Anda di halaman 1dari 32

TEKNIK

OPTIMALISASI PRODUKSI GARAM NASIONAL MENGGUNAKAN


HEXSOTOR (Heat Exchanger Integrated with Solar Concentrator)
Diajukan Untuk Mengikuti LKTIM Untuk Mahasiswa
Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2015
Oleh :
Mochammad Fauzan

M0313047/2013

Frandhoni Utomo

K2513024/2013

Andi Sulistiawan

M0213006/2013

Dibiayai Oleh Dinas Pendidikan


Provinsi Jawa Tengah
Tahun Anggaran 2015
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LOMBA KARYA TULIS INOVATIF MAHASISWA
1. Judul Naskah

: Optimalisasi Produksi Garam Nasional


Menggunakan
HEXSOTOR
(Heat
Exchanger

Integrated

with

Solar

Concentrator)
: Ilmu Terapan

2. Bidang Naskah
3. Ketua Tim
a. Nama Lengkap
b. NIM/NRM
c. Jurusan/Fakultas
d. Universitas/Politeknik
e. Alamat Rumah

: Mochammad Fauzan
: M0313047
: Kimia / FMIPA
: Universitas Sebelas Maret
: Cangakan III/18 Rt. 01/Rw. X Nusukan
Surakarta 57135
: frandhoni.utomo@student.uns.ac.id
: 1. Andi Sulistiawan

f. Email
4. Anggota Tim

2. Frandhoni Utomo
5. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap Dan Gelar
b. NIP

: Dr.Eng.Nugroho Agung Pambudi,M.Eng.


: 198112302012121002
Surakarta, 27 Juli 2015

Menyetujui
Dosen Pembimbing

Ketua Kelompok

Ngatou Rohman, S.Pd.,M.Pd.

Mochammad Fauzan

NIP. 19800701 200501 1 001

NIM. M0313047

Mengetahui,
Wakil Rektor III
Bidang Kemahasiswaan

Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si


NIP. 196606111991031002
OPTIMALISASI PRODUKSI GARAM NASIONAL MENGGUNAKAN

HEXSOTOR (HEAT EXCHANGER INTEGRATED WITH SOLAR


CONCENTRATOR)
Mochammad Fauzan, Andi Sulistiawan, Frandhoni Utomo
Dr.Eng Nugroho Agung Pambudi, S.T.,M.Eng
Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Indonesia adalah negara yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia
dan merupakan salah satu negara maritim yang mempunyai gugusan pulau
terbanyak di dunia. Sumber daya alam hayati yang melimpah membuat negara
tetangga banyak yang melirik hasil bumi Indonesia.iklim tropis yang dimiliki
Indonesia sangat memungkinkan untuk dapat memaksimalkan sumber daya alam
sesuai kebutuhan penduduknya. Salah satu kebutuhan nya yakni garam. Produksi
garam secara konvensional yang dilakukan secara turun temurun dengan
mengandalkan musim kemarau menyebabkan indonesia harus impor garam dua
tahun yang lalu. Penelitian ini dilakukan untuk memecahkan masalah garam di
Indonesia. HEXSOTOR (Heat Exchanger Integrated with Solar Concentrator)
adalah Heat Exchanger atau alat penukar kalor yang berbentuk pipa berkelak
kelok berfungsi untuk menguapkan air pada tambak garam supaya proses
pengkristalan lebih cepat. Energi panas yang digunakan untuk menguapkan air
bersumber dari sinar matahari yang difokuskan ke pipa oleh solar concentrator.
Solar Concentrator adalah plat aluminium berbentuk setengah lingkaran dimana
pada bagian tengah atasnya dilewatkan pipa tembaga yang dipanaskan oleh sinar
matahari yang telah difokuskan oleh Solar Concentrator hingga temperaturnya
naik dan dapat menguapkan air garam. Air yang digunakan sebagai media
penguapan air garam disebut air umpan. Air umpan dipompa dari reservoir atau
penampungan dengan menggunakan pompa air. Penggunaan HEXSOTOR untuk
produksi garam berarti menggunakan dua media pemanas sekaligus, yakni sinar
matahari secara langsung dan juga sinar matahari yang ditampung dan difokuskan
oleh Solar Concentrator yang kemudian panas disalurkan melalui pipa-pipa heat
exchanger.
Kata Kunci

: Garam, Heat Exchanger, Solar Concentrator, HEXSOTOR

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Optimalisasi
Produksi Garam Nasional Menggunakan HEXSOTOR (Heat Exchanger
Integrated with Solar Concentrator) dalam rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah
Mahasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kami

menyampaikan terima

kasih

kepada

semua

pihak

yang

telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini, yaitu :


1.

Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., selaku Rektor Universitas Sebelas Maret

2. Prof. Dr. Darsono, M.Si, selaku Pembantu Rektor III Bidang


kemahasiswaan UNS.
3. Dosen pembimbing Dr. Eng. Nugroho Agung Pambudi, S.T., M.Eng.
yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk mendukung karya
ini.
4. Orang tua kami yang senantiasa memberikan dukungan dan doa
5. Saudara dan teman teman yang telah memberikan dukungan moral
maupun material serta pihak pihak lain yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.
Berbagai upaya telah kami lakukan guna menyajikan karya tulis ini
dengan baik. Tetapi kami menyadari masih terdapat kekurangan didalamnya.
Untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di
masa mendatang. Akhir kata, semoga karya tulis ini berguna bagi pembaca
khususnya, bagi masyarakat pada umumnya, dan sebagai sumbangsih untuk
bangsa . Amien.
Surakarta, 27 Juli 2015
Penulis

DAFTAR ISI
JUDUL................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii
ABSTRAK.......................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... vii
DAFTAR TABEL................................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................
1.3 Tujuan .....................................................................................................
1.4 Manfaat....................................................................................................
1.5 Luaran yang Diharapkan ......................................................................

1
2
2
2
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pertanian Garam di Indonesia.................................................................. 3
2.2 Heat Exchanger ....................................................................................... 4
2.3 Solar Concentrator ................................................................................ 5
BAB III METODE PENULISAN
3.1 Tahap Penulisan....................................................................................
3.2 Sumber Data.........................................................................................
3.3 Teknik Pengumpulan Data...................................................................
3.4 Analisis Data........................................................................................
3.5 Kerangka Berfikir ...............................................................................

7
7
8
8
9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Konsep HEXSOTOR............................................................................. 10
4.2 Implementasi HEXSOTOR................................................................... 11
4.3 Implikasi HEXSOTOR.......................................................................... 14
BAB V PENUTUP
a. Kesimpulan ......................................................................................... 15
b. Saran ................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 16
LAMPIRAN 1 Biodata Ketua, Anggota, dan Dosen Pembimbing..................... 17

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Heat Exchanger..................................................................

Gambar 2. Sketsa Heat Exchanger Integrated with Solar Concentrator.........

Gambar 3. Bagan Kerangka Berfikir..................................................................

Gambar 4. Desain HEXSOTOR........................................................................

11

Gambar 5. Skema Pembuatan Heat Exchanger................................................

12

Gambar 6. Skema Pembuatan HEXSOTOR......................................................

14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah
pulau 13.466, luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2
(Indonesia Finance). Jumlah penduduk Indonesia saat ini tercatat 251.857.940
juta jiwa (KPU). Hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi Indonesia
untuk produksi garam dan potensi pasar garam. Oleh karena itu garam adalah
komoditi strategis nasional baik dari produksi dan pasar di Indonesia.
Dewasa ini Indonesia memiliki 11 wilayah sentra produksi garam,
yaitu Pati, Rembang, Demak (Jateng), Indramayu dan Cirebon (Jabar),
Sampang, Pamekasan, Pasuruan (Jatim), Jeneponto (Sulsel), Bima (NTB),
Kupang (NTT). Total produksi garam nasional dari ke-11 propinsi sentra
produksi garam tersebut pada tahun 2000 mencapai 902.752 ton. (Kementrian
Perindustrian, 2004).
Sebagai gambaran Kabupaten Sampang sebagai penghasil garam
terbesar di Indonesia tahun 2013 bisa memanen 0 10% dari total lahan
garam 4.246 hektar (ha). Dalam keadaan kondisi normal bisa dihasilkan 230
ribu ton per tahun atau 23% dari produksi garam nasional sebesar 1 juta
ton/tahun (Khairuddin, 2013). Permasalahan tersebut yang melatarbelakangi
pemerintah Indonesia terpaksa membuka kran impor garam. Kebijakan
pemerintah untuk impor garam telah menuai kontroversi (Nurhayat, 2012;
Sujatmiko, 2013; Firdaus, 2013; Rismana, 2013).
Problematika garam nasional dapat dikelompokkan dalam tiga
lingkup umum, yaitu produksi, pemasaran, dan penawaran serta permintaan.
Problematika produksi yaitu produksi garam nasional sangat bergantung pada
iklim, teknologi yang digunakan masih sangat tergantung pada faktor cuaca
dengan iklim kemarau yang relatif pendek. Praktis jika musim penghujan
produksi garam harus berhenti. Kondisi dimana produksi garam harus berhenti
sedangkan kebutuhan garam belum tercukupi inilah yang melatarbelakangi
Indonesia tidak dapat mencapai swasembada garam sehingga harus impor
garam dari negara lain. HEXSOTOR (Heat Exchanger Integrated

with Solar Concentrator) dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan


garam di Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana gambaran umum produksi garam dengan menggunakan
1.2.2

