Anda di halaman 1dari 9

c  c 



   
  

 



Masalah sains dan agama hingga saat ini masih mengundang perhatian dikalangan saintis
dan agamawan. Hal ini tak lepas bagaimana mereka memandang kelahiran sains itu sendiri.
Pihak sains, khususnya yang sekuler, memandang bahwa kelahiran sains sepenuhnya lepas dari
agama. Sains murni lahir dari pemikiran rasional, bersifat obyektif, tidak ada doktrin agama yang
mengilhami permulaan penyelidikan mereka (baca: agama). Bahkan mereka menampik jika
agama adalah mengatur semua sendi kehidupan alam semesta. Baginya agama hanyalah sarana
yang mengatur hubungan moral ketuhanan/ filsafatlah dinilai sebagai sumber bagi ilmu-ilmu
yang lain.

Mengapa mereka mengatakan filsafat menjadi pioner bagi ilmu-ilmu yang lain? Alasannya
karena orang-oang filsafat dalam mencari kebenaran berangkat dari sikap penasaran akan
kebenaran. Sehingga dalam penelusurannya itu mereka bebas dari doktrin-doktrin tertentu.
Sedangkan agama, untuk mengimani sesuatu harus percaya dahulu, baru kebenaran itu diungkap.
Dengan kata lain, agama itu mengajarkan: imani baru buktikan!

Terlepas dari pemikiran kaum saintis, pihak agamawan mengklaim bahwa keberhasilan
sains yang meroket seperti sekarang ini tidak lain karena terinspirasi dari ajaran agama. Seperti
yang dikatakan oleh Maurice Bucaille, ³ semua itu mendorong diriku untuk bertanya-tanya; jika
pengarang Al-Qur¶an itu seorang manusia, mengapa pada abad ke-7 masehi, orang itu menulis
hal-hal yang terbukti cocok dengan sains modern (4   4  
   , p. 144).
Pandangan Bucaille ini menengahkan bahwa sains dan teknologi berawal dari ilham (ajaran)
agama.

Bagi orang islam semua kelahiran ilmu tak lepas dari agama. Agama menjadi sumber
inspirasi dan memotivasi untuk mencari ilmu, mengeksplorasi alam semesta. Al-Qur¶an
bukanlah kitab teori yang menyajikan secara detail mengenai keberadaan ciptaan Tuhan,
sebagaimana yang diungkapkan adlam salah satu ayat bahwa seandainya nikmat Tuhan itu ditulis
dengan air samudera dan daun yang ada takkan habis ditulis meskipun ditambah semisal lagi. Al-
ÿuran sumber inspirasi, ibaratnya bahan mentah dengan akal manusia bahan mentah bisa
dibentuk berbagai macam bentuk.

Inspirasi ajaran agama mengenai sains juga mendorong kaun terdahulu untuk menjelaskan
asal-usul alam semesta ini meskipun terkesan aneh dan berbau mistis seperti yang dikemukakan
oleh para filsuf islam, diantaranya Ibn Arabi, membentangkan pula proses kejadian ini dengan
menyatakan bahwa manifestasi dari Tuhan yang pertama adalah awan (      ) yang
juga digambarkannya sebagai nafas Tuhan yang berada di pangkuanNya sebelum dijadikan.
Awan ini belum nyata akan tetapi juga tidak ³tak ada´ perlu diingat bahwa terdapat suatu
keadaan di antara ³ada´ dengan ³tak ada´, yakni suasana dari kemungkinan untuk ada semesta.

Awan ini dianggap sebagai suatu asas yang pasif pada waktu tuhan menyelenggarakan
ciptaanNya, sedangkan Nur Ilahi yang memancar dari Tuhan adalah asas aktif. Karena adanya
persenyawaan antara asas pasif dengan asas aktif, terjadilah semua kenyataan yang tersebar di
dalam semesta alam. Betapa banyaknya jenis-jenis dari bentuk-bentuk yang tampak; semua itu
asalnya satu ialah dari zat yang satu itu.

Pancaran (emanasi) yang pertama ini disebut µintelek pertama´ (    ), sama
dengan ³pena´ (  ); juga      (hakikat yang terpuji). Kepadanya oleh
Tuhan dituangkan semua pengetahuan mengenai semua keadaan yang akan dijadikan; juga
nama-nama para malaikat yang akan membantu menyelesaikan ciptaan Allah.

