluhan.
Sesudah dilakukan penyuluhan tentang pencegahan DBD didapatkan
persentase ibu dari 30 orang adalah :
Tabel 4.5 Distribusi Pengetahuan Masyarakat tentang Pencegahan DBD
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (orang)
31
7
0
38

%
81,6
18,4
0,0
100

Berdasarkan tabel 4.5 di atas menunjukkan dari 38 responden 31 responden


(81,6%) mempunyai pengetahuan baik sesudah penyuluhan, 5 responden (18,4%)
mempunyai pengetahuan cukup sesudah penyuluhan, dan 0 responden (0,0%)
mempunyai pengetahuan kurang sesudah penyuluhan.
Tabel 4.6 Distribusi Sikap Masyarakat tentang Pencegahan DBD
Sikap
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (orang)
38
0
0
38

%
100
0,0
0,0
100

Berdasarkan tabel 4.6 di atas menunjukkan dari 38 responden 38 responden


(100%) mempunyai sikap baik sesudah penyuluhan, 0 responden (0%) mempunyai
sikap cukup sesudah penyuluhan, dan 0 responden (0%) mempunyai sikap kurang
sesudah penyuluhan.
Tabel 4.7 Distribusi Tindakan Masyarakat tentang Pencegahan DBD
Tindakan

Jumlah (orang)

29

Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

38
0
0
38

100
0,0
0,0
100

Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan dari 38 responden 38 responden


(100%) mempunyai tindakan yang baik sesudah penyuluhan, 0 responden (0,0%)
mempunyai tindakan yang cukup sesudah penyuluhan, dan 0 responden (0,0%)
mempunyai tindakan yang kurang sesudah penyuluhan.

Tabel 4.8 Distribusi Penilaian tentang Tindakan Pencegahan DBD


Tindakan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Jumlah (rumah)
15
5
0
20

%
75,0
25,0
0,0
100

Berdasarkan tabel 4.8 di atas menunjukkan dari 20 rumah yang dikunjungi


15 rumah (75%) mempunyai tindakan yang baik dalam pencegahan DBD, 5 rumah
(25,0%) mempunyai tindakan yang cukup dalam pencegahan DBD, dan 0 rumah
(0,0%) mempunyai tindakan yang kurang dalam pencegahan DBD.
Tabel 4.9 Distribusi Penilaian Rumah Masyarakat yang bebas jentik nyamuk
Bebas Jentik Nyamuk
Ya
Tidak
Jumlah

Jumlah (rumah)
20
0
20

%
100
0
100

Berdasarkan tabel 4.10 di atas menunjukkan dari 20 rumah 20 rumah (100%)


mempunyai lingkungan yang bebas jentik nyamuk, dan 0 rumah (0,0%) mempunyai
lingkungan tang terdapat jentik nyamuk.
4.7 Dokumentasi

30

Penyuluhan tentang pencegahan DBD

Pemantauan jentik nyamuk

BAB V
HASIL DISKUSI

Dari hasil presentasi mini project dapat dinilai bahwa masyarakat Desa
Keude Krueng Kecamatan Kuta Makmur pada umumnya memiliki pengetahuan
yang baik tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu dengan
persentase 42,1%, dikiuti pengetahuan yang kurang 31,6% dan pengetahuan yang
cukup 26,3%. Dalam sikap masyarakat Desa Keude Krueng memiliki sikap yang
baik terhadap pencegahan serta penanggulangan awal penyakit DBD sebesar 39,5%,
diikuti sikpa masyarakat yang kurang 31,6% dan sikap yang cukup 28,9%.
Sedangakan tindakan yang dilakukan masyarakat Desa Keude Krueng dalam
pencegahan DBD masih kurang yaitu 47,3%, tindakan yang cukup baik dalam
pencegahan DBD 31,6% dan selebihnya yang melekukan tindakan baik hanya
21,1%. Dengan dilakukan mini project ini dengan berbagai kegiatan, masyarakat
telah meningkat pengetahuannya tentang penyakit DBD sebesar 81,6%, sedangakan
pengetahuan yang cukup 26,3% dan pengetahuan kurang 0%. Sikap masyarakat
tehadap penyakit DBD juga telah meningkat menjadi baik sebesar 100% dan
tindakan yang baik sebesar 100%. Dari hasil penilaian terhadap tindakan masyarakat
dalam mencegah penyakit DBD didapatkan 15 dari 20 rumah telah melakukan
pencegahan penyakit DBD dengan baik, sedangkan 5 rumah lainnya telah
melakukan tindakan pencegahan yang kurang. Hal ini salah satunya disebabkan

31

warga yang masih takut menggunakan bubuk abate. Dari hasil pemantauan
didapatkan dari 20 rumah telah bebas dari jentik nyamuk.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari mini project yang telah dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas Kuta Makmur tentang pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat Desa
Keude Krueng dapat disimpulkan bahwa :
1. Sebagian masyarakat telah mempunyai pengetahuan yang baik mengenai
penyakit DBD, tetapi mempunyai tindakan yang kurang terhadap
pencegahan DBD. Setelah dilakukan penyuluhan pengetahuan baik tentang
penyakit DBD makin meningkat, hanya semakin kecil masyarakat yan
mempunyai pengetahuan yang cukup.
2. Sikap dan tindakan masyarakat dalam mencegah penyakit DBD telah
meningkat lebih baik setelah dilakukan mini project ini.
3. Masyarakat masih belum banyak mengetahui tentang penggunaan bubuk
abate untuk membunuh jentik nyamuk.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan, ada beberapa hal yang harus disarankan
diantaranya :

32

1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya


penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Kuta Makmur diperlukan
kegiatan penyuluhan dan kegiatan pencegahan lainnya seperti pemberian
kelambu dan bubuk abate kepada masyarakat
2. Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara berkoordinasi dengan Instansi
terkait seperti Dinas Perindustrian untuk melaksanakan pemantauan tempat
yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Dengue Guideline for Diagnosis,Treatment, Prevention and Control.
TDR, 2009
2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Darmowandowo, Widodo. 2006. Kuliah Infeksi Virus Dengue. Contunuing
Education Ilmu Kesehatan Anak XXXVI Kapita Selekta Ilmu Kesehatan
Anak VI, Surabaya.
4. Muchtar, Rafei , Uton. 1999. Guidelines for treatments of Dengue Fever /
Dengue Haemorrhagic Fever in Small Hospital. New Delhi : World Health
Organization dalam http://www.who.int diunduh tanggal 18 April 2013
5. Halstead, Scott B. 2004. Nelson Texbook of Pediatrics. 17th Edition.
Elsevier, Philadelphia.
6. Sudoyo, Aru W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keempat-Jilid
III. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
7. Pusponegoro, Hardiono D. 2004. Standar Peleyanan Medis Kesehatan Anak
Edisi I. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
8. Sastroasmoro, Sudigdo. 2007. Paduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu
Kesehatan Anak. RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
9. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.1993. Buku Ajar
Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Binarupa Aksara, Jakarta.

33

10. Gershon, Anne A. 2004. Krugmans Infectious Diseases of Children Eleventh


Edition. Mosby, The United Stated of America.
11. Kustiman, Samsi, Tatang. 2000. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
di RS Sumber Waras. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Sumber Waras/Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara dalam
http://www.kalbe.co.id/cdk diunduh tanggal 18 April 2013

34