Anda di halaman 1dari 22

SELEKSI

Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

Seleksi:
1. Pemilihan individu dari suatu populasi secara sistematik
untuk menjadi tetua bagi keturunan berikutnya.
2. Pemilihan ternak yang dianggap mempunyai mutu
genetik tinggi untuk dikembangbiakkan lebih lanjut
serta memilih ternak yang dianggap mempunyai mutu
genetik rendah untuk disingkirkan dan tidak
dikembangbiakkan lebih lanjut.
3. Suatu tindakan untuk membiarkan ternak-ternak
tertentu bereproduksi, sedangkan yang lain tidak
diberi kesempatan bereproduksi.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

SELEKSI
ALAM

MANUSIA

- Ternak yang mampu beradaptasi


- Mampu bertahan hidup

Dipilih berdasarkan:
- Keunggulan performans
- Disesuaikan dengan kebutuhan
dan keinginan manusia

Mempunyai peluang lebih besar untuk


bereproduksi
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

Tujuan seleksi alam: untuk mempertahankan


kelangsungan hidup individu.
Tujuan seleksi manusia: untuk mempertahankan
kelangsungan hidup manusia melalui pemanfaatan
produksi ternak.

Kemajuan genetik dari hasil seleksi tergantung pada:


1. Kemampuan untuk menurunkan sifat (heritabilitas).
2. Differensial seleksi.
3. Interval generasi.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

P = G + L + Interaksi GL
Efek genetik:
1. Aditif
2. Dominan
3. Epistasis

Stabil
Aditif

Differensial seleksi: selisih rataan antara ternak terpilih


dengan populasi awal.
Interval generasi: rataan umur tetua pada saat
keturunan dilahirkan umur rata
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

Seleksi
Seleksi satu sifat:
1. Individu.
a. Pengamatan tunggal.
b. Pengamatan berulang.
2. Berdasarkan performans tetua/
moyang.
3. Family.
4. Uji Zuriat

11/27/2014

Seleksi beberapa sifat:


1. Tandem (Tandem Selection).
2. Penyingkiran bebas
(Independent Culling Level)
3. Indeks (Index Selection)

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

1. Seleksi individu : seleksi berdasarkan performansnya


sendiri dibandingkan dengan performans populasi.
A. Pengamatan tunggal.
Contoh: berat lahir, berat sapih, persentase karkas.
Langkah-langkah:
1. Memilih individu yang mempunyai performans
terbaik (dengan cara menurutkan mulai dari yang
terbaik sampai terjelek).
2. Ternak yang diatas standar dipilih.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

B. Pengamatan Berulang.
Contoh: produksi susu, produksi wol, litter size.
Tujuan: untuk meningkatkan kecermatan seleksi.
Catatan dari pengamatan berulang berguna untuk
menduga kemampuan maksimum produksi ternak
betina (MPPA= Most Probable Producing Ability).
2.

Seleksi berdasarkan tetua : berdasarkan informasi dari


tetuanya dan moyang (induk, bapak, nenek, kakek).
Asumsi tetua masing-masing menurunkan setengah gen-nya
kepada anak.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

3. Seleksi Famili:
a. Full sib: saudara kandung (KK = 0.5). Multipara (babi, kambing,
ayam).
b. Half sib: keluarga satu bapak (tiri KK = 0.25). Unipara (sapi,
kerbau).
c. Keluarga satu induk.
2 metode yang digunakan:
a. Seleksi antar keluarga (between familly selection): didasarkan
pada rerata performans dari setiap keluarga.
b. Seleksi di dalam keluarga (within familly selection):
berdasarkan performans masing-masing individu di setiap
kelompok keluarga.
4. Uji Zuriat: pendugaan NP seekor pejantan dari produksi anaknya.
Biasanya dilakukan untuk memilih pejantan sapi perah
berdasarkan produksi susu anak betinanya.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

Seleksi beberapa sifat


1. Seleksi Tandem: seleksi dilakukan terhadap satu sifat terlebih
dahulu, dijalankan selama beberapa generasi kemudian
dilanjutkan dengan sifat kedua.
Yang harus diperhatikan korelasi genetiknya, dihindari yang
mempunyai korelasi negatif antar sifat.
Keuntungan: mudah dan sederhana metodenya.
Kelemahan: memakan waktu lama.
2. Seleksi penyingkiran secara bebas: seleksi terhadap beberapa
sifat yang dilakukan secara bersamaan atau waktu yang berbeda

