Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA


A. Kedudukan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting yang tercantum dalam :
1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi, Kami putra dan putri
Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan lambang Negara,
serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa Bahasa Negara ialah
Bahasa Indonesia.
Maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai :
1. Bahasa Nasional
Kedudukan bahasa Indonesia berada di atas bahasa-bahasa daerah.
Kedudukannya sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
a. Lambang kebanggaan nasional
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
b. Lambang identitas nasional
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakaan
lambang bangsa Indonesia. Hal ini berarti melalui bahasa Indonesia akan
dapaat diketahui identitas seseorang, yaitu sifat, tingkah laku, dan watak
seseorang sebagai bangsa Indonesia.
c. Alat pemersatu
Mengacu pada keragaman yang ada di Indonesia dari suku, agama, ras,
dan budaya, bahasa Indonesia dijadikan sebagai media yang dapat
membuat semua elemen masyarakat yang beragam tersebut kedalam
sebuah persatuan.
d. Alat penghubung
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan bahasa yang
berbeda-beda, maka kan sangat sulit berkomunikasi kecuali ada satu
bahasa pokok yang digunakan. Maka dari itu digunakanlah Bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi dan perhubungan nasional.
2. Bahasa Negara
Bahasa negara sama saja dengan bahasa nasional atau bahasa persatuan artinya
bahasa negara merupakan bahasa primer dan baku yang sering digunakan pada
kesempatan yang formal. Kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa
Indonesia berfungsi sebagai :
a. Bahasa resmi kenegaraan.
Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi
kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam
segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan
maupun tulis.
b. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan
Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di
lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak, maka materi pelajaran yang
berbentuk media cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat
dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau
menyusunnya sendiri. Cara ini akan sangat membantu dalam meningkatkan
perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan
teknolologi (iptek)
c. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat Nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah
Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam hubungan antar
badan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Sehubungan dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem
administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan agar isi atau pesan
yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.
d. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan lmu
pengetahuan serta teknologi modern.
Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
Negara dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, baik
melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah
maupun media cetak lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu buku
yang menjelaskan tentang suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan
menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan menyebabkan orang lain belum
tentu akan mengerti.
B. Fungsi Bahasa Indoneia
Fungsi bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Fungsi bahasa secara umum
a. Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri.
b. Sebagai alat komunikasi.
c. Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi social.
d. Sebagai alat control sosial.
2. Fungsi bahasa secara khusus
a. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
b. Mewujudkan seni (sastra).
c. Mempelajari bahasa-bahasa kuno.
d. Mengeksploitasi IPTEK.
BAB 2
RAGAM BAHASA
Pengertian ragam bahasa adalah variasi pemakaian bahasa yang timbl sebagai akibat adanya
sarana (cara), situasi, bidang pemakaian, dan daerah asal penutur yang berbeda-beda. Macam
ragam bahasa antara lain:
1. Cara berkomuikasi yaitu lisan dan tulis
a. Ragam lisan adalah bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap dengan fonem sebagai unsur
dasar dan komunikasi terjadi secara langsung.
Ciri- ciri ragam, bahasa lisan adalah sebagai berikut :
- Langsung
- Tidak terikat ejaan bahasa Indonesia
- Terkadang tidak efektif
- Kalimatnya pendek- pendek
- Lagu kalimat situasional
b. Ragam tulis adalah ragam bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan
huruf sebagai unsur dasarnya, jadi komunikasi terjadi secara tidak langsung.
Ciri- ciri ragam, bahasa tulis :
- Santun
- Efektif
- Bahasa disampaikan sebagai upaya komunikasi satu pihak
- Ejaan digunakan sesuai denga pedoman
- Penggunaan kosakata pada dasarnya sudah dibakukan
2. Situasi yaitu resmi dan tak resmi
a. Ragam bahasa resmi
Adalah ragam bahasa yang dipakai dalam suasana resmi.
Ciri- ciri :
- Digunakan dalam situasi resmi
- Nada bicara yang cenderung datar
- Kalimat yang digunakan adalah kalimat lengkap
b. Ragam bahasa tidak resmi
Adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam situasi tidak resmi.
Ciri- ciri:
- Digunakan dalam situasi tidak resmi
- Sering menggunakan kalimat-kalimat yang tidak lengkap
3. Bidang pemakaian yaitu hukum, bisnis, akademik, agama, dan sastra.
4. Daerah penutur yaitu Dialek Jakarta, Dialek Jawa, Dialek Bali, dsb
BAB 3
TERAMPIL MEMBACA
Pengertian membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media tulis.
Tujuan membaca:
Ada tiga macam informasi yang ingin diperoleh dari kegiatan membaca, yaitu
(1) informasi referensial atau factual, Tujuan membaca ini semata-mata untuk
menambah wawasan atau pengetahuan yang bersifat faktual.
