Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Low Back Pain


2.1.1. Definisi
Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara
sudut bawah kosta (tulang rusuk) sampai lumbosakral (sekitar tulang
ekor). Nyeri juga bisa menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian
atas dan pangkal paha.
LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan
muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik.

2.1.2. Epidemiologi
LBP sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di
negara-negara industri. Diperkirakan 70-85% dari seluruh populasi
pernah

mengalami

episode

ini

selama

hidupnya.

Prevalensi

tahunannya bervariasi dari 15-45%, dengan point prevalencerata-rata


30%. Di AS nyeri ini merupakan penyebab yang urutan paling sering
dari pembatasan aktivitas pada penduduk dengan usia <45 tahun,
urutan ke 2 untuk alasan paling sering berkunjung ke dokter, urutan ke
5 alasan perawatan di rumah sakit, dan alasan penyebab yang paling
sering untuk tindakan operasi.
Data epidemiologi mengenai LBP di Indonesia belum ada,
namun diperkirakan 40% penduduk pulau Jawa Tengah berusia diatas
65 tahun pernah menderita nyeri pinggang, prevalensi pada laki-laki
18,2% dan pada wanita 13,6%. Insiden berdasarkan kunjungan pasien
ke beberapa rumah sakit di Indonesia berkisar antara 3-17%.

2.1.3. Klasifikasi Low Back Pain (LBP)


Menurut Bimariotejo (2009), berdasarkan perjalanan kliniknya
LBP terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Acute Low Back Pain
Acute low back pain ditandai dengan rasa nyeri yang
menyerang secara tiba-tiba dan rentang waktunya hanya sebentar,
antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat
hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena
luka traumatik seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri
dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat
merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon.
Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah
lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat ini
penatalaksanan awal nyeri pinggang akut terfokus pada istirahat
dan pemakaian analgesik.
b. Chronic Low Back Pain
Rasa nyeri pada chronic low back pain bisa menyerang lebih
dari 3 bulan. Rasa nyeri ini dapat berulang-ulang atau kambuh
kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan
sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi
karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus
intervertebralis dan tumor.
2.1.3. Penyebab Low Back Pain (LBP)
Beberapa faktor yang menyebabakan terjadinya LBP, antara lain:
a. Kelainan Tulang Punggung (Spine) Sejak Lahir
Keadaan ini lebih dikenal dengan istilah Hemi Vertebrae.
Menurut Soeharso (1978) kelainan-kelainan kondisi tulang vertebra
tersebut dapat berupa tulang vertebra hanya setengah bagian karena

tidak lengkap pada saat lahir. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya
low back pain yang disertai dengan skoliosis ringan.
Selain itu ditandai pula adanya dua buah vertebra yang
melekat menjadi satu, namun keadaan ini tidak menimbulkan nyeri.
Terdapat lubang di tulang vertebra dibagian bawah karena tidak
melekatnya lamina dan keadaan ini dikenal dengan Spina Bifida.
Penyakit spina bifida dapat menyebabkan gejala-gejala berat sepert
club foot, rudimentair foof, kelayuan pada kaki, dan sebagainya.
namun jika lubang tersebut kecil, tidak akan menimbulkan keluhan.
Beberapa jenis kelainan tulang punggung (spine) sejak lahir adalah:

Penyakit Spondylisthesis
Pada spondylisthesis merupakan kelainan pembentukan
korpus vertebrae, dimana arkus vertebrae tidak bertemu dengan
korpus vertebrae. Walaupun kejadian ini terjadi sewaktu bayi,
namun ketika berumur 35 tahun baru menimbulkan nyeri akibat
kelinan-kelainan degeneratif. Nyeri pinggang ini berkurang atau
hilang bila penderita duduk atau tidur dan akan bertambah, bila
penderita itu berdiri atau berjalan.
Soeharso (1978) menyebutkan gejala klinis dari penyakit
ini adalah:
Penderita memiliki rongga badan lebih pendek dari
semestinya. Antara dada dan panggul terlihat pendek.
Pada punggung terdapat penonjolan processus spinosus
vertebra yang menimbulkan skoliosis ringan.
Nyeri pada bagian punggung dan meluas hingga ke
ekstremitas bawah.
Pemeriksaan X-ray menunjukan adanya dislokasi, ukuran
antara ujung spina dan garis depan corpus pada vertebra yang
mengalami kelainan lebih panjang dari garis spina corpus
vertebrae yang terletak diatasnya.

