Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, sehingga komunikasi perlu dikembangkan dan dipelihara terus-menerus.
Dalam berkomunikasi dengan klien, perawat harus menggunakan tehnik
pendekatan khusus agar tercapai pengertian dan perubahan perilaku klien.
Kondisi lansia yang telah mengalami penurunan dalam struktur anatomis
maupun fungsi dari organ tubuhnya menuntut pemahaman dan kesadaran
tersendiri bagi tenaga kesehatan selama memberikan pelayanan kesehatan.
Perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikis/emosi, interaksi social, maupun
spiritual dari lansia membutuhkan pendekatan dan tehnik tersendiri. Untuk
interaksi dalam berkomunikasi dengan lansia secara baik, perawat perlu
memahami tentang karakteristik lansia, penggunaan tehnik komunikasi yang
tepat, dan model-model komunikasi yang memungkinkan dapat diterapkan sesuai
dengan kondisi klien.
Menurut data PBB, Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan jumlah
warga lanjut usia yang tertinggi di dunia, yaitu 414%, hanya dalam waktu 35
tahun (1990-2025), sedangkan di tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk lanjut
usia akan mencapai 25,5 juta. Menurut Lembaga Demografi Universitas
Indonesia, presentase jumlah penduduk berusia lanjut tahun 1985 adalah 3,4%
dari total penduduk, tahun 1990 meningkat menjadi 5,8% dan di tahun 2000
mencapai 7,4%.
Tenaga kesehatan yang berpraktek perlu memahami kebutuhan yang unik
pada populasi pasien lanjut usia ini sehingga mereka akan lebih siap
berkomunikasi secara efektif selama kunjungan pasien lanjut usia tersebut (Hingle
dan Sherry, 2009). Terdapat banyak bukti bahwa kesehatan yang optimal pada
pasien lanjut usia tidak hanya bergantung pada kebutuhan biomedis akan tetapi
juga tergantung dari perhatian terhadap keadaan sosial, ekonomi, cultural,
dan psikologis pasien tersebut. Walaupun pelayanan kesehatan secara medis pada
pasien lanjut usia telah cukup baik tetapi mereka tetap memerlukan komunikasi

1 | Page

yang baik serta empati sebagai bagian penting dalam penanganan persoalan
kesehatan mereka.Komunikasi yang baik ini akan sangat membantu dalam
keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang labil pada
pasien lanjut usia (William et al., 2007).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep komunikasi?
2. Bagaimanakah konsep lansia?
3. Bagaimana konsep komunikasi pada lansia?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui konsep komunikasi
2. Mengetahui konsep lansia
3. Mengetahui konsep komunikasi pada lansia
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mampu dan mengerti tentang konsep komunikasi pada lansia
2. Mahasiswa mampu menerapkan komunikasi yang efektif pada lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2 | Page

2.1. Komunikasi
2.1.1 Definisi
Proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan
meneruskan makna atau arti (Taylor, dkk 1993). Proses penyampaian
informasi, makna, dan pemahaman dari pengirim pesan kepada
penerima pesan (Burgess,1988).
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan
meningkatkan kontak dengan orang lain. (Potter & Perry, 2005 : 301).
Proses

tukar

menukar

perasaan,

keinginan,

kebutuhan

dan

pendapat (McCubin & Dahl, 1985).


Komunikasi merupakan suatau hubungan atau kegiatan-kegiatan
yang berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan
sebaagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat diartikan
hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok
(Widjaja, 1986 : 13).
2.1.2 Tujuan
1. Supaya yang kita sampaikan dapat dimengerti
Sebagai komunikator kita harus menjelaskan pada komunikan
dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat
mengerti dan mengikuti apa yang kita maksudkan.
2. Dapat memahami orang lain
Kita sebagai komunikator harus mengerti benar aspirasi
masyarakat tentang apa yang diinginkan, jangan mereka
menginginkan kemauannya.
3. Supaya gagasan dapat diterima orang orang lain
Kita harus berusaha agar gagasan kita dapat diterima orang lain
dengan pendekatan persuasif bukan memaksakan kehendak.
4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu

