Anda di halaman 1dari 7

CINTA TANPA BATAS

Gerimis masih turun sedari tadi. Cipratan air yang jatuh dari atap mengenai
sepatu Afif yang mengkilat. Matahari mulai tampak. Sinar keemasan sore harinya
menerangi pelataran ruang.
Kondisi fisiknya baik, tidak ada masalah. Kami sarankan Ibu dirawat di...
Biar saya bawa pulang saja, Pak Dokter.
Gerakannya cepat, langsung menuju tempat tidur Sang perempuan.
Wajahnya masih menunduk. Ia pun menggenggamnya erat.
Semuanya sudah baik-baik saja. Ayo kita pulang, senyumnya merekah.
Orang jahat itu sudah pergi kan? masih tersirat ketakutan di wajah Sang
perempuan.
Iya, ayo kita pulang ke rumah baru. Supaya orang itu tidak tahu kita ada di
sana. Mereka pun bergandengan, lalu menjinjing koper besar yang dibawanya.
Mereka tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Afif melihat mereka berjalan keluar. Matanya menyipit. Ia merasakan hal
yang tak biasa. Ganjil. Rasa penasarannya mencuat.
Dok, pasien tadi rumahnya di mana? tanya Afif pada salah satu dokter
jaga IGD.
Yang mana? Suami istri tadi? jawab Sang dokter sambil menulis lembaran
rekam medis pasien.
Yap. Jauh gak rumahnya?
Ikutin aja tuh mumpung belum jauh, canda seorang mahasiswa perawat.
Afif sigap berlari. Sang mahasiswa kaget, tak menyangka sarannya benarbenar diikuti. Sang dokter IGD hanya geleng-geleng kepala.
Sepasang insan layaknya orang yang tengah jatuh cinta sedang duduk di
taman tak jauh dari Rumah Sakit. Kaki mereka saling berayun seperti anak kecil.
Sang perempuan sesekali tertawa dan mencubit-cubit Sang lelaki yang meringismeringis kesakitan. Dunia seperti milik mereka saja.
Dahi Afif mengernyit, ia membetulkan kaca mata minusnya. Sejauh ini, ia
tak pernah menemukan hal menarik selain dua insan di hadapan matanya saat
ini. Dua hari sudah ia di sini, jenuh dan membosankan. Apalagi ia lupa membawa
komik kesukaannya.
Ayo kita pulang Mas. Orang itu pasti sudah pergi, ujar Sang perempuan.
Ke rumah kita yang baru?
Yang lama saja. Di kulkas aku masih menyimpan cokelat yang enak. Aku
mau, ia merajuk. Sang lelaki mengangguk. Mereka bergandengan lagi. Pulang.
Afif membuntuti mereka perlahan, berusaha tak mencurigakan. Pasangan
itu berjalan perlahan kemudian memasuki pekarangan rumah yang lebat

