Anda di halaman 1dari 9

Mengenal Sindrom Kekerdilan

Friday, 09 January 2015 21:57

Pernahkah ayam broiler yang Anda pelihara mengalami sindrom kekerdilan? Beberapa waktu yang lalu, tim
tenaga lapangan Medion menerima laporan tentang kejadian sindrom ayam kerdil di salah satu farm di Jawa
Barat. Peternak mengaku, 1000 ekor ayamnya dari total 12.500 ekor (8%) yang berumur 3 minggu mengalami
lambat tumbuh. Bobot badannya hanya 300 gram, padahal normalnya 600-700 gram. Ayam secara fisik terlihat
sehat, lincah, dan aktif. Ransum yang diberikan pun sama seperti biasanya. Saat DOC tiba kondisinya juga
terlihat seragam dan tidak ada masalah.

Pada farm lain di wilayah berbeda juga dilaporkan kasus mirip, di mana dari total 12.000 ekor ayam broiler umur
2 minggu miliknya, sekitar 17% kerdil. Saat dilakukan grading pada umur 2 minggu, bobotnya hanya 200 gram,
sementara normalnya 450 gram. Akhirnya keputusan culling pun diambil dan ayam tidak dipelihara lagi (diafkir).
Bagaimana kita menghadapi hal ini? Lalu apa saja langkah terbaik yang bisa kita ambil jika di farm kita
mengalami hal serupa? Berikut kami jelaskan sekilas mengenai topik kekerdilan ini.

Penyebab Slow Growth Syndrome


Sindrom kekerdilan (slow growth syndrome) atau yang disebut juga dengan runting stunting syndrome (RSS)
adalah salah satu sindrom yang dialami oleh sekelompok ayam (terutama ayam broiler) yang ditandai dengan
gangguan pertumbuhan di umur 4-21 hari. Pada kasus ini, bobot badan ayam terlihat lebih kecil, 40% di bawah
bobot badan normal. Tingkat kejadiannya pun di dalam satu populasi sangat bervariasi sekitar 5-40% (Nick
Dorko, 1997). Hidayat (2014) menyatakan bahwa sindrom kekerdilan ini dibagi menjadi beberapa kategori,
antara lain:

5-10% dari populasi, termasuk kategori ringan

>10-30% dari populasi, termasuk kategori buruk

>30% dari populasi, termasuk kategori bencana besar

Kejadian sindrom kerdil di lapangan terkadang dibagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu: jika dalam waktu 5 minggu
bobot ayam kurang dari 200 gram per ekornya, maka dikategorikan sebagai kasus runting. Sedangkan bila
bobotnya lebih dari 200 g, namun kurang dari 1 kg, maka dikategorikan sebagai kasus stunting.
Dari laporan kasus yang ada, kasus runting biasanya tidak lebih dari 5% (biasanya berkisar 3-5%), sedangkan
pada kelompok stunting angkanya bisa mencapai 50% (dalam kisaran 5-50%). Variasi pada kasus stunting ini
biasanya dikaitkan dengan manajemen pemeliharaan. Pada peternakan dengan manajemen yang baik, biasanya
persentase kasus stunting relatif kecil.

Lalu apa saja penyebab sindrom kekerdilan atau RSS ini?

1) Faktor dari pembibitan

Telur tetas kecil (telur tetas berasal dari induk umur muda < 25 minggu)

Antibodi maternal Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal DOC perlu antibodi maternal yang tinggi

Induk DOC positif terinfeksi Salmonella enteridis, sehingga DOC membawa bakteri Salmonella yang
sewaktu-waktu bisa menyerang saat kondisi DOC sedang tidak fit

2) Faktor dari penetasan (hatchery)

Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama

Tidak dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas

Bercampurnya telur tetas yang berasal dari umur induk yang sangat jauh berbeda

Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi sehingga DOC mengalami stres

Kurang representatifnya alat angkut DOC (chick van) dari hatchery ke peternak/kandang pemeliharaan

