Menjadi Hamba Allah 24 Jam
Sungguh, Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu
untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat/51:56).
Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menuntut dua perkara dari kita. Pertama, beribadah
kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara yang sesuai syariat-Nya. Kedua, tidak menyerahkan
ibadah itu kepada selain-Nya.
Artinya, seorang mukmin harus menjadi hamba Allah Azza wa Jalla selama hayatnya.
Statusnya sebagai hamba Allah Azza wa Jalla ini tidak boleh lepas dariNya walaupun sesaat.
Itulah tujuan kita diciptakan. Itulah status dan gelar tertinggi yang diraih seorang insan, yaitu
menjadi hamba Allah Azza wa Jalla yang sejati. Allah Azza wa Jalla telah menyematkan
gelar ini kepada hamba-Nya yang paling mulia, yaitu Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman :
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil
Haram ke al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. al-Isra/17:1)
Umur yang Allah Subhanahu wa Taala berikan kepada kita ini adalah sebuah karunia dan
anugerah yang tiada ternilai. Satu hari Allah Subhanahu wa Taala memberi kita 24 jam.
Itulah waktu yang harus kita pergunakan sebaik-baiknya agar menjadi hamba Allah yang
sejati.
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan sebuah wasiat yang
sangat agung bagi kita, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
, , ,
, :
Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) masa mudamu sebelum datang
masa tua; masa sehatmu sebelum datang masa sakit; masa kayamu sebelum datang masa
miskin; masa luangmu sebelum datang masa sibuk; masa hidupmu sebelum datang
kematian. (HR. al-Hakim dan selainnya).
Ibadallah,
Sesungguhnya hidup adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai
angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu bentuk
ibadah kepada bentuk ibadah lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap. (alInsyirah/94:7-8)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, Apabila engkau telah selesai mengerjakan
suatu tugas maka bersiap-siaplah mengerjakan tugas yang lainnya, janganlah menyia-nyiakan
kesempatan. Oleh karena itu, kehidupan orang yang cerdas adalah kehidupan yang penuh
semangat. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas, ia bersiap mengerjakan tugas yang lain.
Karena waktu akan terus berlalu, baik kita dalam keadaan terjaga maupun tidur, sibuk
maupun lowong. Waktu terus berjalan, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya.
Sekiranya semua manusia bersatu padu untuk menahan matahari supaya waktu siang
bertambah panjang niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya. Tidak ada seorang pun
yang dapat menahan waktu. Karena itu, jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat.
Jika engkau selesai mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang
lainnya. Jika engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya
dengan mengerjakan urusan akhirat. Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan
akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat
Jumat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah Subhanahu wa Taala. Shalat
Jumat diapit oleh dua urusan dunia. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jumat, (padahal
engkau dalam keadaan sibuk mengurus urusan dunia) maka bersegeralah kamu kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu
beruntung. (Al-Jumuah/62:9-10)
Jika ada yang mengatakan, Jika aku terus-menerus serius dan sungguh-sungguh setiap
waktu, aku pasti letih dan bosan. Jawabannya adalah istirahatmu untuk menyegarkan dirimu
dan mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Maksudnya pekerjaan dan
amalan itu tidak harus bergerak. Waktu istirahatmu untuk mengembalikan gairah kerja
termasuk pekerjaan dan amalan. Yang paling penting adalah jadikanlah seluruh hidupmu
dalam kesungguh-sungguhan dan amal. Firman Allah Subhanahu wa Taala :
dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap. (QS. al-Insyirah/94:8).
Maksudnya, apabila Anda selesai mengerjakan tugas-tugas lalu diikuti dengan pekerjaan
yang lainnya maka berharaplah kepada Allah agar engkau mendapatkan pahala. Tetaplah
memohon pertolongan kepada Allah, sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal
mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Taala . Dan setelah beramal, berharaplah
pahala dari Allah Azza wa Jalla.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Memanfaatkan waktu lebih berat daripada
memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal
paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal
ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah kesempatanmu
mengumpulkan bekal untuk menyongsong akhirat, ke surga ataukah ke neraka.
