Anda di halaman 1dari 7

Ujian Tengah Semester Mata Kuliah

Biogeografi
Oleh:
Salim Arrokhman
1508100021

1. Kepulauan adalah topik yang menarik bagi ahli biologi karena kontribusinya dalam mencari
prinsip umum di bidang ekologi maupun evolusi. Pengetahuan yang lebih baik tentang
bagaimana ekosistem kepulauan berbeda dengan ekosistem benua dapat menentukan
komponen-komponen penting dalam ekosistem yang belum ditemukan sebelumnya (Loope,
1989). Model island biogeography oleh Mac Arthur – Wilson menunjukkan bahwa ketika
disuatu pulau telah terkolonisasi oleh spesies tertentu, spesies ini akan menggantikan spesies
lain yang telah punah, dengan kata lain ada turnover spesies. Teori island biogeography
menggabungkan pengaruh geografis terhadap keanekaragaman spesies dengan perubahan
spesies akibat tekanan karena terisolasi. Model keseimbangan menurut Mac Arthur – Wilson
yaitu jumlah spesies (hewan maupun tumbuhan) yang seimbang di suatu pulau dihasilkan
oleh adanya keseimbangan antara imigrasi spesies baru yang tidak terdapat dipulau tersebut
(datang dari pulau terdekat) dan kepunahan dari spesies yang sudah ada dipulau tersebut.
dengan kata lain keseimbangan antara jumlah input (kolonisasi spesies baru dari luar pulau)
dan output (kepunahan spesies asli pulau tersebut) (Huggett, 2004). Mac Arthur – Wilson
dalam Huggett (2004) membuat dua asumsi kunci dalam menjelaskan pengaruh rasio
imigrasi dan kepunahan terhadap jumlah spesies yang tinggal dipulau tersebut, yaitu

♠ Rasio imigrasi spesies menurun. Hal ini disebabkan karena rata-rata, dengan semakin
cepatnya spesies terdispersi, spesies yang terdispersi ini akan menstabilkan populasinya
terlebih dahulu, hal ini akan menyebabkan semakin menurunnya rasio imigrasi,
selanjutnya proses kolonisasi yang lambat juga akan memperlambat rasio imigrasi secara
umum, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1

1
♠ Rasio kepunahan spesies meningkat. Hal ini dikarenakan dengan semakin banyaknya
spesies yang ada di suatu pulau, maka semakin cepat pula spesies-spesies tersebut akan
punah. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 1

Gambar 1. Asumsi Mac Arthur – Wilson dalam menjelaskan hubungan antara imigrasi dengan
kepunahan pada suatu pulau. Sumber: Huggett, 2004

Menurut Simberloff (1976), ukuran pulau berpengaruh pada rasio kepunahan spesies-spesies
di pulau tersebut. Pada pulau yang lebih kecil, rasio kepunahan akan tinggi sebab pulau kecil
juga menyebabkan jumlah populasi tiap spesies juga kecil sehingga dapat menyebabkan
rasio kegagalan interbreeding dan kematian juga semakin besar, maka bisa dikatakan rasio
kepunahan juga akan semakin besar. Menurut Mac Arthur dan Wilson (1963) dalam Huggett
(2004), ada hubungan antara ukuran pulau dengan rasio kepunahan dan jarak antar pulau
dengan rasio kolonisasi, hubungan ini dapat digambarkan dalam gambar 2 berikut

2
Gambar 2. Hubungan antara ukuran pulau dengan rasio kepunahan dan jarak antar pulau dengan rasio
kolonisasi. Sumber: Huggett, 2004

Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin besarnya ukuran pulau
maka rasio kepunahan semakin kecil dan juga sebaliknya. Dan juga dengan semakin
dekatnya jarak antar pulau maka semakin cepat pula rasio kolonisasi dan juga sebaliknya.
Selain itu, luas pulau juga mempengaruhi jumlah spesies, semakin luas area pulau maka
semakin banyak pula jumlah spesies yang terdapat di pulau tersebut, seperti yang dijelaskan
dalam grafik berikut

Gambar 3. Grafik hubungan antara jumlah spesies dengan luas pulau, a. Spesies amfibi dan reptil, b.
Spesies burung. Sumber: Huggett, 2004

2. Kondisi di kepulauan yang berkaitan dengan persebaran flora maupun fauna adalah
terdapatnya barrier fisik berupa lautan. Oleh sebab itu semakin dekat jarak antara dua pulau
maka semakin tinggi pula frekuensi gene flow-nya sehingga organisme-organisme antar dua
pulau tersebut juga memiliki banyak kesamaan, sebaliknya dengan semakin jauhnya jarak

3
antar dua pulau maka frekuensi gene flow akan semakin jarang sehingga organisme-
organisme di kedua pulau tersebut semakin berlainan sifatnya. Meskipun begitu, ada kasus
dimana antara dua pulau dengan jarak yang sangat jauh namun masih memiliki kemiripan
spesies, khususnya flora. Seperti antara Tasmania dan Selandia Baru, kedua pulau tersebut
dipisahkan oleh barrier fisik berupa lautan yang berjarak 1500 km, namun kedua pulau ini
memiliki 200 spesies tumbuhan asli yang sama. Jika dikalkulasikan, 200 spesies flora ini
mewakili 15,2% dari keseluruhan flora di Tasmania dan mewakili 12,6% flora di Selandia
Baru (Queiroz, 2005). Selain itu terdapat banyak kasus persebaran organisme melalui laut
yang sangat luas, contohnya dapat dilihat pada gambar 4

Gambar 4. Contoh mencolok dari dispersal melalui lautan. Sumber : Queiroz, 2005

Terdapat 15 spesies contoh dispersal melalui lautan luas yaitu (a) Scaveola sp. (Angiosperm)
dari Australia ke Hawaii. (b) Lepidium sp. (Angiosperm) dari Amerika Utara dan Afrika ke
Australia. (c) Myosotis sp. (Angiosperm) dari Eurasia ke Selandia Baru kemudian ke
Amerika Selatan. (d) Tarentola sp. dari Afrika ke Kuba. (e) Maschalocephalus sp.
(Angiosperm) dari Amerika selatan ke Afrika. (f) kera (Platyrrhini) dari Afrika ke Amerika
Selatan. (g) Melastomataceae (Angiosperm) dari Amerika Selatan ke Afrika. (h) Gossypium
sp. (Angiosperm) dari Afrika ke Amerika Selatan. (i) bunglon dari Madagaskar ke Afrika.
(j) beberapa genus katak dari dan ke Madagaskar. (k) Acridocarpus sp. (Angiosperm) dari
Madagaskar ke New Caledonia. (l) Adansonia (Angiosperm) diantara Afrika dan Australia.
(m) 200 spesies tumbuhan diantara Tasmania dan Madagaskar. (n) beberapa spesies

4
tumbuhan diantara Australia dan Selandia Baru. (o) Nemuaron sp. (Angiosperm) dari
Australia (atau Antartika) ke New Caledonia (Queiroz, 2005).

Flora di kepulauan Hawaii merupakan contoh ideal dalam mendemonstrasikan fenomena


evolusi di kepulauan karena Kepulauan Hawaii memiliki keuntungan secara ekologis, isolasi
yang kuat, umur yang relatif tua (Carlquist, 1966). Berikut adalah perbandingan
karakteristik kepulauan Hawaii dengan kepulauan lain di dunia:

Tabel 1. Perbedaan karakteristik biogeografi dari Kepulauan Hawaii dengan kepulauan lain. Sumber: Loope, 1989

Dari tabel diatas maka dapat dikatakan bahwa kepulauan Hawaii, meskipun memiliki jarak
yang lebih jauh dengan benua terdekat dibandingkan dengan kepulauan lain dan memiliki
umur yang lebih muda dibandingkan kepulauan lain, namun Kepulauan Hawaii tetap
memiliki jumlah spesies Angiosperm endemik (31 jenis) dan prosentase spesies Angiosperm
endemik (91 – 96%) lebih banyak daripada pulau lain. Selain itu Kepulauan Hawaii juga
5
memiliki jumlah spesies Angiosperm native (970 – 1400) yang jauh lebih banyak
dibandingkan kepulauan lain. Maka dapat disimpulkan bahwa spesies flora di Kepulauan
Hawaii jauh lebih banyak dibandingkan kepulauan lain di dunia terutama spesies
endemiknya. Berikut merupakan tabel yang menunjukkan spesies-spesies yang terdapat
pada kepulauan Hawaii:

Tabel 2. Statistik untuk kelompok taxon yang berada di kepulauan Hawaii. Sumber: Loope, 1989

Berdasarkan tabel 2 maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik Flora di Kepulauan Hawaii
didominasi oleh spesies endemik yang jumlah spesiesnya tidak terpaut jauh dengan spesies
native, selain itu secara keseluruhan, kepulauan Hawaii memiliki jumlah spesies yang sangat
banyak dan variatif.

Menurut Queiroz (2005), meskipun pulau utama di kepulauan Hawaii sekarang hanya
berumur 5 juta tahun (Pulau Kauai), namun pulau-pulau yang sekarang telah tenggelam
memiliki umur sekitar 32 juta tahun, maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan biota yang
sekarang mendiami Pulau Kauai berasal dari dispersal jarak dekat dari pulau-pulau yang
lebih tua tersebut. Price dan Clague (2002) dalam Queiroz (2005) menggunakan model
geologi untuk menegaskan bahwa pada saat pembentukan pulau Kauai, kepulauan di Hawaii
6
merupakan sekumpulan pulau kecil dengan jarak antar pulau yang sangat jauh, sehingga
konfigurasi ini menyebabkan menurunnya kolonisasi di pulau-pulau tersebut, sehingga dapat
diprediksi bahwa spesies-spesies yang terdapat di Pulau Kauai sekarang berasal dari sumber
yang sangat jauh dan terkolonisasi setelah pembentukan Pulau Kauai. Survey tentang
divergensi molekuler menunjukkan bahwa 12 dari 15 radiasi (persebaran) berasal dari pulau-
pulau yang lebih muda dari Kauai, yang terdispersal dari jarak jauh.

Referensi:

Carlquist, S. 1966. The Biota Of Long – Distance Dispersal. III. Loss Of Dispersability In
Hawaiian Flora. Brittonia Vol.18: 310 – 335. Oct – Dec 1966

Huggett, R.J. 2004. Fundamentals Of Biogeography Second Edition. Routledge Taylor & Fracis
Group: London And New York

Loope, L.L and Dombois D.M. 1989. Biological Invasions: A Global Perspective. SCOPE:
Published by John Wiley & Sons Ltd.

Queiroz, A.D. 2005. The Resurrection Of Oceanic Dispersal In Historical Biogeography.


ELSEVIER: Trends In Ecology And Evolution, Vol.20 No.2 February 2005

Simberloff, D.S. and Abele, L.G. 1976. Island Biogeography Theory and Conservation Practice.
JSTOR: Science, New Series, Vol.191. No.4224. (Jan. 23, 1976), pp. 285 – 285