Anda di halaman 1dari 29

KEJANG DEMAM

A. Pengertian
Kejang

Demam

adalah

kejang

yang

berhubungan

dengan demam (suhu di atas 38,4C per rectal) tanpa adanya


infeksi susunan syaraf pusat atau gangguan elektrolit akut,
terjadi pada anak berusia di atas 1 bulan, dan tidak ada
riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi
pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal lebih dari 38C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Kapita selekta
Kedokteran, 2000)
Kejang Demam Sederhana adalah kejang yang bersifat
umum, singkat, dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam. Kejang
Demam Komplek adalah adalah kejang yang bersifat fokal,
lamanya lebih dari 10-15 menit atau berulang dalam 24 jam.
(IDAI, 2004)
Demam Kejang merupakan kelainan neurologist yang
paling sering dijumpai pada anak tertama pada golongan anak
yang berumur 6 bulan sampai 4 tahun.. Pada demam kejang
terjadi pembahasan sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
menyebabkan suatu gangguan kesadaran, gerak, sensori atau
memori yang bersifat sementara. (Aesceulaplus : 2000 )
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi
pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380 C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif Mansjoer.
2000)
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat
seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi

sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 %
populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia
6 bulan 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama
kalinya pada usia <> 3 tahun. (Nurul Itqiyah, 2008).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam
adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan
suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah
lima tahun.
B. Etiologi
Penyebab kejang demam menurut Buku Kapita Selekta
Kedokteran belum diketahui dengan pasti, namun disebutkan
penyebab utama kejang demam ialah demam yag tinggi.
Demam yang terjadi sering disebabkan oleh :
a. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
b. Gangguan metabolik
c. Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis,
otitis media, bronchitis.
d. Keracunan obat
e. Faktor herediter
f. Idiopatik. (Arif Mansjoer. 2000)
C. Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melaluui
proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi
oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid
dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal,
membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion
kalium (K+) da sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na++)
dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya
konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na++
rendah, sedang dluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan

diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang


disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan
sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh:
a. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler
b. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis,
kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membran

sendiri

karena

penyakit atau keturunan


Pada

keadaan

demam

kenaikan

suhu

10C

akan

mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan


kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak
berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh
tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh
karena

itu,

kenaikan

suhu

tubuh

dapat

mengubah

keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu


yang singlkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium
melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas
muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran
sel

sekitarnya

dengan

bantua

bahan

yang

disebut

neurotransmitter dan terjadi kejang. Tiap anak mempunyai


ambang

kejang

yang

berbeda

dan

tergantung

tinggi

rendahnya ambang kejang seseorang anak akan menderita


kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang
telah terjadi pada suhu 38oC sedang anak dengan ambang

kejang yang tinggi, kejang baru terjadi bila suhu mencapai


40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa
berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada anak
dengan

ambang

kejang

yang

rendah

sehingga

dalam

penanggulangannya perlu memperhatikan pada tingkat suhu


berapa pasien m,enderita kejang. Kejang demam yang
berlangsung singkat pada ukumnya tidak berbahaya dan ridak
meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang ber;langsung
lama

(lebih

dari

15

menit)

biasanya

disertai

apnea,

meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi


otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme an aerobik,
hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur
dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan makin
meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otot meningkat.
Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab
hingga terjadinya neuron otak selama berlangsungnya kejang
lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah
yang

mengakibatkan

permeabilitas

kapiler

hipoksia
dan

sehingga

timbuledema

meninggikan
otak

yang

menyebabkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada


daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan
kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang
dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang
spontan. Karena itu kejang demam yang berlangsung lama
daat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi
epilepsi.

