Anda di halaman 1dari 22

Etiologi Endoftalmitis Eksogen

Oleh:
M. Arrival Khadiva

0810312144

Rahmat Hidayat

0910313266

Eka Putri Rahmadhani

0910312077

Preseptor:
dr. Weni Helvinda, Sp.M

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP Dr. M.DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi intraokular difus atau endoftalmitis merupakan infeksi mata yang paling serius
mengancam penglihatan. Terjadinya endoftalmitis salah satunya disebabkan oleh infeksi
eksogen, misalnya trauma pada bola mata atau tindakan pembedahan sehingga terjadi perforasi
bulbus okuli. Radang yang terjadi pada endoftalmitis bersifat supuratif sehingga terbentuk abses
di dalam badan kaca. 1,2
Dari laporan studi didapatkan bahwa endoftalmitis eksogen paling sering terjadi
dibanding endoftalmitis endogen. Dilaporkan endoftalmitis eksogen terjadi sebanyak 0,37%
pasca pemasangan intra ocular lens (IOL); 0,05% pasca vitrektomi pars plana; 0,18% pasca
keratoplasti penetrasi dan 0,12% pasca operasi fitrasi glaukoma.3
Gejala penyakit ini berupa rasa sakit pada mata, hiperemis, kelopak mata bengkak, edema
pada kornea, keratic presipitat, dan hipopion. Endoftalmitis eksogen penyebabnya dapat berasal
dari bakteri, jamur maupun parasit. Bakteri yang sering ditemukan adalah stafilokokus dan
streptokokus, sedangkan dari jenis jamur yang paling sering ditemukan adalah aspergilus dan
aktinomises. 3,4
Komplikasi penyakit ini dapat mengakibatkan panoftalmitis (melibatkan sklera dan
kapsul tenon) dan dapat menjadi kebutaan. Oleh karena itu, diagnosis dini serta pencegahan
terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit ini sangat diperlukan. 3,5

1.2. Batasan Masalah


Refrat ini membahas definisi, anatomi dan fisiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis,
klasifikasi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis.

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan refrat ini adalah untuk memahami dan menambah pengetahuan
mengenai etiologi endoftalmitis eksogen.

1.4. Metode Penulisan


Metode penulisan refrat ini merujuk pada berbagai literatur dan kepustakaan berupa
buku, jurnal, dan internet.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Endoftalmitis merupakan peradangan berat intra okular, biasanya akibat infeksi setelah
trauma, pasca bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang supuratif di dalam rongga
mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan memberikan abses
di dalam badan kaca. Endoftalmitis biasanya dikaitkan dengan inflamasi bola mata yang
melibatkan viterus dan segmen depan, namun kenyataannya juga dapat melibatkan koroid dan
retina. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma
tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen). 6

Gambar 2.1. Endoftalmitis

2.2. Anatomi dan Fisiologi


Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:
a. Sklera, yang merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata.
Bagian terdepan sklera adalah kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar
masuk ke dalam bola mata.
4

b. Jaringan uvea, yang merupakan jaringan vaskular terdiri dari iris, badan siliar, dan
koroid. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos
humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas
kornea dan sklera.
c. Lapisan retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10
lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi
rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.

Gambar 2.2. anatomi bola mata


Pada endoftalmitis, korpus vitreus (badan kaca) adalah lokasi terjadinya infeksi ini.
Vitreus merupakan badan gelatin yang jernih dan avaskuler, yang membentuk 2/3 dari volume
dan berat mata. Viterus berisi air sekitar 99% selebihnya adalah campuran asam hialuronic dan
kolagen yang memberikan bentuk dan konsistensi mirip gel pada vitreus karena kemampuannya
mengikat banyak air.
Badan kaca memenuhi ruangan antara lensa mata, retina, dan papil saraf optik. Bagian
luar (kortek) dari vitreus bersentuhan dengan kapsul posterior lensa, epitel pars plana, retina dan
papil saraf optik viterus melekat sangat erat dengan epitel pars plana dan retina dekat oraserata.
5