3) Manajemen pemeliharaan yang belum baik dan pengaruh lingkungan


Contohnya akibat biosecurity yang belum ketat, penanganan DOC yang kurang baik terutama saat
masabrooding, populasi kandang yang terlalu padat, suhu kandang terlalu tinggi, tempat ransum kurang
(tidak sebanding dengan jumlah ayam), dan lain sebagainya.
4) Faktor kualitas ransum
Kandungan nutrisi seperti energi, protein, dan mikro nutrisi lainnya jika tidak sesuai dengan kebutuhan ayam,
maka bisa memicu kasus kekerdilan ini. Demikian halnya dengan jamur (aspergillosis) dan racunnya
(mikotoksikosis) yang akhir-akhir ini banyak mengkontaminasi ransum.
5) Faktor penyakit infeksius
Secara umum, 3 agen infeksius penyebab kekerdilan adalah virus, bakteri dan protozoa.

Virus:
Salah satu virus yang sudah diidentifikasi menjadi penyebab utama kekerdilan adalah Reo-virus. Saat
menginfeksi, virus ini menimbulkan enteritis (radang usus) sehingga penyerapan nutrisi di usus menurun.
Pada anak ayam umur 2-4 hari yang menderita serangan Reo-virus akan menunjukkan gejala sakit yang
ringan, yakni anak ayam terlihat lesu, malas bergerak, dan sayap menggantung. Sedangkan pada anak
ayam umur 4-7 hari ditemukan pula gejala diare. Pada feses ayam sakit akan ditemukan ransum yang
tidak tercerna. Sering dijumpai pula feses yang tertutup dengan eksudat berwarna coklat kekuningan.
Akibatnya kasus ini sering dikelirukan dengan koksidiosis. Tanda-tanda spesifik lainnya yang ditemui yakni
pertumbuhan bulu yang abnormal pada bulu sayap primer (yang berbatasan dengan folikel bulu).
Pertumbuhan bulu juga tidak teratur sehingga menyebabkan bulu-bulu tampak berdiri seperti baling-baling
dan menimbulkan kesan ayam tampak seperti helikopter. Itulah sebabnya serangan Reo-virus sering
disebut juga dengan helicopter disease. Saat dibedah, ditemukan usus yang terlihat pucat, kecil dan di
dalamnya masih terdapat sisa-sisa ransum yang belum tercerna sempurna. Kita seringkali memberi istilah
usus pentil karena ususnya yang kecil ini. Beberapa virus lain yang juga dikaitkan dengan kasus
kekerdilan adalah infeksi rotavirus, parvovirus, dan calicivirus.

Bakteri:
Bakteri yang paling umum menyebabkan kekerdilan adalah bakteri Clostridium sp. yang bisa
menyebabkannecrotic enteritis dan necrotic ulseratif pada usus ayam.

Protozoa:
Infeksi protozoa yang utama bisa menyebabkan kekerdilan akibat efek malabsorpsi (gangguan
penyerapan ransum)nya adalah infeksi koksidiosis.

Penanganan Kasus Kekerdilan


Hingga saat ini, kasus kekerdilan adalah salah satu kasus yang cukup sulit didiagnosa. Alasannya, karena gejala
klinis yang terlihat hanya berupa gangguan pertumbuhan (kekerdilan). Pada saat nekropsi (bedah bangkai) pun
perubahan patologi anatomi yang ditimbulkan sangatlah bervariasi, tergantung dari faktor penyebab mana yang
lebih mendominasi.
Atas pertimbangan tersebut, maka saat peternak menemukan kasus ini di farm, beberapa tindakan yang bisa
dilakukan antara lain:

Apabila kasus kekerdilan ini masih terjadi pada sebagian kecil dari populasi, segera lakukan seleksi
(culling) dan afkir ayam-ayam yang terlihat kerdil, terutama yang bobotnya berada 40% di bawah
standar. Beberapa peternak seringkali melakukan seleksi tanpa afkir, melainkan dimasukkan dalam satu
sekatan tersendiri. Sebaiknya hal itu dihindari karena keberadaan sekatan khusus ini bisa menjadi
sumber penularan ke ayam lain dan pemeliharaan ayam kerdil ini justru akan membuat bengkak FCR.
Sedangkan untuk ayam kerdil dengan bobot badan yang tidak terlalu jauh berbeda dengan standar, bisa
dipisahkan kemudian diberi perlakuan khusus, yaitu diberi ransum starter dan multivitamin (Fortevit atau
Solvit) hingga bobot badan mencapai 1-1,2 kg dan ayam layak dipanen.