D. Klasifikasi

1. Kejang Parsial
a. Kejang Persial Sederhana
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau
lebih hal berikut ini:
1) Tanda-tanda motorik kedutaan pada wajah, tangan
atau salah satu sisi tubuh umumnya gerakan setiap
kejang sama
2) Tanda atau gejala otomik, muntah, berkeringat, muka
merah, dilatasi pupil.
3) Somotosenoris atau

sensori

khusus,

mendengar

musik, merasa seakan jatuh dari udara


4) Gejala psikis, rasa takut
b. Kejang Parsial Komplek
1) Terapat gangguan kesadaran, walaupun

pada

awalnya sebagai kejang parsial simpleks


2) Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik,
mengecap-ngecap

bibir,

mengunyah,

gerakan

mencongkel yang berulang-ulang pada tangan dan


gerakan tangan lainnya
3) Tatapan terpakau. ( Natsiyah : 2004 )
2. Kejang Umum.
a. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir
dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan
kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi
prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa
pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik
umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang
menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi
lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang
tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan
dengan

sikap

epistotonus

yang

disebabkan

oleh

rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau


kernicterus
b. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral,
bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang
berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal
berlangsung 1 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak
disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti
oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh
kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar
dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan
ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak
yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut
menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda
kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.
Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak
spesifik.

E. Manifestasi klinis
Gejala berupa:
a. Suhu anak tinggi.
b. Anak pucat / diam saja
c. Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.
d. umumnya kejang demam berlangsung singkat.
e. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau
hanya sentakan atau kekakuan fokal.
f. Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )
g. Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa
menit

h. Seringkali kejang berhenti sendiri.


(Arif Mansjoer. 2000)
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak
kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang
tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan
saraf pusat ; misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis,
furunkulosis dan lain-lain.serangan kejang biasanya terjadi
dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat
dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik , tonik,
klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri.
Begitu kejang berhenti anak akan bangun dan tersadar
kembali tanpa ada kelainan saraf.
F. Komplikasi
Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :
a. Kerusakan sel otak
b. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama
lebih dari 15 menit dan bersifat unilateral
c. Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)
G. Pemeriksaan laboratorium
1. EEG
Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi
otak akibat lesi organik, melalui pengukuran EEG ini
dilakukan 1 minggu atau kurang setelah kejang.
2. CT SCAN
Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis:

infark,

hematoma, edema serebral, dan Abses.


3. Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal
(cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk
meneliti kecurigaan meningitis
4. Laboratorium
Darah

tepi,

lengkap

(Hb,

Ht,

Leukosit,

Trombosit)

mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi dan penyakit

kejang

demam.

(Suryati, 2008), ( Arif Mansyoer,2000), (Lumbatobing,1989)


H. Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu
dikerjakan yaitu :
1. Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang
pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau
muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi
terjami.

Perhatikan

keadaan

vital

seperti

kesadaran,

tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu


tubuh

tinggi

diturunkan

dengan

kompres

air

pemberian
Obat

yang

dan

antipiretik.
paling

cepat

menghentikan

kejangadalah

diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis


diazepam

intravena

0,3-0,5

mg/kgBB/kali

dengan

kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg.


bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan
penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang
lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia
atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5
mg (BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat
diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga,
berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara
intravena

perlahan-lahan

mg/kgBb/menit.

Setelah

pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan


Nacl

fisiologis

karena

fenitoin

bersifat

basa

dan

menyebabkan iritasi vena.


Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan
dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang
berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg

dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuscular.


Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat.
Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan
dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan
belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan
setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total
tidak

melebihi

200mg/hari.

Efek

sampingnya

adalah

hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan.


Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkna fenitoin
dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis
awal.
2. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada
pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian
kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada
kasus yang dicurigai sebagai meningitiss, misalnya bila ada
gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.
3. Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten
saat demam atau (2) profilaksis terus menerus dengan
antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten
diberian diazepam secara

oral dengan dosis 0,3-0,5

mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam.


Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8
jam

sebanyak

5mg

(BB<10kg)>10kg)

setiap

pasien

menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping


diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah
berulangnya

kejang

demam

berat

yang

dapat

menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah

terjadinya

epilepsy

dikemudian

hari.