ditumbuhi tanaman, lalu menghilang di antara rimbunnya rerumputan. Afif


celingukan. Rasanya seperti berada di depan rumah hantu. Lalu ia pun mulai
ragu dengan langkahnya. Benarkah dua sosok tadi adalah manusia?
Afif menggelengkan kepalanya dan mengerjapkan mata. Ia merasa bodoh
berpikir hal-hal mistis macam itu. Sudah jelas mereka tadi berobat ke Rumah
Sakit. Mereka itu nyata.
Pak, mereka itu siapa? Afif bertanya pada orang yang tiba-tiba lewat di
hadapannya.
Orang itu tampak heran. Ia memperhatikan Afif dari ujung rambut hingga
ujung kaki.
Orang gila, jawabnya singkat lalu pergi. Afif sudah menduganya. Memang
tampak seperti tidak beres. Ia makin penasaran. Insting detektifnya muncul. Ya,
akibat terlalu banyak baca komik dan novel detektif dibanding textbook
kedokteran.
Handphone Afif berbunyi dengan nada deringnya yang khas mengusik
telinga. Didit, partner tugasnya menelepon. Tugas menanti dokter muda,
batinnya.
Hei, kamu ke mana aja sih? Makan yuk, laper nih, suara khas Didit
memecahkan keheningan.
Lagi misi penyelidikan, Bro, jawab Afif.
Apa lagi ini? Ada yang kucingnya ilang? ujar Didit sambil tertawa. Afif
teringat keberhasilannya memecahkan misteri hilangnya kucing peliharaan
tetangga Didit.
Bukan lah, ini lebih seru dong. Tapi hari ini udahan dulu, udah sore. Besok
lanjut lagi deh. Tunggu aku di warung biasanya ya. Afif pun menekan tombol
merah. Pembicaraan terputus. Ia melangkah pergi sambil berusaha mengingatingat kembali jalan yang ditelusurinya agar esok bisa kembali lagi.
Tumben kita hari ini sepi panggilan, ujar Afif di sela-sela makan mereka.
Didit tersedak. Jangan ngomong kata-kata kotor.
Hah? Mananya yang kotor? Afif melotot.
Maksudnya, itu haram diucapkan anak praktekan macam kita gini. Hmmm,
tuh kan liat hapeku langsung bunyi, Didit tampak kesal.
Haha. Oke Bos, saya berangkat. Habisin makanmu sana, aku gak nafsu!
Afif pun melompat dari kursi. Ia pun berlari.
Woy, pasien kita yang kemarin katanya mau bunuh diri!
Apa???
Didit buru-buru membayar lalu ikut berlari bersama Afif.
Fif, sebenernya kita itu lagi stase apa sih? Bedah apa jiwa? Kok jadi kita
yang kena batunya, Didit tampak kesal. Afif terbahak membayangkan ekspresi
Didit saat memegangi tangan pasien yang nekat mau melepas infusnya.

Setiap orang yang sakit itu tak lepas dari kelabilan kondisi psikisnya Bro,
jawab Afif sok keren.
Kayak kamu itu. Labil, dengus Didit kesal.
Oiya aku jadi inget. Misi penyelidikanku itu tentang orang skizofren. Baru
dugaan sih, tapi ya udah 99% lah, ujar Afif bersemangat.
Skizofrenia? Gangguang jiwa maksudnya? Didit bergidik.
Apaan sih Dit, seru lagi. Mau ikut yuk! ajak Afif.
Belum masuk stase jiwa ah, belum ngerti. Kamu aja sana. Tapi aku gak
nanggung risikonya ya. Orang gila tu lebih bahaya daripada orang waras! Didit
bergidik lagi.
Oke kalau gak mau gabung dalam misi! Aku gak kenal kamu lagi! Didit
cuek saja dengan ancaman Afif.
Pagi-pagi sekali Afif sudah memulai rutinitas joggingnya. Didit masih
tertidur pulas. Rute perjalanannya pun berubah, menuju rumah pasangan aneh
itu. Langit masih gelap. Lampu penerangan jalan masih menyala, begitu pula
lampu rumah-rumah lainnya. Tetapi rumah ini berbeda. Lampu terasnya mati,
dari jendela tampak cahaya berpendar. Namun bukan lampu, melainkan seperti
cahaya lilin yang temaram.
Tiba-tiba gorden jendela terbuka. Seorang perempuan dengan rambut acakacakan tampak menyeringai. Afif kaget bukan main. Ia lari terbirit-birit, seperti
melihat hantu. Setelah berlari sejauh setengah kilometer ia baru tersadar. Bisa
jadi seseorang dalam bahaya di sana.
Afif berbalik arah, kembali ke rumah tadi. Ia memberanikan diri masuk ke
dalam pekarangan rumah yang lebat, menuju pintu lalu mengetuknya dengan
keras.
Permisi Pak, tolong buka pintunya, Afif terengah-engah. Tidak ada
jawaban. Ia mengintip melalui jendela. Seisi rumah tampak berantakan,
meskipun ia hanya bisa melihatnya samar-samar karena cahaya yang terbatas.
Ia beralih ke jendela samping, mencoba mengintip. Letaknya yang cukup tinggi
membuat Afif sulit menjangkaunya. Tapi ia mendengar samar-samar suara minta
tolong.
Afif kembali ke pintu depan, berusaha membuka pintu secara paksa. Ajaib,
pintunya tidak terkunci. Ia pun masuk, mencari arah sumber suara lirih yang ia
dengar. Lalu didapatinya seorang laki-laki yang terikat di dipannya. Buru-buru
Afif melepas ikatannya.
Sani ada di dapur, laki-laki itu menunjuk ke arah luar kamar. Afif bergegas
ke sana. Ia melihat seorang perempuan sedang duduk sambil mengunyah
sebatang coklat. Wajahnya kotor, belepotan terkena cokelat.
Mau? ia menyodorkan cokelatnya pada Afif. Rasanya Afif mau pingsan
saja melihat kejadian di depan matanya. Ia tak percaya. Kakinya gemetar.
Saya mohon jangan beritahukan kejadian ini pada siapa-siapa, tiba-tiba
Sang lelaki mencengkeram tangan Afif.

