Anda di halaman 1dari 17

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengaruh Riboflavin pada Migren


Migren adalah nyeri kepala berulang dengan adanya interval bebas gejala
dan sedikitnya memiliki 3 dari gejala berikut: nyeri perut, mual atau muntah,
nyeri kepala berdenyut, unilateral, adanya aura (visual, sensori, motorik),
gejala berkurang dengan tidur, dan adanya riwayat keluarga yang sama.1
Lama serangan pada anak adalah 2 sampai 4 jam, sedang pada dewasa 4
sampai 72 jam.9
Beberapa faktor predisposisi migren adalah riwayat keluarga (genetik),
usia (sering pada pubertas), menstruasi, terlambat makan, rangsangan
berlebihan (sorotan cahaya, bau yang menyengat), perubahan cuaca, terlalu
banyak atau kurang tidur dan stres.14
Indikasi terapi preventif pada migren adalah serangan berulang yang
mempengaruhi kegiatan sehari-hari, seperti ketidakhadiran di sekolah atau
aktivitas lainnya walaupun telah diberi terapi akut, dan serangan sedikitnya 3
kali dalam 1 bulan.7,11,12 Terapi preventif migren secara umum tampak
perbaikan sedikitnya dalam 1 smpai 2 bulan.13 Terapi profilaksis migren
masih menjadi suatu tantangan. Banyak obat yang tersedia namun
penggunaannya terbatas dikarenakan efek samping dan tidak dapat
ditolelerir oleh tubuh.19-21

Universitas Sumatera Utara

Riboflavin

merupakan

prekursor

dari

dua

ko

enzim,

flavin

mononukleotida dan flavin adenine dinukleotida. Keduanya terlibat dalam


transfer elektron pada reaksi oksidasi-reduksi. Pasien dengan ensefalopati
mitokondrial, laktat asidosis dan episode yang menyerupai stroke juga
memperlihatkan pengurangan energi metabolisme metokondrial dan juga
terdapat gejala nyeri kepala menyerupai migren. Pada subjek tersebut gejala
nyeri kepala berkurang dengan pemberian riboflavin.21-24
Pada suatu pilot studi yang dilanjutkan dengan suatu ramdomized
controlled trial memperlihatkan efikasi dari riboflavin dosis tinggi (400 mg/hari)
sebagai profilaksis migren.21
Dengan pertimbangan sedikit efek samping dari riboflavin dosis tinggi
jika dibandingkan dengan agen profilaksis lainnya seperti metoprolol yang
dapat menyebabkan efek samping pada 39,3% pasien, sehingga riboflavin
menjadi alternatif untuk profilaksis migren.21,25
Suatu penelitian yang pertama kali mengevaluasi efikasi riboflavin
sebagai profilaksis migren pada anak mendapatkan 50% pasien mengalami
pengurangan serangan migren dalam pengobatan selama 4 minggu.
Penelitian ini merupakan suatu studi acak tersamar ganda dengan
menggunakan dosis 400 mg/hari yang dibandingkan dengan plasebo.20 Untuk
pemeriksaan disabilitas yang valid, sensitif dan reliable pada anak dan
remaja di gunakan PedMIDAS.26,27

Universitas Sumatera Utara

2.2. Klasifikasi migren


Menurut The International Headache society (IHS-2) 2004, migren dapat
dibagi atas migren tanpa aura, dengan aura, childhood periodic syndrome,
retinal migraine, probable migraine, migren dengan komplikasi dan kejang
yang dicetuskan oleh migren.28
Migren tanpa aura (common migraine) sering dijumpai pada anak dan
remaja (70%). Pada tipe ini nyeri kepala terjadi di daerah frontal bilateral atau
unilateral, berdenyut, dengan intensitas sedang atau berat, lama serangan
antara 1 sampai 72 jam, dan frekuensinya 6 sampai 8 kali per bulan. Klinis
seperti aura tidak spesifik dan bermanifestasi sebagai rasa lemah, pucat, dan
mudah tersinggung. Keadaan ini lebih sering disertai oleh mual dan nyeri
perut dibandingkan muntah. Muntah berulang sering merupakan manifestasi
pada anak pra-sekolah.2-4
Migren dengan aura (classic migraine) merupakan suatu proses
bifasik. Pada fase inisial terjadi gelombang eksitasi yang diikuti oleh depresi
fungsi kortikal dan terjadi penurunan aliran darah setempat. Pada fase
berikutnya terjadi peningkatan aliran darah di arteri karotis interna dan
eksterna sehingga menimbulkan nyeri kepala, mual dan muntah.2,3 Serangan
nyeri kepala

berulang sekurang-kurangnya dua kali, bersamaan atau

didahului gejala aura homonim yang reversible secara bertahap antara 5


sampai 20 menit dan berlangsung kurang dari 60 menit.2,29-31 Migren klasik
lebih jarang ditemukan pada anak dan remaja.13

