Anda di halaman 1dari 29

INDONESIAN ISLAMIC UNIVERSITY MERAPI ERUPTION EMERGENCY RESPONSE REPORT

Written by: Adhie Hutama Habiebie Adityawan Sigit Astri Sulastri Prasasti Aziz Imam Mustika Meutia Syafrina Rachma Soesatyo Budi Kurniawan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

INDONESIAN ISLAMIC UNIVERSITY MERAPI ERUPTION EMERGENCY RESPONSE REPORT I. ABSTRACT With in 100 years period of time, 2010 Merapi eruption is the worst since 1870. Affected more than 800 people in Sleman, Magelang, Klaten and Boyolali, kills 386 people, causes over than 5 billion rupiah loss (BNPB, 2010, www.bnpb.go.id) Erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan erupsi terburuk sejak tahun 1870 atau dalam kurun waktu 100 tahun, erupsi ini berdampak langsung pada masyarakat dan lingkungan yang ada di empat kabupaten yaitu Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali dengan kerugian mencapai 5,3 triliun rupah dengan menelan korban 386 jiwa dan sebanyak lebih dari 400 jiwa mengungsi(BNPB, 2010, www.bnpb.go.id). 69 times Merapi have been exploded since 1548, with shallow eruption in every 2-3 years, and 5-7 years period of massive stratovulcan eruption characteristic. What was occurred, Merapi massive explotion on 5th November 2010 between 25th October and 7th November 2010 eruption was an outlayer characters which it should be. Have Merapi type of eruption with only short time of explotion, with primary hazard of explotions follow by piroplactic deposit boost and secondary hazard of lahar (nuee Ardente)(Wahyono,2002) Sejak tahun 1548 gunung Merapi sudah meletus sabanyak 69 kali dengan karakter letusan kecil terjadi sekitar 2-3 tahun dan letusan besar terjadi sekitar 5-7 tahun Periode letusan yang cukup lama terjadi antara tanggal 25 Oktober-7 November 2010 dengan letusan utama yang terjadi pada tanggal 5 November 2010 merupakan perilaku yang tidak biasa dari ciri letusan gunung Merapi. Letusan gunungapi Merapi memiliki karaketer letusan khas yaitu type Merapi dengan ciri letusan pendek dengan ancaman bahaya primer berupa letusan yang disertai dengan hamburan piroklastik (piroclastic

Deposits), aliran lava dan luncuran awan panas, sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulksn oleh aliran material lepas gunung api yang bercampur dengan air hujan yang turun dengan konsentrasi tinggi yang disebut dengan aliran lahar (nuee Ardente) (Wahyono, 2002). Merapi risk reduction which is part of disaster management cycle develop in order of Prevention (1), Mitigation (2), Peparation (3), Emergency Response(4), Recovery (5) and Reconstruction (6). Conduct with dynamic, intergrated and sutainability as written in government regulation of Perpenmendagri No. 26/2008 about guidliness of Working Regulation of District Disaster Response Body (BPBD), base on it District Government has authority on disaster responses implementation. Pengurangan resiko bencana gunung Merapi dilakukan sesuai dengan tahapan (1) Pencegahan, (2) Mitigasi, (3) Persiapan, (4) Tanggap Darurat, (5) Recovery dan (6) Rekonstrusi dilakukan melalui proses yang dinamis, terpadu serta berkesinambungan. Sesuai dengan Permendagri No. 26/2008 tentang Pedoman Organisasi serta Tata Kerja Badan Penangunlangan Bencana Daerah (BPBD) melegslasikan penanggulangan bencana Gunung Merapi kepada pemerintah daerah. But DIY provice just esthablished BPBD on March 2011 after big occasion of Merapi eruption on 2011, with out neglecting casualities of Merapi victims during Merapi emergency response, synergy among stakeholder on facing massive scale of Merapi eruption should be come a reference action to develop Merapi disaster risk reduction management plan in the future. Akan tetapi untuk propinsi DIY, BPBD baru terbentuk pada bulan Maret 2011 setelah terjadinya erupsi besar Merapi ditahun 2010, Tanpa menafikan timbulnya korban manusia pada penanganan tanggap darurat Merapi kali ini, synergy yang dilakukan dalam melakukan pengurangan resiko bencana Merapi dengan skala luar biasa menjadikannya sebagai pembelajaran yang sangat penting sebagai dasar pengembangan manajemen pengurangan resiko bencana Merapi di masa datang.

DIY province response on conducting appropriate action base on BPPTK information just one day before first explotion on 26th October 2010 reduce amount of Merapi victim casualities, evacuation conduted to save communities who lives in radius of 5km and 10km. Civil society and educational institution participation become DIY province social capitalization to overcome Merapi massive eruption and as factors on sucesfull 2010 Merapi emergency response. Kesiapan pemerintah pemerintah DIY dalam merespon informasi BPPTK sehingga tepat satu hari sebelum letusan pertama tanggal 26 Oktober 2010 telah melakukan evakuasi masyarakat yang ada di KRB I dan II, peran masyarakat sipil dan institusi pendidikan di DIY menjadi kekuatan dalam menghadapi perubahan besarnya skala bencana Gunung Merapi yang terjadi pada Oktober-November 2010 merupakan salah satu factor yang menjadi pendukung kegiatan tanggap bencana Merapi.

