Anda di halaman 1dari 15

Jalan sebagai Prasarana Transportasi

Jalan merupakan sistem tansportasi nasional yang sangat penting dalam


mendukung kegiatan ekonomi, politik, sosial, budaya serta lingkungan. Jalan
dikembangkan untuk hal-hal antara lain :

mencapai pemerataan pembangunan antar daerah,


membentuk dan memperkukuh persatuan nasional,
memantapkan pertahanan dan keamanan nasional serta membentuk
ruang untuk pengembangan prasarana nasional.

Dalam memenuhi prasarana darat yang baik, maka jalan harus mampu
mewujudkan hal berikut:

dapat mewujudkan yang menyebabkan pelaku jalan baik, orang dan


barang sampai tujuan dengan selamat,
mampu mendukunng kegiatan ekonomi, sosial, budaya serta lingkungan.
dilakukan dalam waktu secepat mungkin dengan biaya yang adil untuk
setiap lapisan masyarakat.

Hal tersebut akan mewudkan kenyamanan bagi pengguna jalan, maka dari
tuntutan tersebut yang mendasari perencanaan geometri jalan. Geometri jalan
adalah perencanaan geometrik atau dimensi nyata jalan beserta bagianbagiannya disesuaikan dengan tuntutan serta sifat-sifat lalu lintas. Sifat-sifat
perjalanan yang harus dipenuhi adalah perjalanan berjarak pendek dengan
dengan variasi tempat tujuan sampai dengan tempat yang jauh dengan tempat
tujuan yang lebih menyatu.
Demikianlah yang mendasari sistem hierarki jalan yang diturunkan menjadi
klasifikasi jalan berdasarkan fungsinya. Setiap jalan dengan fungsi tertentu
harus di desain dengan dimensi tertentu agar bisa mengkoordinir jumlah beban
kendaraan yang melaluinya dengan kecepatan tertentu, hai inilah yang nantinya
akan mewujudkan rasa nyaman bagi pengguna jalan. Bentuk dan dimensi jalan
standart ini yang nantinya akan mewujudkan keselamatan transportasi darat.

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Kendaraan Standart dalam Perancangan

Ada 4 kategori kendaraan standart yang mendapat izin beroperasi di jalan :


1. kendaraan kecil dengan kategori panjang dan lebar maksimum
9000x2100 mm, dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 8 Ton, diijinkan
untuk melalui kategori semua jenis jalan antara lain jalan lingkunan, jalan
arteri, jalan lokal, jalan kolektor.
2. kendaraan sedang dengan kategori panjang dan lebar maksimum
18000x2500 mm dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 8 Ton, diijinkan
terbatas hanya jalan kolektor dan arteri. Kendaraan sedang tidak
diperbolehkan masuk ke jalan lokal dan lingkungan.
3. kendaraan besar dengan kategori panjang dan lebar maksimum
18000x2500 mm dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 10 Ton,
diijinkan berjalan hanya pada jalan arteri saja.
4. kendaraan besar khusus dengan kategori panjang dan lebar maksimum
18000x2500 mm dan MST 10 Ton, diijinkan sangat terbatas hanya di
jalan arteri kelas satu saja. Baik kendaraan besar dan kendaraan besar
khusus dilarang melintas di jalan lokal, jalan lingkungan dan jalan
kolektor.
Izin yang terbatas untuk kendaraan besar khusus, besar serta sedang bukan
berarti akan menghambat atau memotong arus barang yang akan diantar akan
tetapi untuk mewujudkan efisensi. Untuk memfasilitasi setiap kendaraan besar
yang akan melintas perlu dibuat terminal sebagai tempat pergantian moda.
Ketentuan dari terminal tersebut akan dipakai untuk dasar prasarana
transportasi yang aman sehingga jalanpun di desain mengikuti penggunanya.