Penyakit Kissing Spine


Penyakit ini disebabkan karena dua tau lebih processus
spinosus bersentuhan. Keadan ini bisa menimbulkan gejala dan
tidak. Gejala yang ditimbulkan adalah low back pain. Penyakit
ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan X-ray dengan
posisi lateral.

Sacralisasi Vertebrae Lumbal Ke V


Penyakit ini disebabkan karena processus transversus dari
vertebra lumbal ke V melekat atau menyentuh os sacrum
dan/atau os ileum.

b. Low Back Pain karena Trauma


Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama
LBP. Pada orang-orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot
atau melakukan aktivitas dengan beban yang berat dapat menderita
nyeri pinggang bawah yang akut.
Gerakan bagian punggung belakang yang kurang baik dapat
menyebabkan kekakuan dan spasme yang tiba-tiba pada otot
punggung, mengakibatkan terjadinya trauma punggung sehingga
menimbulkan nyeri. Kekakuan otot cenderung dapat sembuh
dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun pada
kasus-kasus yang berat memerlukan pertolongan medis agar tidak
mengakibatkan gangguan yang lebih lanjut.
Menurut Soeharso (1978), secara patologis anatomis, pada
low back pain yang disebabkan karena trauma, dapat ditemukan
beberapa keadaan, seperti:

Perubahan pada sendi Sacro-Iliac


Gejala yang timbul akibat perubahan sendi sacro-iliaca
adalah rasa nyeri pada os sacrum akibat adanya penekanan.
Nyeri dapat bertambah saat batuk dan saat posisi supine. Pada

pemerikasaan, lassague symptom positif dan pergerakan kaki


pada hip joint terbatas.

Perubahan pada sendi Lumba Sacral


Trauma dapat menyebabkan perubahan antara vertebra
lumbal V dan sacrum, dan dapat menyebabkan robekan ligamen
atau fascia. Keadaan ini dapat menimbulkan nyeri yang hebat di
atas vertebra lumbal V atau sacral I dan dapat menyebabkan
keterbatasan gerak.

c. Low Back Pain karena Perubahan Jaringan


Kelompok penyakit ini disebabkan karena terdapat perubahan
jaringan pada tempat yang mengalami sakit. Perubahan jaringan
tersebut tidak hanya pada daerah punggung bagian bawah, tetapi
terdapat juga disepanjang punggung dan anggota bagian tubuh lain.
Beberapa jenis penyakit dengan keluhan

LBP yang

disebabakan oleh perubahan jaringan antara lain:

Osteoartritis (Spondylosis Deformans


Dengan bertambahnya usia seseorang maka kelenturan
otot-ototnya

juga

menjadi

berkurang

sehingga

sangat

memudahkan terjadinya kekakuan pada otot atau sendi. Selain


itu juga terjadi penyempitan dari ruang antar tulang vetebra yang
menyebabkan tulang belakang menjadi tidak fleksibel seperti
saat usia muda. Hal ini dapat menyebabkan nyeri pada tulang
belakang hingga ke pinggang.

Penyakit Fibrositis
Penyakit ini juga dikenal dengan Reumatism Muskuler.
Penyakit ini ditandai dengan nyeri dan pegal di otot, khususnya
di leher dan bahu. Rasa nyeri memberat saat beraktivitas, sikap
tidur yang buruk dan kelelahan.

Penyakit Infeksi
Menurut Diepee (1995), infeksi pada sendi terbagi atas
dua jenis, yaitu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri dan
infeksi kronis, disebabkan oleh bakteri tuberkulosis. Infeksi
kronis ditandai dengan pembengkakan sendi, nyeri berat dan
akut, demam serta kelemahan.

