Anda di halaman 1dari 39

Garam_Dunia : Message: Sejarah Gereja Mula - mula (Ortodox) Sejak Abad Pertama :

Zaman Rasul-rasul SampYahoo!My


Yahoo!Mail Make Y! your home pageYahoo! SearchSearch:Welcome, idris_h4
[Sign Out, My Account]Groups Home -Blog -Help

Start a Group | My Groups

Garam_Dunia Home
Messages
Members Only
Post
Files
Photos
Yahoo! Groups Tips
Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.
Best of Y! Groups
Check them out and nominate your group.

Already receiving group email?


Messages Messages Help
Message # Search: Advanced
Sejarah Gereja Mula - mula (Ortodox) Sejak Abad Pertama : Zaman Rasu
Message List

Reply | Forward Message #67 of 70 < Prev | Next >

Sejarah Gereja Mula - mula (Ortodox) Sejak Abad Pertama : Zaman


Rasul-rasul Sampai Kini

A. Zaman Purba

Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama : dari Yesus Kristus s/d
Konstantinus Agung

Abad 1 s/d Awal Abad 4:

Gereja mulai muncul diatas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan
Allah dari sorga, sebagai Kalimatullah ( Firman Allah ) yang
menjelma menjadi manusia ( Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih
kurang tiga setengah tahun Beliau mengajar dan berkarya, dan
berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban, kematian, penguburan,
kebangkitanNya secara jasmani dari antara orang mati, serta
kenaikanNya ke sorga. Peristiwa sengsara s/d kebangkitan ini
akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid setiaNya
yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peritiwa
turunNya Roh Kudus yang dijanjikan Almasih atas mereka, pada hari
Pentakosta ( Kisah 2). Dan kesengsaraan s/d kebangkitan Sang Kristus
itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan.Karena
Kristus tak pernah menulis Kitab ataupun menerima Kitab dari sorga,
maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya ini,
karena Dia sendiri adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma
Rasuliah secara lisan itu mula-mula disebarkan hanya disekitar
daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas
yang baru, yang disebut sebagai : Ekklesia, yang dari sinilah timbul
kata Gereja ( berasal dari bahasa Portugis Igreja, sepadan dengan
kata Spanyol : Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu).
Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem
dan seluruh Palestina, kemudian ke seluruh Siria, dan Asia Kecil (
kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di
Alexandria (Mesir) dan Karthago ( Libia). Inilah batas sebelah barat
dunia Timur pada saat itu. Sedangkan ke Timur lagi Injil tersebar ke
Edesa, Mesopotamia ( Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria
Timur, karena yang menerima Injil di daerah timur ini adalah suku-
suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan. Sedangkan ke
Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali,
Spanyol, dan yang nantinya akan berkembang ke seluruh Eropa.

Dengan demikian kita melihat Injil tersebar dari Timur ke Barat dan
di seluruh benua: Asia, Afrika dan Eropa. Memang Iman Kristen itu
pada dasarnya adalah Agama Timur ( Timur Tengah). Pada saat inilah
dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru
mulai dituliskan oleh para rasul sebagai pemimpin Gereja itu kepada
Gereja-Gereja ( Roma. Korintus, Galatia, Efesus, dll.) dan para
pemimpin Gereja sebagai murid mereka secara langsung ( Titus,
Timotius, Filemon, dll) yang telah mereka dirikan dan mereka pilih
itu. Gereja ( Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci (
Perjanjian Baru) dipakemkan. Pada saat ini orang-orang non-Yahudi
mulai diterima sebagai anggota ummat Allah, setelah penyelesaian
masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis
mengenai kedudukan Taurat, dalam Rapat Agiung (Konsili) para Rasul
yang pertama di Yerusalem (Kisah 15). Konsili segenap Gereja inilah
yang menjadi landasan adanya Konsili-Konsili di sepanjang sejarah
Gereja itu. Orang-orang yang berobat itu hanya perlu beriman kepada
Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti ritus-
ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang
dipimpin/ digembalakan oleh para "Presbyter" ("Penatua")
dan "Episkop ("Penilik Jemaat") �Kisah 20:17,28 -, yang mereka ini
menerima pentahbisan dari para Rasul sendiri ( Kisah 14:23), sebagai
mata-rantai pelanjut-ganti pelayanan rasuliah.

Para Rasul sendiri tidak menjadi "Gembala" ( "Episkop/Presbyter")


secara lokal dari Gereja lokal tertentu secara permanen dimanapun.
Masing-masing kelompok ekklesia itu memiliki ciri khasnya dan
masalah-masalahnya sendiri, sebagaimana yang dapat kita baca dalam
Perjanjian Baru. Namun seluruh ekklesia diapnggil untuk memegang
doktrin yang sama dan melaksanakan akhlak hidup dan ibadah yang sama
pula. Pada zaman awal ini Gereja harus menghadapi ajaran sesat pen-
Taurat-an Injil yang segera dapat diselesaikan, serta pe-mythologi-
an Injil dalam wujud aliran "gnostikisme" yang hendak mencampur-
adukkan Injil dengan ajaran kafir Yunani-Romawi. Dengan keras para
Rasul harus melawan ini sebagaimana yang kita lihat dari tulisan-
tulisan Rasul Yohanes dan Rasul Paulus. Dengan kematian para rasul
semuanya menjadi martyr (syuhada), kecuali Rasul Yohanes yang
meninggal karena umur tua, Gereja berlanjut dipimpin oleh para murid
rasul itu.

Penganiayaan yang sudah dimulai oleh Nero pada zaman Rasul Paulus
dan Petrus berlanjut sampai abad kedua. Saat ini Iman Kristen
dianggap "Agama Tidak Sah " ("Religio Illicita") di seluruh
Kekaisaran Roma. Mereka adalah penjahat dimata pemerintah
Roma,karena menolak menyembah kaisar sebagai "tuhan" dan "ilah".
Sedangkan orang Kristen yang berada disebelah timur Mesopotamia
yaitu dibawah Kerajaan Agung Persia, juga mengalami aniaya karena
cemburu dari para pendeta agama Zoroaster, agama resmi negera
Persia. Orang Kristen di Kekaisaran Roma dituduh" memberontak
terhadap negera, pembunuh bayi-bayi dan memakan daging dan minum
darah mereka (" Makan dan Minum Daging dan Darah Anak Manusia").
Penganiayaan ini bersifat sporadis, mereka tak perlu dikejar-kejar
namun jika ketahuan mereka harus dihukum.

Diantara para pemimpin yang menderita dari aniaya abad ini adalah :
Ignatius dari Antiokia, pengganti ketiga dari Rasul Petrus di
Antiokia, Syria, sebagai Episkop ( 110 Masehi), Polykarpus, Episkop
dari Smyrna, yang adalah murid Rasul Yohanes ( 156 Masehi) dan
Yustinus Martyr (Syuhada). Yustinus Martyr ini memiliki seorang
murid dari Syria bernama Tatianus. Dia pulang ke Syria setelah
kematian Yustinus dan menterjemahkan Injil dari bahasa asli Yunani
ke bahasa Syria, dalam bentuk yang diurutkan sesuai dengan urutan
cerita, bukan empat bentuk terpisah seperti yang kita kita kenal,
dan terjemahan ini terkenal sebagai "Diatessaron" , dan inilah Injil
yang digunakan oleh Gereja Syria untuk waktu yang lama sampai
akhirnya diganti dengan keempat Injil seperti seluruh Gereja
lainnya, dalam bentuk terjemahan "Peshitta", yang menjadi Kitab Suci
Gereja Syria sampai sekarang.

Disamping itu Gereja Syria menggunakan Perjanjian Lama bukan dari


terjemahan Ibrani atau Septuaginta, namun dari Targum Aramia dari
Perjanjian Lama yang berlaku di Babilonia. Ajaran Tatianus ini
dipengaruhi oleh aliran gnostik "enkraitisme" yang menekankan
pelajangan, dan asketisisme. Para pemimpin Kristen awal ini
meninggalkan tulisan-tulisan yang bersama dengan "Didakhee", "Surat
Kepada Diognetus", "Surat-Surat Klemen dari Roma" , "Surat Barnabas"
(bukan Injil Palsu Barnabas yang dipromosikan Islam!!!), "Gembala
Hermas" , serta tulisan-tulisan pembelaan iman (apologetik) dari
Athenagoras dari Athena, Melito dari Sardis, serta Theofilus dari
Antiokia serta dari theoloog yang terbesar dari abad kedua Ireneus
dari Lyons, semuanya tadi memberikan gambaran yang jelas sekali
mengenai iman dan kehidupan dari Gereja Perjanjian Baru yang
berlanjut sampai abad kedua itu.

Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini adalah


munculnya para pembela iman ( "apologist" ), yang membela Iman
Kristen dari serangan Agama Yahudi, Agama Kafir Berhala, serta
Bidat-
bidat yang muncul di sekitar Gereja. Juga berkembangnya Aqidah
(Doktrin) Gereja serta permulaan Theologia sesudah zaman Rasuliah,
ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal
yang dipimpin oleh Episkop ("Penilik Jemaat" ), Presbyter
("Penatua") dan Diakon. Zaman ini pula fondasi pertama dari Ibadah
dan Liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang
berlandaskan dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari
Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya pembentukan Kitab Suci
dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi.

Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan
palsu mengenai Kristus bermunculan. Tulisan-tulisan ini disebut
tulisan-tulisan `apokrifa" ( jangan dikacaukan
dengan "Anaginoskomena' dari Perjanjian Lama!!) serta tulisan-
tulisan "pseudopigrafa" . Biasanya tulisan-tulisan memakai nama
salah seorang rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai
masa kecil Yesus Kristus, kehidupan Perawan Maryam dan kegiatan-
kegiatan karya para rasul. Dan sebagaian daripadanya menjadi kisah
dalam Al-Qur'an terutama tentang masa kecil Kristus. Bersama dengan
itu, muncul pula aliran "gnostikisme" , yaitu suatu bidat Kristen
yang mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan.

Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu
menyebut ajaran asli yang rasuliah itu sebagai ajaran ("doxa")
yang "lurus" ("orthos") , Ortho+ doxa = Orthodox.

Sedangkan ajaran "gnostik" itu sebagai ajaran ("doxa") yang berbeda


atau menyimpang ("heteros"), hetero+ doxa = Heterodox. Akibat dari
melawan ajaran gnostik inilah munculnya theologia dari
para "apologis" ("pembela-iman"). Jauh di sebelah timur di dearah
Syria, Bardaisan adalah penulis yang terkenal mengenai masalah
theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrology dan
mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah
adalah satu yaitu Bapa, Roh Kudus adalah berjenis wanita
sebagai "Bunda Kehidupan", dan Anak Allah adalah keturunan dari Bapa
dan Roh Kudus, Sang Bunda Kehidupan.Sehingga akhirnya Bardaisan dari
Syria inipun dikucilkan dari Gereja.

Akibat dari ajaran Gnostik ini pada para apologis adalah penekanan "
mata-rantai rasuliah" ("suksesi apostolik", "silislah rasuliah")
sebagai penjamin ajaran yang benar dan tak terputus dari para rasul,
yang diterus-sampaikan secara tak terputus dari gereja kepada
gereja, dari generasi kepada generasi, dari tempat ke tempat, dan
penerus-sampaian tanpa putus dari zaman rasuliah ini disebut
sebagai "Paradosis" atau "Traditio".

Dan penyampaiannya itu dilakukan melalui pentahbisan dari para


Episkop yang dapat dilacak dari mata rantai pentahbisan sejak zaman
rasul-rasul. Dan para Episkop ini pengajaran dan prakteknya itu
identik antara satu dengan yang lain, dan secara bersama ajaran
mereka itu identik dengan ajaran para rasul Yesus Kristus sendiri.
Sebagai akibat yang lain, Gereja mulai kokoh dalam keputusannya
tulisan-tulisan mana yang menjadi bagian kanon Kitab Suci
berdasarkan :

1.tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul.


2. harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka
3. harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan
sebagai paradosis dalam Gereja
4.harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal
5. harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik.

Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan


rasuliah purba itu 27 kitab yang akhirnya kita kenal sebagai "Kitab
Suci Perjanjian Baru" itu. Dan Kitan Suci Perjanjian Baru inilah
yang berisi "Berita Gembira" ("Evanggelion", "Evanggel", "Injil")
tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia itu. Karena
memang Injil itu pada mulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun
namun peristiwa dan karya Almasih yang diberitakan secara lisan oleh
para muridNya yang diberi gelar sebagai "apostolos" ("orang yang
diutus" atau "rasul") itu.

Dalam tulisan-tulisan para apologis, para martyr (syuhada) dan para


kudus dari abad kedua ini kita ketahui bahwa masing-masing jemaat
Kristen lokal itu dipimpin oleh seorang Episkop/Uskup ( Penilik
Jemaat) yang dilaksanakan oleh para Presbyter/ Imam ( "Penatua") dan
dilayani oleh Para Diakon. Terutama dalam tulisan-tulisan Ignatius (
Magnesia 6:1, Filadelfia 4, Smyrna 8:2). Ignatius juga mulai
menggunakan istilah "Katholik" untuk menyebut sifat Gereja. Ini
berasal dari kata " Kath' (menurut, sesuai dengan) dan "holon " (
sepenuhnya, kepenuhan). Ini adalah kwalitas sifat yang menjelaskan
bagaimana Gereja itu, jadi bukan nama suatu agama, misalnya:Roma
Katolik, Anglo-Katolik, Katolik Bebas, Katolik Lama,dll. Dan kata
ini (Katholik =Kath + Holon) bermakna kwalitas sifat gereja itu
adalah penuh, sempurna, lengkap, utuh, tanpa kekurangan apapun di
dalamnya dari kepenuhan kasih-karunia, kebenaran dan kekudusan
Allah. Demikianlah Gereja Rasuliah Perjanjian Baru pada abad yang
kedua itu mulai menyebut dirinya sebagai Gereja yang "katholik"
artinya bukan sekte-sekte yang main comot sana-sini dari kepenuhan
dan keutuhan ajaran Rasuliah itu. Demikian juga Gereja purba itu
disebut sebagai "Orthodox" artinya bukan yang menyimpang dari ajaran
Rasul tadi.

Dalam "Didakhee" dan "Pembelaan dari Yustinus Martyr" dan "Ireneus"


ditemukan juga penjelasan mengenai bagaimana ibadah Kristen zaman
abad kedua itu dilakukan, terutama ibadah hari Minggu yang berpusat
pada kotbah dan Perjamuan Kudus, dan juga tentang baptisan.

Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius


naik tahta, dia mengadakan penganiayaan secara universal, dan
penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-
260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung
kaisar sebagai "tuhan" dan "ilah", para rohaniwan Kristen harus
dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. Baru di zaman
Gallenius, anak dari Valerianuslah penganiayaan dihentikan .Pada
saat itu perkembangan yang luar biasa terjadi dalam Gereja. Namun
penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam
Gereja. Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana
memperlakukan orang-orang yang selama masa aniaya itu karena diancam
rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut
kaum "lapsi". Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang
bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat beberapa kelompok garis-
keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para "lapsi"
itu yang memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru
yang "Orthodox" dan "Katholik" itu.

Diantara mereka yang memisahkan diri dari Gereja adalah Tertulianus


(c. 220 ), penulis agung dan peletak dasar Theologia Latin di Gereja
barat dari Afrika utara. Dia menggabung dengan gerakan bidat yang
didirikan Montanus yang telah mulai pada akhir abad kedua, dan
menyatakan diri sebagai Gereja "Nubuat Baru" dari Roh Kudus yang
lebih sempurna dari Gereja `Perjanjian Kedua" ( Perjanjian Baru)
dari Kristus. Ciri gerakan Montanisme ini adalah penekanan
pada "karunia lidah" dan "nubuat-nubuat" serta penekanan bahwa
Kerajaan Seribu Tahun akan segera datang di pulau Frigia, Asia
Kecil.

Pembela agung Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik ini pada
saat itu adalah Kiprianus dari Karthago (meninggal tahun 258). Dia
meninggal sebagai Martyr setelah membela Gereja Rasuliah yang
Orthodox dan Katholik itu melawan aliran garis keras yang memisah
dari Gereja karena masalah kaum "lapsi" tadi. Aliran yang dilawan
dalam tulisan-tulisan Kiprianus ini adalah aliran "Novatianisme"
yang didirikan oleh "Novatianus" yang berada di Roma. Novatianus
menyebut alirannya sebagai " Gereja Murni". Kiprianus membela Gereja
Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu dengan menekankan
perlunya "mata-rantai rasuliah" dalam ajaran dan "mata-rantai
rasuliah" dalam pentahbisan para episkop dalam melawan apa yang
disebut sebagai gereja-gereja "murni" yang hanya bersifat rohani
yang abstrak dan tak nampak mata dari orang yang merasa dirinya
lebih baik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu,serta
yang mengangkat-angkat diri sendiri ini. Dia menekankan bahwa Gereja
Kristus itu ada bagi penyembuhan orang berdosa, dan Kiprianuslah
yang mengatakan juga bahwa "extra ekklesia nulla salus est " (diluar
Gereja,- yaitu diluar persekutuan kongkrit dari ummat yang percaya
secara pribadi kepada Kristus dibawah pimpinan rohani Episkop dan
berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja perjamuan kudus dan
pemberitaan firman oleh presbyter � tidak ada keselamatan ).

Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal


dengan didirikannya sekolah theologia di Alexandria, Mesir oleh
Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( meninggal kira-kira tahun
215 ). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan
theoloog termasyhur: Origenes ( meninggal tahun 253). Theologi
Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu
dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas
dari pendekatan Alexandria ini adalah tafsiran secara alegoris
terhadap Kitab Suci, sedangkan dalam tradisi Syria-Antiokhia yang
tak lama kemudian akan berkembang adalah tafsiran harafiah
berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab Suci.

Kedua pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik, pada abad-
abad berikutnya. Karya Origenes itu sangat luar biasa dan tak
terhitung jumahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian
sistimatis dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Karya Origenes
ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia para bapa-bapa Gereja
Yunani pada abad-abad berikutnya. Namun demikian secara ajaran
banyak pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, karena tak
Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili Ekumenis V (tahun
553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja.

Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan


bersama dengan Tertulianus, Kiprianus, Klemen dan Origenes adalah
Dionysius dari Alexandria ( wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat
235) Gregorius Pelaku Mukjizat di Kappadokia ( wafat 270) dan
Methodios dari Olympus ( wafat 311) Orang-orang ini semuanya
memperkembangkan theologia Kristen Orthodox terutama meletakkan
landasan bagi pembahasan tentang Allah yang Esa dalam hubunganNya
dengan Kalimatullah dan Rohullah sendiri yang terkenal sebagai
ajaran Tritunggal Kudus yang dalam abad berikutnya akan menjadi
pembahasan hangat dalam Gereja. Paulus dari Samosata dan Lukianus
(Lusian) dari Antiokia terkenal akan ajaran bidatnya mengenai sifat
ke-Tritunggal-an Allah.

Mereka ini hidup pada akhir abad ketiga. Dari abad ketiga ini kita
juga mendapatkan tulisan-tulisan yang menolong kita untuk melihat
kehidupan liturgis dan kanonik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox
dan Katholik ini pada abad ketiga itu, yaitu: Pengajaran-Pengajaran
Para Rasul dari Siria serta Tradisi Rasuliah karya Hippolytus dari
Roma ( wafat tahun 235). Tulisan yang pertama itu memberikan
peraturan-peraturan mengenal jabatan hirarkis serta praktek-praktek
sakramental dalam Gereja Syria, serta menjelaskan pertemuan liturgis
jemaat. Dan tulisan kedua menjelaskan hal yang sama yang berlaku di
Gereja Roma dengan lebih panjang dan detail.

Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang


diarahkan kepada Gereja oleh Kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada
atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. Setelah
surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasan dalam Kerajaan
Romawi. Pada tahun 312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan
Maxentius. Sebelum peperangan di Jembatan Milvianus di Roma,
Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib Bersinar di
langit dengan tulisan: Dengan Tanda Ini, Kalahkan. Dia memerintahkan
para prajuritnya untuk mengenakan tanda salib ini pada perisai dan
jubah mereka, Konstantinus memenangkan peperangan itu. Konstantinus
segera bergerak untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang
Kristen, serta menunjukkan kecenderungannya kepada Iman Kristen.
Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota di Byzantium
bagi ibu-kota yang baru dari Kerajaannya itu, dan kota itu
disebut "Konstantinopel" (kini: "Istambul" , di Turki) untuk
menghormatinya. Konstantinus sendiri baru dibaptiskan diatas ranjang
menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu
Heleni, dia menemukan Salib Asli Kristus di Yerusalem, serta
keduanya diakui sebagai orang suci dalam Gereja Orthodox sampai
kini.

Iman Kristen diakui sebagai agama resmi Kerajaan Byzantium pada


tahun 380, oleh ketetapan Kaisar Theodosius. Dengan demikian
Kekaisaran Romawi terbagi dalam dua bagian: Romawi Barat berpusat di
Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Pembagian Kerajaan
menjadi Barat dan Timur ini, akhirnya membentuk perkembangan wilayah
Gereja menjadi Gereja Barat berpusat di Roma dan Gereja Timur yang
berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem.
Sementara itu ummat Kristen Syria yang tinggal di Kekaisaran Persia,
makin mengalami aniaya karena dicurigai sebagai antek musuh Kerajaan
Persia, karena sekarang Kerajaan Romawi musuh bebuyutan Persia,
telah menjadi Kristen: Kerajaan Byzantium.

B. Zaman Konsili

Masa Konsili �Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan
Orthodox : abad ke IV ( tahun 325) s/d abad ke VIII (tahun 787).

Pada saat pemerintahan Konstantinus ini Gereja mendapatkan kembali


harta miliknya, serta terbebas dari aniaya dari luar. Namun
ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat
yang berasal dari dalam. Pertama adalah munculnya aliran perpecahan
Donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh Donatus, yang menolak
Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan "lapsi"
pada saat penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus
membiarkan Gereja untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dia
menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya
pihak Donatis, dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme
ini menyebabkan lenyap-punahnya Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko,
Aljazair) yang dulu pernah jaya.
1. Konsili Agung Ekumenis Pertama ( 325 Masehi) di Nikea dan Kedua
(381) di Konstantinopel

Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang


presbiter mengajarkan bahwa Allah yang Esa itu hanya Bapa saja, Anak
Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, adalah
makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud
roh. Dibantu oleh ciptaan pertama ini Allah menciptakan ciptaan yang
lain. Dia bukan Firman Allah (Kalimatullah) yang kekal yang berada
satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan
dengan ke-Esa-an Allah, sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak
mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, karena Dia
mencipta langsung melalui FirmanNya sendiri yang berada satu di
dalam DiriNya. Ajaran ini jelas mempersekutukan Allah dengan
makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme
ini (yang di zaman modern ini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi
Yehuwah) menimbulkan keresahan dalam Gereja.

Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang


Orthodox pada abad keempat inipun menyelesaikan masalah ini dalam
Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil oleh
raja Konstantinus. Seluruh pemimpin Kristen (dihadiri 318 Episkop)
dari segenap "Oikumene" ( "dunia yang beradab") dari Gereja yang
satu dan tidak terpecah-pecah itu, berkumpul mengadakan Konsili
Agung yang pertama ini. Itulah sebabnya Konsili ini disebut "Konsili
Ekumenis." Setelah melalui doa dan pembahasan theologis yang
mendalam berdasarkan iman rasuliah, Konsili menemukan rumusan
berdasarkan data Kitab Suci bahwa "Kalimatullah" (Logos), Firman,
atau Anak Allah itu kekal dan ilahi, Dia diperanakkan (dikeluarkan
dari dalam dzaat-hakekat) dari Bapa sendiri sejak kekal, bukan
dijadikan dan bukan diciptakan. Dia berada satu di dalam Dzat-
Hakekat Bapa yang satu itu. Dia adalah "homo-ousios" ( = satu dzat-
hakekat, satu essensi) dengan Bapa. Dengan demikian Dia
adalah "Allah Sejati" , karena Dia adalah Firman Allah/Kalimatullah
yang sejati, yang keluar dari "Allah Sejati" (Sang Bapa), yang
melaluiNya (sebagai Firman Allah) segala sesuatu dijadikan oleh
Allah. Firman Allah yang kekal dan yang sama inilah, tanpa
meninggalkan kesatuannya dalam Dzat-Hakekat Allah telah diutus turun
ke bumi oleh Allah, mengambil daging kemanusiaan, dan lahir sebagai
manusia dari Sang Perawan Maryam oleh Kuasa Roh Kudus, sebagai
manusia Yesus Kristus (Yoshua Ha-Masiah, Isho de-Mesiha, Isa
Almasih): Mesias Israel dan Juru Selamat dunia. Namun keputusan
Konsili ini tidak segera diterima oleh seluruh Gereja sampai masa
waktu yang lama. Pertikaian mengenai pribadi Kristus terus
berlanjut, sehingga banyak konsili-konsili lokal diadakan untuk
membahas masalah ini. Pihak Arianisme mendapat dukungan kuat dari
kekuasaan pemerintah, sedangkan para pembela Iman Orthodox
sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat
dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-pendukung bidat
Arianisme ini.

Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili


Ekumenis yang kedua di Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah
bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang disebut bidat
Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang adalah
Roh Allah sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-
aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan Saksi-saksi Yehuwah).
Berdasarkan data-data Kitab Suci dan Iman Rasuliah yang selalu
dipelihara Gereja Orthodox ini, maka Konsili mendeklarasikan bahwa
Roh Kudus itu adalah ilahi ("Tuhan") , yang "keluar dari Bapa"
berarti berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa bersama Firman Allah
sendiri, sehingga "bersama Bapa dan Putra" artinya sebagaimana Putra
sebagai Firman Allah sendiri itu berada satu dalam Hakekat Bapa,
demikianlah Roh Kudus sebagai Roh Allah sendiripun satu bersama
kesatuan Putra dalam Bapa, dalam satu Hakekat Ilahi yang
sama "disembah dan dimuliakan" . Demikianlah keilahian Firman
Allah/Putra dan Roh Allah/Roh Kudus ditekankan namun ke-Esa-an Allah
tak dilanggar. Karena baik Firman maupun Roh itu berada satu di
dalam hakekat Allah (Bapa) yang hanya satu itu. Pada saat inilah
rumusan Konsili Pertama dan Kedua ini baru diteguhkan kembali
menjadi satu rumusan Pengakuan Iman (Syahadat), yang menjadi
Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan nama "Pengakuan Iman
(Syahadat) Nikea".

Para tokoh spiritual (bapa-bapa Gereja) yang sangat berjasa membela


Iman Rasuliah yang Orthodox, menentang Arianisme dan Makedonianisme
pada saat ini adalah Bapa "Aghios Athanasius Agung" Episkop dari
Alexandria,Mesir (meninggal tahun 373) yang banyak mengalami aniaya
dari kelompok Arianisme dan pemerintah, serta tiga Episkop dari
Kappadokia (Asia Kecil) Bapa "Aghios Basilius Agung" (wafat: 379),
saudara laki-lakinya Bapa "Aghios Gregorius dari Nyssa" serta
sahabat mereka berdua Bapa "Aghios Gregorius Nazianzus Pakar
Theologia" (wafat: 389). Mereka ini banyak menderita aniaya dari
pemerintah dan pengikut Arianisme, namun tanpa takut mereka
menjelaskan Iman Kristen yang sejati tentang Keilahian Kristus dan
Roh Kudus di dalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa (Bapa), yang
sampai sekarang tetap menjadi standard aqidah ajaran dan theologia
Gereja Orthodox.

Pada saat pertikaian Arianisme ini Gereja tidak berhenti dalam


menyebarkan Injil, sehingga seorang rohaniwan yang bernama Ulfilas
dikirim dari Gereja Timur di Konstantinopel untuk menginjili suku-
suku bangsa Jerman dan menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa
itu. Namun karena yang mendapat dukungan pemerintah saat ini adalah
kelompok Arianisme, yang diajarkan kepada suku-suku Jerman ini
adalah theologia Arius mengenai Kristus. Baru kemudian ketika suku-
suku yang sudah menjadi Kristen namun yang mengikuti bidat Arianisme
ini mulai menyerang Roma, mereka secara pelan-pelan mengikuti ajaran
Orthodox yang waktu itu dipelihara oleh Gereja Roma juga, sehingga
pada abad-abad kemudian mereka menjadi Roma Katolik. Dalam Konsili
Nikea itu ditetapkan sebagai "Hukum Kanon" bahwa Gereja Roma itu
menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa barat, Gereja
Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria
dan seluruh daerah Timur, jadi termasuk Gereja di Persia dan India
(Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul
munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7). Sedangkan dalam Konsili
kedua di Konstantinopel suatu Hukum Kanon ditegaskan bahwa: "Episkop
Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah Episkop
di Roma, karena Konstantinopel adalah Roma Baru" ( Kanon 3).

Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini


dipimpin oleh Episkop yang bergelar Paus,dari kata Pappas = Bapak
(terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater
=Bapak, Arkhi = Pemimpin. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya
menjadi suatu persaingan kedudukan antara Gereja Alexandria yang
tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang
Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki
tempat itu. Pada saat ini di Antiokhia juga telah berkembang tradisi
theologia yang berbeda pendekatannya dari Alexandria. Jika
Alexandria menekankan "alegori", maka Antiokhia lebih menekankan
pendekatan "literal, tata-bahasa, dan kesejarahan" atas Kitab Suci.
Sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian
Kristus, Antiokhia lebih menekankan kemanusiaan Kristus. Sayang
Siria dan Mesir harus konflik nantinya, padahal keduanya seharusnya
saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan
atas Kitab Suci.

Pada saat ini Gereja Syria di Persia sedang mengalami penganiayaan


yang hebat di bawah para shah (raja) Persia ( 340-363, 379-401).
Pada abad keempat ini terjadi juga perkembangan liturgis, yaitu dari
Liturgi Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem danm Siria
maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya jadilah doa-doa Liturgi
Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407),
yang sampai sekarang menjadi Liturgi-Liturgi utama Gereja Orthodox.
Dari kotbah katekisasi dari Aghios Yohanes Krisostomos dan Aghios
Kyrillos dari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen
Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat
itu hampir tak berubah sedikitpun tetap dilaksanakan oleh Gereja
Orthodox masakini. Pada saat ini Puasa Paskah 40 hari (Catur Dasa)
dan Perayaan Paskah seperti yang tetap dirayakan oleh Gereja
Orthodox masakini itu sudah betul-betul mapan. Disamping itu kita
juga menyaksikan pada abad keempat ini perkembangan kehidupan
kerahiban yang sedang memekar terjadi di Mesir - dipimpin oleh
Aghios Antonius Agung � dan di Syria (rahib-rahib Syria inilah yang
nantinya banyak dijumpai Nabi Muhammad di padang-padang gurun dalam
perjalanan perdagangannya dari Mekah ke Syria, dan banyak
mempengaruhi pendapatnya mengenai Kekristenan dan keagamaan pada
umumnya) serta Eropa Barat. Diantara para rahib suci dari zaman ini
yang berasal dari Timur adalah: Paulus dari Thebes (Mesir),
Pakhomius ( Mesir), Hilarion, Sabbas (Palestina), Makarius dari
Mesir, Epiphanius dari Siprus, dan Efraim dari Syria. Sedangkan
rahib suci dari Barat pada saat ini adalah: Yerome, Yohanes
Kassianus, serta Martinus dari Tour. Para Episkop Suci terkenal dari
abad keempat ini adalah: dari Timur Aghios Nikholas dari Myra di
Lysia ( yang budaya Barat mengubah dia menjadi tokoh
mythologis "Santa Claus" /Sinter Klaas), Aghios Spyridon, dan dari
Barat adalah Santo Ambrosius dari Milano, Itali.

2. Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451)


di Kalsedonia.

Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel.


Alexandria selalu berusaha untuk menyaingi Konstantinopel. Secara
kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di
Konstantinopel adalah seorang Syria dari Antiokhia,
bernama: :Nestorius. Sebagai seorang Syria maka tradisi theologia
Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu
tradisi yang menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih
menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga menolak gelar "Theotokos"
( "Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah" yaitu Kalimatullah
yang menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk
menyebut Maryam. Menurut Nestorius yang dilahirkan Maryam hanyalah
seorang "manusia" yang di dalamnya "Kalimatullah/Firman Allah" itu
bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang
menjadi manusia, bertentangan dengan apa yang telah diakui dalam
kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja
Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia
dan kedudukan Konstantinopel yang dianggap menggeser kedudukan
Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin
menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan
demikian mempermalukan Konstantinopel, serta melawan pemahaman
theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria, Antiokhia,
yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak
Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Dan inilah kesempatan yang baik.

Jadi sebenarnya konflik ini adalah adalah konflik antara Mesir dan
Syria (bukan dengan unsur Yunani dalam Gereja Timur itu). Aghios
Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam
sebagai "Theotokos" ,karena Dia yang dilahirkan olehnya
adalah "Firman" yang adalah "Allah", yang "telah menjadi manusia"
(Yohanes 1:1,14). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan
dalam penjelmaanNya sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan
Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia. Jadi Maryam
memang "Theotokos" . Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan
bertobat pada peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh
Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus, sejumlah kecil
Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria
serta menolak ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini. , dimana
ditegaskan bahwa Maryam adalah Theotokos, karena yang dilahirkan
Maryam tak lain adalah "Firman Allah" yang sama dan yang satu yang
menjelma menjadi manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan
Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan akhirnya diakui
sebagai Konsili Ekumenis Ketiga.

Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah


yang begitu kejam akibat provokasi dari para Majus atau pemimpin
Agama Zoroaster penyembah api itu, karena dicurigai menjadi antek
Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu,
memutuskan untuk memiliki Patriarkh sendiri, lepas dari Antiokhia,
karena Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk
meyakinkan Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka
secara alamiah mereka menerima theologia Syria dari Nestorius,
karena selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati
tulisan-tulisan Theodoros dari Mopsuestia, guru dari Nestorius.
Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib di
padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria
di Persia.

Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu :

1. di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari


Alexandria
2. di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria
itu.

Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja
Nestorian, meskipun sebenarnya mereka sendiri tak pernah menyebut
diri mereka demikian. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh
Nestorianisme yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek
mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja Orthodox.. Sehingga
ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja
Orthodox Pre-Kalsedonia. Dan Gereja Persia yang sebenranya merupakan
bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini menjadi Gereja yang amat
misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di Cina, dan bahkan pada
abad ketujuh di Indonesia : di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada
berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan Majapahit.

Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima


oleh semua pihak, karena masih timbul kontroversi mengenai ajaran
Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan
ajaran Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan
kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun setelah saling berdialog
tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang
dimaksud oleh Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib
bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang dimaksud oleh Kyrillos
adalah bahwa Kristus hanya memiliki "satu-kodrat" ("mono-physis")
saja, yaitu kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh
kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan kembali di dalam
Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri
bersama Patriarkh Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun
449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa mereka pengikut ajaran
Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar
Episkop, namun tidak diterima sebagai Konsili yang sah, malah
disebut sebagai "Latrocinium" atau "Konsili Para Perampok" . Ajaran
tentang Kristus hanya memiliki "satu-kodrat" ("mono-physis") ini
akhirnya terkenal sebagai ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh
Gereja dan dinyatakan bidat.

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan
pada tahun 451, di kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili
ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis Keempat, dan
berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran
Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan
tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan Kristus yang sejati
yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili
Kalsedonia ini mengikuti secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh
Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam Konsili itu,
namun hanya mengirim wakil-wakilnya.

Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki "satu


hypostasis" ( menegaskan tradisi theologia Alexandria) dalam "dua
kodrat" ( menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) � ilahi dan
manusiawi. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah
sempurna dan manusia sempurna. Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah)
Dia "satu Dzat-Hakekat/Essensi" dengan Sang Bapa (Allah yang Esa)
dan dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia
satu "hakekat/ esensi" dengan segenap manusia. Keilahian dan
kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu
hypostasis /pribadi namun tidak campur-baur dan tidak kacau-balau
dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu satu
pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia.

Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini


karena dianggap berbau Nestorianisme, suatu tuduhan yang tidak tepat
dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus hanya
memiliki "satu kodrat" saja, meskipun kodrat itu telah menjelma,
padahal menurut mereka Konsili ini mengatakan Kristus memiliki "dua
kodrat" yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka
tidak menggabungkan bahwa "dua kodrat" itu dalam satu pribadi, atau
satu hypostasis, yang jelas tak bersangkutan dengan ajaran
Nestorius.

Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox


alur utama. Para pendukung Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat
Patriakh Kalsedonia di Mesir : Proterius (452-457), penentang
Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si
Kucing. Sejak itulah Gereja Mesir terpecah dua, yang Orthodox
Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan
yang menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik
Orthodox, serta mengikuti faham "satu-kodrat" (monophysis).

Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja


Alexandria dalam memeluk faham "satu-kodrat" ini. namun ada yang
tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia.
Dengan demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara
yang "Orthodox" (kaum Monophysit, menyebut Gereja Syria yang
Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak)
dan yang "Monophysit" .

Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Yakub Burdana ( Yakub Baradeus)


berhasil mengorganisasi suatu lembaga kegerajaan Syria Monophysit,
yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau Gereja
Yakobit. Gereja Yakobit Syria, inilah yang di Indonesia dipopulerkan
dengan nama "Kanisah Orthodox Syria" oleh Yayasan Study Orthodox
Syria, pimpinan saudara Bambang Noorsena, sesudah ia keluar dari
keanggotaannya, yang pada saat itu bersama dengan Pdt. Yusuf Roni,
dalam Gereja Orthodox Indonesia.

Sedangkan yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan


Syria Antiokhia yang memiliki hubungan dengan Gereja-Gereja
Aleksandria Orthodox, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma. Gereja
Armenia karena sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak
terwakili dalam Konsili Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta
mengikuti faham "satu-kodrat", demikian pula Gereja Thomas India
yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja
Ethiopia yang terkait dengan Gereja Koptik. Lima Gereja ( Koptik,
Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang
dalam buku-buku sejarah Gereja terkenal dengan nama : Gereja-Gereja
Monofisit, atau pada masakini akibat hubungan-hubungan ekumenis,
untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental
Orthodox, atau Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja
Orthodox Non-Kalsedonia. Sedangkan Gereja Orthodox Alur Utama,
disebut Gereja Orthodox Timur, atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau
Gereja Orthodox Yunani. ( - Kata "Yunani" itu tak berarti menunjuk
etnik Yunani, sama seperti "Roma" Katolik tak menunjuk pengikutnya
sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra
theologis utama dari para bapa Gereja Timur adalah menggunakan
bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan Syria misalnya
Efraim dari Syria, Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik,
misalnya Athanasius dari Alexandria, Kyrilos dari Alexandria, Klemen
dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja Barat
menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering
disebut "Gereja Latin".-) Meskipun sudah berkali-kali ada usaha
untuk mempersatukan mereka yang memisah ini baik di zaman purba
maupun pada zaman modern ini, namun mereka masih tetap terpisah dari
Gereja Orthodox.

Konsili Ekumenis yang Ketiga dan yang Keempat ini menetapkan


beberapa Kanon yang bersifat disipliner dan bersifat praktis. Dalam
Konsili Ketiga di Efesus, ada larangan membuat Pengakuan Iman yang
lain, atau mengarang "Pengakuan Iman Yang Berbeda" (Kanon 7) dari
apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I dan Konsili II. Kanon ini
digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan
Iman Nikea oleh Gereja Barat dengan kata "filioque" ("dan Sang
Putra") ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut aslinya Roh
Kudus itu keluar dari "Sang Bapa", tetapi menurut tambahan filioque
dari Gereja Barat ini, Roh Kudus itu keluar dari " Sang Bapa dan
Sang Putra". Konsili Keempat di Kalsedonia, memberikan
Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu " kehormatan-
kehormatan yang sejajar dengan ibukota Roma yang lama" , karena
ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya "kaisar dan senat" (
Kanon 28). Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat
dengan jatuhnya Roma ke tangan bangsa Barbarian.

Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang


disebut "Zaman Kegelapan" sangat cepat terjadi setelah meninggalnya
Agustinus, Episkop dari Hippo ( 430). Agustinus menulis banyak buku
yang sangat mengundang perdebatan terutama di Gereja Timur, yang
isinya sangat mempengaruhi seluruh sejarah Gereja Barat, baik yang
Roma (Katolik) maupun yang Reformasi (Protestan), namun yang tak
diterima oleh Gereja Timur. Sementara itu Gereja Timur masih sedang
dalam zaman keemasan dan kejayaannya.

3. Konsili Agung Ekumenis Kelima ( 553) di Konstantinopel dan


Konsili Agung Ekumenis Keenam (680-681) di Konstantinopel

Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja


dan kesatuan negara sekaligus. Oleh karena itu dia berusaha agar
pihak Monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox.
Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel
(553) , yang akhirnya diakui sebagai Konsili Kelima, dimana di dalam
Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai "Tiga Pasal" yang
disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka
yang menolak Kalsedonia, dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan
ini adalah tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa,
serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya adalah orang-orang Syria.
Tetapi kutukan itu tak bisa diterima para pendukung Konsili
Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran
yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan
untuk mengutuk mereka. Usaha Yustinianus untuk menyatukan pihak
Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiri
tidak yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox.

Disamping menolak ajaran yang salah dan kabur dari "Tiga Pasal" ,
Konsili ini juga menolak beberapa ajaran Origenes dari Alexandria
yang sangat tidak Orthodox, misalnya bahwa jiwa manusia sudah ada
sebelum masuk kedalam tubuh jasmani untuk lahir di dunia ini, dan
lain-lain. Dan Konsili ini menegaskan kembali rumusan Konsili
Kalsedonia bahwa Yesus Kristus adalah "satu dari Tritunggal Kudus"
(artinya: Dia Ilahi yang satu hakekat dengan Allah sendiri dan
RohNya yang ada di dalam hakekat Allah). Dan Hypostasis Kalimatullah
yang satu dan yang sama inilah telah memanunggalkan
secara "hypostatik" dalam DiriNya sendiri yang satu itu dua kodrat
yang saling berlawanan: Allah dan Manusia., tanpa campur-baur (Yang
Ilahi tidak menjadi Manusia, Yang Manusiawi tidan menjadi Ilahi) dan
tanpa terpisah-pisah (Yang Ilahi dan Yang Manusia manunggal secara
tak terpisah dalam Satu Hypostasis).

Yustinianus sangat giat menyerang sisa agama kafir Yunani, serta


menutup Universitas Athena dari pengaruh kafir Yunani, serta hanya
mempromosikan ilmu-ilmu Kristen saja. Dia membangun banyak Gereja,
terutama di Betlehem, Yerusalem, dan Gunung Sinai. Karyanya yang
terbesar adalah Gereja Aghia Sophia, yang pernah dijadikan Masjid
oleh bangsa Turki sejatuhnya Konstantinopel, dan sekarang menjadi
Museum. Gereja Konstantinopel pada saat ini sudah menggunakan
praktek-praktek liturgis yang telah dilakukan di Palestina dan
Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung
dengan Ibadah Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta
sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang di biara-biara, dan
praktek-praktek Liturgis di Yerusalem. untuk membentuk suatu
synthesis agung pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox.
Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai Gereja
Orthodox "Yunani", namun ibadahnya dan aqidahnya adalah ibadah dan
aqidah "Semitik" dari ujung kaki sampai ujung rambut. Di dalam
pikiran orang-orang Kristen Timur pada abad keenam ini,
Konstantinopel adalah Tahta Ke-Episkop-an yang pertama dalam "Sistim
Pentarkhi" , yaitu : pertama Konstantinopel, sesudah itu baru
Roma,Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem.

Sejak saat itu Patriarkh Konstantinopel memakai gelar "Patriarkh


Ekumenis" yang tentu saja seperti yang dapat diduga Episkop Romalah
yang menentang akan hal ini, terutama Paus Santo Gregorius Agung,
yang mengkompilasi `Liturgi Pra-Sidikara" , yang tetap digunakan
Gereja Orthodox sampai sekarang pada saat Puasa Catur Dasa, namun
yang tak dikenal oleh Gereja Roma Katolik.

Di Gereja Barat pada abad keenam ini, disamping Paus Gregorius


Agung, Santo Benediktus dari Nursia (480-542) dan para muridnya
sangat mempengaruhi sejarah selanjutnya Gereja Barat. Disamping itu
Santo Columba dan Santo Agustinus dari Canterbury adalah misionaris-
misionaris Gereja Barat yang bekerja di Inggris dan Irlandia. Pada
tahun 589 di Toledo, Spanyol, Gereja Barat tanpa persetujuan Gereja
Timur dan bertentangan dengan Kanon ketujuh dari Konsili Ekumenis
Ketiga, menambah kata "filioque" pada Pengakuan Iman Nikea untuk
menekankan keilahian Kristus dalam menghadapi Kaum Barbarian yang
mengikuti faham Arianisme, karena penginjilan Ulfilas yang telah
kita sebut sebelumnya. Namun tambahan ini mengakibatkan dampak yang
sangat tidak kecil bagi Sejarah Gereja.

Sementara itu di Semenanjung Arabia Sang Bayi Muhammad yang nantinya


akan menjadi Nabi besar bagi agama Islam telah lahir pada abad
keenam ini (tahun 570). Semenanjung yang mana dikelilingi oleh
orang-
orang Kristen Timur (Non-Kalsedonia/Monofisit di Mesir maupun
Ethiopia yang mempunyai Koloni di Yemen, serta Monofisit di Syria
Barat, dan Pre-Efesus/ Gereja Timur Assyria/ Nestorian di Persia,
serta Orthodox/Kalsedonian yang banyak melakukan perdagangan di
Semenanjung Arab) dan orang-orang Yahudi terutama di Madinah. Ketika
lahirnya bayi Muhammad sudah dalam keadaan sebagai anak-yatim, pada
masa kecil dia diasuh oleh kakeknya Abdul-Muttalib, setelah kakeknya
meninggal diasuh pamannya Abu Thalib yang sering berdangang ke
Syria. Dan kanak-kanak Muhammadpun diajak dalam perjalanan dagang
ini. Dalam pergaulannya berdagang ini Muhammad yang masih muda itu
banyak bertemu dengan orang-orang Kristen Timur, yang biarpun dalam
rumusan Kristologinya berbeda antara Orthodox, Monofisit, dan
Nestorian ini, namun praktek ibadahnya dan ethos kehidupannya tak
banyak beda satu sama lain. Mendengar dan memperhatikan dari mereka
inilah akhirnya Muhammad melestarikan banyak hal dari apa yang
dijumpai dari agama-agama terdahulu ini dalam agama Islam, sehingga
hal ini menerangkan banyaknya kemiripan-kemiripan antara praktek-
praktek Iman Kristen Orthodox dan agama Islam.

Menginjak abad ketujuh, muncullah tulisan yang mengatas-namakan diri


sebagai ditulis oleh Dionysius dari Areopagus, murid Rasul Paulus.
Tulisan ini diterima dengan tangan terbuka baik oleh mereka yang
menolak Konsili Kalsedonia (Monofisit), maupun pembela Konsili
Kalsedonia (Orthodox). Namun dalam tulisan Dionysian ini ada
mengandung ajaran yang bermasalah yaitu bahwa Yesus Kristus, Firman
Allah/Anak Allah yang menjelma itu, hanya memiliki satu kehendak dan
tindakan insani -ilahiah atau ilahi-insaniah saja, yang sama sekali
membaurkan dua kegiatan dan tindakan yang berbeda dari kodrat
ilahiNya dan kodrat manusiawiNya. Ajaran ini disebut sebagai
monothelitisme ( artinya: Kristus hanya memiliki satu kehendak
insani-ilahiah/ilahi -insaniah) atau mononergisme ( artinya: Kristus
hanya memiliki satu tindakan, kegiatan atau energi insani-
ilahiah/ilahi-insaniah saja). Banyak yang berharap bahwa rumusan ini
akan mempersatukan kembali perpecahan kaum Monofisit kepada Gereja
Orthodox. Namun harapan itu tak pernah terjadi, karena ajaran ini
ditentang mati-matian oleh Aghios Maximos Sang Pengaku Iman (wafat:
662) dari Konstantinopel, yang umurnya 10 tahun lebih muda dari
Muhammad, serta Paus Santo Martin dari Roma (wafat: 665). Menurut
keduanya ini Kristus memiliki kepenuhan kehendak, energi, tindakan,
dan perbuatan ilahi, yang satu dan sama dengan kehendak Bapa dan
RohNya. Namun Kristus juga memiliki kepenuhan kehendak, energi,
tindakan, dan perbuatan manusiawi yang sama dengan semua manusia
lainnya. Keselamatan itu terjadi dalam fakta bahwa Yesus Kristus
sebagai manusia sejati, secara bebas dan secara sukarela menyerahkan
kehendak manusiawinya ( yang persis sama dengan kehendak segenap
manusia lainnya) kepada kehendak ilahiNya (yang adalah kehendak
Allah sendiri). Sehingga Anak Allah yang ilahi ini menjadi manusia
yang nyata dan sejati dengan kehendak manusiawi yang nyata dan
sejati, sehingga sebagai manusia yang nyata Dia dapat
memenuhi "seluruh kebenaran Allah" dalam ketaatan yang sempurna dan
sukarela kepada Sang Bapa. Melalui tindakan manusiawiNya yang nyata
itulah Yesus Kristus membebaskan semua manusia dari dosa dan maut
sebagai Adam yang Baru dan yang terakhir. Aghios Maximos dan Santo
Martin sangat menderita sekali dalam penganiayaan pemerintah karena
menentang bidat monothelitisme ini. Mereka dipenjara, disiksa, dan
lidah Maximos dipotong agar tidak bisa berkotbah oleh kekuasaan
pemerintah yang sangat ingin menggunakan monothelitisme sebagai
jalan menyatukan kembali kaum Monofisit.

