Anda di halaman 1dari 56

SLEEPING DISORDERS

Oleh: Winda Diah Nugraheni


Pembimbing: Dr. Sonny Chandra, Sp.KJ

ILMU KESEHATAN JIWA RSUD PASAR REBO UNIV. YARSI


13 JUNI 16 JULI 2016

Tidur Fisiologis

Fase awal tidur didahului oleh fase


NREM yang terdiri dari 4 stadium,
lalu diikuti oleh fase REM.. Keadaan
tidur normal antara fase NREM dan
REM terjadi secara bergantian
antara 4-7 kali siklus semalam

-Bayi baru lahir tidur 16-20jam/hari


-Anak-anak 10-12 jam/hari
-Umur diatas 10 tahun 9-10 jam/hari
-Orang dewasa 7-7,5 jam/hari

Tipe NREM

Fase tidur NREM biasanya berlangsung antara 70 menit


sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM
Fase REM: gerakan bola mata yang cepat, tonus otot
yang sangat rendah, apabila dibangunkan hampir semua
organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut nadi
bertambah.
Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan
seseorang, tidur rem mewakili 50% dari waktu total tidur.

Peranan Neurotransmitter

Fungsi Tidur:
Fungsi homeostatik yang
bersifat menyegarkan dan
penting untuk termoregulasi
normal dan penyimpanan
energi

Irama Sirkadian:
Suatu proses biologis ritmis yang
menyebabkan perubahan fungsi
fisiologis tubuh sesuai dengan siklus
(24 jam).
Dipengaruhi oleh faktor internal
(endogen) dan eksternal (eksogen).
Pusat internal: terletak di suatu area
di otak yang disebut suprachiasmatic
nuclei (SCN)
Eksternal: berhubungan dengan
lingkungan natural di luar tubuh
seperti siklus gelap-terang (siangmalam), suhu ruang, perubahanperubahan musim, interaksi sosial
dengan indivisu yang lain serta
waktu/jam maka

Epidemiologi
Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa
mengalami
kesukaran
tidur
dan
17%
diantaranya mengalami masalah serius
Kaplan dan sadock melaporkan kurang lebih 4050% dari populasi usia lanjut menderita
gangguan tidur
Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan
oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat
dan alkohol.

Gangguan Tidur

Kumpulan kondisi yang dicirikan


dengan adanya gangguan dalam
jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada
seorang individu. Pada kelompok
remaja, kurangnya durasi tidur juga
dapat terjadi akibat adanya perubahan
gaya hidup.

Klasifikasi
Klasifikasi gangguan tidur berdasarkan DSM-5:
1. Insomnia
2. Hipersomnia
3. Narkolepsi
4. Gangguan Tidur Terkait Pernapasan
Sindrom Apnea Tidur Obstruktif
Apnea Tidur Sentral
Apnea tidur sentral idiopatik
Pernafasan Cheyne-stokes
Apnea tidur sentral dengan komorbid penggunaan
opioid
Hipoventilasi terkait Tidur
5. Gangguan Tidur Irama Sirkadian
Tipe Fase Tidur Tertunda (delayed sleep phase type)
Tipe Fase Terlalu Cepat Tidur (advanced sleep phase
syndrome).
Tipe Bangun-Tidur Irreguler (Irregular Sleep-Wake
Type)
Tipe Tidur-Bangun Non-24 jam (Non-24-Hour SleepWake Type)
Tipe Kerja Giliran (Shift Work Type)
Tipe Jet Lag

6. Parasomnia
7. Gangguan Tidur NREM
Gangguan Berjalan Sambil Tidur
(Sleepwalking type)
Gangguan Teror Tidur (sleep terror type)
8. Gangguan Mimpi Buruk
9. Gangguan Perilaku Tidur REM
10. Restless Legs Syndrome
11. Gangguan Tidur yang Dicetuskan Zat