d. Low Back Pain karena Pengaruh Gaya Berat


Gaya berat tubuh, terutama dalam posisi berdiri, duduk dan
berjalan dapat mengakibatkan rasa nyeri pada punggung dan dapat
menimbulkan komplikasi pada bagian tubuh yang lain, misalnya
genu valgum, genu varum, coxa valgum dan sebagainya (Soeharso,
1987). Beberapa pekerjaan yang mengaharuskan berdiri dan duduk
dalam waktu yang lama juga dapat mengakibatkan terjadinya LBP.
Kehamilan dan obesitas merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan terjadinya LBP akibat pengaruh gaya berat. Hal ini
disebabkan terjadinya penekanan pada tulang belakang akibat
penumpukan lemak, kelainan postur tubuh dan kelemahan otot.
2.1.4. Faktor Resiko Low Back Pain (LBP)

Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat


badan, etnis, merokok, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang
berat yang berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal
lumbal spinal dan faktor psikososial. Sifat dan karakteristik nyeri yang
dirasakan pada penderita LBP bermacam-macam seperti nyeri
terbakar, nyeri tertusuk, nyeri tajam, hingga terjadi kelemahan pada
tungkai. Nyeri ini terdapat pada daerah lumbal bawah, disertai
penjalaran ke daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus,
bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai, dan kaki.

2.1.5. Patofisiologi
Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang
elastic yang tersusun atas banyak unit rigid (vertebrae) dan unit
fleksible (diskus intervertebralis) yang diikat satu sama lain oleh
kompleks sendi faset, berbagai ligament dan otot paravertebralis.
Konstruksi
fleksibilitas,

punggung

sementara

yang

disisi

lain

unik
tetap

tersebut

memungkin

dapat

memberikan

perlindungan yang maksimal terhadap sumsum tulang belakang.


Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada
saat berlari atau melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan
tulang belakang. Otot-otot abdominal dan toraks sangat penting pada
aktivitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan
melemahkan struktur pendukung ini.
Mengangkat beban berat pada posisi membungkuk/menyamping
menyebabkan otot tidak mampu mempertahankan posisi tulang
belakang, thoracal dan lumbal, sehingga pada saat facet joint lepas dan
disertai tarikan dari samping, terjadi gesekan pada kedua permukaan
facet sendi menyebabkan ketegangan otot di daerah tersebut yang
akhirnya menimbulkan keterbatasan gesekan pada tulang belakang.
Obesitas, masalah postur, masalah struktur dan peregangan berlebihan
pendukung tulang dapat berakibat nyeri punggung.
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika
usia bertambah tua. Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas
fibrokartiago dengan matriks gelatinus. Pada lansia akan menjadi
fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Diskus lumbal bawah, L4-L5
dan L5-SI, mederita stress mekanis paling berat dan perubahan
degenerasi terberat. Penonjolan faset dapat mengakibatkan penekanan
pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang menyebabkan
nyeri menyebar sepanjang saraf tersebut. Sekitar 12% orang dengan
nyeri punggung bawah yang menderita Hernia nucleus pulposus.

2.1.6. Pemeriksaan Fisik


Inspeksi
Pada inspeksi yang peru diperhatikan :
a. Kurvatura yag berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya angulasi, pelvis yang
miring atau asimetris, muskular paravertebral atau pantat yang asimetris, postur
tungkai yang abnormal
b. Observasi punggung, pelvis, dan tungkai selama bergerak apakah ada hambatan
selama melakukan gerakan
c. Pada saat penderita menanggalkan atau mengenakan pakaian, apakah ada gerakan
yang tidak wajar atau terbatas
d. Observasi penderita saat berdiri, duduk, bersandar maupun berbaring dan bangun
dari berbaring
e. Perlu dicari kemungkinan adanya atrofi otot, fasikulasi, pembengkakan,
perubahan warna kulit.
Palpasi dan perkusi
a. Pada palpasi, terlebih dahulu diraba daerah yang sekitarnya paling ringan rasa
nyerinya, kemudian menuju ke arah daerah yang terasa paliag nyeri.
b. Ketika meraba kolumna vertebralis sejogjanya dicari kemungkinan adanya deviasi
ke lateral atau anterior posterior
Pemeriksaan Neurologik
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan apakah kasus nyeri
pinggang bawah adalah benar karena adanya gangguan saraf atau
karena sebab yang lain.
1. Pemeriksaan sensorik
Bila nyeri pinggang bawah disebabkan oleh gangguan pada
salah satu saraf tertentu maka biasanya dapat ditentukan adanya
gangguan sensorik dengan menentukan batas-batasnya, dengan
demikian segmen yang terganggu dapat diketahui. Pemeriksaan
sensorik ini meliputi pemeriksaan rasa rabaan, rasa sakit, rasa suhu,