3 | Page

Menggerakkan sesuatu itu dapat bermacam-macam, mungkin


berupa kegiatan yang lebih banyak mendorang, yang penting
harus diingat adalah bagaimana yang baik untuk melakukannya.
2.1.3 Komponen-Komponen Komunikasi
1. Komunikator
Komunikator merupakan individu/kelompok yang memiliki
kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan pesan kepada
orang lain.
Syarat komunikator yang baik:
a. Memiliki tujuan dlm komunikasi.
b. Memiliki pengetahuan yang memadai ttg pesan yang
disampaikan.
c. Memiliki keterampilan yang memadai untuk membangun
hubungan/relasi.
2. Komunikan
Komunikan merupakan individu, kelompok, atau massa yang
diharapkan menerima pesan.
Syarat komunikan yang baik:
a. Pengetahuan

dan

keterampilan

yang

memadai

untuk

menerima pesan.
b. Atensi untuk menerima pesan.
c. Keterampilan dalam merespon pesan.
3. Pesan
Pesan dapat berupa ide/gagasan, perintah, informasi, dan
ungkapan perasaan. Pesan yang efektif adalah pesan yang dapat
dipahami oleh komunikan secara utuh, tidak menimbulkan
distorsi.
Syarat pesan yang baik:
a.
b.
c.
d.

Sesuai konteks (situasi komunikasi).


Singkat dan jelas.
Menggunakan saluran yang mudah dipahami
Memungkinkan pengulangan dan penegasan.
4 | Page

4. Media
Media dapat berupa media lisan, tulisan, gerakan tubuh,
mimik wajah, sentuhan, dll.
Syarat media yang baik:
a. Dipahami/ dimengerti oleh komunikator dan komunikan.
b. Meminimalkan kesalahan persepsi.
c. Menggunakan tekhnik yang merangsang lebih dari satu
indera.
5.

Feed Back

Sarana

disampaikan dapat dimengerti oleh komunikan.


Respon menunjukkan proses kognitif, afektif,

evaluasi

komunikator,

apakah

pesan

yang
dan

psikomotor.
2.2.Lansia
2.2.1 Definisi
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60
tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999:8). Pada lanjut usia
akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan
terhadap

infeksi

dan

memperbaiki

kerusakan

yang

terjadi

(Constantinides, 1994). Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk


makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit
degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan
episode terminal (Darmojo dan Martono, 1999:4). Penggolongan
lansia menurut
2.2.2 Klasifikasi
Depkes dikutip dari Azis (1994) membagi lansia menjadi tiga
kelompok yakni:

5 | Page

1. Kelompok lansia dini (55 64 tahun), merupakan kelompok yang


baru memasuki lansia.
2. Kelompok lansia (65 tahun ke atas).
3. Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari
70 tahun.
Berdasarkan

usianya,

organisasi

kesehatan

dunia

(WHO)

mengelompokkan usia lanjut menjadi 4 macam, meliputi:


1.
2.
3.
4.

Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45-59 tahun.


Usia lanjut (elderly), kelompok usia antara 60-70 tahun.
Usia lanjut usia (old), kelompok usia antara 75-90 tahun
Usia tua (very old), kelompok usia diatas 90 tahun
Meskipun batasan usia sangat beragam untuk menggolongkan

usia namun perubahan-perubahan akibat dari usia tersebut telah dapat


diidentifikasi, misalnya perubahan pada aspek fisik berupa perubahan
neurologis dan sensorik, perubahan visual, perubahan pendengaran.
Perubahan-perubahan tersebut dapat menghambat proses penerimaan
dan interpretasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini juga
menyebabkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Belum lagi perubahan kognitif yang berpengaruh pada tingkat
intelegensia, kemampuan belajar, daya memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang sering nampak adalah berupa reaksi
penolakan terhadap kondisi yang terjadi. Gejala-gejala penolakan
tersebut misalnya:

Tidak percaya terhadap diagnosa, gejala, perkembangan serta

keterangan yang diberikan petugas kesehatan


Mengubah keterangan yang diberikan sedemikian rupa, sehingga

diterima keliru
Menolak membicarakan perawatannya di rumah sakit
Menolak ikut serta dalam perawatan dirinya secara umum,

khususnya tindakan yang langsung mengikutsertakan dirinya.


Menolak nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti
posisi tidur, terutama bila nasehat tersebut demi kenyamanan
klien.

6 | Page

2.3.Komunikasi pada Lansia


Komunikasi

dalam

keperawatan

gerontik

adalah

komunikasi

yang

diaplikasikan dalam praktik asuhan keperawatan lansia. Komunikasi dengan


lansia adalah suatu proses penyampaian pesan/gagasan dari perawat atau pemberi
asuhan kepada lansia dan diperoleh tanggapan dari lansia, sehingga diperoleh
kesepakatan bersama tentang isi pesan komunikasi. Tercapainya komunikasi
berupa pesan yang disampaikan oleh komunikator (perawat) sama dengan pesan
yang diterima oleh komunikan (lansia).
Komunikasi yang efektif dapat menimbulkan pengertian, kesenangan,
pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Sementara ada
yang berpendapat bahwa komunikasi adalah pertukaran pikiran atau keterangan
dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya demi
terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi
adalah pertukaran fakta, gagasan, opini emosi antara dua orang atau lebih.
2.3.1 Teknik Pendekatan dalam Perawatan Lansia dalam Konteks
Komunikasi
1. Pendekatan Fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan,
kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya,
perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa
dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau
ditekan progresivitasnya. Pendekatan ini relatif lebih mudah
dilaksansakan dan dicarikan solusinya karena riil dan mudah
diobservasi.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi
atas dua bagian, yakni:
1) Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya
masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga
untuk kebutuhan sehari-hari masih mampu melakukan
sendiri.

