P. 1
Klipping Log Book Gilut Kompentesi I

Klipping Log Book Gilut Kompentesi I

|Views: 623|Likes:
Dipublikasikan oleh ADeAndapanda
dedicated to my lovely boyfriend :) thanks for helping me lots!!

baru part I lhoooo :) hehehe

smangathoooo :)

if u want to donlod,, msg me yaaa :p
dedicated to my lovely boyfriend :) thanks for helping me lots!!

baru part I lhoooo :) hehehe

smangathoooo :)

if u want to donlod,, msg me yaaa :p

More info:

Published by: ADeAndapanda on Apr 17, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

1.

ANODONTIA
A. Definisi Adalah kelainan kongenital dimana semua gigi hilang disebakan tidak terdapatnya folikel gigi. Anodontia dapat terjadi hanya pada periode gigi tetap/permanen, walaupun semua gigi sulung terbentuk dalam jumlah yang lengkap. Sedangkan bila yang tidak terbentuk hanya beberapa gigi saja, keadaan tersebut disebut hypodontia atau oligodontia. B. Prevalensi Angka kejadian untuk Hypodontia adalah 15%, sementara untuk Oligodontia adalah 0,1-1%, sedangkan Anodontia sangat jarang terjadi. C. Gambar

D. Etiologi Penyebab dari Anodontia dan hypodontia kadang ditemukan sebagai bagian dari suatu sindroma, yaitu kelainan yang disertai dengan berbagai gejala yang timbul secara bersamaan, misalnya pada sindroma Ectodermal dysplasia, Rieger Syndrome, Incontinentia Pigmenti, dsb. Kelainan ini juga merupakan kelainan herediter yang diturunkan. Hypodontia dapat timbul pada seseorang tanpa ada riwayat kelainan pada generasi keluarga sebelumnya, tapi bisa juga merupakan kelainan yang diturunkan. E. Klasifikasi 1. Hipodontia adalah keadaan dimana pada rahang tidak tumbuh gigi kecuali gigi molar 3. Pada hypodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, insisif dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas. Kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya. 2. Oligodontia adalah keadaan dimana lebih dari 6 gigi tidak tumbuh

3. Anodontia adalah keadaan dimana semua gigi tidak tumbuh, dan lebih sering mengenai gigi-gigi tetap dibandingkan gigi-gigi sulung diklasifikan lagi menjadi : a. Anodontia total adalah keadaan dimana pada rahang tidak ada gigi susu maupun gigi tetap. b. Anodontia parsial adalah keadaan dimana pada rahang terdapat satu atau lebih gigi yang tidak tumbuh dan lebih sering terjadi pada gigi permanen daripada gigi susu.

F. Daftar Pustaka 1. http://ipj.quintessenz.de/index.php?doc=html&abstractID=21118&new_language =de 2. http://www.wrongdiagnosis.com/a/anodontia 3. http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/anodontia.pdf

2. IMPAKSI GIGI
A. Definisi Adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau terhambat sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal. Gangguan empsi pada umumnya terjadi pada fase pergantian dari gigi sulung menuju fase gigi permanen, sehingga gigi permanen tertentu tidak dapat meng alami erupsi. B. Prevalensi Umumnya gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior. Namun gigi anterior yang mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui. Gigi molar ketiga memiliki frekuensi tertinggi untuk mengalami impaksi. Gigi kaninus merupakan gigi kedua yang berfrekuensi tinggi untuk mengalami impaksi . Frekuensi terjadinya kaninus impaksi sebesar 0-2,8 persen. Ditinjau dari letaknya, 85 persen posisi gigi kaninus yang impaksi terletak dtdaerah palatal lengkung gigi, sedangkan 15 persen nya terletak di bagian labial atau bukal. Pada gigi posterior, yang sering mengalami impaksi adalah sebagai berikut : 1. Gigi molar tiga (4.8 dan 3.8) mandibula 2. Gigi molar tiga (1.8 dan 2.8) maksila 3. Gigi premolar (4.4, 4.5, 3.4, dan 3.5) mandibula 4. Gigi premolar (1.4, 1.5, 2.4 dan 2.5) maksila Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah sebagai berikut : 1. Gigi caninus maksila dan mandibula (1.3, 2.3, 3.3,dan 4.3) 2. Gigi incisivus maksila dan mandibula (1.1, 2.1, 3.1,dan 4.1)