HEXSOTOR ?
Bagaimana
pengimplementasian

1.2.3

menggunakan HEXSOTOR ?
Bagaimana bentuk implikasi produksi garam dengan menggunakan

produksi

garam

dengan

HEXSOTOR?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan gambaran umum
produksi garam dengan menggunakan HEXSOTOR, memaparkan cara
pengimplementasian HEXSOTOR pada produksi garam, serta memaparkan
bentuk implikasi produksi garam dengan menggunakan HEXSOTOR.
1.4 Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah berupa publikasi
hasil penelitian dalam bentuk jurnal ilmiah dan prototype sebagai rujukan
penelitian lainnya.
1.5 Manfaat Program
Manfaat penelitian ini adalah membantu memecahkan masalah yang
dialami Indonesia terkait impor garam dengan meningkatkan produksi garam
menggunakan teknologi HEXSOTOR (Heat Exchanger Terintegrasi Solar
Concentrator).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Produksi Garam di Indonesia
Produksi garam di Indonesia diprosuksi oleh petani garam (garam
rakyat) dan PT. Garam (Persero). Proses produksi garam oleh petani garam
dilakukan dengan cara proses penguapan air laut pada meja-meja
kristalisasi yang dilakukan secara total (penguapan air dilakuakan dalam
satu areal kristalisasi), sehingga hanya diperoleh garam dengan kadar
NaCl yang rendah dan mengandung kadar Ca dan Mg yang relatif tinggi
serta cenderung kotor (impuritis tinggi). Sedangkan garam produksi PT.
Garam (Persero) proses produksinya dilakukan dengan cara pengolahan
bertingkat yang mana proses penguapan air laut dilakukan di areal
evaporator dan proses pengkristalan dilakukan di areal kristalisasi
sehingga diperoleh garam dengan kualitas yang baik.
Dewasa ini Indonesia memiliki 11 wilayah sentra produksi garam,
yaitu Pati, Rembang, Demak, Indramayu dan Cirebon, Sampang,
Pamekasan, Pasuruan, Jenepetolo, Bima, dan Kupang. Total produksi
garam nasional dari ke-11 propinsi sentra produksi garam tersebut
mencapai 1,2 juta ton pada tahun 2002. Sampang sebagai daerah penghasil
garam terbesar di Indonesia pada tahun 2013 dapat memanen 0-10% dari
total lahan garam 4.246 ha.(Kemenperin, 2004)
Berdasarkan perhitungan suplai-kebutuhan total kebutuhan garam
Indonesia adalah 3-3,2 juta ton. Direktur Utama PT. Garam (PERSERO)
menyebutkan bahwa total kebutuhan garam konsumsi tahun 2014 sebesar
1.728.219 ton dengan rincian 756.494 ton untuk rumah tangga, 446.725
ton untuk industri aneka pangan, dan 525.000 ton untuk insdustri
pengasinan ikan.
Kementrian

Perindustrian(Kemenperin)

mendorong

aplikasi

inovasi teknologi penggaraman dengan media isolator pada meja


kristalisasi yang dikembangkan oleh Sudarto, Kepala Balai Besar
Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri, Semarang. Dengan media
isolator pada meja keristalisasi itu diklaim mampu meningkatkan produksi

garam petani dan mampu meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan


menjadi lebih bersih dan homogen sehingga garam

tersebut memenuhi syarat SNI langsung dari lahan penggaraman, yakni dengan
kadar iodium 30-80 ppm.
Namun produksi garam di Indonesia sangat bergantung pada cuaca.
Oleh karena itu dalam mengoptimalisasi hasil produksi garam selain
dengan inovasi pada media juga dibutuhkan inovasi untuk mengkatalisasi
proses produksi. Dengan mengoptimalkan penggunaan panas ketika cuaca
cerah maka akan mampu mempersingkat waktu produksi garam, sehingga
dengan waktu yang sama jika panas yang digunakan optimal akan
menghasilkan jumlah produksi garam yang lebih banyak.
1.2 Heat Exchanger
Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa
dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya,
medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas
dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas
dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat
berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya
kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun
keduanya bercampur langsung (direct contact). Penukar panas sangat luas
dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun
petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu
contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana
cairan

pendingin

memindahkan

panas mesin ke udara

sekitar. (Chengel,

2003).

Gambar
Chengel,2003)

1.