rasa dalam dan rasa getar (vibrasi). Bila ada kelainan maka
tentukanlah batasnya sehingga dapat dipastikan dermatom mana
yang terganggu.
2. Pemeriksaan motorik
Dengan mengetahui segmen otot mana yang lemah maka
segmen mana yang terganggu akan diketahui, misalnya lesi yang
mengenai segmen L4 maka musculus tibialis anterior akan
menurun kekuatannya. Pemeriksaan yang dilakukan :
a. Kekuatan : fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki,
ibu jari, dan jari lainnya dengan menyuruh penderita melakukan
gerakan fleksi dan ekstensi, sementara pemeriksaan menahan
gerakan tadi.
b. Atrofi : perhatikan atrofi otot
c. Perlu perhatikan adanya fasikulasi ( kontraksi involunter yang
bersifat halus) pada otot otot tertentu.
3. Pemeriksaan reflek
Reflek tendon akan menurun pada atau menghilang pada lesi
motor neuron bawah dan meningkat pada lesi motor atas. Pada
nyeri punggung bawah yang disebabkan HNP maka reflek tendon
dari segmen yang terkena akan menurun atau menghilang
-

Refleks lutut/patela : lutut dalam posisi fleksi ( penderita dapat


berbaring atau duduk dengan tungkai menjuntai), tendo patla
dipukul dengan palu refleks. Apabila ada reaksi ekstensi tungkai
bawah, maka refleks patela postitif. Pada HNP lateral di L4-L5,
refleksi ini negatif.

Refleks tumit/achiles : penderita dalam posisi berbaring, lutut


dalam posisi fleksi, tumit diletakkan di atas tungkai yang
satunya, dan ujung kaki ditahan dalam posisi dorsofleksi ringan,
kemudian tendo achiles dipukul. Apabila terjadi gerakan plantar

fleksi maka refleks achiles positif. Pada HNP lateral L5-S1,


refleksi ini negatif.
4. Tes-tes yang lazim digunakan pada penderita low back pain
a. Tes lasegue (straight leg raising)
Tungkai difleksikan pada sendi coxa sedangkan sendi lutut tetap
lurus. Saraf ischiadicus akan tertarik. Bila nyeri pinggang
dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan dirasakan
pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat sampai
ujung kaki.
b. Crossed lasegue
Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan rasa
nyeri pada tungkai yang sakit maka dikatakan crossed lasegue
positif. Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau akar-akar
saraf yang membentuk saraf ini.
c. Tes kernig
Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi,
setelah sendi coxa 90 derajat dicoba untuk meluruskan sendi
lutut
d. Patrick sign (FABERE sign)
FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi, external,
rotasi, extensi. Pada tes ini penderita berbaring, tumit dari kaki
yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang lain.
Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut hingga terjadi
rotasi keluar. Bila timbul rasa nyeri maka hal ini berarti ada
suatu sebab yang non neurologik misalnya coxitis.
e. Chin chest maneuver
Fleksi pasif pada leher hingga dagu mengenai dada. Tindakan
ini akan mengakibatkan tertariknya myelum naik ke atas dalam
canalis spinalis. Akibatnya maka akar-akar saraf akan ikut
tertarik ke atas juga, terutama yang berada di bagian thorakal