Jika kekerdilan menimpa lebih dari 80% populasi ayam, maka kemungkinan penyebabnya adalah
masalah kualitas ransum atau infeksi Reo-virus. Segera lakukan pengecekkan kualitas ransum di
laboratorium untuk mengetahui kandungan nutrisi serta mendeteksi ada tidaknya toksin (racun jamur) di
dalamnya. Sedangkan pada dugaan kasus Reo-virus, sebaiknya lakukan pula uji serologi, PCR
atau sequencing di laboratorium untuk meneguhkan diagnosa penyakit tersebut. Jika bobot badan ayam
yang kerdil tidak berbeda jauh dengan standar, maka berikan ransum starter dan multivitamin (Fortevit
atau Solvit) hingga bobot badan mencapai 1-1,2 kg dan ayam layak dipanen. Sedangkan jika bobot
badan ayam sangat jauh dari standar, maka lebih baik lakukan panen dini seluruh ayam.

Perbaiki faktor manajemen yang berperan dalam mendukung terjadinya kasus gangguan pertumbuhan.

Berikan antibiotik (Therapy, Neo Meditril atau Trimezyn-S) untuk mencegah infeksi sekunder bakteri.

Berikan multivitamin dan mineral (Fortevit atau Neobro), untuk keseluruhan populasi ayam di kandang
untuk menyelamatkan populasi secara keseluruhan dari sindrom kekerdilan.

SINDROMA KERDIL KADANG MASIH


USIL

Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan


lapangan ke peternak peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak seragaman ayam
yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam
mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.

Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
1. Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
2. Multi strain dalam satu flock / kandang
3. Kurang tempat pakan dan tempat minum
4. Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
5. Penyakit infectious seperti Coccidiosis
6. Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )

Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam
seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam
kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan
atau runting and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan
kadang ada dan kadang tidak ada / hilang dengan sendirinya.

Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti :

Malabsorption Syndrome
Stunting Syndrome
Reovirus Malabsorption
Pale Bird Syndrome
Helicopter Disease
Brittle bone Disease

Apa itu sindroma kekerdilan pada broiler ? dan apa saja penyebabnya ?

Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami
laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari. Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan,
kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal. (Nick Dorko, 1997).

Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya
ayam culling; tingginya fcr; rataan berat badan di bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan
menjadi masalah bila ada kontrak dengan slaughter house / rumah potong ayam; masalah dengan penjualan
karena banyaknya ayam yang kecil.

Pertanyaannya adalah apakah kejadian kekerdilan pada broiler ini hanya merupakan sindroma saja ataukah
merupakan penyakit yang sangat banyak penyebabnya ? / Multifactorial Causative Disease ?
Beberapa ahli penyakit ayam menyatakan bahwa runting and stunting syndrome terdiri atas tiga bentuk yaitu
Enteritic; Pancreatic dan Proventricular (yang mana hal tersebut lebih didasarkan kepada organ yang diserangnya),
yang paling penting sindroma kekerdilan ini merupakan sindroma penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor.

PENYEBAB SINDROMA KEKERDILAN


Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :
Penyebab berasal dari Pembibitan
Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery
Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi

Penyebab berasal dari Lingkungan


Penyebab berasal Penyakit

1. Penyebab berasal dari Pembibitan


Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma
kekerdilan antara lain :
Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk <> 30 % populasi dengan kategori BENCANA /
MALAPETAKA

Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :


Bulu sekitar kepala dan leher tetap Yellow Heads
Bulu primer sayap patah / dislokasi Helicopter Birds / Stress Banding
Tulang kering / betis berwarna pucat
Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja

PATOLOGI ANATOMI
Perubahan terutama terjadi pada usus seperti : pucat, tipis, berisi material cair sampai berlendir
Kadang ada radang proventriculus
Ada degenerasi pada pancreas
Makanan pada usus bagian belakang masih utuh

