Anda di halaman 1dari 47

1

PENDAHULUAN
Secara sederhana, seseorang dikatakan menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi jika tekanan darah sistolik lebih besar
daripada 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih besar daripada 90 mmHg. Tekanan darah ideal adalah 120 mmHg untuk
sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik. Dalam banyak kasus, kedua tekanan itu mengalami kenaikan. Faktor resiko terjadinya
stroke sangat rentan terhadap penderita hipertensi. Tekanan darah sistolik (angka atas) adalah tekanan puncak yang tercapai
ketika jantung berkontraksi dan mempompakan darah keluar melalui arteri. Sementara tekanan darah diastolik (angka bawah)
diambil ketika tekanan jatuh ke titik terendah saat jantung rileks dan mengisi darah kembali. Peningkatan tekanan pada
hipertensi paru (pulmonary hypertension) erat kaitannya dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau
meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah lembut (periferal). Meski faktor penyebabnya
bermacam-macam, tapi pusatnya adalah ketidakseimbangan sistem renin-angio-tensin, yang berperan penting dalam
pengaturan tekanan darah. Hipertensi, yang umumnya berkembang saat umur paruh baya, lebih banyak menyerang pria dan
wanita pascamenopause. Sejarah keluarga yang memiliki hipertensi mempertinggi risiko; sama seperti merokok, dislipidemia,
diabetes mellitus, kegemukan, pendidikan, dan status sosioekonomi rendah Berbagai studi menunjukkan bahwa hipertensi
meningkatkan risiko kematian dan penyakit. Bila tidak dilakukan penanganan, sekitar 70% pasien hipertensi kronis akan
meninggal karena jantung koroner / gagal jantung, 15% terkena kerusakan jaringan otak, dan 10% mengalami gagal ginjal.
Jantung, otak dan ginjal sanggup menahan tekanan darah tinggi untuk waktu yang cukup lama. Itulah sebabnya mengapa
pengidap tekanan darah tinggi umumnya merasa sehat. Tetapi ini tidak berarti tidak membahayakan mereka. Tekanan darah
semakin tinggi, semakin berat pula kerja jantung.

Jika tekanan darah tinggi tidak segera diobati, jantung akan menjadi lemah untuk melaksanakan beban tambahan ini yang
memungkinkan penyempitan pembuluh darah dan kegagalan jantung dengan gejala-gejala: keletihan, nafas pendek
(terengah-engah) dan mungkin juga pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki.
Tekanan darah tinggi juga mempercepat penyumbatan pada arteri yang mengarah pada serangan jantung atau stroke, jika
arteri yang mengalirkan darah ke jantung atau ke otak tersumbat. Stroke juga dapat terjadi karena melemahnya dinding
pembuluh darah di otak karena tekanan darah tinggi.
.

HIPERTENSI
Pengertian
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan
suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering
kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejalagejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Lanny Sustrani, dkk, 2004).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah
normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%)
penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan
denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah
(Kurniawan, 2002).
Penyakit hipertensi merupakan penyakit kelainan jantung yang ditandai oleh meningkatnya tekanan darah dalam
tubuh. Seseorang yang terjangkit penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain seperti stroke, dan
penyakit jantung (Rusdi dan Nurlaela, 2009).

Dari definisi-definisi diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah
menjadi naik karena gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah
terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Klasifikasi
Beberapa klasifikasi hipertensi:
Klasifikasi Menurut Joint National Commite 7
Komite eksekutif dari National High Blood Pressure Education Program merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari 46
professionalm sukarelawan, dan agen federal. Mereka mencanangkan klasifikasi JNC (Joint Committe on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure) pada tabel 1, yang dikaji oleh 33 ahli hipertensi nasional
Amerika Serikat (Sani, 2008).
Tabel 1 : Klasifikasi Menurut JNC (Joint National Committe on Prevention, Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood
Pressure)
Kategori Tekanan
Darah menurut JNC
7

Kategori Tekanan
Darah Menurut JNC
6

Tekanan Darah
Sistol (mmhg)

Dan
/atau

Tekanan Darah
Diastol (Mmhg)

Normal

Optimal

< 120

dan

< 80

120-139

atau

80-89

< 130

dan

< 85

Pra-Hipertensi
Nornal

Normal-Tinggi

130-139

atau

85-89

Hipertensi:

Hipertensi:

Tahap 1

Tahap 1

140-159

atau

90-99

Tahap 2

160

atau

100

Tahap 2

160-179

atau

100-109

Tahap 3

180

atau

110

(Sumber: Sani, 2008)


Data terbaru menunjukkan bahwa nilai tekanan darah yang sebelumnya dipertimbangkan normal ternyata menyebabkan
peningkatan resiko komplikasi kardiovaskuler. Data ini mendorong pembuatan klasifikasi baru yang disebut pra hipertensi
(Sani, 2008).

