Anda di halaman 1dari 9

AMONIAK HIDROKSIDA

AMMONIUM HYDROXIDE

1. IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA


1.1. Golongan (8)
Ammonia
1.2. Sinonim/Nama Dagang (2,5,6,9,10,11)
Ammonia R Aquammonia Ammonia TS Aqua ammonia Ammonia water
Ammonium water Aqua ammonium Aqueous ammonia Ammonium
hydrate Ammonia water 29%; Ammonia solution; Strong ammonia solution;
Stronger ammonia water; Ammonium hydroxide solutions; Ammonia
aqueous
1.3. Nomor Identifikasi
1.3.1. Nomor CAS

: 1336-21-6 (2,5,6,7,8,9,10,11)

1.3.2. Nomor EC

: 007001012 (6)

1.3.3. Nomor RTECS : BQ9625000 (6,9,10)


1.3.4. Nomor UN

: 2672 (6,10)

1.3.5. Nomor EINECS : 215-647-6 (5,6)


2. PENGGUNAAN (3,4,7)
Digunakan sebagai pendingin, pupuk, bahan peledak, dan sebagai bahan
pembersih dan pemutih, dan pada bahan keperluan rumah tangga. Digunakan
juga pada pewarna rambut untuk memisahkan kutikula rambut sehingga pewarna
rambut dapat memasuki korteks rambut. Bahan kimia laboratorium dan zat
industri.

3. BAHAYA TERHADAP KESEHATAN


3.1. Organ Sasaran (5)
Mata, kulit dan membran mukosa.

3.2. Rute Paparan


3.2.1. Paparan Jangka Pendek
3.2.1.1. Terhirup (6,8,9)
Sensasi terbakar, sesak napas, sakit tenggorokan, iritasi
saluran pernapasan (batuk, tenggorokan, dan iritasi hidung),
tracheitis dengan peningkatan sekresi trakea, penyempitan
bronkus termasuk bronkospasme, dengan mengi dan
dyspnea. Setelah terpapar konsentrasi yang tinggi, edema
laring, obstruksi pernapasan lainnya, dan edema paru dapat
menyebabkan hipoksemia yang signifikan. Paparan dengan
konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kematian.
3.2.1.2. Kontak dengan Kulit (6,8,9)
Paparan dari konsentrasi yang pekat dapat menyebabkan
eritema, edema, nyeri, liquefaction necrosis, atau penetrasi
luka bakar yang mendalam. Kontak dengan kulit dapat juga
menyebabkan korosif, iritasi, permeator. Peradangan kulit
dapat ditandai dengan gatal, bersisik, kemerahan dan
melepuh.
3.2.1.3. Kontak dengan Mata (6,8)
Sensasi terbakar pada mata yang dapat berkembang
menjadi lakrimasi, fotofobia, konjungtivitis, edema kelopak
mata dan blepharospasm (kedutan abnormal yang tidak
disengaja pada kelopak mata), kemerahan pada mata,
penglihatan kabur, dan sakit mata yang parah. Setelah
terpapar konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan
ulserasi kornea, kekeruhan (dengan neovaskularisasi), iritis,
kerusakan lensa (termasuk katarak), glaukoma dan atrofi
retina juga dapat terjadi.
3.2.1.4. Tertelan (5,6,8)
Menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran
pencernaan,

luka

bakar

pada

saluran

pencernaan,

penyempitan tenggorokan, muntah, kejang, syok, kram


perut, nyeri perut. Luka bakar oral, eritema orofaringeal atau
ulserasi, dan berlubangnya esophagus dan atau perut dapat

terjadi. Komplikasi akut dapat mencakup infeksi sekunder


dan risiko aspirasi pneumonitis.
3.2.2. Paparan Jangka panjang
3.2.2.1. Terhirup (8,9,10)
Paparan dengan konsentrasi yang tinggi, edema laring,
obstruksi pernapasan lainnya dan edema paru dapat
menyebabkan hipoksemia yang signifikan. Pada kasus yang
berat dapat menyebabkan gagal napas dan kematian.
Paparan berulang dan berkepanjangan dengan dari kabut
bahan ini dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan,
infeksi bronkial dan kerusakan paru-paru.
3.2.2.2. Kontak dengan Kulit (9)
Paparan berulang dan berkepanjangan dengan kabut dari
bahan ini dapat menyebabkan iritasi mata kronik.
3.2.2.3. Kontak dengan Mata (9,10)
Paparan berulang dan berkepanjangan dapat menyebabkan
kerusakan kornea dan berkembangnya katarak serta
glaukoma. Paparan berulang dengan kabut dari bahan ini
dapat menyebabkan iritasi kulit yang parah.
3.2.2.4. Tertelan (5,8)
Konsumsi kronik dapat menyebabkan efek yang serupa
dengan

konsumsi

akut.

