Anda di halaman 1dari 21

TUGAS

BAJA LANJUT

BOLTED CONNECTION
( SAMBUNGAN BAUT)

Dosen Pembimbing :
Prof. Dr.Ir. H. Anis Saggaf, MSCE
Oleh :
KELOMPOK

1. SITI KHAIRANI P.S

(03111401046)

2. LAZUARDINI PANNI

(03111401055)

3. ERICHA RIZKY A

(03111401045)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada suatu konstruksi bangunan, tidak terlepas dari elemen-elemen seperti balok,
kolom pelat maupun kolom balok, baik itu yang terbuat dari baja, kayu maupun beton,
pada tempat-tempat tertentu harus disambung. Hal ini dikarenakan keterbatasan
ketersediaan material dipasaran dan juga hubungan dengan kemudahan pemasangan di
lapangan. Konstruksi yang terbuat dari baja , sambungan merupakan sesuatu hal yang
perlu mendapat perhatian serius yang matang karena pada konstruksi baja maupun
elemen-emelen struktur yang akan disambung tidak dapat bersifat monoloit seperti
konstruksi beton.
Pada umumnya sambungan berfungsi untuk memindahkan gaya-gaya yang bekerja
pada elemen-elemen struktur yang akan disambung, sambungan dibuat karena
keterbatasan bahan yang tersedia serta kemudahan dalam hal pengangkutan. Misalkan
saja akan dibuat suatu struktur rangka gading-gading kap yang terbuat dari profil baja
siku maka tidak mungkin melakukannya secara langsung di lapangan karena tidak
ekonomis, tetapi akan lebih hemat jika terlebih dahulu merakitnya di pabrikasi
(bengkel /workshop), baru selanjutnya tinggal menyambungkannya pada kolom-kolom di
lapangan. Di dalam struktur rangka sambungan pelat ataupun sambungan profil baja
tidak dapat dihindari adanya kemungkinan suatu profil baja yang kurang panjangnya,
sehingga diadakan sambungan karena pertemuan suatu batang dengan batang yang lain
pada satu titik buhul, dengan menggunakan pelat buhul.
Setiap struktur adalah gabungan dari bagian-bagian tersendiri atau batang-batang
yang harus disambung bersama (biasanya di ujung batang) dengan beberapa cara.
Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi, pelat buhul, pelat
pendukung, dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut, paku keling, dan las).
Dalam hal ini akan dibahas mengenai sambungan baut .

BAB II

PEMBAHASAN
Setiap struktur baja merupakan gabungan dari beberapa komponen batang yang disatukan
dengan alat pengencang. Adapun beberapa jenis alat pengencang yang sering digunakan pada
sambungan baja adalah las, baut dan paku keling.
Tujuan Sambungan:

Untuk menggabungkan beberapa batang baja membentuk kesatuan konstruksi sesuai


kebutuhan.

Untuk mendapatkan ukuran baja sesuai kebutuhan (panjang, lebar,

tebal, dan

sebagainya).

Untuk memudahkan dalam penyetelan konstruksi baja di lapangan.

Untuk memudahkan penggantian bila suatu bagian / batang konstruksi mengalami


rusak.

Untuk memberikan kemungkinan adanya bagian / batang konstruksi yang dapat


bergerak missal peristiwa muai-susut baja akibat perubahan suhu.

Di dalam sambungan baja, terdapat 3 (tiga) macam jenis sambungan, yaitu sambungan baut,
sambungan paku keling dan sambungan las.
Sambungan Baut
Jenis-jenis sambungan struktur baja yang digunakan adalah pengelasan serta sambungan
yang menggunakan alat penyambung berupa paku keling (rivet) dan baut. Baut berkekuatan
tinggi (high strength bolt) telah banyak menggantikan paku keling sebagai alat utama dalam
sambungan struktural yang tidak dilas.
Pada umumnya baut yang digunakan untuk menyambung profil baja ada 2 jenis, yaitu :

Baut yang diulir penuh, yaitu baut yang diulir penuh berarti mulai dari pangkal baut

sampai ujung baut diulir.


Baut yang tidak diulir penuh, yaitu baut yang sebagiannya saja diulir.

Gambar 1. Baut yang diulir penuh


Sumber: Heinrich,1981

Diameter baut yang diulir penuh disebut Diameter Kern (inti) yang ditulis
dengan notasi dk atau d1 pada Tabel Baja tentang baut, yaitu :

Diameter yang dipergunakan untuk menghitung luas penampang (Abaut) ialah :

Abaut =

1
2
.d s
4

Dimana : Abaut = Luas penampang baut

ds
=

d n 3.d k
4

Kalau baut yang diulir penuh digunakan sebagai alat penyambung, maka ulir
baut akan berada pada bidang geser. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar 2
berikut.