C. Gambar

D. Etiologi Untuk mengetahui ada atau tidaknya kemungkinan suatu gigi mengalami impaksi atau tidak sangatlah penting mengetahui masa erupsi masing-masing gigi pada setiap lengkung rahang.Berikut ini masa erupsi gigi geligi pada masing-masing rahang. Gigi RA RB 1 7-8 6-7 2 8-9 7-8 3 11-12 9-10 4 10-11 10-12 5 10-12 11-12 6 6-7 6-7 7 12-13 11-13 8 17-21 17-21

Tabel Masa Erupsi Gigi Permanen Menurut Berger penyebab impaksi gigi antara lain: 1. Kausa Lokal Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah: a) Abnormalnya posisi gigi b) Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut c) Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut d) Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi e) Gigi desidui persistensi (tidak mau tanggal) f) Pencabutan prematur pada gigi g) Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi h) Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses i) Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-anak 2. Kausa Umur Faktor umur dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi walaupun tidak ada kausa lokal antara lain: a) Kausa prenatal

1) Keturunan 2) ³Miscegenation´ b) Kausa postnatal 1) Ricketsia 2) Anemi 3) Syphilis congenital 4) TBC 5) Gangguan kelenjar endokrin 6) Malnutrisi c) Kelainan pertumbuhan 1) Cleido cranial dysostosis 2) Oxycephali 3) Progeria 4) Achondroplasia 5) Celah langit-langit E. Klasifikasi Klasifikasi yang dicetuskan oleh George Winter ini cukup sederhana.Gigi impaksi digolongkan berdasarkan posisi gigi molar ketiga terhadap gigi molar kedua.Posisi-posisi meliputi 1. Vertical 2. Horizontal 3. Inverted 4. Mesioangular (miring ke mesial) 5. Distoangular (miring ke distal) 6. Bukoangular (miring ke bukal) 7. Linguoangular (miring ke lingual) 8. Posisi tidak biasa lainnya yang disebut unusual position F. Daftar Pustaka 1. Rery, Nurul Fadilah, dkk. 2010. Gigi Impaksi dalam Makalah Bedah Mulut. FK Unisiri. 2. Roesly, Arfiandri. 2009. Penatalaksanaan Impaksi Molar Tiga dalam Power Point Penatalaksanaan Impaksi Molar Tiga . Universitas Padjajaran. 3. http://drmarkmonson.com/wisdom.html 4. http://www.advancedoralsurg.com/wisdom_teeth.html

3. MALOKLUSI
A. Definisi Oklusi abnormal yang ditandai dengan tidak benarnya hubungan antar lengkung di setiap bidang spatial atau abnormal pada posisi gigi. Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada rahang atas (maksila) dan rahang bawah (mandibula) yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan kontak penuh dari gigi geligi kedua rahang. Maloklusi merupakan kelainan ketika gigi-geligi atas dan bawah bertemu ketika menggigit atau mengunyah. B. Prevalensi Maloklusi merupakan kelainan gigi yang menduduki urutan kedua setelah penyakit karies gigi. Penelitian Dewi (2008) meneybutkan bahwa prevalensi maloklusi pada 4 sekolah menengah umum telah mencapai 83%. C. Gambar

D. Etiologi Etiologi dari maloklusi dibedakan menjadi 2, yaitu : 1. Etiologi Primer a. Sistem Neuromuskular b. Tulang c. Gigi, meliputi : 1) Anomali jumlah gigi 2) Anomali ukuran gigi 3) Anomali bentuk gigi