Dari emanasi pertama tumbuh emanasi kedua: ini merupakan roh semata yang
digambarkan sebagai batu tulis yang mulia (      ). Di atas batu tulis ini ³pena´
atau ³intelek pertama´ tadi menuliskan semua yang diberitahukan kepadanya oleh Tuhan semua
yang tertulis ini adalah emanasi ketiga, yakni alam.

Semua ini terjadi di dalam suasana cahaya yang cemerlang, akan tetapi pada waktu
kejadian ini turun dalam beberapa tingkatan, maka semua kejadian itu bercampur dengan
kegelapan dari yang ³tak ada´, dengan demikian tercapailah berturut-turut ³benda semesta´
( 
 
) dan ³jasmani semesta´ ( 
 ) atau ³singgasana Tuhan´, yang
boleh dipandang sebagai sesuatau yang pertama terjadi di dalam dunia keadaan, kemudian 

, dan di dalamnya beberapa daerah: daerah bintang, daerah planet, daerah empat anasir,
aakhirnya daerah pelikan-pelikan, tumbuhhan, hewan, dan manusia.
Meskipun kelahiran sains para pemikir terdahulu berangkat dari ³sifat mengada-ada´ atau
berfilsafat akan tetapi itu semua merupakan sebagai ³batu loncatan´ untuk mengembangkan
pemikiran ilmuwan selanjutnya. Generasi ilmuwan beriukutnya merasa tertantang untuk
membuktikan ³pemikiran saintis terdahulu´. Meraka tidak ingin berfilsafat tetapi ingin
menemukan kebenaran (wujud nyata) dari filosof tadi. Dirancanglah berbagai macam alat untuk
menguji coba hipotesa-hipotesa yang telah dilontarkan. Dengan semangat yang menggebu untuk
mengngkap hipotesa maka lahirlah ilmuwan-ilmuwan yang religious seperti, Jabir al-Hayyan,
Al-Haytam, Al-Kwarismi dan masih banyak lagi.

Semangat melhirkan sains adalah effect dai agama-agama. Spirit agama dan sains seiring
sejalan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa agama menjadi sumber pengkerdilan sains juga
tak bisa ditampik. Sebaliknya, agamawan menuduh sains cenderung menyebabkan sifat ingkar
terhadap ajaran agama. Saling tuduh menuduh ini bisa dilihat sepanjang sejarah. Di kalangan
kristiani, kita mengenal Galileo yang telah menemukan teropong dan mengemukakan, bahwa
bumilah yang mengitari matahari, bukan sebaliknya. Pernyataan Galileo ini mendapat tantangan
keras dari kalangan gereja. Akibatnya, Galileo harus mencabut pernyataan dan dipenjara.

Perbedaan pandangan antara kaum agama dengan saintis, seperti yang dialami Halley dan
rohaniwan serta teolog pada abad pertengahan. Pihak gereja yakin bahwa komet adalah bola api
yang dilemparkan oleh Tuhan yang sedang marah kepada dunia yang jahat. Sedangkan Halley
meyakini bahwa komet adalah fenomena alam dengan menggunakan teori Keppler dan Newton,
Halley meramalkan bahwa komet tersebut akan terlihat lagi di titik tertentu di langit. Hal ini
terbukti meskipun Halley dan Newton telah wafat.

Kasus pertentangan sains dan agamawan juga terjadi di kalangan islam. Meskipun
sebelumnya kalangan islam sendiri pernah muncul ilmuwan-ilmuwan akan tetapi pada akhir-
akhir abad pertengahan ilmuwan islam cenderung menurun. Seperti pertentangan antara Ibnu
Rusyid dan Imam Ghazali. Al-Ghazali dalam bukunya 4   mengoreksi kerangka
berpikir para filsuf. Setidaknya ada dua puluh kerancuan,menurut Al-Ghazali, berpikir, yaitu:


  , penolakan terhadap keyakinan para filsuf terhadap eternitas (   ) alam.
  , penolakan terhadap keyakinan para filsuf terhadap keabadian (   ) alam.  ,
penolakan kaum filsuf yang tidak fair bahwa Allah adalah pencipta, dan bahwasannya alam
adalah produk ciptaannya. , ketidakmampuan para filsuf untuk mengafirmasi pencipta.
 , ketidakmampuan para filsuf untuk membuktikan ketidakmungkinan adanya dua tuhan
melalui suatu agumen rasional.  , penolakan terhadap sifat-sifat Tuhan. ! ,
penolakan terhadap teori filsuf bahwa dzat Tuhan tidak bisa dibagi dalam genus (! ) dan
deferensia ( ).   , penolakan terhadap teori para filsuf bahwa prinsip yang pertama
(4   
 
  ) adalah suatu sederhaa total ( !        ).  ,
ketidakmampuan para filsuf untuk menunjukkan bahwa prinsip yang pertama adalah bukan
benda.   , tesis bahwa para filsuf lazim untuk mengafirmasi para filsuf untuk
menyatukan adanya pencipta.

 , ketidakmampuan para filsuf untuk menyatakan bahwa prinsip yang pertama
mengetahui seseorang selain dirinya sendiri ( "   
 ).     , ketidakmampuan
para filsuf untuk menyatakan bahwa Dia mengetahui diri-Nya sendiri ( "    ).  
 , penolakan terhadap ajaran para filsuf bahwa prinsip yang pertama tidak mengetahui hal-
hal yang particular (! ).   , penolakan terhadap pandangan para filsuf bahwa
langit merupakan makhluk hidup yang gerakannya disengaja ( 
).    ,
penolakan terhadap ajaran teori para filsuf tentang tujuan gerakan langit.    ,
penolakan terhadap pandangan para filsuf bahwa jiwa-jiwa langit mengetahui hal-hal yang
particular. !  , penolakan terhadap keyakinan para filsuf akan kemustahilan terjadinya
hal-hal luar biasa (
 # ) misalnya, mukjizat.     , penolakan terhadap
keyakinan para filsuf yang menyatakan bahwa jiwa manusia adalah substansi yang eksis dengan
sendirinya, dan bukan benda bukan pula sustu aksiden (
). Kesembilan belas, penolakan
terhadap keyakinan para filsuf akan kemustahilan fananya jiwa-jiwa manusia.     ,
penolakan terhadap pengingkaran para filsuf akan kebangkitan tubuh-tubuh yang akan diikuti
perasaan senang, sakit yang dihasilkan oleh sebab-sebab fisik dan perasaan senang, sakit yang
dihasilkan oleh sebab-sebab fisik dari perasaan itu di surga dan neraka.

Rasistensi terhadap sains juga ditunjukka periode sesudah Al-Ghazali, Maryam Jameelah,
seorang yahudi Amerika yang masuk Islam, adalah juru bicara jemaat yang paling cakap tentang
masalah-masalah sains dan modernitas. Menurut pandangannya, sains modern adalah kejahatan
karena sifatnya yang tak mengenal Tuhan. Sains dan teknologi sepenuhnya bergantung pada
kumpulan ide-ide dan nilai-nilai yang dihargai oleh angota-anggotanya. Jika akar dari sebuah
pohon sudah busuk, maka pohonnya pun akan busuk karena itu buahnya juga busuk. Maryam
Jameelah merupakan penyuka romantisme sejarah, dia memandang bahwa masa lalu lebih baik
dari pada masa sekarang, modernitas tidak menghasilkan apa-apa pun kecuali kerusakan jiwa.
Bahkan dia menjustifikasi sikapnya secara ideologis dengan menyitir hadist yang berbunyi:
³Asiyah menceritkan bahwa Rosulullah SAW berkata: ³siapapun yang menambahkan suatu
inovasi baru ke dalam milik kita (Islam) yang bukan bagian darinya, dia akan dikutuk´ (HR.
Bukhori-Muslim).

Maulana Abu Ala Maududi, pendiri jemaat e-Islami mengomentari masalah sains dan
modernitas. Menurutnya, sedikit pemikiran tentang hakikat perilaku dan pendidikan modern
segera memperlihatkan pertentangan mereka dengan hakikat perilaku dan pendidikan islam.
Engkau mengajarkan filsafat ke dalam pikiran-pikiran pemuda. Filsafat yang mencoba untuk
menerangkan ala semesta tanpa Allah. Engkau ajarkan kepada mereka sains yang meniadakan
akal dan menjadi budak dari perasaan panca indera. Engkau ajarkan mereka ekonomi, hukum
dan sosiologi yang dalam ruh dan substansi-substansi, berbeda dari ajaran islam. Dan engkau
masih mengharapkan mereka untuk memiliki pandangan yang islami.

