Anda di halaman 1dari 8

I.

Judul: Kerja Otot Rangka


II. Tujuan Praktikum:
1. Mengamati dan memahami mekanisme kontraksi dan relaksasi otot rangka
(gastrocnemius) dengan menggunakan kimograf.
2. Mengamati respon otot rangka (gastrocnemius) terhadapt rangsangan tunggal
dengan intensitas berbeda, serta menentukan kuat rangsang minimal,
submaksimal, maksimal.
3. Mengamati dan mengukur lamanya waktu periode kontraksi.
4. Mengamati respon otot rangka (gastrocnemius) terhadap rangsang listrik dua
kali berturut-turut dan perangsangan listrik frekuensi tinggi (multiple).
III. Landasan Teori
Otot pada makhluk hidup memegang peranan yang sangat penting, karena
fungsi otot yang fital, jika tanpa adanya otot maka tubuh kita hanya akan terdiri
dari tulang dan kulit saja, dan jika tanpa adanya otot maka kita tidak akan bisa
bergerak leluasa seperti sekarang, karena hanya otot yang mampu menggerakan
tulang tubuh kita. Otot secara umum di bagi menjadi tiga jenis yaitu otot polos,
otot lurik, dan otot jantung, masing-masing otot memiliki fungsi dan tugasnya
masing-masing. Otot polos merupakan otot yang bekerja secara tidak sadar
biasanya ditemukan pada organ tubuh yang harus selalu berfungsi tanpa perlu
diperintah seperti paru-paru dan pada sistem pencernaan, kerja otot ini pelan dan
tidak mudah untuk lelah.
Setelah itu ada otot jantung yang memiliki bentuk gabungan anatara otot
polos dan otot lurik, otot jantung biasanya ditemukan pada bagian jantung. Otot
ini bekerja secara tidak sadar dan tidak mudah lelah, mengingat fungsi otot ini
yang menunjang fungsi kehidupan. Otot terakhir adalah otot lurik atau lebih sering
dikenal sebagai otot rangka, otot ini bisa ditemukan di seluruh tubuh karena
berfungsi untuk menggerakan tubuh, sehingga otot ini bekerja secara sadar namun
kelemahan otot ini adalah sifatnya yang mudah lelah.
Otot rangka atau sering disebut dengan otot lurik (gastrocnemius) merupaka
salah satu sistem gerak akhtif yang dimiliki oleh makhluk hidup, otot ini memiliki
keistimewaan karena otot ini hanya akan bergerak saat di berikan rangsangan oleh
syaraf motorik sehingga memungkinkan tubuh kita bergerak secara terkontrol.

12
Otot ini juga mampu untuk berkontraksi dan relaksasi sesuai dengan keinginan
kita dan mampu memanjang dan memendek sehingga tubuh dapat bergerak
dengan sangat leluasa, namun karena otot ini bergerak dengan kesadaran kita yang
menyebabkan otot ini juga dapat mengalami kelelahan jika dibandingkan dengan
otot lain yang tidak bisa atau sulit untuk mengalami kelelahan.
Sistem kerja otot di bagi menjadi 3 fase yaitu fase kontraksi, fase dimana
otot mengalami kontraksi akibat datangnya rangsangan dari saraf, fase laten
merupakan jarak antara kontraksi dan datangnya rangsang, dan yang terakhir
adalah fase relaksasi dimana pada fase ini otot akan memasuki masa istirahat
sebelum melaksanakan kegiatan selanjutnya. Namun bukan hanya saraf yang
menyebabkan otot mampu melakukan kontraksi dan relaksasi hal ini juga
dipengaruhi oleh kadar konsentrasi Ca+ yang ada di pada otot, saat berkontraksi
otot akan dipenuhi oleh Ca+ namun saat relaksasi Ca+ akan bergerak keluar
sehingga otot mampu berelaksasi namun Ca+ akan tersisa sedikit di dalam otot hal
ini dikarena jika konsentrasi Ca+ di dalam otot menurun maka akan menyebabkan
kejang pada otot tersebut.
IV. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Alat bedah
2. Papan bedah
3. Kimograf
4. Jarum sonde
B. Bahan
1. Kodok (Bufo sp.)
2. Larutan ringer
V. Prosedur Kerja
A. Pesiapan objek dan instrumen:
1. Mengdekapitasi kodok menggunakan pisau bedah dan memutuskan kepala
kodok, melakukan perusakan sum-sum tulang depan dengan
menggunakan jarum sonde agar tubuh katak menjadi lemas dan otot
rangkanya dapat diisolasi dengan mudah.
2. Mengisolasi otot gastronemius, kulit katak di bagian paha dan betis.