II. ACKNOWLEDGE As an archipelago, Indonesia lay on top of pacific subduction trench with 129 active volcanoes and more over 500 non-actives volcanoes (Kaswanda, 1992). Mount of Merapi is one of the most active volcanoes. The biggest massive eruption happened on 1870 known as mahapralaya legend which forced Syailendra dynasty to moved it capital and evacuate it citizen out from kedu area. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berada pada lempeng subdusksi pasifik dengan 129 buah gunungapi aktif dan 500 buah gunungapi non aktif (Kaswanda, 1992). Salah satu gunungapi yang paling aktif adalah gunung Merapi. Erupsi terbesar yang terjadi pada tahun 1870 dikenal sebagai terjadinya mahapralaya yang pada saat itu menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan dinasty Syailendra yang berada di dataran Kedu harus dipindahkan. Eruption material create fertile soil layer to support farming activity in slope of Merapi (Lupiyanto, 2005). With beautifull scenery also, trigger Merapi area as high

density neighborhood, as cluster of several activities in close range from peak of Merapi mountain increase vunerebility index of that area and treaten furiously by Merapi hazard. Erupsi Merapi menjadikan daya dukung lahan pertanian di kawasan Merapi sangatlah tinggi (Lupiyanto, 2005), menjadikan kawasan yang subur untuk pertanian dengan tingkat hunian padat dan merupakan pusat berbagai macam kegiatan sehingga akibat dari ancaman primer serta sekunder sangat berbahaya bagi kawsan tersebut sehingga besar kerugian yang ditimbulkan merupakan akumulasi dari kerugian fisik maupun psikologis. Casualities and lossed can not avoided. Losing lifes, injuries, facilities destruction and paralyze of economic actifity are cost that Merapy community has to suffer with. Highlighted of Merapi Periodic hazard that occasionally treaten their lives, DIY community inisiate synergy among stakeholder to decrease vulnerability and increase community awareness to develop risk reduction concept. Kerugian berupa hilangnya nyawa manusia, korban luka-luka, hancurnya sarana prasarana fisik serta kegiatan ekonomi merupakan beban yang harus diterima masyarakat lereng Merapi. Besarnya beban kerugian serta luasnya dampak yang harus ditanggung secara periodik membuat masyarkat DIY melakukan synergy dalam mereduksi kerentanan yang ada dan mengembangkan konsep pengurangan resiko bencana dengan mengembangkan rencana aksi penanggulangan bencana erupsi Merapi. DIY provice open mind birocracy, synergy with empthy and kinship character of Yogyakarta people develop mutual coordination during Merapi emergency response in fiel, intensive support come from various community level create social support to Merapi displacement people. Those situations emerge sense of being loved, noticed, taken care, trsuted by others (Taylor, 2000) psicologicly hold up burden on their sjoulder. Others community and family supports became an exposure of trigger factor increasing Merapi people spirit to recover.

Dengan keterbukaan pemerintah DIY serta karakter kepedulian, kesetikawanan dan gotong royong masyarakat sipil menimbulkan synergy yang memudahkan dalam melakukan kegiatan tanggap bencana erupsi Merapi, dukungan berbagai pihak dalam mekakukan kegiatan tanggap bencana erupsi merapi sangat luar biasa, adanya social support menumbuhakan perasaan diperhatikan, dicintai, dihargai dan sipercayai oleh orang lain (Taylor 2000) secara psikologis mengurangi beban para korban erupsi Merapi, adanya dukungan antar masyarakat meningkatkan exposure trigger factor korban merapi untuk kembali pulih. During Merapi emergency responsein DIY, among stakeholder facilitate by Yogyakarta Disaster Risk Reduction Forum (http://fprb.wordpress.com) have coordinated intensively divided into several cluster such as health, watsan, shelter, logistic and information). Coordination focused on program strategic implementation during emergency response, conduct advocacy and also prepare guidelines for recovery phase. Selama melakukan kegiatan tanggap bencana erupsi Merapi penggiat kegiatan yang bersal dari masyarakat sipil, institusi akademik dan pemerintah melakukan koordinasi melaluai Forum Pengurangan Resiko Bencana yang ada di DIY (http://fprb.wordpress.com) yang melakukan koordinasi lintas cluster, tiap cluster terdiri atas masyarakat umum, lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat serta lembaga pergguruan tinggi. Kegiatan koordinasi dilakukan secara intesif antara cluster (health,watsan,shelter,logistic and information) pada masa tanggap darurat untuk menyiapkan mekanisme strategi dilapangan serta menyiapkan advokasi pelaksanaan fase recovery untuk bencana Merapi. III. COMMUNITY BASED MERAPI ERUPTION EMERGENCY RESPONSE. In five years period since 2004, numerous massive disasater occure, spread to severeal diverences Indonesian area. Aceh Earthquake on 26th December 2004 is the highest earthquake occure since 1883, followed by tsunami wave swop away every material along westcoast of Aceh Barat until Lhokseumawe at the eastcoast of Aceh Timur for more than 4000km.

