Anda di halaman 1dari 10

Tingkat Daya Saing Usaha Peternakan Itik di Kabupaten Polewali Mandar

Sitti Nurani Sirajuddin, Ikrar MOH Saleh 1)


Hassani2)
1) Staf Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan FAPET, UNHAS
2) Staf Pengajar Fakultas Peternakan Dan Perikanan, Universitas Sulawesi Barat
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa lebih mendalam mengenai
pengembangan itik petelur, mengetahui apakah usaha peternakan itik petelur memiliki
peluang usaha yang berkelanjutan serta mengefesienkan sumber daya yang digunakan
dalam usaha peternakan itik petelur. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa usaha
peternakan itik petelur dengan skala rata-rata peternak memelihara 231 ekor mampu
memperoleh keuntungan sebesar Rp. 5.929.603 sedangkan analisa usaha itik petelur
semi intensif diperoleh keuntungan Rp, 764,179.54/tahun dengan B/C Ratio 1,73. Dari
aplikasi Policy Analysis Matrix (PAM) pada usaha peternakan itik diperoleh bahwa
usaha peternakan itik petelur harus dikembangkan secara profesional dengan
manajemen usaha produktif, Efisiensi penggunaan biaya menjadi suatu hal yang perlu
mendapat perhatian penuh. Penyuluhan dan pendampingan usaha peternakan itik petelur
harus menjadi perhatian pemerintah.
Abstract
This study aims to analyse more deeply on the development of laying legs
business knowing that is breeding ducks apaka has a sustainable business, as well as the
resources used trip mengefesienkan en las explotaciones agrarias why are ducks. The
results showed that on farms agricultural laying legs, with an average of 231 farmers
maintained a tail capable of obtaining a profit of Rp. 5.929.603, while that the analysis
of the semi-intensive by which earned profits duck business PR, 764,179.54 / year with
a relationship B / C 1.73. Implementation of the policy analysis matrix (PAM) on a farm
in ducks found that agricultural companies, which is ducks must be developed by
professionals in the management of productive enterprises, financed by the efficiency of
the use of an issue which should receive all the attention. Extension and business advice
from farms of ducks that have become the Government's attention.

PENDAHULUAN
Usaha peternakan itik petelur pada beberapa tahun terakhir berkembang baik di
Indonesia. Beberapa kabupaten diseluruh wilayah Indonesia mulai mengembangkan
program swasembada telur, hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hewani
masyarakat yang salah satunya berasal dari telur. Telur menjadi pilihan karena
merupakan sumber protein hewani yang gampang terjangkau oleh masyarakat kalangan
bawah sekalipun.
Jenis itik yang dikembangkan masyarakat di tanah air juga semakin beragam ada
yang itik air dan ada itik darat. Dengan adanya itik darat otomatis kendala klasik yang
selama ini dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah ketinggian yang sulit
memelihara itik karena keterbatasan air dapat terjawab, sehingga semakin banyak
masyarakat yang beternak itik baik sebagai usaha sambilan maupun usaha inti, sehingga
populasi itik semakin berkembang.
Pengembangan suatu

usaha peternakan itik

petelur sedapat

mungkin

dikembangkan agar lebih produktif, jika semua sumber daya lahan, tenaga kerja serta
sumber daya lainnya dapat dimanfaatkan secara efisien maka tingkat kesejahteraan
masyarakat juga akan semakin meningkat. Kondisi yang demikian tersebut memerlukan
suatu analisa yang jelas apakah menguntungkan atau tidak baik ditingkat unit usaha
(Private) maupun secara global. Salah satu diantara banyak macam ragam analisa yang
sekarang populer adalah Policy Analisis Matrix (PAM).
Tujuan dan Kegunaan
Kegiatan ini bertujuan untuk :

Menganalisa lebih mendalam mengenai pengembangan itik petelur

Mengetahui apaka usaha peternakan itik petelur memiliki petualang usaha yang
berkelanjutan

Mengefesienkan sumber daya yang digunakan dalam usaha peternakan itik


petelur.

Kegunaannya adalah :

Memberikan informasi baru pada para peternak itik petelur agar dapat
mengembangkan usahanya

Sebagai acuan untuk memberi saran pada pemerintah khususnya dalam


pengembangan itik petelur skala nasional

Metode Penelitian
Policy Analisis Matrix (PAM) kemudian dijadikan sebagai acuan dalam
menganalisa usaha tani peternakan itik petelur dengan membandingkan hasil penelitian
tahun 2009 di dua lokasi yang berbeda yaitu kecamatan Pagerbarang kabupaten Tegal
Jawa Tengah dan data hasil penelitian di kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat.