Ibadallah,
Waktu terus berjalan, usia kita terus bertambah. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengisi
waktu itu sebaik-baiknya. Hari demi hari yang berlalu dan yang akan kita jalani ini, apakah
sudah kita manfaatkan sebaik-baiknya seperti yang diwasiatkan oleh Nabi kita shallallahu
alaihi wa sallam?
Sungguh merugi, orang yang tidak mengisi harinya untuk menjadi hamba Allah yang sejati.
Manusia seperti ini laksana mayat hidup yang berjalan, mati sebelum waktunya. Hidupnya
tidak bermakna sama sekali!
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Merupakan hak Allah atas hamba-Nya di setiap
waktu yang berlalu dalam hidupnya untuk menunaikan kewajiban ubudiyah yang ia
persembahkan kepada Allah dan untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya. Jika seorang
hamba mengisi waktunya dengan ibadah yang wajib ia lakukan, maka ia akan maju menuju
Allah. Sebaliknya, jika ia isi dengan mengikuti hawa nafsu, bersantai ria atau menganggur, ia
akan mundur. Seorang hamba kalau tidak melangkah maju, ia pasti bergerak mundur. Tidak
ada yang berhenti di tengah jalan. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. (QS. alMudattsir/74:37).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya!
Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakanya! (HR. Muslim).
Setiap insan melanjutkan perjalanannya, ada yang menjual dirinya kepada Allah Subhanahu
wa Taala:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan jannah untuk mereka. (QS. at-Taubah/9:111).
Dan ada pula yang menjualnya kepada setan yang senantiasa mengintai.
Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, Barangsiapa tidak mengisi waktunya untuk Allah
dan dengan petunjuk Allah maka baginya mati lebih baik daripada hidup ! Apabila seorang
hamba sedang mengerjakan shalat, maka ia hanya memperoleh bagian shalat yang ia lakukan
dengan khusyuk. Ia tidak memperoleh bagian apapun dari hidupnya kecuali yang dijalaninya
dengan petunjuk Allah dan ditujukannya semata-mata untuk Allah.
Ibadallah,
Lalu, mampukah kita mengisi 24 jam yang Allah berikan ini untuk beribadah kepada Allah
Azza wa Jalla? Jawabnya, kita mampu mengisinya dengan ibadah. Hal itu bila kita
memaknai ibadah dengan maknanya yang luas. Yaitu segala sesuatu yang dicintai dan
diridhai oleh Allah Azza wa Jalla berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala telah membuka pintu-pintu kebaikan. Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa
mendekatkan diri kita kepada-Nya. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku
memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke
neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.(HR. al-Hakim).
Seandainya kita menerapkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, niscaya
separuh hari kita terpakai untuk mengamalkannya. Dan hanya tersisa sedikit kesempatan saja
untuk menganggur tanpa amal kebaikan.
Hanya saja, manusia sering ditimpa dua penyakit yang menghalanginya dari semua itu. Yaitu
penyakit malas dan taswif (menunda-nunda amal). Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari sifat malas ini. Salah satu doa beliau shallallahu
alaihi wa sallam,
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur. (HR. Muslim).
Ibadallah,
Beberapa bentuk amal yang dapat kita lakukan sehari semalam diantaranya:
Pertama: Shalat fardhu lima kali sehari semalam. Ini merupakan rukun Islam yang kedua dan
wajib dilakukan oleh setiap muslim yang baligh dan berakal. Kewajiban ini tidak gugur
bagaimanapun keadaannya, kecuali wanita yang sedang haidh dan nifas.
Shalat wajib dikerjakan dengan berdiri, jika tidak bisa dengan berdiri, maka dilakukan sambil
duduk, kalau tidak bisa duduk dikerjakan sambil berbaring, kalau tidak bisa juga maka
dengan isyarat.
Kedua: Shalat-shalat sunnat rawatib yang mengiringi shalat fardhu.
Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu anhu bercerita, Aku bertanya kepada Aisyah
radhiyallahu anha tentang shalat sunnat yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam. Aisyah radhiyallahu anha menjawab, Beliau shalat empat rakaat di rumahnya
sebelum shalat zuhur. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam keluar mengerjakan
shalat berjamaah. Setelah itu beliau shallallahu alaihi wa sallam pulang ke rumah dan shalat
empat rakaat. Beliau shallallahu alaihi wa sallam shalat maghrib berjamaah kemudian
beliau pulang dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau shalat isya berjamaah lalu pulang ke
rumahku dan shalat dua rakaat. Beliau mengerjakan shalat malam sembilan rakaat termasuk
shalat witir. Beliau mengerjakan shalat malam panjang sekali dengan berdiri dan kadangkadang beliau kerjakan sambil duduk. Apabila beliau membaca surat dengan berdiri, maka
beliau sebagaimana biasa. Namun bila beliau membaca surat sambil duduk, maka beliau
rukuk dan sujud menyesuaikannya. Apabila fajar sudah menyingsing maka beliau shalat dua
rakaat (shalat sunnat fajar). (HR. Muslim).
Ketiga:. Shalat dhuha, termasuk di dalamnya shalat awwabiin yaitu shalat yang dilakukan di
akhir waktu dhuha dan shalat isyraq yang dilakukan di awal waktu dhuha, yakni begitu
matahari muncul.
Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, beliau bersabda:
Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi
sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap
takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar makruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah.
Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha. (HR.
Muslim).
Keempat: Shalat malam. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan
shalat malam, seperti hadits Abu Malik al-Asyari radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya di dalam surga tersedia kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar
dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan untuk orang-orang
yang suka memberi makan, melembutkan tutur bicara, memperbanyak puasa, menebarkan
salam dan mengerjakan shalat malam di kala manusia tertidur pulas. (HR. Ahmad, Ibnu
Hibban, dan at-Tirmidzi).
Shalat malam ini dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Waktunya dari isya hingga terbit fajar.
Kelima: Shalat sunnat sesudah berwudhu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dan tidak berkatakata dalam hati (yakni dikerjakan dengan khusyuk) selama mengerjakannya niscaya Allah
akan mengampuni dosanya. (HR. Bukhar dan Muslim).
Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu anhu setelah shalat fajar, Wahai Bilal, ceritakanlah
kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan kebaikannya. Karena
sesungguhnya aku mendengar suara sandalmu di hadapanku dalam surga. Bilal berkata,
Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan kebaikannya melainkan
setiap kali aku wudhu pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat (dua rakaat
setelah wudhu) yang bisa aku lakukan. (HR. Bukhar dan Muslim).
Keenam: Shalat taubat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:
Tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian dia berdiri, lalu berwudhu
dan mengerjakan shalat, kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan
mengampuninya. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Ketujuh: Shalat witir sebelum idur.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Kekasihku (Rasululla) telah mewasiatkan
kepadaku tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati: Puasa tiga hari
setiap bulan, shalat dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum pergi tidur. (HR. Bukhari).
Kesembilan: Menjaga wudhu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Tidaklah seseorang yang menjaga wudhu kecuali dia orang mukmin. (HR. Ibnu Majah).
Kesepuluh: Dzikir-dzikir sesudah shalat fardhu.
Kesebelas: Dzikir-dzikir mutlak.
Maksudnya adalah dzikir-dzikir yang boleh dibaca tanpa terikat tempat maupun waktu
tertentu. Misalnya yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
Perbanyaklah membaca syahadat la ilaha illallah sebelum sebelum kalian terhalang
darinya. (HR. Abu Yala).
Dan hadits:
Aku mengucapkan SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLALLAH
WALLAHU AKBAR, lebih aku sukai daripada terbitnya matahari. (HR. Muslim).
Dan masih banyak lagi amal-amal lain yang dapat kita kerjakan sehari semalam.