Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
I.1.

Kompetensi Percobaan
Mahasiswa mampu menentukan kesadahan total, kesadahan permanen dan kesadahan

temporer dari air dengan metode kompleksometri.

I.2.

Tujuan Percobaan
Mahasiswa mampu:
Membuat larutan baku primer dan sekunder untuk titrasi kompleksometri;
Melakukan titrasi kompleksometri dan mengamati perubahan yang terjadi pada akhir
titrasi;
Menghitung kesadahan total, kesadahan permanen dan kesadahan temporer dari air.

I.3.

Tinjauan Pustaka

I.3.1. Titrasi Kompleksometri


Pada percobaan kali ini, kita hendak menentukan kesadahan air dengan menggunakan
sampel air Sungai Brantas, dan dalam penentuan kesadahan air, kita menggunakan metode titrasi
kompleksometri. Titrasi kompleksometri atau disebut juga sebagai kelatometri merupakan suatu
jenis titrasi dimana reaksi antara bahan yang dianalisis dan titrat akan membentuk suatu
kompleks senyawa. Kompleks senyawa inilah yang disebut dengan kelat dan terjadi akibat titran
dan titrat yang saling mengkompleks. Kelat yang terbentuk melalui titrasi terdiri dari dua
komponen yang membentuk ligan dan tergantung pada titran serta titrat yang hendak diamati.
Pada titrasi ini digunakan EDTA ( asam etilenadiamina tetraasetat) sebagai titran.
(Wikipedia Foundation, 2014)
Dengan kata lain, titrasi kompleksometri ini sendiri merupakan salah satu metode
kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya, dan
yang umum di indonesia serta yang akan digunakan pada percobaan kali ini adalah EDTA (asam
etilenadiamina tetraasetat ).

Senyawa ini memiliki banyak kation dengan membentuk kompleks dengan perbandingan
1 : 1 dengan beberapa valensinya:
M2+ + (H2Y)= (MY)2- + 2 H+
M3+ + (H2Y)= (MY)- + 2 H+
M4+ + (H2Y)= (MY) + 2 H+
Karena pada titrasi kompleksometri ini berkaitan dengan titrat dan titran yag saling
mengkompleks, maka hasil reaksi dari titrasi ini adalah reaksi yang kompleks pula.
Contoh reaksi titrasi kompleksometri:
Ag+ + 2 CN- =Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl- =HgCl2
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan
pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi.
Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam,
sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ionion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi
kompleks biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi
kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat,
disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :

M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O

(http://satupenghubung.blogspot.com/2013/12/titrasi-kompleksometri.html, 27 Maret 2014)

I.3.2. EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid)

Gambar I.1 Struktur EDTA


Asam etilen diamin tetra asetat [CH2N(CH2CO2H)2]2 atau yang lebih dikenal dengan
EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan
seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat
gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom
koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina
tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen
penyumbang dalam molekul (Rival, 1995).
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan sejumlah besar ion
logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang sedikit asam,
dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang
menghasilkan spesies seperti CuHY-. Dan bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan
tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam
larutan tersebut (Harjadi, 1993).
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba
dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri menggunakan
indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan kompleks logamnya mempunyai warna
yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator
metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet;
xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan
calcein blue. Dan pada percobaan ini, kita menggunakan Eriochrome black T (EBT) sebagai
indikator dalam titrasi kompleksomteri ini. (Khopkar, 2002).
Satu-satunya ligan yang sering dipakai dalam pemeriksaan kimia pada masa lalu adalah
ion sianida, CN-, karena dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion perak dan ion nikel.

Ion sianida akan membentuk senyawa kompleks perak-sianida bila direaksikan dengan ion perak,
sedangkan dengan ion nikel membentuk nikel-sianida. (Rival, 1995).
Penggunaan bahan pengkelat sebagai titran dapat digunakan untuk menghindari kesulitan
yang timbul dari kompleks yang lebih rendah. Secara efektif, senyawa kompleks yang stabil
dapat dibentuk dari bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen.
Keunggulan dari EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni,
selalu membentuk senyawa kompleks ketika direaksikan dengan ion logam dan digunakan baik
sebagai bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan untuk standardisasi. Keuntungan EDTA
inilah yang membuat syarat-syarat untuk titasi telah terpenuhi dengan baik jika menggunakan
EDTA. Pada percobaan ini, kita menstandarisasi EDTA dengan menggunakan larutan standar
ZnSO4. (Harjadi, 1993).
Faktor-faktor yang membuat EDTA dapat dikatakan ampuh sebagai pereaksi titrimetri
antara lain:
1) Selalu membentuk kompleks ketika direaksikan dengan ion logam, 2) Kestabilannya dalam
membentuk kelat sangat konstan sehingga reaksi berjalan sempurna (kecuali dengan logam
alkali), 3) Dapat bereaksi cepat dengan banyak jenis ion logam,4) telah dikembangkan
indikatornya secara khusus, 5) mudah diperoleh bahan baku primernya, dan 5) dapat digunakan
baik sebagai bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan untuk standardisasi.
Faktor-faktor inilah yang membuat syarat-syarat untuk titrasi telah terpenuhi dengan baik
jika menggunakan EDTA.
(Wikipedia Foundation, 2014).