Profilaksis

terus

menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari


dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan
adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari.
Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang
terakhir

dan

dihentikan

bertahap

selama

1-2

bulan

Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2


kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu :
a. sebelum kejang demam yang pertama sudah ada
kelainan

neurologist

atau

perkembangan

(misalnya

serebral palsi atau mikrosefal


b. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti
kelainan neurologist sementara dan menetap.
c. Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau
saudara kandung.
d. bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang
dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu
episode demam.
Bila

hanya

mmenuhi

satu

criteria

saja

dan

ingin

memberikan obat jangka panjang maka berikan profilaksis


intermiten

yaitu

pada

waktu

anak

demam

dengan

diazepam oral atau rectal tuap 8 jam disamping antipiretik.


( Arif Mansyoer,2000)
4. Prinsip Pengobatan
Tenang, awasi kondisi anak, posisi miring/telungkup,
jangan memasukan apapun ke mulut anak, jika kejang >
10 mnt bawa ke RS segera !,berikan obat simtomatik untuk
demam,

obati

penyebab

demam.

Mengatasi kejang secepatnya,mencegah kejang lama


Kejang
tanpa
demam
:
bebaskan
jalan
nafas,turunkan

demam,atasi

kejang

secepatnya,nilai

kesadaran,periksa kadar gula darah dan elektrolit,cari


etiologi kejang demam.
Kejang tanpa demam : bebaskan jalan nafas,periksa
gula darah,pastikan apakah epilepsi atau bukan,atasi
kejang secepatnya,nilai tingkat kesadaran

KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas : umur, alamat
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan klien saat
pengkajian) : demam, iritabel, menggigil, kejang)
b. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang
diderita klien saat masuk rumah sakit) : kapan mulai
panas ?
c. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang
sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh
klien) : pernah kejang dengan atau tanpa demam ?
d. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang
sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh
anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau
tidak) : orang tua, saudara kandung pernah kejang ?
e. Riwayat tumbuh kembang : adakah keterlambatan
tumbuh kembang ?
f. Riwayat imunisasi
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
(berat badan, panjang badan, usia)

b. Pemeriksaan persistem
1) Sistem persepsi sensori :
Penglihatan : air mata ada / tidak, cekung / normal
Pengecapan : rasa haus meningkat / tidak, lidah
lembab / kering
2) Sistem persyarafan : kesadaran, menggigil, kejang,
pusing
3) Sistem pernafasan : dispneu, kusmaul, sianosis,
cuping hidung,
4) Sistem kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan
cepat / tak teraba, kapilary refill lambat, akral hangat
/ dingin, sianosis perifer
5) Sistem gastrointestinal :
Mulut : membran mukosa lembab / kering
Perut : turgor ?, kembung / meteorismus, distensi
Informasi tentang tinja : warna (merah, hitam),
volume, bau, konsistensi, darah, melena
6) Sistem integumen : kulit kering / lembab
7) Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria /
anuria
4. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : sanitasi ?,
b. Pola nutrisi dan metabolisme : anoreksia, mual, muntah
c. Pola eleminasi
1) BAB : frekuensi, warna (merah ?, hitam ? ),
konsistensi, bau, darah
2) BAK : frekuensi, warna, bak 6 jam terakhir ?, oliguria,
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

anuria
Pola aktifitas dan latihan
Pola tidur dan istirahat
Pola kognitif dan perceptual
Pola toleransi dan koping stress
Pola nilai dan keyakinan
Pola hubungan dan peran
Pola seksual dan reproduksi
Pola percaya diri dan konsep diri

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d kejang.

3. Risiko infeksi b/d proses penyakit, imunitas menurun,


prosedur invasive
4. Risiko kurang cairan berhubungan dengan intake cairan
inadekuat
5. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit perawatan
dan penyakitnya b/d terbatasnya kognitif, kurang paparan
terhadap informasi
6. Cemas berhubungan
penyaki.

dengan

hipertermi,

efek

proses

C. Intervensi Keperawatan
7.
8.
N

9. Diagnosa
Keperawa
tan

12. 13.
Hiper
1
termi
b.d,
peningkatan
metabolik,
viremia
14.
Bata
san
karakteris
tik :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

a.
Suhu tubuh > b.
nor-mal
c.
Kejang
Takikardi
Respirasi
d.
e.
meningkat
Diraba hangat
Kulit memerah f.