Macam-macam Jalan
Kelas jalan berdasarkan fungsi dari penggunanya.
(PP 43/1993,PP44/1993,RUU LLAJ/2006)
Kelas
Jalan

Fungsi
Jalan

Dimensi Maksimum dan Muatan Sumbu Terberat (MST) Kendaran


bermotor yang harus mampu ditampung.
Lebar
(mm)

Panjang
(mm)

MST
(Ton)

UU 14/1992, ps 7, dan PP 43/1993, ps. 11 ayat (1)


RUU LLAJ/2006 ps. 12 ayat (1) s.d. (4)
I
Arteri
2500
18000
>10
II
2500
18000
10
IIIA
Arteri /
2500
18000
8
kolektor
IIIB
kolektor
2500
12000
8

Tinggi
(mm)
PP 44/1993, ps. 115,
ayat (1) huruf b
4200 dan tidak lebih
tinggi dari 1,7 x
lebar kendaraan

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

IIIC

Cataan

Lokasi
2100
9000
8
dan
lingkung
an.
Dalam keadaan tertentu daya dukung jalan (MST) kelas IIIC dapat
ditetapkan lebih rendah dari 8 ton.
Panjang maksimum kendaraan penarik 12000. Jika ditambah gandengan
atau tempelan maka panjang maksimum tidak lebih dari 18000 mm.

Jalur Lalu Lintas


Jalur lalu lintas (travelled way / carriage way) adalah keseluruhan
bagian perkerasan jalan yang diperuntukkan untuk lalu lintas jalan.
Lebar lajur lalu lintas
Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh
marka jalan. Besarnya lebar jalur lalu lintas hanya dapat ditentukan dengan
pengamatan langsung di lapangan karena :
a. Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapat diikuti oleh
lintasan kendaraan lain dengan tepat
b. Lajur lalu lintas tak mungkin tepat sama dengan lebar kendaraan
maksimum. Untuk keamanan dan kenyamanan setiap pengemudi
membutuhkan ruang gerak antara kendaraan
c. Lintasan kendaraan tak mungkin dibuat tetap sejajar sumbu lajur lalu
lintas, karena kendaraan selama bergerak akan mengalami gaya-gaya
samping seperti tidak ratanya permukaan, gaya sentrifugal di
tikungan, dan gaya angin akibat kendaraan lain yang menyiap.
Tabel Penentuan Lebar Lajur Jalan Ideal.
fungsi
Kelas
Arteri
I, II, IIIA
Kolektor
IIIA, IIIB
Lokal
IIIC

Lebar Jalur (m)


3,50 / 3,75
3,00
3,00

Lebar jalur lalu lintas


Lebar jalur sangat ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur
peruntukannya. Berikut tabel yang menunjukkan lebar jalur dan bahu jalan
sesuai dengan VLHR-nya.
VLHR
ARTERI
KOLEKTOR
LOKAL
Smp/hari
Ideal
Minimum Ideal
Minimum Ideal
Minimum
Jalu Bah Jalu Bah Jalu Bah Jalu Bah Jalu Bah Jalu Bah
r
u
r
u
r
u
r
u
r
u
r
u
<3000
6,0 1,5 4,5 1,0 6,0 1,5 4,5 1,0 6,0 1,0 4,5 1,0
3000-10000
7,0 2,0 6,0 1,5 7,0 1,5 6,0 1,5 7,0 1,5 6,0 1,0
100017,0 2,0 7,0 2,0 7,0 2,0 Mengacu pada Tidak
25000
persyaratan
ditentukan
>25000
2n
2,5 2 x 2,0 2n
2,0 ideal
x
7,0
x
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

3,5

3,5

Keterangan
2n x 3,5 2 = 2 jalur
n = jumlah lajur per jalur
n x 3,5 = lebar per lajur

Jumlah lajur lalu lintas


Jumlah lajur yang dibutuhkan sangat tergantung dari volume lalu lintas
yang akan memakai jalan tersebut dan tingkat pelayanan jalan yang
diharapkan.
Jumlah lajur ditetapkan mengacu kepada MKJI berdasarkan tingkat
kinerja yang direncanakan, dimana untuk suatu ruas jalan dinyatakan oleh
nilai rasio antara volume terhadap kapasitas yang nilainya tidak lebih dari
0,80.
Beberapa tipe jalur lalu lintas, diantaranya:

2/2 TB (2/2 UD) : 2 lajur, 2 jalur, tak terbagi

2/1 TB (2/1 UD) : 2 lajur, 1 jalur, tak tebagi

4/2 B (4/2 D) : 4 lajur, 2 jalur, terbagi


n/2 B (n/2 D) : n lajur, 2 jalur, terbagi

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Bahu Jalan
Bahu jalan adalah jalur yang terletak di tepi jalur lalu lintas. Bahu jalan
mempunyai kemiringan untuk keperluan pengairan air dari permukaan jalan
dan juga untuk memperkokoh konstruksi perkerasan. Kemiringan bahu jalan
normal antara 3% - 5%.

Fungsi Bahu Jalan


Bahu jalan berfungsi sebagai :
Ruangan untuk tempat berhenti sementara kendaraan yang mogok
atau yang sekedar berhenti karena pengemudi ingin berorientasi
mengenai jurusan yang akan ditempuh, atau untuk istirahat.

Ruangan untuk menghindarkan diri dari saat-saat darurat, sehingga


dapat mencegah terjadinya kecelakaan.

Memberikan kelegaan pada pengemudi dengan demikian dapat


meningkatkan kapasitas jalan yang bersangkutan.

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Memberikan sokongan pada konstruksi perkerasan jalan dari arah


samping.

Ruangan untuk lintasan kendaraan-kendaraan patroli, ambulans, yang


sangat dibutuhkan pada keadaan darurat seperti terjadinya
kecelakaan.

Jenis Bahu Jalan


Berdasarkan tipe perkerasannya, bahu jalan dapat dibedakan atas :
Bahu lunak (soft shoulder) yaitu bahu jalan yang tidak diperkeras,
hanya dibuat dari material perkerasan jalan tanpa pengikat. Biasanya
digunakan material agregat bercampur sedikit lempung.
Bahu yang tidak diperkeras ini dipergunakan untuk daerah-daerah
yang tidak begitu penting, dimana kendaraan yang berhenti dan
mempergunakan bahu tidak begitu banyak jumlahnya.
Bahu diperkeras (hard shoulder) yaitu bahu yang dibuat dengan
mempergunakan bahan pengikat sehingga lapisan tersebut lebih
kedap air dibandingkan dengan bahu yang tidak diperkeras.
Bahu jenis ini dipergunakan: untuk jalan-jalan dimana kendaraan yang
akan berhenti dan memakai bagian tersebut besar jumlahnya, seperti di
sepanjang jalan tol, di sepanjang jalan arteri yang melintasi kota, dan di
tikungan-tikungan yang tajam.

Median
Median adalah suatu jalur yang terletak di tengah jalan untuk
membagi jalan dalam masing-masing arah. Jalan 2 arah dengan 4 lajur atau
lebih harus dilengkapi median.
Fungsi Median

Menyediakan daerah netral yang cukup lebar dimana pengemudi


masih dapat mengontrol kendaraannya pada saat-saat darurat
Menyediakan jarak yang cukup untuk membatasi /mengurangi
kesilauan terhadap lampu besar dari kendaraan yang berlawanan arah
Menambah rasa kelegaan, kenyamanan dan keindahan bagi setiap
pengemudi
Mengamankan kebebasan samping dari masing-masing arah arus lalulintas
Ruang lapak tunggu penyeberang jalan
Penempatan fasilitas jalan
Tempat prasarana kerja sementara
Penghijauan

Jenis Median
Median dapat dibedakan atas 2 :
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Median direndahkan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah


yang direndahkan
Median ditinggikan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah
jalur yang ditinggikan

Lebar Median
Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25 0,50 meter
dan bangunan pemisah lajur.
Bentuk Median
Median direndahkan
Median ditinggikan

Lebar Jalur
2,0
7,0

Saluran Samping
Saluran samping berguna untuk :

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Mengalirkan air dari permukaan perkerasan jalan ataupun dari bagian


luar jalan
Menjaga supaya konstruksi jalan selalu berada dalam keadaan kering
tidak terendam air