Vitreus melekat tidak begitu erat dengan kapsul lensa mata dan papil saraf optik pada orang
dewasa.
Vitreus mengisi sebagian besar bola mata dibelakang lensa, tidak berwarna, bening, dan
konsistensinya lunak. Bagian luar merupakan lapisan tipis (membran hialoid) dan konsistensinya
lunak. Vitreus ditengah-tengah ditembus oleh suatu saluran yang berjalan dari papil saraf optik
ke arah kapsul belakang lensa yang disebut saluran hialoid. Struktur vitreus tidak mempunyai
pembuluh darah dan menerima nutrisi dari jaringan sekitarnya: koroid, badan siliar, dan retina. 2
Fungsi vitreus adalah membantu fungsi retina dan meningkatkan fungsi dari kavitas
korpus vitreus, sebagai barrier difusi antara segmen anterior dan posterior bola mata, berfungsi
sebagai buffer metabolic, menstabilkan perjalanan cahaya (media refraksi), dan konsumsi serta
distribusi oksigen. 7
Vitreus normal sangat jernih sehingga tidak tampak apabila diperiksa dengan
oftalmoskop direk ataupun indirek. Jika terjadi perubahan struktur badan kaca, seperti pencairan
sel, kondensasi, pengerutan, barulah keadaan tersebut dapat dilihat dan hal inipun hanya dapat
dilihat dengan slit lamp. 3

2.3. Epidemiologi Endoftalmitis


Angka kejadian endoftalmitis setelah operasi terbuka bola mata di Amerika adalah 5-14%
dari semua kasus endoftalmitis. Sedangkan endoftalmitis yang disebabkan oleh trauma sekitar
10-30 %, dan endoftalmitis yang disebabkan oleh reaksi antibodi terhadap pemasangan lensa
yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh berupa 7-31 %. Endoftalmitis setelah implantasi
intra okular (IOL) adalah 0,2 %; 0,03% setelah vitrektomi pars plana; 0,2% setelah pembedahan

glaukoma. Bahkan beberapa penelitian melaporkan adanya peningkatan resiko endoftalmitis akut
mengikuti operasi katarak bpada beberapa tahun ini. 8
Angka mortalitas dan morbiditas endoftalmitis eksogen tidak sama dengan endoftalmitis
endogen. Kasus yang tidak tertatalaksana dapat mengakibatkan panoftalmitis dan selulitis orbital.
Tidak ada hubungan predileksi antara ras, jenis kelamin, dengan umur pada endoftalmitis
eksogen. 8

2.4. Klasifikasi Endoftalmitis 6,8


Secara umum endoftalmitis diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Endoftalmitis Eksogen
Pada endolftamitis eksogen organisme yang menginfeksi mata berasal dari lingkungan
luar. Endolftamitis eksogen dikategorikan menjadi : endolftalmitis post operasi dan
endolftalmitis post trauma.
-

Endoftalmitis Post Operatif

Pada endoftalmitis post operasi, bakteri penyebab tersering merupakan flora normal pada
kulit dan konjungtiva. Endoftalmitis ini sering terjadi setelah operasi-operasi berikut ini :
katarak, implantasi IOL, glaukoma, keratoplasty, eksisi pterigium, pembedahan strabismus
paracentesis, pembedahan vitreus dll.

Endoftamitis post operasi katarak


-

Endoftalmitis Post Trauma

Endoftalmitis paling sering terjadi setelah trauma mata, yaitu trauma yang menimbulkan
luka robek pada mata.
b. Endoftalmitis Endogen
Pada endoftalmitis endogen, organisme disebarkan melalui aliran darah. Endoftalmitis
endogen beresiko terjadi pada :

Memiliki faktor predisposisi, seperti : diabetes melitus, gagal ginjal, penyakit jantung

rematik, sistemik lupus eritematos, AIDS dll

Invasif Prosedur yang dapat mengakibatkan bakteremia seperti hemodialisis,

pemasangan kateter, total parenteral nutrisi dll

Infeksi pada bagian tubuh lain, seperti: endokarditis, urinary tract infection, artritis,

pyelonefritis, faringitis, pneumoni dll.


Pada endoftalmitis endogen kuman penyebabnya sesuai dengan fokus infeksinya seperti
Streptococcus Sp (endokarditis), Stapylococcus aureus (infeksi kulit) dan Bacillus (invasive

prosedur). Sementara bakteri Gram negatif misalnya Neisseria meningitidis, Neisseria


gonorrhoe, H infuenzae dan bakteri enterik seperti Escherichia colli dan Klebsiella.
c. Endoftalmitis Fakoanafilaktik
Merupakan suatu proses autoimun terhadap jaringan tubuh (lensa) sendiri, akibat lensa
yang tidak terletak di dalam kapsul (membrane basalis lensa). Pada endoftalmitis
fokoanafilaktik, lensa dianggap sebagai benda asing oleh tubuh, sehingga terbentuk antibodi
terhadap lensa yang menimbulkan reaksi antigen antibodi.