Sikap mereka sebetulnya bukanlah tanpa sebab. Karena kenyataan di lapangan memang
demikian faktanya, sains yang telah dikembangkan menjadi bomerang bagi kita sendiri.
Penacapain kemjuan teknologi cenderung digunakan untuk menakut-nakuti individu/ Negara
lain, memonopoli, mengeksploitasi alam yang digunakan untuk individu. Kemajuan teknologi
ternyata dinikmati segelintir orang dan yang lain menjadi korban. Mereka mengkritik masalah
inti dan dasar sains itu sendiri, yakni tujuan awal penemuan sains. Sains dan teknologi tidaklah
bebas nilai, tetapi terikat dengan nilai-nilai seperi agama, moral terdiri setempat.

Di sisi lain, melihat sikap dari kalangan pemikir islam yang seolah-olah mencela sains dan
teknologi, menyebabkan umat islam yang awam ikut-ikutan dengan sikap mereka, sehingga
akhir-akhir ini umat islam lebih tertarik mempelajari ilmu agama (dalam arti sempit)   ,
sedangkan untuk masalah-masalah ilmu sains mereka cenderung copy/paste dari ilmuwan Barat
bahkan menolaknya sama sekali. Sebetulnya yang menjadikan hilangnya nilai sains dari nilai
agama karena sikap apatis umat agama. Sikap umat beragama seolah-olah mendua, di satu sisi
mereka perlu sains, di sisi lain mencela. Sikap antara mencela dan memerlukannya ini tidak
diimbangi dengan usaha untuk membuktikan kebenaran Al-Qur¶an tentang sains. Yang terjadi
sekarang ini sikap yang cenderung Cuma mencocokkan sains dan agama, kita berangkat dari
sains ke agama bukan agama ke sains.

Adanya sikap umat islam yang agak sensitive terhadap perkembangan sains, baik yang
modern maupun yang klasik menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, apakah benar umat islam
telah melahirkan ilmu-ilmu sains? Kalaupun umat islam mengklaim bahwa islam (Al-Qur¶an)
sains juga terkandung di dalamnya, lalu bagaimanakah implementasi mereka dari ajarannya?
Apakah ada sains islam? Berbedakah dengan sains modern? Apakah parameter sains islam itu
sendiri?

Berangkat dari pernyataan itu, penulis ingin mengungkapkan pandangan dua pemikir islam
yakni, Perves Hoodbhy dan Ziauddin Sardar, tentunya, dari sudut pandang yang berbeda pula.

 

Adalah seorang fisikawan terkemuka dari Universitas Quaid-i-Azzam, Islamabad,


Pakistan. Lahir pada tahu 1950, serta memperoleh gelar B. Sc (tehnik Elektro), B. Sc
(matematika), M Sc (fisika benda padat) dan Ph. D (fisika Nuklir) dari MIT. Banyak
penghargaan yang beliau dapatkan dari organisasi di negaranya. Minatnya tidak sebatas pada
dunia fisika tetapi mengenai eksposisi popular mengenai sains, pendidikan dan masalah-masalah
sosial.

Dalam bukunya ³ Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas antara Sains dan Ortodoksi Islam´
=       $  %
 &    
 $  ), mengomentari masalah
sains dan islam. Pertama, apakah antara islam dan sains sejalan? Melihat perkembangan awal
sejarah Islam (khusus pada masa khlofah bani Umayyah maupun Abbasiyyah) tak dapat
disangkal bahwa sains benar-benar ada dalam umat islam. Ini berarti bahwa sains dan islam
mempunyai hubungan timbal balik. Islam memberikan spirit terhadap umat islam untuk
mendalami segala ilmu pengetahuan. Efeknya, seperti yang dilaporkan tim antropolog dari Mars
(begitu beliau menyebutnya), bahwa peradaban yang mempunyai masa depan cerah adalah
peradaban Islam dengan Bait al-Hikah, observatorium astronomi, rumah sakit dan Baghdad,
pusat intelektual dunia, tempat yang dituju para sarjana dari negeri-negeri yang jauh
menampakkan titik terang di muka bumi. Dalam pandangan orang Mars, Ibnu Haytsam dan
Omar Khayyam diakui sebagai pelopor ilmuwan modern, pembawa kecerdasan kosmik alam
semesta. Sebaliknya, Eropa, dengan paus-paus palsunya, tampak semakin mundur dan biadab,
tenggalam dalam kemuraman abad kegelapan.