Umumnya bentuk saluran samping trapesium, atau empat persegi


panjang. Untuk daerah perkotaan, dimana daerah pembebasan jalan sudah
sangat terbatas, maka saluran samping dapat dibuat empat persegi panjang
dari konstruksi beton dan ditempatkan di bawah trotoar. Sedangkan di
daerah pedalaman dimana pembebasan lahan bukan menjadi masalah,
saluran samping umumnya dibuat berbentuk trapesium. Dinding saluran
dapat dengan mempergunakan pasangan batu kali, atau tanah asli. Lebar
dasar saluran disesuaikan dengan besarnya debit yang diperkirakan akan
mengalir pada saluran tersebut, minimum sebesar 30 cm.
andai dasar biasanya dibulatkan mengikuti kelandaian dari jalan. Tetapi
pada kelandaian jalan yang cukup besar, dan saluran hanya terbuat dari
tanah asli, kelandaian dasar saluran tidak lagi mengikuti kelandaian jalan.
Hal ini untuk mencegah pengkikisan oleh aliran air. Kelandaian dasar saluran
dibatasi sesuai dengan material dasar saluran. Jika terjadi perbedaan yang
cukup besar antara kelandaian saluran dan kelandaian jalan, maka perlu
dibuatkan terasering.

Kereb
Yang dimaksud dengan kereb adalah penonjolan atau peninggian tepi
perkerasan atau bahu jalan, yang terutama dimaksudkan untuk keperluankeperluan drainase, mencegah keluarnya kendaraan dari tepi perkerasan,
dan memberikan ketegasan tepi perkerasan. Pada umumnya kereb
digunakan pada jalan-jalan di daerah perkotaan, sedangkan untuk jalan-jalan
antar kota kereb hanya dipergunakan jika jalan tersebut direncanakan untuk
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

lalu lintas dengan kecepatan tinggi atau apabila melintasi perkampungan.


Berdasarkan fungsi dari kereb, maka kereb dapat dibedakan atas :

Kereb peninggi (mountable curb) adalah kereb yang direncanakan agar


dapat didaki kendaraan, biasanya terdapat di tempat parkir di pinggir
jalan/ jalur lalu lintas. Untuk kemudahan didaki oleh kendaraan maka
kereb harus mempunyai bentuk permukaan lengkung yang baik.
Tingginya berkisar antara 10-15 cm.

Kereb penghalang (barrier curb), adalah kereb yang direncanakan


untuk menghalangi atau mencegah kendaraan meninggalkan jalur lalu
lintas, terutama di median, trotoar, pada jalan-jalan tanpa pagar
pengaman. Tingginya berkisar antara 25-30 cm.

Kereb berparit (gutter curb) adalah kereb yang direncanakan untuk


membentuk sistem drainase perkerasan jalan. Kereb ini dianjurkan
pada jalan yang memerlukan sistem drainase perkerasan lebih baik.
Pada jalan lurus diletakkan di tepi luar dari perkerasan, sedangkan
pada tikungan diletakkan pada tepi dalam. Tingginya berkisar antara
10-20 cm.

Kereb penghalang berparit (barrier guter curb) adalah kereb


penghalang yang direncanakan untuk membentuk sistem drainase
perkerasan jalan. Tingginya berkisar antara 20-30 cm.