2.5. Etiologi Endoftalmitis8


1. Bakteri Post Operasi
a. Akut
Endoftalmitis terjadi 1-42 hari setelah operasi
-

Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus aureus

Bakteri gram negatif

: Pseudomonas, Proteus, Escherichia coli dan

Miscellaneous ( Serratia, Klebsiella, Bacillus)


-

Streptococcus sp

b. Kronis
Endoftalmitis terjadi 6 minggu 2 tahun setelah operasi
-

Stapylococcus epidermidis

Propionibacterium acnes

2. Bakteri Post Trauma


9

3.

Bacilluscereus

Staphylococcal sp

Streptococcal sp

Bakteri-Endogen
-

Streptococcus sp (pneumococcus, viridens)

Staphylococcal sp

4. Fungal Post Operatif


-

Volutella

Neurospora

Fusarium

Candida

5. Fungal Endogen
-

Candida

6. Fungal Trauma
-

Fusarium

Aspergilus

2.6. Patofisiologi Endoftalmitis 8,9


Masuknya bakteri ke dalam mata terjadi karena rusaknya rintangan-rintangan okular.
Penetrasi melalui kornea atau sklera mengakibatkan gangguan eksogen pada mata. Jika
masuknya lewat sistem vaskular, maka jalur endogen akan terbentuk. Setelahbakteri-bakteri
memperoleh jalan masuk ke dalam mata, proliferasi akan berlangsung dengan cepat.

10

Vitreus bertindak sebagai media yang sangat bagus bagi pertumbuhan bakteri.Bakteri
yang sering menyebabkan endoftalmitis adalah stafilokokus, streptokokus, pneumokokus,
pseudomonas dan bacillus cereus. Bakteri, sebagai benda asing, memicu suatu

respons

inflamasi. Masuknya produk-produk inflamasi menyebabkan tingginya kerusakan pada rintangan


okular-darah dan peningkatan rekrutmen selinflamasi.
Kerusakan pada mata terjadi akibat rusaknya sel-sel inflamasi yang melepaskan enzimenzim proteilitik serta racun-racun yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri. Kerusakan terjadi di
semua level jaringan yang berhubungan dengan sel-sel inflamasi dan racun-racun.
2.7. Gambaran Klinis 7,8
Endoftalmitis mengakibatkan peradangan dimana pada umumnya gambaran klinik berupa
rasa sakit, kelopak mata merah dan bengkak, kelopak mata sukar dibuka, kaburnya pandangan,
fotofobia, kehilangan proyeksi cahaya, konjungtiva kemotik, kornea keruh, bilik mata depan
keruh yang kadang-kadang disertai dengan hipopion. Hipopion adalah terdapatnya nanah dalam
bilik mata depan bagian bawah atau nanah dalam gelembung di bagian terendah. Hipopion ini
terbentuk pada penyakit radang kornea, iris dan badan siliar akibat dari sel radang yang masuk ke
dalam bilik mata depan. Bila sudah terlihat hipopion berarti keadaan sudah lanjut sehingga
prognosisnya buruk.
Pada pemeriksaan luar mata, funduskopi dan slit lamp dapat ditemukan : palpebra udem
dan eritem, injeksi konjungtiva dan silier, hipopion, vitreitis, kemosis, red reflek berkurang atau
hilang, proptosis, papilitis, leukokoria, udem kornea, keratitis, gambaran flare pada COA, dan
uveitis.

11

Manifestasi klinis dari endoftalmitis dapat digunakan untuk membedakan etiologi dari
endoftalmitis, yaitu :
1.

Bakteri
-

Onset cepat ( 1-7 hari post operatif)

Nyeri, mata merah dan kemosis

Edem palpebra dan spasme otot palpebra

Visus menurun dengan cepat

Hipopion

2.

