Anda di halaman 1dari 11

I.

Judul : Efisiensi Metabolisme


II. Tujuan :
1. Memahami metode penentuan efisiensi metabolisme hewan
secara gravimetri
2. Mengukur tinggi efisiensi metabolisme hewan invertebrata
dan vertebrata dengan berbagai variasi faktor eksternal
III. Dasar Teori :

Metabolisme merupakan proses fisiologis yang melibatkan keseluruhan reaksi


biokimia dalam rangka menyusun (anabolisme) atau menguraikan (katabolisme) berbagai
substansi kimiawi yang ada di dalam tubuh seperti glukosa, lipid, protein, hormon, dan
berbagai substansi lainnya. Masing-masing spesies hewan memiliki laju metabolisme dan
tingkat efisiensi metabolisme yang berbeda sesuai dengan kondisi lingkungan, umur, jenis
makanan, dan faktor genetik dari hewan tersebut. Metabolisme diperlukan untuk
memproduksi energi, membentuk struktur atau meregenerasi struktur tubuh yang rusak,
reproduksi serta menyokong keseimbangan homeostasis fisiologis tubuh. (Riawan, 2016).

Makhluk multiseluler, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan tersusun atas


jutaan sel. Tiap sel memiliki fungsi tertentu untuk kelangsungan hidup suatu organisme.
Untuk menjalankan fungsinya, sel melakukan proses metabolisme. Metabolisme adalah
proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup/sel. Metabolisme disebut
juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.
Metabolisme juga berperan mengubah zat yang beracun menjadi senyawa yang tak
beracun dan dapat dikeluarkan dari tubuh. Proses ini disebut detoksifikasi. Umumnya,
hasil akhir anabolisme merupakan senyawa pemula untuk proses katabolisme. Hal itu
disebabkan sebagian besar proses metabolisme terjadi di dalam sel. Mekanisme masuk
dan keluarnya zat kimia melalui membran sel mempunyai arti penting dalam
mempertahankan keseimbangan energi dan materi dalam tubuh. Proses sintesis dan
penguraian berlangsung dalam berbagai jalur metabolisme. Adapun hasil reaksi tiap tahap
metabolisme merupakan senyawa pemula dari tahap reaksi berikutnya. Proses
metabolisme yang terjadi di dalam sel makhluk hidup seperti pada tumbuhan dan
manusia, melibatkan sebagian besar enzim (katalisator) baik berlangsung secara sintesis
(anabolisme) dan respirasi (katabolisme). Pada saat berlangsungnya peristiwa reaksi
biokimia di dalam sel, enzim bekerja secara spesifik. Enzim mempercepat reaksi kimia
yang menghasilkan senyawa ATP dan senyawa-senyawa lain yang berenergi tinggi

1
seperti pada proses respirasi, fotosintesis, kemosintesis, sintesis protein, dan lemak
(Johnson, 1984).

Metode gravimetri merupakan metode yang paling sederhana untuk mengestimasi


tingkat efisiensi metabolisme hewan. Penghitungan efisiensi dilakukan dengan
menentukan perkiraan persentase makanan yang diabsorbsi oleh hewan dari sejumlah
makanan yang dikonsumsinya. Hal ini biasanya sangat tergantung kepada jenis makanan,
berat badan individu, jenis kelamin, umur dan kondisi lingkungan. Efisiensi metabolisme
juga dapat diperkirakan dengan memperhatikan perubahan berat badan hewan.
Pertambahan berat badan idealnya merupakan manifestasi dari hasil pertambahan massa
komponen fisiologis hewan sebagai akibat dari proses metabolisme. (Riawan, 2016).

IV. Alat dan bahan :


A. Praktikum 1. Efisiensi Metabolisme pada Mencit (Mus musculus)
Alat :
1. Kandang mencit
2. Timbangan
3. Kantong plastik
4. Sendok kecil
5. Gelas ukur
6. Sarung tangan
7. Masker
8. Alat tulis

Bahan :

1. Mencit putih jantan 2 ekor per-kelompok yang telah dipuasakan selama 2 hari
2. Pakan mencit (roti, keju, jagung, beras merah, sentrat, tempe, kelapa, dan
kacang tanah)
3. Air

B. Praktikum 2. Efisiensi Metabolisme Pada Cacing Tanah (Pheretima sp.)

Alat :

1. Ember plastik kecil 4 buah


2. Timbangan

2
3. Kantong plastik
4. Pinset
5. Sarung tangan
6. Alat tulis

Bahan :