PENGENDALIAN PENYAKIT
1. Pembibitan
Induk harus dapat memberikan bekal maternal antibodi yang tinggi
Hindari terinfeksi dengan Salmonella enteriditis
Perbesar telur tetas dengan cara tunda awal produksi dini (pengaturan lighting), berat badan betina harus masuk
berat standar, kebutuhan Kcal / protein / ayam terpenuhi. Tambahkan protein / asam amino pada pakan periode
petelur dengan Methionine / Cysteine

2. Hatchery
Hindari menetaskan telur tetas yang kecil
Perpendek waktu koleksi telur tetas
Jangan menetaskan telur tetas yang berbeda usia / ukuran dalam satu mesin

Percepat proses seleksi doc dan secepatnya didistribusikan


Pergunakan alat pengangkut doc dari hatchery sampai peternak dengan alat angkut yang representatif, terutama
lengkapi dengan Ventilator

3. Farm Broiler
Laksanakan proses biosecurity dengan baik dan benar, agar farm dapat seoptimal mungkin terbebas dari serangan
infeksi penyakit pemicu terjadinya kekerdilan
Penggunaan desinfektan yang mengandung antiviral seperti GLUTAMAS dan SEPTOCID sangat dianjurkan
Usahakan satu unit farm diisi oleh ayam yang satu usia, karena jika ada serangan kekerdilan ayam yang ber-usia
paling muda yang paling parah terkena infeksi
Jika mendapat doc kecil / bibit muda / doc berasal dari telur tetas kecil, maka tatalaksana brooding harus
sempurna; berikan pada minumnya multivitamin yang mengandung vitamin A, D dan E seperti VITAMAS; perhatian
difokuskan kepada suhu sekitar brooding; pemberian pakan yang intensif dan mudah dijangkau ayam, demikian juga
dengan air minum harus selalu tersedia dalam keadaan segar
Bila kekerdilan sudah menyerang ayam di kandang, maka lakukan langkah :

1. Ayam yang hanya mencapai 40% dari berat badan standar dipisahkan / diculling
2. Lakukan desinfeksi area kandang secara rutin dengan GLUTAMAS atau SEPTOCID, dosis berikan sesuai
petunjuk pembuatnya
3. Ayam yang ber-berat badan > 40% dari berat badan standar dan Normal berikan minum yang mengandung
MASABRO atau HYPRAMIN B, sesuai petunjuk pembuatnya
4. Pakan sebaiknya tetap menggunakan pakan starter sampai panen
5. Sebaiknya ayam di panen pada berat 1.0 1.2 kg saja

Periksakan pakan secara periodik untuk kontrol kandungan mycotoxin


Pastikan pakan kandungan bahan bakunya seimbang dan sesuai dengan peruntukan usia ayam

Kondisi ayam pun selalu segar. Tentu saja mesti dilengkapi dengan semua
kebutuhan yang lain, tak terkecuali dan teristimewa dalam konteks ini: pemanas yang
meski berbeda-beda wujudnya tetap bertujuan sama dalam sistem brooding alias
sistem pengindukan.

Pemakaian minyak tanah sebagai bahan bakar pemanas untuk sistem pengindukan alias brooding pernah
mendominasi kurang lebih 75 persen peternak di Indonesia. Sangat masuk akal, lantaran harga minyak saat
disubsidi sangat murah dan mudah didapat. Investasi peralatannya pun relatif murah, oleh sebab pemakaiannya
cukup banyak.

