Anda di halaman 1dari 2

Biaya Pilkada Selangit, Hasilnya Jeblog Hajat demokrasi lokal berupa pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) kabupaten/kota

dan provinsi kini menimbulkan paradoks. Sebab dana yang dikeluarkan, baik dari kas daerah maupun calon bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Namun, hasil dari pelaksanaan pemilukada tetap saja tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pemilukada bertujuan untuk memilih kepala daerah yang nantinya dapat merealisasikan kebijakan pro rakyat. Namun yang terjadi saat ini, pemilukada dipandang hanya menguatkan ekonomi politik oligarkis. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang punya uang banyak atau dekat dengan orang-orang berduit yang mungkin terpilih. Akibatnya, aspirasi yang paling pertama didengar oleh pejabat hasil pemilukada adalah suara para pemilik modal atau penyandang dana kampanye. Sementara, kebijakan-kebijakan yang pro rakyat akan sangat sulit direalisasikan. Pilkada tidak menjamin dan sulit menghasilkan pemimpin yang berkualitas, karena sebagaimana poin pertama, orang yang sebenarnya berkualitas, hanya karena tidak memiliki mahar politik atau kendaraan politik, tidak bisa maju sebagai kandidat, bersaing dengan pasangan lain yang memiliki akses dana besar. Maka pemilukada tidak serta merta menghasilkan pemimpin yang betul-betul diinginkan oleh rakyat, karena hingga saat ini masyarakat hanya dipaksa untuk memilih paket pasangan yang sudah ada, yang sudah ditentukan oleh partai politik. Bahkan fenomena pencalonan artis pun muncul dalam pemilukada di beberapa daerah. Kerisauan banyak pihak terkait pelaksanaan pemilukada yang menyedot biaya cukup besar tapi dengan hasil yang jeblog ini menjadi isu panas akhir-akhir ini. Bahkan presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin terhadap pelaksanaan pemilukada di sejumlah daerah karena ongkos demokrasi yang terlampau mahal. Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita ini menjadi sesuatu yang amat mahal. Ini bukan jadi rahasia lagi kalau orang mencemaskan pemilukada saja biayanya sangat tinggi, ujar Presiden SBY. Hal itu diungkapkan Presiden, saat menerima Pengurus Pusat ICMI di Kantor Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu. Hal itu terjadi, lanjut SBY, pada pemilkada di segala tingkat mulai pemilihan bupati, wali kota dan gubernur. Bila keadaan tersebut terus berkembang, menurutnya bukan hanya berimbas pada mahalnya ongkos politik, tapi juga menyimpang dari hakikat bagaimana rakyat memilih pemimpin dengan cara-cara yang sepatutnya. Bagaimana rakyat pemilih pemimpinnya memilih siapa yang mewakilinya dengan cara-cara yang baik amanah dan bersih dan sebagainya. Ini menyangkut moral politik, ini menyangkut budaya politik dan menyangkut etika politik, jelas SBY. SBY berharap kondisi seperti itu tidak dilestarikan. Demokrasi dan politik bisa berkembang namun tetap amanah dan tercegah dari perilaku yang menyebabkan ongkos politik yang mahal. Kita memiliki kewajiban moral, untuk itu jangan sampai masa depan kita berada dalam wilayah yang salah, jangan sampai generasi mendatang mendapat warisan dari perilaku politik dan demokrasi yang sebenarnya yang tidak kita inginkan, kata SBY. Pernyataan presiden ini diamani oleh pengamat politik Dr Dede Mariana MA yang juga Dosen FISIP Universitas Padjadjaran Bandung. Tapi menurut Dede, mahalnya biaya pemilukada tidak terlepas dari proses politik untuk mendapatkan kendaraan partai politik atau dukungan