Universitas Sumatera Utara

Muntah siklik sering dijumpai pada anak usia 4 sampai 8 tahun berupa
serangan mual dan muntah secara terus menerus, selama 1 jam sampai 5
hari. Serangan akan mereda sendiri dan diantara serangan pasien dalam
keadaan normal. Diagnosis ditegakkan bila tidak dijumpai kelainan
gastrointestinal yang berarti dan ada riwayat migren pada keluarga.2,4,29
Migren abdominal timbul berupa serangan nyeri di daerah tengah abdomen
secara episodik berulang, selama 1 sampai 72 jam diikuti mual dan muntah
dengan masa diantara serangan anak dalam keadaan normal. 2,29,32

2.3.

Etiologi Migren

Penyebab nyeri kepala migren tidak diketahui. Faktor keturunan, stres,


olahraga, makanan tertentu seperti coklat, kopi berperan sebagai faktor
predisposisi migren.1,33 Perubahan hormonal, alergi makanan, paparan
terhadap cahaya silau dan suara yang bising berpengaruh terhadap migren.
Peningkatan kadar serotonin di sirkulasi dan substansi P serta polipeptida
vasodilator berperan langsung mempengaruhi pembuluh darah intrakranial
dan ekstrakranial.34,35
Faktor genetik yang mempengaruhi migren ditandai dengan adanya
suatu pola yang autosomal dominan yaitu suatu faktor intrinsik dari
otak.1,2,13,29 Terdapat dua gen yang berperan dalam autosomal dominan pada
migren yaitu FHM1 (kode gen pada lengan pendek kromosom) dan FHM2
(gen pada lengan panjang kromosom).29,36

Universitas Sumatera Utara

Hormon sangat berpengaruh terhadap patofisiologi migren, terbukti


dengan ditemukannya wanita yang lebih banyak menderita migren pada usia
pubertas. Rangsang nyeri dari struktur kranial lain, terutama struktur miofasial
dapat terintegrasi dengan rangsang nyeri vaskuler dari pembuluh darah
kepala. Kedua rangsang nyeri ini berkumpul di inti spinal nervus trigeminus di
batang otak, selanjutnya disalurkan ke talamus. Inti batang otak ini mendapat
pengaruh fasilitasi dan inhibisi dari supraspinal yang umumnya bergantung
pada faktor emosi dan psikososial.29,37,38
Pencetus migren berasal dari beberapa faktor seperti korteks serebri
sebagai respon terhadap emosi atau stres, talamus akibat stimulasi aferen
yang berlebihan misalnya cahaya yang menyilaukan, suara bising dan
makanan. Hipotalamus juga sebagai pencetus akibat perubahan hormonal
serta sirkulasi karotis interna dan karotis eksterna sebagai respon terhadap
vasodilator. Pencetus yang paling umum pada anak adalah stres, termasuk
konflik keluarga, depresi, ansietas, gangguan tidur, masalah di sekolah serta
gangguan emosional dan fisik.30,38,39

2.4 Patofisiologi migren


Patofisiologi migren masih belum jelas, namun ada tiga teori yang dapat
menjelaskan mekanisme terjadinya migren. Teori pertama adalah teori
vaskular

yang

menyebutkan

bahwa

pada

serangan

migren

terjadi

vasodilatasi arteri ekstra kranial. Teori kedua adalah teori neurologi yang

Universitas Sumatera Utara

menyebutkan bahwa migren adalah akibat perubahan neuronal yang terjadi


di area otak yang berbeda dan dimediasi perubahan sistem neurotransmisi.
Teori ini fokus pada fenomena depolarisasi kortikal yang menyebar yang
menyebabkan munculnya aura. Teori ketiga menyebutkan tentang perubahan
vaskular