Masalah kemajuan peradaban tidak bisa lepas dari ideologis dan penafsiran (sikap) dari
umat beragama. Abad kegemilangan sains dalam dunia islam juga dipengaruhi oleh ideology
yang berkembang pada saat itu. Abad tersebut disinyalir lebih didominasi ideology yang lebih
mengedepankan akal dibanding bersandar pada wahyu. Kebenaran mereka dalam mengambil
ilmu-ilmu di luar lingkungan mereka seperti ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani tidak membuat
mereka menjadi kafir atau perbuata mereka dikatakan bid¶ah.

Keberanian mereka ini menimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan. Meskipun mereka


menerjemahkan karya-karya banyak Yunani akan tetapi karya mereka melebihi orang-orang
yunani bahkan tidak sama sekali, seperti yang diungkapkan Baron Carra de Vaux penulis bab
³astronomi dan matematika´ dalam buku 4     %   bahwa mereka (orang Islam)
menciptakan aljabar dan ilmu pasti, mengembangkannya secara luas dan memberi landasan bagi
penemuan trigonometri sferis ( 
 4
 
) yang benar-benar tidak ada di kalangan
orang-orang Yunani. Dalam bidang astronomi mereka membuat sejumlah observasi yang
bernilai.

Kemajuan peradaban umat beragama tergantung keberanian dan sikap maupu ideologis.
Meskipun dalam kitab suci sudah berbicara panjang lebar mengenai sendi-sendi ilmu
pengetahuan tetapai jika mental kaum elit agamawan terlalu kolot maka akan menjadi stagnan
kitab suci tersebut alias semakin sempit makana dan keuniversalan sebagai µrahmatan lil
µalamin´

Mungkinkah ada sains islam? Menurut Perves, tidak ada sains islam tentang dunia fisik,
dan usaha untuk menciptakan sains islam merupakan pekerjaan yang sia-sia. Alasannya,
berdasarkan pada prinsip-prinsip agama, pertama, tidak ada sains islam, semua usaha yang
pernah dilakukan untuk menciptakan sains islam telah gagal. Menurutnya, sains islam tidak
mempengaruhi pada pembuatan mesin atau instrument sains, sintesis senyawa kimia atau obat-
obatan yang baru, rncana percobaan baru, atau penemuan hal-hal yang sampai sekarang belum
diketahui dengan fakta fisik yang dapat diuji. Malah sebalinya, para pelaku sains islam telah
menengahkan penelitian mereka kepada masalah-masalah yang terletak di luar wilayah sains
yang umum, misalnya, masalah-masalah yang tidak dapat dibuktikan seperti kecepatan surga,
temperature neraka, komposisi kimia jin, rumusan untuk mengukur derajat kemunafikan,
penjelasn tentang isro¶ mi¶roj berdasarkan teori relativitas ( sekarang sudah banyak yang
mengkaji antara isro¶ mi;roj dengan teori relativitas). Kedua, menjeaskan sekumpulan prinsip-
prinsip moral dan teologi²berapun tingginya² tidak memungkinkan seseorang menciptakan
sains baru dari permulaan. Ketiga, belum pernah ada, dan sampai kini masih belum, definisi
islam yang dapat diterima semua kaum muslim.


 



Dilahirkan di Pakistan dan bermukim di inggris. Seorang intelektual muslim yang sering
menyoroti masalah social yang berkaitan erat dengan kemajuan teknologi abad modern. Sardar
dan afkar (karyanya) yang pernah menjadi fenomena tersendiri dalam intelektualisme pada tahu
1980-an. Sardar dan koleganya melancarkan suatu gerakan yang memadukan sekaligus tradisi
intelektualisme dan aktivisme.