I.3.3. Indikator
Indikator adalah senyawa organik atau anorganik yang digunakan dalam titrasi untuk
menentukan titik akhir. Beberapa syarat suatu indikator ion logam agar dapat digunakan sebagai
tanda dari titik akhir titrasi adalah :
1. Warna reaksi setelah dan sebelum titrasi harus berbeda agar saat semua ion logam telah
berkompleks dengan EDTA, perubahan warna dapat terlihat dengan jelas dan tajam.
2. Reaksi warna haruslah spesifik (khusus), atau setidaknya selektif.
3. Kompleks-indikator logam harus memiliki kestabilan yang cukup agar perubahan warna
dapat terlihat dengan jelas karena disosiasi.
4. Kompleks-indikator logam harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk
menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleksindikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat.
5. Kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus berbeda
sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap
pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen.

(http://satupenghubung.blogspot.com/2013/12/titrasi-kompleksometri.html, 25 Maret
2014)

Beberapa indikator yang paling banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri.


1. Eriochrom Black-T (EBT)
Merupakan asam lemah, tidak stabil dalam air karena senyawa organic ini merupakan gugus
sulfonat yang mudah terdisosiasi sempurna dalam air dan mempunyai 2 gugus fenol yang
terdisosiasi lambat dalam air.

Penggunaan : Penentuan kadar Ca, Mg, Cd, Zn, Mn, Hg.

2. Murexide
Merupakan indikator yang sering digunakan untuk titrasi Ca2+, pada pH=12.

3. Jingga Xylenol
Kompleks dengan logam memberikan warna merah.
4. Calmagite
5. Tiron
6. Violet cathecol
(http://pharmacyindonesia.blogspot.com/2012/01/titrasi-kompleksometri.html, 22 Maret 2014)
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi kompleksometri yaitu Eriochrome Black T
(EBT). Eriochrome Black T merupakan indikator kompleksometri dan merupakan zat warna azo.
Eriochrome Black T ini berwarna biru namun ketika membentuk kompleks dengan kalsium,
magnesium atau ion logam lainnya akan berubah warna menjadi merah anggur.
Selain itu juga terdapat indikator-indikator lain seperti yang tertera pada tabel I.1.
Tabel I.1 Indikator Titrasi Kompleksometri (Wikipedia Foundation, 2014 )
No

1.

2.

Nama
Indikator

Eriochrome
Black T

Struktur Molekul

C20H12N3O7SNa

Xylenol
orange

Massa
Molar

461.381
g/mol

672.67
C31H32N2O13S

g/mol

Gambar Molekul

3.

4.

5.

Murexide

284.19
C8H8N6O6

g/mol

Fast Sulphon
Black F

Calcein

708.695
C31H32N2O13S

622.55
C30H26N2O13

g/mol

Hydroxy6.

naphthol blue

g/mol

620.463
C20H11N2Na3O11S3

g/mol

I.3.4 Kesadahan air ( Trip Adler, 2014 )


Kesadahan/ hardness ialah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air atau besarnya
kadar Ca2+, Mg2+ dalam air. Air sadah disebabkan karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+ atau dapat
juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak)
seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah
kecil.
Air sadah digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan jenis anion yang iikat oleh kation
(Ca2+, Mg2+) yaitu kesadahan tetap (permanen) dan kesadahan sementara (temporer). Kesadahan
tetap (permanen) ialah besarnya kadar CaCl2, MgCl2, CaSO4, dan MgSO4 dalam air. Untuk
menghilangkan kesadahan tetap (permanen) dapat dilakukan dengan proses kapur soda yang
terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida sehingga akan terbentuk endapan
kalium karbonat dan magnesium hidroksida dalam air. Reaksinya adalah sebagai berikut :
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (s) + 2NaCl
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (s) + Na2SO4
MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (s) + CaCl2
MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (s) + CaSO4
Kesadahan sementara ialah besarnya kadar Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 dalam air.
Kesadahan sementara dapat dihilangkan kesadahannya dengan cara memanaskan air tersebut
sehingga garam karbonatnya mengendap, reaksinya :
Ca(HCO3)2 CaCO3 + H2O + CO2
atau
Mg(HCO3)2 MgCO3 + H2O + CO2
Selain dengan memanaskan air, kesadahan sementara juga dapat dihilangkan
kesadahannya dengan mereaksikan larutan yang mengandung Ca(HCO3)2 atau Mg (HCO3)2
dengan kapur (Ca(OH)2) atau proses clark, reaksinya :
Ca(HCO3)2(aq) + Ca(OH)2(aq) 2CaCO3(s) + 2H2O (l)
Mg(HCO3)2(aq) + Ca(OH)2(aq) CaCO3(s) + MgCO3(s) + 2H2O(l)
Kesadahan air juga dapat dihilangkan dengan menggunakan suatu alat yang bernama
reverse osmosis. Alat ini dapat menghilangkan kesadahan air sampai 0.

