Anda di halaman 1dari 8

Laporan Kasus

Seorang pasien perempuan berusia 42 tahun datang ke bangsal kebidanan RSUD


Hanafiah Batusangkar pada tanggal 21 Maret 2016 dengan identitas pasien :
Nama

: Ny. H

Usia

: 42 tahun

Alamat

: Batu Sangkar

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Status Menikah

: Menikah

Pendidikan

: SMP

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pasien rujukan dari Bidan dengan diagnosis G4P3A0H3 gravid atrem 38-39
minggu + Janin letak lintang+ Janin hidup tunggal intra uterin
Riwayat Penyakit Sekarang :
-

Nyeri pinggang menjalar ke ari ari (-)


Keluar lender bercampur darah dari kemaluan (-)
Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-)
Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-)
Sudah tidak haid sejak kurang lebih 9 bulan yang lalu
HPHT : 10 Juni 2015
TP : 9 Maret 2016
Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu
RHM : Mual (-) Muntah (-) PPV (-)
RHT : Mual (-) Muntah (-) PPV (-)
Setelah melahirkan pasien juga berencana untuk memasang alat kontrasepsi yaitu IUD
untuk membatasi jumlah anak dan jarak kelahiran anak.

Riwayat Kehamilan dan persalinan :


-

Riwayat kehamilan :

1. Tahun 1996, laki-laki, berat badan lahir 3100 gram, lahir pervaginam, ditolong
bidan.
2. Tahun 1998, laki-laki, berat badan lahir 3000 gram, lahir pervaginam, ditolong
bidan.
3. Tahun 2013, laki-laki, berat badan lahir 3200 gram, lahir pervaginam, ditolong
bidan.
-

Riwayat Menstruasi : Menarche pada usia 9 tahun, siklus teratur 1x 28 hari, lama haid
5-7 hari, 2-3x ganti duk perharinya.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Os tidak memiliki riwayat penyakit jantung, Ginjal, lien, paru, diabetes melitus, dan
hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Riwayat penyakit menular, keturunan, kejiwaan disangkal.

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan :


-

Os seorang ibu rumah tangga, pendidikan terakhir SMP.


Riwayat kontrasepsi : Tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi
Riwayat kebiasaan : merokok, minum alkohol dan narkoba tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Nadi

: 84 kali/menit

Kesadaran

: Komposmentis kooperatif

Nafas

: 18 kali/menit

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Suhu

: Afebris

STATUS GENERALISATA
Kepala

: Normocephal, rambut hitam tidak mudah rontok

Mata

: Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor.

Leher

:Tidak ada pembesaran

KGB.

Paru
Inspeksi

: simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis.

Palpasi

: fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

: sonor

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Jantung


Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada, gallop (-)


Abdomen

: Status gynekologi

Genitalia

: Status gynekologi

Ekstremitas

: Akral hangat, CRT 3 detik

Status Gynekologi
Abdomen
Inspeksi

: Perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan

Palpasi

: leopold 1 2 3 4???

Perkusi

: Timpani

Auskultasi : BU (+) normal.


Genitalia
Inspeksi

: vulva dan uretra tenang, perdarahan pervaginam (-)

Diagnosis Kerja : G4P3A0H3 gravid aterm 38-39 minggu + janin letak lintang + Janin hidup
tunggal intraa uterin presentasi kepala
Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium (21 Maret 2016) :


Hb
: 11,8 gr/dl
Leukosit
: 12.700 mm3
Trombosit
: 257.000 mm3

Hematokrit
Gula Darah

: 22%
: 145

Tatalaksana
-

SC
Pemasangan IUD

A.Pemasangan IUD
Apabila prosedur pemasangan telah dijelaskan dan pertanyaan atau kekhawatiran wanita telah
diatasi, maka ia kemungkinan besar menjadi lebih santai saat prosedur sehingga
memfasilitasi pemasangan dan meminimalkan rasa tidak nyaman.Teknik pemasangan yang
benar dapat secara bermakna mengurangi risiko kehamilan dan komplikasi-ekspulsi,
perdarahan dan nyeri, perlorasi serta infeksi.

B. Peralatan Yang Diperlukan Untuk Pemasangan


1.

Lampu

2.

Speculum dua katup

3.

Apusan bakleriologis (apabila diindikasikan)

4.

Lidi kapas

5.

Larutan antiseptik

6.

Sarung tangan bersih

7.

Wadah sekali pakai untuk instrument yang sudah dipakai dan sampah klinis

8.

Baki/bengkok steril (wadah untuk instrument pemasangan)

9.

Forseps steril 10 inci untuk memegang spons

10.

Sonde uterus lentur steril yang berskla sentimeter

11.

Forseps jaringan 12 inci atau tenaklum satu-gigi dengan ujung tumpul yang steril

12.

Gunting yang cukup panjang sehingga dapat memotong benang

C. Penentuan Waktu Pemasangan


AKDR dapat dipasang setiap saat selama siklus menstruasi asalkan kehamilan sudah
disingkirkan. AKDR dapat dipasang segera setelah terminasi kehamilan secara penghisapan
atau evakuasi aborsi spontan, dan 6 minggu setelah persalinan per vaginam atau
melalui seksio sesarea. Pemasangan AKDR pasca plasenta (dalam 48 jam setelah melahirkan)
juga aman dan nyaman, terutama apabila wanita selanjutnya sulit berhubungan dengan
petugas kesehatan, tetapi angka eksplulsinya tinggi.
Pemasangan AKDR selama masa menstruasi secara konvensional dianjurkan karena beberapa
alasan berikut: kecil kemungkinannya ada kehamilan, serviks lebih lunak dan os internus
sedikit membuka, kemungkinan pemasangan lebih mudah, dan perdarahan setelah
pemasangan tersamar oleh darah menstruasi. Namun, juga ada kekurangan-angka ekspulsi
sedikit lebih tinggi karena kontraktilitas uterus meningkat dan sebagian wanita tidak senang
apabila diperiksa saat menstruasi.