Fungi
-

Onset terlambat (8-14 hari atau lebih)

Sedikit nyeri dan merah

Transient hipopion

Lesi satelit

Puff ball opacities pada vitreus

Visus tidak begitu menurun

Gambar 2.3. Gambaran klinis endoftalmitis

12

2.8. Pemeriksaan Penunjang:6


Diagnosis pasti endoftalmitis eksogen dapat ditegakkan dengan aspirasi 0,5-1 ml korpus
vitreus dengan sklerotomi pars plana dengan jarum no. 20-23. Kemudian aspirat diperiksa di
bawah mikroskop agar dapat diidentifikasikan bakteri dan pengobatannya.
Pemeriksaan lainnya yang diperlukan berupa:
1. Sediaan apus dengan pewarnaan Gram, Giemsa, KOH
2. Kultur cairan dari COA dan korpus vitreus dengan media kultur berupa blood agar,
chocolate agar, Sabourands media. Kultur ini butuh waktu 48 jam-14 hari.
3. USG mata (USG B-Scan) dilakukan jika pada pemeriksaan oftalmoskop fundus tidak
terlihat. USG mata dapat menentukan adanya benda asing dalam bola mata, menilai
densitas vitreitis yang terjadi dan mengetahui apakah infeksi mengenai retina.
2.9.

Diagnosis dan Diagnosis Banding Endoftalmitis Eksogen

2.9.1. Diagnosis6,7,8,9
a. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pada pasien endoftalmitis eksogen dapat ditemukan adanya riwayat baru terkena trauma
mata. Pada endoftalmitis pos operatif akut dapat muncul satu hari sampai beberapa hari setelah
operasi. Selain itu akan muncul penurunan visus dan meningkatkan nyeri mata. Pada
endoftalmitis pos operatif terlambat akan muncul satu minggu sampai satu bulan setelah
pembedahan. Hal ini bahkan bertahun tahun dapat muncul tapi rerata munculnya adalah 9 bulan.
Adanya penurunan visus dan meningkat kemerahan secara bertahap serta tidak ada atau minimal
nyeri. Penglihatan yang lekas hilang dan tidak kembali lagi beberapa hari setelah dilakukannya
operasi. Berdasarkan virulensi mikroorganisme yang menginfeksi, diagnosis dapat dibagi

13

menjadi onset akut dan kronis, sesuai dengan pedoman diagnostik menurut ESCRS Multisenter
Study tahun 2007, berupa:

1) Pedoman diagnostik Endoftalmitis Akut Virulensi:


Curigai pasien dengan keluhan dan temuan:
Nyeri mata, pandangan kabur, kelopak mata bengkak, ada radang pada konjungtiva,
sekret konjungtiva (+), kornea edema kadang dengan infiltrat atau abses berbentuk

cincin, bilik mata depan berkabut penuh dengan sel, hipopion, atau fibrin.
Adanya Afferent Puppilary Defect (APD), vitreus berkabut (vitritis), terlibatnya segmen

posterior dengan retinitis, retina edema, dan edema papil.


Tidak adanya reflek fundus sebagai penanda buruknya keadaan vitreus, kekeruhan

anterior sebagai tanda proses awal adanya inflamasi.


Jika pemeriksaan pupil dengan transluminasi sklera ditemukan refleks fundus, maka hal

ini merupakan petunjuk yang lebih baik pada kasus.


Setelah itu lakukan pengecekan dengan USG B scan untuk melihat adanya vitritis dan

ablasio retina.
Sadari bahwa keadaan ini merupakan kegawat daruratan. Lakukan pengambilan cairan
intravitreal untuk pemeriksaan gram dan kultur.

2) Pedoman Diagnostik Endoftalmitis Kronis


Curigai pasien dengan keluhan dan temuan:
Nyeri mata, pandangan kabur, kamera okuli anterior berkabut penuh dengan sel, rekuren
hipopion uveitis yang gagal dengan steroid, plak pada kantung kapsular (sakular atau

granulomatosa endoftalmitis), vitreus yang berkabut (vitritis).


Laukan pengecekan dengan USG B scan untuk melihat vitritis ini dan adanya ablasio

retina.
Ambil cairan aquos dan vitreus untuk pemeriksaan mikrobiologi. Jika direncanakan
pengambilan IOL (Intra Okular Lens), ambil bagian kapsular untuk diperiksa
mikrobiologi dan histopatologinya. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah bakteri
penyebab endoftalmitis masih ada di intravitreal.
14