1. Insomnia
Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan
tidur, yang merupakan keluhan tidur yang paling lazim
ditemui dan dapat bersifat sementara atau menetap
Menurut DSM-5: insomnia adalah ketidakpuasan dalam
kuantitas ataupun kualitas tidur yang berhubungan dengan
satu atau lebih gejala berikut: kesulitan memulai tidur,
kesulitan mempertahankan tidur dengan frekuensi bangun
yang sering atau ada masalah saat kembali mencoba
untuk tidur, dan episode bangun yang lebih pagi akibat
tidak mampu kembali tidur

Kriteria diagnostic DSM-V untuk


insomnia

Terapi Farmakologi

Hipersomnia
Tidur yang berlebihan, rasa mengantuk di siang hari
yang berlebihan, atau kadang-kadang keduanya
Somnolen dapat terjadi akibat tidur yang kurang cukup,
adanya disfungsi neurologi pada otak yang mengatur
regulasi tidur, tidur yang terganggu, adanya gangguan
pada irama sirkadian seseorang
Jika durasi tidur seseorang berkurang 1-2 jam setiap
malam selama seminggu, maka somnolen ini bisa
mencapai level patologis

Tipe-Tipe Hipersomnia

Kriteria Diagnostik Hipersomnia DSM-IV-TR

Terapi
Dengan pemberian obat stimulant berupa
amfetamin yang diberikan pada pagi dan
sore hari.
Obat antidepresan non-sedasi berupa
bupopiron dan stimulant baru seperti
modafinil.

Narkolepsi
Terdiri dari rasa ngantuk di siang hari yang berlebihan
serta manifestasi tidur yang abnormal rem (rapid eye
movement) yang terjadi setiap hari selama 3 bulan
Serangan tidur ini khasnya terjadi 2 sampai 6 kali
dalam sehari yang berlangsung 10 hingga 20 menit
Sering terjadi pada saat yang tidak tepat, pada saat
makan, berbicara, menyetir atau berhubungan seksual
Terdapat halusinasi hipnagogik dan hipnopompik,
katalepsi dan paralisis tidur.

Kriteria Diagnostik DSM-5 untuk Narkolepsi

Terapi
Tidak ada penyembuhan pada narkolepsi
Pengelolaan gejala mungkin dilakukan, seperti
dibiasakan untuk tidur siang pada waktu yang teratur.
Jika dibutuhkan, stimulant adalah obat yang lazim
digunakan (modafinil)
Pengobatan menggunakan ssri (serotonin selective
reuptake inhibitors) juga sering diresepkan oleh pakar
gangguan tidur.

Gangguan Tidur Terkait Pernapasan


Gangguan tidur terkait pernapasan
ditandai dengan penghentian tidur yang
menyebabkan rasa mengantuk berlebihan
atau insomnia
Gangguan pernapasan yang dapat terjadi
pada saat tidur : apnea, hipopnea dan
desaturasi oksigen

Kriteria diagnostic DSM-IV-tr gangguan tidur


yang terkait dengan pernapasan

Terapi
Nasal continuous airway pressure
(nCPAP) adalah terapi pilihan untuk apnea
tidur obstruktif.
Prosedur lain mencakup penurunan berat
badan, operasi hidung, trakeostomi, dan
uvulopalatoplasti.

Gangguan Tidur Irama Sirkadian


Gangguan dimana penderita tidak dapat
tidur dan bangun pada waktu yang
dikehendaki,walaupun jumlah tidurnya
tetap.
Gangguan ini sangat berhubungan
dengan irama tidur sirkadian normal

Kriteria Diagnostik DSM IV-TR Gangguan


Irama Tidur Sirkadian

Terapi
Terapi cahaya: beberapa peneliti mengatakan
pemaparan individu terhadap cahaya (lebih
besar dari 10.000 lux) dapat memperbaiki ritme
biologis endogen.
Melatonin: penggunaan melatonin pada
gangguan irama tidur sirkadian terbukti berhasil

Parasomnia

Suatu kelompok gangguan tidur dan bangun


yang merupakan transisi dari tidur yang
mencakup gangguan motorik abnormal,
perilaku atau pengalaman sensorik.