akibat

disfungsi

neuronal

sehingga

terjadi

vasodilatasi

meningeal.13,40
Berdasarkan gejala klinis migren, terdapat tiga fase terjadinya migren
yaitu pencetus, aura dan nyeri kepala. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa pencetus melibatkan batang otak sebagai pembangkit migren dan
mungkin berhubungan dengan channelopathy familial. Setelah itu, aliran
darah otak regional berkurang yang diikuti depresi gelombang penyebaran
kortikal. Pada penderita dengan aliran darah otak yang menurun, maka aura
akan muncul. Aliran darah otak yang berkurang ini akan diikuti oleh
vasodilatasi selama munculnya nyeri kepala, yang mungkin akibat dari
perubahan aktivitas neuron yang mensarafi arteri kranial. Penelitian
imunohistokimiawi mendapatkan adanya neurotransmiter selain noradrenalin
dan asetilkolin yang bersifat

vasodilator yaitu 5-HT, vasoactive intestinal

peptide (VIP), nitric oxide (NO), substansi P, neurokinin A dan CGRP.


Vasodilatasi kranial menyebabkan aliran darah yang meningkat setiap kali
jantung berdetak sehingga terjadi pulsasi pada pembuluh darah yang terlibat.
Pulsasi tersebut akan dirasakan oleh reseptor regangan pada dinding
vaskular

dan

menyebabkan

peningkatan

sensorik

saraf

perivaskular

Universitas Sumatera Utara

(trigeminus) sehingga terjadi nyeri kepala dan gejala lain. Rangsangan


trigeminal ini akan mengeluarkan neuropeptida sehingga vasodilatasi dan
aktivitas saraf perivaskular bertambah.3,41

Hipereksitasi
korteks serebri

Cortical spreading depression


Nukleus
batang otak

Aktivasi sistem trigeminovaskular

Sterile neurogenic
inflammation

Sensitisasi sentral
dan perifer

Serangan migren

Gambar 2.1. Patofisiologi migren. 4

2.5

Gejala klinik migren

gejala klinik yang sering dijumpai pada migren berupa nyeri kepala berulang,
biasanya unilateral dengan interval bebas gejala dengan disertai minimal tiga
keluhan seperti nyeri perut, mual atau muntah, nyeri kepala berdenyut,
berhubungan dengan aura (visual, sensorik ataupun motorik), membaik
dengan tidur, dan adanya riwayat keluarga migren.1

Universitas Sumatera Utara

Pada migren tanpa aura, selain keluhan diatas, dapat juga dijumpai
keluhan pucat, fotofobia, fonofobia, osmofobia, dan parestesia. Sedang pada
migren dengan aura, sebelum terjadinya nyeri kepala, biasanya didahului
dengan aura. Aura visual muncul dengan gejala pandangan kabur, skotoma,
fotopsia, fortification spectra, dan distorsi ireguler terhadap objek. Pada
beberapa orang, terkadang disertai vertigo dan lightheadedness. Aura
sensorik muncul berupa parestesia perioral dan kebas atau mati rasa pada
tangan dan kaki.1,29
Migren dengan atau tanpa aura mempunyai patofisiologi yang sama,
tergantung intensitas iskemik pada serebral yang akan menimbulkan ada
atau tidak adanya aura.42

2.6. Diagnosis
Diagnostis

migren

pada

anak

ditegakkan

berdasarkan

kriteria

The

International Headache Society (IHS).13,28,29,43 Diagnosis klinik IHS menjadi


standar baku emas migren, sebab lebih mudah dan mempunyai akurasi yang
baik.44 Diagnosis migren menurut IHS:28
Migren tanpa aura pada anak:
A. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria B-D
B. Serangan nyeri kepala berlangsung 1 sampai 72 jam
C. Nyeri kepala mempunyai sedikitnya dua diantara karakteristik berikut:
1. Lokasi unilateral, mungkin bilateral, frontotemporal (tanpa oksipital)