1. Cacing tanah 40 ekor dengan ukuran relatif sama


2. Tanah lempung merah
3. Tanah kebun
4. Pasir
5. Tanah kandang

V. Prosedur Kerja
A. Praktikum 1. Efisiensi Metabolisme pada Mencit (Mus musculus)
1. Menyediakan 2 unit kandang mencit (A dan B) yang bersih dan lengkap
dengan wadah makanan dan minuman.
2. Meletakkan bahan makanan berupa pakan pada masing-masing 120 gram per
kandang dan air secukupnya dalam botol minuman.
3. Menimbang berat masing-masing mencit percobaan dan mencatat sebagai
berat awal (B0).
4. Memasukkan dua ekor mencit per kandang dan tempatkan pada posisi yang
aman dengan memperhatikan pencahayaan selama 6 hari.
5. Melakukan penimbangan berat badan mencit setiap dua hari, berat pakan yang
tersisah dan berat fesesnya. Selain itu juga diukur suhu kandang pada tiap
pengamatan.
6. Mencatat data pada tabel pengamatan dan melakukan penghitungan efisiensi
metabolisme mencit untuk dua perlakuan yang berbeda (jenis pakan).
7. Menghitung Efisiensi metabolisme dengan menentukan persentase pakan yang
diabsorbsi oleh mencit pada pencernaannya dari total pakan yang dikonsumsi.
EM (%) = BPk BF x 100%
BPk

3
Ket :

EM : efisiensi metabolisme (%)

BPk : Berat pakan yang dikonsumsi (g)

BF : Berat feses (g)

Menyajikan data hasil analisis dalam bentuk grafik yang meliputi nilai EM
dari awal hingga akhir pengamatan dan grafik perubahan berat badan rata-rata
mencit per perlakuan.

B. Praktikum 2. Efisiensi Metabolisme Pada Cacing Tanah (Pheretima sp.)


1. Memberi label A, B, C, dan D pada ember plastik.
2. Mengisi ember dengan jenis tanah atau media yang berbeda pada label yang
berbeda.
3. Mengisi cacing tanah masing-masing 10 ekor untuk satu ember dan lakukan
penimbangan terlebih dahulu terhadap berat total dari masing-masing
kelompok cacing tersebut (mencatat sebagai berat awal).
4. Memasukkan cacing ke dalam ember yang berbeda lalu letakkan di tempat
yang gelap dan lembab selama 6 hari dan ukur suhu tanah/medium tiap dua
hari.
5. Melakukan pembongkaran tanah di dalam ember dan ambil kembali cacing
yang ada di dalamnya.
6. Mencatat jumlah cacing yang hidup, cacing yang mati, dan timbang berat
cacing yang masih hidup (dicatat sebagai berat akhir atau Bf).
7. Melakukan analisis data dengan menghitung persentase cacing yang bertahan
hidup dan mati dan persentase perubahan berat total dari cacing yang masih
hidup tersebut pada masing-masing perlakuan (jenis media).
8. Menyajikan data hasil pengamatan dalam bentuk grafik yang representatif.

VI. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
Praktikum 1. Efisiensi Metabolisme pada Mencit (Mus musculus)
Tabel 1 (hasil pengukuran efisiensi metabolisme pada mencit)

4
Parameter KELOMPOK

1 2 3 4 5 6 7 8

(Keju) (Jagung) (Kelapa) (Beras (Roti) (Kacang) (Sentra) (Tempe)


merah)

BPK 1 17,85 56,25 58,1 35 42,5 38,2 27,1 21,3

BPK 2 9,1 1,9 1,9 40 51,5 18,3 114,2 19,1

BPK 3 3,5 1,3 57,05 38 48 0,6 113,8 16,9

BF 1 0,2 0,1 0,2 0,25 0,15 0,15 1,2 0,1

BF 2 0,35 0,1 0,15 0,4 0,2 0,1 1,9 0,15

BF 3 0,1 0,05 0,1 0,85 0,05 0,1 2,0 0,1

BM 1 1,45 0,75 2,05 2,05 2 0,45 0,05 0,15

BM 2 1,3 1 0,6 0,1 0,15 0,7 -0,4 0,35

BM 3 0,1 0,8 0,25 0,4 0 0,25 1,9 0,3

EM% 97,93 99,58% 99,61% 98,67% 99,72 99,31% 98% 99,42%


% %

Keterangan :

BPK = Berat pakan konsumsi

BF = Berat feses

BM = Berat mencit

EM = Efisiensi metabolisme

5
Grafik 1 (Perubahan berat mencit)

Keterangan :