Gambar 2. Ulir baut berada pada bidang geser


Sumber: Heinrich,1981

Baut adalah alat sambung dengan batang bulat dan berulir, salah satu ujungnya
dibentuk kepala baut ( umumnya bentuk kepala segi enam ) dan ujung lainnya dipasang
mur/pengunci. Dalam pemakaian di lapangan, baut dapat digunakan untuk membuat
konstruksi sambungan tetap, sambungan bergerak, maupun sambungan sementara yang dapat
dibongkar/dilepas kembali. Bentuk uliran batang baut untuk baja bangunan pada umumnya
ulir segi tiga (ulir tajam) sesuai fungsinya yaitu sebagai baut pengikat. Sedangkan bentuk ulir
segi empat (ulir tumpul) umumnya untuk baut-baut penggerak \ atau pemindah tenaga
misalnya dongkrak atau alat-alat permesinan yang lain.
Contoh sambungan baut:

Gambar 3. Contoh sambungan baut pada rangka


Sumber: Charles G,1991

Gambar 4. Contoh sambungan baut pada kolom


Sumber: Charles G,1991
Baut untuk konstruksi baja bangunan dibedakan 2 jenis :
Baut Hitam
Yaitu baut dari baja lunak ( St-34 ) banyak dipakai untuk konstruksi ringan / sedang
misalnya bangunan gedung, diameter lubang dan diameter batang baut memiliki kelonggaran
1 mm. Baut ini dibuat dari baja karbon rendah yang diidentifikasi sebagai ASTM A307, dan
merupakan jenis baut yang paling murah. Namun, baut ini belum tentu menghasilkan
sambungan yang paling murah karena banyaknya jumlah baut yang dibutuhkan pada suatu
sambungan.
Pemakaiannya terutama pada struktur yang ringan, batang sekunder atau pengaku,
anjungan (platform), gording, rusuk dinding, rangka batang yang kecil dan lain-lain yang
bebannya kecil dan bersifat statis. Baut ini juga dipakai sebagai alat penyambung sementara
pada sambungan yang menggunakan baut kekuatan tinggi, paku keling, atau las. Baut hitam
(yang tidak dihaluskan) kadangkadang disebut baut biasa, mesin, atau kasar, serta kepala dan
murnya dapat berbentuk bujur sangkar.

Baut Pass
Yaitu baut dari baja mutu tinggi ( St-42 ) dipakai untuk konstruksi berat atau beban
bertukar seperti jembatan jalan raya, diameter lubang dan diameter batang baut relatif pass
yaitu kelonggaran 0,1 mm. Dua jenis utama baut kekuatan (mutu) tinggi ditunjukkan oleh
ASTM sebagai A325 dan A490. Baut ini memiliki kepala segienam yang tebal dan digunakan
dengan mur segienam yang setengah halus (semifinished) dan tebal seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 6.10(b). Bagian berulirnya lebih pendek dari pada baut non-struktural, dan
dapat dipotong atau digiling (rolled). Baut A325 terbuat dari baja karbon sedang yang diberi
perlakuan panas dengan kekuatan leleh sekitar 81 sampai 92 ksi (558 sampai 634 MPa) yang
tergantung pada diameter.
Baut A490 juga diberi perlakuan panas tetapi terbuat dari baja paduan (alloy) dengan
kekuatan leleh sekitar 115 sampai 130 ksi (793 sampai 896 MPa) yang tergantung pada
diameter. Baut A449 kadang-kadang digunakan bila diameter yang diperlukan berkisar dari II
sampai 3 inci, dan juga untuk baut angkur serta batang bulat berulir. Diameter baut kekuatan
tinggi berkisar antara dan 1 . inci (3 inci untuk A449). Diameter yang paling sering
digunakan pada konstruksi gedung adalah 3/4 inci dan 7/8 inci, sedang ukuran yang paling
umum dalam perencanaan jembatan adalah 7/8 inci dan 1 inci. Baut kekuatan tinggi
dikencangkan (tightened) untuk menimbulkan tegangan tarik yang ditetapkan pada baut
sehingga terjadi gaya jepit (klem/clamping force) pada sambungan.
Oleh karena itu, pemindahan beban kerja yang sesungguhnya pada sambungan terjadi
akibat adanya gesekan (friksi) pada potongan yang disambung. Sambungan dengan baut
kekuatan tinggi dapat direncanakan sebagai tipe geser (friction type), bila daya tahan gelincir
(slip) yang tinggi dikehendaki; atau sebagai tipe tumpu (bearing type), bila daya tahan
gelincir yang tinggi tidak dibutuhkan.