Skema

Heat

Exchanger

(Sumber

1.3 Solar Concentrator


Solar concentrator atau tenaga surya terkonsentrasi meruapakan sistem
yang menghasilkan tenaga surya dengan menggunakan seng sebagai area untuk
mengkonsentrasikan energi panas matahari. Panas yang ditangkap akan
difokuskan sehingga mengahasilkan temperatur puncak yang lebih tinggi
dibandingkan temperature panas yang ditangkap. Teknologi Concentrating Solar
Power (CSP) baru-baru ini banyak diaplikasikan pada industri sebagai teknologi
untuk proses memanaskan dan pembangkit tenaga listrik. Keunggulan dari
teknologi ini bagi industri adalah lebih efisien terhadap biaya produksi dan ramah
lingkungan karena hampir tidak ada polusi yang ditimbulkan.
Prinsip keja dari teknologi ini adalah dengan mengkonversi radiasi surya
gelombang pendek (short wave) secara langsung menjadi panas. Radiasi yang
mencapai pada suatu bahan penerima akan diserap. Seng merupakan bahan yang
daya serap panasnya tingi sehingga baik digunakan sebagai bahan untuk solar
concentrator. Sesuai pada hukum thermodinamika bahwa untuk memperoleh
efisiensi yang tinggi diperlukan temperature yang tinggi. Temperatur yang tinggi
tersebut dapat diperoleh dengan memilih bahan sebagai solar concentrator yang
memiliki daya serap panas tinggi, seperti seng. (Kalogirou, 2009)

Gambar
2. Sketsa

Heat

Exchanger Integrated with Solar Concentrator


(Sumber: Steward, 2009)
Solar concentrator yang digunakan pada proses produksi garam
menggunakan bahan seng yang dimaksudkan untuk mengkonsentrasikan panas
sehingga suhu panas yang dihasilkan lebih tinggi. Temperatur tinggi selanjutnya

akan dimanfaatkan dengan prinsip kerja heat exchanger untuk memanaskan lahan
produksi garam sehingga diperoleh efisiensi jumlah produksi yang lebih tinggi.

BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Tahap Penulisan
Dalam menyusun karya tulis ini, penulis melewati beberapa tahapan
karena

bermaksud

ingin

menafsirkan

dan

membuat

gambaran

mengenai HEXSOTOR sebagai solusi swasembada garam nasional. Tahapan


tersebut, antara lain:
1. Tahap penemuan masalah. Penulis melihat masalah terkini terkait
proses pengomposan. Dan menjadikan latar belakang penulis
dalam mengkaji dan melakukan inovasi.
2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah mengenai
solusi yang diambil.
3. Menetapkan teknik pengumpulan pustaka yang akan digunakan
4. Mengadakan analisis pustaka
5. Membuat kerangka berfikir dan layout alat
6. Uji Coba
7. Melakukan perakitan alat sesuai layout yang dibuat.
8. Menarik kesimpulan
9. Menyusun saran atau rekomendasi
3.2 Sumber Data
Penulis menggunakan sumber data sekunder, yaitu data yang
diperoleh dari

perpustakaan

atau

laporan

penelitian

terdahulu.

Pengambilan data dilakukan dengan membaca bukubuku, jurnal jurnal


dan literatur yang tersedia dalam bentuk pustaka cetak maupun elektronik
serta studi dari penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan tujuan
dan objek penulisan.
Penulis

menggunakan

pula

data

survei

lapangan

secara

langsung terhadap terkait masalah yang ada.Survei yang penulis lakukan


melalui dua cara, cara yang pertama penulis mengamati secara langsung

keadaan lingkungan dan menyimpulkan sesuai pengamatan penulis, cara


yang

kedua

penulis membagikan questioner kepada responden yang

dengan sukarela mau mengisi pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan.


Jawaban bersifat terbuka dan subjektif. Responden merupakan warga
kampus UNS dan. Hasil data yang penulis jadikan data pendukung dalam
pembuatan

alat.

Gamabaran

alat

ini

merupakan

hasil

pemikiran

koresponden yang penulis tarik kesimpulan sehingga terciptakan modifikasi


alat sedemikian rupa.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini
adalah penulis melakukan pengujian pada alat secara langsung.
Perbedaan hasil menjadi data penulis melakukan analisis. Penulis juga
menggunakan penelitian para ahli terdahulu sebagai pendukung data
yang ada. Data yang kami

peroleh

kemudian

untuk

ditarik

kesimpulan dan sebagai b ukti keunggulan alat yang dibuat.


3.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan melalui beberapa cara. Pertama dengan cara
kualitatif, yakni dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan
setelah selesai pengumpulan dalam periode tertentu. Kedua, penulis
menggunakan model analisis interaktif yang meliputi

empat komponen

yaitu pengumpulan data, reduksi data (reduction), sajian data (display) dan
verifikasi data/penarikan kesimpulan (conclusiondrawing).
Pada karya tulis ini, dilakukan proses reduksi data melalui proses
pemilihan dan pemusatan bahasan mengenai pemanfaatan limbah sampah
organik, media pengolah sampah organik berupa komposter dan upaya
penanganan lahan tandus dengan pemberian kompos pada lahan tersebut.
Kemudian dilakukan analisis data dari sajian data yang diperoleh saat
proses pengumpulan data hingga diperoleh satu penarikan kesimpulan
mengenai pemanfaatan HEXSOTOR sebagai media penghasil kompos .