Tapi Pak, Anda dalam bahaya, suara Afif bergetar.


Biarlah ini semua jadi tanggung jawab saya. Saya pasti akan lebih berhatihati, ujar lelaki itu, memelas.
Sudah berapa lama dia seperti ini? Maaf, hubungan Bapak dan Ibu ini?
Afif tampak ragu.
Dia istri saya, lelaki itu tertunduk. Sudah 2 tahun. Sejak kami belum
menikah.
Afif terperanjat. Ia tak percaya.
Ba...Bapak menikahi orang. Hmmm. Baiklah. Jadi Bapak sudah tahu
keadaan Ibu sejak awal? Afif mulai dapat menguasai diri.
Ya. Saya menerimanya Mas. Saya yang menanggung semuanya, tiba-tiba
Sang lelaki terisak.
Bapak harus tenang dan berpikir jernih. Ibu ini harus dirawat di tempat
yang lebih baik, Afif mencoba membujuknya.
Saya tidak mau dia menderita. Biarlah saya yang menderita. Dia begini
karena saya, lelaki itu terisak lebih keras. Namun isakannya kemudian kalah
dengan kerasnya suara dengkuran. Sang perempuan yang tidak lain adalah
istrinya telah tertidur pulas sambil terduduk.
Baiklah, Bapak tenangkan diri ya. Saya pulang dulu. Nanti saya kembali
lagi ke sini, ujar Afif sambil menepuk pundak Sang lelaki. Ia pun pergi
meninggalkan Sang lelaki yang tengah berlutut dan Sang perempuan yang
mendengkur keras. Kepala Afif terasa pening. Ia buru-buru kembali ke Rumah
Sakit.
Dit, kamu pasti tidak percaya sama ceritaku, Afif mencegat Didit yang
telah berpakaian rapi dengan jas putihnya.
Mandi sana, udah siang. Waktunya follow up pasien Bro, Didit
meninggalkan Afif begitu saja. Afif tampak kesal, namun ia mengikuti saran
temannya itu. Matahari mulai tinggi. Saatnya kembali pada rutinitas yang
seharusnya.
Fif, sorry tadi belum sempet cerita ya. Pasti tentang orang gila itu. Sudah
kuduga kamu pasti ke sana, ujar Didit saat Poliklinik telah sepi pasien.
Kita harus berbuat sesuatu, Dit. Ini udah bahaya banget, ujar Afif panik.
Tenang Bro, pelan-pelan ngomongnya.
Afif pun menceritakan semua hal yang dialaminya. Didit setuju untuk
bergabung dalam misi Afif. Namun ia masih tampak ragu. Ia khawatir akan
keselamatan mereka.
Afif menarik tangan Didit, tergesa-gesa. Didit nampak kesulitan mengikuti
langkah Afif yang cepat. Mereka menghadang rimbunnya semak belukar di
pekarangan rumah itu.