Gambar 5. Baut dan spesifikasinya


Sumber: Charles G,1991

Macam-macam ukuran baut

Macam-macam ukuran diameter baut untuk konstruksi baja antara lain


7/16

( d = 11,11 mm )

1/2

( d = 12,70 mm )

5/8

( d = 15,87 mm )

3/4

( d = 19,05 mm )

7/8

( d = 22,22 mm )

( d = 25,40 mm )

11/8

( d = 28,57 mm )

11/4

( d = 31,75 mm )

Bagian-bagian pada baut

Gambar 6. Bagian-bagian baut


Sumber: Hibbeler,2002
Keterangan : Ring pada pemasangan baut-mur berfungsi agar bila mur dikencangkan dengan
keras tidak mudah dol/londot.
Keuntungan sambungan baut
Keuntungan sambungan menggunakan baut antara lain :
1)

Lebih mudah dalam pemasangan/penyetelan konstruksi di lapangan.

2)

Konstruksi sambungan dapat dibongkar-pasang.

3)

Dapat dipakai untuk menyambung dengan jumlah tebal baja > 4d (tidak seperti paku
keling dibatasi maksimum 4d ).

4)

Dengan menggunakan jenis Baut Pass maka dapat digunakan untuk konstruksi berat
seperti jembatan.

Prinsip Umum Jarak- Jarak Sambungan Baut

Gambar 7. Jarak sambngan baut


Sumber: Salmon,1991
Jarak antara sumbu baut paling luar ke tepi atau ke ujung bagian yang disambung, tidak
boleh kurang dari 1,2 d dan tidak boleh lebih besar dari 3d atau 6 t (t adalah tebal terkecil
bagian yang disambungkan).
Pada sambungan yang terdiri dari satu baris baut, jarak dari sumbu ke sumbu dari 2 baut
yang berurutan tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d .
Jika sambungan terdiri lebih dari satu baris baut yang tidak berseling, maka jarak antara
kedua baris baut itu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan pada satu baris
tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t.

Ketentuan Banyaknya Baut

Banyaknya baut yang dipasang pada satu baris yang sejajar arah gaya, tidak boleh
lebih dari 5 buah.

Gambar 8. Contoh deret baut


Sumber: Salmon,1991

Jenis-jenis Sambungan Yang Menggunakan Baut


Ada 4 jenis sambungan yang menggunakan baut, yaitu :
1) Baut dengan 1 irisan (Tegangan geser tegak lurus dengan sumbu baut).

Gambar 9. Baut dengan 1 irisan


Sumber: Salmon,1991

2) Baut dengan 2 irisan (Tegangan geser tegak lurus dengan sumbu baut).

Gambar 10. Baut dengan 2 irisan


Sumber: Salmon,1991

3)Baut yang dibebani sejajar sumbunya.

Gambar 11. Baut sejajar sumbu


Sumber: Salmon,1991

4) Baut yang dibebani sejajar sumbu dan tegak lurus sumbu.

Gambar 12. Baut sejajar dan tegak lurus sumbu


Sumber: Salmon,1991

Bidang Kerja Sambungan


Perencanaan sambungan ditentukan oleh bidang kerja sambungan, yaitu bidang
tempat bekerjanya gaya pada sistem sambungan
Bidang Kerja
1. Sejajar (Dalam Bidang / Sebidang)
2. Tegak Lurus (Luar Bidang / Tak Sebidang)
3. Kombinasi Sejajar - Tegak Lurus

1. Bidang Kerja Sejajar / Pembebanan Dalam Bidang


Pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya berada dalam bidang
sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen
sambungan hanya gaya geser.

Pu

Gambar 13. Bidang Kerja Sebidang


Sumber: Struktural Analysis,2002

2. Bidang Kerja Tegak Lurus /Pembebanan Luar Bidang


Pembebanan yang gaya atau momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang
arahnya tegak lurus bidang sambungan sehingga gaya yang ditimbulkan dalam
komponen sambungan adalah gaya tarik.