Pengaman Tepi
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

Pengaman tepi bertujuan untuk memberikan ketegasan tepi badan


jalan. Jika terjadi kecelakaan, dapat mencegah kendaraan keluar dari badan
jalan. Umumnya dipergunakan di sepanjang jalan yang menyusur jurang,
pada tanah timbunan lebih besar dari 2,5 meter, dan pada jalan-jalan
dengan kecepatan tinggi.
Pengaman tepi dibedakan atas :
Pengaman tepi dari besi yang digalvanized (guard rail), dipergunakan
jika bertujuan untuk melawan tumbukan (impact) dari kendaraan dan
mengambalikan kendaraan ke arah dalam sehingga kendaraan tetap
bergerak dengan kecepatan yang makin kecil sepanjang pagar
pengaman. Dengan adanya pagar pengaman diharapkan kendaraan
tidak dengan tiba-tiba berhenti atau berguling ke luar badan jalan.
Pengaman tepi dari beton (parapet), dianjurkan dipergunakan pada
jalan dengan kecepatan rencana 80-100 km/jam.
Pengaman tepi dari tanah timbunan, dianjurkan digunakan untuk
kecepatan rencana
< 80 km/jam.
Pengaman tepi dari batu kali, tipe ini dikaitkan terutama untuk
keindahan (estetika) dan pada jalan dengan kecepatan rencana < 60
km/jam
Pengaman tepi dari balok kayu. Tipe ini dipergunakan untuk kecepatan
rencana < 40 km/jam dan pada daerah parkir.

Gambar.

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

10

Perkerasan Jalan
Pendahuluan
Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan ikat yang
digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai adalah :

Batu pecah
Batu belah
Batu kali
Hasil samping peleburan baja

Bahan ikat yang dipakai :


Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

11

Aspal
Semen
Tanah liat

Lapisan perkerasan jalan


Berdasarkan bahan ikat lapisan perkerasan jalan dibagi menjadi 3 :

a. Lapisan perkerasan lentur (Flexible Pavement)


Yaitu lapisan yang menggunakan aspal sebagai pengikat. Lapisan-lapisan
perkerasanya bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah
dasar yang telah dipadatkan.
b. Konstruksi perkerasan kaku (Rigit Pavement)

Yaitu perkerasan yang menggunakan semen (Portland Cement) sebagai


bahan pengikatnya. Pelat beton dengan atau tanpa tulangan diletakkan
diatas tanah dasat dengan atau tanpa lapis pondasi bawah. Beban lalu lintas
sebagian besar dipikul oleh pelat beton.
c. Konstruksi perkerasan komposit (Composite Pavement)
Yaitu perkerasan kaku yang dikombinasikan dengan perkerasan lentur
dapat berupa perkerasan lentur diatas perkerasan kaku atau perkerasan
kaku diatas perkerasan lentur.
Perbedaan utama antara perkerasan kaku dan lentur :
No.
1.
2.

3.
4.

Perkerasan lentur
Repetisi beban
Penurunan tanah
dasar
Perubahan
temperatur

Perkerasan lentur
Aspal
Timbul Rutting
(lendutan pada jalur
roda)
Jalan bergelombang
(mengikuti tanah dasar)
Modulus kekakuan
berubah.
Timbul tegangan dalam
yang kecil

Perkerasan lentur
Semen
Timbul retak-retak pada
permukaan
Bersifat sebagai balok
diatas perletakan
Modulus kekakuan tidak
berubah.
Timbul tegangan dalam
yang besar

Sumber : Sukirman, S., (1992), Perkerasan Lentur Jalan Raya, Penerbit Nova, Bandung

Penguraian :
A. Lapisan perkerasan lentur

Konstruksi perkerasan lentur terdiri atas lapisan-lapisan yang diletakkan


diatas tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi
untuk menerima beban lalu lintas dan menyebarkan ke lapisan yang ada
dibawahnya, sehingga beban yang diterima oleh tanah dasar lebih kecil dari
beban yang diterima oleh lapisan permukaan dan lebih kecil dari daya
dukung tanah dasar.
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

12

Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari :

Lapisan
Lapisan
Lapisan
Lapisan

permukaan
pondasi atas
pondasi bawah
tanah dasar

Penguraian :

Lapisan permukaan (Surface Course)

Lapis permukaan struktur pekerasan lentur terdiri atas campuran


mineral agregat dan bahan pengikat yang ditempatkan sebagai lapisan
paling atas dan biasanya terletak di atas lapis pondasi. Bahan yang
digunakan adalah aspal.
Fungsi lapis permukaan antara lain :
Sebagai bagian perkerasan untuk menahan beban roda.
Sebagai lapisan tidak tembus air untuk melindungi badan jalan dari
kerusakan akibat cuaca.
Sebagai lapisan aus (wearing course)
Lapisan permukaan berdasarkan fungsinya :
a. Lapisan non struktural
: sebagai lapisan aus dan kedap
air
b. Lapisan struktural
: menahan dan menyebarkan
beban kendaaraan.