Universitas Sumatera Utara

2. Kualitas berdenyut
3. Intensitas nyeri sedang atau berat
4. Keadaan bertambah berat oleh aktifitas fisik atau penderita menghindari
aktifitas fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga)
D. Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini :
1. Mual dan atau muntah
2. Fotofobia dan fonofobia
E. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain
Migren dengan aura pada anak:
A. Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan yang memenuhi kriteria B
B. Adanya aura yang terdiri paling sedikit satu dari dibawah ini:
1. Gangguan visual yang reversibel termasuk: positif atau negatif (seperti
cahaya yang berkedip-kedip, bintik-bintik atau garis-garis)
2. Gangguan sensoris yang reversibel termasuk positif (seperti diuji dengan
peniti dan jarum) atau negatif (hilang rasa/kebas)
3. Gangguan bicara disfasia yang reversibel sempurna
C. Paling sedikit dua dari dibawah ini:
1. Gejala visual homonim atau gejala sensoris unilateral
2. Paling tidak timbul satu macam aura secara gradual 5 menit atau aura
yang lainnya 5 menit
3. Tiap gejala berlangsung 5 menit dan 60 menit
D. Tidak berkaitan dengan kelainan lain

Universitas Sumatera Utara

2.7. Terapi Preventif


Terapi preventif migren merupakan pemberian terapi secara terus menerus,
dalam keadaan tanpa nyeri kepala, untuk mengurangi frekuensi dan
intensitas nyeri kepala migren.45
Menurut The American Academy of Neurology, pemberian terapi
preventif pada anak dan remaja bertujuan untuk :46
1. Menurunkan frekuensi, keparahan, durasi dan ketidakmampuan akibat
sakit kepala
2. Menurunkan ketergantungan terhadap obat-obatan yang kurang atau
tidak efektif
3. Meningkatkan kualitas hidup
4. Mencegah penggunaan obat pada masa akut dengan dosis yang terus
meningkat
5. Edukasi pasien untuk dapat menangani penyakitnya sendiri
6. Mengurangi distress dan gejala psikologis akibat nyeri kepala
Terapi preventif diindikasikan pada beberapa keadaan berikut: 38,39
1. Terdapat 2 kali atau lebih serangan per bulan yang menyebabkan
disabilitas selama 3 hari atau lebih dalam 1 bulan
2. Kontraindikasi atau gagal dengan terapi akut migren
3. Penggunaan terapi akut (abortif) lebih dari 2 kali dalam 1 minggu
4. Mengalami migren yang tidak lazim seperti hemiplegic migraine, migren
dengan aura yang memanjang dan migrainous infarction.

Universitas Sumatera Utara

Beberapa hal yang juga dipertimbangkan adalah efek samping dari


penggunaan terapi akut, penerimaan pasien terhadap obat dan biaya. Terapi
preventif migren yang adekuat secara umum tampak perbaikan dalam 1
hingga 2 bulan.14,46
Pemberian terapi preventif diupayakan dengan obat yang memiliki
level efektivitas tertinggi, efek samping yang terendah, dan dimulai dengan
dosis rendah kemudian dititrasi secara perlahan. Lamanya pengobatan
bervariasi antara 1 sampai 6 bulan. Setelah terapi berhasil selama 6 hingga
12 bulan, penghentian terapi preventif dapat dipertimbangkan.16
Beberapa grup utama obat-obatan yang berperan sebagai terapi
preventif serangan nyeri kepala migren antara lain:47,48
1. Obat-obat kardiovaskular seperti -Adrenergic Blocker, Calcium Channel
Blocker
2. Obat-obat antidepresi seperti Tricyclic Antidepressants (TCA), Selective
Serotonin/Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SSRI)
3. Obat anti epilepsi seperti topiramat, asam valproate
4. Antagonis serotonin seperti siproheptadin
5. Non Steroid Anti Inflammation Drugs (NSAID) dan lainnya seperti
riboflavin, mineral
Umumnya mekanisme kerja dari obat yang digunakan sebagai terapi
preventif adalah dengan menghambat eksitasi korteks seperti kerja obat anti
epilepsi dan calcium channel blocker, dan dengan memperbaiki dismodulasi

