Anda di halaman 1dari 23

Tugas PSE

Perhitungan PLTS
(Pembangkit Listrik Tenaga Surya)
(Rev 2)
Dosen : Ir. Ishak Kasim MT

DISUSUN OLEH :
NAMA : GAGAH INDRASMARA A
NIM : 062.06.031

 
 

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2009
KATA PENGANTAR

Kondisi bumi kita kian lama makin mengenaskan karena tercemarnya lingkungan dari
efek rumah kaca ( greenhouse effect ) yang menyebabkan global warming, hujan asam,
rusaknya lapisan ozon hingga hilangnya hutan tropis. Semua jenis polusi itu rata-rata
akibat dari penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, uranium, plutonium, batu
bara dan lainnya yang tiada hentinya. Padahal kita tahu bahwa bahan bakar dari fosil
tidak dapat diperbaharui, tidak seperti bahan bakar non-fosil.

Dengan kondisi yang sudah demikian memprihatinkan, gerakan hemat energy sudah
merupakan keharusan di seluruh dunia. Salah satunya dengan hemat bahan bakar dan
menggunakan bahan bakar non-fosil yang dapat diperbaharui seperti tenaga angin, energy
panas bumi tenaga matahari dan lainnya. Duniapun sudah mulai mengubah tren produksi
dan penggunaan bahan bakarnya, dari bahan bakar fosil beralih ke bahan bakar non-fosil,
terutama tenaga surya yang tidak terbatas.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang
merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar
Photovoltaic, atau Solar Energy. Teknologi ini dikenal karena mempunyai keuntungan
antara lain karena sifatnya yang ramah lingkungan, tidak bising, tidak menghasilkan
emisi gas buang, fleksibel karena daya bisa diatur dalam produksinya, serta menggunakan
bahan bakar selain BBM.

Tulisan ini menjelaskan tentang perencanaan dan perhitungan pembuatan Pembangkit


Listrik Tenaga Surya ( PLTS )
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang
merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar
Photovoltaic, atau Solar Energy.
Sebagian besar kebutuhan listrik di catu melalui jaringan distribusi listrik (PLN).
Konsumen yang membutuhkan harus berada di dekat jaringan listrik atau jika tidak, maka
perlu dibuatkan sambungan tersendiri.
Dengan konsep yang sederhana yaitu mengubah cahaya matahari menjadi energi
listrik. Yang mana cahaya matahari adalah salah satu bentuk energi dari sumber daya
alam. Sumber daya alam matahari sudah banyak digunakan untuk memasok daya listrik
di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat menghasilkan energi yang
tidak terbatas langsung diambil dari matahari, tanpa ada bagian yang berputar dan tidak
memerlukan bahan bakar. Sehingga sel surya sering dikatakan bersih dan ramah
lingkungan.
Bandingkan dengan generator listrik, ada bagian yang berputar dan memerlukan bahan
bakar untuk menghasilkan listrik. Suaranya bising. Selain itu gas buang yang dihasilkan
dapat menimbulkan efek gas rumah kaca (green house gas) yang pengaruhnya dapat
merusak ekosistem bumi kita.

I.2 Masalah
Karena pembangkit listrik tenaga surya sangat tergantung kepada sinar matahari,
maka perencanaan yang baik sangat diperlukan. Perencanaan terdiri dari :
• Jumlah daya yang dibutuhkan dalam pemakaian sehari-hari (Watt).
• Berapa besar arus yang dihasilkan panel surya (dalam Ampere hour), dalam hal
ini memperhitungkan berapa jumlah panel surya yang harus dipasang.
• Berapa unit baterai yang diperlukan untuk kapasitas yang diinginkan dan
pertimbangan penggunaan tanpa sinar matahari. (Ampere hour).
I.3 Tujuan
Mengetahui perencanaan dan perhitungan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya
(PLTS). Sehingga dapat menghasilkan perencanaan yang baik dan mendapatkan efisiensi
dalam penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
BAB II
Deskripsi dan Prinsip Kerja PLTS

Deskripsi umum :
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik
yang merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar
Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. Orang awam seringkali keliru
menganggap Solar Water Heater (Pemanas Air Tenaga Surya) sebagai PLTS.
Solar water heater memanfaatkan thermal dari solar energy dan menghasilkan air
panas, prinsip yang sama juga diterapkan untuk solar dryer (pengering tenaga
surya), sedangkan PLTS memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan
listrik. DC (direct current), yang dapat diubah menjadi listrik AC (alternating
current) apabila diperlukan. Oleh karena itu meskipun cuaca mendung, selama
masih terdapat cahaya, maka PLTS tetap dapat menghasilkan listrik.