Klasifikasi Menurut WHO (World Health Organization)


WHO dan International Society of Hypertension Working Group (ISHWG) telah mengelompokkan hipertensi dalam klasifikasi
optimal, normal, normal-tinggi, hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat (Sani, 2008).
Tabel 2 : Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO
TEKANAN DARAH SISTOL

TEKANAN DARAH

(MMHG)

DIATOL (MMHG)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Normal-Tinggi

130-139

85-89

Tingkat 1 (Hipertensi Ringan)

140-159

90-99

Sub-group: perbatasan

140-149

90-94

Tingkat 2 (Hipertensi Sedang)

160-179

100-109

Tingkat 3 (Hipertensi Berat)

180

110

KATEGORI

8
Hipertensi sistol terisolasi
140

< 90

140-149

<90

(Isolated systolic hypertension)


Sub-group: perbatasan

(Sumber: Sani, 2008)

Klasifikasi Menurut Chinese Hypertension Society


Menurut Chinese Hypertension Society (CHS) pembacaan tekanan darah <120/80 mmHg termasuk normal dan kisaran
120/80 hingga 139/89 mmHg termasuk normal tinggi (Shimamoto, 2006).
Tabel 3 : Klasifikasi Hipertensi Menurut CHS
Tekanan Darah Sistol
(mmHg)
< 120

Tekanan Darah Diastol CHS-2005


(mmHg)
< 80
Normal

120-129

80-84

130-139

85-89

Normal-Tinggi

Tekanan Darah Tinggi


140-159

90-99

Tingkat 1

160-179

100-109

Tingkat 2

180

110

Tingkat 3

140

90

Hypertensi

Sistol

Terisolasi
(Sumber: Shimamoto, 2006)

Klasifikasi menurut European Society of Hypertension (ESH)


Klasifikasi yang dibuat oleh ESH adalah:
1. Jika tekanan darah sistol dan distol pasien berada pada kategori yang berbeda, maka resiko kardiovaskuler,
keputusan pengobatan, dan perkiraan afektivitas pengobatan difokuskan pada kategori dengan nilai lebih.
2. Hipertensi sistol terisolasi harus dikategorikan berdasarkan pada hipertensi sistol-distol (tingkat 1, 2 dan 3).
Namun tekanan diastol yang rendah (60-70 mmHg) harus dipertimbangkan sebagai resiko tambahan.
3. Nilai batas untuk tekanan darah tinggi dan kebutuhan untuk memulai pengobatan adalah fleksibel tergantung
pada resiko kardiovaskuler total.
Tabel 4 : Klasifikasi menurut ESH
Kategori
Optimal

Tekanan Darah
Diastol
(mmHg)

Tekanan Darah
Sistol (mmHg)
< 120

dan

< 80

10

Normal

120-129

dan/atau

80-84

Normal-Tinggi

130-139

dan/atau

85-89

Hipertensi tahap 1

140-159

dan/atau

90-99

Hipertensi tahap 2

160-179

dan/atau

100-109

Hipertensi tahap 3

180

dan/atau

110

Dan

< 90

Hipertensi

sistol 140

terisolasi

(Sumber: Mancia G, 2007)

11

Klasifikasi menurut International Society on Hypertension in Blcks (ISHIB) (Douglas JG, 2003)
Klasifikasi yang dibuat oleh ISHIB adalah:
1)

Jika tekanan darah sistol dan diastole pasien termasuk ke dalam dua kategori yang berbeda, maka klasifikasi yang
dipilih adalah berdasarkan kategori yang lebih tinggi.

2)

Diagnosa hipertensi pada dasarnya adalah rata-rata dari dua kali atau lebih pengukuran yang diambil pada setiap
kunjunga.

3)

Hipertensi sistol terisolasi dikelompokkan pada hipertensi tingkat 1 sampai 3 berdasarkan tekanan darah sistol ( 140
mmHg) dan diastole ( < 90 mmHg).