(2) informasi kognitif atau intelektual, sebagai upaya mengembangkan
ketrampilan-ketrampilan intelektual.
(3) informasi afektif dan emosional (White dalam sudiana, 2007:56) untuk
mendapatkan kesenangan.
1. Jenis- jenis membaca ada beraneka ragam seperti baca pilih (selecting), baca lompat
(skipping), baca layap (skimming), baca tatap (scaning), dsb.
2. Membaca cepat
Merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan.

BAB 4
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
A. Penulisan Huruf
1. Penulisan Huruf Kapital
Kaidah penulisan huruf kapital adalah sebagai berikut :
a. Digunakan sebagai unsur pertama kata pada awal kalimat.
Contoh : - Dia mengantuk.
b. Sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh : - Adik bertanya, Kapan kita pulang?
c. Sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan
dan Kitab Suci. Contoh : - Allah, Yang Mahakuasa, Weda, Quran, Alkitab, dll.
d. Sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang
diikuti nama orang. Contoh : - Mahaputra Yamin, Sultan Hasanudin, Haji Agus
Salim, dll.
e. Sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh: - Presiden SBY, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, dll.
f. Sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contoh : - Amir Hamzah, Dewi
Sartika, Halim Perdanakusuma, dll.
g. Sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh : - bangsa
Indonesia, Suku Sunda, bahasa Inggris, dll.
h. Sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh: - tahun Hijrih, Agustus, bulan Maulid, Jumat, hari Galungan, Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, dll.
i. Sebagai huruf pertama nama geografi. Contoh: - Asia Tenggara, Selat
Lombok,Danau Toba, dll.
j. Sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan
ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh: - Republik Indonesia, Majelis
Permusyawaratan, dll.
k. Sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurn yang terdapat pada
nama badan, lembaga pemerintahandan ketatanegaraan, dan dokumen resmi.
Contoh: - Perserikatan Bangsa-Bangsa, Undang-Undang Dasar, Yayasan Ilmu-
Ilmu Sosial, dll.
l. Sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar,
kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi
awal. Contoh: - Bacalah majalah Bahasa dan Sastr, Dia adalah agen surat kabar
Sinar Pembangunan, dll.
m. Sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contoh:
- Dr. (Doktor), M.A. (Master of Arts), S.E. (Sarjana Ekonomi), dll.
n. Sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu,
saudara, kakak, adik, dan paman.
o. Sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
2. Penulisan Huruf Miring
a. Untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam
tulisan.
b. Untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
c. Untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah
disesuaikan ejaannya.
B. Penulisan Angka
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Ditulis dengan
angka Arab atau Romawi.
2. Angka dipakai untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi, satuan waktu, nilai
uang dan kuantitas.
3. Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar
pada alamat.
4. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

C. Penulisan Tanda Baca


1. Tanda Titik
a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh: Saya suka makan nasi.
Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan.
b. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Contoh: -Irwan S. Gatot. -George W. Bush
Apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Dwiki Halla
c. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh: - Dr. (doktor) - S.E. (sarjana ekonomi) - Kol. (kolonel)
d. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.
Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda
titik.
Contoh: - dll. (dan lain-lain) - dsb. (dan sebagainya) - tgl. (tanggal)
e. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Contoh: - Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.
g. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh: - Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
h. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di
dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
Contoh: - DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
- SMA (Sekolah Menengah Atas)
- PT (Perseroan Terbatas)
- WHO (World Health Organization)
- UUD (Undang-Undang Dasar)
- SIM (Surat Izin Mengemudi)
i. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran,
timbangan, dan mata uang.
contoh: - Cu (tembaga) - 52 cm - Rp350,00
j. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau
kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
contoh: - Latar Belakang Pembentukan
- Sistem Acara
- Lihat Pula
2. Tanda Koma
a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi. [Catatan: dengan koma sebelum
"dan"]
Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.
[Catatan: tanpa koma sebelum "dan"]
b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat
setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, danmelainkan.
Contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila
anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh: - Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
- Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
d. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
e. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat
yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu,jadi, lagi
pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh: - Oleh karena itu, kamu harus datang.
f. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang
terdapat pada awal kalimat.
contoh: - O, begitu. - Wah, bukan main.
g. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Contoh: Kata adik, "Saya sedih sekali".
h. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii)
tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis
berurutan.
Contoh: - Medan, 18 Juni 1984 - Medan, Indonesia.
i. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka.
Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT
Wikipedia Indonesia.
j. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia,
1990), hlm. 22.
k. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
contoh: Rinto Jiang, S.E.
l. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen
yang dinyatakan dengan angka.
Contoh: - 33,5 m - Rp10,50
m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
n. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang
terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap
yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam
pembinaan dan pengembangan bahasa.
o. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan
tanda tanya atau tanda seru.
contoh: "Di mana Rex tinggal?" tanya Stepheen.