Pada saat itu pun banyak usaha skala industri rumah tangga yang memproduksi alat pemanas berbahan bakar
minyak tanah sebagai sarana penunjang produksi peternakan. Namun saat ini, keberadaan minyak tanah susah
didapat oleh para peternak yang sangat membutuhkan bahan bakar untuk pemanas dan pengindukan anak
ayamnya.
Maka untuk lebih praktisnya, saat ini, Banyak peternak menggunakan gas elpiji (LPG), kata Drh Setyono Al
Yoyok pemilik Pakarvet Citra Agrindo Malang perusahaan yang bergerak di bidang peternakan, obat-obatan dan
bisnis alat-alat umum untuk peternakan.
Selain lebih praktis, papar Drh Yoyok (nama akrabnya), Elpiji juga mempunyai keunggulan-keunggulan umum.
Keunggulan itu antara lain dengan elpiji suhu lebih terkontrol, selain itu elpiji juga mudah diperoleh. Dibanding
minyak tanah, elpiji lebih bagus, lantaran elpiji tidak banyak menyebabkan polusi udara dibanding minyak tanah.
Saat ini, hampir semua breeding farm menggunakan bahan bakar gas sebagai pemanas untuk brooding. Paling
mudah digunakan, sebagian besar peternak ayam petelur skala menengah dan besar meyakini bahwa gas paling
aman digunakan sebagai pemanas brooding. Pemakaian gas untuk brooding memudahkan pengoperasian,
pengaturan suhu, penyalaan dan pematiannya.
Itulah sumber bahan bakar untuk brooding. Sementara untuk alat pemanasnya sendiri, dari bermacam-macam
brooder, yang paling disukai dan dianggap terbaik oleh peternak adalah Gasolec yang di antaranya dipasarkan oleh
Medion, Agrinusa Jaya Sentosa, dan Mensana Aneka Satwa, selain dari yang terbanyak selama ini didatangkan
secara impor.
Beredar secara umum di kalangan peternak, bahwa gasolec adalah alat penghangat DOC dengan bahan bakar gas
elpiji. Ada yang bisa menghangatkan 800- 1000 ekor DOC.
Menurut banyak peternak, gasolec merupakan brooder yang paling mudah digunakan. Menjadi rahasia umum,
hampir semua breeding farm menggunakan gasolec yang berbahan bakar gas sebagai pemanas untuk brooding.
Adapun, gasolec juga diyakini oleh peternak skala menengah dan besar sebagai pemanas gas paling aman
dibanding dengan pemanas dengan bahan bakar lainnya.
Pemakaian gasolec memudahkan dalam pengoperasian, pengaturan suhu, penyalaan dan mematikannya, kata
peternak. Selain itu juga dikenal adanya kanopi yang terbuat dari seng dengan diameter 120 cm digunakan untuk
lebih mengoptimalkan kerja dari gasolec.
Ada pula taktik peternak di lapangan peternakan untuk menghasilkan pemanasan yang terbaik dengan modifikasi.
Yang ini, Untuk efisiensi dan lebih irit, kata Drh Setyono Al Yoyok. Modifikasi ini wujudnya adalah kombinasi
menggunakan elpiji dan juga memakai kanopi sebagai alat pemanasnya. Bagusnya alat semacam ini, menurut Drh
Yoyok adalah ada regulatornya.
Penghangat DOC berbahan bakar gas elpiji ini, di antaranya sudah dilengkapi kanopi berdiameter 100 cm, 2 meter
slang, 1 buah regulator dan 2 buah klem slang yang bisa dipakai.
Selain itu ada pula penghangat DOC dengan bahan bakar batu bara, dilengkapi dengan kanopi salah satunya
berberdiameter 100 cm. Penghangat DOC ini di antaranya bisa menghangatkan 500 ekor DOC.
Briket batubara sendiri merupakan bahan bakar padat berbentuk dan berukuran tertentu yang tersusun dari partikel
batubara yang kokas maupun semikokas halus yang telah diproses dan diolah dengan daya tekan tertentu agar lebih
mudah dimanfaatkan. Banyak pula peternak skala menengah dan besar menggunakan briket batubara sebagai
pengganti minyak tanah dan gas.
Penghangat DOC dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah tak ketinggalan. Yang unik, penghangat ini di
antaranya sudah dilengkapi dengan kanopi berdiameter 100 cm dan bisa dipakai untuk 500 DOC.
Diakui oleh alumnus FKH Unair ini, alat pemanas untuk brooder memang bervariasi. Begitulah variasinya, ada yang
berupa kompor biasa, ada yang berbahan bakar gas elpiji, ada yang memakai bahan bakar arang, batubara, dan
lain-lain. Semua ini lantaran, Tingkatan peternak juga bermacam-macam, kata Drh Yoyok.

