Anda di halaman 1dari 12

PSIKOTROPIK

Adalah obat yang mempengaruhi fungsi perilaku, emosi dan pikiran yang biasa
digunakan dalam bidang psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa.
Pengobatan dengan psikotropik bersifat simptomatis, hanya mengubah keadaan jiwa
pasien sehingga lebih kooperatif dan dapat menerima psikoterapi dengan lebih baik.

Antipsikosis bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronis, suatu gangguan jiwa
yang berat. Ciri-ciri terpenting obat antipsikosis adalah :

Berefek antipsikosis (mengatasi agresivitas, hiperaktivitas dan labilitas emosional)


Dosis besar tidak menyebabkan koma yang dalam atau anastesia
Dapat menimbulkan EPS yang reversibel maupun ireversibel
Tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis

Antiansietas terutama untuk pengobatan simptomatis penyakit psikoneurosis (keluhan


subyektif tanpa gangguan somatic yang nyata dengan fungsi mental-kognitif tidak terganggu)
dan berguna untuk terapi tambahan penyakit somatic dengan cirri ansietas dan ketegangan
mental. Ansietas adalah perasaan khawatir atau ketakutan yang ditandai dengan gejala fisik

seperti palpitasi, berkeringat dan tanda-tanda stess lainnya. Penggunaan antiansietas dosis tinggi
dan jangka panjang dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis.
Antidepresi adalah obat untuk mengatasi atau mencegah depresi mental. Depresi adalah
gangguan mental dengan penurunan mood, kehilangan minat atau perasaan senang, adanya
perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan tidur atau penurunan selera makan, sulit
konsentrasi atau kelemahan fisik.
Antimania adalah obat yang kerjanya terutama mencegah naik turunnya mood pada
pasien gangguan bipolar (sindrom manic-depresi).

ANTIANSIETAS
Obat yang digunakan untuk pengobatan antiansietas adalah sedatif atau obat-obatan yang
memiliki sifat sama dengan sedatif.

GOLONGAN BENZODIAZEPIN
Farmakokinetik
Semua benzodiazepin dalam bentuk nonionik memiliki koefisien distribusi lemak : air
yang tinggi, namun sifat lipofiliknya bervariasi tergantung polaritas dan elektronegativitas
berbagai senyawa benzodiazepin.
Semua benzodiazepin diabsorpsi secara sempurna kecuali klorazepat.
Golongan benzodiazepin menurut lama kerjanya dibagi menjadi 4 golongan :

Senyawa yang bekerja sangat cepat


Senyawa bekerja cepat (t1/2 < 6 jam)
Senyawa yang bekerja sedang (t1/2 6 24 jam)
Senyawa yang bekerja dengan t1/2 lebih dari 24 jam

Setelah pemberian peroral, klordiazepoksid mencapai kadar tertinggi dalam 8 jam dan
tetap tinggi selama 24 jam.
Benzodiazepin dan metabolit aktifnya terikat pada protein plasma. Pemberian
benzodiazepin IV atau per oral (benzodiazepin yang diabsorbsi cepat) ambilan ke dalam otak dan
organ dengan perfusi tinggi lainnya terjadi sangat cepat, diikuti dengan redistribusi ke jaringan
yang kurang baik perfusinya, seperti otot dan lemak. Benzodiazepin dapat melewati sawar uri
dan disekresi ke ASI.
Benzodiazepin dimetabolisme di hati oleh enzim P450. Metabolit aktif benzodiazepin
umumnya dibiotransformasi lebih lambat dari senyawa asalnya sehingga lama kerja
benzodiazepin tidak sesuai dengan waktu paruh eliminasi obat asalnya.
Metabolisme benzodiazepin terbagi dalam 3 tahap, yaitu :
1. Desalkilasi
2. Hidroksilasi
3. Konjugasi
Ekskresi melalui ginjal lambat, setelah pemberian satu dosis, obat ini masih dapat
ditemukan di urin selama beberapa hari.