4)

Peningkatan tekanan darah yang melebihi target bersifat kritis karena setiap peningkatan tekanan darah menyebabkan
resiko kejadian kardiovaskuler.

Tabel 5 : Klasifikasi Hipertensi Menurut ISHIB


Kategori
Optimal

Tekanan
Darah Sistol
(mmHg)
< 120

dan

Tekanan
Darah Diastol
(mmHg)
< 80

Normal

< 130

dan/atau

< 85

Normal-Tinggi

130-139

dan/atau

85-89

Hipertensi Tahap 140-159

dan/atau

90-99

12

1
Hipertensi Tahap 160-179

dan/atau

100-109

dan/atau

110

dan

< 90

2
Hipertensi Tahap 180
3
Hipertensi Sistol 140
terisolasi
(Sumber: Douglas JG, 2003)

Klasifikasi berdasarkan hasil konsesus Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Sani, 2008).


Pada pertemuan ilmiah Nasional pertama perhimpunan hipertensi Indonesia 13-14 Januari 2007 di Jakarta, telah diluncurkan
suatu konsensus mengenai pedoman penanganan hipertensi di Indonesia yang ditujukan bagi mereka yang melayani
masyarakat umum:
1. Pedoman yang disepakati para pakar berdasarkan prosedur standar dan ditujukan untuk meningkatkan hasil
penanggulangan ini kebanyakan diambil dari pedoman Negara maju dan Negara tetangga, dikarenakan data penelitian
hipertensi di Indonesia yang berskala Nasional dan meliputi jumlah penderita yang banyak masih jarang.
2. Tingkatan hipertensi ditentukan berdasarkan ukuran tekanan darah sistolik dan diastolik dengan merujuk hasil JNC dan
WHO.

13

3. Penentuan stratifikasi resiko hipertensi dilakukan berdasarkan tingginya tekanan darah, adanya faktor resiko lain,
kerusakan organ target dan penyakit penyerta tertentu.
Tabel 6 : Klasifikasi Hipertensi Menurut Perhimpunan Hipertensi Indonesia
Kategori

Dan/atau

Normal

Tekanan Darah
Sistol (mmHg)
<120

Dan

Tekanan Darah
Diastol (mmHg)
<80

Prehipertensi

120-139

Atau

80-89

Atau

90-99

Atau

100

Dan

<90

Hipertensi Tahap 140-159


1
Hipertensi Tahap 160-179
2
Hipertensi Sistol
140
terisolasi
(Sumber: Sani, 2008)

Klasifikasi hipertensi menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik dan hipertensi diastolik (Smith, Tom, 1986:7).
Pertama yaitu hipertensi sistolik adalah jantung berdenyut terlalu kuat sehingga dapat meningkatkan angka sistolik. Tekanan
sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut jantung). Ini adalah tekanan
maksimum dalam arteri pada suatu saat dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang
nilainya lebih besar.
Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar
tahanan terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah diastolik berkaitan
dengan tekanan dalam arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi diantara dua denyutan. Sedangkan menurut

14

Arjatmo T dan Hendra U (2001) faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi antara lain ras, umur, obesitas, asupan
garam yang tinggi, adanya riwayat hipertensi dalam keluarga.
Klasifikasi hipertensi menurut sebabnya dibagi menjadi dua yaitu sekunder dan primer.
Hipertensi sekunder merupakan jenis yang penyebab spesifiknya dapat diketahui (Lanny Ssustrani, dkk, 2004).
Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi Benigna dan hipertensi Maligna.
Hipertensi Benigna adalah keadaan hipertensi yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan pada saat penderita
dicek up.
Hipertensi Maligna adalah keadaan hipertensi yang membahayakan biasanya disertai dengan keadaan kegawatan yang
merupakan akibat komplikasi organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal (Mahalul Azam,2005).

15

16

PATOFISIOLOGI
Aktivitas kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang
memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi
ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan
kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan
darah (Anggraini, 2008).

Renin

Angiotensin I

Angiotensin I Converting Enzyme (ACE)

Angiotensin II

Sekresi hormone ADH rasa haus

Stimulasi sekresi aldosteron dari


korteks adrenal

Urin sedikit pekat & osmolaritas


Ekskresi NaCl (garam) dengan
mereabsorpsinya di tubulus ginjal

17

Mengentalkan

Menarik cairan intraseluler ekstraseluler

Volume darah

Tekanan darah

Konsentrasi NaCl
di pembuluh darah

Diencerkan dengan volume


ekstraseluler

Volume darah

Tekanan darah

Gambar 1. Patofisiologi hipertensi.