3. Titik Koma
a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang
sejenis dan setara.
Contoh: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
b. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam
suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik
menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan
siaran pilihan pendengar.
4. Titik Dua
a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian
atau pemerian.
Contoh: - Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan
lemari.
b. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
- Ketua : Axel
- Wakil Ketua : Putri
- Sekretaris : Helena
- Wakil Sekretaris : Michelle
- Bendahara : Tio
- Wakil bendahara : Dikel
c. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku
dalam percakapan.
Contoh:
- Borgx : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
- Rex : "Siap, Boss!"
d. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara
bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan.
Contoh:
- Tempo, I (1971), 34:7
- Surah Yasin:9
- Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
e. Tanda titik dua dipakai untuk menandakan nisbah (angka banding).
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
f. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
5. Tanda Hubung
a. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan
notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
b. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian
tanggal.
Contoh: - p-e-n-g-u-r-u-s - 8-4-1973
c. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian
ungkapan.
Bandingkan: - ber-evolusi dengan be-revolusi
- dua puluh lima-ribuan (205000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (125000).
- Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah
d. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang
dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, (d)
singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan
rangkap.
Contoh: - se-Indonesia
- hadiah ke-2
- tahun 50-an
- ber-SMA
e. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa asing.
Contoh: - di-charter - pen-tackle-an
6. Tanda Pisah
a. Tanda pisah em () membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan
penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
Contoh: Wikipedia Indonesiasaya harapkanakan menjadi Wikipedia terbesar.
b. Tanda pisah em () menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain
sehingga kalimat menjadi lebih tegas.
Contoh:
Rangkaian penemuan inievolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan
atomtelah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
c. Tanda pisah en () dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti
sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
Contoh:- 19191921
- MedanJakarta
- 1013 Desember 1999
d. Tanda pisah en () tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau
bersama tanda kurang ().
Contoh: - dari halaman 45 sampai 65, bukan dari halaman 4565
- antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara tahun 14921499
- 4 sampai 6 C, bukan 46 C
7. Tanda Elipsis
a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk
menuliskan naskah drama.
Contoh: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian
yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan langsung.
Contoh: Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
8. Tanda Tanya
a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.
Contoh: - Kapan ia berangkat?
- Saudara tahu, bukan?
b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh: - Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
9. Tanda Seru
a. Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau
perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa
emosi yang kuat.
Contoh: - Alangkah mengerikannya peristiwa itu!
- Bersihkan meja itu sekarang juga!
- Sampai hati ia membuang anaknya!
- Merdeka!
10. Tanda Kurung
a. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh: Bagian Keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian
dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
b. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral
pokok pembicaraan.
Contoh:
- Satelit Palapa (pernyataan sumpah yang dikemukakan Gajah Mada)
membentuk sistem satelit domestik di Indonesia.
c. c) promosi.
11. Tanda Kurung Siku
a. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam
naskah asli.
Contoh: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
b. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah
bertanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II
[lihat halaman 3538]) perlu dibentangkan di sini.
12. Tanda Petik
a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah
atau bahan tertulis lain.
Contoh:
- "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
- Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam
kalimat.
Contoh:
- Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
- Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di
SMA" diterbitkan dalam Tempo.
- Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang
mempunyai arti khusus.
Contoh:
- Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
- Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda
petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada
ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh:
- Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
- Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
13. Tanda Petik Tunggal
a. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
- Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
- "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan
rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
b. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau
ungkapan asing.
Contoh: feed-back 'balikan'
14. Tanda Garis Miring
a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan
penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh:
- No. 7/PK/1973
- Jalan Kramat III/10
- tahun anggaran 1985/1986
b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata tiap, per atau sebagai tanda
bagi dalam pecahan dan rumus matematika.
Contoh:
- harganya Rp125,00/lembar (harganya Rp125,00 tiap lembar)
- kecepatannya 20 m/s (kecepatannya 20 meter per detik)
c. Tanda garis miring sebaiknya tidak dipakai untuk menuliskan tanda aritmetika
dasar dalam prosa. Gunakan tanda bagi .
Contoh: 10 2 = 5.
d. Tanda garis miring sebaiknya tidak dipakai sebagai pengganti kata atau.
15. Tanda Penyingkat
a. Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka
tahun.
Contoh:
- Ali 'kan kusurati. ('kan = akan)
- Malam 'lah tiba. ('lah = telah)
- 1 Januari '88 ('88 = 1988)
D. Kata Serapan
Ada 4 cara untuk menyerap bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, yaitu :
1. Cara Adaptasi
Mengambil makna kata asing yang diserap dan ejaan atau cara penulisannya
disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Contohnya yaitu kata pluralisasi,
akseptabbilitas, maksimal, dank ado.