Namun akhirnya ajaran kedua orang suci inilah yang menang. Konsili
Ekumenis Keenam yang diadakan di Konstantinopel tahun 680-681
meneguhkan secara resmi ajaran mereka dan secara resmi pula
menghukumkan Patriarkh Sergius dari Konstantinopel, serta Paus
Honorius dari Roma yang mengajarkan monothelitisme, bersama semua
pendukung mereka. Di kalangan ummat Syria ada yang memegang teguh
ajaran ini, terutama yang dipimpin oleh Rahib Maron, dan memisahkan
diri dari Gereja, sehingga mereka disebut ummat Maronit yang sampai
sekarang masih banyak kita jumpai di Libanon, namun yang sudah
menggabung dengan Gereja Roma Katolik sejak zaman Perang Salib.
Sehingga, makin terpecah lagilah Gereja Syria ini. Aghios Maximos
menulis buku-buku rohani yang mendalam pada saat ini, demikian pula
Aghios Yohanes Klimakus dari Gunung Sinai menulis "Tangga Naik ke
Yang Ilahi" serta Aghios Andreas dari Kreta mencipta Kidung Kanon
Pertobatan, yang masih tetap dilagukan dalam Gereja Orthodox pada
saat Masa Puasa Agung Catur Dasa.

Nabi Muhammad sedang ditengah-tengah misinya untuk menyebarkan dan


menegakkan agama Islam, ketika Byzantium dibawah Kaisar Heraklius
berperang melawan Persia, serta merebut Salib asli yang dirampas
mereka, lalu dibawa ke Konstantinopel. Kedatangan Salib itu disambut
meriah, sehingga dilestarikan dalam pesta Gereja Orthodox
sebagai "Pesta Pengangkatan Salib" setiap tanggal 14 September.
Kekaisaran dalam keadaan terkuras habis tenaganya karena perang
melawan Persia ini, sehingga sewafatnya Nabi Muhammad, ketika
daerah-
daerah Byzantium di Mesir, Palestina dan Syria direbut Islam tak
banyak yang dapat dilakukan. Disamping itu ummat Monofisit yang
sangat banyak di daerah itu memang membenci Byzantium karena Iman
Kalsedonian mereka. Sehingga ketika Islam muncul tak ada perlawanan
dari mereka, sebaliknya mereka yang mengundang tentrana Muslim untuk
bersama-sama melawan Byzantium, karena dianggap dengan berada di
bawah Islam mereka bebas dari tekanan Byzantium. Hal yang terbukti
salah di kemudian hari, yang effeknya masih dapat dirasakan sampai
sekarang.. Demikian juga sikap ummat Nestorian di Persia. Islam
diharapkan membebaskan mereka dari tekan Shah Persia, dan merekapun
ternyata keliru. Dalam tingkat non-politik Byzantium dan Islam
mempunyai hubungan yang baik, misalnya para pedagang Arab justru
dibangunkan Mesjid untuk mereka beribadah di Konstantinopel dan
mereka tak pernah dipaksa menjadi Kristen. Kalifah al-Ma'mun
mengadakan hubungan yang baik dengan Kaisar Byzantium terutama dalam
hal mendapatkan nashak-naskah Yunani dan klasik yang akan
diterjemahkan dalam bahasa Arab. Orang-orang Kristen Byzantium
secara tingkat sosial saling mengadakan kontak dengan kaum Muslim.
Karena sikap kaum Monofisit dan Nestorian inilah sebabnya mengapa
dengan mudah daerah-daerah Kristen Orthodox itu ditaklukkan Islam
karena memang tidak ada perlawanan dari penduduk setempat, malah
mereka diundang oleh kaum Monofisit di Mesir, Syria, dan Libanon
serta kaum Nestorian di Irak dan Persia.

Karya Konsili Kelima dan Konsili Keenam ini dilanjutkan lagi di


Konstantinopel, di ruangan berkubah (Trullo) dari istana Kerajaan
untuk membahas peraturan 102 buah Hukum Kanon, yang disebut Kanon
Konsili Quinisext (Kelima-Keenam). Dalam Hukum Kanon ini ditegaskan
orang menikah boleh ditahbis jadi diaken dan kemudian presbyter,
namun yang sudah ditahbis tak boleh menikah jika tadinya tidak
menikah. Dan hanya orang yang tidak menikah saja yang harus jadi
Episkop. Ditetapkan juga batas umur orang yang akan ditahbis, serta
larangan rohaniwan berpartisipasi dalam politik atau dalam
perekonomian. Juga larangan orang awam masuk ke Ruangan Mezbah tanpa
perlu, serta melarang perkawinan campuran, dan masih banyak lagi.

4.Konsili Ekumenis Ketujuh dan Terakhir (787 ) di Konstantinopel

Pada saat abad kedelapan ini kekalifahan Islam sudah tersebar di


seluruh Timur Tengah, dan Byzantium telah sering mengalami serangan
tentara kaum Muslimin Arab dari arah selatan. Syria yang berbatasan
dengan Byzantiumpun sudah berada dibawah kedaulatan Islam. Kaum
Muslimin tak henti-hentinya menyerang ajaran Tritunggal Kudus,
Keilahian Kristus, Penyaliban, Kebangkitan, dan penggunaan Ikon
(gambar-gambar agamawi) dalam Gereja. Gambar-gambar itu dianggap
sebagai berhala, karena Islam memang anti-gambar. Serangan Islam ini
sedikit-banyak mempengaruhi sebagian orang Kristen. Apalagi saat itu
di Byzantium, sedang bangkit diantara kaum intelektual aliran
filsafat Neo-Platonisme yang meremehkan benda jasmani dan menekankan
hal yang bersifat "idea". Ikon adalah benda jasmani, maka
berdasarkan pandangan filsafat kafir ini, maka ikonpun direndahkan
dan diremehkan. Kedua faham ini mempengaruhi Kaisar Leo III dari
Isauria ( 717-741) dan Kaisar Konstantinus V ( 741-775), yang sudah
lama ingin menaklukkan Gereja pada kehendak raja. Masalah ini
digunakan sebagai alasan untuk menekan Gereja dan melarang
penggunaan Ikon dalam Gereja. Setelah mengadakan sidang tahun 753
dan disitu dinyatakan bahwa Allah itu tak kelihatan jadi tak dapat
digambar, sebagaimana pula argumentasi kaum Muslimin (dan beberapa
ayat Alkitab yang melarang penggunaan patung, yang juga dilarang
Gereja Orthodox) yang mempengaruhi argumentasi sidang tadi, maka
perintah dikeluarkan bahwa semua gambar harus dihapus dan semua ikon
dibakar. Perlawanan terhadap Ikon ini dikenal sebagai Gerakan Bidat
Ikonoklasme.

Ikonoklasme

Memang Gereja Timur melarang penggunaan patung dari zaman purba


sampai sekarang, namun sejak zaman katakombe ( terowongan bawah
tanah tempat persembunyian mereka dan digunakan untuk penguburan dan
ibadah, pada saat zaman aniaya) telah menyatakan iman mereka dalam
wujud simbol-simbol dan gambar-gambar, dan itulah permulaan ikon,
yang asalnya berasal dari perintah Allah kepada Musa untuk membuat
patung kerubim dan gambar-gambar kerubim di Kemah Suci, dan juga
dilukisnya gambar-gambar semacam itu di Bait Allah yang dibangun
Salomo (Sulaiman). Orang Kristen Orthodox yang mempertahankan
penggunaan ikon dibunuh dan dianiaya oleh Kaisar ini, sehingga
terjadi pertumpahan darah yang hebat diantara ummat Kristen Orthodox
oleh aniaya tentara raja. Para Episkop banyak yang ditekan untuk
secara resmi menentang penggunaan Ikon. Sehingga tahun 762 dan 775,
terkenal sebagai "dekade berdarah" dalam sejarah Gereja Timur ini,
karena banyaknya orang Kristen Orthodox, terutama diantara para
rahib yang dipenjara, disiksa, dan dibunuh karena mempertahankan
Ikon itu. Gereja tidak hendak tunduk pada kehendak manusia, karena
hanya Kristus, dan bukan Kaisar, itulah Kepala Gereja. Tuhan tidak
berlama-lama membiarkan ummatNya menderita.
Pada tahun 780 Maharatu Theodora naik tahta ( 780-802). Penganiayaan
dihentikan dan Konsili diadakan di kota Nikea pada tahun 787 untuk
membahas mengenai masalah Ikon ini. Inilah Konsili Ekumenis yang
Ketujuh dan Terakhir dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang satu,
yang secara tanpa putus berjalan dalam sejarah sampai abad kedelapan
itu. Konsili ini menjelaskan makna Theologia Ikon, mengikuti
penjelasan yang dilakukan oleh Aghios Yohanes Damaskinos (Yuhana Al-
Mansyur) dari Damaskus Syria. Yuhana Al-Mansyur adalah anak seorang
pegawai tinggi dari kalifah Islam di Damaskus, Syria. Diapun
akhirnya diangkat menjadi pegawai tinggi dari kalifah Yazid di Syria
ini. Entah karena apa dia tinggalkan karir duniawinya, dan masuk ke
biara, serta akhirnya menjadi presbyter. Pada saat penganiayaan
orang-orang Kristen Orthodox di Byzantium, Aghios Yohanes bebas dari
aniaya itu karena dia hidup dalam wilayah Islam. Sehingga dia bebas
menulis dan mengkritik para penentang Ikon tanpa ditangkap tentara
raja. Argumentasi yang berdasarkan Alkitab dan Iman Rasuliah dalam
tulisan Aghios Damaskinos inilah yang diikuti dalam Konsili Ketujuh
ini.

Inti terpokok Iman Kristen adalah Yesus Kristus. Dan Dia


adalah "Firman yang Menjadi manusia" (Yohanes 1:14). Dengan demikian
Yesus Kristus adalah Firman Allah yang ber "Inkarnasi"
( "Mendaging"). Maka "Inkarnasi Kristus" sebagai Firman Allah itulah
inti iman Kristen. Allah memang tak dapat dilihat, jadi tak dapat
digambar apalagi dipatungkan. Itulah sebabnya Perjanjian Lama,- dan
dalam hal ini sikap Al Qur'an juga - serta Iman Orthodox sendiri
melarang Allah ( Bapa) digambar. Namun dalam Yesus Kristus, Allah
melalui "FirmanNya" telah menjadi nampak, yaitu menjadi daging. Maka
kedagingan dari kemanusiaan Firman itu sekarang dapat digambar untuk
membuktikan bahwa Firman betul-betul jadi manusia. Disitulah
tempatnya Ikon itu. Menolak Ikon berarti menolak bahwa betul-betul
Yesus Kristus itu manusia, yaitu menolak Inkarnasi Firman Allah.
Islam hanya percaya Firman Allah yang diturunkan menjadi Kitab: "Al-
Qur'an" . Oleh karena itu penegasan makna Wahyu dalam Islam adalah
dalam wujud "Kaligrafi" ("Tulis Indah Huruf Arab"), membuat ikon
atau gambar dalam Islam memang akan bertentangan dengan inti
kewahyuan Firman sebagai tulisan. Namun menolak "ikon" dalam Iman
Kristen justru sebaliknya, karena itu berarti menolak kemanusiaan,
kewujud-dagingan, dan Inkarnasi dari Firman Allah yang menjadi
manusia itu. "Kaligrafi" (Tulis Indah Huruf Arab) dalam Islam
itulah "Ikonografi" dalam Iman Kristen Orthodox. Karena yang
ditekankan pada "ikonografi" itu justru adalah fakta "inkarnasi"
serta fakta "kemanusiaan kongkrit" dari Penjelmaan Firman
Allah/Kalimatullah yang menjadi daging, maka Konsili dengan tegas
mengatakan bahwa Allah (Bapa) dilarang diwujudkan dalam gambar
apalagi dalam patung. Demikian juga berlaku bagi Roh Kudus, serta
keberadaan Kristus sebelum jadi manusia. Dengan kata lain larangan
hukum Musa untuk tidak menggambarkan Allah dalam bentuk apapun tetap
dijaga dengan keras, namun fakta Inkarnasi dari Firman Allah menjadi
manusiapun dijaga keras dengan ekspresi yang kongkrit dalam
wujud "ikonografi".

Jelas ikon berbeda dari dan bukan merupakan berhala. Sebab berhala
adalah penggambaran Allah secara bentuk makhluk dan diberi bakti dan
sembah sebagai ilah, ikon bukan gambarNya Allah, dan tak diberi
bakti seperti Allah sendiri. Dengan Ikon ditegaskan bahwa oleh
Inkarnasi Firman Allah maka segala sesuatu yang jasmani sekarang
dikuduskan oleh Kristus, yang jasmani ini terutama adalah ummat
manusia yang telah ditebus dalam Kristus. Itulah sebabnya isi dari
Ikonografi, bukan hanya Kristus saja, namun semua mereka yang
menjadi dampak langsung dari Inkarnasi itu, yaitu para orang-orang
yang telah dikuduskan oleh Kristus dalam Roh Kudus: Theotokos, para
Nabi, para Rasul, dan segenap orang suci. Demikianlah ikonografi
menjelaskan bahwa melalui Kristus yang adalah "ikon" (Gambar) dari
Allah yang tak kelihatan (Kolose 1:15), segenap manusia yang ditebus
olehNya dikembalikan kepada kodrat asli ("fitrah") yang atasnya
manusia diciptakan menurut "gambar (eikon, demuth) dan rupa
(omoiousin, tselem) Allah" ( Kejadian 1:26). Jadi pertentangan
masalah Ikon bukanlah sekedar pertentangan masalah lukisan, dan
bukan pula masalah berhala, namun masalah betulkah Firman Allah
telah menjadi manusia, dan betul-betul berwujud jasmani, yang dengan
begitu dapat dilukis, tanpa melanggar larangan penggambaran Allah
dan keilahian yang tidak nampak itu.

Pada abad ini Aghios Yohanes Damaskinos mencipta Kidung-Kidung Kanon


Sembahyang Fajar Paskah dan Kidung-Kidung Dukacita untuk upacara
penguburan dalam Gereja Orthodox serta Kidung Hasta-Nada yaitu
kumpulan kidung-kidung yang menggunakan delapan Irama yang berbeda
yang dilagukan secara berputar dalam tiap minggu, Semuanya ini tetap
menjadi bagian ibadah Gereja Orthodox sampai sekarang. Juga dia
menulis buku yang disebut "Exposisi Lengkap Iman Orthodox" yang
merupakan pembahasan sistimatis seluruh doktrin Kekristenan Orthodox
sejak zaman purba yang dapat ditemukan dalam bukunya "Sumber Ilmu-
Pengetahuan" . Dia juga menulis buku polemik menyanggah tuduhan
Islam.

Pada saat abad kedelapan ini Gereja Barat mengalami banyak


pertobatan dari suku-suku Barbarian. Pemberita Injil terbesar Gereja
Barat pada abad ini adalah Santo Bonafasius ( wafat tahun 754).
Untuk pertama kalinya pada abad Paus Roma menjadi pemimpin-pemimpin
duniawi yang menguasai tanah-tanah di Itali, serta mengadakan
hubungan dengan raja-raja yang baru muncul dari keluarga Carolingian
yang berasal dari suku-suku Barbar ini. Dari keluarga inilah Karel
Agung muncul, yang pada tanggal 25 Desember 800 dimahkotai untuk
mendirikan Kerajaan di Eropa Barat yang telah hilang, dengan nama
Kerajaan Romawi Suci, jadi mengadakan perpecahan politik dengan
Kerajaan Byzantium. Agar dapat mendirikan Kerajaan Baru dengan
dukungan Paus Roma ini, maka Karel Agung menyerang keabsahan
Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur. Dia menuduh Gereja Timur
sebagai "penyembah berhala" karena sikapnya terhadap ikon, serta
menuduh Gereja Timurlah yang menghilangkan "filioque" dari Pengakuan
Iman yang ditambahkan oleh Konsili Toledo (tahun 589) dari Gereja
Barat ini.

Tuduhan-tuduhan ini termaktub dalam buku "Liber Carolini" yang telah


diserahkan lebih dahulu kepada Paus Hadrianus I di Roma oleh Karel
Agung, pada tahun 792. Namun pada tahun 808 Paus Leo III mengadakan
reaksi atas tuduhan Karel Agung terhadap Gereja Timur ini, sehingga
dia membuat Pengakuan Iman Nikea tanpa "filioque" diukirkan pada
suatu lempeng perak dan di letakkan di pintu Gereja Santo Petrus.

