Anda di halaman 1dari 5

C.

ANALISIS JURNAL

Gambar 1. Rancangan Penelitian dari Jurnal Yang Dianalisis (Garcia-Hubidobro et al, 2011)

Analisis jurnal ini dapat dengan mudah untuk dimengerti dengan melihat gambar 1. Di atas.
Adapun penjelasan lebih lanjutnya sebagai berikut :
Population :
-

Pasien diabetes tipe 2 rata-rata memiliki kontrol gula darah yang rendah atau pasien

diabetes mellitus yang tidak mampu mengontrol gula darahnya.


Penelitian yang dilakukan di Santiago, Chili ini memiliki criteria inklusi yaitu HbA1c > 7
% dengan rentang umur 18-70 tahun dan tinggal dengan anggota keluarga lainnya > 15
tahun. HbA1c adalah hasil laboratorium yang mendeskripsikan rata-rata gula darah
selama 3 bulan terakhir. Nilai normalnya adalah < 5.7 % , jika sudah terkena diabetes
biasanya sudah > 6.5 %.

Pasien yang memiliki gangguan kognitif dan dihospitalisasi selama 3 bulan terakhir

terkait dengan nilai HbA1c.


Jumlah pasien dengan perlakuan adalah 83 orang, jumlah kontrol1 adalah 76 orang,
jumlah control 2 adalah 84 orang, jadi jumlah sampel yang digunakan pada akhirnya
adalah 243 orang dan akhirnya hanya 209 (86 %) yang masuk criteria inklusi.

Intervention :
-

Intervensi pada jurnal ini adalah FAMILY INTERVENTION dalam penatalaksanaan

control metabolik dari pasien dewasa


Intervensi ini mencakup anggota keluarga dalam perawatan pasien berupa konseling

keluarga selama kunjungan klinik, pertemuan keluarga, dan kunjungan rumah.


Intervensi ini menggunakan literature Chronic Care Model oleh Wagner dkk. Anggota
keluarga diedukasi untuk ikut serta dalam perawatan diabetes. Setiap pasien pada
penelitian ini juga berpartisipasi dalam pertemuan tenaga kesehatan dan keluarga dan
pertemuan multikeluarga yang tidak hanya melibatkan perawat tapi juga multidisiplin.
Selain pertemuan keluarga, terdapat juga kunjungan rumah yang dimana nantinya
tenaga kesehatan berdiskusi dengan keluarga mengenai control diabetes dari pasien.
Aktivitas ini diukur dengan interview atau wawancara semi terstruktur dan diakhir
aktivitas ini, pasien dan kerabatnya menandatangani perjanjian dengan peneliti. Sebagai
motivasi, keluarga diberikan sebuah modul atau buku resep penyakit diabetes dan
selama pertemuan keluarga, mereka akan menerima foto keluarga mereka. Sebagai
tambahan pasien akan mendapatkan sesi konseling begitu juga dengan kerabatnya.

Comparison :
-

Pasien berasal dari tiga klinik yakni dari satu klinik menerima family intervention ,
sedangkan pasien dari 2 klinik lainnya sebagai kelompok control 1 dan kelompok control
2, hanya mendapat perawatan standar. Intervensi ini mencakup anggota keluarga dalam
perawatan pasien. Pada akhirnya dibandingkan hasil HbA1c pada ketiga kelompok
tersebut.

Outcome :
-

Selama 12 bulan, rata-rata HbA1c secara signifikan mengalami pengurangan pada


kelompok intervensi dari 10,3 % menjadi 9,2 % (p < 0.001), dan pada kelompok control1
mengalami penurunan dari 9,5 % menjadi 8,6 % (p < 0.01). Sedangkan perbandingan
antara kelompok intervensi dan kelompok control signifikan berbeda. Peneliti juga

mendapatkan hasil observasi berupa penurunan gejala depresi secara signifikan pada
kelompok intervensi terhadap kelompok control 1. Selain itu, sebagian besar pasien yakni
97 % pasien menyatakan bahwa aktivitas dan perhatian keluarga membantu mereka
dalam memanajemen penyakit diabetes ini.
Time :
-

Penelitian ini dilakukan selama 12 bulan, dimana dilihat pula efeknya selama 6 bulan
pertama.

Dukungan keluarga tidak hanya dihubungankan dengan kadar HbA1c pada penderita diabetes
mellitus. Penelitian di Indonesia telah banyak membahas bahwa dukungan keluarga sangat
penting dalam manajemen penyakit. Intervensi dengan kolaborasi dengan keluarga dapat juga
mencegah munculnya komplikasi diabetes, dan dapat memotivasi pasien untuk menjalani
tritmennya dengan baik. Namun ada juga literature yang menyatakan dukungan sikap dan
perilaku keluarga tidak berhubungan dengan kadar gula darah pasien. Adapun sumber
literature penyerta lainnya adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Pencegahan Sekunder Pada Pasien Diabetes
Melitus (DM) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat
(Karlina, 2012).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura
tahun 2009 terlihat jumlah kasus yang terbanyak setelah hipertensi adalah kasus diabetes
mellitus (DM) dengan jumlah kunjungan sebanyak 948 pasien. Jenis penelitian adalah
survei dengan tipe explanatory research. Populasi adalah seluruh pasien diabetes mellitus
(DM) sebanyak 948 orang dengan besar sampel 90 orang yang diambil secara simple
random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang berpengaruh terdapat pencegahan
sekunder pada pasien diabetes mellitus (DM) adalah dukungan penilaian dan dukungan
instrumental. Disarankan kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura
Kabupaten Langkat perlu menyediakan media sumber informasi berupa audio visual
tentang penyakit diabetes mellitus (DM), pentingnya dukungan keluarga di ruang tunggu
poli rumah sakit.

