"Proses dan Jenis Batu Bara"
"Proses dan Jenis Batu Bara"
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat
sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu
bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji,
berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar
getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah
penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah
yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
Penambangan[sunting sumber]
Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsurkarbon (C) dengan kadar air kurang dari
8%.
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari
beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.
Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air
35-75% dari beratnya.
Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah
pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi
hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah
kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses
pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi
bituminus dan akhirnya antrasit.
Secara lebih rinci, proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Pembusukan, bagian-bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri
anaerob.
2.
Pengendapan, tumbuhan yang telah mengalami proses pembusukan selanjutnya
akan mengalami pengendapan, biasanya di lingkungan yang berair. Akumulasi dari
endapan ini dengan endapan-endapan sebelumnya akhirnya akan membentuk lapisan
gambut.
3.
Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia
dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian unsur karbon dalam
bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metana. Secara relatif, unsur karbon akan
bertambah dengan adanya pelepasan unsur atau senyawa tersebut.
4.
Geotektonik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya
tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan. Batubara low gradedapat
berubah menjadi batubara high grade apabila gaya tektonik yang terjadi adalah gaya
tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan terjadinya intrusi atau
keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan batubara yang berair juga dapat
berubah menjadi area darat dengan adanya gaya tektonik setting tertentu.
5.
Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang telah
mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi inilah yang
hingga saat ini dieksploitasi manusia.
Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batubara
Faktor-Faktor dalam pembentukan batubara sangat berpengaruh terhadap bentuk maupun
kualitas dari lapisan batubara. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan
batubara adalah :
1.
Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang
lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim
clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari
batubara yang terbentuk.
2.
Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar
pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang
terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
3.
Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa
lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang
diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang
terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang
tinggi.
4.
Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan
batubara dari :
a.
Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara
yang terbentuk.
b.
Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau
patahan.
c.
Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan
batubara yang dihasilkan.
5.
Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari
material dasar menjadi material sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat
ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut:
a.
Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan.
Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi
geotektonik.
b.
Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan
pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat
pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana
batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses
geotektonik.
c.
Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan
batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses
pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.
Kandungan karbon batubara merupakan penentu utama dari panas yang dihasilkan, tetapi
faktor lain juga mempengaruhi jumlah energi yang terkandung per bobotnya. (Jumlah energi
dalam batubara dinyatakan dalam British thermal unit per pon. BTU adalah jumlah panas
yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu pon air sebesar satu derajat Fahrenheit.)
Antrasit
Antrasit adalah batubara dengan kadar karbon tertinggi, antara 86 sampai 98 persen, dan nilai
panas yang dihasilakan hampir 15.000 BTU per pon. Paling sering digunakan pada alat
pemanas
rumah.
Bitumen
Bitumen digunakan terutama untuk menghasilkan listrik dan membuat kokas di industri baja.
Pasar batubara yang tumbuh paling cepat untuk jenis ini, meskipun masih kecil, adalah yang
memasok energi untuk proses industri. Bitumen memiliki kandungan karbon mulai 45 sampai
86
persen
dan
nilai
panas
10.500
sampai
15.500
BTU
per
pon.
Subbitumen
Peringkat dibawah bitumen adalah subbitumen, batubara dengan kandungan karbon 35-45
persen dan nilai panas antara 8.300 hingga 13.000 BTU per pon. Meskipun nilai panasnya
lebih rendah, batubara ini umumnya memiliki kandungan belerang yang lebih rendah
daripada jenis lainnya, yang membuatnya disukai untuk dipakai karena hasil pembakarannya
yang
lebih
bersih.
Lignit
(Batu
bara
muda)
Lignit merupakan batubara geologis muda yang memiliki kandungan karbon terendah, 25-35
persen, dan nilai panas berkisar antara 4.000 dan 8.300 BTU per pon. Kadang-kadang
disebut brown coal, jenis ini umumnya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik.
Lignite atau juga dikenal dengan sebutan batubara coklat, adalah jenis batubara yang
paling rendah kualitasnya. Banyak ditambang di Yunani, Jerman, Polandia, Serbia,
Rusia, Amerika Serikat, India, Australia, dan beberapa bagian negara-negara Eropa.
Batubara jenis ini banyak digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap.