2. Cara Penerjemahan
Mengambil konsep yang terkandung dalam kata bahasa asing kemudian mencari
padanannya dalam bahasa Indonesia. Contohnya adalah tumpang-tindih, proyek
rintisan, uji coba. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan satu kata.
b. Istilah sing dalm bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk
positif, sedangkan istilah dalam bentuk negative diterjemahkan ke dalam istilah
Indonesia bentuk negative.
c. Kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada
istilah terjemahannya.
d. Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya
ditinggalkan pada istilah Indonesia.
3. Cara Kreasi
Mengambil konsep dasar yang ada dalam bahasa sumbernya kemudian mencari
padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh penulisan unsur serapan dari bahasa
asing :
a. c di muka e, I, oe, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
cylinder silinder
b. cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k
accommodation akomodasi
acculturation akulturasi
accumulation akumulasi
c. kh tetap kh
khusus khusus
akhir akhir
d. ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek politik
riem rim
e. ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety varietas
patient pasien
f. oo (Belanda) menjadi o
komfoor kompor
g. oo (Inggris) menjadi u
cartoon kartun
proof pruf
h. ph menjadi f
phase fase
physiology fisiologi
i. q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
j. rh menjadi r
rhythm ritme
rhetoric retorika
k. xc di muka e dan i menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
l. y menjadi i jika lafalnya i
dynamo dinamo

BAB 5
DIKSI (Pilihan Kata)
A. Aspek Kata
Setiap kata terdiri dari dua aspek, yaitu bentuk dan makna. Bentuk merupakan sesuatu
yang dapat diinderai, dilihat, atau didengar. Makna merupakan sesuatu yang dapat
menimbulkan reaksi dalam pikiran karena rangsangan bentuk. Misalnya, ada seseorang
berteriak banjir, dalam pikiran akan timbul reaksi karena mengetahui arti kata tersebut.
Oleh karena itu, pikiran kita akan menyatakan ada gerakan air meluas secara tiba-tiba.
Jadi yang dimaksud bentuk adalah semacam kata banjir, sedangkan maknanya adalah
reaksi yang timbul dalam pikiran.
B. Ketepatan Pemilihan Kata
Pilihan kata yang tidak tepat dapat mengakibatkan gagasan atau ide yang disampaikan
tidak dapat diterima dengan baik oleh pendengar atau pembaca. Oleh karena itu, perlu
diperhatikan hal-hal berikut :
1. Kata Bermakna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan konsep dengan
kenyataan atau makna sebenarnya. Sedangkan, makna konotatif adalah makna kiasan
atau perumpamaan. Contoh :
a. saudara saya termasuk orang pandai dalam memotivasi orang lain. (makna
denotatif)
_ karena keyakinannya, barang yang hilang itu ditanyakan kepada orang pandai
yang tinggal di sebuah desa. (makna konotatif)
2. Kata Bersinonim
Kata bersinonim adalah kata yang memiliki makna yang sama atau hampir sama.
Kata-kata yang bersinonim itu, dalam pemakaiannya tidak sepenuhnya dapat saling
menggantikan. Contoh :
a. Dia mampus kemarin malam.
Kata mmpus di atas tidak bisa digunakan untuk subjek manusia, karena terdengar
kurang tepat. Perbaikannya : dia meninggal kemarin malam.
3. Kata Bermakna Umum dan Bermakna Khusus
Kata bermakna umum mencakup kata bermakna khusus. Kata bermakna umum dapat
menjadi kata bermakna khusus jika dibatasi. Contohnya :
a. Dia memiliki kendaraan.
b. Dia memiliki mobil.
c. Dia memiliki sedan.
Kata sedan dirasa lebih khusus daripada mobil. Kata mobil lebih khusus dari kata
kendaraan.
4. Kata yang Mengalami Perubahan Makna
Dalam bahasa Indonesia, terdapat kata yang mengalami penyempitan makna,
perluasan makna, dan perubahan makna.
a. Penyempitan makna
Kata Sarjana semula digunakan untuk menyebut semua cendekiawan. Tapi,
sekarang digunakan untuk cendekiawan yang telah menamatkan pendidikannya di
perguruan tinggi.contoh lainnya yaitu kata pendeta.
b. Perluasan makna
Kata berlayar semula bermakna bergerak di laut menggunakan perahu layar. Tapi,
sekarang maknanya menjadi luas, yaitu bepergian di atas laut, baik memakai
perahu layar atau transportasi lain. Contoh lainnya yaitu kata putri, saudara,
bapak,dll.