13
3. Memisahkan bagian otot gatrocnemius bersama pangkal femur dari bagian
kaki lainnya.
4. Mengisolasi otot gastrocnemius dan menyiapkan kimograf, memasang
otot kodok pada bak yang spesimen yang ada pada kimograf.
5. Mengikat tendon achilles yang terdapat di dalam bak menggunakan
benang dan menghubungkan dengan alat pengungkit otot.
6. Menjepit pangkal demur yang diisolasi bersama otot gastrocnemius
menggunakan jarum agar benang penhubung berada dalam keadaan
tegang dan respon yang terjadi pada otot dapat tercatat di komograf, saat
mengisolasi dan menggunakan otot kodok diberikan larutan ringer.
B. Percobaan kerja otot:
1. Mengatur jenis rangsangan sebagai rangsang “single”, tromol dibuat
berputar dengan kecepatan sedang (50mm/det), dan menempatkan
elektroda stimulator pada otot disekitar tendon archilles.
2. Menyalakan tromol dan merangsang otot dengan kuat rangsang pada
paling rendah (0 volt) hingga kuat rangsang paling tinggi (25 volt).
3. Menentukan nilai kuat rangsangan minimal, submaksimal, dan maksimal
berdasarkan data grafik.
C. Kontraksi otot tunggal:
1. Mengatur jenis rangsang sebagai rangsang “single” mengatur tromol agar
berputar dengan kecepatan sedngan dan kuatrangsang yang dipakai adalah
kuat rangsang submaksimal seperti percobaan sebelumnya.
2. Melakukan pemberian rangsang dengan dua kali penekanan tombol
simulator.
3. Melakukan pemberian rangsang segera setelah kontraksi pertama
berlangsung sepenuhnya.
4. Melakukan pemberian rangsang dilakukan sebelum kontraksi pertama
berlangsung seluruhnya, dan pada perlakuan ketiga melakukan pemberian
rangsang kedua dilakukan secepat mungkin setelah pemberian rangsang
pertama agar rangsang kedua jatuh pada periode laten dari kontraksi otot
pertama.

14
D. Efek perangsangan lebih dari dua kali:
1. Mengatur jenis rangsang menjadi rangsang “multiple”.
2. Mengatur tromol agar berputar sedang dan kuat rangsang yang dipakai
adalah kuat rangsang submaksimal.
3. Mengatur frekuensi rangsang yang diberikan dengan frekuensi lambat,
sedang, dan cepat.
4. Menginterpretasikan data yang di dapat dari kimograf.
VI. Hasil Pengamatan
a. Respon otot terhadap rangsang tunggal dengan itensitas berbeda

Respon Otot Terhadap Rangsang Tunggal


dengan Intensitas Berbeda
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 5 10 20 25

Series 1

b. Kontraksi tunggal otot rangka

Panjang Periode Tinggi Kontraksi Otot


Kontraksi Otot 0.35
0.5 0.3
0.4 0.25
0.3 0.2
0.2 0.15
0.1 0.1

0 0.05
Panjang 0
Periode Tinggi Gelombang

Periode Laten Kontraksi Relaksasi Kontraksi Otot

15
c. Efek perangsang dua kali berturut-turut

Efek Perangsang Dua Kali Berturut-Turut


2.5

1.5

0.5

Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III

d. Efek perangsang lebih dari dua kali

Efek Perangsang Lebih Dari Dua Kali


0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0

Lambat Sedang Cepat Sangat Cepat

VII. Pembahasan
Dalam pengamatan kali ini kami ingin mengamati mengenai sistem kerja
otot rangka pada hewan vertebrata, hal ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut
bagaimana fungsi dan cara kerja otot rangka tehadap pengaruh rangsang yang
berbeda. Pada praktikum kali ini kami menggunakan otot gastrocnemius kodok
(Bufo sp.) sebagai spesimen kami, alasan kami menggunakan kodok sebagai
spesimen karena hewan ini mudah untuk ditemukan dan susunan otot yang
dimiliki sesuai dengan yang kita inginkan.
Pada pengamatan yang pertama kami mencoba mengamati mengenai respon
otot terhadap rangsang tunggal dengan kuat itensitas yang berbeda, hal ini