Namun karena jenis ini memiliki energi konten rendah dan kandungan moisture yang
tinggi, maka sangat tidak efisien untuk ditransportasikan ke tempat yang jauh. Untuk itu
pembangkit listrik yang menggunakan batubara jenis ini dibangun di lokasi yang cukup
dekat dengan lokasi penambangannya.
Sub-bituminous adalah
jenis
batubara
sedang
di
antara
jenis lignitedan
jenis bituminous. Secara fisik memiliki ciri-ciri berwarna coklat gelap cenderung hitam.
Memiliki kandungan kelembaban yang lebih rendah dari jenis lignite dan cocok
digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap.
Bituminous, adalah jenis batubara yang lebih tinggi tingkatan kualitasnya. Mayoritas
berwarna
hitam,
namun
kadang
masih
ada
yang
berwarna
coklat
tua.
Anthracite adalah jenis batubara yang paling baik kualitasnya. Jenis ini memiliki
kandungan karbon sebesar 92,1% sampai dengan 98%, sehingga berwarna hitam
mengkilap. Penggunaan batubaraanthracite pada pembangkit listrik tenaga uap, masuk
ke dalam jenis batubara High Grade dan Ultra High Grade. Namun persediaannya
masih sangat terbatas, yaitu sebanyak 1% dari total penambangan batubara. Negara
penghasil batubara ini antara lain adalah Cina, Rusia, Ukraina, Korea Utara, Vietnam,
Inggris, Australia, dan Amerika Serikat.
Batubara Anthracite
Antrasit adalah batubara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian
memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih
rendah. (seperti terlihat pada diagram berikut).
Proses pembentukan batubara dari gambut hingga antrasit, tentu saja dipengaruhi oleh
terdapat beberapa faktor seperti adanya perkembangan dan jenis tumbuh-tumbuhan, keadaan
lingkungan pengendapan, dan adanya proses geologi.
Perkembangan dan jenis tumbuh-tumbuhan sangat berpengaruh sekali terhadap jenis dan
akumulasi batubara yang terjadi. Berbagai macam jenis tumbuhan dan bagian-bagian dari
akar sampai bunga, antara lain : vitrain yang terbentuk dari batang kayu yang keras dan
merupakan batubara yang porous.
Sementara itu, keadaan lingkungan pengendapan batubara akan mempengaruhi jenis,
kilap dan peringkat dari batubara. Keadaan lingkungan pengendapan ini meliputi : cuaca,
iklim dan keadaan tanah maupun rawa-rawa tersebut. Batubara yang terendapkan pada daerah
tropis dan beriklim hangat akan membentuk batubara yang mengkilap, sedangkan pada
daerah dingin akan membentuk batubara yang kusam.
Sedangkan proses geologi yang dapat mempengaruhi pembentukan atau peningkatan derajat
kualitas batubara, antara lain :
1. Intrusi yang menyebabkan batubara mengalami metamorfosa kontak sehingga derajat batubara
akan meningkat seperti di Tambang Air Laya dan Balong Hijau.
2. Perlipatan yang terjadi pada zona perlipatan yang kuat, batubara akan mengalami kenaikan
derajat.
3. Patahan atau zona patahan, batubara akan mengalami metamorfosis akibat adanya dislokasi,
misalnya : di Ombilin Sumatera Barat.
teori
yang
menerangkan
terjadinya
batubara
yaitu
Teori In-situ : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan dimana
batubara tersebut terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori in-situ lazimnya
terjadi di hutan basah dan berawa, sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati
dan roboh, langsung tenggelam ke dalam rawa tersebut, dan sisa tumbuhan tersebut tidak
mengalami pembusukan secara sempurna, dan akhirnya menjadi fosil tumbuhan yang
membentuk sedimen organik.
Teori Drift : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang
bukan di tempat dimana batubara tersebut terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan
teori drift biasanya terjadi di delta-delta, mempunyai ciri-ciri lapisan batubara tipis, tidak
menerus (splitting), banyak lapisannya (multiple seam), banyak pengotor (kandungan abu
cenderung tinggi). Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia
(penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan).
Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika
yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur,
tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati
1992). Pada tahap ini prosentase karbon akan meningkat, sedangkan prosentase hidrogen dan
oksigen akan berkurang (Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992). Proses ini akan
menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari
lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.
Ada tiga faktor yang mempengaruhi proses pembetukan batubara yaitu: umur, suhu dan
tekanan.