Menurutnya, bagi peternak besar dan peternak sedang, brooding yang digunakan biasanya adalah gasolec. Adapun,
peternak kecil yang kebanyakan merupakan peternak ayam pedaging, biasanya memanfaatkan sumber panas
apapun yang ada termasuk kompor, arang, maupun kayu bakar.
Selain Alat Pemanas Juga
Harus Bagus
Selanjutnya dengan terpenuhinya sumber bahan bakar pemanas itu maka faktor-faktor yang lain di dalam masa
brooding alias pemanasan pengindukan itu juga harus bagus. Faktor-faktor itu antara lain masalah layar, litter, dan
air minum.
Adapun masalah-masalah dalam brooding menurut Setyono Al Yoyok juga dapat terjadi. Menurutnya, kegagalan
brooding dapat menyebabkan timbulnya penyakit Kolibasilosis yang biasanya muncul pada, Ayam usia mau panen,
katanya.
Kegagalan sistem pengindukan dan pemanasan ini jelas merugikan secara ekonomi. Bahkan akibat serangan kuman
itu dapat pula memunculkan penyakit dengan gejala utama ayam ngorok. Penyakit itu, apalagi kalau bukan CRD
(Chronic Respiratory Disease).
Dari banyak kasus penyakit yang muncul akibat kegagalan brooding itu, Drh Yoyok mengungkap bahwa yang paling
dominan adalah Kolibasilosis. Secara berurut sebab akibatnya, ayam yang terserang penyakit ini dimulai dengan
serangan-serangan fisik ayam kembung lantaran suhu dan tubuh terlalu dingin, temperatur brooding tidak sesuai
dengan kebutuhan DOC.
Kondisi ayam yang demikian dapat berlanjut ayam mengalami asites. Kondisi buruk ini diperparah lagi dengan
penyebaran kuman Koli di dalam air minum. BilamanaEscherechia coli ini masuk dan terus berkembang biak,
sedangkan kondisi ayam buruk, tingginya kasus serangan Kolibasilosis pun tak terbendung.
Sebaliknya, kata Drh Setyono Al Yoyok, Kalau brooding bagus, kasus Kolibasilosis minim. Dan, lanjutnya, Supaya
pemanas pengindukan ini bagus, maka ada kondisi yang harus kita persiapkan.
Dokter hewan yang berpengalaman di banyak tempat peternakan baik di sektor produksi maupun sarana produksi ini
pun mengungkap persiapan yang diperlukan itu antara lain manajemen pemilihan waktu DOC. Layar kandang harus
diperhatikan, ujarnya.
Ia mengungkapkan di daerah Malang, sistem brooding yang diterapkan ada yang memakai sistem brooding termos.
Dengan sistem ini tempat brooding bisa di bawah juga bisa di atas. Kandang dengan sistem ini, layar tertutup atau
terbuka bisa separuhnya. Sementara yang separuh lagi juga bisa dibuka atau ditutup. Jadi, Ada dobel layar, ucap
Yoyok.
Setelah pengaturan layar itu, brooding bisa disekat sesuai dengan kebutuhan. Adapun jumlah tempat makan atau
tempat minum pun mesti diatur, supaya, Saat DOC makan dan minum, tidak berebut, kata Drh Yoyok. Ia pun
menambahkan untuk pakan pemberiannya sedikit demi sedikit, dengan tujuan pakan tidak tumpah.
Dengan tidak tumpahnya pakan, dan ayam memakan secara bertahap akan memberi rangsangan nafsu makan,
sehingga konversi pakan (FCR) pun akan menjadi yang terbaik. Kondisi ayam pun selalu segar. Tentu saja mesti
dilengkapi dengan semua kebutuhan yang lain tersebut, tak terkecuali dan teristimewa dalam konteks ini: pemanas
yang meski berbeda-beda wujudnya tetap bertujuan sama dalam sistem brooding alias sistem pengindukan. (red)