10.

Tujuan dan
kriteria hasil
(NOC)

11.

Intervensi (NIC)

17.
Setelah
1. Mengatur Demam (3900)
a. Monitor suhu sesuai kebutuhan
dilakukan tindak-an
b. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
perawatan
selama
c. Monitor suhu dan warna kulit
X 24 jam suhu
d. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertermi
badan
pasien
e. Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat
normal, dengan
f. Ajarkan
klien
bagaimana
mencegah
panas
kriteria :
yang tinggi
g. Berikan antipiretik sesuai advis dokter
18.
Termoregula 2. Mengobati Demam (3740)
si (0800)
a. Monitor suhu sesuai kebutuhan
b. Monitor IWL
Suhu kulit normal
c. Monitor suhu dan warna kulit
Suhu
badan
d. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
35,9C- 37,3C
e. Monitor derajat penurunan kesadaran
Tidak ada sakit kepa-la /
f. Monitor kemampuan aktivitas
g. Monitor leukosit, hematokrit, Hb
pusing
h. Monitor intake dan output
Tidak ada nyeri otot
i. Monitor adanya aritmia jantung
Tidak ada perubahan
j. Dorong peningkatan intake cairan
warna kulit
k. Berikan cairan intravena
Nadi,
respirasi
dalam

batas normal

15.
16.

g. Hidrasi adequate
h. Pasien
menyatakan nyaman
i. Tidak menggigil
j. Tidak iritabel / gragapan/ kejang
19.
20.

l. Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angin


m. Dorong atau lakukan oral hygiene
n. Berikan obat antipiretik untuk mencegah klien
menggigil / kejang
o. Berikan obat antibiotic untuk mengobati penyebab
demam
p. Berikan oksigen
q. Kompres hangat diselangkangan, dahi dan aksila.
r. Anjurkan klien untuk tidak memakai selimut
s. Anjurkan klien memakai baju berbahan dingin,
tipis dan menyerap keringat
3. Manajemen Lingkungan (6480)
a. Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi
b. Berikan tempat tidur dan kain / linen yang
bersih dan nyaman
c. Batasi pengunjung
4. Mengontrol Infeksi (6540)
a. Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum
makan
b. Gunakan sabun untuk mencuci tangan
c. Cuci
tangan
sebelum
dan
sesudah
melakukan kegiatan perawatan klien
d. Ganti tempat infuse dan bersihkan sesuai
dengan SOP
e. Berikan perawatan kulit di area yang odem
f. Dorong klien untuk cukup istirahat
g. Lakukan
pemasangan
infus
dengan
teknik
aseptik
h. Anjurkan klien minum antibiotik sesuai advis

dokter
21.
22. 23.
Pote
2
nsial
komplikasi :
kejang

24.
Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama
...x 24 jam perawat
akan mengatasi dan
mengurangi episode
kejang
25.

26.
Tentukan apa klien merasakan aura sebe-lum
awitan aktivitas kejang. Jika ya, beri-tahu tindakan
pengamanan untuk diambil jika aura tersebut
dirasakan
27.
Bila aktivitas kejang terjadi, observasi dan
dokumentasikan hal berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bila kejang mulai


Jenis gerakan, bagian tubuh yang terlihat
Perubahan ukuran pupil dan posisi
Inkontinensia urine atau feses
Durasi
Ketidaksadaran (durasi) perilaku setelah kejang ,
kelemahan, paralisis setelah kejang, tidur setelah
kejang (periode pasca-taktile) (progresi aktivitas kejang
dapat membantu dalam mengidentifikasi fokus
anatomik dari kejang)
28.
Berikan privasi selama dan sesudah aktivitas
kejang
29.
Selama aktivitas kejang, lakukan tindakan
untuk menjamin ventilasi adekuat (misal-nya
dengan
melepaskan
pakaian).
Jangan
coba