1. Gangguan Tidur NREM

Kriteria Diagnostik Gangguan Tidur NREM


berdasarkan DSM-V

Terapi
Terapi spesifik untuk gangguan teror malam jarang
diperlukan, pemeriksaan situasi keluarga yang
menimbulkan stres mungkin penting, terapi individual
dan keluarga sering berguna.
Pada kasus yang jarang, jika diperlukan obat diazepam
(valium) dengan dosis yang kecil pada waktu tidur
Terapi terdiri atas upaya mencegah cedera dan
obatyang menekan tidur tahap 3 dan 4

Gangguan tidur REM


A. Gangguan mimpi buruk (nightmares)
Kriteria Diagnosis:
Bangun berulang dari periode tidur utama atau tidur siang dengan ingatan yang rinci
mengenai mimpi yang lama dan sangat menakutkan, biasanya melibatkan ancaman
terhadap kelangsungan hidup, keamanan atau harga diri. Bangun biasanya terjadi
pada paruh kedua periode tidur
Saat bangun dari mimpi yang menakutkan, orang tersebut dengan cepat memiliki
orientasi dan kesiagaan (berlawanan dengan kebingungan dan disorientasi yang
ditemukan paida gangguan teror tidur dan beberapa bentuk epilepsi)
Pengalaman mimpi atau gangguan tidur terjadi akibat bangun, menyebabkan
penderitaan yang secara klinis bermakna atau henidaya fungsi sosial, pekerjaan,
atau area fungsi lain
Mimpi buruk tidak hanya selama perjalanan gangguan jiwa lain (contoh: delirium,
gangguan stres pasca trauma) dan tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat
(contoh: penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.

Biasanya tidak ada terapi spesifik untuk


gangguan mimpi buruk.
Agen yang menekan tidur rem, seperti
obat trisiklik dapat mengurangi frekuensi
mimpi buruk dan benzodiazepin juga
dapat digunakan

B. Gangguan perilaku saat tidur


Gangguan ini ditandai hilangnya atonia saat tidur REM
dilanjutkan dengan perilaku kekerasan dan kompleks
Pasien dengan gangguan ini akan melakukan apa yang
ada dalam mimpinya
Gangguan perilaku tidur rem diterapi dengan
klonazepam (klonopin), 0,5-2 mg/hari, carbamazepin
100 mg 3 kali sehari juga efektif untuk mengendalikan
gangguan ini.

Paralisis tidur
Ditandai dengan ketidak mampuan
mendadak melakukan gerakan volunter,
baik tepat pada onset tidur atau saat
terbangun dimalam atau pagi hari.

Gangguan Tidur Berhubungan dengan Pergerakkan


(Sleep-Related Movement Disorders)
1. Gangguan gerakan anggota gerak badan secara periodik
(periodic limb movement disorders)/mioklonus nortuknal

Ditandai adanya gerakan anggota gerak badan secara streotipik,


berulang selama tidur. Paling sering terjadi pada anggota gerak kaki
baik satu atau kedua kaki. Bentuknya berupa esktensi ibu jari kaki
dan fleksi sebagian pada sendi lutut dan tumit. Gerak itu berlangsung
antara 0,5-5 detik, berulang dalam waktu 20-60 detik atau mungkin
berlangsung terus-menerus dalam beberapa menit atau jam. Bentuk
tonik lebih sering dari pada mioklonus

Sindroma kaki gelisah (Restless legs


syndrome)/Ekboms syndrome

Ditandai oleh rasa sensasi dalam berupa


adanya rasa merayap pada kaki/kaku, yang
terjadi sebelum onset tidur. Pergerakan kaki
secara periodik disertai dengan rasa nyeri
akibat kejang otot M. tibialis kiri dan kanan
sehingga penderita selalu mendorong-dorong
kakinya

Bruksisme-Terkait Tidur

Burksisme atau menggeretakkan gigi,


terjadi sepanjang malam, paling menonjol
pada tidur tahap 2. Ada rasa sakit dirahang
pada pagi hari, tetapi teman tidur atau
teman sekamar terus terbangun akibat
bunyi tersebut. Terapi mencakup
pemasangan dental bite plate dan
ortodentik korektif.

