Anda di halaman 1dari 15

LOGAM GOLONGAN d

(GOLONGAN 8, GOLONGAN 9, GOLONGAN 10,


GOLONGAN 11, DAN GOLONGAN 12)
OLEH :
KELOMPOK 10 (SEPULUH)
TIRTA YANI SURYA (4131131048)
TRI YULIA DEWI SARAGIH (4131131049)
TRI YULIA DEWI SARAGIH (4131131049)
TRI YULIA DEWI SARAGIH (4131131049)
TRI YULIA DEWI SARAGIH (4131131049)
TRI YULIA DEWI SARAGIH (4131131049)

GOLONGAN 8
Kecenderungan Golongan 8
- Besi lebih reaktif daripada rutenium dan osmium
- Rutenium dan osmium tidak terpengaruh oleh asam-asam non oksidator, tetapi
umumnya reaktif terhadap bahan-bahan pengoksidasi
- Tingkat oksidasi umum untuk besi yaitu +2, rutenium +3, dan osmium +4

Senyawa-senyawa Besi
Besi (III)
- Berukuran relatif kecil dengan rapatan muatan 349 C mm-3 untuk low spin dan
232 C mm-3 untuk high spin

Uji terhadap ion besi (III) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Penambahan larutan ion heksasianoferat(II), [Fe(CN) 6]4- , yang menyebabkan
terjadinya endapan biru Prusian besi (III) heksasianoferat(II), Fe 4[Fe(CN)6]3
- Dengan menambahkan larutan ion tiosianat kedalam larutan Fe(III), hingga
terbentuk warna merah darah oleh karena terbentuk ion pentaaquotiosianatobesi
(III)
- Dengan larutan ion tiosulfat dalam keadaan dingin (Pada suhu es), menghasilkan
warna violet gelap ion bis(tiosulfato)ferat(III)

Kemiripan Ion Besi (III) dengan Aluminium (III)


Persamaan :
- Mempunyai muatan dan ukuran yang sama
Contoh : Dalam fase gas, kedua ion membentuk seyawa klorida yang
bersifat kovalen dalam bentuk dimer M2Cl6
- Besi dapat membentuk senyawa yang paralel dengan tawas (alum)
Contoh : Terbentuknya senyawa garam amonium NH4Al(SO4)2.12H2O dan
NH4Fe(SO4)2.12H2O

- Dengan menambahkan larutan ion tiosianat kedalam larutan Fe(III), hingga


terbentuk warna merah darah oleh karena terbentuk ion pentaaquotiosianatobesi
(III)
- Dengan larutan ion tiosulfat dalam keadaan dingin (Pada suhu es), menghasilkan
warna violet gelap ion bis(tiosulfato)ferat(III)
Kemiripan Ion Besi (III) dengan Aluminium (III)
Persamaan :
- Mempunyai muatan dan ukuran yang sama
Contoh : Dalam fase gas, kedua ion membentuk seyawa klorida yang bersifat
kovalen dalam bentuk dimer M2Cl6
- Besi dapat membentuk senyawa yang paralel dengan tawas (alum)
Contoh : Terbentuknya senyawa garam amonium NH4Al(SO4)2.12H2O dan
NH4Fe(SO4)2.12H2O

Perbedaan :
Besi (III)

Aluminium (III)

Membentuk senyawa berwarna

Senyawa aluminium tak berwarna


(putih)

Oksidanya bersifat basa

Oksidanya bersifat amfoterik

Sifat kovalensi Fe O lebih lemah

Sifat kovalensi Al O lebih kuat

Besi (II)
Dapat dideteksi dengan ion heksasianoferat (III), [Fe(CN) 6]3-, dengan
menghasilkan produk yang berwarna biru prusian.

Proses Pengaratan Besi


Merupakan pembentukan oksida terhidarat, Fe(OH)3 atau FeO(OH), secara
elektrokimia dengan syarat harus ada dioksigen, air, dan suatu elektrolit
Reaksi :
Fe (s) + O2 (g) + H2O (l) FeO(OH) (s) + OH- (aq)
Oksida dan Anion Okso
Oksida Besi
Ada 3 (tiga) macam, yaitu :
- Besi (II) oksida (FeO)
- Besi (III) oksida (Fe2O3)
- Besi (II) Besi (III) oksida (Fe3O4)

Besi (III) oksida atau hematit


- Terdapat dalam jumlah deposit yang besar di dalam tanah
- Dapat dibuat dengan cara memanaskan (~ 200 0C) besi (III) oksida
hidroksida, yang diperoleh dari penambahan ion hidroksida pada ion Fe 3+
Besi (II) besi (III) oksida
mengadopsi bangun spinel terbalik , yaitu setengah jumlah ion Fe 3+ menempati rongg atetrahedron dan setengah yang lain menempati rongga
oktahedron, dan semua ion Fe2+ menempati rongga oktahedron dari suatu
tataan rapat kubus (fcc) ion O2-