Dalam periode lima tahun sejak 2004 beberapa kejadian kebencanaan dengan skala luar biasa terjadi di berbagai daerah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Gempa NAD yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan gempa terbesar sejak gempa yang diakibatkan letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, gempa NAD disertai gelambang tsunami yang menghantam semenanjung pantai Aceh Barat sampai Lhokseumawe yang berada di timur, besarnya skala bencana tersebut menyebabkan casualties yang ditimbulkan melumpuhkan seluruh elemen kehidupan yang ada di wilyah tersebut. Only in short periodic of time, on 24th May 2006 earthquake strucked DIY caused a lot of casualilties and kill more tahan 8000 people, Eathquake struck when people in DIY conduct disaster preparedness of Merapi eruption risk reduction. Among those massive disaster numbers of disaster casused by nature and man made also happened in lowest scale. What was happened increase government, NGO and community awareness> Learnt from the past coordination and synergy needed develop scenario to overcome and conduct disaster risk reduction. Tidak lama setelah gempa NAD pada 24 Mei 2006 gempa tektonik menghantam DIY menimbulkan banyak korban jiwa di wilayah kabupaten Bantul, pada saat gempa terjadi wilyah DIY sedang melakukan persiapan tanggap bencana Merapi, diatara dua kejadian kebencanaan dengan skala yang cukup besar tersebut, terjadi juga beberapa bencana alam dengan skala yang lebih rendah. Beragam bencana yang datang secara tiba-tiba dengan berbagai macam skala, serta intensitasnya menyadarkan berbagai pihak bahwa dibutuhkan synergy setiap elemen yang ada untuk melakukan persipan serta koordinasi untuk meningkatakan awareness dan melakukan kegiatan pengurangan resiko bencana. Indonesian government officially develop regulation to assist disaster response by arising government law Undang-undang No. 24 tahun 2007 as disaster response platform. Follow by establish authorization body as government representation in disaster response implementation.

Pemerintah menyiapkan mekanisme resmi yang memberi panduan penanganan kebencanaan dengan menerbitkan Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana disertai dengan dibentuknya badan-badan yang bertanggung jawab dalam penyelanggaraan kegiaatang tanggap bencana serta menyipakan relawan-relawan terlatih yang diintergrasikan melalui masyarakat dan untuk meningkatakan awareness dalam masyarakat itu sendiri. Refer on disaster regulation threre are components to support disaster resposes system, which are: 1. Law and Regulation, 2. Organization, 3. Planning, 4. Implementation, 5. Funding and 6. Teknologi Development.This components as tool to rise increasing capacity of integrated stake holder and community.As result of this strategy along with increase of community awareness there are many of community members establish disaster organization. On 2007, several organization inisaite to esthablish a coordination under a form of facilitating forum. Yogyakarta Merapi Disasater Risk Reduction Forum (FPRB) forms as a web collaborate elements and organization whch focused on Merapi response implementation. Pengutatan terhadap kegiatan tanggap bencana diintegrasikan pemerintah bersama lembaga swadaya masyarakat, selain penguatan dilakukan langsung dengan memberikan pelatiahan tanggap bencana hingga level kecamatan, pemeritah mengitegrasikan kegiatan tanggap bencana kedalam pelatihan terhadapi institusi pendidikan dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan meningkatnya kepekaan masyarakat terhadap bencana menggerakan banyaknya kelompok masyarakat penggiat kegiatan pengurangan resiko bencana. Pada tahun 2007 di wilayah DIY berbagai organisasi serta komunitas menginisasi terbentuknya forum pengurangan resiko bencana Merapi. Denga adanya forum ini penguatan jejaring dilakukan untuk menghubungkan masyarakat kepada organisasi-organisasi yang memilki fokus pengurangan resiko bencana Merapi. Merapi activity survailance conduct by Volcano Survailance & Tenology Development (BPPTK). On 20th October 2010 Merapi status increase from normal active into

green alert in a day status change into yellow alert, along with multi phase and volcanic earthquake Merapi condition increase into red alert. It means communities who lives in 10km radius have to evacuate. Red Alert status was set on 25th October 2010 just a day before first explotion. On 26th October Merapi erupted, piroclastic Deposits and lava fill Boyong, Gendol and Putih riverbanks stream more than it used to be. Perubahan status gunung Merapi yang diberikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekonologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta setiap saat sebgai dasar dalam melakukan kegiatan tanggap bencana erupsi merapi semenjak tanggal 20 September 2010. Pada saat itu status gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari normal aktif menjadi waspada, pada tanggal 21 Oktober 2010 statusnya meningkat menjadi siaga, seiring dengan meningkatnya gempa multiphase dan gempa vulkanik status Merapi berubah menjadi awas maka masyarakat yang berada didalam radius 10 km kawasan rawan bencana dievakuasi ke barak-barak pengungsian pada tanggal 25 Oktober 2010, pada tanggal 26 Oktober 2010 terjadi erupsi besar yang pertama disertai dengan lontaran debu dan material vulkanik. Awan panas dan alihan lahar bergerak legih jauh mengikuti aliran sungai yang ada.
N 10 km free zone E

Apu I, 1954 Apu II, 1956

5 km
Woro 1904,2010

1939 1961 1942 1900 1939 1939 Tlising 1943 1968 1954 1942 1939 1933 1934,1975 1983 1970 1972 1973 1957 1975 1984 Lamat 1967 1942 Boyong Senowo 1930 1967 1967 1973 1994 1930 1969 1961,2010 Putih 2010 Blongkeng W 1930,2010 1910,1930 Bebeng Batang 1953,1969 1961

1913,2010 Opak

Gendol 2010

S a)
Opak

Yogyakarta Merapi Disasater Risk Reduction Forum (FPRB) facilitate coodination among govenment, NGO, education institution and communities to overcome Merapi eruption since 2010.Intension of community action become social capital as a civil society streng to actively support government implementation in Meapi response.