memaksa jalan napas atau spatel li-dah masuk


pada gigi yang mengatup. (ge-rakan tonik / klonik
kuat dapat menye-babkan sumbatan jalan napas.
Pemasukan jalan napas paksa dapat menyebabkan
cidera)
30.
Selama aktivitas kejang, bantu gerakan
secara hati-hati untuk mencegah cidera. Jangan
coba membatasi gerakan. (restrain fisik dapat
mengakibatkan trauma pada muskuloskeletal)
31.
Bila kejang terjadi saat klien sedang du-duk,
bantu turunkan klien ke lantai dan tempatkan
sesuatu yang lunak dibawah kepalanya. (tindakan
ini akan membantu mencegah trauma)
32.
Jika kejang telah teratasi letakkan klien pada
posisi miring. (posisi ini membantu mencegah
aspirasi sekret)
33.
Biarkan individu tidur setelah periode kejang, orientasi lagi setelah bangun. (indi-vidu ini
akan mengalami amnesia, orient-tasi ulang akan
membantu klien untuk memperoleh rasa kontrol
dan dapat menu-runkan ansietas)
34.

Jika

orang

tersebut

berlanjut

mengalami

kejang umum, lapor dokter dan awali tin-dakan :


a.
b.
c.
d.

37. 38.
Resik
3
o
aspirasi
b.d akumulasi
sekret,
muntah,
penurunan
kesadaran

40.
Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selam
a x 24 jam klien
tidak
mengalami
aspirasi,
dengan
kriteria :

Pertahankan jalan napas


Penghisapan jika diperlukan
Berikan oksigen melalui kanul nasal
Awali untuk pemberian infus
35.
Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah
dengan pagar tempat tidur terpa-sang serta lapisi
pagar tempat tidur de-ngan kain (sebagai tindakan
hati-hati un-tuk mencegah bahaya jatuh atau
trauma)
36.
Jika kondisi klien kronis, evaluasi kebu-tuhan
penyuluhan tehnik penatalaksanaan diri sendiri
44.

Memonitor Respirasi (3350)

a. Monitor rata-rata, ritme, kedalaman, dan usaha napas


b. Catat gerakan dada apakah simetris, ada penggunaan
otot tambahan, dan retraksi
c. Monitor crowing, suara ngorok
d. Monitor pola napas : bradipneu, takipneu, kusmaull,
apnoe
e. Dengarkan suara napas : catat area yang ventilasinya
41.
Respiratory
menurun / tidak ada dan catat adanya suara tambahan
39.
Fakt
status
: f. K/p suction dengan mendengarkan suara ronkhi atau
or Resiko :
ventilation (0403)
krakles
g. Monitor peningkatan gelisah, cemas, air hunger
a. Penurunan
a. Respirasi dalam rentang
h. Monitor kemampuan klien untuk batuk efektif
reflek
ba-tuk
normal

dan gag reflek


b. Ngt
c. Penurunan
kesadaran
d. Gangguan
menelan
e. Produksi secret
me-ningkat
f. Dispneu

b. Ritme
dalam
batas
normal
c. Ekspansi dada simetris
d. Tidak ada sputum
e. Tidak ada penggunaan
otot-otot tambahan
f. Tidak ada retraksi dada
g. Tidak
ditemukan
dispneu
h. Dispneu saat aktivitas
ti-dak ditemukan
i. Napas pendek-pendek
ti-dak ditemukan
j. Tidak ditemukan taktil
fremitus
k. Tidak ditemukan suara
napas tambahan

a.
b.
c.
d.

i.
j.
k.
l.
m.

Catat karakteristik dan durasi batuk


Monitor secret di saluran napas
Monitor adanya krepitasi
Monitor hasil roentgen thorak
Bebaskan jalan napas dengan chin lift atau jaw thrust
bila perlu
n. Resusitasi bila perlu
o. Berikan terapi pengobatan sesuai advis (oral, injeksi,
atau terapi inhalasi)
45.