C. Kesesuaian Pilihan Kata
Kesesuaian pilihan kata berkaitan dengan pertimbangan pengungkapan gagasan atau ide
dengan memerhatikan situasi bicara dan kondisi pendengar atau pembaca. Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan :
a. Dalam situasi resmi, gunakan kata-kata baku.
b. Dalam situasi umum, gunakan kata-kata umum.
c. Dalam situasi khusus, gunakan kata-kata khusus.
1. Kata Baku dan Takbaku
Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Sedangkan, kata
tidak baku adalah sebaliknya
2. Kata Ilmiah dan Kata Populer
Kata ilmiah adalah kata yang biasa digunakan di lingkungan ilmuwan dan dunia
pendidikan. Sedangkan kata popular adalah kata yang digunakan di kalangan
masyarakat umum. Contohnya :
a. Formasi (kata ilmiah) susunan (kata popular)
b. Solusi (kata ilmiah) jalan keluar (kata popular)
c. Kontradiksi (kata ilmiah) berbeda (kata popular)
BAB 6
KALIMAT EFEKTIF
A. Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, informasi, dan
perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya. Efektif mengandung
pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran yang tepat.
Pengertian efektif dalam kalimat adalah dan ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa
tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai
dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.

B. Syarat Kalimat Efektif


1. Struktur Kalimat Efektif
a. Struktur Kalimat Umum
Unsur-unsur yang mambangun sebuah kalimat dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu unsur wajib dan unsur tak wajib (unsur manasuka). Unsur wajib adalah
unsur yang harus ada dalam sebuah kalimat (yaitu S/subjek dan P/ Predikat),
sedangkan unsur takwajib atau unsur manasuka adalah unsur yang boleh ada dan
boleh tidak ada (yaitu kata kerja bantu, keterangan dan sebagainya).
b. Struktur Kalimat Paralel
Yang dimaksud kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat adalah penggunaan
bentuk-bentuk bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah
ide dalam sebuah kalimat dinyatakan dengna frase (kelompok kata), maka ide-ide
yang sederajat harus dinyatakan dengan frase. Jika sebuah ide dalam suatu
kalimat dinyatakan dengan kata benda, maka ide lain yang sederajat harus dengan
kata benda juga. Demikian juga halnya bila sebuah ide dalam sebuah kalimat
dinyatakan dengan kata kerja, maka ide lainnya yang sederajat harus dinyatakan
dengan jenis kata yang sama.
Jenis pembentukan paralelisme sebagai berikut :
Kesejajaran Bentuk
Berikut ini contoh yang memperlihatkan ketidaksejajaran bentuk.
1. Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog dan
mengatur peminjaman buku.
Ketidaksejajaran itu ada pada kata pembelian (buku) yang disejajarkan
dengan kata membuat (katalog) dan mengatur (peminjaman buku). Agar
sejajar, ketiga satuan itu dapat dijadikan nomina semua, seperti terlihat
pada kalimat berikut.
1. Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog dan
pengaturan peminjaman buku.
2. Kegiatannya meliputi membeli buku, membuat katalog dan mengatur
peminjaman buku.
Kesejajaran Makna
Ketidaksejajaran makna terlihat pada dua contoh berikut.
1. Dia berpukul-pukulan.
2. Adik memetiki setangkai bunga.
Kata berpukul-pukulan bermakana saling pukul. Hal itu berarti
pelakunya harus lebih dari satu. Karena kata dia bermakba tunggal, subjek
kalimatnya itu perlu diubah, misalnya menjadi mereka.
Kata memetiki mempunyai makna berulang-ulang yang tentunya tidak
dapat diterapkan pada setangkai bunga. Perbaikannya dapat dilakukan
dengan mengubah predikat menjadi memetik. Tentu saja, perbaikan itu
bergantung pada informasi yang akan disampaikan.
1. Mereka berpukul-pukulan.
2. Adik memetik setangkai bunga.
Kesejajaran dalam Perincian Pilihan
Kadang-kadang soal ujian dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Soal yang
baik harus memuat perincian pilihan yang sejajar sehingga memberi
peluang yang sama untuk dipilih. Berikt ini contoh perincian pilihan yang
tidak sejajar.
1. Pemasangan telepon akan meyebabkan
a. melancarkan tugas
b. menambah wibawa
c. meningkatkan pengeluaran
Pada contoh tersebut, jawaban yang diharapkan adalah (a), tetapi
kalimat pemasangan telepon akan menyebabkan melancarkan tugas,
bukanlah kalimat yang baik. Pilihan (b) meskipun memang bukan
jawaban yang tepat, tidak mempunyai peluang untuk dipilih karena
kalimat pemasangan telepon akan meyebabkan untuk menambah
wibawa, bukanlah kalimat baik. Kalimat yang memuat pilihan (c)
justru paling baik, tetapi pilihan itu bukan jawaban yang diharapkan.
Soal no 1 itu dapat diubah sebagi berikut.