Separah inikah? Didit tampak ketakutan. Afif membuka pintu rumah. Lagilagi tidak terkunci. Rumah ini sudah kembali rapi, tak seperti tadi pagi. Afif
menyusuri tiap ruangan. Sepi. Tak ada tanda-tanda penghuninya akan nampak.
Pak.... Bu.... Afif mulai memanggil. Ia menambah cermat pencariannya
hingga ke seluruh penjuru ruangan.
Nihil, Fif. Mereka menghilang, ujar Didit ketakutan. Jangan-jangan mereka
bukan manusia.
Mereka pasti ke rumah baru! teriak Afif. Didit keheranan. Ia tak mengerti
apa yang diucapkan temannya itu. Afif berlari ke luar kemudian masuk ke kebun
belakang rumah yang lebih rimbun dibanding pekarangannya. Didit mengikuti
sambil terengah-engah. Ia pun tak percaya saat menemui sebuah gubuk kecil di
pojok kebun itu.
Afif langsung membuka pintunya. Seorang perempuan menjerit.
Orang jahatnya datang lagi! kemudian mengacungkan sapu pada Afif. Afif
mengangkat kedua tangannya. Didit terpaku di luar, ia tak berani masuk.
Pergi kamu! Orang jahat! tiba-tiba Sang lelaki datang dan memeluk Sang
perempuan, lalu membawanya masuk. Didit pun menarik Afif keluar.
Afif, kita gak bisa menangani ini sendiri! Percayalah! Kita butuh bantuan
orang lain. Kita dalam bahaya!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Hari ini hari pertama Afif bertugas di Rumah Sakit Jiwa. Dengan wajah
sumringah, ia melangkahkan kakinya dengan riang.
Tunggu aku dong! Didit, partner setianya berteriak dari jauh.
Kenapa Dit? Takut ya? Afif terbahak. Mereka melewati koridor bangsal.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka dari balik pagar besi.
Memang menyeramkan. Pantas saja pasienmu itu gak mau dibawa ke
sini, Didit bergidik.
Tu mereka! ujar Afif sambil menunjuk ke sebuah gubuk peristirahatan.
Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan begitu akrab bersenda gurau. Sang
laki-laki memakai baju rawat Rumah Sakit. Sang perempuan tampak sangat
berbeda, cantik dan rapi. Tampaknya ia membawakan makanan untuk suaminya.
Jadi Ibu itu sudah keluar? Malah suaminya yang masih di sini, ujar Didit.
Ya, aku pikir cuma istrinya yang sakit jiwa, ternyata suaminya lebih parah.
Untung saja waktu aku ke sana sendiri, gak terjadi apa-apa, Afif mengelus dada.
Jadi sebenernya Bapak itu ditali sama istrinya karena dia mengamuk
semaleman? Rumahnya acak-acakan itu karena ulah Bapak itu kan, bukan
istrinya? ujar Didit setengah mencemooh Afif.
Ya, detektif kan juga bisa salah. Yang penting sekarang happy ending,
kilah Afif. Didit tertawa.

Tapi kamu belum cerita semuanya Fif. Sebenarnya apa yang terjadi pada
mereka, Didit mencoba menyamai langkah Afif yang lebar.
Kamu anamnesis sendiri aja sana. Nanti kan kita harus presentasi kasus,
ya kamu pake aja kasusnya. Gejalanya masih keliatan kok, Afif terbahak. Ia
kemudian berlari. Didit pun berusaha mengejarnya. Mereka malah tampak
seperti sepasang dokter muda yang terlalu menghayati stasenya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Seorang Laki-laki usia 30 tahun dengan Skizofrenia Paranoid, Dokter.
Ya, silahkan.
Pasien dibawa ke IGD Rumah Sakit Jiwa oleh warga sekitar karena
menyembunyikan istrinya di gubuk belakang rumahnya.
Lanjutkan.
Pasien ditemukan warga di gubuk belakang rumahnya sedang mengamuk
sambil memeluk istrinya. Pasien menyembunyikan istrinya karena takut istrinya
dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Sehari sebelumnya, pasien membawa istrinya ke
IGD Rumah Sakit Umum Daerah karena istrinya menangis seharian dan tidak
mau makan. Pasien merasa penyebabnya adalah karena istrinya takut pada
orang jahat. Saat dikatakan bahwa istrinya tidak sakit secara fisik tetapi butuh
dirawat kejiwaannya, pasien malah meminta pulang. Esok paginya, saat warga
datang, rumahnya sangat berantakan dan pasien dalam keadaan terikat di
dipannya, sementara istrinya berada di dapur sedang makan. Warga segera
membebaskan pasien karena mengira pasien dianiaya istrinya yang gila. Saat
dibujuk untuk membawa istrinya ke Rumah Sakit Jiwa, pasien malah menangis
dan memohon agar hal ini dirahasiakan. Ia mengatakan akan bertanggungjawab
sepenuhnya karena penyebab istrinya menjadi seperti ini adalah dia.
Hmmmmmm.
Saat warga datang kembali siang harinya, pasien dan istrinya tidak ada di
rumahnya dan ditemukan berada di dalam gubuk kecil di belakang rumahnya.
Pasien
mengaku
mendengar
bisikan-bisikan
yang
menyuruhnya
menyembunyikan istrinya agar tidak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa.
Diagnosis istri pasien?
Gangguan Bipolar, Dokter. Saat ini sudah terkontrol dan menjalani rawat
jalan.
Alloanamnesisnya?
Iya setelah ini saya bacakan Dokter.
Siapa yang kamu tanya maksud saya.
Istrinya, Dokter.
Sudah tau istrinya ada riwayat gangguan jiwa. Kamu bisa mempercayai
keterangannya?
Lalu hening.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Bu, setelah Ibu benar-benar menyadari bahwa Bapak