Membersihkan Jalan Nafas (3160)

a. Pastikan kebutuhan suctioning


b. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah
suctioning
c. Informasikan pada klien dan keluarga tentang
suctioning
d. Meminta klien napas dalam sebelum suctioning
e. Berikan
oksigen
dengan
kanul
nasal
untuk
42.
Respiratory
memfasilitasi suctioning na-sotrakheal
status
:
gas
f. Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
ekchange (0402)
g. Anjurkan klien napas dalam dan istirahat setelah
kateter dikeluarkan dari nasotrakheal
Status mental dalam
h. Monitor status oksigen pasien
batas normal
i. Hentikan suction apabila klien me-nunjukkan bradikardi
Bernapas
dengan
mudah
46.
Manajemen Jalan Nafas ( 3140)
Gelisah tidak ditemukan
Tida ada sianosis
a. Buka jalan napas, gunakan teknik chin lift atau jaw

e. Tidak ada somnolent


43.

thrust bila perlu


b. Posisikan klien untuk memaksi-malkan ventilasi
c. Identifikasi pasien perlunya pema-sangan jalan napas
buatan
d. Pasang mayo bila perlu
e. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
f. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
g. Auskultasi suara napas , catat adanya suara nafas
tambahan
h. Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
i. Monitor respirasi dan status oksigen
47.

Mencegah Aspirasi (3200)

a. Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk, gag reflek dan


kemampuan menelan.
b. Monitor status paru-paru
c. Pertahankan airway
d. Alat suction siap pakai, tempatkan disamping bed, dan
suction sebelum makan
e. Beri makanan dalam jumlah kecil
f. Pasang NGT bila perlu
g. Cek posisi NGT sebelum membe-rikan makan
h. Cek residu sebelum memberikan makan
i. Hindari pemberian makanan jika residu banyak
j. Libatkan keluarga selama pemberian makan
k. Potong makanan menjadi kecil-kecil
l. Mintakan obat dalam bentuk sirup
m. Puyer pil sebelum diberikan
n. Jaga posisi kepala klien elevasi 30-40 selama dan

setelah pemberian makan


o. Anjurkan / atur posisi klien semi fowler atau fowler
ketika makan
p. K/p per sonde atau drip feeding
q. Cek apakah makanan mudah di telan
48.

Mengatur posisi (0840)

49.
Miringkan kepala bila kejang untuk mencegah
aspirasi ludah atau muntahan.
50. 51.
Risik
4
o injuri /
cedera b.d.
adanya
kejang,
hipoksia
jaringan

a.
b.

c.
d.
e.

52.
Setelah
54.
Manajemen Lingkungan
dilakukan tindakan
keperawatan selama a. Diskusikan tentang upaya-upaya mencegah cedera,
seperti
lingkungan
yang
aman
untuk
klien,
X 24 jam tidak
menghindarkan
lingkungan
yang
berbahaya
(misalnya
terjadi
cidera,
memindahkan perabotan)
dengan kriteria:
b. Memasang pengaman tempat tidur
c. Memberikan penerangan yang cukup
Status neurologist
Fungsi neurologi: sadar, d. Menganjurkan keluarga untuk menemani klien
e. Memindahkan
barang-barang
yang
dapat
kontrol gerakan pusat,
membahayakan
fungsi
motorik
atau
f. Bersama tim kesehatan lain, berikan penjelasan pada
sensorik otak dalam
klien dan keluarga adanya perubahan status kesehatan
batas yang diharapkan.
Dapat berkomunikasi
55.
Manajemen kejang
Ukuran
pupil
dalam
batas normal
a. Tunjukkan gerakan yang dapat mencegah injury /
Pupil reaktif
cidera.
b. Monitor hubungan antara kepala dan mata selama

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

o.

p.

Pola gerakan mata


Tak ada kejang
Tak ada sakit kepala
Pola nafas dalam batas
normal.
Pola istirahat tidur tercukup
Kontrol Resiko
Mengakui adanya risiko
Monitor faktor risiko
lingkungan.
Mengembangkan
strategi kontrol risiko
yang efektif.
Menghindari eksposur
yang mengancam kesehatan.
Mengenali
perubahan
sta-tus kesehatan
53.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

kejang.
Longgarkan pakaian klien
Temani klien selama kejang
Mengatur airway
Berikan oksigen bila perlu
Berikan terapi iv line bila perlu
Monitor status neurology
Monitor vital sign
Orientasikan kembali klien setelah kejang
Laporkan lamanya kejang
Laporkan karakteristik kejang: bagian tubuh yang
terlibat, aktivitas motorik, dan pening-katan kejang.
Dokumentasikan informasi tentang kejang
Kelola medikasi (kolaborasi)
Kelola anti kejang (kolaborasi) bila diperlukan.
Monitor tingkat obat antiepilepsi, bila perlu
Monitor lama periode postictal dan karak-teristiknya
56.

