Anda di halaman 1dari 10

Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemahaman Konsep Biologi

Siswa SMA Melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based


Learning)
Oleh:
I.B Dimas Mahendra Wijaya (1413041089)
Kelas 3 C Semester III Jurusan Pendidikan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
ABSTRAK
Tujuan dari artikel ini adalah menjelaskan mengenai pemahaman konsep Biologi
siswa SMA melalui pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based
Learning (PBL). Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah
kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan
pengalaman sehari-hari peserta didik, selanjutnya peserta didik menyelesaikan
masalah tersebut guna menemukan pengetahuan yang baru. Model pembelajaran
berdasarkan masalah (PBL) sangat cocok untuk diterapkan karena siswa ataupun
peserta didik dilatih untuk memecahkan suatu masalah sehingga dengan demikian
dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis. Karakteristik
Problem Based Learning (PBL) yaitu subset dari collaborative learning, masalah
yang akan dipecahkan diberitahukan terlebih dahulu sebelum siswa memiliki
pengetahuan baru yang menjadi dasar untuk pemecahan masalah, integrative,
adanya evaluasi terhadap proses pemecahan masalah. Problem Based
Learning (PBL) melalui 3 tahapan proses belajar, yaitu asimilasi,
akomodasi dan equilibrasi. Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini
adalah teknik studi pustaka, penggunaan studi pustaka dalam artikel ini
dimaksudkan untuk mencari literatur-literatur pendukung untuk kepentingan
deskripsi dalam penulisan artikel ini. Pembelajaran dengan strategi PBL
mengajarkan siswa untuk berpikir kritis secara mandiri dalam mencari pemecahan
masalah dalam dunia nyata berdasarkan masalah yang diangkat dalam
pembelajaran. Pemahaman konsep merupakan salah satu proses hasil berpikir
seseorang yang dapat dinyatakan dengan kemampuan kognitif (hasil belajar
kognitif) dan tidak lepas dari keterampilan berpikir siswa.
Kata Kunci : Pendidikan, Guru, Siswa SMA, Konsep Biologi, Model
Pembelajaran, Pembelajaran Berdasarkan Masalah.
ABSTRACT
The purpose of this article is to explain the high school students' understanding of
biology concepts through learning based on problems or Problem Based Learning
(PBL). Problem Based Learning model is a learning model that begins with giving
problems to students where the problem is encountered or an everyday experience
of students, then students resolve such problems in order to discover new
knowledge. The learning model is based on the problem (PBL) is very suitable to

be applied for students and learners are trained to solve a problem and thus can
improve students' skills in critical thinking. Characteristics of Problem Based
Learning (PBL) is a subset of collaborative learning, problem to be solved
notified before students have the new knowledge that is the basis for solving the
problem, integrative, the evaluation of the problem-solving process. Problem
Based Learning (PBL) through three stages of the learning process, namely
assimilation, accommodation and equilibration. The method used in writing this
article is the engineering literature, the use of literature in this article is intended to
seek support literature for the benefit of the description in the writing of this
article. PBL learning strategy teaches students to think critically independently in
finding a solution in the real world based on the issues raised in the study.
Understanding the concept of one person's thinking process results that can be
expressed with cognitive abilities (cognitive learning outcomes) and cant be
separated from students' thinking skills.
Keywords

: Education, Teacher, Senior High School Student, Biology


Concepts, Models of Learning, Problem Based Learning.

1. Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang semakin pesat sangat berpengaruh
dalam dunia pendidikan. Dengan perkembangan teknologi ini, pemerintah
perlu meningkatkan pembangunan di bidang pendidikan yang dilihat dari
segi kualitas maupun kuantitas. Peningkatan kualitas ini dilakukan dengan
peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan tenaga profesionalisme,
tenaga pendidik, dan peningkatan mutu anak didik. Dalam meningkatkan
mutu pendidikan, penguasaan materi merupakan salah satu unsur penting
yang harus diperhatikan guru dan siswa.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari model
pembelajaran yang guru gunakan dalam mengajar. Pada umumnya pola
pembelajaran di sekolah cenderung menggunakan model pembelajaran
konvensional yakni model pembelajaran yang dilakukan dengan mengajar
secara lisan dan tertulis yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dan siswa
mendengarkan serta mencatat penjelasan guru sehingga pembelajaran
dengan model ini lebih cenderung membosankan. Jika model pembelajaran
konvensional ini diterapkan dalam pelajaran biologi SMA, maka siswa
hanya menghafal materi biologi yang disampaikan guru, sehingga berakibat
siswa kurang paham dengan konsep-konsep pelajaran biologi serta kurang
2