PLTS pada dasarnya adalah pencatu daya (alat yang menyediakan daya), dan
dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik yang kecil sampai dengan besar,
baik secara mandiri, maupun dengan Hybrid (dikombinasikan dengan sumber
energy lain, seperti PLTS-genset, PLTS microhydro, PLTS-Angin), baik dengan
metoda Desetralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metoda
Sentralisasi (listrik didistribusikan dengan jaringan kabel).

Untuk instalasi listrik tenaga surya sebagai pembangkit listrik, diperlukan


komponen sebagai berikut:

1. Solar panel mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sel silikon


(disebut juga solar cells) yang disinari matahari/ surya, membuat photon
yang menghasilkan arus listrik. Sebuah solar cells menghasilkan kurang
lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari
kurang lebih 36 sel (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun).
2. Charge controller digunakan untuk mengatur pengaturan pengisian baterai.
Tegangan maksimun yang dihasilkan panel surya pada hari yang terik
akan menghasilkan tegangan tinggi yang dapat merusak baterai.
3. Inverter adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah
(DC - direct current) menjadi tegangan bolak balik (AC - alternating
current).
4. Baterai, adalah perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari
tenaga surya. Tanpa baterai, energi surya hanya dapat digunakan pada saat
ada sinar matahari & berfungsi menyimpan arus litrik yang dihasilkan oleh
modul surya sebelum dimanfaatkan untuk menggerakkan beban. Beban
dapat berupa lampu penerangan atau peralatan elektronik dan peralatan
lainnya yang membutuhkan listrik.
Prinsip Kerja PLTS
Pada siang hari modul surya menerima cahaya matahari yang kemudian diubah
menjadi listrik melalui proses fotovoltaik. Listrik yang dihasilkan oleh modul
dapat langsung disalurkan ke beban ataupun disimpan dalam baterai sebelum
digunakan ke beban: lampu, radio, dll. Pada malam hari, dimana modul surya
tidak menghasilkan listrik, beban sepenuhnya dicatu oleh battery. Demikian pula
apabila hari mendung, dimana modul surya menghasilkan listrik lebih rendah
dibandingkan pada saat matahari benderang.
Modul surya dengan kapasitas tertentu dapat menghasilkan jumlah listrik yang
berbeda-beda apabila ditempatkan pada daerah yang berlainan.
BAB III
Spesifikasi Komponen-Komponen Pada Panel
Surya

1. Panel Surya ( Solar Panel )

Panel sel surya mengubah intensitas sinar matahari menjadi energi listrik.
Panel sel surya menghasilkan arus yang digunakan untuk mengisi batere.

Panel sel surya terdiri dari photovoltaic, yang menghasilkan listrik dari
intensitas cahaya, saat intensitas cahaya berkurang (berawan, hujan, mendung)
arus listrik yang dihasilkan juga akan berkurang.

Dengan menambah panel sel surya (memperluas) berarti menambah konversi


tenaga surya. Umumnya panel sel surya dengan ukuran tertentu memberikan hasil
tertentu pula. Contohnya ukuran a cm x b cm menghasilkan listrik DC (Direct
Current) sebesar x Watt per hour/ jam.

Tabel Jenis Bahan Pembuatan Solar Panel


Efisiensi
Daya
Perubahan Biaya Keterangan Penggunaan
Tahan
Daya

Kegunaan
Sangat
Mono Sangat Baik Baik Pemakaian Sehari-hari
Baik
Luas

Cocok untuk
Sangat Sangat
Poly Baik Produksi masal Sehari-hari
Baik Baik
di masa depan

Bekerja baik Sehari-hari


Cukup dalam &Perangkat
Amorphous Cukup Baik Baik
Baik pencahayaan Komersial
fluorescent (Kalkulator)

Pemakaian
Coumpound Sangat Cukup
Sangat Baik Berat &Rapuh di Luar
(GAS) Baik Baik
Angkasa
Beberapa penjelasan contoh jenis bahan panel sel surya:

Polikristal (Poly-crystalline)

Merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak. Type Polikristal
memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis
monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat
menghasilkan listrik pada saat mendung.

Monokristal (Mono-crystalline)

Merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas
yang paling tinggi. Memiliki efisiensi sampai dengan 15%. Kelemahan dari panel
jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya
kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.

