Anda di halaman 1dari 2

Softwar e Wir o Sableng Gelembungkan Suar a Atut-Rano

Rabu, 26 Oktober 2011 | 17:50 WIB Besar Kecil Normal

Seorang warga mengambil surat hak suaranya pada pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur Banten 2011 di tempat pemilihan suara (TPS) 3 kampung Marengo, Baduy luar, Banten, Sabtu (22/10). Di TPS Marengo penilaian suara di menagkan pasangan Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno. TEMPO/Aditia Noviansyah

Berita terkait
KPU Banten Siap Ladeni Gugatan Hukum Kubu Ratu Atut Siap Hadapi Gugatan Panwas Terima Banyak Laporan Pelanggaran Pilkada Banten Pemilihan Gubernur Banten Terancam Diulang KPU Mentawai Sahkan Kemenangan Yudas-Rijel

TEM PO Interaktif, Tangerang - Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang menemukan kejanggalan dalam penghitungan suara pemilihan kepala daerah Provinsi Banten di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Temuan itu, menurut Ketua KPU Kota Tangerang Safril Elain, berupa penggelembungan suara secara sistematis akibat perangkat lunak (software) penghitungan suara. "Jadi software bekas Pilkada Tangsel direkomendasikan KPU Provinsi Banten untuk digunakan dalam Pilkada Gubernur 2011," kata Safril Rabu, 26 Oktober 2011.

Syafril mengatakan, ketika PPK menghitung suara dari seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan perangkat lunak di komputer tersebut, hasil jumlah suara untuk pasangan calon nomor 1, Ratu Atut-Rano Karno tiba-tiba saja bertambah angka Wiro Sableng, yakni 212 suara. Sementara pasangan calon nomor urut lainnya tetap.

Tiap jumlahnya ditambah, pasti hasilnya ada penambahan 212 suara. Misalnya jumlah suara pasangan nomor urut 1 adalah 100 dari Kelurahan A dan 100 di Kelurahan B, ketika dijumlah tiba-tiba hasilnya menjadi 312, bukan 200, kata Safril.

Ia menduga, hal tersebut disebabkan oleh program aplikasi yang digunakan untuk penghitungan suara. Program aplikasi tersebut merupakan program yang digunakan untuk Pilkada Tangerang Selatan beberapa waktu lalu. Program itu direkomendasikan KPUD Provinsi Banten untuk Pilkada Gubernur Banten 2011. Menurutnya, jika program ini digunakan, maka akan terjadi penambahan angka di luar perolehan suara untuk pasangan nomor urut satu Ratu Atut-Rano Karno. Kalau di Kota Tangerang ada 13 PPK, berarti jika tiap PPK bertambah 212 maka jumlah suara pasangan nomor urut 1 akan bertambah sebanyak 2.756, kata Safril. Atas temuan itu Syafril pun menyarankan kepada seluruh PPK di Kota Tangerang untuk tidak menggunakan metode program aplikasi yang diharuskan dari KPU Priovinsi Banten. "Kami akan menggunakan format lain dalam penghitungan dan pengerjaan, seperti menggunakan komputer lain dengan sistem yang berbeda," kata Safril. Namun, bagi PPK yang lain terlanjur sudah menggunakan dan masuk untuk dicek ulang dengan menghitung lagi dari form C1, kemudian bandingkan dengan hasil rapat pleno. Pihaknya juga akan melaporkan temuan ini ke KPU Provinsi Banten, jika semua urusan penghitungan suara di PPK dan KPU Kota Tangerang telah selesai. Apabila ditemukan jumlah yang berbeda antara program yang didatangkan dari Tangsel, maka PPK harus mengundang 3 saksi dan panwascam untuk mengesahkan jumlah suara," kata Safril. Temuan shofwere dimaksud Safril ternyata sehari sebelumnya sudah dilaporkan oleh tim Wahidin Halim- Irna Narulita ke Panwas Provinsi Banten dan cyber crime Polda Metro Jaya. "Sudah kami laporkan karena berakibat buruk bagi perolihan suara nomor dua dan sistem itu tidak bisa disetop, sebab faktanya setiap PPK suara nomor urut satu menggelembung bertambah 212." kata Indra Abidin, salah satu tim pemenangan Wahidin-Irna.