1. Pemasangan telepon akan meningkatkan
a. Kelancaran
b. Wibawa
c. Pengeluaran
c. Struktur Kalimat Periodik
Pada kalimat umum, unsur-unsur yang dikemukakan cenderung unsur intinya,
tetapi pada kalimat periodik sebaliknya, yaitu unsur-unsur tambahan yang terlebih
dahulu dikemukakan kemudian muncul bagian intinya. Hal ini dilakukan untuk
menarik perhatian para pembaca atau pembicara terhadap pendengarnya. Misalnya :
1. Oleh mahasiswa kemarin jenazah yang busuk itu dikuburkan (O K
S-P)
2. Oleh awan panas yang tersembur dari kepundan, dengan bantuan
angin yang berkecepatan tinggi, hutan lindung di lereng bukit itu
terbakar habis (O K S P )
3. Kemarin rombongan mahasiswa PKL dari Unesa disambut oleh
mahasiswa jurusan PBSID Undiksha (K S P O)

2. Ciri Kalimat Efektif


a. Kesatuan unity
Memiliki subyek dan predikat, serta unsur-unsur lain (O/K) yang saling
mendukung serta membentuk kesatuan tunggal. Contohnya yaitu:
1. Bangsa Indonesia menginginkan keamanan, kesejahteraan, dan kedamaian.
2. Kebudayaan Daerah adalah milik seluruh bangsa Indonesia.
b. Kehematan economy
Yang dimaksud kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan
dengan luasnya jangkauan makna yang diacu. Dengan kata lain, tidak usah
menggunakan belasan kata, kalau maksud yang dituju bisa dicapai dengan
beberapa kata saja.
Mengulang subjek kalimat
Penulis kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu
kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas.
Oleh karena itu, pengulangan bagian kalimat yang demikian tidak
diperlukan. Contoh :
i. Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu
dengan pemimpin perusahaan itu.
ii. Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai
memasuki ruangan.
Kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi:
i. Pemuda itu segera mengubah rencana setelah bertemu dengan
pemimpin perusahaan itu.
ii. Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui mempelai memasuki
ruangan.
Hiponim dihindarkan
Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau
ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung
makna dasar kelompok makna kata yang bersangkutan. Kata merah sudah
mengandung makna kelompok warna. Kata Desember sudah bermakna
bulan. Contoh :
i. Presiden Soeharto menghadiri Rapin ABRI Senin lalu.
ii. Maret tahun ini Presiden Soeharto akan mengadakan perjalanan
muhibah ke beberapa negara tetangga.
iii. Kuning dan ungu adalaah warna kesayangan almarhum ibu
mereka.
Pemakaian kata depan dari dan daripada
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata depaan dari dan daripada.
Penggunaandari dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menunjukkn
arah, asal, sedangkan daripada berfungsi untuk membandingkan sesuatu
benda atau hal dengan benda atau hal lainnya. Contoh :
i. Pak Karto berangkat dari Bandung pukul 7.30.
ii. Kalimat A lebih sukar daripada kalimat B.
c. Penekanan emphasis
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Pemindahan letak frase.
Contoh :
i. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada
kesempatan lain.
ii. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan
lagi soal ini.
Mengulang kata-kata yang sama
Contoh :
i. Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan
murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat,
diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara
satu dan lainnya.
d. Kevariasian variety
Variasi dalam pembukaan kalimat
Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau
dibuka dengan : (1) frase keterangan(waktu, tempat, cara), (2) frase
benda, (3) frase kerja, dan lain sebagainya. Contoh :
i. Dibuangnya jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini (frase
kerja)
Variasi dalam pola kalimat
Untuk menghilangkan rasa kebosanan, pola kalimat subjek-predikat-objek
dapat diubah menjadi predikat-objek-subjek atau yang lainnya. Contoh :
i. Doker muda itu belum dikenal oleh masyarakat. (S-P-O)
ii. Sebelum dikenal oleh masyarakat dokter muda itu. (P-O-S)
Variasi dalam jenis kalimat
Contoh :
i. Presiden sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati-hati memakai
bahan bakar dan energy dalam negeri. Apakah kita menangkap makna
peringatan tersebut?
Dalam kutipan diatas terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam
bentuk tanya. Penulis itu tentu dapat mengatakannya dalam kalimat
berita. Akan tetapi untuk mencapai efektivitas ia memakai kalimat tanya.
Variasi bentuk aktif-pasif
i. Pohon pisang itu cepat tumbu. Kita dengan mudah dapat menanamnya
dan memeliharanya.
ii. Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat
ditanam dan dipelihara.
Paragraf 1 menggunakan kalimat aktif saja, sedangkan paragraf 2 berupa
kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan bahwa paragraph 1 tidak
bervariasi sedangkan paragraph 2 bervariasi.