Contoh Implementasi Solar Panel

Beberapa contoh implementasi solar panel dan perangkat yang menggunakan


energi yang dihasilkan :

Ukuran Panel
10 WP 20 WP 50 WP 80 WP 120 WP
Surya

Jumlah Watt
untuk
50 W, 100W, 250 W, 400 W, 600 W, 50
pengisian
4.17A 8.33A 20.83 A 33.33 A A
batere ( 5 jam
sehari )

Lampu LED 3
Watt (
1 ( 36 W) 3 (108 W) 7 (252 W) 11 (396 W) 16 (576 W)
pemakaian 12
jam )

Lampu LED
21 Watt (
1 (252 W) 1 (252 W) 2 (504 W)
pemakaian 12
jam )
Spesifikasi Teknis Solar Panel  

(dapat berubah sesuai dengan produk) :

Output Power 20 50 80 80 120


Cell Type Multi Multi Armorphous Multi Multi
Max Power (W) 20 50 88 85 120
Min Power (W) 76 76 114
Open Circuit Voltage
21.6 21.6 63.3 21.6 21.3
(Voc)
Short Circuit Curent
1.3 2.98 2.08 5.15 7.81
(Isc)
Max Power Voltage
17.2 17.6 47.6 `17.3 17.1
(Vpm)
Max Power Curent
1.17 2.85 1.68 4.63 7.02
(Ipm)
Max System Voltage
600 600 540
(V)
1499
639 x 835 x 1214
Dimention L X W X H 1129 x 934 x x
294 x 540 x x 545
(mm) 46 662
23 28 x 35
x 46
Modul Efficiency 7.6 14.1 13.1
Weight (kg) 2.4 5.5 17 9 14

Pemeliharaan Solar Panel

Pada umumnya panel sel surya tidak membutuhkan pemeliharan yang rutin
seperti genset. Genset umumnya diharuskan untuk dihidupkan satu kali seminggu,
pemeriksaan oli, pemeriksaan batere, dll. Pemeliharaan panel sel surya:

• Dibersihkan berkala untuk tidak mengurangi penyerapan intensitas


matahari.
• Mengatur letak dari panel sel surya supaya mendapatkan sinar matahari
langsung dan tidak terhalangi objek (pohon, jemuran, bangunan, dll)
2. Charge Controller - Solar Controller

Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk


mengatur arus searah yang diisi ke baterai dan diambil dari baterai ke beban.

Solar charge controller mengatur overcharging (kelebihan pengisian - karena


batere sudah 'penuh') dan kelebihan voltase dari panel surya. Kelebihan voltase
dan pengisian akan mengurangi umur baterai.

Solar charge controller menerapkan teknologi Pulse width modulation (PWM)


untuk mengatur fungsi pengisian baterai dan pembebasan arus dari baterai ke
beban.

Solar panel 12 Volt umumnya memiliki tegangan output 16 - 21 Volt. Jadi


tanpa solar charge controller, baterai akan rusak oleh over-charging dan
ketidakstabilan tegangan. Baterai umumnya di-charge pada tegangan 14 - 14.7
Volt.

Fungsi Solar Charge Controller

Beberapa fungsi detail dari solar charge controller adalah sebagai berikut:

• Mengatur arus untuk pengisian ke baterai, menghindari overcharging, dan


overvoltage.
• Mengartur arus yang dibebaskan/ diambil dari baterai agar baterai tidak
'full discharge', dan overloading.
• Monitoring temperatur baterai

Untuk membeli solar charge controller yang harus diperhatikan adalah:

• Voltage 12 Volt DC / 24 Volt DC


• Kemampuan (dalam arus searah) dari controller. Misalnya 5 Ampere, 10
Ampere, dsb.
• Full charge dan low voltage cut
Sepertii yang telahh disebutkann di atas solaar charge coontroller yanng baik biassanya
mempunyyai kemamppuan mendeeteksi kapassitas bateraii. Bila bateerai sudah penuh p
terisi makka secara otomatis
o penngisian aruus dari paneel sel suryaa berhenti. Cara
deteksi addalah melaluui monitor level tegang gan batere. Solar
S chargee controllerr akan
mengisi baterai samppai level teggangan terteentu, kemuddian apabila level tegaangan
drop, makka baterai akkan diisi kemmbali.