Satuan ukuran kesadahan ada 3, yaitu:


1. Derajat Jerman, dilambangkan dengan D
2. Derajat Inggris, dilambangkan dengan E
3. Derajat Perancis, dilambangkan dengan F
Dari ketiganya yang sering digunakan adalah derajat Jerman, dimana 1 D setara dengan
10 mg CaP per liter. Artinya jika suatu air memiliki kesadahan 1 D maka di dalam air tersebut
mengandung 10 mg CaO dalam setiap liternya.
Tabel I.2 Standar Kesadahan Air (Trip Adler, 2014)
No. Tingkat kesadahan WHO, 1984

E.Merck, 1974

EPA, 1974

Ppm CaCO3

Ppm CaCO3

04

0 71

0 60

48

71 142

0 75

Ppm CaCO3
1.

Sangat lunak

2.

Lunak

3.

Agak sadah

60 120

8 18

142 320

75 150

4.

Sadah

120 180

18 30

320 534

150 300

5.

Sangat sadah

> 180

> 30

> 534

> 300

Dampak kesadahan air :


1. Air sadah adalah air yang sukar dipakai untuk mencuci karena dapat menyebabkan sabun
tidak berbuih dan mengendap. Pada cucian, endapan ini akan merasuk diantara serabutserabut sehingga cucian menjadi keras dan kaku, serta tak jarang warnanya menjadi
kelabu atau kusam.
2. Menyebabkan lapisan kerak pada alat dapur yang terbuat dari logam.
3. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral yang dapat menyumbat aliran pipa
dan kran.
4. Air sadah dapat menyebabkan terbentuknya kerak pada dasar ketel yang selalu digunakan
untuk memanaskan air. Sehingga untuk memanaskan air tersebut diperlukan pemanasan
yang lebih lama. Hal ini merupakan salah satu contoh pemborosan energi.

I.3.5

Larutan baku ( Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik 1994 )

Larutan baku/ larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui.
Larutan baku berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan buret, yang sekaligus berfungsi
sebagai alat ukur volume larutan baku yang dapat dikatakan analitis dan cukup akurat karena
pengukurannya di dalam buret. Larutan yang akan ditentukan konsentrasinya atau kadarnya,
diukur volumenya dengan menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan di erlenmeyer. Larutan
baku memiliki 2 jenis yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder :
a. Larutan baku primer
Larutan yang mengandung zat padat murni yang konsentrasi larutannya diketahui secara
tepat melalui metode gravimetri (perhitungan massa), dapat digunakan untuk menetapkan
konsentrasi larutan lain yang belum diketahui. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan
sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti dari zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam
volume tertentu.
Contoh: K2Cr2O7, As2O3, NaCl, asam oksalat, asam benzoat.
Syarat-syarat larutan baku primer :
Zat harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120
derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan murni. (Syarat ini biasanya tak dapat
dipenuhi oleh zat- zat terhidrasi karena sukar untuk menghilangkan air-permukaan
dengan lengkap tanpa menimbulkan pernguraian parsial.)
Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara; kondisi ini menunjukkan
bahwa zat tak boleh higroskopik, tak pula dioksidasi oleh udara atau dipengaruhi
karbondioksida.
Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji- uji kualitatif dan kepekaan
tertentu.
Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekuivalen yang besar.
Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan langsung.

10

b. Larutan baku sekunder


Larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena berasal
dari zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini ditentukan dengan pembakuan
menggunakan larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KmnO4,
Fe(SO4)2
Syarat-syarat larutan baku sekunder :

Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer

Mempunyai BE yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan

Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.

11

I.3.6 Larutan Buffer / Larutan Penyangga


Larutan Penyangga atau buffer merupakan suatu larutan yang digunakan untuk
mempertahankan nilai pH tertentu (misalnya dalam sebuah titrasi, pH larutan diharapkan konstan
dan dipertahankan agar dapat mencapai titik akhir) sehingga tidak mengalami perubahan yang
signifikan selama reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah
pH-nya hanya mengalami sedikit perubahan dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat.
Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa
lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi di antara kedua komponen penyusun ini disebut sebagai
reaksi asam-basa konjugasi. Dan pada percobaan ini, kita menggunakan larutan buffer salmiak
yakni larutan buffer yang terdiri dari campuran antara NH4Cl dan NH4OH. Digunakannya
larutan buffer salmiak sebagai salah satu bahan dalam percobaan ini adalah karena kegunaannya
sebagai larutan yang dapat menyangga pH larutan dan dapat menyerap ion-ion hidroksida (H+)
yang jumlahnya kelebihan di dalam larutan karena jika larutan memiliki ion H+ yang tinggi,
maka larutan tidak memenuhi trayek pH yakni antara 8 10. Dengan adanya H+ , larutan akan
cenderung bersifat asam, sedangkan trayek pH antara 8 10 yang bersifat basa.

12