Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1. 1

Latar Belakang

Toksoplasmosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh


Toxoplasma gondii (T. gondii), yaitu suatu protozoa obligat intraseluler.
Toxoplasmosis perlu mendapat perhatian, karena dapat menimbulkan masalah
kesehatan pada individu yang imunokompromis dan wanita hamil (Frenkel, 1991;
Despommier dkk., 1995). Pada wanita hamil, infeksi T. gondii dapat menimbulkan
masalah yang cukup berat karena dapat terjadi penularan melalui plasenta, sehingga
dapat mengakibatkan abortus, lahir mati, atau cacat bawaan dari yang ringan sampai
yang berat, yang akan selalu menjadi beban dan ini berarti pula terjadi penurunan
kualitas sumber daya manusia generasi penerus (Frenkel, 1991; Gandahusada, 1995).
Hingga saat ini diagnosis toxoplasmosis dilakukan dengan uji serologis
terhadap adanya Immunoglobuline M (IgM) dan IgG dengan berbagai macam teknik
pemeriksaan. Hasil dari teknik ini tidak dapat diambil hanya dengan sekali
pemeriksaan IgG tanpa adanya IgM positif, sehingga harus dilakukan pemeriksaan
ulang untuk melihat ada tidaknya konversi IgG (Remington dan Desmonts, 1976).
Untuk memastikan adanya infeksi akut harus didapatkan serokonversi titer IgG dari
negatif menjadi positif pada dua kali pemeriksaan dengan interval 2-3 minggu, atau
harus didapatkan kenaikan titer IgG yang bermakna (Gandahusada, 1995).
Kenyatannya saat ini di Indonesia belum ada panduan yang memadai sebagai dasar
pengambilan keputusan perlu atau tidaknya tindakan pengobatan terhadap ibu hamil
dari interpretasi hasil uji serologis antibodi terhadap T. gondii. Hasil uji serologis
kurang meyakinkan apabila hanya dilakukan dengan satu macam pemeriksaan dan
satu kali pemeriksaan. Keadaan tersebut memberikan kemungkinan dilakukannya
pengobatan yang seharusnya tidak perlu. Deteksi antigen T. gondii berguna untuk
membuat diagnosis toxoplasmosis pada keadaan imunosupresi dan infeksi kongenital
(Knapen,1984).
Tujuan penelitian ini diharapkan teknik pemeriksaan Enzyme Linked
Immunosurbent Assay (ELISA) terhadap kualitas organismenya adalah sangat perlu,
yaitu untuk mengetahui keberadan T. gondii dengan berbagai variasi konfigurasinya,
selain dideteksi respon tubuh terhadap organisme dengan melihat antibodi terhadap T.
gondii tersebut.

1. 2

Rumusan Masalah
1. Apakah pengertianpenyakit toxoplasmosis?
2. Bagaimana cara penularan Toxoplasma gondii?
3. Bagaimana tanda dan gejala penyakit toxoplasmosis?
4. Bagimana cara mendiagnosis penyakit toxoplasmosis?
5. Bagaimana cara pemeriksaan Toxoplasma gondii?
6. Bagaimana penanganan penyakit toxoplasmosis?
7. Bagaimana pencegahan penyakit toxoplasmosis?

1. 3

Tujuan
1. Memahami pengertian penyakit toxoplasmosis
2. Memahami cara penularan Toxoplasma gondii
3. Mengetahui tanda dan gejala penyakit toxoplasmosis
4. Mengetahui cara mendiagnosis penyakit toxoplasmosis
5. Mengetahui cara pemerksaan Toxoplasma gondii
6. Mengetahui bagaimana penanganan penyakit toxoplasmosi
7. Mengetahui bagaimana cara pencegahan penyakit toxoplasmosis

BAB II
ISI
2. 1

Pengertian PenyakitToxoplasmosis

Toxoplasmosis atau sering hanya disebut penyakit toxo merupakan penyakit yang
disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu parasit
intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan hewan. Parasit ini termasuk spesies
dari kelas sporozoa (Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat
Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun
1908. Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh
Castellani
2.2 Cara penularanToxoplasma gondii
Penularannya penyakit toksoplasmosis tergantung pada 3 hal yaitu :
lingkungan yang memungkinkan perkembangan agen penyakit, adanya induk semang
dan agen penyakit itu sendiri.Toksoplasmosis dapat ditularkan oleh induk semang
melalui beberapa cara:

1. Tertelannya ookista infektif yang berasal dari kucing


2. Tertelannya kista jaringan atau kelompok takizoit yang terdapat di dalam daging
mentah atau yang dimasak tidak sempurna.
3. Tertelannya induk semang yang telah menelan ookista
4. Melalui plasenta
5. Kecelakaan di laboratorium karena kontaminasi melalui luka, peroral, maupun
konjungtiva.
6. Penyuntikan merozoit secara tidak sengaja
7. Transfuse leukosit penderita toksoplasmosis.
Agen penyakit toksoplasmosis meliputi :
1. Kucing
Organisme tempat Toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Satu minggu
setelah terinfeksi, kucing mengeluarkan ookista yang terdapat pada fesesnya.
Pengeluaran ookista terus menerus sampai sekitar 2 minggu sebelum kucing
itu sembuh atau pulih kembali. Feses kucing sudah sangat infeksius. Ookista
dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat
menyebabkan infeksi. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam
kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampah setiap hari.
2. Daging
Wabah christiaan barand adalah contoh penularan toxoplasma melalui
daging. Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma
di Eropa, dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya
daging tidak dibekukan. Seharusnya daging dimasak pada suhu yang tinggi
untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasmosis
2.3 Tanda dan Gejala Penyakit Toxoplasmosis
Pada manusia dewasa dengan daya tahan tubuh yang baik biasanya hanya
memberikan gejala minimal dan bahkan sering tidak menimbulkan gejala. Apabila
menimbulkan gejala, maka gejalanya tidak khas seperti : demam, nyeri otot, sakit
tenggorokan,kadang-kadang nyeri dan ada pembesaran kelenjar limfe servikalis
posterior, supraklavikula dan suboksiput. Pada infeksi berat, meskipun jarang, dapat

terjadi sakit kepala, muntah, depresi, nyeri otot, pnemonia, hepatitis, miokarditis,
ensefalitis, delirium dan dapat terjadi kejang.
Pada toksoplasmosis kongenital berat dapat menyebabkan kematian janin,
tetapi pada keadaan yang lain, infeksi dapat tidak memberikan gejala dan bayi dapat
lahir normal. Kelainan pada janin dengan toksoplasmosis kongenital dapat berupa
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, hidrosefali, anensefali, mikrosefali.
hidrops non imun, korioretinitis. Pada bayi dapat juga lahir tanpa gejala tetapi
kemudian timbul gejala lambat seperti korioretinitis, katarak, ikterus, mikrosefali,
pnemonia dan diare.

2.4 Diagnosis Penyakit Toxoplasmosis


Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi
salah satu dari hal berikut:
a) Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan
b) Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali
pemeriksaan yang berbeda, atau
c) Terdeteksi antibody IgM toxoplasma Pada usia remaja dengan infeksi primer
jarang terjadi perkembangan antibody IgG dan IgM. Antibody IgG spesifik
toxoplasma berkembang dalam waktu 2 minggu setelah terinfeksi dan
berlangsung selamanya. Perkembangan antibody IgM spesifi toxsoplasm
terjadi dalam 10 hari setelah terinfeksi dan meningkat 6 bulan sampai > 7
tahun. The enzyme linked immunosorbent assay (Uji ELISA) untuk melihat
tingginya perkembangan antibody IgM dapat bertahan sampai beberapa
tahun. UJI IVA (Indairec immaunofluorescence Antibody Test untuk IgM
toxoplasma spesifik biasanya menunjukan kadar yang tinggi pada 6 bulan
setelah terinfeksi, berikutnya titer akan menurun. Uji IVA lebih bermanfaat
dari uji Elisa dalam membedakan infeksi adanya primer pada wanita hamil.

Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada
temuan diatas. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah
chorioretinitis, penyakit kuning, demam, dan hepatosplenomegali. Adanya
IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi
congenital. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology
plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi.
Diagnosa prenatal
Pemeriksaan serologi saat ini merupakan metode yang sering digunakan.
Salah satu cara pemeriksaan serologi toksoplasma dengan metode ELISA, yaitu
dengan mengukur jumlah IgG , IgM atau keduanya. IgM dapat terdeteksi lebih
kurang 1 minggu setelah infeksi akut dan menetap selama beberapa minggu atau
bulan. IgG biasanya tidak muncul sampai beberapa minggu setelah peningkatan
IgM tetapi dalam titer rendah dapat menetap sampai beberapa tahun.
Secara optimal, antibodi IgG terhadap toksoplasmosis dapat diperiksa sebelum
konsepsi, dimana adanya IgG yang spesifik untuk toksoplasma memberikan
petunjuk adanya perlindungan terhadap infeksi yang lampau. Pada wanita hamil
yang belum diketahui status serologinya, adanya titer IgG toksoplasma yang
tinggi sebaiknya diperiksa titer IgM spesifik toksoplasma. Adanya IgM
menunjukkan adanya infeksi yang baru saja terjadi, terutama dalam keadaan titer
yang tinggi. Tetapi harus diingat bahwa IgM dapat terdeteksi selama lebih dari 4
bulan bila menggunakan fluorescent antibody test , dan dapat lebih dari 8 bulan
bila menggunakan ELISA.Diagnosa ditegakkan bila IgM positif dan titer IgG
yang meningkat 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang selang waktu 2 3
minggu.Titer IgM akan tetap tinggi sampai 3 4 bulan

2.5 Cara pemeriksaan Toxoplasma gondii

A. Pemeriksaan IgG Anti Toxoplasma


Pengertian

Tujuan
Bahan Pemeriksaan
Reagen
Metode
Prinsip

Alat dan Bahan

Prosedur

Antibodi IgG Toxoplasma gondii adalah antibodi dengan


isotipe y pada heavy chain constant region yang spesifik
terhadap Toxoplasma gondii
Mendeteksi antibodi terhadap IgG Toxoplasma gondii
Serum, Plasma heparin
Kit IgG monoklonal T.gondii ELECSYS 2010/ cobas e 411
Roche
Sandwich ECLIA
1. IgG Anti Toxoplasma dalam bahan pemeriksaan akan
berikatan dengan anti-Toxoplasma spesifik antibody
biotin dan anti Toxoplasma antibodi Ruthenium
membentuk kompleks.
2. Penambahan streptavidin coated micro particle akan
menempel pada kompleks tersebut.
3. Kompleks yang terikat akan ditangkap oleh permukaan
elektroda. Zat-zat yang tidak berikatan akan dicci oleh
procell
4. Emisi chemiluminescent akan diukur oleh
photomultiplier dan hasil ditentukan menggunakan kurva
kalibrasi.
1. Sarung tangan
2. Streptavidin coated microplarticle
3. Toxoplasma Ag-Biotin
4. Toxoplasma Ag-Ru
5. Negative kalibrator
6. Positive kalibrator
7. Preci control Toxoplasma IgG 1 dan 2
1. Bahan pemeriksaan darah harus segera disentrifugasi
2. Serum atau plasma K3-EDTA/Heparin/Sitrat
dimasukkan dalam civet sebanyak 200 microliter.
3. Cuvet dimasukkan pada disck elecsys 2010/ COBAS
e411
4. Masukkan sample ID di sample ID, lalu tekan Enter
5. Masukkan nomor posisi sample di disk position, lalu
tekan enter
6. Bila diperlukan, ganti no, sequence dan tentukan factor
pengenceran set dilution faktor. Posisi dan nomor
sequence akan bertambah secara otomotis.
7

Interpretasi

Daftar Pustaka

7. Tekan tes yang dipilih dengan menekan nama tes


8. Tekan new sample untuk sample selanjutnya
9. Tekan start.
Reaktif
3,0 IU/ml
Gray Zone
1-2,9 IU/ml
Non reaktif < 1 IU/ml
Cobas e 411 / Elecsys2010 operators Manual book

B. Pemeriksaan IgM Anti Toxoplasma


Pengertian

Tujuan
Bahan Pemeriksaan
Reagen
Metode
Prinsip

Antibodi IgG Toxoplasma gondii adalah antibodi dengan


isotipe pada heavy chain constant region yang spesifik
terhadap Toxoplasma gondii
Mendeteksi antibodi terhadap IgM Toxoplasma gondii
Serum, Plasma heparin
Kit IgM monoklonal T.gondii ELECSYS 2010/ cobas e 411
Roche
-Capture ECLIA
1. Inkubsi pertama: 10 l sampel akan diencerkan (1:20)
dengan elecsys Diluent Universal secara otomatis
2. Kemudian ditambahkan antigen T.gondii-specific
recombinat yang dilabel dengan suatu kompleks
ruthenium.
3. Antibody anti-toxo IgM yang terdapat pada sampel
akan bereaksi dengan antigen T.gondii-specific
recombinant yang dilabel ruthenium.
4. Inkubasi kedua : dilakukan penambahan antibody
biotinylated mnoclonalh-IgM specific dan
mikropartikel yang dilapisi streptavidin.
5. Kompleks yang terbentuk akan terikat pada fase padat
melalui interaksi biotin dan streptavidin.
6. Campuran reaksi akan diaspirasi kedalam sel
pemeriksaan dimana mikroplate akan terikat secara
otomatis kepermukaan elektroda.
7. Substansi yang tidak terikat akan dicuci oleh Procell.
8. Penggunaan aliran listrik terhadap electrode akan
menimbulkan emisi chemiluminescent yang akan
diukur oleh suatu photomultiplier.
9. Hasil pemeriksaan akan ditentukan secara otomatis
oleh elecsys software melalui perbandingan sinya
8

Alat dan Bahan

Prosedur

Interpretasi

Daftar Pustaka

electrochemiluminescence yang diperoleh dari hasil


reaksi sample dengan sinyal nilai cutoff sebelumnya
yang diperoleh melalui kalibrasi IgM Toxo,
1. Sarung tangan
2. Streptavidin coated microplarticle
3. Toxoplasma Ag-Biotin
4. Toxoplasma Ag-Ru
5. Negative kalibrator
6. Positive kalibrator
7. Preci control Toxoplasma IgG 1 dan 2
1. Bahan pemeriksaan darah harus segera disentrifugasi
2. Serum atau plasma K3-EDTA/Heparin/Sitrat dimasukkan
dalam civet sebanyak 200 microliter.
3. Cuvet dimasukkan pada disck elecsys 2010/ COBAS
e411
4. Masukkan sample ID di sample ID, lalu tekan Enter
5. Masukkan nomor posisi sample di disk position, lalu
tekan enter, bila diperlukan, ganti no, sequence dan
tentukan factor pengenceran set dilution faktor. Posisi
dan nomor sequence akan bertambah secara otomotis.
6. Tandai tes yang dipilih dengan menekan nama tes
7. Tekan new sample untuk sample selanjutnya
8. Tekan start.
Reaktif
: > 1.0
Gray Zone
: 0.8 0.9
Non reaktif : < 0.8
Satuan : index non reaktif 0.7 index
Cobas e 411 / Elecsys2010 operators Manual book

2.6 Penanganan
Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya
digunakan dalam kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat
yang paling sering digunakan ke pasien adalah pirimetamin (Daraprim),
sulfadiazin (Microsulfon), dan asam folinic. Obat lain kadang-kadang digunakan
adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron).

Obat ini digunakan terutama ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau
sulfadiazin. Dosis bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis
individu adalah didasarkan pada situasi kesehatan pasien.Sayangnya, pirimetamin
(Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek samping yang
signifikan diantaranya adalah penekanan sumsum tulang (pengobatan leucovorin
dapat mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk
sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala
lainnya.
2.7 Pencegahan
Infeksi toksoplasma pada ibu hamil dapat dicegah dengan cara menghindari
tertelannya kista atau ookista berbentuk spora dengan menjaga kebersihan diri.
Perlu kebiasaan mencuci tangan sebelum makan atau setelah kontak dengan
kucing/ kotoran kucing, memasak makanan sampai matang benar ( > 66 C ) dan
menggunakan sarung tangan sewaktu berkebun. Buah-buahan dan sayur mentah
harus dicuci bersih dan makanan dilindungi supaya tidak dihinggapi lalat, kecoa
dan serangga atau binatang lain yang mungkin dapat membawa kontaminasi dari
kotoran kucing.Pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi akut dengan tujuan
mengurangi infeksi ke janin diperkirakan efektifitasnya hanya 50 %.
Cara

pencegahan

yang

lainnya

yaitu

dengan

pemberian

imunisasi

toksoplasmosis pada manusia maupun hewan merupakan metode yang diterapkan


untuk

mencegah

penyebaran

toksoplasmosis.Imunisasi

diberikan

untuk

membentuk kekebalan terhadap bakteri Toxoplasma gondii.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Toxoplasmosis atau sering hanya disebut penyakit toxo merupakan penyakit
yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu
parasit intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan hewan. Parasit ini termasuk
spesies dari kelas sporozoa (Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat
Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun
1908. Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh
Castellani
Toksoplasmosis dapat ditularkan oleh induk semang melalui beberapa cara:
1. Tertelannya ookista infektif yang berasal dari kucing.
2. Tertelannya kista jaringan atau kelompok takizoit yang terdapat di dalam daging
mentah atau yang dimasak tidak sempurna.
3. Tertelannya induk semang yang telah menelan ookista
4. Melalui plasenta
5. Kecelakaan di laboratorium karena kontaminasi melalui luka, peroral, maupun
konjungtiva.
6. Penyuntikan merozoit secara tidak sengaja.
7. Transfuse leukosit penderita toksoplasmosis.
Pada manusia dewasa dengan daya tahan tubuh yang baik biasanya hanya
memberikan gejala minimal dan bahkan sering tidak menimbulkan gejala. Apabila
menimbulkan gejala, maka gejalanya tidak khas seperti : demam, nyeri otot, sakit
tenggorokan,kadang-kadang nyeri dan ada pembesaran kelenjar limfe servikalis
posterior, supraklavikula dan suboksiput. Pada infeksi berat, meskipun jarang, dapat
terjadi sakit kepala, muntah, depresi, nyeri otot, pnemonia, hepatitis, miokarditis,
ensefalitis, delirium dan dapat terjadi kejang.
Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari
hal berikut:
1. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan
2. Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali
pemeriksaan yang berbeda, atau
3. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma Pada usia remaja dengan infeksi
primer jarang terjadi perkembangan antibody IgG dan IgM.
Diagnosa prenatal

11

Pemeriksaan serologi saat ini merupakan metode yang sering digunakan.


Salah satu cara pemeriksaan serologi toksoplasma dengan metode ELISA,
yaitu dengan mengukur jumlah IgG , IgM atau keduanya.
Cara Pemeriksaan IgG Anti Toxoplasma
Metode
: Sandwich ECLIA
Prinsip
:
1. IgG Anti Toxoplasma dalam bahan pemeriksaan akan
berikatan dengan anti-Toxoplasma spesifik antibody biotin
dan anti Toxoplasma antibodi Ruthenium membentuk
kompleks.
2. Penambahan streptavidin coated micro particle akan
menempel pada kompleks tersebut.
3. Kompleks yang terikat akan ditangkap oleh permukaan
elektroda. Zat-zat yang tidak berikatan akan dicci oleh
procell
4. Emisi chemiluminescent akan diukur oleh photomultiplier
dan hasil ditentukan menggunakan kurva kalibrasi.
Interpretasi : Reaktif
3,0 IU/ml
Gray Zone
1-2,9 IU/ml
Non reaktif < 1 IU/ml
Cara Pemeriksaan IgM Anti Toxoplasma
Metode
: -Capture ECLIA
Prinsip
:
1. Inkubsi pertama: 10 l sampel akan diencerkan (1:20)
dengan elecsys Diluent Universal secara otomatis.
2. Kemudian ditambahkan antigen T.gondii-specific
recombinatyang dilabel dengan suatu kompleks ruthenium.
3. Antibody anti-toxo IgM yang terdapat pada sampel akan
bereaksi dengan antigen T.gondii-specific recombinant
yang dilabel ruthenium.
4. Inkubasi kedua : dilakukan penambahan antibody
biotinylated mnoclonalh-IgM specific dan mikropartikel
yang dilapisi streptavidin.
5. Kompleks yang terbentuk akan terikat pada fase padat
melalui interaksi biotin dan streptavidin.
6. Campuran reaksi akan diaspirasi kedalam sel pemeriksaan
dimana mikroplate akan terikat secara otomatis
kepermukaan elektroda.
12

Interpretasi

Satuan

7. Substansi yang tidak terikat akan dicuci oleh Procell.


8. Penggunaan aliran listrik terhadap electrode akan
menimbulkan emisi chemiluminescent yang akan diukur
oleh suatu photomultiplier.
9. Hasil pemeriksaan akan ditentukan secara otomatis oleh
elecsys software melalui perbandingan sinya
electrochemiluminescence yang diperoleh dari hasil reaksi
sample dengan sinyal nilai cutoff sebelumnya yang
diperoleh melalui kalibrasi IgM Toxo,
: Reaktif
: > 1.0
Gray Zone
: 0.8 0.9
Non reaktif : < 0.8
: index non reaktif 0.7 index

Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya


digunakan dalam kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat
yang paling sering digunakan ke pasien adalah pirimetamin (Daraprim),
sulfadiazin (Microsulfon), dan asam folinic. Obat lain kadang-kadang digunakan
adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon
(Mepron).Pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat
menyebabkan efek samping yang signifikan diantaranya adalah penekanan
sumsum tulang (pengobatan leucovorin dapat mengurangi penekanan ini) dan
toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual,
muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala lainnya.
Infeksi toksoplasma pada ibu hamil dapat dicegah dengan cara menghindari
tertelannya kista atau ookista berbentuk spora dengan menjaga kebersihan diri.
Cara pencegahan yang lainnya yaitu dengan pemberian imunisasi
toksoplasmosis pada manusia maupun hewan merupakan metode yang diterapkan
untuk mencegah penyebaran toksoplasmosis.Imunisasi diberikan untuk
membentuk kekebalan terhadap bakteri Toxoplasma gondii.

DAFTAR PUSTAKA

13

https://sinagachristin.wordpress.com/2013/06/18/toxoplasmosis/

Diakses

tanggal 26 April 2015 pukul 15.00


https://www.academia.edu/8959448/TORCH_Toxoplasma_Gondii_Rubella_C
yto_Megalo_Virus_Herpes_Simplex_Virus_ Diakses tanggal 15April 2015 pukul
15.00

14