3.5 Kerangka Berfikir

Penemuan Masalah

Merumuskan Masalah

Analisis Masalah

Penemuan Ide

Pengumpulan Data
Analisis Ide

HEXSOTOR
Analisis Data

Realisasi Ide

Realisasi Ide

Uji Coba

Menarik Kesimpulan

Gambar 3.Bagan Kerangka Berfikir

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Konsep HEXSOTOR
HEXSOTOR (Heat Exchanger Integrated With Solar Concentrator)
merupakan alat penyalur panas, disini panas disalurkan dengan fluida yaitu
air yang mengalir dalam pipa besi dan tembaga. Sumber panas yang
digunakan untuk memanaskan pipa air tersebut adalah sumber panas matahari
yang dikumpulkan dengan solar concentrator. Solar concentrator merupakan
alat yang digunakan untuk memusatkan panas dari sinar matahari sehingga
bisa terfokus ke bagian tertentu sehingga panas yang terserap maksimal.
Disini solar concentrator yang digunakan adalah alumunium yang dibentuk
setengah lingkaran untuk memusatkan panas matahari ke pusat dari setengah
lingkaran tersebut. Di pusat setengah lingkaran tersebut ditempatkan pipa
tembaga panjang, jadi panas yang dikumpulkan solar concentrator
alumunium yang ada di bawah pipa tembaga tersebut akan dipantulkan ke
pipa tembaga diatasnya sehingga pipa tersebut akan menjadi panas oleh panas
maksimal dari solar concentrator. Pipa tembaga tersebut akan dihubungkan
dengan pipa besi panjang dan dibuat berkelok-kelok di dalam ladang garam.
Air mengalir pada pipa besi ke pipa tembaga dengan menggunakan pompa air
kincir angin. Pipa besi panjang yang berkelok-kelok didalam ladang garam
inilah yang akan menguapkan air laut pada ladang garam sehingga dapat
diperoleh garam dari air laut dengan lebih cepat dibandingkan dengan
menggunakan teknik konvensional dengan sinar matahari dan dapat
digunakan saat tidak ada sinar matahari yaitu saat mendung maupun malam
hari. Karena seperti titik uap air laut yang dibawah 100o C sehingga dengan
panas berasal dari pipa bersi yang berisi air panas tersebut dapat menguapkan
air laut pada ladang garam. Di bagian luar pipa besi maupun tembaga akan
disemprot dengan lapisan krom sehingga dapat mencega pipa tembaga dan
besi dari adanya karat.

10

11

Gambar 4 Desain HEXSOTOR (Sumber: Steward, 2009)


Keunggulan
HEXSOTOR ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya :
1. M udah dibuat, karena tidak membutuhkan keterampilan khusus
untuk membuatnya
2. Dapat mengahasilkan garam lebih cepat dua kali lipat dari cara
3.
4.
5.
6.

konvensional
Tambak garam dapat berproduksi pada waktu musim penghujan
Produksi garam dapat berlangsung satu tahun penuh.
Menggunakan sumber energi terbarukan
Mudah pemakaian,
tidak memerlukan cara yang rumit

dalam penggunaannya,
7. Didesain untuk skala industri dan petani kecil
8. Menghemat waktu produksi
4.2 Implementasi HEXSOTOR
Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam proses pengambilan data antara lain :

12

1. Plat Aluminium
2. Paku Keling
3. Pop Rivets Gun
4. Tembaga
5. Besi Pipa
6. Crom Besi
7. Pompa Air
8. Kabel
9. Drum Penampung Air (Reservoir)
10. Digital Refractometer AMR102
11. Thermometer
12. Stopwatch
13. Kincir
14. Dinamo
15.
16. Proses Pembuatan HEXSOTOR
17.Pembuatan HEXSOTOR dilakukan dengan membuat heat
exchanger terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan memotong pipa besi
kemudian merangkainya sedemikian rupa sehingga berbentuk berkelak-kelok.
Pembuatan pipa dengan berkelak-kelok bertujuan untuk memperluas
permukaan pipa yang bersinggungan dengan air laut, ketika air dialirkan,
maka air akan mengalir melalui pipa berkelok seperti halnya kondensor,
sehingga proses pertukaran lebih berjalan optimal. Pembuatan heat
exchanger dibuat dengan diameter pipa 15 cm, dan disesuaikan dengan lahan
garam yang akan dibuat. Sketsa pembuatan heat exchanger ditunjukkan pada
gambar berikut.
18.
19. Gambar 5. Sketsa pembuatan heat exchanger (Sumber: Penulis)