Paparan

berulang

dapat

menyebabkan kerusakan kornea, katarak dan glaukoma.


Menelan cairan dengan jumlah yang relatif besar (~90 120
ml) menyebabkan kerusakan saluran pencernaan yang
sangat

serius.

Keracunan

yang

parah

juga

dapat

menyebabkan perforasi perut. Efek jangka panjang dapat


juga menyebabkan kelumpuhan pita suara, stenosis pilorus,
dan peningkatan kasus kanker kerongkongan.

4. TOKSIKOLOGI
4.1. Toksisitas
4.1.1. Data pada Hewan (5,8,9,10,11)
LD50 Oral pada tikus 350 mg/kg

4.1.2. Data pada Manusia (3)


Kasus akut pada pekerja yang terpapar amonium hidroksida dengan
konsentrasi yang sangat tinggi (10.000 ppm) dapat menyebabkan
batuk, muntah dan kesulitan bernafas.
4.2. Data Karsinogenik (5,10)
Tidak terdaftar pada ACGIH, IARC, NIOSH, NTP, OSHA atau CA Prop 65.
4.3. Data Teratogenik (5)
Data tidak tersedia
4.4. Data Mutagenik (9)
Mutagenik pada bakteri dan ragi

5. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KORBAN KERACUNAN


5.1. Terhirup (5,7,9,10,11)
Pindahkan korban ke tempat berudara segar. Berikan pernapasan buatan
jika tidak bernapas atau berikan oksigen jika sulit bernapas. Jika sulit
bernapas berlanjut segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas terdekat.
5.2. Kontak dengan Kulit (5,7,9,10,11)
Segera tanggalkan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci kulit
menggunakan sabun dan air yang banyak sekurangnya selama 15 menit.
Oleskan pada kulit yang iritasi dengan emolien. Jika iritasi kulit berlanjut
segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas terdekat. Cuci pakaian dan sepatu
yang terkontaminasi sebelum digunakan kembali.
5.3. Kontak dengan Mata (5,7,9,10,11)
Segera cuci mata dengan air yang banyak, sekurangnya selama 15 - 30
menit dengan sesekali membuka kelopak mata. Dapat menggunakan air
dingin. Jika iritasi mata berlanjut segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas
kesehatan terdekat.
5.4. Tertelan (5,7,9,10,11)
Jangan lakukan induksi muntah. Jangan berikan apapun melalui mulut pada
korban yang tidak sadarkan diri. Jika korban sadar sepenuhnya, berikan
segelas air untuk diminum. Cuci mulut dengan air. Longgarkan pakaian yang
ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau kemban. Segera bawa ke
rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

6. PENATALAKSANAAN PADA KORBAN KERACUNAN


6.1. Resusitasi dan Stabilisasi (1)
6.1.1. Penatalaksanaan jalan napas, yaitu membebaskan jalan napas untuk
menjamin pertukaran udara.
6.1.2. Penatalaksanaan fungsi pernapasan untuk memperbaiki fungsi
ventilasi dengan cara memberikan pernapasan buatan untuk
menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbon
dioksida.
6.1.3. Penatalaksanaan sirkulasi, bertujuan mengembalikan fungsi sirkulasi
darah.
6.2. Dekontaminasi
6.2.1. Dekontaminasi Mata (1)
a. Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan
miring ke sisi mata yang terpapar.
b. Secara perlahan bukalah kelopak mata dan bilas dengan
sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9% perlahan
selama15-20 menit.
c. Hindari bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya.
d. Jika masih belum yakin bersih, bilas kembali selama 10 menit.
e. Jangan biarkan pasien menggosok matanya.
f. Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan segera kirim/konsul
ke dokter mata
6.2.2. Dekontaminasi Kulit (termasuk rambut dan kuku) (1)
a. Bawa segera pasien ke air mengalir atau pancuran terdekat.
b. Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan
menggunakan sarung tangan, masker hidung dan apron. Hati-hati
untuk tidak menghirupnya.
c. Lepaskan pakaian, arloji dan sepatu yang terkontaminasi zat
racun atau muntahannya dan simpan dalam wadah/plastic
tertutup.
d. Cuci (scrubbing) segera bagian kulit yang terkena dengan air
mengalir dingin atau hangat dan sabun minimal 10 menit.
e. Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan kain
atau kertas secara lembut. Jangan digosok.

f. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut


6.2.3. Dekontaminasi Gastrointestinal (8)
a. Dekontaminasi tidak dianjurkan.
b. Segera bilas agar bahan keluar dari mulut dengan air. Cairan
melalui mulut (oral) harus dihindari karena risiko muntah, dengan
risiko membantu aspirasi dan terpapar ulang dari kerongkongan
ke zat korosif ini.
c. Pemberian arang aktif tidak diindikasi karena tidak cukup
menyerap zat ini dan akan mengganggu visibilitas jika endoskopi
diperlukan.
d. Aspirasi nasogastrik, kumbah lambung dan irigasi seluruh usus
merupakan kontraindikasi. Tidak ada manfaat yang telah terbukti
dari prosedur ini, dan ada risiko yang signifikan dari perforasi
selama intubasi lambung.
e. Rangsang muntah merupakan kontraindikasi karena risiko terjadi
paparan ulang dari kerongkongan dan atau aspirasi, serta
meningkatkan tekanan intraluminal yang diproduksi oleh emesis.
6.3. Antidotum (8)
Tidak ada antidotum khusus untuk pengobatan keracunan ini. Pengobatan
didasarkan pada perawatan simtomatik dan suportif.

7. SIFAT FISIKA KIMIA


7.1. Nama Bahan
Amoniak Hidroksida (Ammonium Hydroxide)
7.2. Deskripsi (5,7,8,9,10)
Cair; tidak berwarna; bau yang kuat seperti amonia; rasa pedas; sangat larut
dalam air, mudah larut dalam air dingin, larut dalam semua proporsi; pH 13,6
pada 32 oF, pH 11,7 pada 20 oC, pH 13,8 pada larutan 29%; berat molekul
35,01; titik didih 38 oC pada larutan 25 29%; titik lebur -58 oC pada larutan
23%.
7.3. Tingkat Bahaya, Frasa Risiko dan Frasa Keamanan
7.3.1. Peringkat NFPA (National Fire Protection Association) Skala 0-4 (9)
Kesehatan 2 : Tingkat keparahan tinggi
Kebakaran 0 : Tidak dapat terbakar

Reaktivitas 0 : Tidak reaktif


7.3.2. Klasifikasi EC (European Commision) Frasa Risiko dan Frasa
Kemanan (9)
R25

: Beracun jika tertelan

R34

: Menyebabkan luka bakar

R50

: Sangat beracun bagi organisme perairan

S26

: Jika kontak dengan mata, bilas segera dengan


banyak air dan hubungi dokter

S45

: Jika terjadi kecelakaan atau jika anda merasa tidak


sehat, jika memungkinkan segera menghubungi
dokter (perlihatkan label kemasan)

S61

: Hindari pembuangan ke lingkungan. Rujuk pada


lembar data keamanan/instruksi khusus

S1/2

: Jaga agar tetap terkunci dan jauhkan dari jangkauan


anak-anak

S24/25

: Hindari kontak dengan kulit dan mata

S36/37/39

: Kenakan pakaian pelindung, sarung tangan, dan


pelindung mata/wajah yang cocok

7.3.3. Klasifikasi

GHS

(Globally

Harmonized

System)

(Hazard

and

Precautionary Statement) (7,9)


Pernyataan Bahaya
H314

: Menyebabkan luka bakar parah pada kulit dan


kerusakan mata

H335

: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan

H400

: Sangat beracun bagi mahluk dalam air

Pernyataan Kehati-hatian
P261

: Hindari menghirup debu/ asap/ gas/ kabut/ uap/


semprotan

P273

: Hindari pembuangan ke lingkungan

P280

: Gunakan sarung tangan pelindung/ pelindung mata/


pelindung wajah

P310

: Segera telepon SENTRA INFORMASI KERACUNAN


atau dokter

P305 + P351 + P338 : JIKA TERKENA MATA: bilas secara hati-hati


dengan air selama beberapa menit. Lepas
lensa kontak, jika ada dan mudah dilakukan.
Lanjutkan membilas

8. STABILISASI DAN REAKTIVITAS


8.1.

