Anda di halaman 1dari 7

Peran Ngo

Pengembangan dan Pembangunan Infrastruktur


Membangun perumahan, menyediakan infrastruktur seperti sumur atau toilet umum, penampungan limbah padat dan usaha
berbasis masyarakat lain.
Mendukung inovasi, ujicoba dan proyek percontohan:
NGO memiliki kelebihan dalam perancangan dan pelaksanaan proyek yang inovatif dan secara khusus menyebutkan jangka
waktu mereka akan mendukung proyek tersebut. NGO dapat juga mengerjakan percontohan untuk proyek besar pemerintah
karena adanya kemampuan bertindak yang lebih cepat dibandingkan dengan pemerintah dengan birokrasinya yang rumit.
Memfasilitasi komunikasi
NGO dapat memfasilitasi komunikasi ke atas, dari masyarakat kepada pemerintah, dan ke bawah, dari pemerintah kepada
masyarakat. Komunikasi ke atas mencakup pemberian informasi kepada pemerintah tentang apa yang dipikirkan, dirasakan
dan dilakukan oleh masyarakat, sedangkan komunikasi ke bawah mencakup pemberian informasi kepada masyarakat
tentang apa yang direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah. NGO juga dapat memberikan informasi secara horizontal
dan membentuk jejaring (networking) dengan organisasi lain yang melakukan pekerjaan yang sama.
Bantuan teknis dan pelatihan
Institusi pelatihan dan NGO dapat merancang dan memberikan suatu pelatihan dan bantuan teknis untuk organisasi berbasis
masyarakat dan pemerintah.
Penelitian, Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi yang efektif terhadap sifat partisipatif suatu proyek akan memberikan manfaat yang baik bagi
masyarakat dan staf proyek itu sendiri.
Advokasi untuk dan dengan masyarakat miskin
NGO menjadi jurubicara dan perwakilan orang miskin dan mencoba untuk mempengaruhi kebijakan dan program pemerintah. Ini
dapat dilakukan melalui berbagai cara mulai dari unjuk rasa, proyek percontohan, keikutsertaan dalam forum publik untuk
memformulasi kebijakan dan rencana pemerintah, hingga mengumumkan hasil penelitian dan studi kasus terhadap orang
miskin. Jadi, NGO memainkan peran mulai dari advokasi kepada orang miskin hingga implementasi program pemerintah;
dari penghasut (pembuat opini) dan pengkritik hingga rekan kerja dan penasehat; dari sponsor proyek percontohan hingga
mediator.
Macam macam LSM:
1. Organisasi donor, adalah organisasi non pemerintah yang memberikan dukungan biaya bagi
kegiatan ornop lain.
2. Organisasi profesional, adalah organisasi non pemerintah yang melakukan kegiatan
berdasarkan kemampuan profesional tertentu seperti ornop pendidikan, ornop bantuan hukum,
ornop jurnalisme, ornop kesehatan, ornop pengembangan ekonomi dll
3. Organisasi penanganan kesehatan khusus. Misalnya, HIV/AIDS, Hepatitis B, pemulihan kecanduan
obat.
SCREENING KESEHATAN adalah proses untuk menyaring seluruh tubuh dan mengidentifikasi potensi
daerah yang lemah dalam sistem waktu lama sebelum PENYAKIT dapat terwujud. Selain informasi
tersebut akan sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mungkin memperlakukan penyumbatan
dalam sistem untuk mencegah penyakit kronis.
SCREENING KESEHATAN adalah proses untuk menyaring seluruh tubuh dan mengidentifikasi potensi
daerah yang lemah dalam sistem waktu lama sebelum PENYAKIT dapat terwujud. Selain informasi
tersebut akan sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mungkin memperlakukan penyumbatan
dalam sistem untuk mencegah penyakit kronis.
Pemerikksaan kesehatan sangat penting untuk pencegahan penyakit setiap kondisi.
Keuntungan Lain;