Contoh: berat sapi dara pada umur 1.5 tahun minimal 210 kg,
tinggi gumba 105 cm, panjang badan 120 cm, lingkar dada 150 cm.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

10

Contoh: seleksi pejantan. Kriteria berat sapih (7 bulan), berat


sapih (18 bulan), kualitas semen (20 24 bulan).
Keuntungan: praktis, ekonomis.
Kelemahan: ternak yang tersingkir karena salah satu kriteria, tidak
dapat dikompensasikan dengan kriteria lain.
3. Seleksi Indeks : semua ternak diseleksi berdasarkan semua kriteria
yang diinginkan.
Contoh: seleksi untuk berat sapih, berat potong, pbb. Semua
kriteria diberi indeks berdasarkan kepentingan secara
ekonomi.
Contoh: domba, bobot untuk kriteria wol lebih tinggi dibandingkan
berat badannya.
Keuntungan: ketelitian dan kecermatan tinggi.
Kelemahan: biaya tinggi, tidak ekonomis.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

11

Metode-Metode Seleksi
Atas Dasar Satu Sifat
1.

Seleksi Massa (Seleksi Individu)

Individu diseleksi berdasarkan performansnya sendiri.


Dilakukan pemilihan thdp individu yang punya performans
terbaik.
Cara melakukannya biasanya performans ternak diurutkan
mulai dari yang terbaik sampi yang terjelek atau sebaliknya
shg akan sangat mudah u memilih ternak mana yang akan
dipilih atau disingkirkan.
Apabila populasi yang diseleksi mempunyai anggota yg
banyak sekali (hampir tak hingga) sedangkan performansnya
disusun sbg sebuah histogram dgn sumbu x = performans ;
sumbu y = frekuensi ternak ; maka histogram dari performans
populasi ternak yg dipilih akan mendekati distribusi normal.
Atas dasar asumsi : performans ternak yg dipilih merupakan
kurva distribusi normal maka dasar/rumus dari seleksi
dibuat.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

12

1.1. Tanggapan Seleksi (response to selection)

Adalah kenaikan nilai rata-rata fenotip dari generasi


berikutnya sbg akibat adanya seleksi thdp populasi tsb.
Saat melakukan seleksi, ternak yg mempunyai
performans diatas dari performans yang telah ditentukan
terlebih dahulu akan dipilih sedang yg lebih rendah akan
disingkirkan, shg tentunya ternak yang yang terpilih akan
mempunyai nilai rerata performans yang lebih tinggi dari
rerata performans secara keseluruhan.
Perbedaan antara rerata performans dari ternak yg
terseleksi
dengan
rerata
performans
sebelum
diadakannya seleksi
Diferensial Seleksi =
S = (s - )
Ket : = rerata fenotip seleksi
= rerata fenotif sesudah seleksi
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

13

Tabel Intensitas Seleksi untuk Ternak yang Berjumlah


Tidak Terhingga
Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

0,0
0,2
0,4
0,6
0,8
1,0
1,2
1,4
1,6
1,8
2,0
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0

0,000
3,170
2,962
2,834
2,740
2,665
2,603
2,549
2,502
2,459
2,421
2,386
2,353
2,323
2,295
2,268

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

1,320
1,295
1,271
1,248
1,225
1,202
1,180
1,159
1,138
1,118
1,097
1,078
1,058
1,039
1,020
1,002

65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

0,570
0,555
0,541
0,526
0,511
0,497
0,482
0,468
0,453
0,438
0,424
0,409
0,394
0,380
0,365
0,350

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

14

Lanjutan Tabel Intensitas Seleksi untuk Ternak yang Berjumlah


Tidak Terhingga
Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

3,5
4,0
4,5
5,0
5,5
6,0
6,5
7,0
7,5
8,0
8,5
9,0
9,5
10,0
11
12
13

2,208
2,154
2,106
2,063
2,023
1,985
1,951
1,918
1,887
1,858
1,831
1,804
1,799
1,755
1,709
1,667
1,627

39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

0,984
0,966
0,948
0,931
0,913
0,896
0,880
0,863
0,846
0,830
0,814
0,798
0,782
0,766
0,751
0,735
0,720

81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
93,5
94
94,5
95

0,335
0,320
0,305
0,290
0,274
0,259
0,243
0,227
0,211
0,195
0,178
0,162
0,144
0,136
0,127
0,118
0,109

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

15

Lanjutan Tabel Intensitas Seleksi untuk Ternak yang Berjumlah


Tidak Terhingga
Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

Proporsi
Terseleksi
(%b)