7 | Page

2) Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, yang
keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat
harus mengetahui dasar perawatan klien lanjut usia ini
terutama

tentang

keberhasilan

hal-hal

perorangan

yang

berhubunga

(personal

hygiene)

dengan
untuk

mempertahankan kesehatannya.
2. Pendekatan Psikologis
Di sini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan
pendekatan adukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan
sebagai supporter, interpreter terhaadap segala sesuatu yang asing,
sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang
akrab. Perawat hendaknnya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam
memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk
menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas.
Perawat harus selalu memegang prinsip Triple S, yaitu sabar,
simpatik, dan service.
Bila perawat ingin mengubah tingkah laku dan pandangan mereka
terhadap kesehatan, perawat bisa melakukannya secara perlahan dan
bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah
pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak
menambah beban, bila perlu diusahakan agar dimasa lanjut usia ini
mereka dapat merasa puas dan bahagia.
3. Pendekatan Social
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercarita merupakan salah
satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan
untuk berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti
menciptakan sosialisasi mereka. Pendekatan social ini merupakan
suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah
makhluk social yang membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya
perawat dapat menciptakan hubungan social antara lanjut usia dan
lanjut usia maupun lanjut usia dan perawat sendiri.

8 | Page

Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada


para lajut usia untuk mengadakan komunikasi dan melakukan rekreasi,
misalnya jalan pagi, menonton film, atau hiburan-hiburan lain.
Para lanjut usia perlu dirangsang untuk mengetahui dunia luar,
seperti menonton tv, mendengar radio, atau membaca majalah dan
surat kabar. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam
perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis
dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lanjut usia.
4. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa

memberikan

kepuasan

batin

dalam

hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama pada


saat klien sakit atau mendekati kematian. Pendekatan spiritual ini
cukup efektif terutama bagi klien yang mempunyai kesadaran yang
tinggi dan latar belakang keagamaan yang baik.
Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia
yang menghadapi kematian, DR. Tony Setyabudhi mengemukakan
bahwa maut seringkali menggugah rasa takut. Rasa takut semacam ini
didasari oleh berbagai macam factor, seperti ketidakpastian akan
pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit/penderitaan yang sering
menyertainya,

kegelisahan

untuk

tidak

kumpul

lagi

dengan

keluarga/lingkungan sekitarnya.
2.3.2 Teknik Komunikasi pada Lansia
Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada
lansia, selain pemahaman yang memadai tentang karakteristik lansia,
petugas kesehatan atau perawat juga harus mempunya teknik-teknik
khusus agar komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung lancar dan
sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Beberapa tehnik komunikasi
yang dapat diterapkan anatara lain:
1. Tenik asertif
Asertif adalah sikap yang dapat di terima, memahami pasangan
bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan
dan memperhatikan ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi

9 | Page

atau pembicara dapat dimengerti. Asertif merupakan pelaksanaan dan


etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas
kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien
lansia.
2. Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada
klien merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika
perawat mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien
sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau klarifikasi tentang
perubahan tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, Apa
yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu?.
Berespon berarti bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan
dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan
perasaan tenang bagi klien.
3. Fokus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap berkonsisten
terhadap

materi

mengungkapkan
diinginkan,

komunikasi

yang

diingkan.

pernyataan-pernyataan

maka

perawat

hendaknya

di

luar

Ketika

klien

materi

yang

mengarahkan

maksud

pembicaraan. Upaya ini perlu diperhatikan karena umumnya klien


lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan untuk
kepentingan petugas kesehatan.
4. Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun
psikis secara bertahap menyebabkan emosi klien relatif menjadi labil.
Perubahan ini perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien
lansia, misalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengangguk kepala
ketika lansia mengungkapkan perasaannya sebagai sikap hormat dan
menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat menumbuhkan
kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi
beban

bagi

keluarganya,

dengan

demikian

diharapkan

klien

10 | P a g e

termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya.


