Anda di halaman 1dari 6

23

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 26 orang responden,
yang terdiri dari akseptor kontrasepsi suntik dan akseptor kontrasepsi nonsuntik
yang telah dilakukan di Puskesmas Kuala Batee, Kecamatan Kuala Batee, Aceh
Barat Daya, diperoleh data yang akan dianalisis secara univariat dan bivariat.
Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi berdasarkan
penggunaan kontrasepsi suntik, umur, pendidikan, pengetahuan dan sikap
responden.
4.1.1 Analisis Univariat
a. Kontrasepsi Suntik
Penggunaan kontrasepsi suntik dinilai dengan menghitung jumlah akseptor
kontrasepsi suntik dengan yang nonsuntik. Setelah penelitian dilakukan,
didapatkan pengguna kontrasepsi suntik 15 sebanyak responden dan akseptor
nonsuntik sebanyak responden. Data penggunaan kontrasepsi suntik disajikan
pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi penggunaan kontrasepsi suntik di Puskesmas
Kuala Batee, Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya tahun 2014
Penggunaan kontrasepsi suntik
Ya
Tidak
Total

Frekuensi (n)
15
11
26

Persentase (%)
57,69
42,30
100,00

b. Distribusi umur responden


Umur responden dikelompokkan menjadi kelompok remaja (15-24 tahun),
dewasa muda (25-35 tahun), dewasa (36-54 tahun). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa umur responden paling banyak pada kelompok umur dewasa muda. Data
hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi umur responden di Puskesmas Kuala Batee, Kecamatan

23

24

Kuala Batee, Aceh Barat Daya tahun 2014


Umur (tahun)
15-24 (remaja)
25-35 (dewasa muda)
36-54 (dewasa)
Total

Frekuensi (n)
4
15
7
26

Persentase (%)
15,38
57,69
26,92
100,00

c. Distribusi pendidikan responden


Pendidikan yang dinilai disini adalah pendidikan formal, mulai dari
pendidikan dasar (SD/sederajat dan SMP/sederajat), pendidikan menengah
(SMA/sederajat) dan pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi). Data hasil penelitian
dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Distribusi pendidikan responden di Puskesmas Kuala Batee,
Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya tahun 2014
Pendidikan
Dasar
Menengah
Tinggi
Total

Frekuensi (n)
11
13
2
26

Persentase (%)
42,30
50,00
7,69
100,00

d. Distribusi pengetahuan responden


Pengetahuan responden dinilai dalam tiga kategori, yaitu baik apabila
responden mampu menjawab benar 76%-100% dari seluruh pernyataan pada
kuesioner, cukup apabila responden mampu menjawab 56%-75% dari seluruh
pernyataan pada kuesioner dan kurang apabila responden mampu menjawab 40%55% dari seluruh pernyataan pada kuesioner. Data penelitian dapat dilihat pada
Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Distribusi pengetahuan responden di Puskesmas Kuala Batee,
Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya tahun 2014
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang

Frekuensi (n)
4
14
8

Persentase (%)
15,38
53,84
30,76

25

Total

26

100,00

e. Distribusi sikap responden


Sikap responden dinilai dengan positif dan negatif. Penilaian positif dan
negatif didapatkan dari nilai rata-rata (mean) dari nilai yang diberikan pada
jawaban responden. Pernyataan yang dijawab setuju oleh responden diberi nilai 3,
kurang setuju diberi nilai 2 dan tidak setuju diberi nilai 1. Data hasil penelitian
dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Distribusi sikap responden di Puskesmas Kuala Batee, Kecamatan
Kuala Batee, Aceh Barat Daya tahun 2014
Sikap
Positif
Negatif
Total

Frekuensi (n)
20
6
26

Persentase (%)
76,92
23,08
100,00

4.2 Pembahasan
4.2.1 Umur
Hasil penelitian Afni (2005) menunjukkan akseptor kontrasepsi hormonal
paling banyak terdapat pada kelompok umur 20-30 tahun. Penelitian Ekawati
(2009) menunjukkan bahwa akseptor kontrasepsi suntik Depo medroksi
progesteron asetat (DMPA) paling banyak pada kelompok umur 20-35 tahun.
Pada penelitian ini didapatkan, pengguna kontrasepsi suntik paling banyak
pada kelompok umur 25-35 tahun (dewasa muda). Sedangkan yang tidak
menggunakan kontrasepsi suntik lebih banyak pada kelompok umur dewasa.
Berdasarkan hasil wawancara, akseptor suntik lebih banyak pada kelompok
dewasa muda dikarenakan mereka lebih banyak yang masih mencoba-coba
menggunakan kontrasepsi yang cocok. Mereka memilih suntik awalnya karena
mendengar dari teman, kemudian mencoba dan jika dirasa cocok, maka akan
diteruskan. Namun, jika tidak cocok, maka akan diganti dengan jenis kontrasepsi
lain. Mereka juga memilih kontrasepsi suntik dengan alasan kontrasepsi suntik
lebih mudah digunakan. Jadi, jika mereka ingin merencanakan kehamilan lagi,
mereka hanya tidak perlu melakukan penyuntikan ulang.