2.9.2 Diagnosis Banding6


1. Panuveitis
Panuveitis (uveitis difus) adalah sebuah inflamasi general pada seluruh traktus uvea (iris,
badan siliar, dan koroid) dan mengenai retina serta viterus. Penyebab panuveitis adalah
tuberkulosis, sindrom Koyanagi Harada, simpatetik ophtalmikus, Bechets disease dan
sarcoidosis.
ciri morfologi yang khas pada panuveitis ini tidak ada, tapi ada beberapa gejala yang
hampir sama dengan gejala uveitis berupa mata merah (hiperemis konjungtiva), nyeri mata,
fotofobia, pandangan mata menurun dan kabur, serta epifora.
2. Panoftalmitis
Panoftalmitis merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul
Tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses. Infeksi dapat disebabkan oleh organisme
piogenik yang masuk kedalam mata melalui luka pada kornea (eksogen) ataupun peredaran darah
(endogen).
Umumnya pasien datang dengan keluhan demam, sakit kepala dan kadang-kadang
muntah, rasa nyeri, mata merah, kelopak mata bengkak atau edem, serta terdapat penurunan
tajam penglihatan. Pada pemeriksaan fisik dapata ditemukan injeksi konjungtiva dan siliar yang
hebat, chemosis konjungtiva selalu ada dan kornea tampak keruh. Pupil mengecil permanen,
pada COA sering terdapat hipopion dan adanya peningkatan tekanan intraokuler. Oleh karena
adanya radang pada kapsul tenon akan mengakibatkan terbatasnya gerakan bola mata.
3. Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah tumor ganas intraokular yang berasal dari jaringan retina
embrional dan ditemukan pada anak-anak. Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit
mata lainnya, jika letak tumor di makula, akan terlihat gejala awal berupa strabismus. Massa
15

tumor yang semakin besar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di
vitreus menyerupai endoftalmitis.

2.10. Pengobatan Endoftalmitis


Pada endoftalmitis eksogen maupun endogen akan menunjukkan keadaan visus yang
buruk. Hal ini disebabkan oleh enzim proteolitik dan produk toksin yang dihasilkan oleh
mikroorganisme penyebabnya. Produk-produk ini akan merusak retina. Oleh karena itu
pengobatan ditujukan bukan untuk perbaikan visus, tapi untuk menghentikan inflamasi yang
terjadi, membatasi infeksi agar tidak terjadi penyulit dan keadaan yang lebih berat.
a. Pengobatan Antibiotik
Teknik pengobatan endoftalmitis adalah memulai pemberian antibiotik empiris yang
sudah terbukti efektif terhadap mikroorganisme penyebabnya. Antibiotik yang diberikan dapat
berupa golongan Penisilin dan Sefalosporin yang bekerja pada membran sel bakteri. Selain itu
diberikan juga golongan kloramfenikol dan aminoglikosida yang dapat menghambat sintesa
protein bakteri.

Pasien dirawat di rumah sakit sekitar 3-5 hari untuk diberikan antibiotik

intravena. Terapi awal dapat diberikan berupa injeksi IV Vancomicin 1g setiap 12 jam dan IV
ceftadizime 1-2g setiap 8-12 jam. Jika dengan pemeriksaan kultur didapatkan pasien terinfeksi
bakteri Bacilus atau bakteri anaerob lainnya, dapat direncanakan penambahan obat oral berupa
klindamisin 300 mg setiap 8 jam, amikacin 240 mg setiap 8 jam atau gentamicin 80 mg setiap 8
jam.7
b. Pengobatan Antifungal
Antifungal diberikan jika pasien tidak respon terhadap pemberian antibiotik dosis tunggal
ataupun kombinasi. Adanya faktor predisposisi infeksi jamur berupa pasien datang dalam
16

pengobatan antibiotik spektrum luas dlam jangka waktu lama, penderita keganasan ataupun
imunitas buruk (pasien AIDS). Biasanya diberikan Flukonazol 50-400mg/kg/hari peroral atau
IV.5
c. Pengobatan kortikosteroid dan siklopegik
Terapi steroid diberikan untuk reaksi inflamasi disertai terbentuknya eksudat, sehingga
jaringan granulasi dapat berkurang. Efek steroid ini sangat berguna karena dasar endoftalmitis
adalah inflamasi yang terus berlanjut dan akan mempengaruhi prognosi visus. Banyak penelitian
yang menunjukkan hasil memuaskan dengan pemberian Dexamethasone intravitreal dosis 0,4
mg dan 1 mg secara intraokular sebagai profilaksis kerusakan mata yang lebih luas. 5
Pemberian siklopegik topikal berguna untuk mengurangi rasa nyeri, menstabilkan aliran
darah mata, dan mencegah terjadinya sinekia posterior.5
d. Tindakan bedah
Pada kasus berat dan endoftalmitis post trauma dapat dilakukan vitrektomi pars Plana
yang bertujuan untuk mengeluarkan organisme beserta produknya (toksi dan enzim proteolitik)
yang ada dalam viterus dengan menggunakan vitrectome. Selain itu dapat juga meningkatkan
distribusi antibiotik dan mengeluarkan membran siklitik yang terbentuk, dimana membran ini
berpotensi mengakibatkan ablasio retina. 7
Pemberian antibiotik empirik saat vitrektomi pars plana dapat dilakukan, berupa injeksi
intravitreal vancomicin 1mg/0,1ml dan ceftazidime 2,25 mg/0,1ml. jika ada benda asing, lakukan
pengambilan benda asing intraokular secara emergensi.7
2.11. Komplikasi 5
Yang paling sering terjadi adalah meluasnya peradangan sehingga mengenai ketiga
lapisan mata (retina, koroid, sklera) dan badan kaca sehingga terjadilah panoftalmitis. Selain itu
komplikasi lainnya dapat berupa vitreous hemoragik, endophthalmitis rekuren, ablasio retina,
drug induced retinal toxicity, dan glaukoma sekunder.