Pemeriksaan Kesehatan dan Perawatan awal murah

Terbaik pencegahan penyakit

Non invasif, tanpa rasa sakit dan mudah untuk melakukan

Menghemat uang dan waktu

Tingkat energi tetap tinggi dan seimbang

Menciptakan kesadaran yang lebih baik untuk Kesehatan Anda sendiri

Pemeriksaan kesehatan masa depan Obat

Konsep Pelayanan Kesehatan


Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan
Mutu Pelayanan Kesehatan adalah penampilan yang pantas atau sesuai (yang berhubungan
dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan
hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidak mampuan, dan kekurangang gizi
(Milton dan mantoya, dikutip Wijono, 2000,33).
Kualitas Pelayanan
Kualitas Pelayanan adalah suatu hasil yang diciptakan melalui aktivitas dalam keterkaitan di antara pemasok
dan pelanggan dan melalui aktivitas internal pemasok, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Gaspersz, 1997,124)
a.

Karakteristik Pelayanan
Pelayanan memiliki empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran seperti
yang di ungkapkan oleh Kotler & Armstrong (2002, 376) yaitu :
1) Tidak berwujudnya Pelayanan (Service Intangibility)
Pelayanan tidak dapat dilihat, dicapai, dirasakan, didengar, atau dicium sebelum di beli.
2) Ketidak terpisahan Pelayanan (Service Inseparability)
Pelayanan tidak dapat dipisahkan dari penyedianya, apakah penyedianya tadi orang atau mesin. Karena
pelanggan turut hadir saat pelayanan itu di produksi, interaksi penyedia pelayanan konsumen adalah sifat
khusus dari pemasaran. Baik penyedia pelayanan maupun konsumen akan mempengaruhi hasil pelayanan.

b. Keragaman kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan tergantung pada siapa yang menyediakan jasa, waktu, tempat dan bagaimana cara mereka
disediakan.
c. Dimensi kualitas Pelayanan
Kualitas Pelayanan adalah suatu hasil yang diciptakan melalui aktivitas dalam keterkaitan di antara pemasok
dan pelanggan dan melalui aktivitas internal pemasok, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Gaspersz,
2002, 124)
RANCANGAN PENELITIAN EPIDEMIOLOGI
I.

RANCANGAN DESKRIFTIF

Metode penelitian deskriptif ialah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN DESKRIFTIF
Secara umum langkah-langkah yang harus ditemouh dalam penelitian deskriftif ini tidak berbeda dengan metodemetode penelitian yang laen, yakni :
1. Memilih masalah yang akan diteliti
2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masala, kemudian berdasarkan masalah tersebut diadakan studi
pendahuluan untuk menghimpun informasi dan teori-teori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitian.
3. Membuat asumsi atau angapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian.
4. Merumuskan hipotesis penelitian
5. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data.
6. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data.
7. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan digunakan.
8. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data yang akan digunakan.
9. Melakukan pengolahan dan analisis data (menguji hipotesis)
10. Menarik kesimpulan atau generalisasi.
11. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian.
JENIS-JENIS PENELITIAN DESKRIFTIF
Bentuk pelaksanaan penelitian deskriftif ini ada berbagai jenis, antara lain sebagai berikut :
1.Individu (Case report, case series, cross sectional )
2.Populasi ( Studi korelasi, rangkaian berkala / time series )
A. RANCANGAN DESKRIFTIF PENELITIAN INDIVIDU
1. PENELITIAN CASE REPORT
Adalah Studi kasus yang menggambarkan pengalaman kasus / pasien, sehingga rancangan case report ini disebut
rancangan kuno dan jarang digunakan lagi.
Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal.
Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah, misalnya
keracunan, atau sekelompok masyarakat di suatu daerah. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam
dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendiri, faktor-faktor yang mempengaruhi,
kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap
suatu perlakuan atau pemaparan tertentu.
Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam,
meliputi berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan
berbagai teknik secara integratif.
Kegunaan Penelitian Case Report :
a. Dapat sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit.
b. Dapat untuk memformulasikan suatu hipotesa.
Kelemahan Penelitian Case Report :
a. Tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding.
b. Terdiri dari satu kasus dan tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat untuk mengetes suatu
hubungan asosiasi secara statistic.

2. PENELITIAN CASE SERIES

Adalah Suatu rancangan penelitian yang menggambarkan sekelompok kasus dengan diagnosa yang sama.
Rancangan penelitian ini juga tergolong rancangan yang kuno sehingga jarang digunakan lagi.
Kegunaan Penelitian Case Series :
a. Sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit baru.
b. Untuk memformulasikan suatu hipotesa atau dugaan.
Kelemahan Penelitian Case Series :
a.Studi ini tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding.
b.Ada Case Series terdiri lebih dari satu kasus akan tetapi tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat
untuk mengetes suatu hubungan asosiasi yang valid secara statistik.
3. PENELITIAN CROSS SECTIONAL
Adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor-faktor resiko dengan efek, dengan
carapendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat ( poin time approach ).Artinya, tiap
subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable
subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama.
Pengertian-pengertian yang perlu dipahami dalam penelitian cross sectional, dan juga untuk penelitian analitik
yang lain, di antaranya ialah :
a. Penyakit atau efek
b. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut
c. Agen penyakit (penyebab penyakit)

Keuntungan penelitian Cross Sectional :


Mudah dilaksanakan, sederhana, ekonomis dalam hal waktu, dan hasil dapat diperoleh dengan cepat dan dalam
waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik variabel resiko maupun variabel efek.

Keterbatasan penelitian Cross Sectional :


a. Diperlukan subjek penelitian yang besar
b. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat
c. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan
d. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan
epidemiologi yang lain.

B. RANCANGAN DESKRIFTIF PENELITIAN POPULASI


1.STUDY KORELASI ( CORRELATION STUDY )
Merupakan penelaahan hubungan dua variabel suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk
melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala lainnya. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel
dengan variabel yang lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek,
kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara
keduanya.
2. RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (TIME SERIS DESIGN)
Rancangan ini seperti rancangan pretes-postes, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi
(pengukuran yang berulang-ulang), sebelum dan sesudah perlakuan.

II. RANCANGAN ANALITIK


A.PENGERTIAN
Metode penelitian Analitik ialah penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu
terjadi. Kemudian melakukan analis dinamika korelasi antara fenomena, baik antara faktor resiko dengan efek, antar
faktor resiko, maupun antar faktor efek
B.JENIS-JENIS RANCANGAN ANALITIK
Rancangan analitik secara garis besar dibedakan menjadi :
1.Observasional (Case control, Cohort )
2.Eksperiment ( Pre Squase Murni)
A. RANCANGAN ANALITIK PENELITIAN OBSERVASIONAL
1.PENELITIAN CASE CONTROL
Adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana factor resiko dipelajari dengan menggunakan pandekatan
retrospective.
Dengan kata lain, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian factor resiko
diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu.
Tahap-tahap penelitian Case control
a. Identifikasi variable-variabel penelitian ( factor resiko dan efek )
b. Menetapkan objek penelitian ( populasi dan sampel )
c. Identifikasi kasus
d. Pemilihan subjek sebagai kontrol
e. Melakukan pengukuran retrospektif ( melihat ke belakang ) untuk melihat faktor resiko
f. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabelvariabel kontrol
Kelebihan Rancangan Penelitian Case Control
a. Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol
b. Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih tajam dibanding hasil rancangan
cross sectional
c. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen (kohort)
d. Tidak memerlukan waktu lama ( lebih ekonomis )
Kekurangan Rancangan Penelitian Case Control
a. Pengukuran variabel yang retrospective, objektivitas, dan reabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus
mengingatkan kembali faktor-faktor resikonya.
b. Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidakdapat dikendalikan.
c. Kadang-kadang sulit memilih kontrol yang benar-benar sesui dengan kelompok kasusu karena banyaknya faktor
resiko yang harus dikendalikan.
2. PENELITIAN COHORT (PENELITIAN PROSPEKTIF )
Merupakan suatu penelitian survei ( non eksperimen ) yang paling baik dalam menghubungkan antara faktor resiko
dengan efek ( Penyakit ).
Penelitian cohort digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek melalui
pendekatanlongitudinal ke depan atau prospektif.
Langkah-langkah pelaksanan penelitian cohort
a. Identifikasi faktor-fakor rasio dan efek
b. Menetapkan subjek penelitian ( menetapkan populasi dan sampel )
c. Pemilihan subjek dengan faktor resiko positif dari subjek dengan efek negatif
d. Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol

e. Mengobservasi perkembangan subjek sampai batas waktu yang ditentukan, selanjutnya mengidentifikasi timbul
tidaknya efek pada kedua kelompok
f. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapatkan efek positif dengan subjek yang mendapat
efek negatif baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok kontrol.
Keunggulan Penelitian Cohort
a.Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian.
b.Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu waktu ke waktu yang lain.
c.Ada keseragaman observasi, baik terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu ke waktu.
Keterbatasan Penelitian Cohort
a.Memerlukan waktu yang cukup lama
b.Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit
c.Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil
d.Ada faktor resiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti
kurang atau tidak etis.
B. RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMEN
Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi 3, yakni :
1. Rancangan pra eksperimen (pre experiment design)
2. Rancangan eksperimen murni (true experiment)
3. Rancangan eksperimen semu (squasi experiment design)
RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMEN
Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi 3, yakni :
1. Rancangan pra eksperimen (pre experiment design)
2. Rancangan eksperimen murni (true experiment)
3. Rancangan eksperimen semu (squasi experiment design
Dalam penelitian eksperimen sering digunakan simbol atau lambang-lambang sebagai berikut :
R : Randomisasi (randomizations)
0 1 (T1) : Pengukuran pertama (pretes)
X : Perlakuan atau eksperimen
0 2 (T1) : Pengukurankedua (postes)
1. Rancangan Pra Eksperimen
Bentuk-Bentuk Rancangan Pra-Eksperimen
a. Postes Only Design
Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X), kemudian dilakukan pengukuran (observasi) atau
postes (02).
Selama tidak ada kelompok kontrol, hasil 02 tidak mungkin dibandingkan dengan yang lain. Rancangan ini disebut The
one shot case study. Hasil observasi ini (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif.
Rancangan ini tidak ada kontrol dan internal validitas dan tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau
perbandingan sehingga kesimpulan yang diperoleh menyesatkan. Penelitian ini digunakan untuk meneliti suatu
program yang inovatif, misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan.
b. Rancangan One group Pretest-Postest
Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (control), tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama
(pretes) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen.
Kelemahan rancangan ini adalah tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi tada variable dependen karena
intervensi atau perlakuan, tetapi perlu dicatat rancangan ini terhindar dari kelemahan terhadap validitas, misalnya
sejarah, testing, maturasi dan instrumen.

c. Perbandingan Kelompok Statis


Rancangan ini sama seperti Postes only design hanya bedanya menambahkan kelompok control atau kelompok
perbandingan
Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil
observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok control, yang tidak
menerima program atau intervensi.
Faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrument dapat dikontrol walaupun tidak dapat
diperhitungkan efeknya.
2. Rancangan Eksperimen Murni
Bentuk-bentuk rancangan eksperimen murni
a. Rancangan Pretes-Postes dengan Kelompok kontrol
Dalam rancangan ini dilakukan randomisasi, artinya pengelompokan anggota-anggota kelompok control atau kelompok
eksperimen dilakukan berdasarkan acak atau random, dan diikuti intervensi (X) pada kelompok eksperimen. Setelah
beberapa waktu lalu dilakukan postes (02) pada kedua kelompok tersebut.
Dengan randomisasi , maka kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi (perlakuan).
Karena kedua kelompok sama pada awalnya, maka perbedaan hasil postes (02) pada kedua kelompok tersebut dapat
disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan. Rancangan ini adalah salah satu rancangan terkuat di dalam
mengontrol ancaman-ancaman terhadap validitas.
b. Rancangan Randomisasi Salomon four group
rancangan ini dapat mengatasi kelemahan eksternal validitas yang ada pada rancangan randomized group pretes-postes.
Apabila pretes mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitive terhadap perlakuan (X) dan
mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretes, maka eksternal validitas terganggu, dan kita
tidak dapat membuat generalisasi dari penelitian itu untuk populasi
c. Rancangan Postes dengan kelompok kontrol
Rancangan ini sama seperti rancangan eksperimen murni yang lainnya hanya saja bedanya tidak dilakukan pretest.
Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok control, kelompokkelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan.
Dengan rancangan ini, memungkinkan penelitian mengukur pengaruh prilaku (intervensi) pada kelompok eksperimen
dengan cara membandingkan kelompok tersebutdengan kelompok control.