Mutu endapan batubara juga ditentukan oleh suhu, tekanan serta lama waktu pembentukan,
yang disebut sebagai 'maturitas organik. Pembentukan batubara dimulai sejak periode
pembentukan Karbon (Carboniferous Period) dikenal sebagai zaman batubara pertama yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Proses awalnya, endapan
tumbuhan berubah menjadi gambut/peat (C60H6O34) yang selanjutnya berubah menjadi
batubara muda (lignite) atau disebut pula batubara coklat (brown coal). Batubara muda
adalah batubara dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan secara continue selama jutaan tahun, maka
batubara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
Dari tinjauan beberapa senyawa dan unsur yang terbentuk pada saat proses coalification
(proses pembatubaraan), maka dapat dikenal beberapa jenis batubara yaitu:
1.
Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
2. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
3. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
4. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 3575% dari beratnya.
5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
1. Peat/ gambut, (C60H6O34) dengan sifat :
Warna coklat
Warna kecoklatan
Material terkornpaksi namun sangat rapuh
Mempunyai kandungan air yang tinggi
Mempunyai kandungan karbon padat rendah
Mempunyai kandungan karbon terbang tinggi
Mudah teroksidasi
Nilai panas yang dihasilkan rendah.
Warna hitam
Material sudah terkompaksi
Mempunyai kandungan air sedang
Mempunyai kandungan karbon padat sedang
Dari tinjauan beberapa senyawa dan unsur yang terbentuk pada saat proses coalification,
maka secara umum dikenal beberapa ranking batubara yaitu:
Batubara Peat
Peat, dianggap sebagai bentuk awal batubara, digunakan oleh industri sebagai bahan bakar di
beberapa daerah, misalnya di Irlandia dan Finlandia. Dalam bentuk dehidrasinya, peat
merupakan penyerap tumpahan bahan bakar dan minyak yang sangat efektif, baik di darat
dan air. Peat juga digunakan sebagai kondisioner tanah agar lebih mampu mempertahankan
dan perlahan-lahan melepaskan air.
.Peat/ gambu, (C60H6O34) Memiliki sifat :
Warna coklat
Material belum terkompaksi
Mernpunyai kandungan air yang sangat tinggi
Mempunvai kandungan karbon padat sangat rendah
Mempunyal kandungan karbon terbang sangat tinggi
Sangat mudah teroksidasi
Nilai panas yang dihasilkan amat rendah.
Manfaat : Bahan Bakar Industri
Batubara Lignit
lignit atau batubara coklat, adalah peringkat terendah dari batubara dan digunakan hampir
secara eksklusif sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Jet adalah bentuk lignit yang
kompak, yang terkadang dipoles dan telah digunakan sebagai batu hias sejak zaman Upper
Palaeolithic.
Lignit/ brown coa, (C70OH5O25 ) memiliki ciri :
Warna kecoklatan
Material terkornpaksi namun sangat rapuh
Batubara Subbitumen
batubara subbitumen, yang sifatnya berkisar diantara batubara lignit dan bitummen,
digunakan umumnya sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap dan merupakan
sumber penting bagi hidrokarbon aromatik untuk industri sintesis kimia
Subbituminous (C75OH5O20) - Bituminous (C80OH5O15) memiliki ciri :
Warna hitam
Material sudah terkompaksi
Mempunyai kandungan air sedang
Mempunyai kandungan karbon padat sedang
Mempunyai kandungan karbon terbang sedang
Sifat oksidasi rnenengah
Nilai panas yang dihasilkan sedang.
Manfaat : Bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap dan sumber penting bagi
hidrokarbon
aromatic
Batubara Antrasit
batubara antrasit, menempati ranking tertinggi batubara, adalah batubara keras hitam glossy,
digunakan umumnya untuk pemanas ruang perumahan dan komersial.
Antrasit (C94OH3O3) memiliki ciri :
Warna hitam mengkilat
Material terkompaksi dengan kuat
Mempunyai kandungan air rendah
Mempunyai kandungan karbon padat tinggi
Mempunyai kandungan karbon terbang rendah
Relatif sulit teroksidasi
Nilai panas yang dihasilkan tinggi.
Manfaat : Pemanas Ruang perumahan dan komersial
Batubara Bitumen/Bituminous
batubara bitumen/ Bituminous adalah batuan sedimen padat, biasanya hitam tapi kadangkadang coklat tua, digunakan umumnya sebagai bahan bakar di pembangkit listrik tenaga
uap, dalam jumlah besar digunakan untuk aplikasi panas dan daya di sektor manufaktur, dan
digunakan untuk membuat kokas.