26

4.2.2

Pendidikan
Penelitian Wahyuni (2008) menunjukkan pengguna kontrasepsi suntikan

lebih banyak pada pendidikan tinggi (SMA), sedangkan akseptor nonsuntik lebih
banyak berpendidikan rendah (<SMA). Hal ini berbeda dengan penelitian ini yang
menunjukkan

bahwa

pengguna

kontrasepsi

suntik

lebih

banyak

yang

berpendidikan menengah (SMA/sederajat). Sedangkan responden yang tidak


menggunakan kontrasepsi suntik lebih banyak berpendidikan tinggi. Peneliti
berasumsi, hal ini dikarenakan banyaknya akseptor kontrasepsi suntik yang
berkunjung ke Puskesmas Kuala Batee rata-rata berpendidikan menengah.
Sedangkan responden yang tidak menggunakan kontrasepsi suntik yang kebetulan
datang berkunjung ke Puskesmas Kuala Batee dan berpendidikan tinggi lebih
banyak menggunakan jenis kontrasepsi yang lain, yaitu pil dan alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR).
4.2.3

Pengetahuan
Distribusi responden dilihat dari pengetahuan menunjukkan hasil paling

banyak berpengetahuan cukup (53,84%) untuk pengguna kontrasepsi suntik.


Berdasarkan hasil pengamatan kami,hal ini karena kebanyakan pengguna
kontrasepsi suntik sudah lama menggunakan jenis kontrasepsi tersebut, sehingga
lebih banyak bertanya-tanya kepada bidan yang berada di Puskesmas Kuala Batee
mengenai keluhan-keluhan mereka dan mempengaruhi pengetahuan mereka.
Sikap
Distribusi responden dilihat dari sikapnya menunjukkan hasil paling banyak
bersikap positif terhadap pengunaan kontrasepsi suntik, yaitu 76,92%.. Hal ini
dikarenakan pada saat diwawancarai mereka menempatkan posisi mereka sebagai
akseptor suntik, sehingga mereka lebih banyak menjawab setuju pada pernyataan
pada kuesioner sikap. Misalnya pada pernyataan no. 1,4 dan 5 (lihat Lampiran 4).
Mereka lebih banyak menjawab setuju. Sehingga, peneliti berasumsi ini yang
menyebabkan hasil penelitian menunjukkan akseptor nonsuntik lebih banyak
bersikap positif terhadap penggunaan kontrasepsi suntik.

23

27

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang telah dijabarkan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Pengguna kontrasepsi suntik paling banyak pada kelompok umur 25-35 tahun
(dewasa muda).
b. Pengguna kontrasepsi suntik lebih banyak yang berpendidikan menengah
(SMA/sederajat).
c. Pengguna kontrasepsi suntik lebih banyak yang berpengetahuan cukup
d. Pengguna kontrasepsi suntik lebih banyak yang bersikap positif.
5.2 Saran
a.

Bagi institusi pelayanan kesehatan agar dapat lebih meningkatkan lagi


komunikasi, informasi dan edukasi yang diberikan mengenai jenis-jenis
kontrasepsi sehingga pengetahuan nonakseptor menjadi lebih baik lagi dan

b.

menambah minat mereka untuk menggunakan kontrasepsi yang efektif.


Bagi masyarakat agar dapat mencari informasi lebih banyak lagi mengenai
kontrasepsi dan dari sumber yang tepercaya seperti dokter, bidan, perawat dan
sebagainya yang memilki kompetensi mengenai kontrasepsi ini sehingga tidak
salah pilih alat kontrasepsi.

28

c.

Bagi peneliti-peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang penggunaan


kontrasepsi disarankan untuk menambah sampel penelitian sehingga penelitian
menjadi lebih valid. Disarankan juga untuk menambah variabel penelitian pada
aspek yang lebih baru seperti penelitian mengenai alat kontrasepsi pria dan
alasan pria lebih jarang untuk menggunakan kontrasepsi, yang masih jarang
diteliti.

35