Sesudah Konsili tahun 787 itu, perlawanan terhadap ikon berlanjut


terus di Kerajaan Byzantium. Ketika Ratu Irini meninggal pada tahun
802, Kaisar Leo dari Armenia menjadi Kaisar. Pada tahun 812 dia
memerintahkan ikon-ikon supaya dijauhkan tempatnya dari jemaat. Pada
saat Mingu Palem tahun 815 Aghios Theodoros, mengadakan arak-arakan
membawa ikon-ikon di Konstantinopel, namun dicegat oleh tentara
kerajaan , semua orang itu dianiaya dan disiksa serta banyak yang
mati dibunuh.. Hanya pada sat pemerintahan Ratu Theodora pada tahun
843, ikon-ikon betul-betul dikembalikan ke Gereja secara resmi, pada
Minggu Pertama Masa Puasa Catur Dasa, dan disebut
sebagai "Kemenangan Orthodoxia" yang sampai sekarang pada Minggu
Pertama Puasa Catur Dasa ini masih diperingati dan dirayakan dalam
Gereja Orthodox.. Pengembalian Ikon ini disebut "Kemenangan
Orthodoxia" , karena ini menutup lingkaran pembahasan Kristologi
sejak Nikea (325) sampai pada batasnya yang tertuntas.

Pada saat Nikea dituntaskan keyakinan bahwa Yesus itu betul-


betul "Allah sejati yang keluar dari Allah sejati" dan "Satu Dzat
Hakekat dengan Sang Bapa". Konsili kedua (381) menegaskan kesatuan
Keilahian Yesus Kristus ini dengan Bapa dan Roh Kudus, serta Konsili
ketiga ( 431) menegaskan bahwa keilahian tadi tidak hilang ketika
Dia berada dalam rahim Maryam, sehingga Maryam disebut Theotokos.
Sedangkan Konsili Keempat (451) menegaskan sifat hubungan dan
kesatuan antara keilahian dan kemanusiaanNya, dan Konsili Kelima
(553) meneguhkan apa yang dirumuskan oleh Konsili Keempat. Sedangkan
Konsili Keenam menegaskan dan meneguhkan akan sifat kemanusiaan
Kristus yang memiliki kehendak manusia yang sempurna,
sehingga "monothelitisme" ditolak. Integritas kemanusiaan Kristus
itu secara lebih kongkrit dan tak diragukan lagi ditegaskan dalam
Konsili Ketujuh dengan bukti bahwa Dia dapat dilukis dalam Ikon
karena Dia betul-betul menjadi manusia yang nampak dan dapat
dilihat. Demikianlah dalam seluruh Konsili yang tujuh buah
ditegaskan keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dari Kristus yang
satu itu secara tuntas. Dan itulah "inti Iman Kristen Orthodox:".
Oleh karena itu penegasan secara kongkrit dan tuntas dari
kemanusiaan Kristus dalam Ikon itu menutup dan memeteraikan
kebenaran Orhodoxia, sehingga itu disebut "Kemenangan Orthodoxia"
yang telah dibuka dan diawali dengan penegasan secara kongkrit dan
penuh akan keilahian Kristus dalam Konsili Petama.

C. Zaman Penyebaran ke Utara

Masa Pasca-Konsili Ekumenis:


Dari Penginjilan Bangsa Slavia (863) sampai jatuhnya Konstantinopel
(1453) ke Tangan Turki

1. Penginjilan Negara-Negara Eropa Timur (863)

Meskipun usaha Karel Agung untuk memasukkan Kerajaan Byzantium dan


Gereja Timur dalam Kerajaan Romawi Suci yang didirikannya itu tak
berhasil, Paus di Roma makin memaksakan kuasanya kepada seluruh
Gereja di Barat. Paus-paus yang kuat seperti Nikholas I ( 858-867 )
menekan keras semua pengaruh awam dan memusatkan semua kekuasaan
pada hierarkhi Paus. Usaha sentralisasi pada Paus ini dtunjang oleh
dokumen-dokumen palsu "Dekrit Isidorus Dari Seville" dan "Donasi
Konstantinus" yang ternyata karangan kaum Frankish dan Jermanik itu
sendiri, yang menyatakan bahwa Paus di Roma mempunyai kekuasaan
politis atas seluruh wilayah sekitar Roma, sehingga wilayah itu
disebut "negara kepausan"

Sementara itu yang menjadi Patriarkh di Gereja Timur adalah Photius.


Dia mengutus dua orang kakak-beradik (Konstantinus dan Methodius)
berbangsa Yunani: untuk menyebarkan Injil ke Moravia diantara bangsa
Slavia. Mereka tiba disana pada tahun 863, dan mereka telah
menciptakan alfabet Slavia yang berdasarkan alfabet Yunani (sekarang
disebut alfabet Slavonik Lama atau Bulgaria Lama) untuk
menterjemahkan kitab-kitab Gerejawi ke dalam bahasa Slavia ini.
Karena Gereja Orthodox selalu percaya pasa inkarnasi Injil pada
budaya setempat. Misi dari kedua kakak-beradik itu konflik dengan
misi Gereja Barat yang juga ada di Moravia ini. Gereja Barat
memaksakan bahwa hanya bahasa Ibrani, Yunani dan Latin saja yang
boleh digunakan sebagai bahasa keagamaan Gereja. Karena para
misionaris ini dari Gereja Barat kedua kakak-beradik ini melaporkan
situasi tadi ke Paus Hadrianus II (tahun 869), serta mereka
mendapatkan restu atas usaha mereka dari Paus Roma juga.
Konstantinus meninggal pada tahun 869, serta menjadi rahib sebelum
meninggal dengan nama Kyrilos, serta diakui sebagai orang suci
Gereja. Karena itulah alfabet yang mereka ciptakan itu terkenal
dengan nama huruf "Kyrilik" ( "Cyrillic") yang digunakan di banyak
negara-negara Eropa Timur dan Rusia sampai sekarang. Methodius
diangkat menjadi Episkop, dan ketika dia kembali kepada karya
misinya, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh para misionaris Gereeja
Barat tadi dengan pertolongan Raja Louis Orang Jerman. Ketika Paus
Yohanes mengetahui hal itu pada tahun 873, dia menuntut agar
Methodius dibebaskan. Namun ketika Methodius meninggal, semua
karyanya musnah, karena para muridnya banyak yang ditangkap,dibuang
atau dijual sebagai budak oleh kekuasaan negara Romawi Suci
Jermanik, yang benci Byzantium, melalui para rohaniwan Gereja Barat
itu. Sebagian lagi ada yang melarikan diri ke Bulgaria dan terjadi
banyak pertobatan disana. Dan ummat Bulgaria ini akhirnya terkait
dengan Gereja Konstantinopel. Dari Serbia ini usaha misi Gereja
Orthodox di Timur berkembang ke daerah-derah Serbia, serta pada
akhirnya ke Kiev serta Rusia Utara. Inilah sungguh-sungguh masa
gerakan misi yang sangat luar biasa bagi Gereja Timur.

2. Konflik Terbuka Gereja Timur dan Gereja Barat (861-886)

Ketegangan-ketegangan yang sudah kita lihat antara Gereja Timur dan


Gereja Barat ini menjadi konflik terbuka untuk pertama kalinya
antara tahun 861-886. Pada saat itu ada dua partai yang saling
berebut pengaruh di Konstantinopel baik secara politis maupun
gerejawi, yang satu Partai Konservatif dan lainnya Partai Moderat.
Untuk mencapai perdamian dalam Gereja maka Patriarkh Phtoius yang
tadinya orang awam itulah yang dijadikan pemimpin Gereja. Partai
Konservatif yang ekstrim tidak puas akan hal ini, lalu meminta
bantuan Paus di Roma, menggunakan nama baik Ignatius, Patriarkh yang
sekarang sudah pensiun untuk melawan Photius dan pemerintah yang
memilih dia. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Paus Nikholas
untuk ikut campur-tangan pada masalah Gereja Timur ini, karena
perkembangan sentralisai kepausan di Barat itu. Paus Nikholas lalu
mengadakan Konsili di kota Konstantinopel pada tahun 861 untuk
menyelesaikan pertikaian kedua partai itu. Namun ketika para utusan
Paus tiba di Konstantinopel Photius memang Patriarkh yang sah, dan
semuanya diselesaikan dengan damai. Namun ketika para utusan itu
kembali ke Roma, Paus Nikholas tidak mau menerima hasil keputusan
tadi, lalu mengadakan Konsilinya sendiri di kota Roma pada tahun
863, dia memecat Photius serta menyatakan bahwa Ignatius yang sudah
pensiun itu harus jadi Patriarkh yang sah. Namun pernyataannya ini
tak diperdulikan oleh siapapun di Gereja Timur.

Pada tahun 866 dan 867 Gereja Bulgaria sesuai dengan situasi
politiknya kadang-kadang memihak Roma , namun kadang-kadang memihak
Konstantinopel. Pada tahun 867 Photius mengadakan Konsili yang
dihadiri oleh 500 Episkop yang mengutuk Paus Nikholas karena ikut
campur-tangan masalah internal dari Gereja Bulgaria. Namun pada
tahun yang sama itu terjadi suatu perubahan politik di
Konstantinopel, Basilius I menjadi Kaisar dengan membunuh Kaisar
sebelumnya, dan untuk alasan politiknya dia memecat Photius sebagai
Patriarkh dan Ignatius yang pensiun diangkat lagi menggantikannya.
Pada tahun 869 Paus Hadrianius II pengganti Paus Nikholas di Roma,
mengutuk Photius lagi atas masalah Bulgaria. Namun pada tahun 877,
situasi menjadi berubah ketika Photius harus menjadi Patriarkh lagi
karena Ignatius yang saleh itu meninggal dunia. Pada tahun 879 suatu
Konsili yang sangat besar diadakan oleh pimpinan Photius dan utusan
Paus dari Roma juga diundang datang. Dalam Konsili yang dipimpin
oleh Photius ini sendiri, maka dipilah-jelaskan oleh Patriarkh
Photius mengenai kedudukan Paus di Roma dalam hubungannya dengan
Patriarkh dan Gereja Konstantinopel. Serta hal itu diterima oleh
Paus Yohanes VIII yang menjadi Paus yang baru di Roma. Konsili tahun
863 dan 869 yang mengutuk Photius dinyatakan batal dan tak berlaku,
serta dengan tegas diakui bahwa Konsili tahun 787 tentang "ikon"
diakui sebagai Konsili Ketujuh, serta Pengakuan Iman Nikea "tanpa
filioque" diteguhkan kembali.

Photius secara resmi diakui sebagai orang kudus Gereja. Dia adalah
seorang theoloog yang banyak menulis buku, terutama mengenai
masalah "filioque" yang mengajarkan Ke-Esa-an Allah dengan
mengatakan bahwa Roh Kudus itu hanya keluar dari Bapa saja,
sebagaimana Firmanpun diperanakkan dari Sang Bapa yang satu dan yang
sama itu. Dia membela Tradisi Gereja yang otentik dalam menentang
pernytaan diri Paus Nikhloas yang berlebih-lebihan itu, dan akhirnya
menjaga kesatuan dengan Gereja Roma serta Paus Yohanes VIII. Dia
yang mensponsori misi besar-besaran kepada bangsa Salvia.

Abad kesembilan ini secara umum dapat dikatakan sebagai abad yang
sangat penting bagi Gereja Timur. Ini adalah abad kebangkitan di
Gereja Timur, sedang di Gereja Barat ini adalah abad sentralisasi
yang makin bertambah di sekitar diri Paus. Satu-satunya theoloog
yang dapat disebut dari Gereja Barat pada saat ini adalah John
Scotus Erigena (wafat 877)

3. Penginjilan Rusia ( 988)

Menginjak abad kesepuluh kita masih berjumpa dengan kebangkitan ilmu


di Gereja timur, dimana ilmu-ilmu dari para penulis non-Kristus
Yunani itu mulai dipelajari kembali, tiulisan para Bapa Gereja mulai
dikumpulkan, serta "Kisah Hidup Para Orang Kudus" mulai dikompilasi
untuk menjelaskan sisi kharismatis dari pengalaman Gereja dimana
dibuktikan bahwa sepanjang segala zaman Roh Kudus masih berkarya
dengan segala macam mukjizatnya dan pengudusannya seperti yang
nampak dalam kehidupan mereka ini, serta "Lavra Agung" ( Biara
Terbesar di Gunung Athos Yunani) didirikan oleh Aghios Athanasios
dari Gunung Athos (960), Aghios Simeon Neos Theologos menulis sangat
luas dan mendalam mengenai makna pengalaman "Dibaptis dalam Roh
Kudus" serta pengalaman melihat Terang Tak Tercipa serta menyatu
tenggelam dalam Terang tadi yang adalah tenggelam dalam Roh Kudus.
Gereja dan negara Byzantium makin saling merembesi, terutama Gereja
makin mengendalikan masalah-masalah perkawinan dan keluarga

Pada tahun 869 Tsar Boris dari Bulgaria dibaptiskan dengan Kaisar
Mikhael III dari Konstantinopel sebagai " Bapak Baptis" (`Bapa
Selam", "Papa Serani"). Sehingga dengan demikian Gereja Bulgaria
secara kokoh berada dalam persekutuan dengan Gereja Konstantinopel,
terutama pada saat anaknya Tsar Sumeon Gereja Bulgaria makin
berkembang. Pada akhir abad kesembilan suatu sekte Bidat Bogomil,
suatu sekte dualisme yang menolak keilahian Kristus dan Sakramen-
Sakramen Gereja sedang berkembang, namun ditolak Gereja, mereka
berkembang sampai ke Serbia, terutama di Bosnia. Kebanyakan dari
anggota sekte ini menjadi Muslim ketika Turki menguasai daerah
Bosnia.

Pada tahun 988 para bawahan dari penguasa wilayah Kiev dibaptis di
sungai Dnieper dibawah pimpinan Pangeran Vladimir yang Agung, dengan
demikian memulai sejarah Gereja Orthodox di Ukraina dan Rusia.
Valdimir menerima Iman Kristen Orthodox dari Konstantinopel, setelah
mengadakan penyelidikan dari semua agama yang ada, dia menemukan
tidak ada agama yang keindahannya melebihi Kekristenan Orthodox. Dia
dibaptis di Konstantinopel dengan Kaisar Basilius sebagai Bapak
Baptisnya. Akhirnya dia menikah dengan Puteri Anna dari
Konstantinopel, untukmengokohkan pertalian keluarga Kerajaan.
Sesudah baptisannya itu Vladimir mengalami suatu pengalaman
pertobatan yang sungguh-sungguh, sehingga banyak menanamkan prinsip-
prisip Kristen dalam kerajaan yang dipimpinnya, serta dia
mengabarkan Iman Kristen Orthodox kepada seluruh bawahannya. Karena
apa yang dilakukan dan kekudusan hidupnya ini ia telah diakui
sebagai orang kudus Gereja bersama dengan neneknya Putri Olga yang
telah menjadi Kristen sebelumnya, dan banyak mempengaruhi dia dalam
keputusannya untuk menjadi Kristen.

Pada akhir abad kesembilan sampai masuk abad kesepuluh Gereja Barat
mengalami salah satu periode yang paling gelap dalam sejarah.
Gelombang-gelombang baru penyerbuan menghancurkan keamanan
kekaisaran yang diciptkan Karel Agung. Ggereja Barat menderita
dominasi para penguasa-penguasa dari antara kaum awam. Komunikasi
dengan Gereja Timur sama sekali terputus. Namun demikian terjadilah
permulaan gerakan pembaruan di Gereja Barat yang dimulai dari Biara
Cluny di Perancis.