Berat mencit1 :

Berat mencit2 :

Berat mencit3 :

Grafik 2 (Efisiensi metabolisme pada mencit)

Keterangan :

Efisiensi metabolisme :

6
Praktikum 2. Efisiensi Metabolisme Pada Cacing Tanah (Pheretima sp.)

No Nama Presentase Presentase mati Presentase


pengamatan Hidup perubahan berat
badan cacing

1 Cacing tanah 30% 70% 45%


bebas

Grafik 3. (Efisiensi metaboisme pada cacing tanah)

Keterangan :

Cacing hidup :

Cacing mati :

Total perubahan berat cacing :

7
B. Pembahasan
Hasil praktikum yang didapat dari praktikum efisiensi metabolisme pada
mencit yaitu; pada keju dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan
konsumsi sebanyak 10.15, rata-rata berat feses dari 3 kali pengukuran mendapat
hasil 0.22, rata-rata berat mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.95.
Berdasarkan hasil metabolisme mencit pada pakan keju dapat dikatakan kurang
efisien, ini dibuktikan oleh presentase metabolisme mencit yaitu 97,93%. Pada
keju berat pakan konsumsi, berat feses, dan berat mencit kurang sesuai, sebab
berat pakan konsumsinya relatif sedikit jika dilihat dari berat fesesnya sehingga
mencit mengalami penurunan berat badan berdasarkan persentase efisiensi
metabolisme sebanyak 97.93% (1). Pada jagung dari 3 kali pengukuran mendapat
rata-rata berat pakan kosumsi sebanyak 20.48, rata-rata berat fese dari 3 kali
pengukuran mendapat hasil 0.08, rata-rata berat mencit dari 3 kali pengukuran
mendapat hasil 0.85. Berdasarkan hasil metabolisme mencit pada pakan jagung
dapat dikatakan sangat efisien berdasarkan persentase efisiensi metabolisme
sebanyak 99.58% (2). Pada kelapa dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata
berat pakan kosumsi sebanyak 39.01, rata-rata berat fese dari 3 kali pengukuran
mendapat hasil 0.15, rata-rata berat mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil
0.96. Berdasarkan hasil metabolisme mencit pada pakan kelapa dapat dikatakan
sangat efisien berdasarkan persentase efisiensi metabolisme sebanyak 99.61%
(3). Pada beras merah dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan
kosumsi sebanyak 37.66, rata-rata berat fese dari 3 kali pengukuran mendapat
hasil 0.5, rata-rata berat mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.85.
Berdasarkan hasil metabolisme mencit pada pakan beras merah dapat dikatakan
cukup efisien berdasarkan persentase efisiensi metabolisme sebanyak 98.67%
(4). Pada roti dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan kosumsi
sebanyak 47.33, rata-rata berat fese dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.13,
rata-rata berat mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.71. Berdasarkan
hasil metabolisme mencit pada pakan roti dapat dikatakan sangat efisien
berdasarkan persentase efisiensi metabolisme sebanyak 99.72% (5). Pada kacang
dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan kosumsi sebanyak 19.03,
rata-rata berat fese dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.11, rata-rata berat
mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.46. Berdasarkan hasil
metabolisme mencit pada pakan kacang dapat dikatakan sangat efisien