Pencegahan kejang

a. Sediakan tempat tidur yang bisa diatur rendah-tinggi,


bila perlu.
b. Temani klien selama melakukan aktivitas diluar rumah
sakit, bila perlu
c. Monitor regimen terapi
d. Monitor pemenuhan medikasi antiepilepsi.
e. Instruksikan keluarga / orang terdekat untuk
melaporkan medikasi dan aktivitas kejang yang terjadi.
f. Ajarkan pada klien tentang medikasi dan efek

sampingnya.
g. Monitor tingkat obat antiepilepsi, bila perlu
h. Sediakan suction, ambubag, nasopharyngeal airway
disamping tempat tidur.
i. Pasang side rail tempat tidur.
j. Ajarkan orang tua untuk mengenali faktor pemicu.
57. 58.
Perfu
60.
Setelah
5
si jaringan
dilakukan tindakan
serebral tak
keperawatan selama
efektif b.d.
X 24 jam perfusi
hipovolemi
jaringan
serebral
a,
efektif,
dengan
gangguan
criteria :
aliran vena
a. Perfusi jaringan
dan arteri.
cerebral
59.
b. Fungsi neurology
c. Tekanan intrakranial dalam batas normal
d. Tak ada sakit kepala
e. Tak ada bunyi bruit
carotis
f. Tak gelisah
g. Tak ada agitasi
h. Tak ada muntah
i. Tak ada sinkope
61.

Status

62.

Peningkatan perfusi cerebral :

a. Mengkonsultasikan dengan dokter untuk menentukan


parameter hemodinamik (volume perfusi darah, nadi,
respirasi, kesadaran, perdarahan), dan mengelola
parameter tersebut dalam batas normal
b. Kelola / kolaborasi obat vasoaktif, untuk mengatur
hemodinamik
c. Monitor prothrombin, partial thromboplastin.
d. Atur serum glukosa dalam batas normal
e. Jaga hematokrit pada rentang 33% untuk terapi
hemodilusi hipervolemia.
f. Monitor tanda perdarahan, status neurologi-kesadaran
g. Monitor tanda overload cairan.
h. Monitor intake dan out put
63.

Monitoring Neurologik :

a. Monitor ukuran pupil, bentuk,


reaktivitas.
b. Monitor tingkat kesadaran
c. Monitor tingkat orientasi

kesimetrisan,

dan

neurology
kesadaran

a.

b.
c.
d.
e.

f.

g.
64. 65.
Kece
6
masan
(orang tua,
anak) b.d.
ancaman
perubahan
status kesehatan,
krisis

: d. Monitor PCS
e. Monitor memori saat ini, rentang perhatian, memori
masa lalu, mood, perasaan/emosi, tingkah laku.
Membuka
mata f. Monitor vital sign suhu, tekanan darah, nadi, respirasi.
terhadap
stimulasi g. Monitor status respirasi (kedalaman, pola, usaha untuk
bernafas)
eksternal
h. Monitor refleks kornea
Orientasi cognitif
Komunikasi
sesuai i. Monitor refleks batuk dan refleks muntah
j. Monitor tonus otot, gerakan motorik.
situasi
k. Monitor adanya tremor
Mematuhi perintah
gangguan
visual:
diplopia,
nistagmus,
Berespon
(gerak) l. Monitor
pemendekan
lapang
pandang,
aktivitas
visual
terhadap stimulus yang
m. Monitor karakteristik bicara: lancar, aphasia, kesulitan
berbahaya (nyeri).
menemukan kata-kata.
Mengikuti
terhadap
n.
Monitor respon terhadap stimulus: verbal, taktil,
stimulus
dari
stimulus berbahaya.
lingkungan
o.
Monitor adanya parestesia
Tak ada kejang
p. Monitor refleks babinski, respon cushing
66.
Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama
X 24 jam
kecemasan orang
tua berkurang /
hilang, dengan
criteria :
67.