Mengenai masalah sains dan teknologi yang berkembang diberbagai belahan dunia. Sardar
memberikan koreksi bahwa sains sekarang ini menyimpang dari nilai filsafah keilmuwannya.
Sains dan teknologi dikonstruksi hanya untuk memenuhi ambisi individual dan cenderung
memojokkan pihak ketiga, dengan kata lain sains dan teknologi sekarang ini lebih bertindak
sebagai pemangsa daripada penolong peradaban umat.

Penyebab yang mengaibatkan sains dan teknologi bertindak sebagai µpemangsa´ karena
sains dan teknologi tidak dimasuki niai-nilai spritualitas religious. Tidak adanya ³roh agama´
dan bebas nialai mendorong sains dan teknologi digunakan secara serampangan sehingga
menyebabkan degradasi multidimensional. Alternatifnya, adalah measukkan nilai-nilai agama
sebagai motivasi penemuan sains dan teknologi, sehingga ada rasa tanggung jawab langsung
kepada Tuhan.

Apalagi agama diturunkan tidak sebatas sebagai wawasan keagaman, kesalehan pribadi,
keyakina-keyakinan dan ritual-ritual seperti yang dipahami kalangan modernis. Islam sebagai
agama yang mencangkup segala dimensi kehidupan dinilai tepat untuk ³menyetir´ tujuan sains
dan teknologi. Di siniah Islam diperlukan sebagai espitimologis, mengapa? Kerena epistemologis
menjadi vital karena ia merupakan operator mayor yang mentransformasikan visi pandangan
dunia ke dalam realitas. Epitemologis dan struktur social yang bersifat saling melengkapi satu
sama lain. Ketika kita menstruktur ilmu pengetahuan, secara tak sadar sebenarnya kita sedang
memanipulasi image masyarakat; ketika kita mengembangkan dan menegakkan struktur-struktur
social, politik, sains dan teknologi sebenarnya menggunakan konsepsi kita mengenai ilmu
pengetahuan sebagai pedoman . maka dari itu, mengapa konsep islam menganai ilmu
pengetahuan, ilmu, begitu sentral bagi perdaban islam. Untuk itu, ketika kita mau menciptakan
semata yang baru kita tidak bisa hanya mengacu pada satu disiplin keilmuwan saja, sebagai
seorang ilmuwamn hars memiliki kemampuan dan ketrampilan memproses dan mensintesiskan
ide dari berbagai keilmuwan, termasuk agama, sehingga epistemology tadi harus benar-benar
menciptakan peradaban yang adil, santun dan humanis.

Untuk itu, sardar menuliskan perlunya sains islam, tanpa sains islam, masyarakat muslim
hanya akan menjadi dari bagian peradaban barat. Sains yang beroperasi dalam struktur nilai
islam memiliki proposisi yang berbeda dibandingkan dengan sains sebagai mana yang
dipraktekkan sekarang ini. Sains modern tidak berkepentingan untuk mengejar kebenaran
objektif maupun gagasan platonic, tetapi hanya sebagai suatu system pemecahan masalah yang
bersifat paradigmatic.

Kita membutuhkan sains islam karena kaum muslim merupakan komunitas yang selalu
mewajibkan untuk ³amar ma¶ruf nahi munkar´, sekaligs untuk menunjukkan bahwa sains dapat
menjadi kekuatan positif di dalam masyarakat. Kita membutuhkan sains islam karena kebutuhan-
kebutuhan, prioritas-prioritas dan perhatian para masyarakat muslim yang berbeda dari apa yang
dimiliki oleh peradaban barat. Peradaban tidak akan sempurna tanpa memiliki suatu system
objektif untuk memecahkan masalah yang terkerangka sesuai dengan paradigmanya sendiri.

Sains islam agar berperanan dalam kehidupan masyarakat luas, tidak hanya digunakan
(diukur) masyarakat islam saja, sudah tentu sains-sains tersebut harus mempunyai parameter-
parameter yang bisa diterima secara universal. Sains islam harus didasarkan pada suatu karangka
nilai yang merupakan karakteristik-karakteristik dasar kebudayaan islam. Parameter tersebut
antara lain: tauhid, khilafah, ibadah, ilm, halal dan haram, adl, zulum, istishlah.