Oksida rutenium dan osmium


- Oksida rutenium dan osmium jumlahnya tidak sebanyak okisda besi.
- Tingkat oksidanya yang terendah adalah +4
- RuO2 berupa padatan biru-hiatam, mempunyai struktur rutil, dan dapat
diperoleh dari pemanasan logamnya secara langsung pada ~ 1000 0C
- OsO2 berupa apadtan kuning-coklat, juga mempunyai struktur rutil, dan
biasanya dibuat dari pemanasan logamnya pada ~ 650 0C dalam NO
Anion-Okso
- Ion Ferat , [FeO4]2 merupakan suatu senyawa besii dengan tingkat oksidasi +6 yang dapat
dibuat dari oksidasi suspensi Fe2O3 dalam alkali pekat dan gas klorin
- Oksoanion rutenium dikenal adalm rutenium (VII) , [RuO 4]- Perrutenat
dan rutenium (VI) ; [RuO4] 2- , rutenat

- Oksoanion osmiumdikenal adalm kristal oksoanion osmium (VIII),


K2[OsO4(OH)2] perosmat yang berwarna merah legam dan sangat mudah
tereduksi menjadi osmium (VI), K2[OsO2(OH)4] - osmat yang berwarna
ungu.

Kecenderungan Golongan 9
- Kobalt kurang reakstif dibandingkan dengan besi, demikian juga rodium,
dan
iridium
- Tingkat oksidasi untuk kobalt adalah +2 dan +3
- Tingkat oksidasi untuk rodium dan iridum adalah +3 dan +4

Senyawa-senyawa Oksida
- Kobalt (II), CoO
berupa serbuk berwarna hijau dan dapat diperoleh dari pemanasan logamnya dalam udara atau dengan uap air, atau pemanasan hidroksida
- Campuran Co(II) dan Co(III) , Co 3O4
terbentuk akibat pemnasan CoO adasuhu 600 700 0C

- Rodium (III) oksida, Rh2O3


Berwarna abu-abu gelap dan dapat diperoleh dari pemanasan logam rodium
atau rodium (III) klorida dalam atmosfer pada ~ 600 0C

- Rodium (IV) oksida


Dapat diperoleh dari pemanasan Rh2O3 dalam oksigen pada tekanan tinggi

- Iridium (IV) oksida, IrO2-hitam


Dapat diperoleh dari pemanasan logamnya dalam oksigen atau dengan
dehidrasi endapa yang diperoleh dari penmabahan alkali kedalam larutan
[IrCl6]2-

Kobalt (III)
Semua senyawa kompleks kobalt (III) mengadopsi geometri oktahederon
Misalnya : Ion heksaaminokobalt(III), [Co(NH 3)6]3+ dan ion heksasianokobalt (III), [Co(CN)6]3Kobalt (II)
- Garam kobalt berwarna pink jika ion ini mengadopsi geometri oktahedral,
misalnya sebagai [Co(H2O)6]2+, tetapi berwarna biru jika mengadopsi
tetrahedral, misalnya sebagai [CoCl4]2-

Kristal CoCl2.6H2O berwarna pink (demikian juga dalam larutan air), namun
pada penambahan HCL pekat akan diperoleh larutan biru karena terbentuk
ion tetrahedral [CoCl4]2-.
Reaksi :
[Co(H2O)6]2+ (aq) + 4Cl- (aq) [CoCl4]2- (aq) + 6 H2O (l)
pink

biru

Kecenderungan Golongan 10

Karakteristik :
- Berwarna putih keperakan
- Mengkilat
- Mudah ditempa
- Lebih mudah didapat dalam bentuk serbuk yang sangat aktif sebagai katalis
- Tidak ada yang reaktif (dalam keadaan masif)
- Tahan terhadap korosi atmosferpada temperatur normal
- Mempunyai struktur kubus pusat muka (fcc)

Senyawa-senyawa nikel (II)


Sebagian senyawa kompleks ikel mengadopsi struktur geometri oktahedron ,
hanya sedikit yang mengadopsi geometri tetraheron dan bujur sangkar.

Ion heksaakuonikel(II) berwarna hijau setelah ditambahkan amonia meng


hasilkan ion biru heksaaminanikel (II) menurut persamaan reaksi :
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 6NH3 (aq) [Ni(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O (l)

Penambahan larutan hidroksida kedalam larutan garam nikel (II) menghasilkan endapan gelatin hijau nikel (II) hidroksida menurut persamaan
reaksi :
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 2OH- (aq) (Ni(OH)2) (s) + 6H2O (l)