BAB 7
BAHASA INDONESIA YAG BAIK DAN BENAR
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi
pemakaiannya. Sedangkan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai
kaidah- kaidah yang berlaku. Beberapa kaidah dasar bahasa Indonesia seperti memakai susunan
DM (diterangkan-menerangkan), tidak mengenal perubahan bentuk kata akibat penjamakan, dan
tidak mengenal tingkatan dalam pemakaiannya. Sementara itu, situasi kebahasaan berkaitan
dengan situasi resmi dan tidak resmi.

BAB 8
PENATAAN KALIMAT
A. Kalimat Kontaminasi
Kontaminasi dapat terjadi dalam tataran bentuk kata, susunan kata dan kalimat.
Kekacauan ini terjadi karena dua pikiran yang masing-masing berdiri sendiri dijadikan
satu serangkai baru yang tidak berpadanan. Oleh karena itu, bentukan bahasa yang kacau
ini dapat dikembalikan menjadi dua bentukan yang benar.
Contoh berikut ini dapat dicermati bahwa contoh a merupakan bentukan yang kacau,
sedangkan contoh b dan c adalah perbaikannya.
1. Contoh Kontaminasi Bentukan Kata :
a. Mereka mengenyampingkan pendapat orang tuanya.
b. Mereka menyampingkan pendapat orang tuanya.
c. Mereka mengesampingkan pendapat orang tuanya.
2. Contoh Kontaminasi Sususnan Kata :
a. Dia seringkali membolos.
b. Da sering membolos.
c. Dia berkali-kali membolos.
3. Contoh Kontaminasi Kalimat :
a. Di sekolah murid-murid dilarang tidak boleh merokok
b. Di sekolah murid-murid dilarangg merokok.
c. Di sekolah murid-murid tidak boleh merokok.
B. Kalimat Pleonastis
Suatu kalimat dikatakan pleonastis jika kalimat tersebut mengandung sifat berlebih-
lebihan.
Contoh :
1. Demi untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja. (tidak baku)
2. Demi kekasihnya, dia mau melakukan apa saja. (baku)
3. Untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja. (baku)
4. Meraka menabung di Bank BNI (tidak baku)
5. Mereka menabung di BNI (baku)
C. Kalimat Ambigu
Kalimat ambigu adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu makna.
Contoh :
1. SPP mahasiswa baru dinaikkan
Kalimat diatas memiliki makna bahwa SPP mahasiswa, baru dinaikkan. Sedangkan
makna lainnya yaitu SPP mahasiswa baru, dinaikkan.
D. Kalimat Paralel
Yang dimaksud kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat adalah penggunaan bentuk-
bentuk bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah ide dalam
sebuah kalimat dinyatakan dengna frase (kelompok kata), maka ide-ide yang sederajat
harus dinyatakan dengan frase. Jika sebuah ide dalam suatu kalimat dinyatakan dengan
kata benda, maka ide lain yang sederajat harus dengan kata benda juga. Demikian juga
halnya bila sebuah ide dalam sebuah kalimat dinyatakan dengan kata kerja, maka ide
lainnya yang sederajat harus dinyatakan dengan jenis kata yang sama.
Berikut ini contoh yang memperlihatkan ketidaksejajaran bentuk.
2. Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog dan
mengatur peminjaman buku.
Ketidaksejajaran itu ada pada kata pembelian (buku) yang disejajarkan
dengan kata membuat (katalog) dan mengatur (peminjaman buku). Agar
sejajar, ketiga satuan itu dapat dijadikan nomina semua, seperti terlihat
pada kalimat berikut.
3. Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog dan
pengaturan peminjaman buku.
4. Kegiatannya meliputi membeli buku, membuat katalog dan mengatur
peminjaman buku.
E. Kalimat Tidak Logis
Kalimat tidak logis adalah kalimat yang idenya tidak dapat diterima oleh akal manusia.
Contoh :
1. Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnyaa sering mondar-mandir di daerah
tersebut.
Dari kalimat diatas, dijelaskan bahwa yang mondar-mandir itu adalah mayat wanita.
Jelas bahwa kalimat tersebut salah nalar.
2. Bapak pemakalah, waktu dan tempat kami persilakan.
Kalimat 2 tersebut tidak logis karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak
dapat dipersilakan. Sehingga dapat diubah menjadi Bapak, kami persilakan untuk
menyampaikan makalah.
3. Untuk menyingkat waktu, kita lanjutkan acara ini.
Ketidaklogisan kalimat 3 terletak pada menyingkat waktu. Waktu tidak dapat
disingkat namun dapat dihemat. . Sehingga dapat diubah menjadi Untuk menghemat
waktu, kita lanjutkan acara ini.