D. Zaman Perpecahan
4. Perpecahan ( Skisma ) Besar (1054): Gereja Barat (Roma Katolik)
Pecah Dengan Gereja Timur ( Orthodox)

Masuk ke dalam abad kesebelas kita temui peristiwa menyedihkan,


yaitu perpecahan besar-besaran antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja
Timur (Konstantinopel). Peristiwa ini dimulai dengan larangan
penggunaan Liturgi Gereja Timur Yunani di Italia Selatan oleh Paus
Roma, serta sebagai balasannya dilaranglah penggunaan Liturgi Gereja
Barat Latin di Konstantinopel oleh Patriarkh. Pada tahun 1053 Paus
di Roma mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk bertemu dengan
Patriarkh yang sedang menjabat: Mikhael Kerularios. Tetapi Patriarkh
tidak mau menerima mereka, karena dia melihat bahwa tujuan
kedatangan mereka mempunyai motivasi politik. Karena lelah menunggu
dan karena jengkel merasa tidak dihormati,, maka kepala rombongan
utusan ini, yaitu: Kardinal Humbert, pada tanggal 16 Juli 1054,
menempatkan dokumen "pengkutukan" ( "anathema" ) dan pengkucilan
terhadap Patriarkh Mikhael Kerularius dan semua yang bersimpati
kepadanya, diatas mezbah (altar) Gereja Aghia Sophia, namun dia
tetap memuji Konstantinopel sebagai "Kota yang Amat Orthodox".
Kutukan ini landasannya karena Gereja Timur tidak
menggunakan "filioque", mengijinkan para Presbyter ("Rohaniwan
Tertahbis") menikah, kesalahan-kesalahan liturgis karena tidak sama
dengan yang dipraktekkan dalam Gereja Latin. Tindakan Kardinal
Humbert ini ditanggapi Patriarkh Mikhael Kerularios dengan
mengadakan Konsili Para Patriarkh dan Episkop-Episkop Gereja Timur
dengan menyatakan "anathema" dan "pengkucilan" terhadap semua yang
bertanggung jawab atas peristiwa "16 Juli 1054". Dia mendaftar semua
yang dianggap penyalah-gunaan Gereja Latin. Sejak saat itu usaha
untuk menyatukan kembali antara Gereja Barat yang kemudian dikenal
sebagai Gereja Roma Katolik dengan Gereja Timur yang tetap disebut
sebagai Gereja Orthodox atau Orthodox Yunani menjadi tak mungkin
lagi. Maka terjadilah skisma (perpecahan) yang permanen sampai
sekarang. Semua usaha untuk persatuan tak satupun membuahkan hasil,
bahkan pengangkatan secara simbolik "anathema tahun 1054" ini yang
dilakukan di zaman modern pada tahun 1966 oleh Paus Paulus VI dari
Gereja Roma Katolik dan Patriarkh Athenagoras dari Gereja Orthodox
itupun tak berdampak apa-apa dalam usaha kesatuan Gereja ini. Gereja
Barat (Roma Katolik) tetap terpisah dari Gereja Timur ( Orthodox)
dan tetap berjalan menurut jalannya sendiri sampai kini.

5. Masa Perang Salib

Dengan hampir kebanyakan daerah Kristen Orthodox di sebelah timur di


kuasai Islam terutama Palestina, maka sulit bagi orang-orang Kristen
di Barat untuk mengadakan ziarah ke Tanah Suci. Maka di Gereja Barat
timbul suatu gerakan untuk merebut Tanah Suci dari tangan musuh.
Maka oleh kotbah-kotbah beberapa pemimpin Gereja di Barat Perang
Salib merebut Tanah Suci itu dimulai pada tahun 1096. Mereka
bergerak maju menuju ke Timur dari Eropa Barat dengan dipimpin Uskup
dan para pastor serta tentara-tentara Katolik Barat. Gerakan ini tak
terpisah dari apa yang terjadi di Gereja Barat. Pada pertengahan
abad kesebelas ini terjadi pembaharuan di Gereja Barat yang berpusat
pada diri Paus. Gerakan ini sering disebut sebagai "Pembaharuan
Gregorian" menggunakan nama dari penggerak utamanya yaitu Paus
Gregorius VII atau Hildebrand.

Tujuan Gerakan ini adalah untuk menegakkan Gereja Katolik Roma kokoh
terpisah dari ketergantungan kepada kekuasaan pemerintah manapun.
Akibatnya, ini makin amat sangat memperluas pernyataan diri Paus di
Roma akan kedudukannya. Sehingga usaha untuk berdamai dengan Gereja
Timur makin sulit. Misalnya pada tahun 1089 untuk mengadakan
hubungan yang baik, Gereja Timur meminta pengakuan iman dari Paus
Urbanus II, dia menolak melakukannya, sebab dia merasa jika
memberikan pengakuan iman itu berarti Uskup Roma dapat dihakimi oleh
orang lain di dalam Gereja. Dan pada saat Perang Salib yang pertama
tahun 1096 itulah kedudukan Paus di Roma sebagai penguasa sudah
mapan sekali. Pada akhirnya para tentara perang salib inilah yang
memeteraikan skisma (perpecahan) diantara dua Gereja ini. Para
pasukan Salib itu merebut Yerusalem pada tahun 1099, serta mengusir
ummat Islam dari situ, namun juga mendirikan suatu Hierarkhi
Kegerajaan Latin, dan mengusir Patriarkh Timur yang sah baik di
Yerusalem maupun di Antiokhia. Sejak saat itu baik di Palestina
maupun di Syria terbentuk suatu Kepatriarkhan Latin Ritus Timur,
sebagai tandingan dari Kepatriarkhan Timur Orthodox yang sah. Kaum
Roma Katolik (Latin) yang menggunakan Ritus Timur, yaitu Tata Ibadah
dan Spiritualitas Gereja Orthodox, baik di Palestina maupun di Syria
itu akhirnya dikenal dengan nama kaum "Melkit" , yaitu nama yang
tadinya digunakan oleh kaum "Monofisit" ( Yakobit) di Syria untuk
menyebut Ummat Kristen Syria Orthodox yang membela rumusan
Kalsedonia. Sehingga sekarang Gereja dari Tradisi Syria ini terbagi
jadi lima bagian, yaitu: Syria-Antiokhia Orthodox (Kalsedonia) yang
tetap bersatu dengan segenap Gereja Orthodox alur utama lainnya dan
meskipun mereka adalah orang Syria asli dan Patriarkhnya yang
sekarang (1997) Ignatius IV adalah orang Syria mereka
disebut "Orthodox Yunani", hasil pemaksaan Hirarkhi Latin pada saat
Perang Salib: Syria-Roma Katolik Ritus Timur : "Maronit"
dan "Melkit" , serta kelompok yang memisahkan diri pada Konsili
Kalsedon Syria-Antiokhia Yakobit ( Monofisit, Oriental Orthodox),
dan Ummat Syria di Persia yang memisah dari Gereja Antiokhia dan
menerima Nestorius sebagai simbol theologi mereka: Syria-Kaldea (
Pre-Kalsedonian) yang disebut Gereja "Nestorian" atau Gereja Persia

Sementara itu di Gereja Barat terjadi pembaharuan-pembaharuan


Cistercian dari Ordo Benediktin ( sekarang terkenal
sebagai "trappist" ). Wakil terbesar dari Gerakan ini adalah Bernard
dari Clairvaux. Dia berkotbah kepada para pasukan Salib dan ikut
berperang bersama Abelard. Gerakan Carthusian dari kebiaraan para
petapa juga terjadi pada zaman ini.

Di daerah-daerah yang diduduki Islam terutama di Syria dan Irak,


orang-orang Kristen setempat ( Monofisit, Nestorian, Orthodox) yang
menjadi kelompok minoritas yang dilindungi (ahlul dzimma) diminta
untuk menterjemahkan karya sastra, dan ilmu-ilmu pengetahuan Kristen
Timur, maupun Yunani klasik dari bahasa Yunani atau terjemahan Syria
ke dalam bahasa Arab, oleh para kalifah Islam. Hal ini terjadi pada
saat pemerintahan Kalifah Al-Ma'mun yang mendirikan Balai Terjemahan
yang disebut sebagai Baitul Hikmat. Terjemahan keilmuan dari Gereja
Timur ke dalam bahasa Arab itu sangat membantu perkembangan keilmuan
dalam Islam. Terjemahan bahasa Arab ini akhirnya juga tersebar
sampai ke kalifahan Islam di Eropa, Cordova, Spanyol. Disana karya
terjemahan bahasa Arab itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin.
Dari situlah orang-orang Kristen Barat yang selama ini terkurung
dalam zaman kegelapan menemukan kembali keilmuan Kristen dari Gereja
Timur melalui Islam, dan dengan demikian membantu bangkitnya
filsafat Skolastikisme di Barat yang berpuncak pada tulisan-tulisan
Thomas Aquinas.

F. Zaman Penjajahan

Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia


(abad 15 s/d abad 19)

1. Orthodoxia di bawah Islam

Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja


Barat yang selalu diharapkan namun tak pernah terbukti itu, akhirnya
dampaknya tak dapat dibendung lagi. Dibawah pimpinan Sultan Muhammad
II, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu
Konstantinopel dan menjebolnya. Konstantinopelpun jatuh ke tangan
Turki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran Byzantium.. Dan
Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya "Istanbul" sampai
saat ini. Gereja Aghia Sophia dijadikan Mesjid. Berturut-turut
Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-60, Bosnia pada tahun
1463 (dimana banyak kaum "Bogomil" yang keluar dari Gereja itu
akhirnya menjadi Muslim), dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh
ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki Muslim
menjajah ummat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan
Byzantium. Inilah masa yang terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox
sebagai masa "Turkokratia" atau masa "Kekuasan Penjajahan Turki".

Pada saat ini Patriarkh Konstantinopel dalam keadaan yang sangat


sulit, karena sekarang harus berada dibawah kekuasaan Penguasa yang
bukan Kristen. Dari waktu ke waktu Sultan yang berbeda-beda
memperlakukan para Patriarkh dengan cara yang berbeda-beda juga.
Sering mereka dipecat dan diganti sekendak Sultan, banyak
diantaranya yang mati digantung tanpa sebab-sebab yang jelas.. Tak
jarang pula Sultan memperjual-belikan kedudukan Patriarkh ini bagi
siapa yang mau membayar paling mahal kepada Sultan. Patriarkh
dijadikan sebagai "Ethnarkh" yaitu pemimpin masyarakat Kristen
Orthodox, yang harus menarik pajak pada ummat Kristen yang ada di
seluruh wilayah Turki. Ummat Kristen Orthodox dilarang menjadi
tentara, namun mereka ditarik pajak untuk hal itu. Mereka tidak
diijinkan menjadi saksi dalam pengadilan, serta tidak diperkenankan
untuk mengajukan orang Muslim ke pengadilan. Mereka dilarang
membangun Gereja yang baru, hanya kadang-kadang dijinkan membangun
Gereja lama yang telah rusak. Mereka dilarang membangun rumah lebih
tinggi dari rumah-rumah kaum Muslimin, dilarang naik kuda yang hanya
diperuntukkan bagi kaum Musliminm saja, mereka hanya boleh naik
keledai saja. Mereka harus mengenakan pakaian dan topi yang berbeda
dari Kaum muslimin.

Dengan berlalunya waktu, anak-anak mereka banyak yang diambil secara


paksa oleh pemerintah untuk di-Islamkan dan dijadikan pasukan
pemerintah yang disebut "Jannisari". Sering mereka menjadi korban
amukan massa tanpa ada perlindungan hukum, gereja-gereja mereka
dirusak, atau rumah-rumah mereka diserbu. Meskipun tidak selalu
terjadi demikian. Ummat Kristen diijinkan murtad ke Islam dan akan
diberi prioritas-prioritas tertentu jika mereka melakukan, namun
ummat Islam diancam hukum mati jika sampai menjadi Kristen. Dan
dalam keadaan semacam ini penginjjilan sangat mustahil dilakukan.
Memang ada disana-sini pertobatan dari Islam ke Iman Kristen
Orthodox, namun segera hal itu ketahuan orang tadi pasti akan
dibunuh. Demikianlah situasi Ummat Kristen Orthodox pada zaman
Turkokratia Muslim ini.

Sesudah kejatuhan Konstantinopel itu hal yang pertama dilakukan oleh


Patriarkh Gennadios Skholarios adalah menolak akta penyatuan
Florence. Dia dibawah tekanan yang kuat dari Agios Markos dari
Efesus dalam tindakannya ini. Aghios Markos adalah pembela yang amat
kokoh dari Iman Orthodox., dan menyebut usaha persatuan di Florence
itu sebagai "penyatuan fasik". Demikianlah kejatuhan Byzantium tidak
berarti kejatuhan Orthodoxia. Biarpun secara manifestasi kesejarahan
Gereja Orthodox mengalami kegoncangan-kegoncangan, namun iman dan
kehidupan Gerejawinya sama sekali tak tersentuh oleh perubahan-
perubahan luar ini. Imannya tetap utuh terlindungi asli dan murni
tanpa ada pengurangan ataupun penambahan, sejak zaman rasul sampai
masa abad keruntuhan Byzantium ini, dan bahkan sampai abad modern
inipun.

2. Kerajaan Rusia Orthodox

Dengan jatuhnya Byzantium ke tangan kaum Muslimin, benih


terbentuknya kekaisaran Rusia mulai berakar di Moskow. Ivan III Yang
Agung (1462-1505), Pangeran dari Moskow, dapat mengalahkan Rusia
utara dan menyatukan dengan daerah Rusia lainnya. Dia menikah dengan
puteri Sophia Paleologos dari Byzantium pada tahun 1472, serta
menerima gelar Tsar ( bentuk bahasa Slavia untuk kata "Kaisar") dan
mengambil alih lambang Garuda Berkepala Dua dari Byzantium, serta
menyebut Moskow sebagai Roma Ketiga , sebagaimana Konstantinopel
disebut sebagai Roma Kedua (Roma Baru).

Di Rusia pada abad kelima belas ini terjadi permasalahan mengenai


peranan Gereja dalam kehidupan politik dan sosial dari bangsa itu.
Kelompok "bukan pemilik" yang dipimpin oleh Aghios Nilus dari Sora (
Nil Sorsky) mengajarkan bahwa Gereja terutama biara tak boleh
memiliki dan menguasai tanah yang luas, serta harus bebas dari
pengaruh dan kendali langsung dari pemerintah, demi semangat
kemiskinan dan kerendahan hati. Sedangkan kelompok "pemilik" yang
dipimpin oleh Aghios Yosef dari Volotsk, sehingga kelompok ini
sering disebut "Yosefit", mengajarkan bahwa Gereja dan negara harus
memiliki hubungan yang erat, dan bahwa Gereja harus melayani
kebutuhan sosial dan politik dari bangsa Rusia yang sedang muncul
ini. Kedua pemimpin ini adalah sama-sama murid dari Aghios Sergius
dari Radonesh. Akhirnya meskipun semangat kaum "bukan pemilik " itu
yang selalu tinggal dalam Orthodoxia di Rusia, namun cara
kaum "pemilik" itulah yang mendominasi kehidupan kegerejaan serta
perkembangan kebangsaan pada abad-abad berikutnya di Rusia.

Sementara itu di Gereja Barat pada abad kelima belas, penolakan pada
kekuasaan Paus makin keras, dalam wujud:
1. Gerakan Konsiliar dimana ada 3 Paus sekaligus pada saat yang
sama.
2.munculnya kesadaran nasional bangsa-bangsa Eropa Barat
3. Munculnya gerakan-gerakan agamawi yang menjadi awal Gerakan
Reformasi Protestan.
4. Munculnya Gerakan Renaissance.

Gerakan Renaissance yaitu bangkitnya ketertarikan pada budaya klasik


Romawi-Yunani.Tokoh-tokoh gerakan ini adalah : Erasmus, Lenardo da
Vinci, Raphael. Juga harus disebut Yohanes Huss yang dibakar hidup-
hidup karena perlawanannya terhadap Paus dan praktek-praktek Gereja
Roma pada tahun 1415. Demikian juga Savonarola-pun dibakar hidup-
hidup oleh perintah paus pada tahun 1498 karena mengecam dan
mengutuk kejahatan dan dosa-dosa dalam Gereja.

3. Gerakan Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Roma Katolik di


Gereja Barat

Masuk ke dalam abad keenam belas di Gereja Barat kita menemukan


Gerakan Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Roma Katolik.
Martin Luther, Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingli menyerang
penyimpangan-penyimpangan praktek Gerreja Roma serta pengajaran-
pengajaran resminya. Pengaruh reformasi di daratan Eropa ini dibawa
ke Inggris sehingga Raja Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan pada
tahun 1534, dan John Knox membawa ajaran Calvinisme ke Skotlandia.

Sebagai reaksinya Gereja Roma Katolik mengadakan Konsili di Trente (


1561-1563) yang secara resmi merumuskan doktrin khas Roma Katolik:
Api Penyucian, Indulgensia, Transubstansiasi, dan posisi-posisi lain
yang diserang Protestantisme. Ajaran Protestan berkisar sekitar:
Pembenaran oleh Iman saja, Keselamatan oleh rahmat saja, serta dasar
iman dan kehidupan hanya Kitab Suci saja. Sakramen hanya dua saja:
Baptisan dan Perjamuan Kudus, yang utamanya dimegerti hanya sebagai
simbol atau kenangan saja. Gereja Katolik Roma lebih menegaskan lagi
Keunggulan Kekuasan Paus serta kekuasaan hierarkhi yang juga sangat
ditentang kelompok Protestan.

Gerakan Kontra-Reformasi Roma Katolik terutama dipimpin oleh


Ignatius dari Loyola yang mendirikan Ordo Yesuit, untuk membela Sri
Paus dan doktrin-doktrin yang telah dirumuskan dalam Konsili Trente,
dengan membantah ajaran Protestantisme sekaligus menarik Ummat
Orthodox untuk menyatu dengan Roma.. Demikian juga Fransiscus
Xaverius menyebarkan ajaran Katolik Roma itu sampai ke Asia (Timur
Jauh). Pada saat ini juga terjadi reformasi spiritual di dalam
Gereja Roma Katolik yang dipimpim oleh Teresa dari Avilla.