Farmakodinamik
Efek farmakologik klorpromazin dan antipsikosis lainnya meliputi efek pada susunan
saraf pusat, sistem otonom, dan sistem endokrin. Efek ini terjadi karena antipsikosis
menghambat berbagai reseptor diantaranya dopamin, reseptor alfa adrenergik, muskarinik,
histamin H1 dan reseptor 5HT2 dengan afinitas yang berbeda-beda.
Efek utama berupa sedasi, hipnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas,
relaksasi otot, dan antikonvulsi. Berbagai efek mirip benzodiazepine digolongkan sebagai :

Efek agonis penuh yaitu senyawa yang sepenuhnya serupa efek benzodiazepine misalnya
diazepam

Efek agonis parsial yaitu efek senyawa yang menghasilkan efek maksimum yang kurang

kuat dibandingkan diazepam


Efek inverse agonist yaitu senyawa yang menghasilkan efek kebalikan dari efek

diazepam pada saat tidak adanya senyawa yang mirip benzodiazepine


Efek inverse agonist parsial

Susunan Saraf Pusat. Benzodiazepin tidak mampu menghasilkan tingkat depresi saraf
sekuat golongan barbiturat atau anastesi umum. Peningkatan dosis benzodiazepine menyebabkan
depresi SSP yang meningkat dari sedasi ke hipnosis dan dari hipnosis ke stupor sehingga sering
disebut dengan efek anesthesia, tetapi obat golongan ini tidak benar-benar memperlihatkan efek
anesthesia umum yang spesifik karena kesadaran pasien tetap bertahan dan relaksasi otot yang
diperlukan untuk pembedahan tidak tercapai. Apabila akan digunakan sebagai anestesia,
benzodiazepine harus dikombinasikan dengan obat pendepresi SSP lain.
Beberapa benzodiazepine menginduksi hipotonia otot tanpa gangguan gerak otot normal.
EEG dan Tingkatan Tidur. Menyebabkan aktivitas menurun sehingga terjadi
peningkatan dalam aktivitas cepat tegangan-rendah. Toleransi terjadi pada efek tersebut. Secara
keseluruhan efek pemberian benzodiazepine menaikkan tidur total, terutama karena penambahan
waktu pada tingkatan 2 yang merupakan bagian terbesar pada tidur non-REM
Pernafasan. Pada penggunaan dengan dosis agak tinggi, misalnya pada anestesi
premedikasi atau pada endoskopi, benzodiazepine sedikit mendepresi ventilasi alveoli dan
menyebabkan asidosis respiratorik, hal ini lebih karena penurunan keadaan hipoksia alveolar
daripada dorongan hiperkaptik. Obat ini dapat menyebabkan apnea selama anestesi atau bila
diberikan bersama opiat.
Benzodiazepin dapat menyebabkan hipoventilasi dan hipoksemia pada beberapa pasien
PPOK (Penyakit Paru Obstruki Kronik). Pada pasien apnea saat tidur karena sumbatan
(Obstructive Sleep Apnea), efek hipnoti benzodiazepin dapat menurunkan tonus otot pada
saluran nafas atas dan meningkatkan terjadinya episode apnea pada hipoksia alveolar.
Benzodiazepin dikontraindikasikan pada pasien yang secara regular tidur mendengkur.

Sistem Kardiovaskular. Hipotensi ortostatik dan peningkatan denyut nadi saat istirahat
sering terjadi. Tekanan arteri rata-rata, resistensi perifer, curah jantung menurun dan frekuensi
denyut jantung meningkat. Diperkirakan karena efek otonom dari obat itu sendiri.
Saluran Cerna. Benzodiazepin diduga dapat memperbaiki gangguan saluran cerna yang
berhubungan dengan adanya ansietas. Diazepam dapat menurunkan sekresi cairan lambung
waktu malam.

