TUGAS KELOMPOK
ASAL USUL DESA LELEA DAN NGAROT
Diajukan untuk memenuhi tugas Sejarah Indonesia
DISUSUN OLEH :
NAMA : LUXSHE FONISA FEBRI
KELAS : X TSM 3
SMK NEGERI 1 KANDANGHAUR
ASAL USUL DESA LELEA DAN NGAROT
Desa lelea adalah desa yang paling tua, peninggalan sang prabu Galuh
lelean dengan masyarakat menganut agama syangyang/hindu. Dengan
pendiri desa lelea yaitu Prabu Galuh Lelean mempunyai anak yaitu Nyi
ratu lelea.... dan dilanjutkan oleh penerusnya yang bernama Ki Kapol.
Desa lelea adalah termasuk wilayah utara dari kerajaan Sumedang sebelum
terbentuknya kecamatan Darma Ayu. Adapun upacara adat Ngarot
sebenarnya adalah dibawa dan diciptakan oleh Nyi Ratu Lelea. Asal
Mula Ngarot
Pada mulanya, upacara Ngarot dirintis oleh kuwu (kepala desa)
pertama Lelea yang bernama Canggara Wirena, tahun 1686.
Awalnya, upacara tersebut bukan diperuntukkan sebagai "pesta
mencari jodoh" seperti yang terjadi sekarang. Ngarot yang menurut
bahasa Sunda berarti minum, merupakan arena pesta minumminum dan makan-makan di kantor desa sebelum para petani
mengawali menggarap sawah. Tradisi itu dilakukan sebagai
ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bercocok tanam.
Kuwu Canggara Wirena sengaja mengadakan pesta
Ngarot sebagai ungkapan rasa syukur kepada
tetua kampung bernama Ki Buyut Kapol, yang
telah rela memberikan sebidang sawah seluas
26.100 m2. Sawah tersebut digunakan para petani
untuk berlatih cara mengolah padi yang baik.
Demikian pula bagi kaum wanitanya, sawah
digunakan sebagai tempat belajar bekerja seperti
tandur, ngarambet (menyiangi), panen padi, atau
memberi konsumsi kepada para jejaka yang
sedang berlatih mengolah sawah itu.
Dulu, upacara Ngarot bukanlah sarana mencari
jodoh, melainkan arena pembelajaran bagi para
pemuda agar pintar dalam ilmu pertanian. Akan
tetapi
perkembangannya,
upacara
Ngarot
berkembang menjadi ajang mencari jodoh atau
pasangan hidup.
Dihindari Janda-Duda
Sejak dulu, upacara yang hanya boleh diikuti para perjaka dan
perawan. Upacara dimulai jam 8.30 dengan berkumpulnya para
muda-mudi berpakaian warna warni di halaman rumah Kuwu.
Mereka dengan wajah penuh keceriaan berduyun-duyun menuju
halaman rumah Pak Kuwu. Pakaian mereka indah-indah,
dilengkapi aksesoris gemerlap, seperti kalung, gelang, giwang,
bros, peniti emas, dan hiasan rambut. Untuk memikat hati para
jejaki, para gadis selalu mengenakan kacamata dan
kepalanya penuh ditaburi bunga warna-warni seperti kenanga,
melati, mawar dan kantil.
Upacara Ngarot ditandai dengan pawai arak-arakan sejumlah
gadis dan perjaka desa. Para gadis berbusana kebaya yang
didominasi warna merah, berkain batik, berselendang, dan
rambut kepala dihias rangkaian bunga. Mereka lantas berjalan
mengelilingi kampung. Sementara para jejaka tingting
mengenakan baju pangsi warna kuning dan celana gombrang
warna hitam, lengkap dengan ikat kepala, mengikuti di
barisan belakang.