Selama memberi dukungan baik secara moril maupun materil, petugas
kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajari klien
karena ini dapat merendahkan kepercayaan klien kepada perawat atau
petugas kesehatan lainnya.
5. Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering
proses komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi
dengan cara mengajukan pertanyaan ulang dan memberikan penjelasan
lebih dari satu kali perlu dilakukan oleh perawat agar maksud
pembicaraan kita dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh klien.
6. Sabar dan Ikhlas
Seperti yang di ketahui bahwa klien lansia terkadang mengalami
perubahan

yang

terkadang

merepotkan

dan

kekanak-kanakan.

Perubahan ini bila tidak di sikapi dengan sabar dan ikhlas dapat
menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi
yang di lakukan tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat
berkomunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan
hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.
2.3.3 Kondisi Penurunan Sensori pada Lansia
Pancaindera mungkin menjadi kurang efisien dengan proses
penuaan, bahaya bagi keselamatan, aktivitas kehidupan sehari-hari
(AKS) yang normal, dan harga diri secara keseluruhan. (Mickey
Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)
Gangguan sensorik indera adalah perubahan dalam persepsi
derajat serta jenis reaksi seseorang yang diakibatkan oleh meningkat
menurun atau hilangnya rangsangan indera. Meskipun semua lansia
mengalami kehilangan sensorik dan sebagai akibatnya berisiko
mengalami deprivasi sensorik, namun tidak semua akan mengalami
deprivasi sensorik. Salah satu indra dapat mengganti indera lain dalam

11 | P a g e

mengobservasi dan menerjemahkan ransangan. (Smeltzer, Suzanne C,


buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 179)
1. Perubahan Indera Penglihatan
Deficit sensori (misalnya,

perubahan

penglihatan)

dapat

merupakan bagian dari penyesuaian yang berkesinambungan yang


datang pada usia lanjut, perubahan penglihatan dapat mempengaruhi
pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) pada lansia.
Perubahan indra penglihatan pada awalnya dimulai dengan
terjadinya awitan presbiopi (old sight), kemudian kehilangan
kemampuan

akomodatif.

Ini

karena

sel-sel

baru

terbentuk

dipermukaan luar lensa mata, maka sel tengah yang tua akan
menumpuk dan menjadi kuning, tidak elastis, kaku, padat dan
berkabut. Jadi, hanya bagian luar lensa yang masih elastic untuk
berubah bentuk (akomodasi) dan berfokus pada jarak jauh dan dekat.
Karena lensa menjadi kurang fleksibel, maka titik dekat fokus
berpindah lebih jauh. Kondisi ini disebut presbiopi, biasa bermula
pada usia 40-an. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi
8, 2001 hal: 179-180)
Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot-otot siliaris
menjadi lebih lemah dan lebih kendur dan lensa kristalin mengalami
sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk
memusatkan pada (penglihatan jarak dekat). Kondisi ini dapat
dikoreksi dengan lensa seperti kacamata jauh dekat (bifokal).
Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena
sfinkter

pupil

mengalami

sklerosis.

Miosis

pupil

ini

dapat

mempersempit lapangan pandang seseorang dan memengaruhi


penglihatan perifer pada tingkat tertentu, tetapi tampaknya tidak benarbenar mengganggu kehidupan sehari-hari.
Perubahan warna (misalnya; menguning) dan meningkatnya
kekeruhan lensa Kristal yang terjadi dari waktu ke waktu dapat
menyebabkan katarak. Katarak menimbulkan bebagai tanda dan gejala
penuaan yang mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari.
Penglihatan yang kabur dan seperti terdapat suatu selaput di atas mata

12 | P a g e

adalah suatu gejala umum, yang mengakibatkan kesukaran dalam


memfokuskan penglihatan dan membaca. Kesukaran ini dapat
dikoreksi untuk sementara dengan penggunaan lensa. Selain itu lansia
harus didorong untuk memakai lampu yang terang dan tidak
menyilaukan. Katarak juga dapat mengakibatkan gangguan dalam
persepsi ke dalaman atau stereopsis, yang menyebabkan masalah
dalam menilai ketinggian, sedangkan perubahan terhadap persepsi
warna terjadi seiring dengan pembentukan katarak dan mengakibatkan
warna yang muncul tumpul dan tidak jelas,terutama warna-warna yang
muda misalnya biru, hijau, dan ungu. Penggunaan warna-warna terang
seperti

kuning,

oranye,

dan

merah

direkomendasikan

untuk

memudahkan dalam membedakan warna. (Mickey Stanley, Buku Ajar


Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)
2. Perubahan Indera Pendengaran
Perubahan indra pendengaran pada lansia disebut presbikusis.
Mhoon menggambarkan fenomena tersebut sebagai suatu penyakit
simetris bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progresif
lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan dihubungkan dengan
penuaan.
Lansia sering tidak mampu mengikuti percakapan karena nada
konsonan frekuansi tinggi (huruf f, s, th, ch, sh, b, t, p) semua
terdengar sama. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8,
2001, hal: 180)
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berbagai factor yang telah
diteliti adalah: nutrisi, factor genetika, suara gaduh, hipertensi, stress
emosional, dan arteriosklerosis. Penurunan pendengaran terutama
berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbikusis.
Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam
dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran,
batang otak atau jalur kortikal pendengaran) penyebab dari perubahan
konduksi tidak diketahui, tetapi masih mungkin berkaitan dengan
perubahan pada tulang telinga tengah, dalam bagian koklear atau di