Mekanisme Kerja
Kerja benzodiazepin terutama berupa interaksi dengan reseptor penghambat
neurotransmitter yang diaktifkan oleh asam gamma amino butirat (GABA). Reseptor GABA
dibagi menjadi dua yaitu GABAA (berperan pada sebagian besar neurotransmitter di SSP) dan
GABAB (digabungkan terhadap mekanisme signal transduksinya oleh protein G). Benzodiazepin
bekerja pada reseptor GABAA.
Benzodiazepin berikatan pada sisi spesifik reseptor GABAA, sedangkan GABA berikatan
pada subunit atau . Pengikatan ini akan menyebabkan pembukaan kanal klorida,
memungkinkan masuknya ion klorida ke dalam sel, meningkatkan potensial elektrik sepanjan
membran sel dan menyebabkan sel sukar tereksitasi.
Benzodiazepin membutuhkan GABA untuk mengekspresikan efeknya. Ikatan
benzodiazepin-reseptor tersebut dapat bekerja sebagai agonis, antagonis atau inverse agonis pada
daerah reseptor benzodiazepin, tergantung kepada senyawa yang terikat. Senyawa agonis
menaikkan sedangkan inverse agonis menurunkan jumlah aliran klorida yang teraktivasi reseptor
GABAA. Efek agonis maupun inverse agonis dapat diblok oleh antagonis reseptor benzodiazepin,
tetapi tidak memberikan efek pada fungsi reseptor GABAA.

Efek Samping
Kantuk dan ataksia. Peningkatan hostilitas dan iritabilitas dan vivid dreams dan
mengganggu kadang dikaitkan dengan pemberian benzodiazepine. Perangsangan nafsu makan.
Umumnya toksisitas klinik benzodiazepine rendah. Diantara reaksi toksik
klordiazepoksid yang dijumpai adalah ruam, mual, nyeri kepala, gangguan fungsi seksual,
vertigo dan kepala rasa ringan.
Intoksikasi benzodiazepine biasanya tidak berat dan tidak memerlukan terapi khusus.
Derivat benzodiazepine sebaiknya jangan diberikan bersama alcohol, barbiturate atau fenotiazin
karena mungkin menibulkan efek depresi yang berlebihan.

Indikasi dan Sediaan


Digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas, dan keadaan
psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Sebagai hipnotik, antikonvulsi, pelemas
otot dan induksi anestesi umum.
Klordiazepoksid diberikan per oral atau bila sangat diperlukan, suntikan dapat diulang 2
4 jam dengan dosis 25 100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian.
Diazepam 2 20 mg sehari. Pemberian suntikan dapat diulang tiap 3 4 jam. Bentuk
sediaan tablet 2 dan 5 mg dan larutan untuk pemberian rectal pada anak dengan kejang demam.
Klorazepat per oral 30 mg sehari dengan dosis terbagi.

Toleransi dan Ketergantungan Fisik


Terjadi bila benzodiazepine diberikan dalam dosis tinggi dan jangka waktu lama. Gejala
putus obat mungkin tidak nampak selama 1 minggu sesudah penghentian obat pada pemakaian
kronik

BUSPIRON

Adalah contoh dari golongan azaspirodekandion yang potensial berguna dalam


pengobatan ansietas. Buspiron tidak memperlihatkan antivitas GABA-ergik dan antikonvulsi.
Interaksi dengan antidepresi susunan saraf pusat minimal.
Buspiron merupakan antagonis selektif reseptor serotonin. Potensial antagonis
dopaminergiknya rendah sehingga resiko menimbulkan efek samping sindrom ekstrapiramidal
pada dosis pengobatan ansietas kecil.
Tidak ada toleransi silang antara buspiron dengan benzodiazepine sehingga kedua obat
tidak dapat saling menggantikan.