17

2.12. Prognosis 9
Prognosis endoftalmitis endogen ataupun eksogen tergantung pada:
Tingkat keparahan infeksi
Virulensi organisme (agen penyebab)
Jumlah kerusakan mata yang dapat dilihat dari peradangan dan jaringan parut.
Fungsi penglihatan pasien/ visus yang dapat tergantung pada virulensi organisme
penginfeksi, adanya retina yang lepas, waktu dari awal penyakit sampai diobati,
dan luasnya cedera.

BAB 3
PENUTUP
18

3.1. Kesimpulan
Endoftalmitis adalah peradangan berat yang terjadi pada seluruh jaringan intraokular
yang mengenai dua dinding bola mata, yaitu retina dan koroid tanpa melibatkan sklera dan
kapsul tenon. Endoftalmitis dapat diklasifikasikan menjadi supuratif, non supuratif, dan
endoftalmitis fakoanafilaktik. Penyebab endoftalmitis dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
besar, yaitu infeksi yang dapat bersifat endogen dan eksogen serta disebabkan oleh imunologis.
Gejala subjektif antara lain adalah nyeri pada bola mata, penurunan tajam penglihatan,
nyeri kepala, mata terasa bengkak, kelopak mata merah, bengkak, dan kadang sulit dibuka.
Sedangkan dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan edema pada palpebra superior, reaksi
konjungtiva berupa hiperemis dan kemosis, serta adanya edema pada kornea.
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah kultur. Pengobatan pasien endoftalmitis
adalah dengan antibiotik atau antifungal yang diberikan secepatnya secara intravitreal.
Sedangkan pemberian kortikosteroid masih kontroversi walaupun terbukti bermanfaat. Kadang
dapat pula diberikan sikloplegik. Bila dengan pengobatan malah terjadi perburukan, tindakan,
vitrektomi harus dilakukan.
3.2. Saran
Penyakit ini memiliki prognosis yang buruk dan dapat mengakibatkan kebutaan. Oleh
karena itu kita sebagai dokter umum harus dapat mendiagnosis, melakukan pemeriksaan fisik
dan tambahan sehingga dapat dirujuk secepat mungkin. Apalagi ditemukan endoftalmitis akut,
tindakan yang dilakukan bersifat emergensi. Semakin cepat endoftalmitis ditemukan dan
ditindak, semakin baik prognosis pasien.

19

20

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Ilyas, S.H. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit FKUI, 2006.
2. Miller, J.W. Endophthalmitis. Diunduh dari www.emedicine.com. Edit tanggal 31
Oktober 2013.
3. Miller, J.W. Post Operative Endophthalmitis. Diunduh dari www.emedicine.com. Edit
tanggal 31 Oktober 2013.
4. Vaughan, G: Oftalmologi Umum, Edisi ke 14, Widya Medika. Jakarta, 2000.
5. Ilyas, Sidarta. Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke 3. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta, 2005.
6. Egan, Daniel J. endophthalmitis. Diakses dari www.medscape.com. Diedit tanggal 30
Oktober 2013.
7. Clark, William L. Postoperative Endophthalmitis. Diakses dari www.medscape.com.
Diedit tanggal 31 Oktober 2013.
8. Khurana, AK. Comprehensive Ophthalmology 4th ed. New Age International. New Delhi,
2007.
9. Hampton. Post traumatic Endophthalmitis. Diakses dari www.aao.eyewiki.com. Diedit
tanggal 30 Oktober 2013.

22