13 | P a g e

dalam tulang mastoid. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan


gerontik edisi 2. 2006)
Kehilangan pendengaran menyebabkan lansia berespon tidak
sesuai dengan yang diharapkan, tidak memahami percakapan, dan
menghindari interaksi social. Perilaku ini sering disalahkaprahkan
sebagai kebingungan atau senil. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar
medical beda, edisi 8, hal: 180)
3. Perubahan Indera Perabaan
Indera peraba memberikan pesan yang paling intim dan yang
paling mudah untuk diterjemahkan. Bila indera lain hilang, rabaan
dapat mengurangi perasaan terasing dan memberi perasaan sejahtera.
(Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 180)
Kebutuhan untuk sentuhan efektif terus berlanjut sepanjang
kehidupan dan meningkat dengan usia. Banyak lansia lebih tertarik
dalam sentuhan dan sensasi taktil karena:
1) Mereka sudah kehilangan orang yang dicintai
2) Penampilan mereka tidak semenarik pada waktu dulu dan
tidak mengundang sentuhan dari orang lain
3) Sikap masyarakat umum terhadap lansia tidak mendorong
untuk melakukan kontak fisik dengan lansia
Sentuhan dapat merupakan suatu alat untuk memberikan stimulus
sensoris atau menghilangkan rasa nyeri fisik dan psikologi. Kulit
adalah seperti suatu pakaian pelindung yang pas dan menutupi
seseorang berusia 70 tahun atau 80 tahun, kulit juga tidak akan sesuai
dengan tubuh orang tersebut. Kulit tersebut mungkin akan menjadi
kendur dan terlihat lebih longgar pada berbagai bagian tubuh. Namun,
selama kehidupan, sentuhan memberikan pengetahuan emosional dan
sensual tentang orang lain. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan
gerontik edisi 2. 2006)
Pada lansia, kulit mengalami atrofi, kendur, tidak elastis, kering,
dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehinggga menjadi tipis
dan berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atrovi glandula sebasea
dan glandula sudorivera. Menipisnya kulit ini tidak terjadi pada

14 | P a g e

epidermisnya, tetapi pada dermisnya karena terdapat perubahan dalam


jaringan kolagen serta jaringan elastisnya. Bagian kecil pada kulit
menjadi mudah retak dan menyebabkan cechymosen. Timbulnya
pigmen berwarna coklat pada kulit, dikenal dengan liver spot.
Perubahan kulit banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, antara
lain angin dan sinar matahari, terutama sinar ultraviolet.( Violita
Puspitasari, 2014)
4. Perubahan Indera Pengecapan
Pada lidah terdapat banyak tonjolan saraf pengecap atau kuncupkuncup perasa yang memberi berbagai sensasi rasa (manis, asin, gurih,
dan pahit). Ketika seseorang telah bertambah tua, jumlah total kuncupkuncup perasa pada lidah mengalami penurunan dan kuncup pada
lidah juga mengalami kerusakan, ini dapat menurunkan sensitivitas
terhadap rasa, akibatnya mereka butuh lebih banyak jumlah gula atau
garam untuk mendapatkan rasa yang sama dengan kualitasnya.
Kuncup-kuncup perasa mengalami regenerasi sepanjang kehidupan
manusia, tetapi lansia mengalami suatu penurunan sensitivitas
terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Perubahan tersebut lebih
dapat disadari oleh beberapa orang dibanding yang lainnya.
5. Perubahan Indera Penciuman
Penurunan yang paling tajam dalam sensasi penciuman terjadi
selama usia pertengahan, dan untuk sebagian orang, hal tersebut akan
terus berkurang. Kecepatan penurunan sensasi penciuman pada lansia
bervariasi. Orang bereaksi terhadap bau dengan cara berbeda, dan
respon seseorang mungkin dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, etnik,
dan pengalaman sebelumnya tentang bau tersebut. Sensasi penciuman
tidak secara serius dipengaruhi oleh penuaan saja tetapi bisa terjadi
oleh factor lain yang berhubungan dengan usia. Penyebab lainnya juga
dianggap sebagai pendukung untuk terjadinya kehilangan kemampuan
sensasi penciuman termasuk pilek, influenza, merokok, obstruksi
hidung, secret dari hidung, sinusitis kronis, kebiasaan tertentu dengan
bau/aroma, epitaksis, alergi, penuaan serta factor lingkungan.
Tabel 1. Perubahan Morfologis & Perubahan Fisiologis
15 | P a g e