bawah dan lumbal atas. Jika terasa nyeri berarti ada gangguan
pada akar-akat saraf tersebut
f. Viets dan naffziger test
Penekanan vena jugularis dengan tangan (viets)atau dengan
manset sebuah alat ukur tekanan darah hingga 40 mmhg
(naffziger)
g. Obers sign
Penderita tidur miring ke satu sisi. Tungkai pada sisi tersebut
dalam posisi fleksi. Tungkai lainnya di abduksikan dan
diluruskan lalu secara mendadak dilepas. Dalam keadaan normal
tungkai ini akan cepat turun atau jatuh ke bawah. Bila terdapat
kontraktur dari fascia lata pada sisi tersebut maka tungkainya
akan jatuh lambat.
h. Neris sign
Penderita berdiri lurus. Bila diminta untuk membungkuk ke
depan akan terjadi fleksi pada sendi lutut sisi yang sakit.
i. Percobaan Perspirasi
Percobaan ini untuk menunjukkan ada atau tidaknya gangguan
saraf autonom, dan dapat pula untuk menunjukkan lokasi
kelainan yang ada yaitu sesuai dengan radiks atau saraf spinal
yang terkena.
2.1.7. Pemeriksaan penunjang
a. X-ray
X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi
tulang,sendi, dan luka degeneratif pada spinal. X-ray merupakan
tes yang sederhana, dan sangat membantu untuk menunjukan
keabnormalan pada tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang
diagnosis pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung, dan
biasanya dilakukan sebelum melakukan tes penunjang lain seperti

MRI atau CT scan. Foto X-ray dilakukan pada posisi


anteroposterior (AP ), lateral, dan bila perlu oblique kanan dan kiri.

Gambar 1. Hasil Foto Lumbar Spine


b.

Myelografi
Myelografi adalah pemeriksan X-ray pada spinal cord dan

canalis spinal. Myelografi merupakan tindakan infasif, yaitu cairan


yang berwarna medium disuntikan ke kanalis spinalis, sehingga
struktur bagian dalamnya dapat terlihat pada layar fluoroskopi dan
gambar X-ray. Myelogram digunakan untuk diagnosa pada penyakit
yang berhubungan dengan diskus intervertebralis, tumor spinalis, atau
untuk abses spinal.

Gambar 2. Hasil Foto Spinal Cord

c. Computed Tornografi Scan ( CT- scan ) dan Magnetic Resonance


Imaging (MRI )
CT-scan merupakan tes yang tidak berbahaya dan dapat digunakan
untuk pemeriksaan pada otak, bahu, abdomen, pelvis, spinal, dan
ekstemitas. Gambar CT-scan seperti gambaran X-ray 3 dimensi.
MRI dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yang lebih
jelas daripada CT-scan. Selain itu MRI menjadi pilihan karena
tidak mempunyai efek radiasi. MRI dapat menunjukkan gambaran
tulang secara sebagian sesuai dengan yang dikehendaki. MRI dapat
memperlihatkan diskus intervertebralis, nerves, dan jaringan
lainnya pada punggung.

Gambar 3. Hasil Lumbar Spine


2.1.8. Penatalaksanaan
Karena penyebab LBP sangat beraneka ragam maka tatalaksana
LBP juga bervariasi. Namun dikenal 2 tahapan terapi LBP, yaitu:
konservatif dan operatif. Kedua tahapan terapi tersebut mempunyai
kesamaan tujuan yaitu untuk rehabilitasi.

a. Terapi Konservatif
Cara konservatif meliputi bed rest (rehat baring), medikamentosa
dan fisioterapi.

Bed Rest
Penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa
hari dengan sikap tertentu. Tempat tidur tidak boleh memakai
pegas atau per. Tempat tidur harus dari papan yang lurus dan
ditutup dengan lembar busa tipis.
Tirah baring ini sangat bermanfaat untuk nyeri punggung
mekanik akut, fraktur, dan HNP. Pada HNP sikap terbaring
paling banyak ialah dalam posisi setengah duduk dimana
tungkai dalam sikap fleksi pada sendi panggul atau lutut. Lama
tirah baring bergantung pada berat-ringannya gangguan yang
dirasakan penderita.

Mendikamentosa
Ada 2 jenis obat dalam tatalaksana LBP ini, ialah obat yang
bersifat simtomatik dan yang bersifat kausal. Obat-obat
simtomatik antara lain
analgetika:
o Salisilat
Merupakan analgesik yang paling tua, selain khasiat
analgesik

jugamempunyai

khasiat

antipiretik,

antiinflamasi, dan antitrombotik.


Contohnya : Aspirin
o Paracetamol
Paracetamol dianggap sebagai analgesik-antipiretik yang
paling amanuntuk menghilangkan rasa nyeri tanpa disertai
inflamasi.
o Dan obat simtomatik lainnya seperti : kortikosteroid
(prednisone, prednisolon), anti-inflamasi non steroid
(AINS) misalnya piroksikam, antidepresan trisiklik (secara
sentral) misalnya amitriptilin dan obat penenang minor,
misanya diazepam, klordiasepoksid.