Bituminous memiliki ciri :
Padat
Hitam
Rapuh
Berlapis
Tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan
Manfaat : Bahan bakar di pembangkit listrik tenaga uap dan pembuatan kokas
Batubara Grafit
batubara grafit, secara teknis rankingnya paling tinggi, tapi sulit untuk dinyalakan dan tidak
umum digunakan sebagai bahan bakar. Jenis batubara ini banyak digunakan pada pensil dan,
ketika dijadikan bubuk, digunakan sebagai pelumas.
Grafit memiliki ciri :
Lembut
Licin
Berwarna kelabu
Mudah Menghantarkan Listrik
Manfaat : Sebagai pembuatan pensil dan pembuatan pelumas
yaitu :
1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat dibakar/dioksidasi oleh
oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari :
karbon padat (fixed carbon)
senyawa hidrokarbon
senyawa sulfur
senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.
2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi
oleh oksigen. Material tersebut umumnya terediri dari aenvawa anorganik (SiO2, A12O3,
Fe2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO, Na2 O, K2O, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah yang
kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non combustible material
ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan kimia
alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan menjadi lignit,
subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini dapat digambarkan dengan
persamaan reaksi sebagai berikut.
5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
Selulosa lignit
+ gas metan
6(C6H10O5) C22H20O3 + 5CH4 + 1OH2O + 8CO2 + CO
Cellulose bituminous + gas metan
Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan bantuan
pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan bertambah sehingga
grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini hidrogen yang terikat pada air yang
terbentuk akan menjadi semakin sedikit.
http://logku.blogspot.com/2011/02/proses-pembentukan-batubara.html
BATUBARA
DI
INDONESIA
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang
terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada
umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara
berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau
sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip
dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas
muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut
ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk
ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan
menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batubara Miosen. Sebaliknya,
endapan batubara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur
endapan batubara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip
dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan
sebagian
besar
Kalimantan.
Beberapa jenis batubara jika dipanaskan menjadi meleleh dan pelastis serta meninggalkan
residu
yang
disebut
kokas.
Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat
bahan bakar cair, dihidrogenisasikan untuk membuat metan.
http://godamaiku.blogspot.com/2013/04/tentang-batubara-about-coal.html
Batubara adalah batuan yang berasal dari tumbuhan yang mati dan tertimbun endapan
lumpur, pasir dan lempung selama berjuta-juta tahun lamanya. Adanya tekanan lapisan
tanah bersuhu tinggi serta terjadinya gerak tektonik mengakibatkan terjadinya
pembakaran atau oksidasi yang mengubah zat kayu pada bangkai tumbuh-tumbuhan
menjadi batuan yang mudah terbakar yang bernama batubara.
Di Indonesia terdapat tambang besar batubara seperti tambang umbilin di sawahlunto
sumatera barat dan tambang bukit asam di sumatra selatan. Beberapa macam / jenis
metoda penambangan barubara :
1. Penambangan Terbuka
Melakukan kegiatan menambang batubara tanpa melakukan penggalian berat karena
karena letak batubara yang dekat dengan permukaan bumi.
2. Penambangan Dalam
Untuk menambang batubara dengan teknik tersebut harus dibuat terowongan yang
tegak hingga mencapai lapisan batubara. Selanjutnya dibuat terowongan datar untuk
melakukan penambangan.
3. Penambangan Jauh
Pertambangan ini dilakukan ketika area batubara berada di bawah bukit di mana dibuat
terowongan miring hingga mencapai lapisan batu bara.
4. Penambangan Di Atas Permukaan
Jenis kegiatan menambang batubara ini dilakukan jika batubara yang diincar berada
pada perut bukit, yang di mana perlu terowongan datar untuk dapat mulai menambang
batubara tersebut.
---------------------2.000
=6
Dengan demikian break even stripping ratio adalah 6 : 1, yang berarti bahwa untuk
mengambil 1 ton batubara maksimum jumlah tanah penutup harus dibuang adalah 6 ton.
Dengan demikian maka cara penambangannya sudah harus ditinjau kembali karena
dianggap secara ekonomis sudah tidak menguntungkan lagi.
A. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG TERBUKA
Kelebihan tambang terbuka dibandingkan dengan tambang dalam adalah :
a. Relative lebih aman
b. Relative lebih sederhana
c. Mudah pengawasannya
Pada saat ini sebagian besar penambangan batubara dilakukan dengan metode tambang
terbuka, lebih-lebih setelah digunakannya alat-alat besar yang mempunyai kapasitas muat
dan angkut yang besar untuk membuang lapisan tanah penutup batubara. Dengan demikian
pekerjaan pembuangan lapisan tanah penutup batubara menjadi lebih murah dan menekan
biaya ekstraksi batubara. Selain itu prosentase batubara yang diambil jauh lebih besar
dibanding dengan batubara yang dapat diekstraksi dengan cara tambang dalam.
Penambangan batubara dengan metode tambang terbuka saat ini diperoleh 85% dari total
mineable reserve, sedang dengan metode tambang dalam paling besar hanya 50% saja.
Walaupun demikian penambangan secara tambang terbuka mempunyai keterbatasan yaitu :
a. Dengan peralatan yang ada pada saat sekarang ini keterbatasan kedalaman lapisan
batubara yang dapat ditambang.
b. Pertimbangan ekonomis antara biaya pembuangan batuan penutup dengan biaya
pengambilan batubara
Beberapa tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka tergantung pada
letak dan kemiringan serta banyaknya lapisan batubara dalam satu cadangan. Disamping itu
metode tambang terbuka dapat dibedakan juga dari cara pemakaian alat dan mesin yang
digunakan dalam penambangan.
Beberapa tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka adalah :
1. Contour Mining
Tipe penambangan ini pada umumnya dilakukan pada endapan batubara yang terdapat di
pegunungan atau perbukitan. Penambangan batubara dimulai pada suatu singkapan lapisan
batubara dipermukaan atau cropline dan selanjutnya mengikuti garis contour sekeliling bukit
atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuang kearah lereng bukit
dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diangkut. Kegiatan penambangan
berikutnya dimulai lagi seperti tersebut diatas pada lapisan batubara yang lain sampai pada
suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau
sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.
Batas ekonomis ini ditentukan oleh beberapa variable antara lain :
a. Ketebalan lapisan batubara
b. Kualitas
c. Pemasaran
3. Stripping Mining
Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar
atau dekat dengan permukaan tanah. Alat yang digunakan dapat berupa alat yang sifatnya
mobile atau alat penggalian yang dapat membuang sendiri. Penambangan batubara yang
akan dilakukan diwilayah kontraktor tambang batubara Kalimantan akan dimulai dengan
cara tambang terbuka yang memakai alat kerja bersifat mobile.
B. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG DALAM
Pada penambangan batubara dengan metode tambang dalam yang terpenting adalah
bagaimana mempertahankan lubang bukaan seaman mungkin agar terhindar dari
kemungkinan :
1. Keruntuhan atap batuan
2. Ambruknya dinding bukaan lubang (rib spalling)
3. Penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave)
Kejadian tersebut diatas disebabkan oleh terlepasnya energy yang tersimpan secara alamiah
dalam endapan batubara. Energy yang terpendam tersebut merupakan akibat terjadinya
perubahan atau deformasi bentuk endapan batubara selama berlangsungnya pembentukan deposit
tersebut. Pelepasan energy tersebut disebabkan oleh adanya perubahan keseimbangan tegangan
yang terdapat pada massa batuan akibat dilakukannya kegiatan pembuatan lubang-lubang bukaan
tambang. Disamping itu kegagalan dapat disebabkan batuan dan batubara itu tidak mempunyai
daya penyangga disamping factor-faktor alami dari keadaan geologi endapan batubara.
Penambangan batubara secara tambang dalam kenyataannya sangat ditentukan oleh cara
mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama mungkin pada saat
berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau seekonomis mungkin.
Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada setiap pembuatan lubang bukaan selalu
diusahakan agar :
1. Kemampuan penyangga dari atap lapisan
2. Kekuatan lantai lapisan batubara
3. Kemampuan daya dukung pillar penyangga
Dimanfaatkan semaksimal mungkin. Namun apabila cara manfaat sifat alamiah tersebut
sulit dicapai maka beberapa cara penyanggaan batuan telah diciptakan oleh ahli tambang.
Metode panambangan secara tambang dalam pada garis besarnya dapat dibedakan yaitu :
a. Room and Pillar atau disebut pula Board and Pillar
b. Longwall
Kedua metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri terutama
pada keadaan endapan batubara yang dihadapi disamping factor lainnya yang perlu
diperhatikan dalam pemilihan metode penambangan tersebut.