Anda di halaman 1dari 8

Masyarakat Majemuk

Etnisitas
Barth [dalam Barth (ed.) 1969: 9-38] menjelaskan etnisitas sebagai
organisasi sosial askriptif yang berkenaan dengan asal muasal para
pelakunya.
Kajiannya berpusat pada hubungan antar etnis dengan identitas etnisnya
yang merupakan atribut dalam interaksi-interaksi sosial.
Secara kolektif para anggota kelompok mengidentifikasi diri dan
dikategorikan oleh kelompok-kelompok lainnya.
Kesimpulannya, identifikasi kolektif tersebut secara inheren bersifat politis.
Durham berpendapat bahwa etnisitas senyata-nyatanya adalah politis.

Etnisitas lebih dari sekedar sebuah cara melakukan identifikasi dan afiliasi
dengan sistem budaya tertentu dan juga sebagai strategi yang digunakan oleh
orang-orang yang berafiliasi di dalamnya.
Etnisitas timbul sebagai

pernyataan politik dan ekonomi yang asimetri di

dalam masyarakat yang berstratifikasi dan bertumbuh subur dalam situasi


konflik ketika orang lain (the other) dianggap sebagai ancaman.
Lebih jauh, menurut Durham, etnisitas juga dipakai untuk membangun kohesi
sosial dan membangun loyalitas kepada penggerak [Durham dalam Gonzales
dan McCommon (ed.), 1989: hal 138- 145].

Resiko yang paling berbahaya dari etnisitas ini adalah ketika dalam
suatu relung ekologis, sumber daya diperoleh dengan tingkat kesulitan
yang tinggi.
Etnisitas yang paling ringan resikonya adalah adanya stereotype-stereotype,
stigma-stigma, dan diskriminasi yang ditujukan kepada etnis lain.

Pengertian Masyarakat Majemuk


Masyarakat majemuk menurut Furnival yang dikutip oleh Hefner [dalam
Hefner (ed.), 2007: 11- 92] adalah masyarakat yang terdiri dari dua
atau lebih elemen-elemen tatanan sosial yang hidup berdampingan, namun
tanpa membawa kehendak sosial umum di antara mereka.
Ciri-ciri Masyarakat Majemuk
Menurut Suparlan, menegaskan bahwa ciri masyarakat majemuk ditandai
oleh

penekanannya

pada

etnisitas yang bercorak destruktif

karena menghasilkan batas-batas etnisitas yang didasarkan pada


stereotype dan prasangka.

Rangkuman

Kebudayaan adalah pola-pola perilaku dan keyakinan yang dipelajari,


rasional, dan terintegrasi, dimiliki bersama , dan
dan

juga

merupakan

strategi

dalam upaya

secara dinamik adaptif


memenuhi kebutuhan

primer, sekunder, dan integratif manusia.


Suatu pemikiran dikatakan kebudayaan adalah jika pemikiran tersebut sudah
dimiliki oleh anggota masyarakat.

Faktor penyebab kebudayaan tidak selalu langgeng antara lain adalah


adanya penemuan dan pembaharuan, adanya difusi, akulturasi , dan
terjadinya revolusi.
Globalisasi adalah kebudayaan yang ditandai dengan semakkin intensifnya
hubungan-hubungan sosial masyarakat dunia.
Kunci

utama

dalam

memahami

globalisasi adalah

memahami

perekonomian kapitalisme mutakhir dan industrialisme.


Di

samping

globalisasi,

persoalan masyarakat majemuk dan multi

kulturalisme perlu menjadi pusat perhatian.

Kebudayaan merupakan bagian yang integral dari aspek kognitif, aspek


tingkah laku, dan aspek material.
Sebagai sistem adaptif sistem kebudayaan berfungsi sebagai sarana untuk
menyesuaikan diri terhadap lingkungan baik lingkungan alam maupun
sosial.
Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme mengakui dan mengagungkan
kesederajatan dalam perbedaan, baik perbedaan antar individu maupun
maupun perbedaan antar kelompok yang dilihat secara budaya.