Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIKUM II

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN EMBRYO


I. Tujuan:
1.
Mengetahui proses terjadinya fertilisasi pada Echinidea
2.
Mengetahui proses terbentuknya fertilization envelope pada
3.
4.

Echinidea
Mengetahui tipe perkembangan embryo pada Echinidea
Mengetahui fase perkembangan embryo pada Echinidea

II. Dasar Teori


Landak laut termasuk kedalam filum Echinodermata yaitu merupakan
hewan berduri. Hal ini sesuai dengan morfologi tubuhnya, yaitu pada
permukaan tubuh dipenuhi duri yang tersusun oleh kalsium. Landak laut
tergolong hewan triplobastik, tubuhnya bertipe simetri radial, tetapi ketika
masih menjadi larva bertipe simetri bilateral. Rangka tubuhnya tersusun oleh
zat kapur yang terdapat dipermukaan bawah kulit. Hewan ini merupakan
hewan dioseus atau hewan berumah dua. Fertilisasi yang dialami oleh landak
laut adalah fertilisasi eksternal. (Jasin, 1992).
Fertilisasi merupakan peleburan antara inti sel telur dengan inti
spermatozoa sehingga tumbuh menjadi individu baru yang disebut zigot. Sel
gamet, yaitu sperma dan sel telur yang menyatu selama fertilisasi atau
pembuahan, merupakan jenis sel yang sangat terspesialisasi yang dihasilkan
melalui serangkaian peristiwa perkembangan yang kompleks dalam testes
dan ovarium induk. Fungsi utama fertilisasi adalah untuk menyatukan
kumpulan kromosom haploid dari dua individu menjadi sebuah sel diploid
tunggal, yaitu zigot (Campbell, 2004).
Fertilisasi diikuti oleh tiga tahapan berturut-turutyang mulai membangun
tubuh hewan itu. Pertama, pembelahan sel jenis khusus, yang disebut dengan
pembelahan (cleavage), menciptakan embrio multiseluler, atau blastula, dari
zygot. Tahapan kedua gastrulasi, menghasilkan embrio berlapis tiga yang
disebut sebagai gastrula. Tahapan ketiga, yang disebut organogenesis,
membangkitkan organ rudimenter yang akan tumbuh menjadi struktur
dewasa
Fertilisasi sendiri dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu :

A. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gametgametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi.
B. Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di
darat): sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang
kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu
membentuk

membran

fertilisasi

untuk

merintangi

pemasukan sperma lebih lanjut. Terkadang sperma itu diperlukan


hanya untuk mengaktivasi telur. (Campbell, 2004).
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio.
Proses ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami
pembuahan atau fertilisasi. Embriogenesis meliputi pembelahan sel dan
pengaturan di tingkat sel. Sel pada embriogenesis disebut sebagai sel
embriogenik. Secara umum, sel embriogenik tumbuh dan berkembang
melalui beberapa fase, antara lain sel tunggal (yang telah dibuahi), blastomer,
blastula, gastrula, neurula dan embrio / janin (Campbell, 1987).
II. Alat dan Bahan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

0,55 M Potassium Chloride Solution


Filtrated sea water (FSW)
Fertile Echinidea
1 5 cc syringe
Pipet tetes
Small tube (1,5 ml)
Beaker glass
Petri dish
Tissu
Object glass
Microscope

III. Prosedur Kerja


A. Spawning
1)
Menyuntikkan 0,55 M KCl sebanyak 0,1 0,2 ml ke dalam mulut
2)

dan anus dari Echinidea.


Menggoyangkan secara perlahan sampel Echinidea yang telah

diijeksi dengan KCl.


3) Setelah 1 3 menit amati sperma atau telur yang mulai keluar dari
permukaan Echinidea.
4) Apabila yang keluar adalah sperma, letakkan Echinoidea pada petri
2

dish dengan posisi mulut berada di atas. Kumpulkan sperma tanpa


o

FSW ke dalam tube 1,5 ml. Simpan dalam suhu 4 C.


5) Apabila yang keluar adalah telur, letakkan Echinoidea pada beaker
glass yang berisi FSW penuh dengan posisi bagian mulut berada di
atas. Kumpulkan telur yang mengendap di dasar beaker glass
kemudian bilas dengan FSW sebelum dilakukan uji fertilisasi.
B.
Fertilisasi
1) Preparasi sperma dengan cara membuat seri pengenceran sperma
25%, 50%, dan 75% menggunakan FSW.
2) Telur yang telah dikumpulkan diletakkan di dalam petridish yang
berisi sedikit FSW (sebagai stok).
3) Mengambil sedikit telur dengan pipet dan meneteskan pada object
glass (dibuat 3 seri sesuai dengan jumlah seri sperma yang akan
digunakan).
4) Meletakkan object glass pada mikroskop dan mengamati telur.
Apabila sudah siap selanjutnya meneteskan sperma pada object glass
yang telah berisi sampel telur dan diamati proses yang terjadi.
C. Perkembangan Embryo
1) Menambahkan stok telur dengan sperma untuk mengamati proses
perkembangan embryo Echinoidea
2) Simpan pada suhu ruangan.
3)
Lakukan pengamatan setiap

jam

untuk

melihat

fase

perkembangan yang terbentuk.