Universitas Sumatera Utara

nociceptive, yaitu sistem adrenergik dan serotonergik, seperti yang dilakukan


oleh TCA, SSRI dan -adrenergic blocker.49
Golongan -adrenergic blocker bekerja dengan menghambat agregasi
platelet sehingga terjadi penurunan produksi prostaglandin dan katekolamin.
Obat ini dapat melewati sawar darah otak, sehingga dapat mempengaruhi
sistem serotonin dengan penghambatan sistem noradrenergik, absorpsi baik
melalui sistem gastrointestinal, dan dimetabolisme di hati.47 Pada pasien
migren yang dicetuskan oleh stres, obat ini bermanfaat, dengan efek samping
mudah lelah, mual, muntah, depresi, mimpi buruk, hipoglikemia, bradikardi
dan hipotensi.6,50-52
Obat golongan calcium channel blocker bekerja dengan cara
menghambat masuknya kalsium ke dalam sel sehingga menghambat
pembentukan impuls (automaticity) dan conduction velocity. Kalsium
intraseluler juga berperan meregulasi beberapa hormon, enzim, dan
neurotransmiter. Pelepasan serotonin sendiri dipengaruhi oleh kalsium,
sehingga pemberian calcium channel blocker dapat menghambat pelepasan
serotonin, sehingga dapat menjadi preventif serangan migren.47
Obat golongan anti epilepsi antara lain topiramat dan asam valproat.
Asam valproat bekerja dengan menghambat ekstravasasi plasma, substansi
P, menghambat lecutan serotonergik di dorsal raphe nuclei dan bekerja pada
kanal

kalsium

dan

sodium.45,51 Efek

sampingnya

adalah

dizziness,

drowsiness, peningkatan nafsu makan, rambut rontok, gemetar, gangguan

Universitas Sumatera Utara

pencernaan.14,18,33 Topiramat bekerja dengan memperkuat aktivitas -amino


butyric acid (GABA), tetapi kemungkinan mekanisme yang lain adalah
dengan memblok aktivitas kanal sodium, menurunkan aktifitas karbonik
anhidrase dan glutamat.25,47 Efek samping antara lain parestesia, fatique,
mual dan anoreksia.39
Obat

golongan

NSAID

bekerja

dengan

menghambat

sintesis

prostaglandin, leukotrien, dan mencegah inflamasi neurogenik dari sistem


trigeminovaskular. Naproxen diabsorpsi baik setelah pemberian secara oral
maupun rektal, dengan waktu paruh 12-15 jam.51 Obat ini bermanfaat pada
penderita migren yang mengalami artritis atau nyeri muskuloskletal.14 Efek
samping berupa mual, muntah, gastritis dan perdarahan lambung,15 karena
itu disarankan penggunaan obat ini tidak lebih dari 2 hingga 3 bulan.50

2.8 Riboflavin sebagai terapi preventif migren


Riboflavin (vitamin B2) dikenal pertama kali pada tahun 1879 sebagai
suatu zat berwarna kuning yang terdapat didalam susu dan dinamakan
laktokrom. Namun kemudian zat tersebut juga dijumpai pada daging, hati,
ragi, telur dan berbagai sayuran, sehingga selanjutnya disebut sebagai flavin.
Nama riboflavin diberi karena adanya ribosa dalam rumus kimianya.
Riboflavin diubah menjadi riboflavin fosfat atau flavin mononukleotida yang
keduanya merupakan bentuk aktif dari riboflavin dan berperan dalam
metabolisme.23,53

Universitas Sumatera Utara

Riboflavin dapat diberikan secara oral atau parenteral tanpa


perbedaan farmakodinamik yang jelas. Riboflavin diserap pada usus halus
proksimal dan di usus besar sebagai hasil sintesis bakteri. Penyerapan
meningkat bila diberi bersama dengan makanan dan berkurang pada perut
kosong. Penyerapan pada kolon merupakan suatu mekanisme adaptif yang
tergantung pada konsentrasinya dalam lumen, jumlah reseptor pada enterosit
brush border dan diregulasi oleh sistem transpor tergantung energi. Ekskresi
melalui urin.27

Gambar 2.1. Struktur Riboflavin.27.54


Riboflavin dan koenzim aktifnya berfungsi sebagai pengangkut
hidrogen pada reaksi oksidasi reduksi. Kebutuhan riboflavin harian adalah
0,3 mg/1000 kkal. Penggunaan riboflavin yang utama adalah untuk
mencegah dan terapi defisiensi vitamin B2.27,54
Beberapa penelitian menggunakan riboflavin sebagai terapi preventif
migren karena efek sampingnya yang lebih minimal, namun penelitiannya
masih sangat sedikit riboflavin dianggap berperan dalam memperbaiki