20.Heat exchanger kemudian dilapisi oleh crom besi. Pelapisan oleh


crom dilakukan karena besi merupakan logam yang mudah terkorosi sehingga
perlu dilakukan pelapisan secara electric-arc spray. Proses electric-arc spray

13

dilakukan dengan memanaskan material pelapis yang berupa crom besi


dengan torch sampai cair dan dan disemprotkan dengan udara bertekanan
pada material yang akan dilapisi. Selanjutnya dilakukan pembuatan solar
concentrator. Pembuatannya dilakukan dengan membengkokkan pelat
aluminium

menjadi

berbentuk

melengkung

yang

bertujuan

untuk

mencerminkan radiasi matahari menuju ke fokus. Kemudian pada fokus


dipasang pipa tembaga. Prinsip struktur ini adalah memusatkan radiasi sinar
matahari dan memanaskan pipa tembaga yang didalamnya dilewati fluida
kerja. Setelah solar concentrator diatur sedemikian rupa sehingga menghadap
ke arah horizontal utara-selatan. Pemasangan dengan cara ini dilakukan
karena pada arah horizontal utara-selatan, solar concentrator dapat
mengumpulkan radiasi matahari lebih banyak. Setelah semua alat dibuat,
selanjutnya adalah penggabungan alat. Heat exchanger ditempatkan diatas
solar concentrator, dimana posisi pipa diletakkan tepat pada fokus solar
concentrator. Solar concentrator berperan seperti pemanas dimana
lempengan melengkung akan mengumpulkan radiasi matahari sehingga akan
memusat pada pipa, sehingga pipa heat exchanger akan mengalami
pemanasan. Pipa yang memanas menyebabkan fluida kerja yang dipompa
melewati pipa menjadi panas. Air panas yang dihasilkan akan mengalir
melewati rangkaian pipa berkelok dan memanaskan pipa heat exchanger.
Sumber panas ini dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air garam sehingga
proses pengeringan garam dapat berjalan dengan cepat.
21.Kincir angin digunakan sebagai sumber energi, dimana energi yang
dihasilkan dari gerak kincir dirubah menjadi energi listrik. Energi listrik ini
kemudian digunakan untuk menyalakan pompa air sehingga dapat
mengalirkan fluida kerja dari solar concentrator menuju heat exchanger.
22.
23.
24.Berikut sketsa rangkaian alat HEXSOTOR.

14

25.

26. Gambar 6. Sketsa pembuatan HEXSOTOR (Sumber: Penulis)


27.
4.3 Implikasi HEXSOTOR
4.3.1 Memotivasi masyarakat untuk peduli dan menggunakan energi listrik
4.3.2

yang bersumber energi terbarukan


Membantu petani garam untuk memperoleh garam dari air laut ketika

4.3.3

tidak cukup sinar matahari


Meningkatkan produksi garam dari petani ladang garam sehingga
dapat meningkatkan pendapatan petani

28.
29.

BAB V
PENUTUP
30.

5.1 Kesimpulan
31.

1. HEXSOTOR

merupakan

sebuah

solusi permasalahan garam di

Indonesia, karena dengan menggunakan HEXSOTOR waktu yang


dibutuhkan untuk produksi garam lebih cepat dan dapat berproduksi
selama satu tahun penuh tanpa berhenti beroperasi seperti halnya produksi
garam konvensional saat ini.
2. Implementasi HEXSOTOR melalui 3 tahapan utama, yaitu :
- Menangkap sinar matahari dengan solar concentrator
- Pemanasan pipa heat exchanger di atas solar concentrator
- Evaporasi air laut melalui perpindahan panas dari pipa heat exchanger
yang dibenamkan dalam genangan air di tambak
3. Implikasi HEXSOTOR yakni optimalisasi produksi garam nasional
dengan memaksimalkan potensi maritim Indonesia untuk mencapai
swasembada garam nasional.
32.
5.2 Saran
1. Perlu penelitian lebih mendalam agar HEXSOTOR menjadi alat yang lebih
baik lagi
2. Perlu pengembangan HEXSOTOR dalam versi yang lebih besar agar
hasilnya lebih maksimal dan kuantitasnya lebih besar
3. Perlu ada sosialisasi produk agar pemerintah dan dinas terkait mengetahui
maksud dan tujuan secara umum.
4. Perlu adanya sinergisitas antara petani garam, Kementrian Perindustrian,
Pemerintah dan Masyarakat untuk mencapai swasembada garam nasional.
33.
34.
35.
36.
37.
38. DAFTAR PUSTAKA
39.
40.
Cengel, Y. A. (2003). Heat Transfer: A Practical Approach. 2nd Ed.
41.

McGraw Hill.
Kalogirou, S. A. (2009). Solar Energy Engineering: Processes and
Systems. (pp. 121-212 & 199 - 204). London: Academic Press.

15

42.