(Sumber: Rusdi & Nurlaela Isnawati, 2009)

18

Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung
(cardiac output/CO) dan dukungan dari arteri (peripheral resistance/PR). Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah
ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari
faktor-faktor tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan / atau ketahanan periferal. Selengkapnya dapat
dilihat pada bagan.

Gambar 3: Beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah

19

(Sumber: Kaplan, 1998 dalam Sugiharto, 2007)

PENGOBATAN HIPERTENSI
Kelas obat utama yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah adalah :
Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis. Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV)
berhubungan dengan dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output, CO) dan tekanan darah pada akhirnya.
Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan resitensi perifer. Pada terapi diuretik pada hipertensi kronik volume
cairan ekstraseluler dan volume plasma hampir kembali kondisi pretreatment.
Thiazide
Thiazide adalah golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi, golongan lainnya efektif juga untuk menurunkan tekanan
darah. Penderita dengan fungsi ginjal yang kurang baik Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) diatas 30 mL/menit, thiazide
merupakan agen diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. Dengan menurunnya fungsi ginjal, natrium dan
cairan akan terakumulasi maka diuretik jerat Henle perlu digunakan untuk mengatasi efek dari peningkatan volume dan
natrium tersebut. Hal ini akan mempengaruhi tekanan darah arteri. Thiazide menurunkan tekanan darah dengan cara
memobilisasi natrium dan air dari dinding arteriolar yang berperan dalam penurunan resistensi vascular perifer.

20

Diuretik Hemat Kalium


Diuretik Hemat Kalium adalah anti hipertensi yang lemah jika digunakan tunggal. Efek hipotensi akan terjadi apabila diuretik
dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium thiazide atau jerat Henle. Diuretik hemat kalium dapat mengatasi kekurangan
kalium dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya.
Antagonis Aldosteron
Antagonis Aldosteron merupakan diuretik hemat kalium juga tetapi lebih berpotensi sebagai antihipertensi dengan onset aksi
yang lama (hingga 6 minggu dengan spironolakton).
Beta Blocker
Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif
dan efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal.
a. Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan kardioselektif pada dosis rendah dan mengikat baik
reseptor 1 daripada reseptor 2. Hasilnya agen tersebut kurang merangsang bronkhospasmus dan
vasokontruksi serta lebih aman dari non selektif bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi pulmonari
kronis (COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer. Kardioselektivitas merupakan fenomena dosis
ketergantungan dan efek akan hilang jika dosis tinggi.

21

b. Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas intrinsik simpatomimetik (ISA) atau sebagian
aktivitas agonis reseptor .

Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor)


ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada
beberapa jaringan dan ada pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada prinsipnya merupakan sel endothelial.
Kemudian, tempat utama produksi angiotensin II adalah pembuluh darah bukan ginjal. Pada kenyataannya, inhibitor ACE
menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang
penting dalam hipertensi.
Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin (termasuk ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain
seperti chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur renin-angiotensin, ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I,
reseptor yang memperentarai efek angiotensin II. Tidak seperti inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan bradikinin.
Antagonis Kalsium
CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan
sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstra selluler ke dalam sel. Relaksasi otot polos vasjular menyebabkan vasodilatasi

22

dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah. Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat menyebbakan aktibasi refleks
simpatetik dan semua golongan ini (kecuali amilodipin) memberikan efek inotropik negative.
Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik negative yang
dapat memicu gagal jantung pada penderita lemah jantung yang parah. Diltiazem menurunkan konduksi AV dan denyut
jantung dalam level yang lebih rendah daripada verapamil.
Alpha blocker
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat reseptor 1 yang menginhibisi katekolamin pada sel otot polos
vascular perifer yang memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktivitas reseptor 2 sehingga tidak
menimbulkan efek takikardia.
VASO-dilator langsung
Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot polos arteriol. Aktivitasi refleks baroreseptor dapat
meningkatkan aliran simpatetik dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah jantung, dan pelepasan renin. Oleh
karena itu efek hipotensi dari vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan pengobatan inhibitor
simpatetik dan diuretik.