4) Frenulum labii yang tidak normal 5) Terlambatnya erupsi gigi permanen 6) Karies gigi d. Jaringan Lunak (tidak termasuk otot) 2. Etiologi Sekunder a. Herediter b. Perkembangan abnormal yang tidak diketahui penyebabnya dan kelainan genetik c. Trauma E. Klasifikasi Menurut Edward Angle, Maloklusi diklasifikasikan menjadi: 1. Kelas I Disebut juga neutro oklusi (neutroklusi). Ditandai dengan tonjol mesiobukal molar pertama maksila terletak pada bukal groove dari molar pertama mandibula. 2. Kelas II Disebut juga disto oklusi (distoklusi, retrognathism, overjet). Ditandai dengan tonjol mesiobukal dari molar pertama maksila beroklusi pada ruangan antara tonjol mesiobukal dari molar pertama mandibula dan tepi distal dari tonjol bukal premolar kedua mandibula. Tonjol mesiobukal molar pertama maksila berada lebih kemesial dari posisi kelas I. Telah melewati puncak tonjol mesiobukal molar pertama mandibula. 3. Kelas III Disebut juga mesio oklusi (mesioklusi, prognathism, negative overjet). Ditandai dengan tonjol mesiobukal dari molar pertama maksila beroklusi pada ruangan inter dental, di antara bagian distal dari tonjol distal molar pertama mandibula dengan tepi mesial dari tonjol mesial molar kedua permanen mandibula. Tonjol mesiobukal molar pertama maksila lebih ke distal dari posisi kelas I. Telah melewati puncak tonjol distobukal molar pertama mandibula. Gigi molar pertama bawah lebih ke mesial.

(A), Normal occlusion; (B), Class I malocclusion; (C), Class II malocclusion; (D), Class III malocclusion

F. Komplikasi 1. Masalah psikososial yang disebabkan karena gangguan estetis wajah 2. Masalah dengan fungsi rongga mulut diataranya gangguan sendi

temporomandibular, gangguan pengunyahan, gangguan menelan dan berbicara 3. Trauma Gigi dan maksilofasial 4. Penyakit periodontal lain G. Daftar Pustaka 1. Aristy, Andradiani dan Dewi Naufiya SS. 2002. Maloklusi. Universitas Airlangga. Presentasi Referat. 2. Dewi, Oktavia. 2008. Analisis Hubungan Maloklusi dengan Kualitas Hidup Pada Remaja SMU Kota Medan Tahun 2007 . Universitas Sumatera Utara. Tesis. 3. http://drugster.info/ail/pathography/2054/

4. MICROGNATIA Dan MACROGNATIA
Micrognatia A. Definisi Adalah suatu keadaan dimana ukuran rahang yang lebih kecil dari normal dan bentuknya abnormal, dapat terjadi pada maksila atau mandibula. Mikrognatia umumnya dipakai untuk mandibula, hal ini disebut juga mandibular hypoplasia. Mikrognatia merupakan kelainan genetik yang jarang terjadi ditandai dengan rahang dan mulut yang kecil. B. Prevalensi Kasus ini jarang terjadi, kadang-kadang dapat dijumpai pasien micronagtia pada praktik dokter gigi yang sering diduga sebagai maloklusi II atau sebaliknya. C. Gambar

D. Etiologi Penyebab micrognathia dapat terjadi secara kongenital dan acquired (didapat). Micrognathia kongenital diduga berasal dari genetik disebabkan kelainan kromosom dan kerusakan genetik, dijumpai pada penderita sindroma Pierre Robin, Treacher Collins, cat cry, Down, Turner, progeria . Micrognathia acquired disebabkan trauma atau infeksi yang menimbulkan gangguan pada sendi rahang, dijumpai pada penderita ankilosis yang terjadi pada masa anak-anak. E. Klasifikasi 1. Micrognatia sejati (true micrognatia) Adalah keadaan dimana rahang cukup kecil yang terjadi akibat hipoplasia rahang. 2. Micrognatia palsu (false micrognatia) Adalah keadaan jika terlihat posisi salah satu rahang terletak lebih ke posterior atau hubungan abnormal maksila dan mandibula.