Sementara itu Luther ingin mengadakan hubungan dengan Patriarkh


Konstantinopel: Yeremia II. Karena permusuhan yang ada antara
pemerintah Turki dan pemerintah Jerman, surat Luther dan terjemahan
Pengakuan Augsburg ke dalam bahasa Yunani, baru sampai kepada
Patriarkh Yeremia di Konstantinopel dua tahun kemudian, ketika
Luther sudah meninggal. Namun korespondensi dilanjutkan antara
Patriarkh Yeremia II dengan pakar theologia Lutheran: Melanchton,
Osiander dan beberapa orang yang lain Korespondensi itu cukup lama
dan panjang, namun akhirnya Patriarkh Yeremia meminta agar para
pakar theologia Lutheran itu menghentikan saja korespondensi itu,
karena ketika diingatkan oleh Patriarkh Yeremia bahwa beberapa ide
dari Lutheranisme itu bersifat bidaah dan tak sesuai dengan Iman
Rasuliah Orthodox yang Katolik yang tetap dipertahankan oleh Gereja
Orthodox itu, mereka tetap mempertahankan diri. Maka
korespondensipun berhenti sampai disitu. ..

4. Masa Pemerintahan "Ivan Yang Mengerikan" di Rusia

Ivan Yang Mengerikan memerintah Rusia dengan tangan besi. Dia dengan
kejam menyiksa siapa saja yang berani mengecam atau mengkritik
tindakannya, termasuk diantaranya banyak rohaniwan Gereja yang
menjadi korban kekejamannya. Dia ingin membuktikan bahwa Rusia
adalah sungguh Roma Ketiga dan berada diatas negera-negara Orthodox
yang lain. Bapak rohaninya sendiri Presbyter Sylvester dibuang dalam
tawanan olehnya. Ketika Ivan yang mengerikan ini turun takhta maka
dia digantikan oleh anaknya: Theodoros. Pada saat inilah Patriarkh
dari Konstantinopel Yeremia II mengunjungi Rusia untuk meminta
bantuan karena kondisi tekanan yang dialami Gereja Konstantinopel
dibawah Turki. Pada saat kedatangannya inilah Episkop Ayub dari
Moskow Patriarkh segenap Rusia pada tahun 1589. Kedudukan Rusia
sebagai Gereja Patriarkhat diakui oleh Patriarkh Alexandria,
Patriakh Antiokia dan Patriarkh Yerusalem pada tahun 1593. Sementara
itu di perbatasan sebelah barat Rusia Kerajaan Polandia-Lithuania
mulai berdiri dan mengambil banyak wilayah Rusia. Sehingga penduduk
di daerah itu kebanyakan beragama Kristen Orthodox. Sedangkan
pemerintahannya sendiri beragama Katolik Roma. Kaum Yesuit datang
ketempat itu dengan membawa ilmu-ilmu dari Barat sehingga akibatnya
terjadilah apa yang disebut sebagai Persatuan Brest-Litovsk dengan
menggunakan persyaratan-persyaratan Konsili Florence sebagai
landasannya. Ummat Orthodox yang masuk dalam persatuan dengan Roma
ini boleh menggunakan cara ibadah dan tradisi Orthodox namun
hierarkhinya dan ajarannya sama sekali harus tunduk pada Gereja
Latin di Roma. Mereka inilah yang akhirnya dikenal sebagai
Gereja "Katolik Timur", yaitu Gereja Roma Katolik yang menggunakan
Ritus dari Gereja Orthodox Timur, disamping itu mereka juga disebut
sebagai kaum "Uniat". Gerakan uniatisme ini tentu saja mendapat
perlawanan sengit dari banyak orang. Perlawanan ini datangnya dari
kaum awam yang membentuk lembaga persaudaraan yang mendapat restu
dari Patriarkh Yeremia dari Konstantinopel untuk membela Iman
Katolik yang Orthodox melawan usaha Gereja Roma Katolik ini.

Disamping kesulitan yang dihadapi oleh Gereja Orthodox dari pihak


Roma Katolik, ummat Orthodox juga menghadapi kesulitan dari Islam,
dimana banyak ummat Orthodox yang menjadi martyr bagi mereka yang
hidup di wilayah Islam.

5. Masa-Masa Sulit di Rusia

a. Skisma Kaum Percaya Lama


Memasuki abad ketujuh belas Tsar Polandia yang baru saja dinobatkan
menyerbu Rusia ketika Rusia baru saja kehilangan pemimpinnya karena
meninggal. Banyak pemimpin Rusia ditawan dan dibunuh oleh pemerintah
Polandia, termasuk Patriarkh Germogen.

Kesulitan ini diikuti dengan Skisma Kaum Percaya Lama di Rusia


sebelah Utara. Patriarkh Nikon dari Moskow ingin mengadakan
keseragaman dalam praktek-praktek Liturgis Gereja Rusia agar seirama
dengan seluruh Gereja Orthodox yang lain, Dia ingin mengkoreksi
ulang terjemahan-terjemahan buku-buku Liturgis yang ada. Dia juga
ingin mengkoreksi cara orang Orthodox Rusia selama ini membuat tanda
salib dengan dua jari: ibu jari dan telunjuk saja, harus dengan tiga
jari: ibu jari, telunjuk dan jari tengah, dan hal-hal serupa itu
yang lain. Menurut ukuran kita saat ini, perubahan semacam itu hanya
kecil saja artinya, namun dalam mentalitas bangsa Rusia waktu itu,
menyeragamkan praktek Rusia dengan praktek dari wilayah-wilayah
Patriarkh yang lain, berarti menyangkal kedudukan Rusia
sebagai "Roma Ketiga" karena harus tunduk pada patriarkh-patriarkh
lain yang hidup dalam jajahan Islam, sehingga pembaruan yang
sifatnya kecil itu menjadi ledakan besar. Usaha untuk mencari jalan
tengah tidak berhasil, sehingga mereka yang menentang pembaharuan
Nikon ini memisahkan diri dari Gereja Resmi, dan tetap
mempertahankan praktek-praktek ritual lama Gereja Rusia, sehingga
mereka disebut "Kaum Percaya Lama" atau "Kaum Ritualis Lama" . Nikon
sendiri dipecat dan dipenjara Kaisar karena berani mengingatkan
kesalahan Kaisar di depan umum, sedangkan pemimpin "Kaum Percaya
Lama" dihukum mati oleh Kaisar. Teori Moskow sebagai Roma Ketiga,
serta teori keunggulan Rusia atas Patriarkh-patriakh yang lainpun
digugurkan. Pada tahun 1682 Kaisar Petrus yang Agung sangat ingin
menyeragamkan praktek-praktek Gereja Rusia dengan Gereja Barat,
namun untung ada Kaum Percaya Lama yang mempertahankan praktek-
praktek Gereja Orthodox Rusia secara murni, kalau tidak ada mereka,
telah musnahlah ciri khas Gereja Rusia.

b. Gereja Orthodox Dalam Tawanan Pemikiran Barat ("Pseudomorphosis")

Pada saat ini Seminari theologia di Kiev didirikan. Banyak pengaruh


metode dan sistimatik skolastikisme pemikiran Barat mempengaruhi
Rusia pada saat ini akibat karya orang-orang Yesuit.. Sementara itu
di wilayah Islam, para pemimpin Orthodox tidak mempunyai kesempatan
memperkembangkan pemikiran theologisnya, karena mereka tak diijinkan
keluar dari daerah mereka ataupun membuat sekolah theologia mereka
sendiri. Sehingga masa ini Gereja Orhodox mengalami apa yang
disebut " Tawanan Pikiran Barat" atau "Pseudomorphosis " selama dua
ratus tahun. Artinya Gereja Orthodox tidak dapat berpijak pada
theologia Orthodox yang otentik.

Untuk melawan Katolik mereka menggunakan argumentasi Protestan,


misalnya : Patriarkh Kyrillos Lukaris dari Konstantinopel yang
sangat Calvinist, sehingga ajarannya ditolak Gereja sebelum dia
meninggal ditenggelamkan pemerintah Turki ke dalam laut, serta
Petrus dari Moghila yang untuk melawan Protestantisme menggunakan
argumentasi Roma Katolik. Pada saat ini pemerintah Turki
menghapuskan kemandirian Gereja-Gereja Orthodox yang lain dan
dipaksa tunduk kepada kepatriarkhan Konstantinopel di Turki agar
mudah pengawasannya.
Eropa baru saja pulih dari kekacauan agama akibat reformasi-kontra
reformasi. Amerika sudah ditemukan dan banyak pengikut aliran baru
akibat Reformasi Protestan mulai bertempat tinggal disana: Baptis,
Quaker, Puritan, Konggregasionalis, dan lain-lain. Perpecahan dalam
denominasi-denominasi terus terjadi dalam tubuh Protestantisme.

6. Masa pemerintahan Petrus Yang Agung di Rusia

a. Di wilayah Turki

Ummat Orthodox yang ada di wilayah Islam pada abad kedelapan belas
mengalami banyak sekali kesulitan. Sehingga dalam waktu 73 tahun di
abad ini tahta kepatriarkhan Konstantinopel digantikan oleh
patriarkh-patriarkh sebanyak 48 kali. Ini menunjukkan kondisi yang
mengenaskan dari ummat Kristen yang hidup dibawah pemerintahan
Turki. Ini adalah saat yang paling pekat bagi ummat Kristen
Orthodox. Namun ditengah situasi seperti ini tak berarti Gereja tak
memiliki viatalitas dan kebenaranian untukl bersaksi. Muncullah
Aghios Kosmas Aitolos seorang misionari yang sangat berani ditengah
situasi yang hampir mustahil itu. Dia meninggalkan biaranya di
Gunung Athos untuk mengajar Injil kepada ummat yang sedang teraniaya
itu. Dia adalah pengkhotbah dan guru serta pelaku mukjizat. Akhirnya
apa yang dilakukan itu harus ditebus dengan nyawanya sendiri dengan
dibunuh sebagai martyr di tangan orang-orang Turki. Aghios Makarios
dari Korintus adalah pengkotbah dan missionari sekaligus, yang
diangkat menjadi Episkop di Korintus. Dia mentobatkan banyak orang
yang sedang dalam tekanan pemerintah yang memusuhi agama mereka itu.
Aghios Nikodemas dari Gunung Athos, adalah orang yang bertanggung-
jawab bagi kebangunan rohani diantara ummat Orthodox ditengah-tengah
jajahan Turki itu.

b. Situasi di Rusia: Sinode Suci yang Memerintah

Masa dalam "Tawanan Pikiran Barat" yang sangat skolastis itu masih
mendominasi Rusia, terutama dalam diri Tsar Petrus yang Agung. Dia
ingin membuat Gereja Orthodox Rusia itu menjadi seperti Gereja
Lutheran di Jerman, sehingga dia memecat Patriarkh serta membubarkan
sistim kepatriarkhan dan menggantikannya dengan sistim synode, yang
disebutnya : Synode Suci yang memerintah[b], yang dirancang oleh [b]
Theophan Prokopovich yang sangat Pro-Protestan. Synode Suci ini
terdiri dari dari para Episkop,. Para Presbyter, serta orang-orang
awam yang ditunjuk oleh Kaisar dan harus tunduk kepada Kaisar
sebagai pimpinan duniawinya. Ini adalah masa yang paling sulit bagi
Gereja Rusia. Sistim "Synode Suci" yang sangat tidak Orthodox ini
baru dibubarkan pada tahun 1918 (terlalu terlambat karena Revolusi
Bolshevik sudah terjadi dan pemerintah Komunis sudah berkuasa)
ketika seorang Patriarkh dipilih lagi untuk Gereja Rusia. Orang yang
ditunjuk oleh Petrus Yang Agung menjadi pemimpin pertama dari Synode
Suci ini adalah Stefan Iavorskii, yang sangat Pro-Roma Katolik.
Itulah sebabnya ummat Orthodox baik yang dibawah Islam atau di Rusia
terbagi menjadi Pro-Roma atau Pro-Protestan, dan harus membela salah
satu dari kedua posisi yang asing dari Tradisi Theologia Orthodox
sendiri itu. Tradisi Gereja Orthodox yang hidup hampir tak dikenal
oleh situasi sejarah yang demikian ini. Orthodoxia betul-betul
sedang dalam "Tawanan Pikiran Barat" dan theologinya betul-betul
sedang mengalami "Pseudomorphosis" ("Perubahan Bentuk yang Palsu").
Namun suatu gerakan pembaharuan rohani yang otentik Orthodox sudah
mulai juga pada abad yang dekaden bagi Gereja Orthodox ini. Ini
mulai dengan ditemukannya lagi untuk pertama kali sumber tradisional
Iman dan spiritualitas Orthodox diantara lingkungan kaum rahib.
Paisii Velikovskii (wafat 1794) , seorang rahib dari Moldavia, pergi
ke Gunung Athos, dan pulang membawa kitab "Philokalia" , yaitu
kumpulan tulisan-tulisan spiritual dan theologis dari para Bapa
Gereja Timur, yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Rusia. Dari
sinilah secara pelan-pelan pemikiran yang otentik Orthodox mulai
ditemukan kembali oleh Gereja. Pimpinan Gereja Rusia yang terkenal
pada abad kedelapan belas ini Platon dari Moskow , pengarang banyak
buku theologia, pendukung studi kesejarahan, serta perancang rencana
yang membuat kembalinya Kaum Percaya Lama bersekutu dengan Gereja
Orthodox.

Pada abad keselapan belas ini missionari Rusia mulai menyebarang


Siberia ke Alaska, terutama Aghios Herman yang mentobatkan suku-suku
Eskimo di Kutub Utara kepada Iman Kristen Orthodox, yang tetap
menjadi iman mereka sampai kini.

c. Gereja Barat

Abad kedelapan belas adalah abad kebangunan rohani dan perluasan


misi bagi Gereja Barat. Yohanes Wesley memulai Gerakan Methodisme di
Inggris, dan dibawanya ke Amerika sampai mempengaruhi "Kebangunan
Besar" di Amerika, yang merobohkan tembok-tembok pemisah diantara
kaum Protestan, dan menjadi sumber theologia Evangelikal (Injili)
nantinya. Jonathan Edwards (wafat.1758) dan George Whitefield (wafat
1770) pemimpin dai Gerakan Kebangunan Rohani Protestan ini. Namun
pada saat ini juga semangat pencerahan dan romantisisme juga telah
masuk ke dalam masyarakat Barat yang akan menjadi sumber bagi
theologia liberal dalam kalangan ummat Protestan dan juga Katolik
Roma. David Hume, Immanuel Kant, dan Frederich Schleimacher muncul
pada saat ini pula Gereja Roma Katolik pada abad kedelapan belas
mengalami gerakan misioner yang amat besar namun juga konflik dengan
semangat pencerahan.

7. Kebangunan Rohani dan Gerakan Misi Gereja Orthodox Rusia

a. Kebangunan Rohani

Masuk kedalam abad kesembilan belas, kita masih menjumpai Gereja


Rusia tetap dibawah tekanan pemerintah dengan Synode Suci yang
dipaksakan ke dalam Gereja Orthodox itu. Inilah penyebab kelumpuhan
Gereja sehingga tak mampu menghadapi Komunisme ketika itu muncul di
Rusia, serta salah satu penyebab kejatuhan Rusia ke tangan Komunis
nantinya. . Gereja sangat dikendalikan dan disensor dengan ketat
oleh pemerintah, dimana Patriarkh tak dimilikinya, konsili-konsili
Gereja tak pernah dilakukannya. Namun benih kebangunan rohani yang
sudah mulai ditanamkan pada abad ke delapan belas itu mulai
menghasilkan buah pada abad kesembilan belas ini. Pada saat ini
muncullah seorang tokoh luar biasa Aghios Serafim dari Sarov ( wafat
1833). Dia adalah seorang rahib yang selama 20 tahun tinggal
tersembunyi dalam hutan tenggelam dalam doa yang mendalam (terutama
Doa Yesus), puasa, dan disiplin-disiplin rohani. Pada tahun 1825 dia
keluar dari pertapaannya, dan disitulah kebangunan rohani di mulai.
Ribuan orang datang untuk dijamah olehnya, dan ribuan orang
disembuhkan. Dia mengetahui masalah orang sebelum diberi tahu.
Disaksikan oleh muridnya: Motovilov, badannya mengeluarkan sinar
terang yang menyilaukan seperti yang terjadi ketika Yesus dimuliakan
diatas gunung. Ini meneguhkan kembali apa yang telah dibela oleh
Aghios Gregorius Palamas mengenai "Pengalaman Energi Ilahi" yang
telah dinyatakan sebagai bagian dari ajaran resmi Gereja Orthodox.
Aghios Serafim mengajarkan bahwa tujuan hidup Kristen adalah untuk
mendapatkan Roh Kudus dan tenggelam di dalamnya, dan kalau Tuhan
karuniakan sampai mengalami "Terang Tak Tercipta" seperti yang
dialaminya itu. Disamping Aghios Serafim dari Sarov, tokoh
pembaharuan dan kebangunan rohani Orthodox di Rusia adalah para
tetua rohani dari Pertapaan Kerahiban Optina.