Kementerian Perindustrian. Impor garam dilarang mulai 1 Juli sampai 31


Desember 2004. Media Industri, 16 (viii): 40 hlm.
43.
http://www.kemenperin.go.id/download/26. Diakses pada 20 April
2015
Monke, E.A. & S.R. Pearson. (1989). The policy analysis matrix for

44.

agricultural development. Stanford University.


45.
http://www.stanford.edu/group/FRI/indonesia/documents/pambook
/pambook.pdf. Diakses pada 14 April 2015
Prihatmoko, H. (2011). Pengelolaan transportasi air abad X sampai XV

46.

masehi di Jawa Timur berdasarkan prasasti. Skripsi. Universitas


Indonesia, Depok: 117 hlm.
47.

Stewart, W. Susan. (2009).Use of Concentrated Solar Thermal Energy


Systems to Enhance Sea Salt Production in Southern Spain . The
Pennsylvania State University. USA.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59. LAMPIRAN
60. Biodata Ketua TIM
A. Identitas Diri
61.
1
64.
2
67.
3
70.
4
73.
5
76.
6

62.

Nama Lengkap

63.

Mochammad Fauzan

65.

Jenis Kelamin

66.

Laki-laki

68.

Program Studi

69.

Kimia

71.

NIM

72.

M0313047

74.
Tempat dan
Tanggal Lahir
77.
E-mail

75.

Surakarta, 19 Juli 1995


78. fauzan@sim.uns.ac.id

16

79. 80.
Alamat Rumah
7
82.
B. Riwayat Pendidikan

81. Cangakan III/18 Rt.01/Rw.10


Nusukan, Surakarta

83.
87.
Nama
Institusi

84.
SD
85.
SMP
88. SD
89. SMP
Muham
Negeri 4
madiyah
Surakarta
1
90.
Surakart
a
93.
Jurusan
94.
95.
97.
Tahun
98.
200199.
2007-2010
Masuk-Lulus
2007
101.
102.
Biodata Anggota 1

86.
SMA
91. SMA Negeri 5
Surakarta
92.

96.
Kimia
100. 2010-2013

A. Identitas Diri
103.
1
106.
2
109.
3
112.
4
115.
5
118.
6

104.

Nama Lengkap

105.

Frandhoni Utomo

107.

Program Studi

108.

Pendidikan Teknik Mesin

110.

NIM

111.

K2513024

113. Tempat dan


Tanggal Lahir
116. E-mail

114.

Sukoharjo, 23 Februari 1995

117.

frandhoni.utomo@sutudent.uns.ac.id

119.

Nomor Telepon/HP 120.

17

085728178692

18

B. Riwayat Pendidikan
121.
125. Nama
Institusi
129. Jurusan

122. SD
126. SDN
GUMPANG 1
130. -

123. SMP
127. SMPN 1
KARTASURA
131. -

124. SMA
128. SMKN 2
SURAKARTA
132. Teknik
Pemesinan
136. 2010-2013

133. Tahun
134. 2001135. 2007-2010
Masuk-Lulus
2007
137.
C. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir
138. 139. Jenis Penghargaan
No
.
142. 143. Juara 3 LKS Surakarta 2012
1
147. 148. Finalis LKTIN UNHAS
2
2014
151. 152. Juara 3 LKTIN Agritech
3
Exhibition UNHAS 2015
155.
156.

140. Institusi
Pemberi
Pengargaaan
144. PEMKOT
SURAKARTA
149. UNHAS
153.

UNHAS

141.

Tahun

145.

2012

150.

2014

154.

2015

146.

Biodata Anggota 1

A Identitas Diri
157. 158. Nama Lengkap
1.
160. 161. Jenis Kelamin
2.
163. 164. NIM
3.
166. 167. Tempat dan
4. Tanggal Lahir
169. 170. E-mail
5.
172. 173. Nomor
6. Telepon/HP
175.
B Riwayat Pendidikan
176.
181. Nama
Institusi
188. Jurusan

177. SD
182. SD
Muhammadiyah
183.
2
Surakarta
189. -

159.

Andi Sulistiawan

162.

Laki-laki

165.

M0213006

168.

Surakarta, 25 Januari 1995

171.

andisulistiawan@gmail.com

174.

085701525434

178. SMP
185. SMP N 3
Surakarta

179. SMA/SM 180. PTN


K
186. SMK N 2 187. Universita
s Sebelas Maret
Surakarta

190. -

191. Komputer
dan Jaringan

192. Fisika

19

193. Tahun
195. 2001-2007 196. 2007-2010 197. 2010-2013 198. 2013MasukSekarang
194.
Lulus
199.
200.
201.
C Karya Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat
202.
Tabel 6. Karya Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat Andi Sulistiawan
203. 204. Judul Karya Ilmiah
205. Waktu dan
No
Tempat
206.
207.
Power Bank Hybrid Tenaga Mekanik Motor (Ohibitor)
211. Surakarta,
1
2015
208.
Sebagai Alternatif Sumber Energi Listrik
209.