Solar Charge
C Conntroller biaasanya terdiiri dari : 1 input ( 2 terminal ) yang
terhubungg dengan ouutput panel sel surya, 1 output ( 2 terminal ) yang terhu ubung
dengan baaterai / aki dan 1 outpput ( 2 term minal ) yangg terhubung dengan beeban (
load ). Arrus listrik DC
D yang beerasal dari baterai
b tidak mungkin masuk ke panel
sel surya karena biaasanya ada 'diode protection' yanng hanya m melewatkann arus
listrik DC dari panel sel surya kee baterai, bu
ukan sebalikknya.

Chargee Controllerr bahkan adaa yang mem


mpunyai lebih dari 1 sumber daya, yaitu
bukan haanya berassal dari matahari,
m tapi juga bisa beraasal dari teenaga
angin atauupun mikro hidro. Di pasaran su udah banyakk ditemui ccharge conttroller
'tandem' yaitu
y memppunyai 2 inpput yang beerasal dari matahari
m daan angin. Untuk
U
ini energi yang dihasilkan menjaadi berlipat ganda kareena angin biisa bertiup kapan
k
saja, sehinngga keterbatasan wakktu yang tidaak bisa disuuplai energii matahari secara
s
full, dapatt disupport oleh tenagga angin. Biila kecepataan rata-rata angin terpenuhi
maka dayaa listrik per bulannya bisa
b jauh leb bih besar daari energi maatahari.

Teknoloogi Solar Charge


C C
Controller
r

Ada dua jeenis teknoloogi yang um


mum digunaakan oleh soolar charge ccontroller :

* PWM (Pulse
( Widee Modulation), sepertii namanya menggunakkan 'lebar' pulse
dari on daan off elektrrikal, sehinggga menciptakan seakaan-akan sinee wave elecctrical
form.
* MPPT (Maximun Power Point Tracker), yang lebih
efisien konversi DC to DC (Direct Current). MPPT dapat
mengambil maximun daya dari PV. MPPT charge
controller dapat menyimpan kelebihan daya yang tidak
digunakan oleh beban ke dalam baterai, dan apabila daya
yang dibutuhkan beban lebih besar dari daya yang
dihasilkan oleh PV, maka daya dapat diambil dari
baterai.

Kelebihan MPPT dalam ilustrasi ini: Panel surya ukuran 120 Watt, memiliki
karakteristik Maximun Power Voltage 17.1 Volt, dan Maximun Power Current
7.02 Ampere. Dengan solar charge controller selain MPPT dan tegangan batere
12.4 Volt, berarti daya yang dihasilkan adalah 12.4 Volt x 7.02 Ampere = 87.05
Watt. Dengan MPPT, maka Ampere yang bisa diberikan adalah sekitar 120W :
12.4 V = 9.68 Ampere.

Teknologi yang sudah jarang digunakan, tetapi sangat murah, adalah Tipe 1
atau 2 Stage Control, dengan relay ataupun transistor. Fungsi relay adalah meng-
short ataupun men-disconnect baterai dari panel surya.

Cara Kerja Charge Controller

Solar charge controller, adalah komponen penting dalam Pembangkit Listrik


Tenaga Surya. Solar charge controller berfungsi untuk:

• Charging mode: Mengisi baterai (kapan baterai diisi, menjaga pengisian


kalau baterai penuh).
• Operation mode: Penggunaan baterai ke beban (pelayanan baterai ke
beban diputus kalau baterai sudah mulai 'kosong').
Charging Mode Solar Charge Controller

Dalam charging mode, umumnya baterai diisi dengan metoda three stage
charging:

• Fase bulk: baterai akan di-charge sesuai dengan tegangan setup (bulk -
antara 14.4 - 14.6 Volt) dan arus diambil secara maksimun dari panel
surya. Pada saat baterai sudah pada tegangan setup (bulk) dimulailah fase
absorption.
• Fase absorption: pada fase ini, tegangan baterai akan dijaga sesuai dengan
tegangan bulk, sampai solar charge controller timer (umumnya satu jam)
tercapai, arus yang dialirkan menurun sampai tercapai kapasitas dari
baterai.
• Fase flloat: baterai akan dijaga pada tegangan float setting (umumnya 13.4
- 13.7 Volt). Beban yang terhubung ke baterai dapat menggunakan arus
maksimun dari panel surya pada stage ini.

Sensor Temperatur Baterai Charge Controller

Untuk solar charge controller yang dilengkapi dengan sensor temperatur


baterai. Tegangan charging disesuaikan dengan temperatur dari baterai. Dengan
sensor ini didapatkan optimun dari charging dan juga optimun dari usia baterai.