Mengotrol

a. Menurunkan Cemas
b. Gunakan pendekatan dengan konsep atraumatik care
c. Jangan memberikan jaminan tentang prognosis
penyakit
d. Jelaskan semua prosedur dan dengarkan keluhan
klien/keluarga
e. Pahami harapan pasien/keluarga dalam situasi stres
f. Temani pasien/keluarga untuk memberikan keamanan
dan
mengurangi takut
g. Bersama tim kesehatan, berikan informasi mengenai

situasional

cemas
a. Klien/ keluarga mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan gejala
cemas.
b. Mengidentifikasi,
mengungkapkan,
dan
menunjukkan
teknik
untuk
mengontrol
cemas
c. Vital sign (TD, nadi,
respirasi) dalam batas
normal
d. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh,
dan
tingkat
aktivitasmenunjukkan
berkurangnya
kecemasan.
e. Menunjukkan
peningkatan
konsentrasi dan akurasi
dalam berpikir

68.

diagnosis, tindakan prognosis


h. Anjurkan keluarga untuk menemani anak dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan
i. Lakukan massage pada leher dan punggung, bila lperlu
j. Bantu pasien mengenal penyebab kecemasan
k. Dorong
pasien/keluarga untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi tentang penyakit
l. Instruksikan pasien/keluarga menggunakan teknik
relaksasi (sepert tarik napas dalam, distraksi, dll
m. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi
kecemasan

69.
70.
71.

72.

DAFTAR PUSTAKA

73.

Arjatmo T. (2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa.


Jakarta : gaya baru

74.

Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku


Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.

75.

Hidayat.wordpress.com. Askep pada anak dengan kejang


demam. Diakses 06 Oktober 2009

76.

Pediatrik.com. Kejang Pada Anak

77.

Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik.


Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta: EGC.

78.

Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media


Aesculapius FKUI Jakarta, 2000

79.

Budi Santosa, Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA


2005-2006, Prima Medika

80.

Dina Kartika S, Pediatricia, Tosca Enterprise, Yogyakarta,


2005

81.

Hardiono D. Pusponegoro dkk, Standar Pelayanan Medis


Kesehatan Anak, IDAI, 2004

82.

Judith M. Wilkinson, Prentice Hall Nursing Diagnosis


Handbook with NIC Intervention and NOC Outcomes,
Upper Saddle River, New Jersey, 2005

83.

Marion Johnson, Nursing Outcomes Classification (NOC),


Mosby-Year Book, 2000

84.

Tri Atmadja DS, Standar Pelayanan Medis Kesehatan


Anak, RSUD Wates, 2001

85.
86.
87.
88.
89.
90.

91.
92.
93.

PENYIMPANGAN KDM KEJANG DEMAM


94.

95. Proses infeksi

96.
97. Peningkatan metabolisme
Evaporasi berlebihan

pelepasan pirogen

98. Basal & kebutuhan O2

endogen (IL 1)

99.
100.

Mengubah keseimbangan

101.

Membran sel neuron

Risiko deficit volume


Prostaglandin
cairan tubuh

102.
103.

Difusi Ion K dan Na

Hipotalamus

104.

Meningkatkan set point

105.

Terjadi lepas muatan listrik

106.

Yang besar
Peningkatan suhu tubuh
Perubahan status kesehatan pada anak

107.
108.
Meluas ke seluruh sel sekitarnya
Kurang pemajanan
Koping org tua/ke109.

Melalui neurotransmitter Hiperter


informasi pd org tua/anak
luarga tidak efektif.
mi

110.
111.

Kejang

112.
113.

Konstriksi pembuluh darah

Kurang
pengetahua
n

114.
115.

Sirkulasi tdk lancar

116.
117.

Kekurangan O2 otak & seluruh kompensasi tubuh dgn otot

118.

Tubuh

119.

Bantu pernapasan

kecemasan

120.

Risiko kerusakan
sel otak

Pola napas tidak


efektif