Universitas Sumatera Utara

disfungsi mitokodrial yang berperan dalam patofisiologi migren.12,13 Riboflavin


merupakan prekursor dari dua koenzim, flavin mononukleotida dan flavin
adenine dinukleotida. Keduanya terlibat dalam transfer elektron pada reaksi
oksidasi-reduksi. Pasien dengan ensefalopati mitokondrial, laktat asidosis
dan episode yang menyerupai stroke juga memperlihatkan pengurangan
energi metabolisme metokondrial dan juga terdapat gejala nyeri kepala
menyerupai migren. Pada subjek tersebut

gejala nyeri kepala berkurang

dengan pemberian riboflavin.22,34,40


Pada migren terjadi defisit pembentukan energi mitokondrial otak yang
menyebabkan

gangguan

biokimia

yang

mengaktivasi

sistem

trigeminovaskuler yang menyebabkan serangan migren, pemberian riboflavin


pada penderita migren dengan asumsi bahwa dosis tinggi riboflavin
memperkuat aktivitas kompleks mitokondrial I dan II dan dapat memperbaiki
abnormalitas klinis dan biokimia.14,15,22
Efek samping riboflavin berupa poliuria dan diare.20,21 Dosis diberikan
dengan dosis tinggi yaitu 400 mg oral.55,56
2.9 Parameter terapi preventif
Cara menilai keberhasilan terapi preventif migren pada anak dan remaja yaitu
dengan mengukur penurunan frekuensi dan lama serangan dengan catatan
harian nyeri kepala yang digunakan untuk menilai efek tersebut.
Untuk pemeriksaan disabilitas yang sensitif, dapat dipercaya dan sahih
pada anak dan remaja digunakan PedMIDAS, sebagai modifikasi MIDAS

Universitas Sumatera Utara

yang dipakai pada dewasa.27 Waktu yang digunakan untuk menilai


PedMIDAS adalah setiap 3 bulan. Kategori penilaian PedMIDAS yang dipakai
adalah skor PedMIDAS dengan menghitung seluruh jumlah hari disabilitas
dan sistim derajat PedMIDAS yang mengklasifikasi PedMIDAS dengan
ringan, sedang dan beratnya serangan migren.26,27 Dikatakan tidak ada
disabilitas bila skor antara 0 sampai 10, disabilitas ringan bila skor 11 sampai
30, disabilitas sedang bila skor 31 sampai 50 dan disabilitas berat bila skor
lebih dari 50.26
Terdapat 6 pertanyaan pada PedMIDAS yang berhubungan dengan
dampak migren dengan aktivitas sekolah, kegiatan harian di rumah dan
sosialisasi serta olahraga. Pertanyaan pertama didasarkan pada hari
ketidakhadiran di sekolah sebab migren. Pertanyaan kedua adalah jumlah
hari anak hadir di sekolah tetapi sebab migren harus terlambat atau terpaksa
pulang lebih awal. Pertanyaan ketiga berhubungan dengan jumlah hari di
sekolah dimana anak kurang berfungsi kurang dari setengah kemampuannya
karena sakit kepala. Pertanyaan keempat difokuskan pada kegiatan-kegiatan
di rumah, dengan mencatat jumlah hari anak tidak mampu melaksanakan
pekerjaan rumah karena sakit kepala. Dua pertanyaan terakhir berhubungan
dengan kegiatan di luar rumah seperti berMein dan olah raga. Pertanyaan
kelima jumlah hari anak tidak berpartisipasi dan keenam tentang kemampuan
anak berpartisipasi tetapi kurang 50% dari kemampuan sebenarnya.26,27

Universitas Sumatera Utara

2.10. Kerangka Konseptual


Faktor predisposisi migren:
Genetik, Usia, Menstruasi,
terlambat makan,
rangsangan berlebihan,
perubahan cuaca terlalu
banyak /kurang tidur, stres

Hipereksitasi korteks
serebri abnormal

Cortical spreading depression

Nukleus
batang otak

Gangguan distribusi ion intra


dan ekstraseluler

Riboflavin

Penurunan aliran darah


Aktivasi sistem trigeminovaskular
Pelepasan mediator dan neurotransmitter (serotonin,
noradrenalin, asetilkolin, VIP, Substansia P, CGRP)
Vasodilatasi pembuluh.darah kranial
Ekstravasasi plasma protein
Aktivasi platelet
Sterile neurogenic
inflammation

Migren
Terapi abortif/
akut

: yang diamati dalam


Penelitian

Sensitisasi sentral
dan perifer

Terapi
preventif/profilaktik
riboflavin

plasebo

Frekuensi, durasi nyeri kepala


Disabilitas akibat nyeri kepala

PEDMIDAS

Universitas Sumatera Utara