2. Hubungan Antara Sikap, Perilaku, dan Partisipasi Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah
Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Yogayakarta. (Rinto,
Sunarto, Fidianingsih, 2008)
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-analitik dan menggunakan rancangan
dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien DM Tipe 2 RS PKU
Muhammadiyah dari bulan januari juli sebanyak 70 orang. Jumlah responden dalam
penelitian sebanyak 35 orang. Pengumpulan data dengan kuesioner dan rekam medik.
Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dengan taraf signifikan p<0.05. Uji
Chi-Square test yang digunakan untuk menguji adakah hubungan antara sikap, perilaku
dan partisipasi keluarga terhadap kadar gula darah penderita DM tipe 2 memberikan hasil P
> 0,05 sehingga menyatakan tidak ada hubungan antara sikap, perilaku dan partisipasi
keluarga terhadap kadar gula darah penderita DM tipe 2. Masih cukup besar persentase
tingkat kadar gula darah penderita DM tipe 2 yang dikatakan buruk (54,3 %) dibandingkan
dengan tingkat kadar gula darah penderita DM tipe 2 yang baik (45,7 %).
3. Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Motivasi Untuk Menjalani Tritmen
Pada Penderita Diabetes Melitus. (Sulianto & Kumolohadi, 2008).
Adanya dukungan social keluarga mempunyai peranan penting untuk meningkatkan
motivasi dari penderita DM untuk menjalani tritmen. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui hubungan antara dukungan social keluarga dengan motivasi untuk menjalani
tritmen pada penderita diabetes mellitus. Penelitian ini menggunakan metode skala, dan try
out terpakai. Penelitian ini dilakukan di kota Magelang. Subyeknya adalah pasien penderita
diabetes mellitus yang berstatus menikah, memiliki anak dan tinggal bersama orang tua.
Instrumen penelitiannya adalah angket dukungan sosial keluarga dan angket motivasi
untuk menjalani tritmen Hasil analisis data yaitu adanya hubungan yang sangat kuat antara
dukungan social keluarga dengan motivasi untuk menjalani tritmen pada penderita diabetes
mellitus, dan sumbangan dukungan sosial keluarga terhadap motivasi untuk menjalani
tritmen sebesar 75%.
4. Psychological family intervention for poorly controlled type 2 diabetes.

Penelitian ini melibatkan uji coba terkontrol secara acak selama 6 bulan. Peserta direkrut
dari klinik diabetes spesialis di rumah sakit besar di pinggiran kota. Pasien dilibatkan
dalam penelitian jika mereka memiliki diabetes tipe 2 selama lebih dari 1 tahun, dengan
umur lebih dari 18 tahun, dan memiliki kontrol glikemik yang buruk terus-menerus, yang
didefinisikan sebagai memiliki yaitu paling sedikit pembacaan 2 dari 3 A1C mereka ada
pada 8,0% atau lebih tinggi. Penilaian terhadap A1C dihitung dari e kunjungan klinik
terakhir pasien, umumnya pada saat perekrutan dan pada 6 dan 12 bulan
sebelumnya. Pasien dengan A1C rekrutmen kurang dari 8,0% dimasukkan jika penilaian
mereka sebelumnya adalah lebih besar dari 8,0%. Pasien menominasikan anggota
keluarga yang paling terlibat dalam membantu mereka dalam manajemen diabetes untuk
berpartisipasi. Anggota keluarga didefinisikan sebagai mereka yang memiliki hubungan
dekat dan kontak teratur dengan pasien, meskipun mereka tidak diharuskan untuk hidup
dengan pasien atau memiliki hubungan darah (misalnya, teman dekat dapat
berpartisipasi). Anggota keluarga dituntut untuk lebih dari 18 tahun dan tidak memiliki
riwayat diabetes. Peserta diberikan informed consent tertulis untuk berpartisipasi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa target dengan keyakinan yang tidak akurat dan / atau
negatif tentang diabetes tipe 2, dalam setting rumah dan di hadapan anggota keluarga,
dapat mengubah persepsi penyakit dan meningkatkan kontrol glikemik yang buruk,
manajemen diri, kesejahteraan psikologis , dan family support. Mengingat sifat sumber
daya yang intensif terhadap intervensi dan adanya berkembangnya kontrol glikemik yang
lebih baik, studi masa depan diperlukan untuk menilai efektivitas penyampaian jenis
intervensi ini dalam berbagai alternatif, dan dilakukan oleh tenaga kesehatan
lainnya.Menerapkan intervensi ini untuk mereka yang memiliki kontrol paling buruk
dapat memberikan banyak keuntungan, setidaknya dalam jangka pendek.