Kebangunan rohani dalam Gereja Orthodox selalu terkait dengan


kehidupan penyangkalan diri dan praketk Doa Batin: Doa Yesus. Yang
terkait dengan hal ini adalah pengalaman-pengalaman energi ilahi
dalam mukjizat-mukjizat, kesembuhan-kesembuhan, karunia pembeda-
bedaan roh, karunia pemberitahuan hal sebelum terjadi dan terutama
munculnya para "tetua rohani" yang memiliki karunia mengetahui isi
hati seseorang ( "staretz" "yeronda") , serta pengudusan kehidupan.
Tokoh lain dalam gerakan kebangunan rohani Orthodox pada saat ini
adalah: Episkop-Rahib Ignatii Brianchaninoff (wafat 1867) serta
Theophan Sang Penyendiri (wafat 1867) yang menulis masalah-masalah
rohani yang berjilid-jilid banyaknya. Juga munculnya suatu buku
populaer mengenai "Doa Yesus" oleh seorang penulis Rusia yang tak
dikenal namanya : "Jalan Si Pengembara" (Di Indonesia telah
diterjemahkan oleh Gereja Roma Katolik dari Yayasan Kanisius, dengan
judul "Doa Tak Kunjung Putus").

Tokoh lain dari masa kebangunan rohani abad kesembilan belas di


Rusia ini adalah seorang presbyter yang menikah : Romo Yohanes
Sergieff dari Kronstadt ( wafat.1908). Dengan isterinya sendiri dia
membuat rumahnya sebagai pertapaan, mereka berdua telah berjanji
untuk hidup sebagai rahib dan rahibah dan mengubah kehidupan rumah
tangga mereka menjadi kehidupan untuk Kristus. Romo Yohanes ini
sangat terkenal sebagai seorang gembala Gereja. Dia
berkhotbah.mengajar, dan menyembuhkan banyak orang melalui doa-
doanya. Dia menekankan perlunya ambil bagian dalam Perjamuan Kudus
sesering mungkin, serta mengikuti Sakramen Pengakuan Dosa sesering
mungkin.Buku bimbingan rohaninya yang amat terkenal
adalah : "Hidupku di dalam Kristus" .

Disamping di bidang rohani, di bidang theologipun Gereja Orthodox


pada abad kesembilan belas ini mengalami kebangunan. Tokoh-tokoh
kebangunan theologia pada saat ini adalah Metropolitan Filaret dari
Moskow ( wafat 1867), serta pakar theologia awam : Alexei Khomiakov
(wafat 1860) yang karya-karya tulisnya - misalnya buku yang
terkenal "Gereja Adalah Satu" - aslinya tidak diterbitkan di Rusia
karena sensor pemerintah. Dia adalah salah satu dari tokoh-tokoh
pemikir original yang menemukan kembali sumber otentik theologia
Orthodox dari Iman Konsiliar dan Para Bapa Gereja Purba, serta
Kehidupan Sakramental Gereja, dan melepaskan Theologia Orthodox
dari "Tawanan Pemikiran Barat" yang berlandaskan pada kategori
theologia Agustinian dan metode Skolastikisme, baik yang Roma
Katolik ( sebagaimana yang dijabarkan oleh Thomas Aquinas) maupun
yang Protestan ( sebagaimana yang dijabarkan oleh Luther dan Calvin,
yang metode dan kategori pemikirannya menjadi pijakan semua bentuk
aliran dan theologia Protestan selanjutnya ). Sejak saat itu sampai
kini Gereja Orthodox telah menemukan kembali jati dirinya dan
berpijak kembali kepada Ajaran Rasuliah yang Orthodox dan Katolik
dari Gereja Purba, dan lepas dari "Tawanan Pemikiran Barat" dan dari
penampakan palsu "Pseudomorphosis" itu.

b. Gerakan Misi

Banyak orang Kristen Non-Orthodox menuduh Gereja Orthodox tidak


pernah mengadakan misi keluar, dan hanya terkungkung dalam
faham "mistik" dalam lingkup dirinya sendiri saja. Entah apa pula
yang dimaksud mereka dengan "mistik" Gereja Orthodox ini. Namun
mengenai tuduhan Gereja Orthodox tak pernah melakukan misi itu
hanyalah karena ketidak-tahuan sejarah Gereja Orthodox sejak zaman
Purba, zaman Konsili pertama oleh Ulfilas, pertobatan Eropa Timur
dan Rusia, bahkan ditengah-tengah tekanan Islam, serta karya Gereja
Rusia yang sedang kita bahas ini. Sebagaimana di Gereja Barat, abad
kesembilan belas di Rusia adalah juga abad kegiatan misioner.
Presbyter Makarii Glukharev (wafat 1847) mendedikasikan dirinya bagi
penginjilan suku-suku di Siberia. Dosen awam, Nikolai Ilminskii (
wafat 1891) menterjemahkan Alkitab dan buku-buku Gereja ke dalam
bahasa suku-suku ini. Akademi Theologia yang didirikan di Kazan
menjadi pusat kegiatan misioner dari Gereja Rusia. Pada saat ini,
Episkop Nikolas Kasatkin dari Tokyo (wafat 1912) mentobatkan beribu-
ribu orang Jepang kepada Iman Orthodox, dan pada saat meninggalnya,
dia telah meninggalkan suatu gereja lokal yang mandiri ( sekarang
Katedralnya "Nikolai-Do" ada di Tokyo), dengan Kitab Suci dan buku-
buku Gereja dalam bahasa setempat dengan presbyter-presbyter orang-
orang setempat. Aghios Herman yang telah kita sebutkan besama Romo
Yohanes Veniaminoff juga mengabarkan Injil kepada suku Eskimo: Aleut
dan meinggalkan orang-orang Eskimo mayoritasnya adalah pemeluk Iman
Orthodox sampai kini. Pada saat ini pula banyak ummat Orthodox yang
pindah dari tanah asli mereka untuk tinggal di negara-negara yang
lebih bebas, terutama Amerika Serikat, Australia, Eropa Barat,
Amerika Latin dan New Zealand. Mereka inilah yang akan menjadi
penggerak misi Gereja Orthodox pada abad kedua puluh nanti.

c. Masa Turkokratia Berakhir

Secara theologia selama dua ratus tahun Gereja Orthodox


dalam "Tawanan Pikiran Barat" dan akhirnya dapat melepaskan diri
pada abad kesembilan belas. Demikian pula masa Turkokratia selama
empat ratus tahun itu berakhir pula pada abad kesembilan belas ini.
Pada abad ini sejumlah besar ummat Orthodox dapat merebut
kemerdekaan mereka dari jajahan Turki Muslim. Perjuangan kemerdekaan
Yunani pada tahun 1821 menyebabkan Patriarkh Gregorius dari
Konstantinopel mati digantung pemerintah Turki. Sesudah Yunani
merdeka menjadi negara mandiri, maka status mandiri dari Gereja
Yunani diproklamasikan pada tahun 1833, dan diteguhkan oleh
Konstantinopel pada tahun 1850. Sekolah theologia Halki di
Konstantinopel didirikan, yang darinya, Theologia Otentik Orthodox
disebarkan dan diajarkan kembali, seta banyak para pemimpin Orthodox
dihasilkan oleh sekolah ini. Namun pada tahun 1970an ditutup lagi
oleh pemerintah Turki sampai sekarang belum boleh dibuka. Gereja
umania dan Srrbia serta Bulgariapun memperoleh status mendiri pada
saat ini.

d. Gereja Barat

Pada abad kesembilan belas kita menemukan Protestantisme sedang


mengalami konflik antara aliran theologia liberal dan Neo-Orthodoxy
dengan kaum Konservatif, Evangelikal dan Fundamentalis. Sedangkan
dalam Gereja Roma Katolik, pada awal abad ini dicanangkan Dogma Roma
Katolik "Maria Terkandung Tanpa Dosa Asal" oleh Paus Pius IX, tahun
1854. Sedangkan pada tahun 1870, Konsili Vatikan I, menegaskan
doktrin "Paus Tak dapat Salah" , suatu doktrin yang makin menjauhkan
Gereja Roma Katolik dari Gereja Orthodox. Pada tahun 1848 menanggapi
sindiran-sindiran Paus Pius IX yang ditujukan kepada Gereja Orthodox
termasuk kedua doktrin baru yang dicanangkan oleh Gereja Roma
Katolik, namun yang tak dapat diterima oleh Gereja Orthodox itu,
maka para Patriarkh dari Timur mengeluarkan Surat Edaran yang
menegaskan Sifat Konsiliar dari Gereja Orthodox.

G. Zaman Modern ( Abad 20-21)

Gereja Orthodox Masakini

a. Situasi Gereja Orthodox dalam Diaspora

Ada banyak hal terjadi selama abad kedua puluh dalam Gereja
Orthodox. Terutama perpindahan ummat Orthodox dari negera asli
masing-masing ke daerah-daerah yang telah kita sebutkan diatas.
Sehingga terbentuk kelompok-kelompok ummat Orthodox yang berkumpul
atas dasar kebangsaan. Dan mereka ini loyal kepada patriarkhat asal
mereka masing-masing, sehingga terbnentuklah yurisdiksi-yurisdiksi
yang bermacam-macam sesuai dengan asal negara mereka. Situasi ini
sangat tidak sesuai dengan hukum Kanon. Namun di Amerika untuk
mengatasi kekacauan yuridiksi ini diadakan persekutuan para Episkop
Orthodox yang disebut "SCOBA" untuk pada akhirnya nanti membentuk
satu Gereja Othodox Amerika. Keepiskopan Orthodox Yunani, membentuk
suatu " Pusat Misi Orthodox" yang sekarang telah menjadi milik
bersama dari semua Gereja Orthodox yang ada di Amerika. Gereja di
Yunani juga telah memiliki beberapa badan misi, dan yang terutama
adalah "Apotosliki Diakonia" ( Pelayanan Apostolik) yang juga
merupakan badan misi Gereja Orthodox.

Pada tahun 1917 Rusia jatuh ke tangan Komunis, dan beribu-ribu


pemimpin Orthodox yang dibunuh, dipenjarakan atau dibuang. Berjuta-
juta ummat Orthodox mati dianiaya oleh propaganda atheisme di Rusia
dan Eropa Timur. Namun pada tahun 1988 ketika Presiden Mikhael
Gorbachev mencanangkan glasnots dan peretroiska, komunisme runtuh
dan Gereja mengalami kebangkitan dan vitalitas kembali di Rusia.

Pada tahun 1920 Patriarkh Ekumenis mengeluarkan Surat Edaran untuk


segenap ummat Kristen mengadakan kerjasama. Dari situlah Gereja
Orthodox akhirnya bersama Gereja-Gereja Protestan membentuk Dewan
Gereja �Gereja seDunia.

b. Misi Gereja Orthodox

1. Di Benua Afrika

Pada tahun 1960 ada sekelompok orang Kristen kulit hitam Afrika yang
membentuk suatu denominasi baru yang disebut "Gereja Orthodox
Afrika." Dengan berlalunya waktu mereka mengetahui bahwa Gereja
Orthodox yang sebenarnya itu masih ada di Alexandria. Lalu mereka
menemui Patriarkh Alexandria Kalsedon ( bukan Koptik ) dan
menginginkan untuk menggabung dengan Gereja Orthodox. Dari permulaan
awal inilah, sampai sekarang misi Gereja Orthodox mengalami kemajuan
pesat di Uganda, Kenya, Tanzania, Kameroon, dan banyak daerah Afrika
lainnya termasuk Afrika Selatan. Dua orang Episkop Orthodox Kulit
Hitam telah ditahbiskan sejak saat itu, dan presbyter-presbyter
adalah orang lokal dengan liturgi dalam bahasa lokal.

2. Amerika, Eropa dan Inggris

Perkembangan Gereja Orthodox di wilayah barat ini, tak lepas dari


kehadiran ummat Orthodox Diaspora yang ada di negara-negara itu.
Namun baru mulai mengalami kemajuan pesat ketika 2000 orang mantan
pendeta Injili beserta ummatnya menemukan kembali Iman Orthodox itu,
sehingga banyak orang-orang Barat non-etnik Orthodox dari segala
macam latar-belakang yang sekarang mencari Gereja Orthodox dan
dengan giat menyebarkan Iman Orthodox disitu. Tokoh-tokoh terkenal
Gerakan ini adalah :Peter Gilquist, Gordon Walker dan lain-lain di
Amerika, Sedangkan di Eropa dan Inggris tokoh terkenal terutama
adalah :Michael Harper, seorang mantan Imam Gereja Anglikan dan
tokoh Kharismatik Internasional.

3. Asia

Gereja Orthodox Jepang sudah kita singgung sejarahnya. Gereja


Orthodox Korea, pada mulanya adalah misi Gereja Rusia juga, namun
ketika Rusia berperang dengan Jeang dan Jepang dikuasai Korea, semua
milik Gereja Orthodox disita pemerintah Jepang. Ketika Korea merdeka
milik Jepang jadi milik pemerintah Korea. Banyak ummat Orthodox yang
meninggalkan Gereja, namun masih ada sedikit yang bertahan. Ketika
Perang Korea Utara dan Selatan tahun 1950an, tentara perdamaian PBB
dikirim ke Korea. Diantara mereka adalah tentara Yunani. Ummat
Orthodox Korea yang masih sisa itu mendekati pasukan Yunani
inimenceritakan keadaan mereka. Hal itu dilaporkan ke Yunani, dan
sejak saat itu Gereja Orthodox Korea berada dalam wilayah Patriarkh
Konstantinopel sampai sekarang. India disamping memiliki Gereja
Syria Monofisit (Oriental Orthodox) di sebelah Barat pantai India,
juga memiliki Misi yang dilakukan oleh Gereja Orthodox Kalsedonia di
daerah Kalkuta. Ini juga berada di bawah Konstantinopel Demikian
juga Gereja Orthodox Filipina. Untuk tujuan perkembangan misi di
Asia, Patriarkh Konstantinopel`membagi Keepiskopan Agung Australia
menjadi dua: Keepiskopan Agung New Zealand untuk Asia Pasifik dan
Keepiskopan Agung Australia sendiri untuk benua Australia.

4. Indonesia

Sudah kita sebutkan bahwa Gereja Timur dari Persia (Nestorian -


Assyrian) telah hadir di Indonesia pada abad ketujuh di Pancur dan
Barus. Sejak zaman Belanda dan terutama pada tahun 1950an terdapat
pula Gereja Timur, meskipun itu adalah Gereja Orthodox Oriental
Armenia di Jakarta, namun dari anggota-anggotanya di dalamnya
terdapat juga orang-orang Yunani. Mereka memiliki Gereja di Jalan
Thamrin sekarang dan telah dibongkar menjadi Bank Indonesia pada
tahun 1960an ketika zaman penerintahan Orde Lama., dan di Surabaya
di Jalan Pacar 6, yang telah dibeli oleh komunitas Kristen
Protestan, etnis Tionghoa.. Namun ketika terjadi pemberontakan G-30-
S (RRC- CINA)banyak mereka ini yang meninggalkan Indonesia pindah ke
negara lain, dan sejak saat itu komunitas Armenia ini tak ada lagi
di Indonesia.

Mon Jan 7, 2008 10:41 pm

Show Message Option

View Source
Use Fixed Width Font
Unwrap Lines

"agussyafie" <agussyafie@...>
agussyafie
Offline
Send Email

Forward Message #67 of 70 < Prev | Next >

Expand Messages AuthorSort by Date


Sejarah Gereja Mula - mula (Ortodox) Sejak Abad Pertama : Zaman Rasu
Sejarah Gereja Mula - mula (Ortodox) Sejak Abad Pertama : Zaman
Rasul-rasul Sampai Kini A. Zaman Purba Masa Pembentukan: Tiga Abad
yang pertama : dari Yesus... agussyafie
Jan 7, 2008
10:41 pm

< Prev Topic | Next Topic >

Message # Search: Advanced

SPONSOR RESULTS
Bible Studies For Growth
www.preachit.org - Hope and Strength for your church - Lessons To Inspire
and Revive.

King James Version Childrens Bibles


www.thekjvstore.com - Find Story, Study and Gift Bibles for young
believers. Always KJV.

Copyright � 2008 Yahoo! Inc. All rights reserved.


Privacy Policy - Terms of Service - Copyright Policy - Guidelines - Help