gangguan jiwa, Ibu masih bersedia mendampinginya? tanya Afif.

mengalami

Dia adalah yang satu-satunya saya miliki. Setelah kedua orang tua saya
meninggal saat itu. Saya sangat shock hingga menjadi seperti orang gila.
Kadang saya merasa sedih sekali, tetapi kadang saya merasa senang entah
kenapa. Saya merasa diri saya aneh, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Saat
itu saya mengenal Bapak. Dia sangat perhatian dan mau menerima saya apa
adanya, perempuan itu terisak.
Setahu saya dia itu setiap hari minum obat, tetapi tidak tahu apa. Pernah
sekali dia itu aneh. Diam dan menyendiri di pojok rumah. Katanya ada orang
jahat. Kemudian saya mulai ditakut-takuti, bahwa ada orang jahat yang
mengincar kami, jadi saya harus menikah dengannya agar ia bisa melindungi
saya. Entah kenapa saya percaya padanya dan mau menikah dengannya. Setiap
pagi dia melihat curiga ke luar jendela. Waktu saya tanya ada apa, katanya dia
takut polisi menemukannya di sini. Saya bingung tapi saya percaya saja, ia
melanjutkan ceritanya.
Lalu tiba-tiba ia mengamuk. Saya ikat saja dia di dipan waktu dia tidur.
Bapak bilang Ibu jadi aneh karena dia? tanya Afif lagi.
Ya, belakangan saya tahu kalau orang tua saya kecelakaan di jalan dekat
rumahnya. Sebelum orang tua saya kecelakaan, dia membuang kulit pisang di
jalan itu untuk mencelakai orang lain. Tetapi malah orang tua saya ditabrak
mobil di sana. Dia mungkin beranggapan kalau orang tua saya celaka karena
kulit pisang itu, ia tersenyum masam.
Jadi, Ibu masih menerima Bapak?
Ya, selamanya saya adalah istrinya. Dia begitu mencintai saya dengan
caranya. Saya yakin cintanya tulus dan tanpa batas. Maka saya juga harus
membalasnya semampu saya, kali ini ia terisak.
Afif terdiam. Ia membiarkan perempuan itu larut dalam isakannya. Awalnya
ia pikir, Sang laki-laki yang begitu hebat dapat menerima kekurangan Sang
perempuan dan tulus mencintainya. Namun ternyata banyak hal yang tidak
dipahaminya. Mereka mencintai pasangannya dengan caranya masing-masing.
Sesuatu yang tampak, tidak selamanya itu yang sesungguhnya terjadi. Afif
berjanji akan berusaha memahami dengan lebih baik. Mendalami jiwa-jiwa yang
tak tersentuh dan bahkan mungkin dikucilkan orang lain.
Hei calon psikiater! sapa Didit.
Gimana presentasi kasusmu? tanya Afif sambil nyengir.
Kamu jahaaaaat!
Mereka pun kembali berkejar-kejaran. Kali ini bagaikan sepasang kekasih
yang tengah dimabuk cinta, seperti di film-film Bollywood.