BAB 9
PARAGRAF
A. Pengertin Paragraf
Paragraf atau alinea merupakan rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan
membentuk satu kesatuan pokok bahasan. Paragraf terdiri atas beberapa kalimat yang
saling berkaitan satu sama lain dan mengusung satu pokok pikiran tertentu.
B. Syarat-syarat Paragraf
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraph, yaitu :
1. Kesatuan
Sebuah paragraf hanya mengandung satu tema atau satu gagasan utama. Gagasaan itu
ditunjang oleh gagasan penjelas yang berhubungan dengaan gagasaan utama.
Penyimpangan terhadap gagasan utama akan mengakibatkan unsur kestuan kalimat
terganggu dan dapat menyulitkan pembaca untuk memahaminya.
2. Koherensi
Koherensi adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dan klimat yang lain
pembentuk paraagraf tersebut.
3. Kelengkapan atau Kecukupan Pengembangan Paragraf
Suatu paraagraf dikatakan lengkap apabila berisi kalimat-kaiimat penjelas yang cukup
untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama.
C. Jenis-jenis Paraagraf
Berdasarkan jenisnya, paragraph dapat dibedakan menjadi :
1. Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat dan Tujuannya
a. Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan mempunyai paragraf yang membuka atau penghantar pokok
pikiran dalam karangan itu. Sifat dari paragraf ini harus menarik minat dan
perhatian pembaca serta memberikan pokok pikiran dari apa yang akan diuraikan.
b. Paragraf Penghubung
Paragraph penghubung adalah semua paragraph yang terdapat di antara paragraph
pembuka dan paragraph penutup. Inti persoalan yang akan dikemukakan penulis
terdapat dalam paragraph ini.
c. Paragraph Penutup
Paragraph penutup adalah paragraph yang dimaksudkan untuk mengakhiri
karangan. Dengan kata lain, paragraph ini mengandung kesimpulan pendapat dari
apa yang telah diuraikan dalam paragraph penghubung dan dapat menimbulkan
banyak kesan kepada pembacanya.
2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
a. Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama.
Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas. Dengan kata lain, paragraph
deduktif yaitu paragraph yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf.
b. Paragraf Induktif
Paragraph ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan, kemudian
ditutup dengan kalimat utama.
c. Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraph ini kalimat utama terletak di awal dan di akhir paragraph. Dalam
hal ini kalimat trakhir erisi pengulangan kalimat pertama. Pengulangan ini untuk
mempertegas ide pokok.
d. Paragraf Tanpa Kalimat Utama atau Kalimat Utama pada Seluruh Paragraf
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di
seluruh kalimat yang membangun paragraph tersebut. Bentuk ini biasa digunakan
dalam karangan berbentuk deskripsi dan narasi.
e. Paragraf Ineratif
Paragraf ineratif adalah paragraph yang kalimat utamanya terletk di tengah-tengah
paragraph.
3. Paragraf Berdasarkan Bentuk Unit Tulisan/Sifat Isinya
a. Paragraf Narasi
Paragraph yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian. Paragraph naratif
tidak memiliki kalimat utama.
b. Paragraf Deskripsi
Paragraph yang menceritakan suatu objek sesuai dengan keadaan yang
sebenarrnya sehingga pembaca dapaat melihat, mendengar, merasakn, mencium
secara umajinatif apa yang dijelaskan oleh penulis tentang objek yng dimaksud.
c. Paragraf Argumentasi
Paragraph yang berisi argumentasi-argumentasi yang membuktikan kebenaran
tentang sesuatu. Pada akhir paragraph perlu diberikan kesimpulan. Kesimpulan ini
yang membedakan argumentasi dengan eksposisi.
d. Paragraf Persuasi
Paragraph ini berisi ajakan-ajakan yang bertujuan memengaruhi pembaca untuk
berbuat sesuatu.
e. Paragraph Eksposisi
Paragraph yang berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan
memberikan informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Dalam
paragraph eksposisi, ada beberapa jeni pengembangan, yaitu :
Eksposisi Definisi
Eksposisi Proses
Eksposisi Klasifikasi
Ekposisi ilustrasi
Eksposisi Perbandingan
Eksposisi Laporan

D. Pola Pengembangan Paragraf


Pola pengembangan paragraph adalah perincian dan pengurutan pikiran yang terpadu
yang diwujudkan melalui penataan kalimat-kalimat. Beberapa pola susunan rincian yang
sering digunakan dalam tulisan, yaitu :
1. Pola Runtutan Ruang dan Waktu
2. Pola Klasifikasi
3. Pola Susunan Sebab Akibat
4. Pola Susunan Perbbandingan/Pertentangan
5. Pola Analogi
6. Pola Susunan Ibarat
7. Pola Definisi Luas
8. Pola Contoh atau Ilustrasi
9. Pola Klimaks dan Antiklimaks