PEMBAHASAN
A. Dampak Daya Saing Usaha
Usaha peternakan itik petelur secara lokal semi intensif yang dilakukan oleh
masyarakat Sulawesi Barat di kabupaten Polewali Mandar berdasarkan hasil penelitian
tahun 2009 memperlihatkan data sebagai berikut :
Tabel 1. Analisis input, output dan keuntungan usaha peternakan itik petelur di
kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat tahun 2009
No
1
2
3

Uraian
Input Tredeble
Faktor Domestik
Output

Total biaya
Tenaga Kerja
Modal
3

Total
37,906,230.00
2,332,536.09
243,880.00

Keterangan

Out put
Keuntungan
B/C Ratio
Sumber : Data sekunder, tahun 2009

47,768,250.00
5,929,603.91
1,18

Dari tabel 1. diperoleh suatu nilai rata-rata yang diperoleh dari beberapa asumsi
berdsarkan fakta aktual dilapangan dengan usaha peternakan itik petelur. Usaha
peternakan itik petelur dengan skala rata-rata peternak memelihara 231 ekor mampu
memperoleh keuntungan sebesar Rp. 5.929.603 setelah diperbandingkan antara total
input dan output yang dipeoleh, secara garis besarnya usaha ini menguntungkan, hal ini
sesuai dengan pendapat Anonymous (2008) bahwa itik petelur merupakan usaha sub
sektor peternakan yang menjanjikan apabila dikelola dengan manajemen yang baik B/C
Ratio usaha peternakan itik petelur menunjukkan nilai 1,18 < 1 berati usaha tersebut
layak untuk dilanjutkan.
B. Dampak investasi Publik
Sebagai salah satu pembanding usaha peternakan itik yang dilakukan di
kecamatan Pagerbarang kabupaten Tegal Jawa Tengah berdasarkan hasil penelitian
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro tahun 2009. Adapun data yang diperoleh
adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Analisis Input, Output dan Keuntungan Usaha Peternakan Itik Petelur, Pola
Semi Intensif di Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal Jawa Tengah
tahun 2009
No

Uraian

Input Tredeble

Faktor Domestik

3
4

Total biaya

Total
23,103,972.25

Tenaga Kerja

2,837,966.25

Modal

1,075,881.96

Out put

46,777,500.00

Keterangan

Keuntungan

19,764,179.54

B/C Ratio

1,73

Sumber : Data Hasil Penelitian tahun 2009


Dari tabel 2. Diatas analisa usaha itik petelur semi intensif diperoleh keuntungan
Rp, 764,179.54/tahun dengan B/C Ratio 1,73. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
efesiensi modal usaha yang tinggi sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang
lebih tinggi hal tersebut sejalan dengan pendapat Pearson (2005) bahwa tingkat efesiensi
penggunaan modal usaha sangat berpebgaruh keuntungan yang diperoleh suatu usaha
pertanian.
C. Identitas Policy Analisis Matrix

Dari hasil penelitian usaha peternakan itik petelur diatas, dimana hasil penelitian di
Polewali Mandar dianggap sebagai data aktual/privat dan data dari kabupaten Tegal
dianggap sebagai data sosial maka diperoleh sebuah data perbandingan dalam bentuk
Matrix pada table 3.
Tabel 3 diperoleh hasil yang berbeda antara privat dan sosial yang dinyatakan
dalam divergency. Pada output divergensi positif dimana privat memperlihatkan output
yang lebih tinggi dibandingkan dengan out put sosial, sebesar Rp. 990,750.00,- akan
tetapi perbedaan ini pada dasarnya tidak terlalu jauh hal ini kemungkinan disebabkan
karena harga out itik petelur baik di Jawa maupun di Sulawesi relatif sama bahkan
terkkadang jauh lebih tinggi harga aktual lebih tinggi dari harga sosial. Fakta ini sejalan
dengan pendapat yang disampaikan oleh Anonimous (2009), bahwa harga telur itik jika
dibandingkan dengan harga telur lainnya cenderung lebih stabil, tidak ada perbedaan
fluktuatif harga dalam waktu singkat.
5

Tabel 3. Policy Analysis Matrix (PAM) Usaha Peternakan Itik Ptelur Tahun
2009.
Input
Output

Input Tradable

Domestik
TK & Listrik
Modal

Keuntungan

Privat

47,768,250.00

40,443,646.09

2,332,536.09

234,880.00

4,757,187.82

Sosial

46,777,500.00

27,013,320.46

2,837,966.25

1,075,881.96

19,759,679.54

Divergency

990,750.00

13,430,325.63

(505,430.16)

(841,001.96)

(15,002,497,72)