optimal dalam memecahkan masalah yang diberikan dan juga akan


menurunkan daya kemampuan berpikir kritis siswa terhadap suatu masalah.
Tidak hanya siswa, di kalangan pendidik pun masih ada yang kebingungan
menerapkan model pembelajaran yang efektif dan mudah diterima siswa.
Berdasarkan beberapa alasan tersebut di atas, pembelajaran
berdasarkan masalah, atau lebih dikenal dengan Problem Based Learning
(PBL) merupakan model pembelajaran yang efektif diterapkan dalam
pembelajaran biologi karena memiliki beberapa keunggulan yaitu model
pembelajaran ini dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah yang akan digunakan
sebagai konsep dan dapat belajar lebih dewasa sehingga siswa itu lebih
mandiri. Selain itu pembelajaran ini sangat melibatkan siswa secara
langsung dalam belajar sehingga pengetahuan yang diperoleh lebih mudah
diserap dan lebih tahan lama karena mereka menemukannya sendiri.
Berdasarkan latar belakang di atas maka judul yang penulis angkat
ialah Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemahaman Konsep
Biologi Siswa SMA Melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem
Based Learning)
1.2

Rumusan Masalah
1) Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran berdasarkan masalah?
2) Apakah karakteristik dari pembelajaran berdasarkan masalah?
3) Bagaimanakah cara menerapkan model pembelajaran berdasarkan
masalah (PBL) sehingga mampu meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa ?
4) Bagaimanakah cara meningkatkan pemahaman konsep Biologi siswa
SMA melalui pembelajaran berdasarkan masalah?

1.3

Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian dan pembelajaran berdasarkan masalah
2) Untuk mengetahui karakteristik dari pembelajaran berdasarkan masalah
3) Untuk mengetahui cara menerapkan model pembelajaran berdasarkan
masalah (PBL) sehingga mampu meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa

4) Untuk mengetahui cara meningkatkan pemahaman konsep Biologi siswa


SMA melalui pembelajaran berdasarkan masalah
1.4

Manfaat
Adapun manfaat yang terkandung dalam artikel ini adalah untuk

menambah wawasan bagi penulis, dan juga para pembaca bahwa model
pembelajaran berdasarkan masalah sangat efektif untuk meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa dan juga mampu memahami konsep-konsep
biologi yang terdapat dijenjang sekolah menengah atas (SMA).
2. Materi dan Metode
2.1

Materi
Materi atau subjek yang digunakan dalam artikel adalah metode studi

literature. Literature yang di gunakan bersumber dari beberapa informasi yang


penulis dapatkan dalam media internet dan juga buku-buku yang terkait
terhadap metode pembelajaran mind map.
2.2

Metode
Teknik studi pustaka, penggunaan studi pustaka dalam artikel ini

dimaksudkan untuk mencari literatur-literatur pendukung untuk kepentingan


deskripsi dalam penulisan artikel ini.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBL)
Pembelajaran Berdasarkan Masalah yang berasal dari bahasa Inggris,
Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan
masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya.
Pembelajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John
Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009) belajar berdasarkan
masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan
antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan
kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf
otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah
yang

dihadapi

dapat

diselidiki,

dinilai,

dianalisis,

serta

dicari
4

pemecahannya dengan baik. Rusman (2010) mengatakan bahwa Model


Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) membantu
untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat
dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif, serta
memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja
kelompok, dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding
model lain.
Menurut Jodion Siburian, dkk (2010), Pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang
berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya
dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui
pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampilan
yang lebih mendasar.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah
model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada
peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan
pengalaman

sehari-hari

peserta

didik,

selanjutnya

peserta

didik

menyelesaikan masalah tersebut guna menemukan pengetahuan yang baru.


3.2 Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Ada beberapa karakteristik Problem Based Learning
(PBL). Menurut Izzaty, (2006), mengemukakan bahwa ada beberapa
karakteristik dari tipe pembelajaran PBL yang menunjukkan adanya
perbedaan dengan strategi dan tipe pembelajaran yang lain, yaitu:
1) Problem

Based

Learning

merupakan

subset

dari

collaborative

learning. Dalam pembelajaran yang menggunakan tipe PBL, siswa


bekerjasama secara berkelompok untuk mencapai tujuan bersama. Setiap
anggota kelompok menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap,
pendapat, kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara
bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota. Guru
menjadi tutor yang memfasilitasi siswa menjadi aktif. Dengan demikian
bagi siswa sendiri merasa senang karena difasilitasi untuk berkreasi dan
merasa dihargai.