F. Komplikasi Penderita micrognatia biasanya mengalami masalah estetik, oklusi, pernapasan, dan pemberian makan pada bayi. G. Daftar Pustaka 1. Morokumo et all. 2010. Abnormal fetal movement, micrognathia and pulmonary hypoplasia: a case report. Abnormal fetal movement. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2931455/pdf/1471 -2393-1046.pdf 2. Thimmappa B., Hopkins E., et all. 2011. Management of Micrognathia. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1797165/pdf/1746 -160X-3-7 3. Susanti Ida. 2003. Mikronagsia. Universitas Sumatera Utara. Skripsi. 4. http://www.wrongdiagnosis.com/c/carpal_deformity_micrognathia_microstomia/i ntro.htm 5. http://www.dental--health.com/micrognathia_malocclusion.html 6. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003306.htm

Macrognatia A. Definisi Adalah suatu keadaan dimana mandibula dan regio protuberansia lebih besar daripada ukuran normal. Macronagtia mengalami gambaran klinis yaitu dagu berkembang lebih besar. Sebagian besar macrognatia tidak menyebabkan terjadinya maloklusi. B. Gambar

C. Etiologi Etiologi macronagtia berhubungan dengan perkembangan protuberantia yang berlebih yang dapat bersifat kongenital dan dapat pula bersifat dapatan melalui penyakit. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan macrongnatia adalah Gigantisme pituitary, paget¶s disease, dan akromegali. D. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2011. Palate cleft. http://www.scribd.com/doc/51653259/Presentation1 2. Anonim. 2010. Jaws Dissorders. http://www.scribd.com/doc/44674594/The-Developmental-Disturbences-of-Jaws 3. Chetan. 2010. What is macrognathia?. http://www.drchetan.com/tag/macrognathia 4. Lubowitz A. Macrognathia: Diagnosis, Treatment and cephalometric Appraisal. http://pinnacle.allenpress.com/doi/pdf/

5. LIP And PALATE DISSORDERS
Celah Bibir (Labioschisis) A. Definisi Adalah bibir yang becelah. Celah ini dapat inkomplit dan dapat komplit, bisa unilateral kiri atau kanan ataupun juga bilateral. B. Prevalensi Insidensinya bervariasi antar kelompok etnis sebagai berikut: American Indian (3.6:10,000), Asia (3:1000), dan Amerika Afrika (0.3:1000) Jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000 kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara pasti. C. Gambar

D. Etiologi Sumbing pada bibir umumnya terjadi pada minggu ke 6-7 intrauterin, sesuai dengan waktu perkembangan bibir normal dengan terjadinya kegagalan penetrasi dari sel mesodermal pada groove epitel diantara processus nasalis medialis dan processus nasalis lateralis. Etiologi dari penyakit ini juga berhubungan dengan: 1. Faktor keturunan 2. Trauma 3. Pengaruh obat-obatan 4. Radiasi 5. Defisiensi vitamin 6. Malnutrisi

E. Klasifikasi Klasifikasi Veau : a. Kelas I : Terdapat takik unilateral pada tepi merah bibir dan meluas sampai bibir. b. Kelas II : Bila takik pada merah bibir sudah meluas ke bibir, tetapi tidak mengenai dasar hidung. c. Kelas III : Sumbing unilateral pada merah bibir yang meluas melalui bibir ke dasar hidung. d. Kelas IV : Setiap sumbing bilateral pada bibir yang menunjukkan takik tak sempurna atau merupakan sumbing yang sempurna.

F. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2009. http://www.scribd.com/doc/45989304/La-Bios-Chis-Is. 2. M. Rathee, A. Hooda, A. Tamarkar & S. Yadav : Role of Feeding Plate in Cleft Palate: Case Report and Review of Literature. The Internet Journal of Otorhinolaryngology. 2010 Volume 12 Number 1. http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_otorhinolaryngology/volume _12_number_1_10/article/role-of-feeding-plate-in-cleft-palate-case-report-andreview-of-literature.html 3. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 1999. Standar Pelayanan Medis Kedokteran Gigi Indonesia. Jakarta : Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

Celah Palatum (Palatoschisis) A. Definisi Adalah sebuah kelainan yang ditandai dengan adanya celah pada palatum yang dapat mengenai palatum durum, palatum mole, atau keduanya. Palatoschisis ini merupakan anomali kongenital biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan yang disebabkan fusi yang tidak sempurna dari rangka palatum pad a sisi frontal dan lateral wajah. B. Prevalensi Di Indonesia, insidensinya cukup tinggi, yaitu 1 per 100 kelahiran untuk celah bibir dan kebanyakan pada pria, sedangkan untuk celah bibir dan palatum dijumpai 1 per 2500 kelahiran yang kebanyakan pada wanita. Prevalensi celah bibir dan palatum bervariasi antara kelompok rasial satu dengan yang lain. C. Gambar

D. Etiologi Celah palatum terjadi akibat gagal bersatunya prossesus palatinus kanan dan kiri. Etiologi terjadinya celah palatum ada 2 faktor: yaitu faktor herditer dan faktor lingkungan. Faktor Lingkungan meliputi: a. Radiasi (penggunaan sinar X yang berlebihan) b. Obat-obatan (terutama preparat steroid) c. Penyakit infeksi (misalnya campak dan influenza) d. Defisiensi vitamin A dan B e. Trauma

E. Klasifikasi Terdapat banyak klasifikasi untuk celah palatum, klasifikasi yang paling sederhana dilakukan oleh Veau yang membagi dalam empat grup, yaitu celah palatum lunak sampai ke uvula, celah palatum lunak dan keras di belakang foramen insisivum, celah palatum lunak dan keras yang mengenai alveolus dan bibir pada satu sisi, dan celah palatum lunak dan keras yang mengenai alveolus dan bibir pada kedua sisi. F. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2010. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22330/4/Chapter%20II.pdf 2. Valistina, Yulia. 2001. Perawatan Gigitan Terbalik pada Celah Bibir dan Palatum Masa Gigi Bercampur dengan Pesawat Lepas dan Pemakaian Chincap. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Skripsi. 3. http://nursingcrib.com/nursing-notes-reviewer/maternal-child-health/cleft-lip-andpalate/ 4. http://www.wrongdiagnosis.com/h/hay_wells_syndrome/book-diseases-7a.htm 5. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/cleftlipandpalate.html

6. DEBRIS

A. Defi i i Debri erupakan suatu akumulasi fragmen dari serpi an dentin yang berasal dari

dinding saluran akar. B. E i l i

Sisa makanan dalam rongga mulut yang tidak dibersi kan C. Gambar

D. Skor enilaian Debri

E. Daftar

staka
¡  

1. Nurhayani. 2004. Perbedaan umlah Debri yang Terdorong Keluar Apeks Gigi pada Preparasi Saluran Akar Teknik Step Back dan Crown Down Fakultas . Kedokteran Gigi ni ersitas Sumatera tara. Skripsi. 2. Tim engabdian Masyarakat Kedokteran Gigi Oensoed. 2010. Persiapan

Pengabdian Masyarakat. ni ersitas Jenderal Soedirman. enyuluhan.

7. PLAQUE
A. Definisi Adalah suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak diatas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. B. Komposisi Plak Ada tiga komposisi plak dental yaitu mikroorganisme, matriks interseluler yang terdiri dari komponen organik dan anorganik, serta protein. Plak terutama terdiri atas bakteri bercampur musin dan bahkan sisa-sisa makanan dan bahan-bahan lain yang melekat erat pada permukaan gigi di daerah yang tak mudah dibersihkan. C. Gambar

D. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2010. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16868/4/Chapter%20II.pdf 2. Panjaitan, Monang. 2000. Hambatan Natrium Florida dan Varnish Fluorida terhadap Pembentukan Asam Susu oleh Mikroorganisme Plak Gigi. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/13HambatanNatriumFluoridadanVarnishFluori da126.pdf/13HambatanNatriumFluoridadanVarnishFluorida126.html

8. CALCULUS
A. Definisi Cal ulus merupakan suatu endapan amorfatau kristal lunak yang terbentuk pada gigi atau protesa dan membentuk lapisan konsentris. Cal ulus disebut juga "tartar" merupakan endapan keras hasil mineralisasi plak gigi melekat erat mengelilingi mahkota dan akar gigi. Cal ulus adalah plak yang telah mengalami pengerasan, kalsifikasi atau remineralisasi. B. Gambar

C. Skor penilaian Cal ulus

D. Daftar ustaka 1. Lelyati, Sri. 1996. Kalkulus Hubungannya dengan enanganannya. http:// .kalbe.co.id/files/cdk/files/08KalkulusHubungannyadengan enyakitPerio enyakit eriodontal dan

dontal113.pdf/08KalkulusHubungannyadenganPenyakitPeriodontal113.html 2. Tim Pengabdian Masyarakat Kedokteran Gigi Oensoed. 2010. Persiapan Pengabdian Masyarakat. ni ersitas Jenderal Soedirman. Penyuluhan. 3. http:// .ncl.ac.uk/dental/oralbiol/oralenv/tutorials/calculus.htm

9. DENTAL DECAY
A. Definisi Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, bersifat kronik progresif, yang mengalami kalsifikasi yang ditandai oleh demineralisasi dari bagian inorganik dan destruksi dari substansi organik gigi. Karies gigi (cavitasi) adalah daerah yang membusuk di dalam gigi, yang terjadi akibat suatu proses yang secara bertahap melarutkan email dan terus berkembang ke bagian dalam gigi. B. Prevalensi Diperkirakan bahwan 90% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies. Prevalensi tertinggi terdapat d i Asia dan Amerika Latin, sementara prevalensi terendah terdapat di Afrika. C. Gambar

D. Etiologi Penyebab karies gigi adalah multifaktorial yang meliputi 1. Host : gigi dan saliva 2. Agent : Bakteria kariogenik (Laktobasilus, Streptococcus, Actinomises) 3. Environment : Substrat (Sukorsa) 4. Time (waktu) E. Jenis Karies Gigi 1. Karies Insipiens adalah karies yang terjadi pada permukaan enamel gigi (lapisan luar dan terkeras pada gigi), dan belum terasa sakit, hanya ada pewarnaan hitam atau coklat pada enamel. 2. Karies Superfisialis adalah karies yang sudah mencapai bagian dalam enamel dan kadang-kadang terasa sakit.

3. Karies Media adalah karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan pulpa, gigi biasanya terasa sakit apabila terkena rangsangan dingin, makanan masam dan manis. 4. Karies profunda adalah karies yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit waktu makan dan sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan. Pada tahap ini, apabila tidak dirawat, maka gigi akan mati dan memerlukan rawatan yang lebih kompleks. F. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2009. Karies Gigi http://www.wikipedia.org 2. Feng, Lynnus. 2009. Caries Dentis. http://www.emedicine.com 3. Mansjoer, Arief, dkk. 2001. Karies Dentis dalam Kapita Selekta. Media Aesculapius: Jakarta. 4. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 1999. Standar Pelayanan Medis Kedokteran Gigi Indonesia. Jakarta : Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 5. http://medicastore.com/penyakit/140/Karies_Gigi_Kavitasi.html

10. PULPITIS
A. Definisi Pulpitis adalah peradangan pada pulpa gigi yang menimbulkan rasa nyeri. Pulpitis adalah istilah umum untuk peradangan pulpa gigi , yang terdiri dari pembuluh darah dan jaringan saraf. Hal ini ditandai oleh kepekaan gigi yang muncul dari aliran darah berlebihan ( hyperemia ) ke gigi. Pulpitis terjadi ketika : 1. Karies berkembang dalam ke dentin 2. Sebuah gigi memerlukan beberapa prosedur invasif 3. Trauma mengganggu limfatik dan suplai darah ke pulpa B. Gambar

C. Etiologi Penyebab Pulpitis adalah sebagai berikut: 1. Kerusakan gigi yang telah menembus melalui lapisan enamel dan dentin gigi. 2. Trauma ke gigi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari menggiling, mengepal, dan / atau cedera pada gigi. 3. Thermal iritasi dari sejumlah prosedur gigi preformed pada gigi tertentu. 4. Pengembalian yang mengganti bagian besar struktur gigi alam. 5. Infeksi bakteri yang telah masuk ruang pulpa. 6. Infeksi dari abses gigi D. Patofisiologi Penyebab pulpitis yang paling sering adalah pembusukan gigi, penyebab kedua adalah cedera. Pulpa terbungkus dalam dinding yang keras sehingga tidak memiliki ruang yang cukup untuk membengkak ketika terjadi peradangan. Yang terjadi hanyalah peningkatan tekanan di dalam gigi. Peradangan yang ringan jika berhasil diatasi tidak akan menimbulkan kerusakan gigi yang permanen. Peradangan yang b erat bisa mematikan

pulpa. Meningkatnya tekanan di dalam gigi bisa mendorong pulpa melalui ujung akar, sehingga bisa melukai tulang rahang dan jaringan di sekitarnya. Pada pulpitis ireversibel terjadi radang pulpa akut akibat prose karies yang lama. Kerusakan jaringan pulpa mengakibatkan gangguan system mikro sirkulasi pulpa yang berakibat oedem, syaraf tertekan, dan menimbulkan nyeri yang hebat. E. Klasifikasi 1. Pulpitis reversibel Radang pulpa ringan sampai sedang akibat rangsang. Pulpitis awal dapat terjadi karena karies dalam, trauma, tumpatan resin komposit/ amalgam/ ionomer gelas. Gambaran mikroskopis ditandai oleh lapisan odontoblas rusak, vasodilatasi , oedem, sel radang kronis, kadang sel radang akut. Tergantung pada penyebab peradangan dan sejauh mana pemaparan pada pulpa, pulpitis dapat sembuh ketika penyebab pulpitis telah dihapus dan gigi diperbaiki. Obat-obatan tertentu dapat digunakan selama prosedur restoratif dalam upaya untuk mempertahankan gigi tetap vital (hidup). 2. Pulpitis Irreversibel Pulpitis ireversibel umumnya dicirikan oleh kepekaan yang berkepanjangan terhadap dingin dan atau panas, seperti missal pada saat untuk makan permen. Radang pulpa yang ringan (baru terjadi) atau yang berlangung lama, ditandai nyeri spontan terutama kena rangang dingin. Hal ini sering disertai dengan sakit terusmenerus, yang diperburuk oleh rangsangan ini. Pembengkakan mungkin terjadi pada pulpitis irreveribel. Kerusakan pada saraf membutuhkan terapi perawatan saluran akar. Ketika selesai, terapi perawatan saluran akar akan mengembalikan fungsi gigi yang normal dan mengurangi rasa sakit dari radang saraf. F. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2009. Dentalterm. Definition of Pulpitis http://dentistry.about.com/od/dentaltermsp/g/pulpitis.htm 2. Isnaniah Malik. 2008. Kesehatan Gigi dam Mulut. Bandung: Universitas Padjadjaran. 3. Ubertalli, James. 2008. The Merck. Pulpitis http://www.merck.com/mmhe/sec08/ch114/ch114c.html 4. Watson, Shawn. 2009. DentalGuide. A Guide To Pulpitis http://www.dentalguide.co.uk/patient_guide/pulpitis.html 5. Yayan A. Israr, 2009. Tutorial Penyakit Gigi dan Mulut. Http://yayanakhyar.wordpress.com

11. PERIODONTITIS
A. Definisi Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan periodontium. Periodontium adalah jaringan di sekitar perlekatan gigi yang mempunyai fungsi untuk mempertahankan dan menyokong gigi. Jaringan ini terdiri dari dentoginggival junction, cementum, periodontal ligament, dan alveolar bone. Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu alveolar bone juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal. Karekteristik periodontitis dapat dilihat dengan adanya inflamasi gingiva, pembentukan poket periodontal, kerusakan ligamen periodontal dan tulang alveolar sampai hilangnya sebagian atau seluruh gigi. B. Gambar

C. Etiologi Terutama disebabkan oleh mikroorganisme dan produk-produknya yaitu: plak supra dan sub gingiva. Faktor predisposisi atau faktor etiologi sekunder dari periodontitis dapat dihubungkan dengan adanya akumulasi, retensi dan maturasi dari plak, kalkulus yang terdapat pada gingiva tepi dan yang over kontur, impaksi makanan yang menyebabkan terjadinya kedalaman poket. Faktor sistemik juga dapat berpengaruh pada terjadinya periodontitis, meskipun tidak didahului oleh proses inflamasi. Tekanan oklusal yang berlebihan juga dapat memainkan peranan penting pada progresivitas penyakit

periodontitis dan terjadinya kerusakan tulang (contohnya: pada pemakaian alat ortodonsi dengan tekanan yang berlebihan). D. Klasifikasi 1. Periodontitis Kronis Dapat pula diartikan sebagai adult periodontitis, dimulai saat remaja, merupakan penyakit dengan progresifitas lambat dan mulai terlihat tanda-tanda klinisnya sekitar pertengahan usia 30 tahun dan berlanjut selama hidup. 2. Periodontitis Agresif Dikenal juga sebagai early onset periodontits, sering terdapat pada anak muda. Defisiensi imun dan faktor genetik merupakan penyebab terjadinya semua tipe periodontitis agresif. 3. Disease-related Periodontitis Periodontitis dapat juga berhubungan dengan peyakit-penyakit sistemik, seperti diabetes mellitus tipe 1, down syndrome, AIDS, kelainan leukosit yang berat. 4. Penyakit Acute Necrotizing Periodontal Merupakan penyakit akut pada gusi, ditandai dengan : jaringan mati (nekrosis), perdarahan spontan, nyeri dengan onset yang cepat, bau mulut tak sedap, gusi tumpul (normalnya berbentuk seperti corong). Stres, diet yang buruk, merokok, dan infeksi virus adalah faktor predisposisi terjadinya acute necrotizing periodontal. E. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2011. Periodontitis. http://www.scribd.com/doc/51809771/PERIODONTITIS 2. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG.2004.Biology 5th ed vol.3. Jakarta: Erlangga.P81-2. 3. Kinene,Denis F et al.2006.Environmental and The Modifying Factors of The Periodontal Disease. Periodonology 2000. vol 40. pp 107 -19

12. GINGIVITIS
A. Definisi Adalah peradangan pada gingiva (gusi). Proses peradangan terbatas pada jaringan epitel mukosa yang mengelilingi bagian cervical dentalis (leher gigi) dan prossesus alveolaris dentis. B. Gambar

C. Etiologi Penyebab paling utama dari radang gusi adalah akumulasi plak. Akumulasi plak berkaitan dengan bakteri yang jumlahnya meningkat. Hal ini terjadi karena sisa-sisa makanan yang tertinggal diantara sela-sela gigi atau di gusi. Jika dalam waktu 24 jam sisa makanan itu belum tersikat maka akan terbentuk plak. Hanya dalam beberapa hari plak yang tidak tersikat atau tidak terganggu sudah menimbulkan radang gusi tahap inisial. Ada tiga tahap radang gusi yaitu tahap inisial (2-4 hari), tahap lesi dini (4-7 hari) dan tahap lesi mantap (2-3 minggu). Pada tahap lesi mantap ini sudah terjadi kerusakan jaringan penyangga gigi. Selain itu Gingivitis dapat disebabkan oleh induksi obat, keadaan hormonal, dan kekurangan nutrisi dan penyakit infeksi yang lain. D. Klasifikasi Gingivitis diklasifikasikan berdasarkan 1. Gambaran klinis (ulseratif, hemoragis, nekrosis, dan purulensi) 2. Durasi (Akut dan Kronis) E. Daftar Pustaka 1. Anonim. 2007. Radang Gusi dan Terapinya. http://www.holisticcare-dentalclinic.com/artikel/radang_gusi.pdf 2. http://medicastore.com/penyakit/143/Gingivitis_radang_gusi.html 3. http://emedicine.medscape.com/article/763801-overview

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->