PEMILIHAN SEDIAAN
Dalam memilih antiansietas didasarkan para pengalaman klinik, berat ringannya penyakit
serta tujuan khusus penggunaan obat.
Golongan benzodiazepine lebih baik dari barbiturate karena barbiturate menyebabkan
hang over, efek ketergantungan dan gejala putus obat yang lebih besar.
Pada generalized anxiety disorder, sering dikombinasikan bersama antidepresan (sering
dengan antidepresi trisiklik, SSRI)

ANTIDEPRESAN
Indikasi tersering adalah depresi mayor (klinis). Selain itu juga digunakan untuk episode
gangguan bipolar yang biasanya diobati dengan litium. Indikasi lainnya adalah gangguan panik,
gangguan obsesif kompulsif, eneuresis dan nyeri kronik.

ANTIDEPRESAN TRISIKLIK
Derivat dibenzazepin (Imipramin) dan derivat dibenzosikloheptadin (Amitriptilin) sering
digunakan untuk terapi depresi. Golongan obat ini bekerja dengan menghambat ambilan kembali

neurotransmitter di otak dengan sensitivitas berbeda-beda untuk serotonin, norepinefrin,


dopamin. Tidak jelas hubungan antara mekanisme penghambatan ambilan kembali katekolamin
dengan efek antidepresi-nya.

Farmakodinamik
Sebagian efek farmakodinamik antidepresi trisiklik mirip efek promazin
Efek Psikologik. Pada manusia normal, Imipramin menimbulkan rasa lelah, obat tidak
meningkatkan alam perasaan dan meningkatnya rasa cemas disertai gejala yang menyerupai efek
atropin. Pemberian berulang akan memperberat gejala ini.
Pada pasien depresi terjadi peningkatan alam perasaan. Efek baru muncul setelah
penggunaan selama 2 3 minggu. Terjadi mania, euphoria dan insomnia pada pasien psikiatri
menunjukan bahwa obat ini berefek stimulasi.
Susunan Saraf Otonom. Efek antimuskarinik seperti terjadi penglihatan kabur, mulut
kering, obstipasi dan retensi urin.
Kardiovaskular. Pada dosis terapi sering menimbulkan hipotensi ortostatik. Dapat juga
menimbulkan aritmia dan takikardia.

Sediaan dan Posologi


Imipramin bentuk tablet berlapis gula 10 mg dan 25 mg dan sediaan suntik 25 mg/ 2
mL. Dosis harus ditentukan untuk tiap kasus. Biasanya dimulai dengan 75 atau 100 mg terbagi
dalam beberapa kali pemberian untuk 2 hari pertama, kemudian 50 mg tiap hari sampai dicapai
dosis total harian 200 250 mg. Efek mulai timbul 2 3 minggu. Dosis yang memberikan efek
antidepresi dipertahankan selama beberapa minggu. Lambat lain dosis dikurangi hingga 50 100
mg sehari dan dipertahankan selama 2 6 bulan. Pada awal pengobatan, pemberian IM. Setelah
pasien lebih kooperatif, diberikan per oral.

Desmetilimipramin tablet 25 mg. Dosis permulaain biasanya 3 kali 25 mg sehari, selama


7 10 hari. Dosis kemudian ditambahkan atau dikurangi sesuai kebutuhan. Dosis pemeliharaan
50 mg / hari. Dosis maksimal 200 mg/hari
Amitriptilin tablet 10 dan 25 mg dan larutan suntuk 100 mg/10 mL. Dosis permulaan 75
mg sehari. Kemudian ditinggikan sampai timbul efek terapeutik, biasanya antara 150 mg 300
mg sehari

Efek Samping
Sering terjadi pengeluaran keringat yang berlebihan. Obat ini harus digunakan dengan
hati-hati pada pasien glaucoma atau hipertrofi prostat. Dibenzazepin menyebabkan perasaan
lemah dan lelah. Pasien lanjut usia lebih sering menderita pusing, hipotensi postural, sembelit,
sukar berkemih, edema dan tremor.
Efek toksik imipramin akut ditandai dengan hiperpireksia, hipertensi, konvulsi dan koma.
Pada keracunan dapat menimbulkan gangguan konduksi jantung dan aritmia.