2) Karakteristik tipe pembelajaran PBL yang kedua adalah masalah yang


akan dipecahkan diberitahukan terlebih dahulu sebelum siswa memiliki
pengetahuan baru yang menjadi dasar untuk pemecahan masalah. Dalam
program kegiatan belajar, siswa akan berusaha untuk mencari berbagai
macam pemecahan masalah dengan pengetahuan yang dimiliki dengan
pengetahuan baru tentang situasi-situasi yang sebenarnya, sehingga
akhirnya akan berasimilasi dan berakomodasi, dan memunculkan
pengetahuan baru.
3) Karakteristik yang ketiga adalah integrative. Tujuan utama dari
pembelajaran dengan tipe PBL ini adalah mendorong kemampuan siswa,
sehingga semua materi yang sudah dipelajari, diharapkan dapat
diintegrasikan dalam pengetahuan baru siswa untuk memecahkan
masalah tersebut.
4) Karakteristik yang terakhir adalah adanya evaluasi terhadap proses
pemecahan masalah. Pada tipe PBL, evaluasi tidak dilakukan dengan
menggunakan prosedur seperti tes pilihan berganda, essay, atau model
ujian tertulis lainnya. Pendekatan evaluasi yang dilakukan tipe PBL ini
adalah lebih dari proses metakognisi. Siswa didorong untuk memonitor
pengetahuan yang sudah diperolehnya dalam proses penemuan hasil
pemecahan masalah dengan membuat perencanaan pembelajaran yang
efektif dalam kaitannya dengan permasalahan yang diajukan berdasarkan
kelebihan dan kekurangan dari pengetahuan yang sudah ada.
Menurut Izzaty (2006), Bahwa bila ditinjau dari Teori Belajar Jean
Piaget, Problem Based Learning (PBL) sudah melalui 3 tahapan proses
belajar,

yaitu

(penyesuaian

asimilasi
struktur

(penyatuan

informasi

kognitif) dan equilibrasi

baru),

akomodasi

(penyesuaian

antara

asimilasi dan akomodasi).


3.3 Penerapan

Model

Pembelajaran

PBL

dalam

Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa tidak terlepas dari


karakteristik sintaks strategi PBL. PBL merupakan strategi pembelajaran
yang menekankan kemampuan berpikir siswa. Prinsip pelaksanaan
pembelajaran dengan strategi PBL, yaitu dalam proses belajar, siswa
dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan
dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis
kemudian dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari
permasalahan tersebut tidak harus hanya mempunyai satu jawaban yang
benar, artinya siswa juga dituntut untuk belajar secara kreatif dan mandiri
terutama dalam menggali dan memecahkan permasalahan. Siswa
diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat
hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada di lingkungannya
sehingga siswa tidak hanya mempelajari teori namun juga melihat fakta di
lingkungan. Pernyataan tersebut didukung oleh Duch, dkk, (2000) yang
mengungkapkan bahwa PBL menyediakan kondisi untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kritis dan analitis serta memecahkan masalah
kompleks dalam kehidupan nyata.
Strategi PBL mampu membawa siswa dalam wahana berlatih untuk
berpikir kritis. Hal ini senada dengan penjelasan Sriwedari (2011) bahwa
kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan, tetapi tidak dapat
dilatihkan sekaligus. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa
akan mengalami peningkatan seiring dengan strategi pembelajaran yang
digunakan,

oleh

karena

itu

pembelajaran

harus

memberdayakan

kemampuan berpikir kritis (Ibrahim dan Nur, 2004). Pembelajaran dengan


strategi PBL melatih siswa untuk berdiskusi merumuskan masalah,
menentukan hipotesis, melakukan investigasi, mempresentasikan hasil,
dan menyimpulkan persoalan yang diberikan atau dipelajari. Aktivitas
kerja dalam kelompok sebaya akan menjadi wahana bagi siswa untuk
mengaktualisasikan potensi diri dalam meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa.

Berpikir kritis merupakan proses seseorang untuk mengolah dan


mengevaluasi informasi dalam membuat sebuah penilaian atau keputusan
berdasarkan kemampuan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki. Kemampuan berpikir kritis dapat diartikan sebagai kemampuan
siswa dalam melakukan proses intelektual yang aktif dan penuh dengan
keterampilan dalam membuat pengertian atau konsep, mengaplikasikan,
menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Oka (2010) berpikir
kritis harus memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi :
analisis, sintesis, pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan dan
penilaian.
Pembelajaran dengan strategi PBL mengajarkan siswa untuk berpikir
kritis secara mandiri dalam mencari pemecahan masalah dalam dunia
nyata berdasarkan masalah yang diangkat dalam pembelajaran
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran berdasarkan masalah (PBL) sangat cocok untuk diterapkan
karena siswa ataupun peserta didik dilatih untuk memecahkan suatu
masalah sehingga dengan demikian dapat meningkatkan kemampuan
siswa dalam berpikir kritis.
3.4 Pemahaman Konsep Biologi Siswa SMA Melalui PBL
Pemahaman konsep merupakan salah satu indikator keberhasilan
belajar kognitif. Pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menangkap
makna dari bahan yang dipelajari/hasil dari proses pembelajaran.
Kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu
bacaan ; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk
lain ; membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data
tertentu seperti grafik. Hasil belajar kognitif siswa berkaitan dengan
kemampuan siswa dalam menerima dan memahami materi dalam
pembelajaran.
Pembelajaran Biologi di SMA sangatlah sulit jika siswa tidak bisa
memahami konsep-konsep dari pelajaran Biologi ini, maka dari itu dengan
8

menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah siswa diberikan


kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Apabila
seorang siswa telah dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis
maka siswa tersebut dapat menginterpretasi informasi yang diperoleh
untuk

ditarik

kesimpulan

menjadi

suatu

konsep

yang

dapat

dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kemampuan berpikir siswa


yang meningkat akan mempermudah siswa dalam menyerap konsepkonsep yang dipelajari. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh
Winarni (2006) bahwa pemahaman konsep merupakan salah satu proses
hasil berpikir seseorang yang dapat dinyatakan dengan kemampuan
kognitif (hasil belajar kognitif) dan tidak lepas dari keterampilan berpikir
siswa.
4. Penutup
4.1 Simpulan
Setelah
Berdasarkan

dipaparkan
Masalah,

beberapa

dapat

hal

diketahui

mengenai

Pembelajaran

pengertian

Pembelajaran

Berdasarkan adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan


menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah
itu peserta

didik

memerlukan

pengetahuan

baru

untuk

dapat

menyelesaikannya. Karakteristik Problem Based Learning (PBL) yaitu


subset dari collaborative learning, masalah yang akan dipecahkan
diberitahukan terlebih dahulu sebelum siswa memiliki pengetahuan baru
yang menjadi dasar untuk pemecahan masalah, integrative, adanya
evaluasi

terhadap

proses

pemecahan

masalah.

Problem

Based

Learning (PBL) melalui 3 tahapan proses belajar, yaitu asimilasi,


akomodasi

dan

equilibrasi.

Pembelajaran

dengan

strategi

PBL

mengajarkan siswa untuk berpikir kritis secara mandiri dalam mencari


pemecahan masalah dalam dunia nyata berdasarkan masalah yang
diangkat dalam pembelajaran. Pemahaman konsep merupakan salah satu
proses hasil berpikir seseorang yang dapat dinyatakan dengan kemampuan
kognitif (hasil belajar kognitif) dan tidak lepas dari keterampilan berpikir
siswa.

4.2 Saran
Bagi tenaga pendidik yang menggunakan model pembelajaran
dengan strategi PBL dapat mengajarkan siswa untuk berpikir kritis secara
mandiri dalam mencari pemecahan masalah dalam dunia nyata
berdasarkan

masalah

yang

diangkat

dalam

pembelajaran.

Siswa

diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat


hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada di lingkungannya
sehingga siswa tidak hanya mempelajari teori namun juga melihat fakta di
lingkungan.
Daftar Rujukan
Dewey, dkk, dalam Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran InvatifProgresif. Jakarta : Kencana Prenada Group.
Duch, dkk. 2000. PBL : Preparing Students to Succeed in the 21st Century. Dalam
http ://www.hku.hk/caut/homepage/tdg/5/TeachingMatter/Dec98.pdf. Di
akses tanggal 22 Desember 2015.
Ibrahim dan Nur Moh. (2004). Pengajaran Berbasis Masalah. Surabaya:
University press
Izzaty. 2006. Karakteristik Problem Based Learning. Dalam http://www.ejurnal.com/2013/10/karakteristik-problem-based-learning-pbl.html. Di akses
tanggal 24 Desember 2015.
Oka, A. A. (2010). Pengaruh Penerapan Belajar Mandiri pada Materi Ekosistem
BIO-PEDAGOGI Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kemampuan
Memecahkan Masalah Siswa SMA di Kota Metro. Skripsi Tidak
Dipublikasikan, Universitas Metro, Lampung
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran, Bandung : Mulia Mandiri Pers.
Siburian, Jodion. 2010. Model Pembelajaran Sains. Jambi : Universitas Jambi
Sriwedari, Tatik. 2011. Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif STAD dan
TPS terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Keterampilan Proses, dan Hasil
Belajar Kognitif Biologi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Malang. Tesis: PPS.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Winarni, W.E. 2006. Pengaruh Strategi Pembelajaran Terhadap Pemahaman
Konsep IPA-Biologi, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Sikap Ilmiah Siswa
Kelas V SD dengan Tingkat Kemampuan Akademik Berbeda. Tesis: PPS.
Malang: Universitas Negeri Malang

10