Sumber: Data Hasil Olahan Tahun 2011


Pada input tradeble juga diperoleh divergensi positif, akan tetapi pada tingkat
factual dilapangan (privat) merupakan suatu kegagalan dimana harga input jauh lebih
besar dibanding harga input sosial, hal ini kemungkinan disebabkan karena tingkat
pengalaman peternak yang cukup berbeda dari privat dan sosial, ini sejalan dengan
pendapat Kustopo dalam Anonymous (2009) bahwa salah satu kegagalan yang gampang
terjadi dalam usaha peternakan itik petelur manajemen pemeliharaan yang
mengakibatkan input produksi sangatmeningkat yang disebabkan oleh kekurangan
telitian peternak. Hal ini juga disebabkan karena harga bahan baku pakan yang tinggi
dan jumlah pakan yang masih banyak terbuang.
Pada faktor domestik terjadi divergensi negatif hal ini menunjukkan bahwa
manajemen belum efesien dalam penggunaan tenaga kerja, padahal upah tenaga kerja
factual lebih murah daripada upah kerja sosial. Pada sisi modal yang dimiliki privat jauh
lebih rendah dari modal sosial. Hal ini disebabkan karena usaha peternakan itik petelur
semi intensif pada privat masih banyak dikembangkan sebagai usaha sambilan dengan
modal seadanya walaupun pada dasarnya sudah terjadi peningkatan dari pola
pemeliharaan sebelumnya. Sedangkan pada sosial sudah dikembangkan dalam skala

usaha yang lebih besar dengan modal usaha yang lebih besar dan lebih efesien. Hal ini
banyak dipengaruhi oleh faktor pengalaman peternak dalam melihat peluang usaha
sebagaimana yang diungkapkan oleh Anonymous (2009), bahwa sentra pengambangan
itik petelur di Indonesia terpusat di pulau Jawa dan berkembang ke Kalimantan dan
Sulawesi. Hal ini menunjukkan bahwa lamanya suatu usaha peternakan dikembangkan
dalam suatu wilayah akan menuntun peternak lebih profesional.
Kegagalan dalam manajemen sumberdaya yang memiliki ditingat privat
berimbas pada kurangnya keuntungan yang diperoleh. Divergensi keuntungan yang
negative adalah merupakan bukti hal tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Pearson
(2005), bahwa Penawaran, produksi Nasional dibatasi oleh keterbatasan sumber daya
(lahan, tanaga kerja, dan modal), harga input dan kemampuan manajemen. Parameterparameter ini merupakan komponen dari fungsi produksi sehingga membatasi
kemampuan perekonomian dalam menghasilkan komoditas pertanian.
D. Kebijakan Policy Analisis Matrix
Dari hasil yang diperoleh dari matrix pada tabel 3. Diatas memberi gambaran akan
pentingnya kebijakan pemerintah dalam pengembangan itik petelur. Adanya
keterbatasan keahlian dalam melakukan fungsi manajemen usaha tani, kurangnya modal
usaha dan adanya perbedaan mendasar sisetiap wilayah pengembangan dalam hal
pencapaian keuntungan usaha, menjadi suatu hal yang perlu dikaji lebih mendalam hal
pencapaian keuntungan usaha, menjadi suatu hal yang perlu dikaji lebih mendalam oleh
pemerintah.
Dalam hal keahlian melakukan fungsi manajemen usaha, maka sepatutnya
pemerintah menggalakkan program penyuluhan dan pendampingan usaha tani itik
7

petelur secara berkesenambungan. Stabilitas harga bahan baku pakan juga perlu tetap
dijaga, dan kebijakan dalam hal pengembangan pakan alternatif yang tidak
konvensional.
KESIMPULAN
Dari aplikasi Policy Analysis Matrix (PAM) pada usaha peternakan itik
diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Usaha peternakan itik petelur harus dikembangkan secara profesional


dengan manajemen usaha produktif

Efesiensi penggunaan biaya menjadi suatu hal yang perlu mendapat


perhatian penuh

Penyuluhan dan pendampingan usaha peternakan itik petelur harus menjadi


perhatian pemerintah
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2008. Analisa Usaha Itik Petelur Ratu. Info peternakan.http//Bapeluh


Blogspot.com.. diposting ; Syaiful Rahman 11;30 31Desember 2008
Anonimous. 2009. Budidaya Itik Petelur.Budidaya-itik-petelur.html. diposting 9
November; di posting ; budidaya Pertanian
Budiraharjo, K. 2009. Analisis Profitabilitas Pengembangan Usaha Ternak Itik di
Kecamatan Pegerbarang Kabupaten Tagal, Thesis. Fapet Universitas
Diponegoro. Semarang
Pearson,S.,Gatsch C., Bahri S. 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian
Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Rasyaf, M. 2002 Beternak Itik. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

10