Perubahan Morfologis
Perubahan Fisiologis
Pengelihatan
Penuurunan
jaringan
lemak Penurunanan
Pengelihatan
disekitar mata
jarak dekat
Enurunan elastisitas dan tonus Penurunan koordinasi gerak
jaringan
bola mata
Penurunan kekuatan otot mata
Distorsi bayangan
Penurunan ketajaman kornea
Pandangan biru merah
Degenerasi pada sklera, pupil, Comprimised night vision
dan iris
Peningkatan frekuensi proses Penurunan
ketajaman
terjadinyya penyakit
mengenali warna hijau, biru
dan ungu
Peningkatan densitas dan rigiditas Kesulitan mengenali benda
lensa
yang bergerak
Perlambatan proses informasi dari
sistem saraf pusat
Pendengaran
Penurunan sel rambut koklea
Kesulitan mendengar suara
berfrekuensi tinggi
Perubahan telinga dalam
Penurunan
kemampuan
membedakan pola titik nada
Degenerasi pusat pendengaran
Penurunan kemampuan dan
penerimaan bicara
Hilangnyya
fungsi Penurunan fungsi membedakan
neuratransmiter
ucapan
Pengecap
Penurunan
pengecapan

kemampuan Peningkatan nilai ambang


untuk identitas benda
Penciuman
Degenerasi sel sensorik mukosa Penurunan sensitivitas nilai
hidung
ambang terhadapa bau
Peraba
Penurunan kecepatan hantaran Penurunan respon terhadap
saraf
stimulus taktil
Penyimpangan persepsi nyeri
Resiko terhadap bahaya termal
yang berlebihan

16 | P a g e

2.3.4 Pengkajian Penurunan Sensori pada Lansia

Penglihatan
Pengkajian pada lansia dengan gangguan penglihatan meliputi

hal-hal berikut ini:


1) Ukur ketajaman visual dengan grafik snellen chart, untuk
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

menuntukan visus atau ketajaman mata


Permintaan untuk membacakan kalimat ke orang lain
Pemakaian kacamata pada lansia
Penglihatan ganda
Sakit pada mata seperti glaucoma dan katarak
Mata kemerahan
Kaji ukuran pupil dan akomodasi terhadap sinar
Mengeluh ketidaknyamanan terhadap cahaya terang

(menyilaukan)
9) Minta pasien mengidentifikasi warna pada grafik berwarna
atau crayon
10) Kesulitan memasukan benang ke lubang jarum.
11) Kesulitan/kebergantungan dalam melakukan

aktivitas

pemenuhan kebutuhan sehari-hari (mandi, berpakaian, ke


kamar kecil, makan, BAK/BAB, serta berpindah)

Pendengaran
Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan pada sistem

pendengaran meliputi hal-hal sebagai berikut ini:


1) Lakukan tes suara bisik atau garpu tala
2) Observasi lansia yang berbincang-bincang dengan orang lain
Meminta untuk mengulang pembicaraan
Jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
Memalingkan kepala terhadap pembicaraan
Kesulitan membedakan pembicaraan serta bunyi suara
orang lain yang parau atau bergumam.
Volume bicara meningkat
3) Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama
dengan latar belakang yang bising, berdering/berdesis yang
konstan
4) Sering merasa sedih, ditolak lingkungan, malu, menarik diri,
bosan, depresi, dan frustasi

17 | P a g e

5) Ketergantungan dalam melakukan aktivitas pemenuhan


kebutuhan sehari-hari (mandi, berpakaian, ke kamar kecil,
makan, BAB/BAK, serta berpindah) .
6) Inspeksi adanya serumen yang keras

pada

saluran

pendengaran

Pengecapan
Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan pada sistem

pengecapan meliputi hal-hal sebagai berikut ini:


1) Minta lansia untuk mencotohkan dan membedakan rasa yang
berbeda misalnya lemon, gula, garam.
2) Tanya lansia jika terjadi perubahan berat badan akhir-akhir
ini

Penciuman
Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan pada sistem

penciuman adalah dengan meminta lansia untuk menutup matanya dan


identifikasi beberapa bau yang tidak mengiritasi seperti kopi, vanilla,
dll.