Mu

Gambar 14. Bidang Kerja Tegak Lurus bidang


Sumber: Struktural Analysis,2002

3. Bidang Kerja Kombinasi


Pembebanan yang gaya atau momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang
arahnya sejajar dan tegak lurus bidang sambungan sehingga gaya yang ditimbulkan
dalam komponen sambungan adalah kombinasi gaya geser dan tarik.

Pu

Gambar 15. Bidang Kerja Kombinasi


Sumber: Struktural Analysis,2002

MEKANISME SAMBUNGAN
1. Tipe Tumpu
sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut yang dikencangkan dengan
tangan, atau baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkan gaya tarik minimum
yang disyaratkan, yang kuat rencananya disalurkan oleh gaya geser pada baut dan tumpuan
pada bagian-bagian yang disambungkan

no friction

Gambar 16. Tipe tumpu


Sumber: Struktural Analysis,2002

Akibatnya terjadi kerusakan pada baut dan kerusakan pada plat

P
Gambar 17. Kerusakan pada baut dan plat akibat tumpu
Sumber: Struktural Analysis,2002

2. Tipe Friksi
sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk
menimbulkan tarikan baut minimum yang disyaratkan sedemikian rupa sehingga gaya-gaya
geser rencana disalurkan melalui jepitan yang bekerja dalam bidang kontak dan gesekan yang
ditimbulkan antara bidang-bidang kontak.

Gambar 18. Tipe Friksi


Sumber: Struktural Analysis,2002

Perhitungan kuat tarik rencana

Perhitungan kuat geser rencana

Tumpu pada baut

Tumpu pada plat

Tipe friksi

Kerusakan Sambungan
a. Kerusakan pada baut akibat geser

Gambar 19. Kerusakan akibat geser


Sumber: Struktural Analysis,2002
b. Kerusakan pada pelat lewat lubang sambungan

Gambar 20. Kerusakan pada pelat


Sumber: Struktural Analysis,2002
c. Kerusakan pada baut ataupun pelat (mana yang lebih lemah) akibat tumpu

Gambar 21. Kerusakan pada baut atau pelat


Sumber: Struktural Analysis,2002

d. Kerusakan pada tepi pelat akibat geser

Gambar 22. Kerusakan pada tepi pelat


Sumber: Struktural Analysis,2002

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Terdapat 2 jenis baut, yaitu Baut Hitam dan Baut Pass


Kerusakan akibat sambungan baut:
Akibat Geser
Kerusakan pada pelat lewat lubang sambungan
Kerusakan pada baut ataupun pelat akibat tumpu
Kerusakan pada tepi pelat akibat geser

Mekanisme sambungan ada 2,yaitu:


Akibat tumpu
Akibat Friksi

Bidang kerja sambungan ada 3, yaitu:


Sebidang
Tegak lurus bidang
Kombinasi

Jenis-jenis sambungan baut, yaitu:


Baut dengan 1 irisan
Baut dengan 2 irisan
Baut yang dibebani sejajar sumbunya
Baut yang dibebani sejajar dan tegak lurus sumbunya

DAFTAR PUSTAKA
Adluri, Seshu. Steel Connection Design Issues, Memorial University.
Ariestadi, Dian. Teknik Struktur Bangunan Jilid 3 untuk SMK. Jakarta : Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

ASTM F606-95b . Determining the Mechanical Properties of Externally and Internally


Threaded Fasteners, Washers, and Rivets. Volume 15.08 Fasteners. ASTM. West
Conshohocken,PA 1995.
ASTM F1575-95. Standard Test Method for Determining Bending Yield Moment of Nails
Volume 15.08 Fasteners. ASTM. West Conshohocken,PA 1995.

Anonim (2002). SNI 03-1729-2002. Tata cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan
Gedung.
Engel, Heinrich (1981). Structure Systems. Van Nostrand Reinhold Company.
Gaylord Jr, Edwin H; Gaylord, Charles N.; dan Stallmeyer, James E. (1997) Structural E
ngineering Handbook, 4th. McGraw-Hill.
Hibbeler, Russell C (2002). Structural Analysis, fifth edition. Prentice Hall.
Salmon, Charles G., Johnson, John E. & Wira M (penterjemah) (1991). Struktur Baja, Disain
dan Perilaku, jilid 1 dan 2, Edisi kedua. Jakarta. Erlangga.
Soltis, L.A, and Wilkinson, T.L. (1987). Bolted Connection Design. General Tec. Rep. FPLGTR-54. Madison, WI. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Forest
Products Laboratory;1987. 21p.