Apabila solar charge controller tidak memiliki sensor temperatur baterai, maka
tegangan charging perlu diatur, disesuaikan dengan temperatur lingkungan dan
jenis baterai.

Mode Operation Solar Charge Controller

Pada mode ini, baterai akan melayani beban. Apabila ada over-discharge ataun
over-load, maka baterai akan dilepaskan dari beban. Hal ini berguna untuk
mencegah kerusakan dari baterai.
3. Inverter DC ke AC

Inverter adalah perangkat elektrik yang digunakan untuk mengubah arus listrik
searah (DC) menjadi arus listrik bolak balik (AC). Inverter mengkonversi DC dari
perangkat seperti batere, panel sel surya menjadi AC.

Penggunaan inverter dari dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)


adalah untuk perangkat yang menggunakan AC (Alternating Current).

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan inverter:

• Kapasitas beban dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban


kerjanya mendekati dgn beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi
kerjanya maksimal
• Input DC 12 Volt atau 24 Volt
• Sinewave ataupun square wave outuput AC

True sine wave inverter diperlukan terutama untuk beban-beban yang masih
menggunakan motor agar bekerja lebih mudah, lancar dan tidak cepat panas. Oleh
karena itu dari sisi harga maka true sine wave inverter adalah yang paling mahal
diantara yang lainnya karena dialah yang paling mendekati bentuk gelombang asli
dari jaringan listrik PLN.

Dalam perkembangannya di pasaran juga beredar modified sine wave inverter


yang merupakan kombinasi antara square wave dan sine wave. Bentuk
gelombangnya bila dilihat melalui oscilloscope berbentuk sinus dengan ada garis
putus-putus di antara sumbu y = 0 dan grafik sinusnya. Perangkat yang
menggunakan kumparan masih bisa beroperasi dengan modified sine wave
inverter, hanya saja kurang maksimal.

Sedangkan pada square wave inverter beban-beban listrik yang menggunakan


kumparan / motor tidak dapat bekerja sama sekali.

Selain itu dikenal juga istilah Grid Tie Inverter yang merupakan special
inverter yang biasanya digunakan dalam sistem energi listrik terbarukan, yang
mengubah arus listrik DC menjadi AC yang kemudian diumpankan ke jaringan
listrik yang sudah ada. Grid Tie Inverter juga dikenal sebagai synchronous
inverter dan perangkat ini tidak dapat berdiri sendiri, apalagi bila jaringan tenaga
listriknya tidak tersedia. Dengan adanya grid tie inverter kelebihan KWh yang
diperoleh dari sistem PLTS ini bisa disalurkan kembali ke jaringan listriki PLN
untuk dinikmati bersama dan sebagai penggantinya besarnya KWh yang disuplai
harus dibayar PLN ke penyedia PLTS, tentunya dengan tarif yang telah disepakati
sebelumnya. Sayangnya sampai sekarang ketentuan tarif semacam ini masih terus
digodok seiring dengan aturan mengenai listrik swasta.

Rugi-rugi / loss yang terjadi pada inverter biasanya berupa dissipasi daya
dalam bentuk panas. Effisiensi tertinggi dipegang oleh grid tie inverter yang
diclaim bisa mencapai 95-97% bila beban outputnya hampir mendekati rated
bebannya. Sedangkan pada umumnya effisiensi inverter adalah berkisar 50-90%
tergantung dari beban outputnya. Bila beban outputnya semakin mendekati beban
kerja inverter yang tertera maka effisiensinya semakin besar, demikian pula
sebaliknya. Modified sine wave inverter ataupun square wave inverter bila
dipaksakan untuk beban-beban induktif maka effisiensinya akan jauh berkurang
dibandingkan dengan true sine wave inverter. Perangkatnya akan menyedot daya
20% lebih besar dari yang seharusnya.
4. Baterai untuk Sel Surya

Baterai adalah alat penyimpan tenaga listrik arus searah ( DC ). Ada beberapa
jenis baterai / aki di pasaran yaitu jenis aki basah/konvensional, hybrid dan MF (
Maintenance Free ). Aki basah/konvensional berarti masih menggunakan asam
sulfat ( H2SO4 ) dalam bentuk cair. Sedangkan aki MF sering disebut juga aki
kering karena asam sulfatnya sudah dalam bentuk gel/selai. Dalam hal
mempertimbangkan posisi peletakkannya maka aki kering tidak mempunyai
kendala, lain halnya dengan aki basah.