Obat-obatan kausal misalnya antituberkulosis, antibiotika


untuk

spondilitis

piogenik,

nukleolisis

misalnya

khimopapain, kolagenase (untuk HNP).

Fisioterapi
Biasanya dalam bentuk diatermi (pemanasan dengan jangkauan
permukaan yang lebih dalam) misalnya pada HNP, trauma
mekanik akut, serta traksi pelvis misalnya untuk relaksasi otot
dan mengurangi lordosis.
Terapi Panas
Terapi menggunakan kantong dingin kantong panas.
Dengan menaruh sebuah kantong dingin di tempat daerah
punggung yang terasa nyeri atau sakit selama 5-10 menit.
Jika selama 2 hari atau 48 jam rasa nyeri masih terasa
gunakan heating pad (kantong hangat).
Acupunture
Menggunakan jarum untuk memproduksi rangsangan
yang ringan tetapi cara ini tidak terlalu efisien karena
ditakutkan resiko komplikasi akibat ketidaksterilan jarum
yang digunakan sehingga menyebabkan infeksi.
Ultra Sound
Radiofrequency Lesioning
Dengan menggunakan impuls listrik untuk merangsang
saraf Spinal Endoscopy. Dengan memasukkan endoskopi
pada

kanalis

spinalis

untuk

memindahkan

menghilangkan jaringan scar.


Traction
Tarikan pada badan ( punggung ) untuk kontraksi otot.

atau

Gambar 4. Traksi Pada Pasien LBP


Lying supine hamstring stretch

Gambar 5. Posisi Lying Supine Hamstring Stretch


Pelvic Tilt

Gambar 6. Posisi Pelvic Tilt


Sitting leg stretch

Gambar 7. Posisi Sitting leg stretch


Hip and quadriceps stretch

Gambar 8. Posisi Hip and quadriceps stretch

Alat Bantu
Back corsets

Gambar 9. Gambar back corsets


Tongkat Jalan
b. Terapi Operatif
Pada dasarnya terapi operatif dikerjakan apabila dengan
tindakan konservatif tidak memberikan hasil yang nyata, atau
terhadap kasus fraktur yang langsung mengakibatkan deficit
neurologic. Yang terakhir ini memerlukan tindakan segera (cito).
Defisit neurologic yang dapat diketahui adalah gangguan fungsi
otonom dan paraplegia. Pada kasus HNP, tindakan konservatif
perlu dikerjakan apabila terapi konservatif tidak memberi hasil atau
kambuh berulang-ulang, atau telah terjadi deficit neurologik.
Tipe operasi yang dilakukan oleh dokter bedah tergantung
pada tulang belakang/punggung pasien. Biasanya prosedurnya
menyangkut pada LAMINECTOMY bagiam yang diangkat dari

vertebral arch untuk memperoleh kepastian apa penyebab dari LBP


pasien. Jika disc menonjol atau bermasalah, para ahli bedah akan
melakukan bagian laminectomy untuk mencari tahu vertebral
kanal, mengidentisir ruptered disc ( disc yang buruk ), dan
mengambil atau memindahkan bagian yang baik dari disc yang
bergenerasi, khususnya kepingan atau potongan yang menindih
saraf.
Ahli bedah mungkin mempertimbangkan prosedur kedua
yaitu SPINAL FUSION, jika si pasien merasa membutuhkan
keseimbangan di bagian spinenya. Spinal fusion merupakan operasi
dengan menggabungkan vertebral dengan bone grafts. Kadang graft
tersebut dikombinasikan dengan metal plate atau dengan alat
yang lain. Ada juga sebagian herniated disc ( disc yang
menonjol ) yang dapat diobati dengan teknik PERCUTANEOUS
DISCECTOMY, yang mana discnya diperbaiki menembus atau
melewati kulit tanpa membedah dengan menggunakan X-ray
sebagai

pemandu.

Ada

juga

cara

lain

yaitu

CHEMONEUCLOLYSIS, cara ini menggunakan penyuntikan


enzim-enzim ke dalam disc. Cara ini sudah jarang digunakan.