D. Teknik Pemasangan

Karena metode pemasangan berbeda untuk masing-masing alat, maka pemasangan paling
aman apabila kita mengikuti petunjuk produsen dengan cermat.
1.

Sepanjang prosedur, harus diterapkan teknik jangan menyentuh (no touch technique).

Bagian dari sonde dan alat pemasangan yang sudah terisi yang masuk ke dalam uterus jangan
disentuh, bahkan dengan tangan yang sudah bersarung, kapanpun. Dengan demikian,
pemakaian sarung tangan yang bersih (non-steril) sudah memadai.
2.

Setelah pemeriksaan panggul bimanual, serviks dipajankan dengan speculum sementara

wanita berbaring dalam posisi litotomi modifikasi atau posisi lateral.


3.

Serviks dibersihkan dengan antiseptik dan dipegang dengan forseps atraumatik 12 inci

(forseps Allis panjang sering digunakan). Tarikan ringan untuk meluruskan kanalis
uteroservikalis membantu pemasangan AKDR di fundus.
4.

Sonde uterus dimasukkan dengan htai-hati untuk menentukan kedalaman dan arah

rongga uterus serta arah dan kepatenan kanalis servikalis apabila dijumpai spasme/stenosis
serviks, maka mungkin perlu dipertimbangkan pemberian anestetik lokal dan dilatasi os
serviks.
5.

AKDR dimasukkan ke dalam alat pemasangan sehingga AKDRakan berletak rata dalam

bidang transversal rongga uterus saat dilepaskan.


6.

AKDR jangan berada di dalam alat pemasanga lebih dari beberapa menit karena alat ini

akan kehilangan elastisitasnya dan bentuknya akan berubah.


7.

Tabung alat pemasanga secara hati-hati dimasukkan melalui kanalis servikalis, AKDR

dilepaskan sesuai instruksi spesifik untuk masing-masing alat kemudian alat pemasang
dikeluarkan.
8.

Setelah pemasangan, dianjurkan untuk melakukan sonde kanalis ulang untuk

menyingkirkan kemungkinan AKDR terletak rendah. AKDR harus diletakkan di fundus agar
insidensi ekspulsi dan kehamilan rendah.
9.

Benang AKDR harus dipotong dengan gunting panjang sampai sekitar 3 cm dan os

eksternus.

E. Teknik Pengeluaran
1.

Benang terlihat

a.

Gunakan speculum untuk melihat serviks dan lihat dengan jelas adanya benang AKDR

b.

Jepit benang (-benang) dengan kuat dekat os eksternus dengan forceps arteri lurus.

c.

Lakukan tarikan lembut kea rah bawah. Biasanya AKDR akan tertarik dengan mudah

dan dengan nyeri minimal. Apabila dijumpai tahanan, atau apabila pasien merasa nyeri,
hentikan tarikan dan
d.

Periksa ukuran dan posisi uterus dengan pemeriksaan bimanual.

e.

Jepit serviks dengan forceps jaringan dan lakukan terikan lembut untuk meluruskan

kanalis uteroservikalis.
f.
g.

Lanjutkan terikan pada benang dan keluarkan AKDR seperti biasa.


Kadang-kadang kita perlu memberikan anestesia lokal untuk mengurangi rasa tidak

nyaman saat pengeluaran.


2.

Apabila benang putus

Sewaktu pengeluaran, kanalis servikalis harus dieksplorasi secara hati-hati dengan forseps
arteri lurus untuk memeriksa apakah ujung bawah AKDR telah turun ke kanalis servikalis.
Apabila terasa, maka batang vertical AKDR dapat dijepit dan dikeluarkan.
Apabila AKDR seluruhnya berada di dalam rongga uterus, maka dapat dilakukan eksplorasi
rongga uterus dengan forceps bengkok yang kecil dan panjang atau pengait untuk
mengetahui lokasi dan mengeluarkan AKDR. Dilatasi serviks dapat dicapai dengan
pemberian misoprostol 400 g per vagina sebelum eksplorasi uterus. Hanyar dokter yang
berpengalaman dalam teknik intrauterus yang boleh melakukan prosedur semacam ini.
3.

Perubahan AKDR

AKDR sebaiknya tidak diganti sebelum interval yang dianjurkan karena pengeluaran dan
pemasangan kembali meningkatkan risiko kegagalan, ekspulsi, dan infeksi. Pada wanita yang
berusia 40 tahun atau lebih, AKDR yang mengandung tembaga dapat dibiarkan di tempatnya
sampai 12 bulan setelah periode menstruasi terakhir

Pemasangan IUD saat setelah melahirkan dengan cara dilakukan sesaat plasenta lahir,
setelah dibersihkan rongga rahim dari sisa-sisa yang masih ada, ujung IUD diletakkan di
puncak rahim. Tangan yang satu mendorong puncak rahim ke bawah tangan yang satu
memegang IUD mendorong ke atas. Kontraksi rahim yang baik setelah persalinan akan
memberikan kesempatan IUD tercekam oleh dinding rahim. Bila ujung IUD diletakkan tepat
di fundus uteri maka kemungkinan ekspulsi (keluar spontan) sangat kecil. Penelitian oleh
Monika, Hanafi Waskito dan Hary Tjahjanto dari Bagian Obgin RS Dr. Kariadi/FK Undip
Semarang tahun 2009-1010 menyimpulkan bahwa pemasangan IUD CuT380 pada persalinan
pervaginam dan saat operasi sesar merupakan prosedur yang aman, efektif dan dapat
ditoleransi