Peraba
Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan pada sistem

perabaan meliputi hal-hal sebagai berikut ini:


1) Kaji kesensitifan lansia terhadap sentuhan atau temperature
2) Periksa kemampuan lansia untuk membedakan antara
stimulus tajam dengan stimulus penuh
3) Kaji apakah lansia dapat membedakan objek ditangan
dengan mata tertutup
4) Tanya apakah klien merasakan sensasi yang tidak seperti
biasanya (Cut Naja Sovia:2012)
2.3.5 Prinsip Komunikasi pada Lansia dengan Gangguan Sensori
1. Prinsip Komunikasi Perawat dan Lansia dengan Gangguan
Penglihatan

18 | P a g e

1) Posisi yang dapat dilihat oleh klien, jika buta parsial maka
beri tahu secara verbal keberadaan perawat
2) Perawat menyebutkan identitas diri (nama dan perannya)
3) Perawat menggunakan nada normal (kondisi lansia tidak
mungkin menerima pesan non-verbal secara visual)
4) Nada suara perawat memberikan peranan besar dan bermakna
bagi lansia
5) Jelaskan tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan
(sebelum melakukan sentuhan)
6) Orientasikan lansia dengan suara-suara yang didengar di
sekitarnya
7) Orientasikan lansia pada lingkungan bila lansia dipindahkan
ke lingkungan yang asing baginya
8) Ketika perawat akan meninggalkan/mengakhiri komunikasi,
informasikan kepada klien

2. Prinsip Komunikasi Perawat dan Lansia dengan Gangguan


Pendengaran
1) Orientasikan kehadiran perawat dengan sentuhan
2) Posisi perawat berdiri dekat dan menghadap klien, dengan
tetap mempertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang
lazim
3) Usahakan
berbicara

menggunakan
dengan

keras,

bahasa
jelas,

yang
dan

sederhana
perlahan

dan
untuk

memudahkan memahami gerak bibir, serta diarahkan


langsung pada klien
4) Bertanya diarahkan pada telinga yang lebih baik
5) Jangan melakukan pembicaraan ketika klien sedanng
menguyah
6) Gunakan instruksi/bahasa pantomim dan gerakan sederhana
dan perlahan
7) Gunakan bahasa isyarat/bahasa jari
8) Hindari pergerakan bibir yang berlebihan
9) Hindari memalingkan kepala, tidak berbalik atau berjalan
saat bicara
10) Membatasi kegaduhan lingkungan
11) Jika ada sesuatu yang sulit

dikomunikasikan maka

berikan pesan tulisan atau gambar


19 | P a g e

3. PrinsipKomunikasi Perawat dan Lansia dengan Gangguan Wicara


1) Perawat memperhatikan gerak bibir dan mimik lansia
2) Usahakan memperjelas hal yang disampaikan dengan
mengulang kembali kata-kata yang diucapkan lansia
3) Mengendalikan pembicaraan suapaya tidak membahas
terlalu banyak topik
4) Mengendalikan pembicaraan sehingga menjadi rileks dan
perlahan
5) Memperhatikan lebih detail komunikasi sehingga pesan dapat
diterima dengan baik
6) Bila perlu berikan bahasa tulisan dan simbol
7) Mediator komunikasi adalah aorang terdekat yang mampu
mengerti komunikasi lansia.

2.3.6 Hambatan Berkomunikasi dengan Lansia


Proses komunikasi antara petugas kesehatan dengan klien lansia
akan terganggu apabila ada sikap agresif dan sikap nonasertif.
1. Sikap Agresif
Sikap ini di tandai dengan:
1) Berusaha mengontrol & mendominasi orang lain (lawan
2)
3)
4)
5)

bicara)
Meremehkan orang lain
Mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
Menonjolkan diri sendiri
Mempermalukan orang lain di depan umum, baik dengan
perkataan maupun tindakan

2. Non Asertif
Tanda-tanda dari sikap non aserti ini adalah:
1)
2)
3)
4)
5)

Menarik diri bila diajak bicara


Merasa tidak sebaik orang lain
Merasa tidak berdaya
Tidak berani mengungkapkan keyakinan
Membiarkan orang lain membuat keputusan untuk

dirinya
6) Tampil diam
7) Mengikuti kehendak orang lain

20 | P a g e

8) Mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga


hubungan baik dengan orang lain
Adanya hambatan komunikasi kepada lansia merupakan hal yang
wajar seiring dengan menurunnya fungsi fisik dan psikologis klien.
Namun sebagai tenaga kesehatan professional, perawat dituntut
mampu mengatasi hambatan tersebut, untuk itu perlu adanya teknik
atau tips-tips tertentu yang perlu diperhatikan agar komunikasi dapat
berlangsung efektif, antara lain:
1) Selalu

mulai

komunikasi

dengan

mengecek

fungsi

pendengaran klien.
2) Keraskan suara anda jika perlu.
3) Dapatkan perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia
sehingga ia dapat melihat mulut anda.
4) Atur lingkungan sehingga menjadi

kondusif

untuk

komunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual dan


auditory. Pastikan adanya pencahayaan yang cukup.
5) Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi,
ingat

kelemahannya.