8
berdasarkan persentase efisiensi metabolisme sebanyak 99.31% (6). Pada sentrat
dari 3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan kosumsi sebanyak 85.03,
rata-rata berat fese dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 1.7, rata-rata berat
mencit dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.51. Berdasarkan hasil
metabolisme mencit pada pakan sentrat dapat dikatakan cukup efisien
berdasarkan persentase efisiensi metabolisme sebanyak 98% (7). Pada tempe dari
3 kali pengukuran mendapat rata-rata berat pakan kosumsi sebanyak 19.1, rata-
rata berat fese dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.11, rata-rata berat mencit
dari 3 kali pengukuran mendapat hasil 0.26. Berdasarkan hasil metabolisme
mencit pada pakan tempe dapat dikatakan sangat efisien berdasarkan persentase
efisiensi metabolisme sebanyak 99.42% (8). Dari data diatas, metabolisme mencit
yang paling kurang efisien terjadi pada pemberian pakan keju sedangkan
metabolisme yang paling efisien terjadi pada pemberian pakan roti. Faktor utama
yang memengaruhi efisiensi metabolisme pada mencit tersebut kemungkinan
adalah tingkat kesesuaian pakan yang diberikan dengan makanan alami dari
mencit itu sendiri dan juga kondisi kesehatan mencit. Mencit pada umumnya
memakan makanan sejenis biji-bijian atau makanan yang berasal dari tumbuhan
meski ia telah menyesuaikan diri untuk hidup dan mengonsumsi makanan sisa
rumah tangga. Oleh sebab itu apabila komposisi dan formula makanannya
mengandung atau lebih banyak mengandung bahan yang berasal dari hewan
seperti keju dan sentrat maka kemungkinan metabolismenya tidak akan sebaik
makanan yang berasal dari tumbuhan. Adapun yang memengaruhi efisiensi
metabolisme tersebut disamping karena faktor keseuaian makanan pada mencit
terdapat faktor lain yang memengaruhi salah satunya adalah kondisi mencit yang
tidak sesuai dengan kondisi tempat tinggal sebelumnya dan stres karena mencit
sering digunakan mainan oleh mahasiswa selain itu kondisi kandang yang kecil
dan seadanya.
Diantara semua media tanah yang digunakan hanya ditanah bebas masih
terdapat cacing yang hidup yaitu sebanyak 30% dan presentase perubahan berat
badan cacing sebanyak 45%, ini menunjukkan bahwa hanya ditanah bebas
metabolisme yang secara efisien dapat dilakukan. Ini disebababkan nutrisi dari
cacing tanah itu sendiri adalah dengan cara memakan tanah tempat ia hidup untuk
memeroleh bahan makanan berupa zat organik (detritivor). Oleh sebab itu, cacing
tanah akan kesulitan hidup di tempat yang minim bahan organik atau tidak

9
gembur seperti pasir karena menyebabkan metabolismenya terhambat atau
bahkan mati karena kurang tersedianya bahan makanan dan udara tidak bebas
masuk ke dalam tanah. Selain itu ada faktor lain yang memengaruh cacing untuk
bertahan hidup salah satunya yaitu pada kelas VC tempat meletakkan medianya
yang salah yaitu ditempatkan pada lemari yang suhunya cukup panas. Hal
tersebut memengaruhi metabolisme cacing menjadi kurang maksimal atau bahkan
mati.

VII. Simpulan
1. Pakan mencit memengaruhi presentase efisiensi metabolisme pada mencit dan
pada cacing media tanah yang memengaruhi presentase hidupnya
2. Kondisi mencit yang tidak sesuai dengan kondisi tempat tinggal sebelumnya,
stres, kondisi kandang yang kecil, dan seadanya dapat memengaruhi efisiensi
metabolisme pada mencit.
3. Tempat meletakkan media yang tidak tepat dapat memengaruhi hidup cacing
sehingga efisiensi metabolisme cacing tidak maksimal.

VIII. Jawaban Pertanyaan


1. Interaksi antara jenis makanan dan media yang digunakan sangat berpengaruh
terhadap metabolisme cacing tanah, sebab nutrisi dari cacing tanah itu sendiri
dalah dengan cara memakan tanah tempat ia hidup untuk memeroleh bahan
makanan berupa zat organik (detritivor) . Oleh sebab itu, cacing tanah akan
kesulitan hidup di tempat yang minim bahan organik atau tidak gembur seperti
pasir karena menyebabkan metabolismenya terhambat atau bahkan mati
karena kurang tersedianya bahan makanan dan udara tidak bebas masuk ke
dalam tanah.
2. Penggunaan pakan dengan komposisi dan formula yang berbeda akan
memengaruhi efisiensi metabolisme dari mencit itu sendiri. Mencit pada
umumnya memakan makanan sejenis biji-bijian atau makanan yang berasal
dari tumbuhan meski ia telah menyesuaikan diri untuk hidup dan
mengonsumsi makanan sisa rumah tangga. Oleh sebab itu apabila komposisi
dan formula makanannya mengandung atau lebih banyak mengandung bahan
yang berasal dari hewan seperti keju dan sentrat maka kemungkinan
metabolismenya tidak akan sebaik makanan yang berasal dari tumbuhan.

10
IX. Daftar Pustaka

Abbas, Nilla Djuita dan Putra Santoso. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan.
Padang: Universitas Andalas

Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi Edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.

Johnson, D. R. 1984. Biology an Introduction. New York: The Benjamin Cummings


Publishing Co, Inc.

Kimball, J. W. 1988. Biologi. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Riawan, I Made Oka., D. Made Citrawathi., I. Made Sutajaya. 2016. Penuntun


Praktikum Fisiologi Hewan. Singaraja: Undiksha.

11