Dalam melakukan kegiatan tanggap bencana Merapi maka sejak 21 Oktober 2010 forum pengurangan bencana Merapi memfasilitasi koordinasi kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah, NGO, institusi pendidikan serta kelompok-kelompok masyarakat pemerhati Merapi, dengan berbagai kapasitasnya peran kelompok masyarakat dengan berbagai kapasitasanya melakukan dukungan pada kegitan tanggap bencana Merapi yang dilakukan oleh pemerintah daerah DIY, peran kelompokkolompok masyarakat sebagai kekuatan dari sebuah karakter social capital yang dimiliki merupakan sebuah modal ketahanan masyarakat yang sangat mendukung kegiatan pemerintah daerah DIY dalam melakukan kegiatan tanggap bencana Merapi.

IV. EDUCATION ISNTITUTION IN MERAPI EMERGENCY RESPONSE DIY province have strong education culture, Indonesian education concept was stated in Yogyakarta, UII as an oldest university was born and emerge also in this city and being part of organization and technology component of disaster response systems. DIY merupakan daerah yang kental dengan kultur pendidikan, konsep pendidkan Indonesia dicetuskan dikota ini, Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai universitas tertua di Indonesia berdiri dan berkembang di Yogyakarta Indonesian Islamic University (UII) intensively related with Merapi community lives, with its ecucation activity center located in Merapi slopes, UII become members of Merapi community. UII realize Merapi characteristic and capitalize it as environmental advantage to develop local curriculum transform into strong Master of Earthquake Engineering Departmentin 2006. Universitas Islam Indonesia (UII) sangat lekat dengan kehidupan masyarakat lereng merapi, dengan pusat kegiatan pendidikan yang ada di lereng Merapi secara langsung menjadi masyarkat Merapi itu sendiri. UII yang juga merupakan anggota dari masyarakat pendidikan menyadari karakter yang sangat khas dari gunung Merapi sebagai salah satu sumber indigious knowledge masyarakat Merapi. Potensi tersebut

dikembangkan oleh UII dengan mengadakan pendidikan Master of Earthquake Engineering pada tahun 2006. As education institution UII along with Merapi community develop and assist villages arround Merapi to conduct disaster risk reduction. With it capacities UII accelerated it resources to assist Merapi communities. Invaolved integrated and spcificaly inside management cycles of Meapi risk reduction. Sebagai institusi pendidikan UII bersama masyarakat Merapi dalam peningkatan potensi serta pengurangan ancaman Merapi dengan melakukan pendampingan terhadap desa-desa di sekitar Merapi. Dengan mengoptimalkan kapasitas yang dimilki baik resourece of knowledge maupun resource of organization. UII mendampingi masyarakat Merapi secara spesifik dan terintegrasi dalam setiap fase manajemen kebencanaan tanggap bencana Merapi.

Merapi disaster risk reduction management implemented base on volcanic status stated by BPPTK, it levels devided into: active normal, green alert, yellow alert and red alert. Merapi emergency response concuct during green alert status to red alert

level.Merapi emergency response lead by UII Perduli Merapi, as an organization which appointed by University. UII Peduli Merapi leads several department and students organzations such as Mapala, MERU, HEART, PP3E to assist Merapi communities. They also conduct reconnaissance as a basic information to conduct emergency response. Those groups will increase their assitanship along with the level of Merapi Manajemen tanggap bencana gunung berapi dilakukan berdasar status kegunung apian yang ditetapkan oleh BPPTK, berdasarkan tingkat aktifitas vulkaniknya Merapi terbagi berdasarkan beberapa fase yaitu: aktif normal, waspada, siaga dan awas. Kegiatan tanggap darurat diawali sejak fase waspada hingga awas, UII telah melakukan koordinasi kegiatan tanggap bencana dan melalui program KKN, mahasiwa UII beserta organisasi kemahasiswaan yang ada didalamnya seperti Mapala, MERU, HEART telah mendampingi masyarakat di desanya masing-masing dalam mempersiapkan pengurangan ancaman dari erupsi Merapi serta melakukan reconnaissance untuk perencanaan kegiatan tanggap darurat. Seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik UII melakukan response sesuai dengan status yang ditetpakan oleh BPPTK berupa pendampingan secara melekat dilakukan oleh elemen kemahasiwaan UII pada setiap tingkatan status Merapi With University arrangement and coordination, UII volunteer whit it specific ability responsible to implemented activities on Merapi emergency response, there responses are: Dengan koordinasi yang dilakukan oleh pihak Universitas peran dan tanggung jawab dilakukan berdasarkan kemampuan spesifik antar lembaga, kegiatan yang dilakukan dalam response bencana Merapi: A. DISASTER PREPARADNESS Merapi communities are rely on gift of Mount Merapi, eventhough they know that Merapi will erupt in a periodic of time, but it not a normal daily activities in practice. To improve community awareness during pre-disaster UII trough out community development organization implementing risk reduction training.

Gunung Merapi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat lereng Merapi, walaupun masyarakat mengetahui bahwa Merapi memiliki karakter letusan periodik akan tetapi untuk hal tersebut bukanlah kondisi normal yang dapat dilakukan secara spontan. Untuk itu diperlukan kesiapan dalam menghadapinya, terutama pada saat Merapi telah memberikan tanda-tanda peningkatan aktifitas melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat UII menaungi kegiatan beberapa fakultas untuk melakukan penguatan mental dan spriritual, pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan, serta pelatihan evakuasi. UII aware that Merapi has potential periodic hazard, as an educational institution develop Merapi Management Cycles Format UII memahami bahwa keunikan karakter ancaman merapi memiliki potensi ancaman periodik, sebagai institusi pendidikan selain mengembangkan pola manajemen penanganan Merapi, dengan format

MERAPI
2. GPS TECHNOLOGY DEVELOPING : 1.For detected for SIMPLE TSUNAMI RESEARCH land movement, coordination & discuss with BMG, EARLY WARNING : Because DIY PREPAREDNESS earthquake& EMSG, etc : FTIshore, makes USGS usual happen at , FMIPA & people 4. FTSP GOVERNMENT ASSISTACE panic for tsunami strike : 3. MAKES MODUL Engineering consultant services FTI , FMIPA & FTSP 2. FOREMAN for DISASTER TRAINING 1. QUAKE RESISTANT CURRICULUM: for HOUSES SD,SMP,SMA

IMPACT

EMERGENCY REPONSE
1. EVACUATION : MAPALA 2. FIRST AID : Medical Faculty 3. DONATION COLLECTOR: IKA-UII, LAZIS, 5. Students Association ACCOUNTANT : Economic Faculty, for counting aid donation and 4. PUBLIC KITCHEN : KM universityAssociation & Student resources RECOVERY Lecturers wife 1. PSICOLOGIST : Psicology Faculty 2. SPIRITUAL : FIAI, Takmir Ulil 3. BUILDING SAFETY ASSESMENT : FTSP & CEEDEDS UII

MITIGATION

SOCIALIZATION : for houses 4. MRK MTS UII- Diknas - LN 3. MAKES UII SAR TEAM developer,construction consultant, 2. GOVERNMENT ADVISOR: (Search and Rescue) 1. EARTHQUAKE INTRODUCTION STM, do effective SATKORLAK for and civil worker HowPEOPLES : wisata kampus for Comprehensive team from all elements PREVENTION disaster kegempaan CEEDEDS UII, rapid response : IKA-UII, FH, LPM, Student KKN LPM, LKBH

1. URBAN SUBURBAN rePLANNING : FTSP 2. MAKES ECONOMIC (micro & macro) DEVELOPMENT CONCEPT : Economic Faculty 3. CARES MOVEMENT for STUDENT VICTIM : Parent in law, one lecturer one children (student)

DEVELOPMENT

4. GIVES SCHOLARSHIP for STUDENT VICTIM : Gradual grade depend on student family damage

Being part of disaster strategic of management. UII delegate it authority into form of UII Peduli merapi to takes several action and planning implemented Merapi response activity. Sebagai bagian dari strategi manajemen kebencanaan tanggap bencana merapi maka Universitas Islam Indonesia mendelegasikan kewenangan untuk mengoptimalkan resoureces yang dimilki oleh universitas kepada sebuah badan yang bernama UII Perduli Merapi. B. SEARCH AND RESCUE When volcanic earthquake increase and its level stated into Red Alert on 25th October 2010, communities who lives in 10km radius being told to evacuate and shold stayed in IDP camp. There are four IDP camps which are located in Hargobonangun, Wukirsari, Kepuhadjo and Glagahardjo. Under government law, SAR coordianatioan lead by Indonesian Arm Forces, SAR Mapala Unisi as a members also deploy its team to help Merapi communitiesand evacuted them in to pointed IDP camp supported by UII transportation fleet such as trucks and buses. Teams consist of doctors and terapis to conduct first aid resonses. Pada saat gempa vulkanik meningkat dan statusnya ditetapkan menjadi awas pada tanggal 25 Oktober 2010, masyarakat yang berada pada radius 10 km dari puncak Merapi diperingatkan untuk segera menuju barak-barak pengungsian yang dibagi menjadi empat titik, yaitu Hargobinangun, Wukirsari, Kepuharjo, dan Glagaharja. Sedangkan UII yang juga menjadi bagian di dalamnya melakukan berbagai upaya berupa penyediaan alat transportasi untuk evakuasi, serta menyiapkan tim-tim untuk pertolongan pertama dan pendampingan psikologis.
R = 5 km
< 25/10/201 Raman <10 km

R = 10 km R =15 km R = 20 km
> 3/11/201 Raman 15 km Klaten

Turi Tempel Sleman Sayegan Godean Ngaglik Pakem

Wukirsari

> 26/10/201 Raman 10 km

2 3

Argomulyo Ngemplak

UII

> 5/11/201 Raman 20 km Prambanan

4
Yogyakarta

Stadion Mg

First eruption occurs on 26th October 2010. Under Indonesian army direction UII deploy MAPALA UNISI SAR team to help communities which are left behind, communities sent to pointed IDP camp. Letusan pertama terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010, dengan koordinasi dengan ABRI, pihak UII menurunkan tim SAR MAPALA UNISI untuk melakukan pencarian serta pertolongan terhadap masyarakat yang belum sempat mengungsi dan kemudian dipusatkan pada barak-barak pengungsian yang ada. SAR Coordination Line
ABRI (Indonesian Army)

SAR MAPALA UNISI

C. HEALTH & PSICOLOGICAL HEALING During Merapi eruption there are primary hazard and secondary hazard casuses casualities and illness, Merapi specific casualities is skin burning and internal repiratory acute syndrome.UII sent TBMM rescue teams consist of doctors, medical students. Is a quick reponse team mobile to reponse emergency call from IDP camp, this team also built temporary health services. Injured people who need intensive treatment will sent to severeal Hospital in Yogyakarta. Pada saat letusan, Merapi memilki acaman bahaya primer dan sekunder yang menyebakan korban luka-luka serta ancaman penyakit khas Merapi yaitu ISPA. Guna menangani korban-korban yang ada dilapangan, UII menurunkan sejumlah tim Dokter

serta mahasiswa dari fakultas kedokteran yang disatukan dalam tim rescue, TBMM. Selain mendirikan posko TBBM juga melakukan reaksi cepat ke setiap lokasi pengungsian. Bagi korban yang memerlukan perawatan intensif maka segera dilarikan ke beberapa Rumah Sakit yang menjadi pusat penanggulangan korban yaitu RS Panti Nugroho, RS Papih dan RSUP Sardjito.

Medical Coordination Line:

DEKANAT

LEM

TBMM FK

DOSEN

STAFF

STUDENT

DEWAN BENCANA

TriAse

Psycologi Coordination Chart

LEM FPSB UII

DEKAN FPSB UII

FIELD CORD.

LOGISTICC ORD.

CORD.

D. IDP CAMP SET UP There are four official IDP camp prepared by government, those four barrack usefull on previous Merapi emergency response. But when hazzard stream has extend it distance, Merpi communities has to move into several backup IDP cam which inisiate by communities. Many of UII families live arroun Merapi neighborhoods. UII has facilities spread out in Yoyakarta area which out of danger zone initially prepared to support UII families whom became displacement people, eventually those facilities was became perfect IDP camp as a back up for every displacement people

UII Guest House

UII Complex UII Cik Di Tiro UII Economic

UII FIAI

Terdapat 4 barak yang telah biasa digunakan pemerintah dalam melakukan tanggap bencana Merapi pada tahun-tahun sebelumnya, dengan meningkatnya intensitas Merapi kali ini pihak UII telah melakukan persiapan dengan membuka beberapa fasilitasnya sebagai lokasi IDP Camp cadangan. Facilities prepared by UII as IDP camp and Logistic warehouse are Sport Hall UII (r=20), Student Dormintory(r=20), Economi Faculty (r=25) dan Pondok Pesantren UII (r=30). Dengan memanfaatkan sebaran fasilitas yang dimiliki memungkinkan IDP Camp meresponse status terburuk dari gunung Merapi digunakan adalah Sport Hall UII (r=20), Student Dormintory(r=20), Economi Faculty (r=25) dan Pondok Pesantren UII (r=30).

UII KALIIURANG

UII ECONOMIC UII CIK DI TIRO PESANTREN UII

UII TAMSIS

IDPs camp manage by UII volunteer comes from student, lectures and staff. Their commitment to serves Merapi displacement people during emergency response. Pengelolaan barak dilakukan sepenuhnya oleh relawan UII baik mahasiswa, dosen maupun karyawan untuk melakukan koordinasi pelayanan terhadap pengungsi.

E. LOGISTIC & WAREHOUSE With more over than 400.000 displacement peoples, preparing daily needs supply daily is an urgent. UII modified Economic Departement Facilities and Cik Di Tiro Head Office as logistic warehouse, donation collected arrange into order then distribute to needed IDPs Dengan jumlah pengungsi yang mencapai 400.000 orang ketersedian supply kebutuhan harian sangat penting untuk itu pihak UII menyiapkan Fakultas Ekonomi dan Kampus Pusat UII Cik Di Tiro sebagai lokasi pengumpulan serta penyimpanan sumbangan bantuan Merapi, sarana tranportasi juga disiapkan untuk melakukan distribusi bantuan ke barak pengungsian yang dikelola oleh UII serta membutuhkan. lokasi-lokasi lain yang

Need of Just in Time and clear accountability prisip hold tighly by economics students whom manage warehouse process on those sites, donation distributed only if approved by verification team. Most of daily supplies deliver not only IDPs camp at Yogyakarta but sepread to Cangkringan Barat, Balerante, Pakem, Srumbung, Gunung Pring, Ketep, Selo, Babadan Atas dan Cagkringan Timur. Dalam melakukan koordinasi supply logistic, prinsip just in time serta akuntabilitas menjadi hal utama, untuk mendukung hal tersebut selain didukung oleh pengembangan sistem administrasi diturunkan pula tim verifikasi ke lapangan, distribusi dilakukan oleh tim berdasarkan pemesanan dan hasil verifikasi tersebut. Untuk menampung barang-barang bantuan yang masuk UII mempersiapkan warehouse (gudang) yang bertempat di Fakultas Ekonomi. Barang-barang yang masuk ke Fakultas Ekonomi didata dan kemudian didistribusikan ke daerah-daerah yang memerlukan bantuan. Sasaran wilayah untuk mendistribusikan barang-barang bantuan adalah Cangkringan barat, Balerante, Pakem, Srumbung, Gunung Pring, Ketep, Selo, Babadan Atas dan Cangkringan Timur.
STRUKTUR KEPENGURUSAN FE UII IE CHAIRMAN FMIE FE UII

TREASURY

SECRETARY

JARKOM DIVISION

EMREST DIVISION

PSICOSOCIAL DIVISION

LIFELIHOOD DIVISION

Notes:

FE UII: IE: FMIE FE UII:

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (Economic Faculty) Jurusan Ilmu Ekonomi (Economic Science Department) Forum Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (Himpunan Mahasiswa Jurusan)

JARKOM: EMREST:

Communication & Information Emergency Response Team

F. ENVIRONMENT & ECONOMIC PRE-RECOVERY


S0 22/9/2010 : Normal 23/9/2010: Waspada 21/10/2010: Siaga Di rumah masing2 S1(25/10/2010) Status : Awas Rsafe = 10 km Mulai mengungsi di Barak-I (pertama) S2 (26/10/2010) Status : Awas R aman = 10 km Mengungsi ke Wukirsari, Barak-II S3 (3/11/2010) Status : Awas R aman = 15 km Barak Wukirsari, blm sempat pindah

S0(.................) Status : Normal R aman = ....... km Rumah masing2, selesai Rebab/Rek.