Jangan

menganggap

kemacetan

komunikasi merupakan hasil bahwa klien tidak kooperatif.


6) Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama
dengan orang yang tidak mengalami gangguan. Sebaliknya
bertindaklah sebagai partner yang tugasnya memfasilitasi
klien untuk mengungkapkan perasaan dan pemahamannya.
7) Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya,
gunakan kalimat pendek dengan bahasa yang sederhana.
8) Bantulah kata-kata anda dengan isyarat visual.
9) Serasikan bahasa tubuh anda dengan pembicaraan anda,
misalnya ketika melaporkan hasil tes yang diinginkan, pesan
yang menyatakan bahwa berita tersebut adalah bagus
seharusnya dibuktikan dengan ekspresi, postur dan nada
suara anda yang mengembirakan (mislanya dengan senyum,
ceria atau tertawa secukupnya).
10) Ringkaslah hal-hal yang paling penting dari pembicaraan
tersebut.
11) Berilah klien waktu yang banyak untuk bertanya dan
menjawab pertanyaan anda.
21 | P a g e

12) Biarkan ia membuat kesalahan, jangan menegurnya secara


langsung, tahan keinginan anda untuk menyelesaikan
kalimat.
13) Jadilah pendengar yang baik walaupun keinginan sulit
mendengarkannya.
14) Arahkan ke suatu topik pada suatu saat.
15) Jika mungkin ikutkan keluarga atau yang merawat dalam
ruangan bersama anda. Orang ini biasanya paling akrab
dengan pola komunikasi klien dan dapat membantu proses
komunikasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Komunikasi

dalam

keperawatan

gerontik

adalah

komunikasi

yang

diaplikasikan dalam praktik asuhan keperawatan lansia. Komunikasi dengan


lansia adalah suatu proses penyampaian pesan/gagasan dari perawat atau pemberi
asuhan kepada lansia dan diperoleh tanggapan dari lansia, sehingga diperoleh
kesepakatan bersama tentang isi pesan komunikasi. Tercapainya komunikasi
berupa pesan yang disampaikan oleh komunikator (perawat) sama dengan pesan
yang diterima oleh komunikan (lansia).
Komunikasi yang efektif dapat menimbulkan pengertian, kesenangan,
pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Sementara ada
yang berpendapat bahwa komunikasi adalah pertukaran pikiran atau keterangan
dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya demi
terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi
adalah pertukaran fakta, gagasan, opini emosi antara dua orang atau lebih.
3.2 Saran
Makalah ini semoga berguna bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa.
22 | P a g e

Namun makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan
kami. Oleh karena itu, besar harapan kami agar pembaca memberikan saran dan
kritik yang bersifat membangun, guna memperbaiki makalah ini agar lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Hudaya, Rina Nur. 2012. Tugas Makalah ASKEP Gangguan Pendengaran pada
Lansia.

http://rinaraka.blogspot.co.id/2012/11/tugas-makalah-askep-

gangguan.html. Diakses pada 26 September 2015.


Kharismanda Devi. 2013. Kondisi Penurunan Sensori pada Lansia.
http://devikharismanda01.blogspot.co.id/p/blog-page_1757.html. Diakses
pada 21 September 2015.
Marina. 2013. Komunikasi pada Klien Lansia.
http://marinarina21.blogspot.co.id/2013/12/komunikasi-pada-klienlansia.html. Diakses pada 13 September 2015.
Natalia, Debby. 2014. Makalah Komunikasi Terapeutik.
http://debbynatalia-keperawatan.blogspot.co.id/2014/08/makalahkomunikasi-terapeutik.html. Diakses pada 13 September 2015.
Puspitasari, Violita. 2014. Askep Lansia Penurunan Fungsi Sensori.
http://violitapuspitasarii.blogspot.co.id/2014/05/askep-lansia-penurunanfungsi-sensori.html. Diakses pada 21 September 2015.
Sovia, Cut Naja. 2012. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Sensori.
http://cutnsovia.blogspot.co.id/2012/10/asuhan-keperawatan-pasiengangguan_7373.html. Diakses pada 26 September 2015.
Suto, Puti Kulindam. 2013. Keperawatan pada Lansia.
23 | P a g e

http://putikulindamsuto.blogspot.co.id/2013/10/keperawatan-padalansia.html. Diakses pada 13 September 2015.

24 | P a g e