Berbicara sambil tidur (somniloquy)

Isi pembicaraan biasanya meliputi beberapa


pembicaraan yang sulit deibedakan. Episode
berbicara yang lama berisikan mengenai
kehidupan dan kehawatiran orang yang
mengalaminya, tetapi orang ini tidak
mengaitkan mimpi mereka selama tidur dan
juga tidak sering rahasia tersembunyi.
Berbicara sambil tidur saja tidak memerlukan
terapi.

Membenturkan kepala terkait tidur


(jactatio capitis nocturna)

Merupakan istilah untuk perilaku tidur terutama terdiri dari


membenturkan kepala kedepan dan kebelakang dengan
ritmik, biasanya jarang membenturkan seluruh tubuh, terjadi
tepat atau selama tidur. Biasanya perilaku ini diamati
didekat periode pratidur dan bertahan sampai tidur ringan,
perilaku ini jarang bertahan sampai atau terjadi pada tidur
rem dalam. Terpai terdiri atas upaya untuk mencegah
cedera.

Gangguan Tidur Akibat


Gangguan Jiwa Lain
DSM-IV TR mendefinisikan gangguan
tidur yang berkaitan dengan gangguan
jiwa lainnya sebagai keluhan yang
disebabkan oleh gangguan jiwa yang
dapat didiagnosis tetapi cukup berat
unituk memperoleh perhatian klinis.

Insomnia akibat gangguan jiwa lain


(Aksis I Atau Aksis II)

Keluhan yang dominan adalah sulit untuk memulai atau mempertahankan


tidur, atau tidur yang tidak menyegarkan, untuk sedikitnya 1 bulan yang
disertai kelelahan disiang hari atau gangguan fungsi di siang hari
Gangguan tidur (gejala sisa di siang hari) menyebabkan penderitaan yang
secara klinis bermakna atau henidaya fungsi penting lain
Insomnia dianggap terkait dengan gangguan aksis i atau ii lain (contoh
gangguan depresi berat, gangguan ansietas menyeluruh, gangguan
penyesuaian dengan ansietas) tetapi cukup berat sehingga memerlukan
perhatian klinis khusus
Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur lain (contoh
narkolepsi, gangguan itidur terkait pernapasan, parasomnia)
Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis secara langsung suatu zat
(contoh: penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.

Hipersomnia akibat gangguan jiwa


lain (aksis I atau aksis II)

Keluhan yang dominan adalah rasa mengantuk yang berlebihan setidaknya


1 bulan seperti adanya episode tidur lama atau episode tidur siang yang
terjadi hampir setiap hari
Rasa mengantuk yang berlebihan menyebabkan penderitaan yang secara
klinis bermakna atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi
penting lain
Hipersomnia dianggap terkait dengan gangguan aksis i atau ii lain (contoh
gangguan depresi berat, gangguan distimik) tetapi cukup berat sehingga
memerlukan perhatian klinis tersendiri
Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur lain (contoh
narkolepsi, gangguan tidur terkait pernapasan, parasomnia) atau kurang
tidur
Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis secara langsung suatu zat
(contoh: penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum

Gangguan tidur lain


A. Gangguan tidur akibat keadaan
medis umum
Setiap gangguan tidur (cth: insomnia, hipersomnia, parasomnia,
atau kombinasi) dapat disebabkan oleh keadaan medis umum.
Hampir setiap keadaan medis yang disertai rasa nyeri atau tidak
nyaman (cth:arthritis atau angina) dapat menimbulkan insomnia.
Keadaan-keadaan ini mencakup neoplasma, lesi vaskuler, dan
keadaan degeneratif serta traumatic. Keadaan lain, terutama
penyakit endokrin dan metabolic. Terapinya adalah
penatalaksanaan keadaan medis yang mendasari.

b. Gangguan tidur yang


dicetuskan zat
Setiap gangguan tidur (cth: insomnia, hipersomnia,
parasomnia atau kombinasi) dapat disebabkan oleh suatu
zat. Menurut dms-iv-tr, klinisi juga harus merinci apakah
onset gangguan terjadi saat intoksikasi atau putus zat.
Somnolen yan berkaitan dengan toleransi atau putus zat
akibat stimulant system saraf pusat lazim terjadi pada orangorang dengan putus zat amfetamin, kokain, kafein, dan zat
terkait