23

Inhibitor Simpatetik Postganglion


Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari terminal simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan
norepinefrin terhadap respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah jantung dan resistensi vaskular perifer .
Agen-agen obat yang beraksi secara sentral
VASO-dilator langsung

24

PENGOBATAN HIPERTENSI MASYARAKAT DENGAN MENGGUNAKAN


Bayam
Bayam merupakan sumber magnesium yang sangat baik. Tidak hanya melindungi Anda dari penyakit jantung, tetapi juga
dapat mengurangi tekanan darah. Selain itu, kandungan folat dalam bayam dapat melindungi tubuh dari homosistein yang
membuat bahan kimia berbahaya. Penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat tinggi asam amino (homosistein) dapat
menyebabkan serangan jantung dan stroke.
Biji bunga matahari.
Kandungan magnesiumnya sangat tinggi dan biji bunga matahari mengandung pitosterol, yang dapat mengurangi kadar
kolesterol dalam tubuh. Kolesterol tinggi merupakan pemicu tekanan darah tinggi, karena dapat menyebabkan penyumbatan
pembuluh darah. Tapi, pastikan mengonsumsi kuaci segar yang tidak diberi garam.
Kacang-kacangan
Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, almond, kacang merah mengandung magnesium dan potasium. Potasium dikenal
cukup efektif menurunkan tekanan darah tinggi.

25

Pisang
Buah ini tidak hanya menawarkan rasa lezat tetapi juga membuat tekanan darah lebih sehat. Pisang mengandung kalium dan
serat tinggi yang bermanfaat mencegah penyakit jantung. Penelitian juga menunjukkan bahwa satu pisang sehari cukup untuk
membantu mencegah tekanan darah tinggi.
Kedelai
Banyak sekali keuntungan mengonsumsi kacang kedelai bagi kesehatan. Salah satunya adalah menurunkan kolesterol jahat
dan tekanan darah tinggi. Kandungan isoflavonnya memang sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Kentang
Nutrisi dari kentang sering hilang karena cara memasaknya yang tidak sehat. Padahal kandungan mineral, serat dan potasium
pada kentang sangat tinggi yang sangat baik untuk menstabilkan tekanan darah.
Cokelat pekat (dark chocolate)
Karena kandungan flavonoid dalam cokelat dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan merangsang produksi nitrat
oksida. Nitrat oksida membuat sinyal otot-otot sekitar pembuluh darah untuk lebih relaks, dan menyebabkan aliran darah
meningkat.

26

Avokad
Asam oleat dalam avokad, dapat membantu mengurangi kolesterol. Selain itu, kandungan kalium dan asam folat, sangat
penting untuk kesehatan jantung

27

DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI


Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu
terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan
darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko
lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula
penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus. Prinsip diet pada penderita
hipertensi adalah sebagai berikut :
Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.
Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet.
Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hamper semua bahan makanan yang berasal
dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan
konsumsi garam dapur tidak lebih dari - sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.

28

MENGATUR MENU MAKANAN


Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dpat
meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau
infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering
yang asin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng,
soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur
asin, selai kacang).5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein
hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
5. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain
yang pada umumnya mengandung garam natrium.
6. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

29

30

DAFTAR BAHAN PANGAN


1.

Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum, cantle, jail, sagu, ubi, singkong, kentang, talas,
mie, roti, bihun, oat.

2.

Sayuran: Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun singkong, daun pepaya, daun kacang, daun
mengkudu, dan sebagainya. Sayur buah: kacang panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka muda, dan
sebagainya. Sayur akar: wortel, lobak, bit, dan sebagainya.

3.

Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak, mengkudu, semangka, melon, sawo, mangga.

4.

Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-polongan.

5.

Unggas, ikan, putih telur.

6.

Daging merah, kuning telur.

7.

Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya.

8.

Gula, garam.

31

STOP : KONSUMSI DAGING KAMBING DAN DURIAN


Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa tawar dengan menambah gula merah/putih,
bawang (merah/putih), jahe, kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium. Makanan dapat
ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat dilakukan untuk menghindari
penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan
lebih dari 1 sendok teh per hari. Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 175 mEq/hari) dapat memberikan efek
penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium
akibat dan rendah natrium. Pada umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg kalium), jeruk (250 mg
kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium) kentang panggang (503 mg kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg
kalium). Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115
gram keju rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan kalsium perhari rata-rata
808 mg. Pada ibu hamil makanan cukup akan protein, kalori, kalsium dan natrium yang dihubungkan dengan rendahnya
kejadian hipertensi karena kehamilan. Namun pada ibu hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan
protein urin (pre eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur serta meningkatkan
makanan sumber Mg (sayur dan buah-buahan).