Intensitas
(i)

14
15
16
17
18
19
20
21
22

1,590
1,554
1,521
1,489
1,458
1,428
1,400
1,372
1.346

56
57
58
59
60
61
62
63
64

0,704
0,689
0,674
0,659
0,644
0,629
0,614
0,599
0,585

95,5
96
96,5
97
97,5
98
98,5
99
99,5

0,099
0,090
0,080
0,070
0,060
0,049
0,038
0,027
0,015

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

16

1.2. Korelasi ragam genetik dengan tanggapan seleksi


Tanggapan seleksi (R) merupakan kenaikan mutu genetik
ternak.
1.3. Pendugaan kemampuan produksi/ Most Probable
Producing Ability (MPPA)
Merupakan suatu pendugaan secara maksimum dari
kemampuan berproduksi seekor hewan betina yang diduga
atas dasar performans yang ada. Nilai MPPA ini biasanya
sering digunakan untuk seleksi sapi perah karena status
seleksi dari sekelompok sapi perah yang akan diseleksi
biasanya tidak seragam sehingga perlu dikoreksi.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

17

2. Seleksi Dengan Catatan Tidak Lengkap


Adalah seleksi dengan mempergunakan sebagian dari
catatan. Ternak baru memperlihatkan sebagian dari
performansnya tetapi catatan ini akan digunakan u kriteria
seleksi.
Contoh : Pada produksi susu yang biasanya selama
305 hari tetapi baru 90 atau 180 hari laktasi, catatan tersebut
sudah digunakan dalam seleksi.
Kelemahan : kurang cermat tapi dapat diimbangi
dengan pemendekan interval generasi kemudian dihitung
tanggapan seleksinya pertahun.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

18

3. Seleksi Atas Dasar Informasi Silsilah


Seleksi individu yang menggunakan informasi atau
performans keluarganya u digunakan dlm pengambilan
keputusan dalam seleksi. Didasarkan atas adanya
kenyataan bahwa separo dari gen individu berasal dari
salah satu tetuanya, sedangkan yang sebagian berasal dari
tetua yang lain.
Silsilah atau hubungan antara individu yang diseleksi
dengan famili atau moyangnya sangat penting.
Apabila informasi yg digunakan u seleksi adalah informasi
moyangnya maka disebut SELEKSI SILSILAH.
Dan apabila informasi yg digunakan hanya informasi dari
saudara kandung maupun tiri maka disebut SELEKSI
FAMILI.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

19

4. Seleksi Famili

Pada ternak istilah keluarga atau famili meliputi :


a. Keluarga satu induk dan satu bapak
Hubungan antar keluarga bersifat saudara kandung
sehingga koefisien kekerabatannya R = 0,5.Biasanya pada
hewan multi-para seperti : kambing, babi, ayam
b. Keluarga satu bapak
Hubungan antar keluarga bersifat saudara tiri
sehingga keofisien kekerabatannya R = 0,25. Biasanya pada
hewan uni-para seperti sapi, kerbau.
c. Keluarga satu induk
Anggota keluarga terlahir dengan berbeda-beda
karena berasal dari bapak yang berbeda juga shg pengaruh
lingkungan akan menjadi masalah.
11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

20

Dalam seleksi famili terbagi atas 2 metode seleksi yaitu :


a. Seleksi antar keluarga
Didasarkan atas rerata performans tiap keluarga, setiap keluarga
yang terbaik akan dipilih.
b. Seleksi di dalam keluarga
Didasarkan atas performans masing-masing individu di setiap
kelompok keluarga.

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

21

5. Uji Zuriat (Progeny Test)


Suatu cara untuk menduga Nilai Pemuliaan dari seekor calon pejantan atas dasar
penampilan anaknya.
Sering digunakan dalam pemilihan calon pejantan sapi perah atas dasar produksi
susu anak-anak betinanya.
Analisis jalur dari Uji Zuriat dapat dilukiskan sbb :
G0

1/4 G1

G2

Gn

G3 . . .

h
P1

P2

P3 . t

Pn

x
P
Ket :

G0 = NP pejantan yang diuji


R = , krn hub. Antara bapak-anak
R = , krn hub. Antar anaknya bersifat saudara tiri

h = akar dari
pewarisan

x = 1 / V n [ 1 + (n-1) Rh2]

11/27/2014

MK Daspemter @ Tati Vidiana Sari, S.Pt. MP

22