Lapisan pondasi atas

Yaitu bagian dari struktur perkerasan lentur yang berada di tengah antara
lapisan
permukaan dan lapisan pondasi bawah. Bahan yang digunakan adalah batu
pecah, kerikil pecah yang distabilisasi dengan semen, aspal, pozzolan, atau
kapur.
Fungsi lapisan pondasi atas :
Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dan menyebarkan
beban roda ke bagian bawahnya.
Lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.
Sebagai bantalan untuk lapisan perkerasan.

Lapisan pondasi bawah

Yaitu bagian dari struktur perkerasan lentur yang berada antara tanah
dasar dan lapis pondasi. Biasanya terdiri atas lapisan dari material berbutir
(granular material) yang dipadatkan, distabilisasi ataupun tidak, atau lapisan
tanah yang distabilisasi.
Fungsi lapis pondasi bawah antara lain :
Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan
menyebar beban roda.
Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

13

Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah agar


lapisan-lapisan
di
atasnya
dapat
dikurangi
ketebalannya
(penghematan biaya konstruksi).
Mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.
Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan konstruksi berjalan lancar.

Lapisan tanah dasar (Subgrade)

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung pada


sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.

Daerah Manfaat Jalan


Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

14

DAMAJA (Daerah Manfaat Jalan)


Merupakan ruas sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi dan
kedalaman
ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh Pembina Jalan dan diperuntukkan
bagi
median, perkerasan jalan, pemisahan jalur, bahu jalan, saluran tepi jalan,
trotoar,
lereng, ambang pengaman timbunan dan galian gorong-gorong
perlengkapan jalan
dan bangunan pelengkap lainnya. Lebar Damaja ditetapkan oleh Pembina
Jalan sesuai dengan keperluannya. Tinggi minimum 5.0 meter dan
kedalaman mimimum 1,5 meter diukur dari permukaan perkerasan.
DAMIJA (Daerah Milik Jalan)
Merupakan ruas sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi
tertentu
yang
dikuasai oleh Pembina Jalan guna peruntukkan daerah manfaat jalan dan
perlebaran jalan maupun menambahkan jalur lalu lintas dikemudian hari
serta
kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan. Lebar Minimum Lebar Damija
sekurang-kurangnya sama dengan lebar Damaja. Tinggi atau kedalaman,
yang diukur dari permukaan jalur lalu lintas, serta penentuannya didasarkan
pada keamanan, pemakai jalan sehubungan dengan pemanfaatan. Daerah
Milik Jalan, Daerah Manfaat Jalan serta ditentukan oleh Pembina Jalan.
DAWASJA (Daerah Pengawasan Jalan)
Merupakan ruas disepanjang jalan di luar Daerah Milik Jalan yang
ditentukan
berdasarkan kebutuhan terhadap pandangan pengemudi, ditetapkan oleh
Pembina Jalan.
Daerah Pengawasan Jalan dibatasi oleh :
Lebar diukur dari As Jalan.
-

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

Jalan Arteri Primer tidak kurang dari 20 meter.


Jalan Arteri Sekunder tidak kurang dari 20 meter.
Jalan Kolektor Primer tidak kurang dari 15 meter.
Jalan Kolektor Sekunder tidak kurang dari 7 meter.
Jalan Lokal Primer tidak kurang dari 10 meter.
Jalan Lokal Sekunder tidak kurang dari 4 meter.
Jembatan tidak kurang dari 100 meter ke arah hulu dan hilir.

Tinggi yang diukur dari permukaan jalur lalu lintas dan penentuannya
didasarkan
pada keamanan pemakai jalan baik di jalan lurus, maupun di tikungan dalam
hal pandangan bebas pengemudi, ditentukan oleh Pembina Jalan.

Astiningrum Dwi Prastuty_5140811175

15