32

Contoh menu pada seorang penderita hipertensi laki-laki


umur 55 tahun, TB = 175 cm, BB = 80 kg, Tekanan darah = 160/100 mHg dengan aktivitas
ringan.
IMT = -------------- = 26,13 (gemuk)
1,75 x 1,75
BB ideal = (175-100) 10% (175-100) = 67,5 kg
Penurunan BB menjadi 75 kg masih dalam batas > 10%.
Jadi kebutuhan energi dari laki-laki tersebut diatas adalah :
BMR = (11,6 x 75) + 879 = 870+ 879 = 1749
AKG = 1,56 x 1749 = 2728 Kkal.
Karena kegemukan, sehingga total kalori diturunkan menjadi 2500 Kkal.
Kebutuhan karbohidrat : 65% x 2500 = 1625 kkal = 406,25 gram (60-65%)
Kebutuhan protein : 20% x 2500 = 500 kkal = 100 gram (15-25%)

33

Kebutuhan lemak : 15% x 2500 = 375 kkal = 41,66 gram (10-15%)

SUPLEMENTASI ANTI OKSIDAN


Walaupun suplementasi anti oksidan masih memerlukan penelitian lebih lanjut, namun saat ini banyak sekali suplemen yang
dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat. Sebagai tenaga medis harus berhati-hati memberikan anjuran minuman suplemen
agar tidak terjadi overdosis.
Vitamin dan penurunan homosistein :Asam folat, vitamin B6, vitamin B 12 dan riboflavin merupakan ko-faktor enzim yang
essential untuk metabolisme homosistein.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar homosistein dalam darah akan meningkatkan risiko penyakit
arteri koroner. Kadar asam folat yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit koroner dan kadar vitamin yang
rendah juga berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, walaupun risiko aterosklerosis yang berhubungan dengan
rendahnya kadar vitamin B6 tidak berhubungan dengan konsentrasi homositein yang tinggi. Sedangkan vitamin B12 tidak
berhubungan dengan penyakit vaskuler
Kacang kedelai dan isoflavon : Kedelai banyak mengandung fito estrogen yaitu
isoflavon, yang memiliki aktivitas estrogen lemah. Penelitian meta analisis pada tahun 1995 menyimpulkan bahwa isoflavon
dari protein kedelai lebih bermakna menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa mempengaruhi

34

kadar kolesterol HDL. Sehingga dianjurkan mengkonsumsi protein kedelai (20 50 gram/hari) dengan modifikasi diet pada
penderita dengan kadar kolesterol (total dan LDL) yang tinggi. Tempe adalah hasil pengolahan kedelai yang melalui proses
fermentasi, dengan kandungan gizi lebih baik dari kedelai. Sehingga tempe dianjurkan untuk di konsumsi oleh penderita
hipertensi sebagai sumber protein nabati.
Tempe : Tempe adalah salah satu makanan tradisional Indonesia, hasil fermentasi kaping rhizopus ohgosporis atau
rhizopusoryzal pada biji kedelai yang telah direbus. Ada berbagai macam tempe, yang dibicarakan disini adalah tempe yang
terbuat dari kedelai, yang merupakan produk kompak, terbungkus rata oleh miselium kaping sehingga nampak berwarna
putih, dan bila diiris kelihatan keping biji kedelai berwarna kuning pucat, diantara miselium. Fermentasi kaping menghasilkan
perubahan pada tekstur kedelai, menjadi empuk dan nilai zat gizi tempe lebih baik dari kacang kedelai.
Manfaat Tempe :
1. Tempe merupakan sumber zat gizi yang baik, terutama bagi penderita hiper kolesterolemia. Dari berbagai penelitian
ternyata tempe dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah serta mencegah timbulnya penyempitan pembuluh
darah, karena tempe mengandung asam lemak tidak jenuh ganda. Sehingga penderita hipertensi dianjurkan untuk
mengkonsumsi tempe setiap hari, disamping diet rendah lemak jenuh. Tempe juga mengandung zat anti bakteri yang
dapat
2. Menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri granpositif serta penyebab diare (salmonella sp dan shigella sp).
Oleh karena itu, tempe juga dianjurkan untuk dikonsumsi balita yang menderita diare.