Untuk Mengisi Ulang Baterai Handphone

210.
212.
D Penghargaan yang Pernah Diraih
213.
Tabel 7. Penghargaan yang Pernah Diraih Andi Sulistiawan
214.
215. 216.

Jenis Penghargaan

217.

Institusi Pemberi

218.

No

Penghargaan

un

.
219. 220.
223. 224.

221.
225.

222.
226.

Juara 1 LKTI

Universitas

Nasional Physics Competition Hasanuddin

UNHAS 2015
227.
228.

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini

adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila


di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan,
saya sanggup menerima sanksi.
229.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk
memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan LKTIM Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah.
230.
231.
232.
233.
234.

Tah

201

20

235.

236.
237.

20

238.
CURRICULUM VITAE
Nugroho Agung PAMBUDI

239.

240.
241.

242.
243. Laboratory of Thermal Engineering
244. Department of Mechanical Engineering Education
245. Sebelas Maret University
246. Url

: www.uns.ac.id

247. E-mail

: agung.pambudi@fkip.uns.ac.id

248. Research gate : https://www.researchgate.net/profile/Nugroho_Pambudi

249.

250. Kampus V UNS Pabelan


251. Jl. Jend. Ahmad Yani 200A Pabelan Kartasura Sukoharjo, Surakarta 57100
252. Tel. (+62271) 718419 Fax. (+62271) 729928
253.

254.

255.
HIGH
LIGHTS

256.

257.

1.

Honored Islamic Economy award by UAE government & Thomson reuters 2015

258. 2.
area

Produced 12.41 impact points Journal paper from several high impact factor journal in energy

259.

3.

Winner TIC competition in Taiwan and second place Halaltech competition in Malaysia in 2014

260.

4.

Awarded visiting scholar by Korean Institute Energy Research 2013

261.

5.

Received Japanese Monbusho Scholarship for Doctoral Engineering study 2011

262.

6.

First Indonesian awarded young researcher program by Finland government in 2010

263.

7. Research experience in six countries : Japan, Finland, South Korea, Malaysia, Taiwan, Indonesia

264.
265.
266.
267.
268.

269.
270. 2011
2014
271.
272.
273.

274.
275. 2006 2008
276.
277.
278.

279.
280. 2000-

2006

21

282.

281.
ED
UC
ATI
ON

283.
Doctoral
Engin
eering
(Dr.
Eng)

284.

Department of Earth Resources Engineering, Kyushu University

285.
Research area : Thermodynamic, renewable energy ,
geothermal
286.

287.

Master of Engineering (M.Eng)

288.
Department of Mechanical and Industrial Engineering, Gadjah
Mada University
289.

Research area : biomass energy, solid waste, combustion

291.

Bachelor of Education in Engineering (B.Ed Eng)

290.

292.
Department of Mechanical Engineering, Semarang State
University
293.

Bachelor project : Robotic and Automation System

294.

295.
296.
297.

298. 2014 Present


299.

300.
301.

302.

2010

303.
304.

305.

2009

306.
307. 2006 2009
321.

322.
323.
324.
325.

326.
327.

328.

Prof. Ryuichi Itoi

329.
330. Prof. Carl-Johan
Fogelholm
331.

332.
333.

Prof. Dr-Ing Harwin

334.

Saptoadi

335.

336.

337.

Assoc. Professor

338. Saeid
Jalilinasrabady
339.

340.

341.

308.

309.

Assoc. Prof. Khasani

310.

WORK EXPERIENCE

Lecturer & Researcher

311.
Depart. of Mechanical Engineering Education, Sebelas Maret
University, Indonesia
312.

313.

Research Associate

314.
Lab. of Energy Engineering and Environmental Protection, Aalto
University, Finland
315.

316.

Lecturer

317.

Sultan Fatah University, Indonesia

319.

Teaching Assistant

318.

320.
Department of Mechanical Engineering, Semarang State University,
Indonesia

342. REFERENCES

343.

344.

Energy resources engineering, Kyushu

University e-mail : itoi@mine.kyushu-u.ac.jp


345.

Laboratory energy engineering and environmental Protection, Aalto

University e-mail : carl-johan.fogelholm@tkk.fi


346. Laboratory of energy conversion, Mechanical and Industrial Engineering ,
Gadjah
347.

Mada University,

Indonesia e-mail :
harwins@ugm.ac.id
348.

Faculty of International Resources Science, Akita

University e-mail : jalilina@akita-u.ac.jp


349.

Departmerment of Mechanical and Industrial Engineering

350.

e-mail : khasani@ugm.ac.id

351.

352.

353.