Anda di halaman 1dari 2

Keajaiban itu, ngga ada!

Haaaah Sakura menghembuskan napasnya. Kertas yang tadi ia pegang diremas


dan dilemparnya begitu saja ke lantai.
Ngga ada yang namanya keajaiban. Aaargh! sambil berteriak frustasi, ia
mengacak-acak helaian rambut sewarna bubble gum-nya. Sakura lalu merebahkan
dirinya di lantai atap Konoha Gakuen tempatnya bersekolah.
Padahal aku sudah berusaha, tapi tetap saja hasilnya aku tidak lulus, haaah dan
lagi-lagi ia menghembuskan napas berat.
Tap,tap,tap.
Sakura mendengar suara langkah kaki mendekatinya, namun berhenti beberapa
meter dari tempatnya berbaring. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang datang.
Nyebeliiiiiin! Sakura mengumpat kesal. Padahal aku udah belajar mati-matian
untuk ujian masuk ke kampus yang sama denganmu, kenapa sih Tuhan ngga ngasi
sedikit keajaiban buat aku?
Kau juga, kenapa kau harus terlahir sepintar itu? Aku jadi ngga bisa ngejar kamu,
kan? Ia mulai mengoceh tidak jelas, melampiaskan kekesalannya pada seseorang
yang berdiri di dekatnya. Namun, tak ada respon sama sekali.
Nee, kamu dengerin aku kan, Sasuke-kun? tanyanya sembari bangkit dari posisi
berbaringnya.
Iya, iya,
Bilang iya-nya sekali aja! saat akhirnya Sasuke membuka suara pun ia masih
diprotes oleh sakura.
Iya, aku denger,

Hening. Keduanya terdiam melihat kenyataan yang mereka hadapi saat ini.
.
.
.
Nee, Sasu-kun. Kita nikah aja,

Huh? kata-kata yang sakura ucapkan setelah keduanya hening beberapa saat
mau tak mau membuat sebelah alis sasuke naik. Tapi itu tidak mungkin,
Tapi aku ngga mau kita masuk kampus yang berbeda dan terpisah, sakura
mengutarakan isi hatinya. Aku pasti akan kesepian, Sakura memeluk kedua lutut
dan membenamkan wajahnya. Aku benar-benar takut akan banyak hal saat ini
Aku tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa Sasuke-kun
Dan ia mengeratkan pelukan ke kedua lututnya.
Sasuke yang sedari tadi berdiri kini melangkahkan kakinya dan ikut duduk di
samping Sakura. Ia menarik napas dalam.
Nanti saat aku kuliah, aku berencana untuk meninggalkan rumah, ia berkata
dengan pandangan yang menerawang jauh.
Tapi kalau kau masih tetap menangis, aku tidak akan mengajakmu tinggal
bersama,

(tapi kalo ini dibuat dengan set ala Indonesia, mereka kumpul kebo donk jadinya?
Yaaahhh.)