35

Nilai Gizi Tempe :


Protein
Enzim-enzim yang dihasilkan kaping, menghasilkan asam amino bebas, sehingga kadarnya meningkat sampai 85 kali kadar
protein kedelai.
Karbohidrat
Kedelai mengandung karbohidrat berupa sakrosa dan stakhiosa dan rifinosa sehingga menyebabkan pembentukan gas dalam
perut). Fermentasi kedelai menjadi tempe menghasilkan karbohidrat.
Lemak Enzim dalam kaping dapat menurunkan kadar lemak total dari 22,2% menjadi 14,4% dan meningkatkan kadar asam
lemak bebas dari 0,5% menjadi 21%.
Mineral
Didalam kedelai terdapat asam fitat yang merupakan senyawa forfose, yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Dengan
fermentasi, kaping menghasilkan enzim fitase yang menguraikan asam fitat, sehingga forfosenya dapat dimanfaatkan tubuh.
Vitamin

36

Proses fermentasi dapat meningkatkan kadar vitamin B2 (Riboferum), Vitamin Bb (Piridoksin), asam folat, asam panthotenat,
dan asam nikotinat. Sedangkan kadar vitamin B1 menurun karena untuk pertumbuhan kaping dan terbentuk pula vitamin B12
oleh bakteri yang tidak ada dalam produk nabati lainnya.
Asam lemak omega 3
Mengkonsumsi satu porsi ikan yang tinggi lemak (atau minyak ikan ) tiap hari dapat menjadi asupan asam lemak omega 3
(EPA dan DHA) sekitar 900 mg/dl, dan dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol dan mencegah penyakit jantung koroner
Serat :
Walaupun berbagi studi menunjukkan adanya hubungan antara beberapapa jenis serat dengan penurunan kolesterol lDDL
dan atau kolesterol total, namun belum ada bukti langsung yang menunjukkan hubungan antara suplemen serat dengan
penurunan penyakit kardio vaskular.

TERAPI PENUNJANG selain pengobatan dan pengaturan menu makanan pada penderita hipertensi, diperlukan
juga terapi khusus lain seperti konseling masalah kejiwaan dan fisioterapi, terutama pada penderita pasca stroke atau infark
penting. Pengertian juga diberikan kepada keluarga atau pengasuh untuk membantu menyiapkan makanan khusus serta
mengingatkan kepada penderita, makanan yang harus dihindari/dibatasi.

37

GARAM NATRIUM terdapat secara alamiah dalam bahan makanan atau ditambahkan

pada waktu memasak atau

mengolah makanan. Makanan berasal dari hewan biasanya lebih banyak mengandung garam natrium dari yang berasal dari
tumbuh tumbuhan. Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya berupa ikatan, yaitu :
1. Natrium Chlorida atau garam dapur
2. Mono-Natrium Glutamat atau vetsin
3. Natrium Bikarbonat atau soda kue
4. Natrium Benzoat untuk mengawetkan buah
5. Natrium Bisulfit atau sendawa yang digunakan untuk mengawetkan daging seperti Corned beef.
Cara memasak untuk mengeluarkan garam Natrium antara lain :
1. Pada ikan asin di rendam dan di cuci terlebih dahulu.
2. Untuk mengeluarkan garam natrium dari margarine dengan mencampur margarine dengan air, lalu masak
sampai mendidih, margarine akan mencair dan garam natrium akan larut dalam air. Dinginkan cairan
kembali dengan memasukkan panci kedalam kulkas. Margarine akan keras kembali dan buang air yang
mengandung garam natrium. Lakukan ini 2 kali.