16
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar respon otot (kontraksi otot) dalam
menghadapi kuat itensitas yang berbeda. Kami memutar rotor dengan kecepatan
sedang (50mm/det) dengan intensitas kuat arus yang berbeda (0 volt, 5 volt, 10
volt, 15 volt, 20 volt, dan 25 volt), dan setelah memberikan perlakuan itu maka
kami mendapatkan hasil seperti pada diagram pertama. Pada diagaram pertama
tersebut menunjukan tinggi kontraksi yang terjadi akibat pemberian kuat arus
yang berbeda seperti yang dapat dilihat pada diagram pada kuat arus 20 volt lah
kontraksi otot paling tinggi terjadi, sedangkan pada kuat arus 25 volt kinerja otot
justru menurun hal ini bisa terjadi karena otot yang tidak mampu merespon kuat
rangsang dengan baik, atau dikarenakan otot mengalami kelelahan.
Pada pengamatan kedua kami ingin mengetahui panjang periode yang di
alami pada otot kodok (periode laten, periode kontraksi, dan periode relaksasi),
pada pengamatan ini kami menggunakan kecepatan maksimum dengan kuat arus
submaksimum, setelah memberikan perlakuan tersebut kami mendapatkan hasil
seperti yang tertera pada grafik dua dan tiga. Pada grafik dua kita bisa melihat
panjang periode yang di alami saat otot kodok berkontraksi, panjangnya periode
laten adalah 0,4 mm, panjang periode kontraksi 0,3 mm, dan panjang relaksasi
adalah 0,4 cm. Serta pada grafik ketiga kita bisa melihat mengenai tinggi kontraksi
otot yang terjadi pada perlakuan 2 yaitu setinggi 0,3 mm.
Pada pengamatan ketiga kami melakukan pengamatan mengenai efek
rangsang dua kali berturut-turut dengan memberikan jenis rangsang yang berbeda,
pada perlakuan I pemberian rangsang di lakukan setelah kontraksi pertama terjadi
dan jarak yang terbentuk antara kontraksi pertama dan kedua sejauh 2,2 cm. Pada
perlakuan kedua pemberian rangsang kedua diberikan sebelum kontraksi pertama
berlangsung sepenuhnya sehingga jarak kontraksi pertama dan kedua sejauh 2 cm,
sedangkan pada perlakuan ketiga perlakuan yang diberikan pemberian rangsang
kedua diberikan secepat mungkin yang bertuan agar pemberian rangsang kedua
jatuh pada peride laten yang menyebabkan jarak kontraksi pertama dan kedua
sejauh 0,9 mm, namun pada perlakuan ketiga ini terjadi sedikit perbedaan dimana
gelombang kedua terbentuk dengan posisi yang hampir berdekatan namun dengan
tinggi gelombang yang berbeda.

17
Pada pengamatan yang keempat kami ingin mengamati mengenai efek
perangsang lebih dari dua kali, hal ini bertujuan untuk mengetahui kontraksi yang
terjadi pada otot ketika kuat arus yang diberikan berbeda-beda, setelah melakukan
pengamatan kami mendapatkan hasil seperti grafik kelima, pada grafik kelima
menunjukan tinggi kontraksi yang terjadi dan pada pemberian rangsang dengan
kecepatan sedang menunjukan kontraksi otot yang paling tinggi, sedangkan
lambat memperoleh hasil terendah dan pada frekuensi cepat dan sangat cepat
tinggi kontraksi yang terjadi sama tinggi, hal ini mengambarkan pada saat
frekuensi rangsang yang diberikan pada otot tepat maka akan menyebabkan
kontraksi yang terjadi maksimal juga.
VIII. Simpulan
Kesimpulan yang dapat kami simpulkan pada praktikum kali ini adalah kuat
rangsang dan intensitas yang diberikan pada otot rangka kodok akan
mempengaruhi periode laten, periode kontraksi, dan periode relaksasi yang terjadi
pada otot, kuat rangsang yang tepat akan membuat otot mampu bekerja dengan
tepat, namun saat rangsang yang diberikan terus menerus maka akan
mengakibatkan fungsi dari otot tersebut menurun hal itu diakarenakan otot
mengalami kelelahan.

18
IX. Daftar Pustaka
Encyclopedia Britanica. 2016. Gastrocnemius Muscle.
(online).(www.britannica.com)(diakses pada selasa tangga 1
november 2016, pukul 16.00 wita)
Riawan, I Made Oka., Desak Made Citrawati., dan I Made Sutajaya. 2016.
Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Undiksha: Singaraja.
Sridanti. 2016. Lima Fungsi Otot pada Manusia.
(online).(www.sridanti.com)(diakses pada selasa tanggal 1 november
2016, pukul 15.40 wita).
Sridanti. 2016. Pengertian Otot Rangka.
(online).(www.sridanti.com)(diakses pada selasa tanggal 1 november
2016, pukul 15.40 wita).
X. Jawaban Pertanyaan
1. Pengaruh jenis rangsang yang diberikan pada otot akan mempengaruhi
kinerja otot itu dikarenakan otot rangka pada hewan vertebrata akan
bergerak sesuai dengan kuat rangsang yang terjadi, namun tidak
selamanya kuat rangsang yang tinggi akan menyebabkan respon otot
yang tinggi pula hal ini bisa terjadi karena faktor internal yang terjadi
pada makhluk hidup tersebut.
2. Jika menggunakan jenis otot yang berbeda mungkin saja hasilnya akan
berbeda itu disebabkan oleh beberapa hal yaitu susunan setiap otot yang
berbeda satu sama lain tergantung tempat dan fungsi yang dimilikin otot
tersebut, kedua tidak semua otot memiliki cepat respon yang sama
dengan otot lainnya, ketiga setiap otot memiliki daya tahan yang
berbeda sehingga mengakibatkan mungkin saja hasil yang akan di
dapatkan akan berbeda.

19