persyaratan calon melalui jalur independen. Tahapan untuk ditetapkan sebagai calon dan persaingan dalam pemilukada dengan jumlah tahapan hingga ditetapkan pemenang dalam satu putaran atau harus melaluidua putaran. Semua ini membutuhkan dana yang cukup besar. Tetapi apapun alasannya, pemilu nasional maupun pemilu lokal tetaplah harus dipilih langsung sesuai semangat demokrasi. Masalahnya, kata Dede, yang perlu dipikirkan kini bagaimana sistem dibangun agar biaya besar ini bisa dieliminir sedemikian rupa. Hal lain yang perlu diperhatikan menyangkut transparansi sumber dana yang diperoleh calon. Harus diaudit independen terlebih dahulu, terutama menyangkut penggunaan alokasinya sehingga tidak menjadi masalah di awal. Karena persoalan ini bisa menjadi masalah lanjutan termasuk penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki ketika terpilih sehingga terjadi praktik korupsi saat menjalankan roda pemerintahan. Kalau hendak memangkas biaya pemilukada secara sistem bisa melalui perubahan perundang- undangan sehingga tidak terlalu panjang prosesnya dan calon yang diusung parpol betul-betul punya integritas, kredibilitas dan bukan menjadikan kekuasaan untuk lahan korupsi,kata Dede. Karena itu kos politik haruslah transparan dan bukan sarana korupsi atau pencucian uang. Sehingga, tambah Dede, pengawasan dan audit harus dilakukan. Pada sisi lain rakyat juga dituntut harus kritis dan tidak terbawa dalam alur money politics dalam menentukan pemimpinnya. Sehingga bisa menentukan siapa sesungguhnya pemimpin daerah yang bersih, yang memiliki integritas dan dapat membawa arus perubahan daerah ke arah yang lebih baik. Fenomena mahalnya pelaksanaan pemilukada juga mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2004-2009 Prof Dr Ramlan Surbakti. Menurutnya, biaya pemilukada mahal tidak bisa menjadi alasan untuk mengubah instrumen perundang-undangan agar kembali kepada pemilihan tidak langsung. Tetapi bagaimana secara sistem pemilukada dikelola efektif dan efisien. Pemilukada lokal dan nasional bisa dikaji dan dipertimbangkan untuk dicari solusinya agar ditemukan penurunan biaya pemilukada murah dan para calon tidak harus menyediakan dana yang terlalu besar sebagai dana politik untuk bisa diusung parpol maupun melalui jalur independen.

Secara sistem tahapan pilkada, prosedurnya harus lebih disederhanakan dengan memanfaatkan teknologi agar pemaparan program kandidat bisa diketahui dengan tepat oleh publik, kata Surbakti. Surbakti yang juga Dosen FISIP Unair melihat sistem pemilihan dengan elektronik sudah harus dipersiapkan, supaya anggaran negara lebih hemat dan para calon bisa mengawasi proses penghitungan suara. Hal itu juga bisa mengurangi sengketa. Menyinggung adanya wacana agar gubernur dipilih melalui DPRD, Surbakti tidak setuju. Sebab menurutnya, gubernur yang dipilih secara langsung haruslah ditempatkan satu sisi sebagai wakil dan perangkat pemerintah pusat di daerah. Dan di sisi lain menjadi kepala daerah provinsi yang mengelola dan memimpin kepala daerah di provinsi itu. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) GamawanFauzi mengaku heran, banyak orang yang ingin menjadi gubernur, bupati dan wali kota. Padahal, gaji resmi seorang kepala daerah hanya sekitar delapan juta rupiah per bulan. Ini mungkin perlu penelitian, mengapa banyak (orang) yang mau menjadi kepala daerah. Padahal, untuk maju ikut pilkada itu butuh dana hingga belasan bahkan puluhan miliar rupiah. Sementara gaji seorang kepala daerah itu tidak terlalu besar,ujar Mendagri kepada wartawan, di Gedung Kemendagri, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Mendagri diminta komentarnya soal pernyataan sejumlah pihak yang menilai biaya pelaksanaan pemilukada di Indonesia sangat mahal serta begitu banyaknya kepala daerah yang diduga tersangkut kasus korupsi. Mendagri menjelaskan, untuk maju menjadi calon bupati dan wali kota diperlukan dana setidaknya sekitar 20 miliar rupiah. Sementara seoran g ca lon gu bernur, diperkirakan perlu dana minimal 50 miliar rupiah yang sebagian besar dihabiskan untuk dana kampanye pemilukada. Mendagri mencontohkan, sewaktu menjabat BupatiSolok, memperoleh gaji sekitar 6,2 juta rupiah per bulan. Sementara saat menjabat Gubernur Sumatera Barat, gaji yang diperolehnyakira- kira 8,7 juta rupiah per bulan. Taruhlah kalau sudah diterapkan sistem single salary(gaji tunggal tanpa honor-Red), seorang kepala daerah gajinya 10 juta rupiah per bulan. Kalau setahun artinya dia mendapatkan 120 juta rupiah dan selama lima tahun menjabat, total dia mendapatkan gaji 600 juta rupiah. Jumlah ini masih terlalu kecil dengan dana kampanye pemilukada yangharus dia keluarkan hingga belasan bahkan puluhan miliar rupiah. Tapi, mengapa kok masih banyak orang yang mau ikut maju dalam pemilukada, katanya lagi. Namun, Mendagri sendiri tidak menjelaskan berapa banyak dana yang dihabiskannya untuk ikut pemilukada Bupati Solok dan Gubernur Sumbar. Melihat kenyataan inilah, menurut Mendagri, kemudian muncul tudingandi masyarakat, seorang kepala daerah yang telah terpilih dengan berbagai macam cara - termasuk melakukan praktik korupsi - berupaya mengembalikan dana yang telah dikeluarkannya sewaktu ikut pemilukada. Hingga saat ini, Presiden sudah menandatangani surat izin pemeriksaan untuk sekitar 130 kepala daerah. Itu jumlah yang sangat besar,ujar GamawanFauzi. Hampir seluruhnya, kata Mendagri, izin pemeriksaan itu diajukan untuk kasus korupsi. Patut dicurigai, kepala daerah itu terlibat praktik korupsi karena biaya pilkada yang tinggi sementara gaji resmi yang didapatnya tidak mungkin untuk menutupi biaya pengeluaran semasa ikut pilkada, tuturnya lagi. Dalam kesempatan itu, Mendagri juga menjelaskan, sebanyak 244 kepala daerah (gubernur, bupati dan wali kota) yang terpilih dalam pilkada 2010 akan diwajibkan untuk mengikuti semacam pelatihan atau orientasi mengenai penyelenggaraan pemerintahan. Kegiatan ini berlangsung karena tidak semua kepala daerah yang terpilih memiliki latar belakang pengetahuan dan pen galam an di bidan g penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kepala daerah yangterpilih itu meskipun dulunya orang populer atau tokoh terkenal, tapi belum tentu punya pengalaman dibidang pemerintahan. Karena itu, mereka perlu diberi pengetahuan dan pemahaman dibidang pemerintahan daerah. Kegiatannya berlangsung di Jakarta dan sepenuhnya dibiayai APBN, tuturnya. Dalam catatanMedikom, pada tahun ini pemerintah akan melaksanakan pemilukada di 244 daerahdi Indonesia,meliputi tujuh pemilihan gubernur, 35 pemilihan wali kota, dan 202 pemilihan bupati. Biaya penyelenggaraan pemilihan kepala daerah 2010 sebagaimana diungkapkan oleh Timbul Pudjianto, Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, kepada wartawan beberapa waktu lalu adalah mencapai Rp. 3,54 triliun. Biaya ini jauh lebih besar daripada pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun lalu yang berkisar diangka Rp. 2 triliun. *** Sumber :

http://www.scribd.com/doc/34863025/edisi-379