IV. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil
No
.
1.

Nama

Foto

Pengamatan
Sel sperma

Sketsa/Gambar

Keterangan

Salinan
1. Sel

landak laut

sperma

landak

laut

yang
berukuran
sangat kecil
1

2.

Sel

1. Sel

ovum

telur/ovum

yang

landak laut

berwarnah
biru cerah

3.

Fase

1. Fase

pembelahan

pembelahan

awal

awal,
terbentuknya
membrane
fertilisasi

4.

Pembelahan

1. Pembelahan

2 sel

2 sel

5.

Pembelahan

1. Pembelahan

4 sel

4 sell

b. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu membahas tentang fertilisasi dan
perkembangan embrio Echinoidea, yakni landak laut. Landak laut ini
merupakan hewan hermafrodit, yaitu hewan yang memiliki dua sel kelamin.

Pada hewan ini, jika sel kelamin jantan lebih dulu matang, maka akan
menghasilkan sel sperma, begitu sebaliknya,jika sel kelamin betina lebih dulu
matang maka akan menghasilkan sel ovum. Untuk merangsang pengeluaran
sel sperma atau sel ovum digunakan zat kima KCL berkonsentrasi. Ciri jika
sel sperma keluar ialah berwarna putih, sedangkan sel ovum umumnya
berwarna kuning. Khusus untuk sel ovum yang keluar harus ditampung
dengan FSW sebagai medianya agar sesuai dengan kondisi habitat aslinya.
Fertiliasi yang dialami oleh hewan ini ialah fertilisasi eksternal. Injeksi sel
sperma dilakukan saat setelah meneteskan sel ovum di atas gelas objek.
Setelah injeksi dimulai, sperma akan mulai membuahi sel ovum, diawali
dengan adanya pembentukkan membrane fertilisasi. Terbentuknya membrane
fertilisasi adalah untuk mencegah sperma lainnya membuahi sel ovum yang
lebih dulu dibuahi oleh sel sperma. Setelah terbentuk membrane fertilisasi,
akan mengalami fase pembelahan. Fase pembelahan awal terjadi setelah 90
menit fertilisasi. Tentunya ada beberapa fase yang harus dilalui yakni fase
pembelahan dua sel, pembelahan empat sel, pembelahan 8 sel, pembelahan
16 sel, pembelahan 32 sel, fase blastula, fase gastrula, dan plueteus. Namun
pada praktikum kali ini hanya mendapatkan sampai fase pembelahan empat
sel, ini dikarenakan adanya faktor-faktor tertentu yang menyebabkan
berhentinya sel membelah.
Jawaban Pertanyaan
1. Dilakukan dengan cara membentuk kelompok besar dengan spesies yang
sama, sehingga landak laut akan mengalami pemijahan massal. Nantinya
akan terlihat banyaknya sel sperma dan sel ovum yang dikeluarkan, sehingga
fertilisasi dengan cepat dapat terjadi.
2. Faktor-faktor yang memengaruhi pembelahan zigot :
A. Faktor internal
= Jumlah dan distribusi yolk, yolk akan memengaruhi polaritas
pada zigot yang mengakibatkan pembelahan menjadi tidak
sempurna. Sel telur yang mengandung kuning telur terlalu
banyak dan persebarannya tidak merata akan menyebabkan
terhalangnya pembelahan sel.
= Adanya sitoplasma, sangat berpengaruh terhadap pembelahan

sel. Beberapa zigot hewan multiselluler sitoplasma juga terdapat


pada kutub animal pole, sehingga pembelahan pada kutub ini
lebih cepat
B. Faktor eksternal
Suhu, Zat kimia dalam air, Tekanan air, Ph air, Salinitas
VI. Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diulas, maka dapat disimpulkan
bahwa

landak

laut

yang

merupakan

hewan

invertebrate,

phylum

Echinodermata, kelas echinoidea, merupakan hewan hermafrodit dan


mengalami fertilisasi eksternal. Proses fertilisasi diawali dengan injeksi sel
sperma ke sel ovum, dan diawali dengan pembentukkan membrane fertilisasi,
dan nantinya akan berkembang menjadi zigot melalui beberapa fase atau
tahapan yaitu fase pembelahan dua sel, pembelahan empat sel, pembelahan 8
sel, pembelahan 16 sel, pembelahan 32 sel, fase blastula, fase gastrula, dan
plueteus.
Daftar Pustaka
Campbell, 1987, Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Jakarta: Erlangga
Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya,