Anda di halaman 1dari 3

Permasalahan : Hukum mengenai Euthanasia

Akhir-akhir ini masyarakat heboh mengenai legal atau tidaknya Euthanasia.


Contohnya adalah Rabies,yang merupakan penyakit zoonosis yang menyerang manusia
akibat gigitan dari hewan yang terinfeki rabies.penyakit ini juga disebut penyakit Anjing
gila. Penyakit ini adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf pusat,jika manusia sudah
terserang,dan sudah mencapai sistem syaraf pusat,maka manusia tersebut mengalami kejangkejang yang menyerupai anjing gila. Pada fase ini,manusia tersebut akan sangat takut cahaya
karena terasa sakit,menolak minum padahal terlihat sangat kehausan.dan juga akan terlihat
agresif dan menggigit benda-benda yang dekat dengannya. Oleh karenanya,banyak pihak
yang beranggapan bahwajka manusia itu sudah terkena rabies,dan sudah pada fase yang
mengerikan seperti ii,maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah euthanasia. Namun banyak
juga pihak yang menentangnya.
Eutanasia dalam Bahasa Yunani: -, eu yang artinya "baik", dan ,
thanatos yang berarti kematian. Arti lengkapnya, Eutanasia adalah praktik pencabutan
kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit
atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan
suntikan yang mematikan.
Sebenarnya permasalahan Eutanasia ini sangatlah istimewa karena menyangkut
dengan berbagai macam aspek, baik itu aspek agama, moral, medis maupun hukum. Oleh
karenanya, sampai dengan saat ini permasalahan Eutanasia masih menimbulkan pro dan
kontra. Beberapa kelompok sangat mendukung untuk melegalkan Eutanasia dengan alasan
untuk menghentikan penderitaan dari pasien. Beberapa kelompok lain menolak dengan tegas
Eutanasia diberlakukan dengan alasan bahwa kematian adalah hak dari Tuhan sehingga
manusia tidak mempunyai hak apa-apa untuk itu.
Dilihat dari hukumnya,euthanasia sebenarnya adalah perbuatan yang melanggar
hukum,dan juga bertentangan dengan Pancasila. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 huruf g PP
No. 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta
Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia,menyebutkan bahwa pengertian
dari meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang
berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan,dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti.
Sebagai catatan, definisi meninggal dunia ini adalah definisi yang sampai dengan saat ini
masih berlaku di Indonesia. Jadi,secara gramatikal dapat dikatakan bahwa berhentinya
kehidupan seorang manusia secara permanen, dimana seluruh dari fungsi organ yang
disebutkan dalam ketentuan tersebut telah berhenti secara sempurna dan tidak mempunyai
harapan untuk difungsikan kembali pada tubuh dari manusia tersebut. Eutanasia itu sendiri
pada dasarnya bukan merupakan istilah hukum. Namun, Eutanasia telah diatur secara jelas
dalam ketentuan hukum di Indonesia, yang pada dasarnya permasalahan Eutanasia adalah
suatu praktik yang bertentangan dengan ketentuan hukum di Indonesia, dalam hal ini
ketentuan Pasal 344 KUHP.
Pasal 344 KUHP

Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata & sungguh-sungguh dihukum penjara selamalamanya duabelas tahun.
Berdasarkan Pasal 344, maka jelas Eutanasia merupakan sebuah tindakan yang tidak
dapat dilegalkan di Indonesia walaupun pada kenyataannya beberapa negara di dunia telah
melegalkan Eutanasia. Sebagai contoh di Belanda, Eutanasia telah dilegalkan pada tanggal
29 November 2000. Parlemen Belanda telah menyetujui undang-undang yang melegalkan
Eutanasia dengan mempertimbangkan bahwa permasalahan terkait dengan Eutanasia hanya
berlaku kepada kepada dokter dan tidak berlaku kepada pihak-pihak di luar dari profesi
medis. Pelaksanaan Eutanasia harus memenuhi beberapa syarat antara lain adalah calon
pasien yang menginginkan Eutanasia harus mengajukan permohonan secara pribadi dan
berkali-kali, serta dokter yang menangani permasalahan pasien tersebut harus benar-benar
yakin bahwa pasien yang meminta untuk di Eutanasia mengalami penderitaan yang luar
biasa.
Dalam UUD 1945 Pasal 28 huruf a menyatakan bahwa
setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya
Kemudian dalam ketentuan pasal Pasal 28 huruf g menyatakan bahwa :
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan
perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang
merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara
lain.
Bahwa dengan melihat substansi dan isi dari pasal-pasal yang telah disebutkan di atas,
dapat dikatakan bahwa pasal-pasal tersebut adalah pasal yang terkait erat dengan prinsip
HAM. Bahwa setiap manusia berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya
dengan didukung oleh perlindungan baik terhadap dirinya maupun orang-orang yang di
sekitar hidupnya. Perlindungan yang dimaksud disini adalah perlindungan dari masyarakat,
aparatur negara maupun pihak-pihak yang terkait dengan manusia tersebut.
Lebih lanjut, kematian yang diakibatkan oleh sebuah tindakan secara sengaja oleh
orang lain justru merupakan bentuk pelanggaran ketentuan-ketentuan UUD tersebut di atas
dan bahkan merupakan pelanggaran terhadap HAM.
Satu hal yang perlu dipahami dari ketentuan-ketentuan UUD 1945 terkait dengan
permasalahan tersebut adalah setiap warga negara Repubilk Indonesia mempunyai hak untuk
hidup dan dilindungi, sehingga dapat disimpulkan secara tersirat bahwa Eutanasia tidak dapat
diberlakukan di Indonesia. Dan bahkan, apabila kita cermati dan menelusuri pasal demi pasal

yang terdapat dalam UUD 1945 maka kita tidak akan pernah menemukan satu pasal pun yang
menyebutkan atau mengatur tentang legalitas hak manusia untuk mati.
Selanjutnya Bahwa Ketentuan UUD 1945 adalah implementasi dari Pancasila, yaitu
lima sila dasar pembentukan negara ini, sehingga hal-hal yang termuat dalam UUD 1945
adalah cerminan dari Kesaktian Pancasila. Pancasila merupakan sebuah ideologi dalam
pembentukan negara ini sehingga adalah tepat jika hal-hal yang terkait dengan ketentuanketentuan hukum harus berlandaskan pada semangat Pancasila.
Sila Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mempunyai makna terdapatnya
keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah meciptakan alam beserta dengan isinya.
Terkait dengan Eutanasia sendiri, apabila dihubungkan dengan filosofi dari pada Sila Pertama
Pancasila, maka pemberlakuan Eutanasia di Indonesia adalah suatu hal yang sangat
bertentangan kodrat dan nilai-nilai luhur dari berbagai macam ajaran agama yang berlaku di
Indonesia.