PENGHAMBAT AMBILAN KEMBALI SEROTONIN YANG SELEKTIF (SSRI)


Golongan obat ini kurang memperlihatkan pengaruh terhadap sistem kolinergik,
adrenergik atau histaminergik, sehingga efek sampingnya lebih ringan.
Masa kerjanya panjang antara 15 24 jam, fluoksetin paling panjang 24 96 jam.
Paroksetin dan fluoksetin dapat meningkatkan kadar antidepresi trisiklik berdasarkan hambatan
enzim CYP.
Obat ini spesifik menghambat ambilan serotonin dan merupakan inhibitor spesifik P450
isoenzim. Efek samping yang sering adalah mual, penurunan libido dan fungsi seksual lainnya.
SSRI yang dikombinasikan dengan MAO inhibitor sangat berbaha karena dapat
menyebabkan peningkatan efek serotonin secara berlebihan yang disebut sindrom serotonin

dengan gejala hipertermia, kekakuan otot, kejang, kolaps kardiovaskular, dan gangguan perilaku
serta gangguan tanda vital.
Fluoksetin. Merupakan obat golongan SSRI paling luas digunakan karena kurang
menyebabkan antikolinergik, hampir tidak menimbulkan sedasi dan cukup diberikan satu kali
sehari. Dosis awal dewasa 20 mg/hari diberikan tiap pagi. Bila tidak diperoleh efek terapi setelah
beberapa minggu, dosis ditingkatkan 20 mg/hari hingga 30 mg/hari.
Sertralin. Sifatnya lebih selektif terhadap SERT (transporter serotonin) dan kurang
selektif terhadap DAT (transporter dopamin). Dapat meningkatkan kadar benzodiazepine,
klozapin dan warfarin.
Flufoksamin. Efek sedasi dan efe antimuskarinik kurang dari fluoksetin. Meningkatkan
metabolit oksidatif benzodiazepine, klozapin, teofilin, dan warfarin karena menghambat CYP
1A2, CYP 2C19 dan CYP 3A3/4
Paroksetin. Dimetabolisme oleh CYP 2D6, masa paruh 22 jam. Obat ini meningkatkan
kadar klozapin, teofilin, warfarin. Iritabilitas terjadi pada penghentian obat secara mendadak.
R-S-Sitalopram dan S-Sitalopram. Selektivitas terhadap SERT paling tinggi.
Metabolismenya oleh CYP 3A4 dan CYP 2C19 meningkatkan interaksinya dengan obat lain.

PENGHAMBAT MONO-AMIN-OKSIDASE
MAO dalam tubuh berfungsi dalam proses deaminasi oksidatif katekolamin di
mitokondria. Proses ini dihambat oleh MAOi akibatnya kadar epinefrin, norepinefrin dan 5-HT
dalam otak naik.
Penghambat MAO tidak hanya menghambat MAO tapi juga enzim lainnya, sehingga
mengganggu metabolisme banyak obat di hati. Penghambatan ini bersifat ireversibel dan
mencapai puncaknya dalam beberapa hari tetapi efek antidepresi baru terlihat setelah 2 3
minggu. Pemulihan metabolisme katekolamin baru terjadi setelah obat dihentikan 1 2 minggu.

Hipotensi terjadi karena penghambat MAO mencegah pelepasan norepinefrin dari ujung
saraf. Hipertensi terjadi karena tertimbunya katekolamin di dekat reseptor.
Efek samping berupa tremor, insomnia, konvulsi. Penghambat MAO jangan diberikan
bersama makanan mengandung tiramin, fenilpropanolamin, amfetamin, norepinefrin, dopamin,
obat antihipertensi dan levodopa.

Sediaan dan Posologi


Isokarboksazid tablet 10 mg. Dosis 3 kali 10 mg sehari. Efek terapi baru terlihat setelah 1 4
minggu.
Nialamid tablet 25 mg 100 mg. kurang toksik dan kurang efektif

Referensi :
Farmakologi dan Terapi Edisi 5 FKUI