S6 (17/12/2010) Status : Waspada R aman = 12.km Rumah masing2, Shelter Wukirsari.

S5 (3/12/2010) Status : Siaga R aman = 15 km Barak Pengungsian, Wukirsari/Argom.

S4 (5/11/2010) Status : Awas R aman = 20 km Posko Stadion Maguwoharjo.

After main explaotiaon on 25th November 2010 Merapi level decrasing gradually, preparation conduct before communities return to their home, with debris cover up almost everythings and animal corps create illness to return communities. Dengan menurunnya semakin menurunnya aktivitas vulkanik gunung Merapi beberapa kegiatan dilakukan untuk mempersiapkan kembalinya masyarakat ke rumah mereka yaitu dengan melakukan pembersihan lingkungan serta fasilitas yang tertutup abu vulkanik.

Many of them cannot return to their home, besided lost their house some area still trathen by lahar stream and area in 5km radius was stated as a forbidden area. Communities moved from IDPs camp into T-Shelter, to generate commuities economic cycles UII assist on community capacity building in microfinance. This acivity help trauma healling Tidak semua masyarakat dapat kembali ke rumah mereka lagi selain disebabkan rusak atau hilanngya rumah mereka diakibatkan oleh terjangan awan panas dan lahar dingin, ditetepkannya kawasan radius 5km sebagai kawasn terlarang menyebabkan masyarakat harus tinggal di rumah-rumah penampungan sementara untuk waktu yang cukup lama. Agar masyarakat dapat kembali melakukan kegiatan ekonominya pihak UII melakukan pendampingan peningkatan usaha kecil. Dengan memanfaatkan potensi alam yang diperoleh dari erupsi Merapi itu sendiri. Proses peningkatan kapasitas serta ketrampilan ini selai berusaha untuk kembali menggiatkan kegiatan perekonomian juga sangat membantu proses trauma healing serta menurunkan stress pengungi. Sehingga pada saar proses pemulihan dilakukan para penyitas sudah memilki modal tambahan untuk melakukan kegiatan tersebut

V. OUTPUT 1. Merapi displacement people have propper & quick treatment. 2. Minimize ammount of losess and life casulities 3. Merapi community recieve appropriate psycological suport and covered with basic need supplies. 4. Merapi displacement people welfare has enough support during emergency response. 5. Donation distribute systematically with clear coordination line.

1. Korban Merapi mendapat penanganan secara cepat dan tepat. 2. Mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang lebih besar. 3. Memberikan bantuan moral dan materiil bagi korban bencana. 4. Mendukung kelangsungan dan kesejahteraan hidup korban bencana, selama masa kebencanaan hingga pasca bencana. 5. Penanganan dan pemberian bantuan kepada korban menjadi lebih terstruktur dan tersistematisasi.

V. OUTCOME 1. Learn from Merapi eruption hazzard, education institution could prepare input to government with various scenario on disaster management cycles. 2. Merapi disaster management responses crates wider scope of networking give stengtening on responses mechanism. 3. Educational institution has opportunity to implemented teoritical knowledge in field. 4. Students have opportunity to implemented knowledges based with humanitarian principles. 5. Merapi volcano erupted with its massive eruption encrease awareness on unpredicted range of hazard. 6. Increase disaster preparedness among disasater management component such as government and communities to conduct emergency responses. 7. Incerasing standard parameter of Merapi emergency response.

1. Belajar dari erupsi yang terjadi Instusi pendidikan tinggi dapat memberikan banyak alternatif penanganan bencana. 2. Peningkatan dan perkembangan jaringan dalam melakukan tanggap bencana Merapi . 3. Terbuka kesempatan bagi dunia akademis untuk melakukan implemetasi teroritis di lapangan. 4. Peningkatan keterampilan dan kapabilitas mahasiswa dalam aplikasi keilmuan. 5. Peningkatan wawasan kebencanaan, letusan gunung Merapi. 6. Peningkatan kesiap-siagaan unsur-unsur pemerintahan dan masyarakat dalam mengantisipasi dan menangani bencana letusan Merapi. 7. Peningkatan parameter penanganan bencana Merapi.

VI. LESSON LEARN 1. During implemeting disaster management response several alternatives strategic needed to response disaster scalae change. 2. Community capability should be develop to increase social capital during emergency response. 3. Merapi emergency response plan should be based on indigious knoledges of Merapi community. 4. Lost in translation usually happened due to neglecting community local wisdom. 5. Education institution should develop integrated mechanism on Merapi disaster management cycle and conduct close advocation to government.

6. Community mobilization during evacuation a lot of easier assist by known persons. 7. As is characteristic Merapi erupt in periode of times, besides treathening eruption process is also delivery process of valuable material, Available material can be use as a capital to develop microfinance activities, support agricultural activity and its view support tourism sector. Merapi is Dengerously Beautifull. 1. Dalam menerapkan managemen penanggulangan bencana dibutuhkan

managemen strategi beserta alternatif skenario penanganan, penyesuaian dilakukan sesuaikan dengan skala bencana. 2. Kapasitas masyarakat dalam menanggulangi bencana harus terus ditingkatkan agar dapat meningkatkan pemberdayaan sosial capital dalam penanganan bencana. 3. Penanganan Merapi harus dilakukan dengan mensinergikan antara

pengambangan ilmu pengetahuan dan indigious knowledge yang dimilki masyarakat Merapi. 4. Penanggulangan bencana Merapi akan lebih efektif apabila dilakukan dengan memanfaatkan local wisdom masyarakat Merapi. 5. Instusi pendidikan tinggi seharusnya lebih banyak melakukan pengambangan ilmu pengetahuan yang mendukung pengembangan alternatif-alternatif penanganan bencana. 6. Mobilisasi masyarakat lebih mudah dilakukan oleh orang-orang yang dekat serta sudah dikenal olah mereka. 7. Sumber daya untuk melakukan pemulihan masyarakat Merapi telah disediakan oleh Merapi itu sendiri. (Merapi Dangerously Beatiful).

V. CONCLUSION Intensive relation between Yogyakarta community and Merapi volcano is unseperated, Yogyakarta is a gift of Merapi. Gunung Merapi adalah gunung yang sangat lekat dengan masyarakat Yogyakarta, dengan karakter yang dimilikinya Merapi memberikan anugrah yang luar biasa yaitu kualitas tanah yang sangat baik sebagai penunjang kehidupan pembentuk sebuah kebudayaan yang kental sebagai karakter lereng Merapi. Merapi eruption only is one and only treath among its benefits. After exprode onces every it periodic time it gives fertile plantaion.2010 Merapi eruption which is the worst in 100 years should become basic parameter standard on develop Merapi disaster management plan. Erupsi merupakan ancaman dari segala keindahan dan manfaat yang diberikaannya, dan merupakan kegiatan yang secara periodic terjadi, dengan adanya erupsi di tahun 2010 dimana merupakan erupsi terbesar dalam periode 100 tahunan pemerintah seharusnya menjadikan ini sebagai parameter dalam manajemen rencana tanggap bencana Merapi. Assesment result and coordination among government, NGO, community organization during Merapi emergency response should be taken as development material on Merapi response management plant. Dengan meningkatnya parameter kejadian bencana maka hasil-hasil koordinasi yang telah difasilitasi forum pengurangan resiko bencana antara pemerintah maupunmasyarakat dapat dijadikan materi untuk pengembangan serta perbaikan polapenanganan bencana Merapi di masa datang. Community developmen specially to improve community awareness shoul be done periodictly itegrated to support compatibility Merapi magement plan system.

Kegiatan peningkatatan awareness pada anacaman Merapi harus dilakukan kepada semua pihak dan dengan pengembangan secara berkala polamanajemen penangana bencana Merapi harus melibatkan masyarakat agar terbentuk system compatibility. Merapi community treath with it intensive attention and huge effort by Merapi response team, social support gave spirit booster to recover and build a better future. Dengan besarnya perhatian serta efford yang diberikan oleh pemerhati Merapi terhadap korban serta penyitas gunung Merapi memberikan social suport yang akan meningkatkan kepercayaan diri secar psikologis bagi mereka untuk segera bangkit dan membangun kembali kehidupan serambi merapi menjadi lebih baik. Merapi communities whol lives in village arround Merapi should be consider as Merapi originated community, peoples who knows Merapi better than others, with native knowldeged they aim would be an asset sources in devolping Merapi disaster management plant. Masyarakat Merapi yang berada di desa harus dianggap sebagai masyarakat asli yang paham karakter Merapi sehingga merupakan social capital harus dijadikan salah satu elemen dalam meningkatkan pengembangan tanggap bencana. Coomunity particiaption should be considerate as an exposeure factors on succefully Merapi amenrgency response. Refer on those experiences it should be a starting point to consider community involment as an asset to overcome various problems. Keterlibatan masyarakat harus dipertimbangkan sebagai elemen yang dilbatkan dalam tindakan tangap bencana, Dengan peran sertanya yang sangat besar, keberhasilan kegiatan tanggap bencana Merapi dapat menjadi sebagai titik awal dalam meningkatkan peran masyrakat untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Educational institution is needed to invent disasater erarly warning system and develop technology to support Merapi disasater responses.

Dalam pengurangan resiko bencana peran intitusi pendidikan diperlukan untuk mengembangkan metode penanganan serta teknologi tepat guna. Realtionship betwee human and nature should be a mutualism relationship, consider natural caharacterictic with wisdom, became sources of knowled to be faithful for ALLAH SWT Diperlukan kebijakan dalam memandang alam dan lingkungan sehingga dengan memanfaatkan kearifan lokal serata mencermatinya dengan seksama, dapat menjadikannya sumber ilmu sehingga tidak hanya memandang fenomena alam sebagai ancaman akan tetapi menjadi pelajaran agar kita semakin dekat dengan Allah SWT.

VI. DAFTAR PUSTAKA 1. DPPM UII , Prosiding Seminar Nasional, PENGEMBANGAN KAWASAN MERAPI,

Aspek Kebencanaan dan Pengembangan Masyarakat Pasca Bencana, , 2011. 2. Prof. Widodo, MSCE, Phd, Materi Manajemen Kebencanaan, Universitas Islam

Indonesia, 2011 3. 4. Prof. DR. Sarwidi, MSCE, Materi BARG, Universitas Islam Indonesia, 2011 Prof. Sunyoto Usman. Materi Community Development, Universitas Islam

Indonesia, 2011 5. 6. http://bnpb.go.id/ http://.fprb.wordpress.com