Aki konvensional juga kandungan timbalnya ( Pb ) masih tinggi sekitar


2,5%untuk masing-masing sel positif dan negatif. Sedangkan jenis hybrid
kandungan timbalnya sudah dikurangi menjadi masing-masing 1,7%, hanya saja
sel negatifnya sudah ditambahkan unsur Calsium. Sedangkan aki MF / aki kering
sel positifnya masih menggunakan timbal 1,7% tetapi sel negatifnya sudah tidak
menggunakan timbal melainkan Calsium sebesar 1,7%. Pada Calsium battery
Asam Sulfatnya ( H2SO4 ) masih berbentuk cairan, hanya saja hampir tidak
memerlukan perawatan karena tingkat penguapannya kecil sekali dan
dikondensasi kembali. Teknologi sekarang bahkan sudah memakai bahan silver
untuk campuran sel negatifnya.

Ada beberapa pertimbangan dalam memilih aki :

• Tata letak, apakah posisi tegak, miring atau terbalik. Bila


pertimbangannya untuk segala posisi maka aki kering adalah pilihan utama
karena cairan air aki tidak akan tumpah. Kendaraan off road biasanya
menggunakan aki kering mengingat medannya yang berat. Aki ikut
terguncang-guncang dan terbanting. Aki kering tahan goncangan
sedangkan aki basah bahan elektodanya mudah rapuh terkena goncangan.
• Voltase / tegangan, di pasaran yang mudah ditemui adalah yang
bertegangan 6V, 12V da 24V. Ada juga yang multipole yang mempunyai
beberapa titik tegangan. Yang custom juga ada, biasanya dipakai untuk
keperluan industri.
• Kapasitas aki yang tertulis dalam satuan Ah ( Ampere hour ), yang
menyatakan kekuatan aki, seberapa lama aki tersebut dapat bertahan
mensuplai arus untuk beban / load.
• Cranking Ampere yang menyatakan seberapa besar arus start yang dapat
disuplai untuk pertama kali pada saat beban dihidupkan. Aki kering
biasanya mempunyai cranking ampere yang lebih kecil dibandingkan aki
basah, akan tetapi suplai tegangan dan arusnya relatif stabil dan konsisten.
Itu sebabnya perangkat audio mobil banyak menggunakan aki kering.
• Pemakaian dari aki itu sendiri apakah untuk kebutuhan rutin yang sering
dipakai ataukah cuma sebagai back-up saja. Aki basah, tegangan dan
kapasitasnya akan menurun bila disimpan lama tanpa recharge, sedangkan
aki kering relatif stabil bila di simpan untuk jangka waktu lama tanpa
recharge.
• Harga karena aki kering mempunyai banyak keunggulan maka harganya
pun jauh lebih mahal daripada aki basah. Untuk menjembatani rentang
harga yang jauh maka produsen aki juga memproduksi jenis aki kalsium (
calcium battery ) yang harganya diantara keduanya.
• Secara garis besar, battery dibedakan berdasarkan aplikasi dan
konstruksinya. Berdasarkan aplikasi maka battery dibedakan untuk
automotif, marine dan deep cycle. Deep cycle itu meliputi battery yang
biasa digunakan untuk PV ( Photo Voltaic ) dan back up power.
Sedangkan secara konstruksi maka battery dibedakan menjadi type basah,
gel dan AGM ( Absorbed Glass Mat ). Battery jenis AGM biasanya juga
dikenal dgn VRLA ( Valve Regulated Lead Acid ).
• Battery kering Deep Cycle juga dirancang untuk menghasilkan tegangan
yang stabil dan konsisten. Penurunan kemampuannya tidak lebih dari 1-
2% per bulan tanpa perlu dicharge. Bandingkan dengan battery
konvensional yang bisa mencapai 2% per minggu untuk self
discharge. Konsekuensinya untuk charging pengisian arus ke dalam
battery Deep Cycle harus lebih kecil dibandingkan battery konvensional
sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk mengisi muatannya. Antara
type gel dan AGM hampir mirip hanya saja battery AGM mempunyai
semua kelebihan yang dimiliki type gel tanpa memiliki kekurangannya.
Kekurangan type Gel adalah pada waktu dicharge maka tegangannya harus
20% lebih rendah dari battery type AGM ataupun basah. Bila overcharged
maka akan timbul rongga di dalam gelnya yg sulit diperbaiki sehingga
berkurang kapasitas muatannya.
• Karena tidak ada cairan yang dapat membeku maupun mengembang,
membuat battery Deep Cycle tahan terhadap cuaca ekstrim yang
membekukan. Itulah sebabnya mengapa pada cuaca dingin yang ekstrim,
kendaraan yang menggunakan baterai konvensional tidak dapat distart
alias mogok.
• Ada 2 rating untuk battery yaitu CCA dan RC.
• * CCA ( Cold Cranking Ampere ) menunjukkan seberapa besar arus yang
dapat dikeluarkan serentak selama 30 detik pada titik beku air yaitu 0
derajad Celcius.
• * RC ( Reserve Capacity ) menunjukkan berapa lama ( dalam menit )
battery tersebut dapat menyalurkan arus sebesar 25A sambil tetap menjaga
tegangannya di atas 10,5 Volt.
• Battery Deep Cycle mempunyai 2-3 kali lipat nilai RC dibandingkan
battery konvensional. Umur battery AGM rata-rata antara 5-8 tahun.
BAB IV
Perencanaan dan Perhitungan PLTS

Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Karena pembangkit listrik tenaga surya sangat tergantung kepada sinar


matahari, maka perencanaan yang baik sangat diperlukan. Perencanaan terdiri
dari:

• Jumlah daya yang dibutuhkan dalam pemakaian sehari-hari (Watt).


• Berapa besar arus yang dihasilkan panel surya (dalam Ampere hour),
dalam hal ini memperhitungkan berapa jumlah panel surya yang harus
dipasang.
• Berapa unit baterai yang diperlukan untuk kapasitas yang diinginkan dan
pertimbangan penggunaan tanpa sinar matahari. (Ampere hour).

Dalam nilai ekonomi, pembangkit listrik tenaga surya memiliki nilai yang
lebih tinggi, dimana listrik dari PT. PLN tidak dimungkinkan, ataupun instalasi
generator listrik bensin atau solar. Misalnya daerah terpencil seperti :
pertambangan, perkebunan, perikanan, desa terpencil, dll. Dari segi jangka
panjang, nilai ke-ekonomian juga tinggi, karena dengan perencanaan yang baik,
pembangkit listrik tenaga surya dengan panel surya memiliki daya tahan 20 - 25
tahun. Baterai dan beberapa komponen lainnya dengan daya tahan 3 - 5 tahun.

Diagram Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Diagram instalasi pembangkit listrik tenaga surya ini terdiri dari solar panel,
charge controller, inverter, baterai.

Dari diagram pembangkit listrik tenaga surya diatas : beberapa solar panel di
paralel untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Combiner pada gambar diatas
menghubungkan kaki positif panel surya satu dengan panel surya lainnya. Kaki/
kutub negatif panel satu dan lainnya juga dihubungkan. Ujung kaki positif panel
surya dihubungkan ke kaki positif charge controller, dan kaki negatif panel surya
dihubungkan ke kaki negatif charge controller. Tegangan panel surya yang
dihasilkan akan digunakan oleh charge controller untuk mengisi baterai. Untuk
menghidupkan beban perangkat AC (alternating current) seperti Televisi, Radio,
komputer, dll, arus baterai disupply oleh inverter.
Instalasi pembangkit listrik dengan tenaga surya membutuhkan perencanaan
mengenai kebutuhan daya:

• Jumlah pemakaian
• Jumlah solar panel
• Jumlah baterai

Menghitung Kebutuhan PLTS

Sebagian besar orang selalu menanyakan kapasitas PLTS dengan ukuran listrik
PLN, seperti 450W, 900 W dan seterusnya. Kapasitas terpasang tersebut dalam
PLTS sering disebut sebagai Wp (Watt Peak) yang menunjukkan kapasitas dari
modul surya pada saat matahari dalam kondisi
terik/puncak. Kapasitas modul surya yang tersedia sangat banyak: 10 Wp, 30 Wp,
40 Wp, 50 Wp, 65 Wp, 70 Wp, 80 Wp, 100 Wp, 125 Wp, 150 Wp, dan 160 Wp.
Untuk menghitung berapa PLTS yang dibutuhkan, dapat diikuti tahapan sebagai
berikut:

a. Modul surya akan menghasilkan listrik sesuai dengan tingkat radiasi matahari
yang diterimanya. Tingkat radiasi ini berbeda dari satu tempat ke lainnya,
dipengaruhi oleh letak lokasi dari khatulistiwa (latitude), ketinggian dari
permukaan laut (altitude), awan, tingkat polusi,
kelembaban, dan suhu. Namun demikian untuk memudahkan, di Indonesia dapat
dipakai patokan 1 modul surya kapasitas 120Wp dapat menghasilkan listrik
sebesar 120 Wh (Watt hour atau Watt Jam) per hari.
b. Untuk menghitung berapa listrik yang akan diperlukan untuk mengoperasikan
peralatan elektronik (Wh), kalikan Watt (AC ataupun DC) peralatan dengan
lamanya (Jam) peralatan tersebut akan dipakai setiap hari (kumulatif). Misal, jika
1 buah lampu 10 watt, ingin dinyalakan dalam satu hari kumulatif selama 15 jam,
maka akan dibutuhkan listrik sebanyak 10 Watt x 1 buah x 15 Jam = 150 Wh
(Watt Jam-Watt Hour). Masukkan peralatan lainnya dalam kalkulasi berikut:

• Penerangan rumah: 10 lampu CFL @ 15 Watt x 4 jam sehari = 600 Watt


hour.
• Televisi 21": @ 100 Watt x 5 jam sehari = 500 Watt hour
• Kulkas 360 liter : @ 135 Watt x 24 jam x 1/3 (karena compressor kulkas
tidak selalu hidup, umumnya mereka bekerja lebih sering apabila kulkas
lebih sering dibuka pintu) = 1080 Watt hour
• Komputer : @ 150 Watt x 6 jam = 900 Watt hour
• Perangkat lainnya = 400 Watt hour
• Total kebutuhan daya = 3480 Watt hour

Jumlah panel surya yang dibutuhkan, satu panel kita hitung 120 Wp
(perhitungan adalah 5 jam maksimun tenaga surya):

• Kebutuhan panel surya : ( 3480 / (120 x 5) ) = 6 panel surya.


• Dengan dimensi pada panel surya ( Panjang x Lebar x Tinggi ) = 1499 x
662 x 46 (mm)

Jumlah kebutuhan batere 12 Volt dengan masing-masing 100 Ah:

• Kebutuhan batere minimun (batere hanya digunakan 50% untuk


pemenuhan kebutuhan listrik), dengan demikian kebutuhan daya kita
kalikan 2 x lipat : 3480 x 2 = 6960 Watt hour = 6960 / 12 Volt / 100 Amp
= 6 batere 100 Ah.
• Kebutuhan batere (dengan pertimbangan dapat melayani kebutuhan 3 hari
tanpa sinar matahari) : 3480 x 3 x 2 = 20880 Watt hour =20880 / 12 Volt /
100 Amp = 17 batere 100 Ah.
DAFTAR PUSTAKA

[ SOLAR-PANEL.PDF]

http://www.tenaga-surya.com/index.php/solar-panel

http://www.tenaga-surya.com/index.php/charge-controller

http://www.tenaga-surya.com/index.php/inverter

http://www.tenaga-surya.com/index.php/batere

INFORMASI UMUM PLTS.PDF - Abdul Kholik

http://www.tcpdf.org
Penulis

Nama saya Gagah Indrasmara Agityasaputra tapi orangtua saya memanggil


saya dengan nama panggilan eras. Jadi panggil saya eras. Saya kuliah di
Universitas TRISAKTI Fakultas Teknologi Industri jurusan Teknik Elektro
konsentrasi A (Arus Kuat) angkatan 2006.
Saya lahir di Banjarmasin 3 Desember 1988. Sebagai mahasiswa saya adalah
alumni SD YAPENKA, SLTP Al-Ikhlas dan SMU AIPL (Al-Izhar Pondok Labu).
Saya menyukai olahraga basket. Saya di kampus juga mengikuti kegiatan
organisasi Himpunan Mahasiswa Elektro dan BEM FTI.
Makalah ini saya buat sebagai tugas kuliah Pembangkit Sumber Energi (PSE).
Sebuah kuliah yang membuat mahasiswa termotivasi agar mengembangkan
berbagai macam jenis pembangkit energi listrik yang baru dan terbaharukan.
Mudah-mudahan makalah ini dapat membantu negara ini dari krisis energi.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam hal penulisan maupun isi dari makalah
ini. Karena hanya sebatas inilah pengetahuan penulis dalam pembuatan makalah
ini.
Apabila ingin menghubungi saya bisa lewat email di
gagah_indrasmara@yahoo.com

Wassalam...