38

39

PENUNTUN DIET HIPERTENSI


Prinsip dasar dalam pengaturan makanan terkait hipertensi adalah :
Makanan beraneka ragam mengikuti pola gizi seimbang
Jenis & komposisi makanan sesuai dg kondisi penderita
Jumlah garam disesuaikan dg berat ringannya penyakit & obat yg diberikan

Makanan yang dianjurkan :


Makanan yang segar : karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayuran dan buah yang banyak mengandung serat.
Makanan yang diolah tanpa atau sedikit menggunakan garam natrium, vetsin, kaldu bubuk.
Sumber protein hewani : Daging/ayam/ikan max 100 gram/hari.
Telur ayam/bebek 1 butir/hari
Susu segar : 200 ml/hari

40

Makanan/minuman dan sari buah segar

Makanan yang dibatasi :


1. Garam dapur
2. Penggunaan bahan makanan yang mengandung sodium : soda kue
Makanan yang dihindari :
1. Otak, ginjal, paru, jantung, daging kambing
2. Makanan yang diolah dengan garam natrium : Biskuit, crackers,kue kering, keripik.
3. Makanan dan minuman kalengan : sarden, sosis, kornet, sayuran & buah kaleng.
4. Makanan yang diawetkan : dendeng, abon, ikan asin, pindang ikan, udang kering, telur asin, telur pindang, selai
kacang, acar, manisan buah.
5. Mentega dan keju
6. Bumbu-bumbu : Kecap, terasi, petis, garam, saus tomat, saus sambel, tauco, bumbu penyedap.
7. Makanan yang mengandung alkohol : Durian, tape.

41

Tips mengatur Diet :


Rasa tawar perbaiki dengan bumbu yang tidak mengandung natrium : gula,bawang merah/putih, jahe, salam
Makanan lebih enak ditumis, digoreng, dipanggang walau tanpa garam
Garam diatas meja makan tidak lebih dari 1 sdt / hari
Konsultasi ke dokter bila akan mengkonsumsi suplemen

42

43

CARA PENCEGAHAN PENYAKIT HIPERTENSI


Untuk terhindar dari penyakit hipertensi dapat dicegah dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung
vitamin C, misalnya pada buah jeruk yang sangat bagus untuk died bagi penderita kencing manis, kegemukkan (obesitas),
menghentikan pendarahan dan memperkuat permeabilitas kapiler-kapiler darah dan juga dapat menolong hipertensi. Oleh
Sant-Gyorgyi Vitamin C juga disebut sebagai vitamin P.
Selain itu mengonsumsi makanan mengandung zat besi (misal: banyak terdapat pada sayur bayam), Kalsium dan Kalium
(misal: pada ikan dan kerang-kerangan,remis), dan cegah dengan banyak mengonsumsi air mineral (air putih rutin setiap
hari,minimal 8 gelas), hindari makanan dengan kadar kolesterol dan lemak tinggi.
Rutin berolahraga dan aktivitas bergerak (seperti jalan kaki/jogging) juga menjadi pencegah paling ampuh terjadinya penyakit
darah tinggi.
Mencegah hipertensi dapat juga dilakukan dengan mengubah gaya hidup secara sehat :
Tidak merokok
Tidak mengonsumsi alkohol/minuman keras
Tidak mengonsumsi makanan sampah (junk food&fast
food/makanan cepat saji)

Hindari stress
Serta tidak mengkonsumsi narkoba/zat adiktif termasuk
Monosodium Glutamate (penyedap rasa), pewarna
makanan pada makanan secara berlebih.

44

45

DAFTAR PUSTAKA
id) Siregar TGM. Hipertensi Esensial. Dalam: Rilantono LI, Barass F, Karo SK, Roebiono PS, editor. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003. ISBN 979-496-077-2. h. 197 205.
(en) JNC-VII Classification and management of blood pressure for adults. Medicalcriteria.com.
(en) The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure: the JNC 7 report.
(en) The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure
Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis, Maria C. Linder, Ph.D, Department of Chemistry, Fullertor,
diterjemahkan oleh Aminudin Parakkasi; Penerbit UI Press, 1992
Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia, Depkes RI, 1998
Dr. Achmad Djaeni S. M.Sc, Ilmu Gizi, Jakarta, 1985
Makanan Formula Untuk Mengatasi Masalah Kurang Energi Protein (KEP), Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Jakarta, 1994
Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang, Depkes RI; Jakarta, 1995
Pedoman Makan Untuk Kesehatan Jantung Indonesia, PERKI Pusat dan Yayasan Jantung Indonesia; Jakarta, 2002

46

Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi Edisi II, Mary Courtney Moore, diterjemahkan oleh Dr. Liniyanti D. Oswari M. N. S. MSc;
Hipokrates Tahun I, 1992
Penuntun Diet, Bagian Gizi RSCM dan PERSAGI; Jakarta, 1996
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI, LIPI Jakarta 1998

47