Reaktivitas (5,9,10,11)
Stabil dibawah suhu dan tekanan normal

8.2.

Kondisi yang Harus Di Hindari (5,9,10,11)


Suhu tinggi, sinar matahari, sumber api, bahan yang tidak kompatibel.

8.3.

Bahan Tak Tercampurkan (5,7,9,10,11)


Asam

organik,

amida,

anhidrida

organik,

isosianat,

vinil

asetat,

epichlorhydrin, aldehida, akrolein, asam akrilik, asam klorosulfonat, dimetil


sulfat, flourin, emas + aqua regia, asam klorida, asam flourida, yodium,
asam nitrat, oleum, propiolactone, propilen oksida, perak nitrat, perak
oksida, perak oksida + etil alkohol, nitromethane, perak permanganat,
asam sulfat, halogen. Bentuk senyawa eksplosif dengan banyak logam
berat (perak, timbal, seng) dan garam halida. Oksidator kuat, merkuri,
hipoklorit, beta-propiolactone.
8.4.

Dekomposisi (5,10,11)
Nitrogen oksida (NOX) dan Amonia (NH3)

8.5.

Polimerisasi (5,9,10,11)
Tidak terpolimerisasi

9. BATAS PAPARAN DAN ALAT PELINDUNG DIRI


9.1.

Ventilasi (9,10,11)
Sediakan sistem ventilasi penghisap udara setempat. Sediakan ventilasi
yang memadai di tempat penyimpanan atau ruangan tertutup.

9.2.

Perlindungan Mata (5,7,9,10,11).


Kenakan kacamata pengaman/pelindung mata yang direkomendasikan
NIOSH atau EN 166(EU) untuk mencegah kontak mata. Sediakan kran
pencuci mata darurat serta semprotan air deras dekat dengan tempat
kerja

9.3.

Pakaian (5,7,9,10,11)
Kenakan pakaian pelindung yang tahan bahan kimia. Perlindungan tubuh
disesuaikan dengan aktivitas serta kemungkinan terjadinya paparan,
misalnya sepatu boot, jas lab atau pakaian yang tahan bahan kimia

9.4.

Sarung Tangan (5,7,9,10,11)


Kenakan sarung tangan yang tahan bahan kimia. Sarung tangan
pelindung yang dipilih harus memenuhi spesifikasi standar EU Directive
89/686/EEC dan 374 EN.

9.5.

Respirator (5,7,10,11)
Kenakan pelindung pernapasan jika ventilasi tidak memadai. Kenakan
respirator partikel/ uap organik yang direkomendasikan NIOSH atau yang
setara.

10. DAFTAR PUSTAKA


1. Sentra Informasi Keracunan (SIKer) dan tim. Pedoman Penatalaksanaan
Keracunan untuk Rumah Sakit. 2001
2. http://www.chemicalbook.com/ChemicalProductProperty_EN_CB1853050.ht
m (diunduh Mei 2014)
3. http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search2/r?dbs+hsdb:@rn+1336-21-6
(diunduh Mei 2014)
4. http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=health+woman&y=cybe
rmed|0|0|14|226 (diunduh Mei 2014)
5. http://avogadro.chem.iastate.edu/msds/nh3aq.htm (diunduh Mei 2014)
6. http://www.inchem.org/documents/icsc/icsc/eics0215.htm (diunduh Mei 2014)
7. http://www.guidechem.com/msds/1336-21-6.html (diunduh Mei 2014)
8. http://toxinz.com/Spec/2310399/195841 (diunduh Mei 2014)
9. http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsld=9922918 (diunduh Mei 2014)
10. http://www.ch.ntu.edu.tw/~genchem99/msds/exp21/Ammonium%20hydroxide
%20water%20solution.pdf (diunduh Mei 2014)
11. http://nfc.nctu.edu.tw/english/Safety/MSDS/NH4OH-MSDS.doc (diunduh Mei
2014)