Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN REFLEKSI KASUS STASE ILMU FORENSIK

Oleh : Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Permana Putra(08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG 2013

Page 1

FORM REFLEKSI KASUS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA _____________________________________________________________________________________________ Nama Dokter Muda / NIM : Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Permana Putra (08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161) Stase Identitas Pasien Nama / Inisial : Ilmu Forensik : Sdr.R No Surat Visum : Ver/01/I/2013/Serse

Umur : 20 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Diagnosis/ kasus : diduga meninggal dunia karena tenggelam Pengambilan kasus pada minggu ke : 2 Jenis Refleksi: lingkari yang sesuai (minimal pilih 2 aspek, untuk aspek ke-Islaman sifatnya wajib) a. Ke-Islaman* b. Etika/ moral c. Medikolegal d. Sosial Ekonomi e. Aspek lain Form uraian 1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ). Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resor Kendal Sektor Patebon melalui suratnya tanggal 9 Januari 2013 Nomor Polisi: LP/1/1/2013/Jtg/Res.Kdl/Sek. Ptb yang ditanda tangani oleh Supano pangkat AKP, NRP 61070465 dan diterima tanggal 9 Januari 2012, di kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Semarang telah diperiksa jenazah, yang berdasarkan surat permintaan tersebut di atas bernama R, umur dua puluh tahun, jenis kelamin laki-laki, yang beralamat Karawang Jawa Barat ditemukan di laut jawa, dukuh pilang sari desa widodo kulon kecamatan patebon Kendal dan diduga meninggal dunia karena tenggelam. Kronologis : Dari teman korban yang selamat didapatkan keterangan bahwa korban merupakan salah satu ABK (Anak Buah Kapal ) dari kapal Barito pasifik yang melarikan diri karena menjadi korban kekerasan dari kapten kapal. Dari pemeriksaan atas jenazah tersebut maka disimpulkan bahwa telah diperiksa jenazah laki-laki, kurang lebih dua puluh tahun, panjang badan seratus tujuh puluh sentimeter, warna kulit sawo matang, rambut berwarna hitam, lurus. Pakaian kaos dalam warna putih merek gaetza ukuran 36, celana pendek warna hitam merek tatonika dan celana dalam warna coklat merek scorpion ukuran L. Terdapat tanda-tanda pembusukan. Didapatkan tanda-tanda kontak dengan air yang lama, tenggelam di air asin dan tandatanda mati lemas. Sebab kematian tenggelam di air asin yang menyebabkan mati lemas. 2. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus Dokter dalam pelaksanaan praktiknya wajib memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. Dalam UU No. 29 tahun 2004, pasal 45 ayat 1, setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Dalam penanganan penderita gawat darurat yang terpenting bagi tenaga kesehatan adalah mempertahankan jiwa penderita, mengurangi penyulit yang mungkin timbul, meringankan penderitaan korban, dan melindungi diri dari kemungkinan penularan Page 2

penyakit menular dari penderita. Pada kasus ini dilakukan autopsy, dimana dalam melakukan autopsy terdapat beberapa ketentuan terkait aspek medikolegal. Proses otopsi terkadang masih mengundang pro dan kontra dari segi keislaman, maka dari itu dalam refleksi kasus ini kami akan membahas mengenai perspektif islam mengenai otopsi. 3. Refleksi dari aspek etika moral /medikolegal/ sosial ekonomi beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai * *pilihan minimal satu Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya secara skematis dalam gambar berikut : a. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi. Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat). Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi. Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting. Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die. b. Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Tindakan berbuat baik (beneficence) General beneficence : o melindungi & mempertahankan hak yang lain o mencegah terjadi kerugian pada yang lain, o menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain, Specific beneficence : o menolong orang cacat, o menyelamatkan orang dari bahaya. Mengutamakan kepentingan pasien Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk) Menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya (apalagi ada yg hidup). c. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Page 3

Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti : Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien Minimalisasi akibat buruk Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : - Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting - Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut - Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif - Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). Norma tunggal, isinya larangan. d. Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Treat similar cases in a similar way = justice within morality. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagaifairness) yakni : a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik Jenis keadilan : a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmanirohani; secara material kepada : Setiap orang andil yang sama Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya Setiap orang sesuai upayanya. Setiap orang sesuai kontribusinya Setiap orang sesuai jasanya Setiap orang sesuai bursa pasar bebas c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama : Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien. Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil). Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan). d. Hukum (umum) : Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan berdasarkan asas prima facie. Norma dalam etika kedokteran (EK) : Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan) Fakta fundamental hidup bersusila : Page 4

Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah, menyesal, tidak tenang. Sifat Etika Kedokteran : 1. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum) 2. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien). 3. Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed, zelfoplegging) 4. Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri, umum, teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya) 5. Etika profesi (biasa): bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai, norma-norma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht) Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran. Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori); karena telah berabad-abad, yangbaik & yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi) Isi : 2 norma pokok : sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain; bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM). 6. Etika profesi luhur/mulia : Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan : Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter) Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = lesprit de corpse pour officium nobile 7. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran. Otopsi Menurut Pandangan Hukum Menurut PPRI No.18 Tahun 1981 Bab 2, Bedah Mayat Klinis Pasal 2: a. Otopsi diperbolehkan bila ada surat permintaan dari kepolisian b. Otopsi diperbolehkan jika dalam 2x24 jam tidak ada keluarga korban yang datang ke rumah sakit c. Otopsi diperbolehkan jika jenazah menderita penyakit yang berbahaya bagi masyarakat (menular) Prosedur mediko-legal Prosedur mediko-legal adalah tata-cara atauprosedur penatalaksanaan dan berbagaiaspek yang berkaitan pelayanan kedokteranuntuk kepentingan hukum Secara garis besar prosedur mediko-legalmengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, danpada beberapa bidang juga mengacukepada sumpah dokter dan etikakedokteran PEMERIKSAAN MAYAT UNTUK PERADILAN PASAL 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkanpemeriksaan mayat untuk pengadilan,diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Otopsi Autopsi dibagi berdasarkan tujuannya, yaitu : 1. Otopsi Klinik Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk Page 5

menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenaesis penyakit, dsb. Untuk otopsi ini mutlak diperlukan ijin keluarga terdekat mayat tersebut. Sebaiknya otopsi klinis dilakukan secara lengkap, namun dalam keadaaan amat memaksa dapat dilakukan otopsi parsial atau needle necropsy terhadap organ tertentu meskipun pada kedua keadaan tersebut kesimpulannya sangat tidak akurat. Otopsi Forensik / Medikolegal Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Tujuan pemeriksaan otopsi forensic adalah untuk: a. Membantu penentuan identitas mayat b. Menentukan penyebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian c. Mengumpulkan dan memeriksa benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan d. Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam membentuk visum et repertum Otopsi forensic harus dilakukan sedini mungkin, lengkap, oleh dokter sendiri, dan seteliti mungkin. Secara yuridis, persetujuan keluarga jenazah tidak diperlukan dalam prosedur autopsi forensik. Dokter hanya merupakan pelaksana permohonan penyidik (dalam hal iniKepolisian) untuk melakukan autopsi, sehingga apabila keluarga keberatan atas pelaksanaan autopsi, keberatan dapat disampaikan pada penyidik. 3. Otopsi Anatomi Dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat penyakit. Dilakukan oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi manusia. Untuk otopsi ini diperlukan ijin dari korban (sebelum meninggal) atau keluarganya. Dalam keadaan darurat jika dalam 2x24 jam seorang jenazah tidak ada keluarganya, maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk otopsi anatomi. Prosedur Otopsi sebagai berikut: a. Membuat identifikasi dari tubuh memperkirakan ukuran, fisik dan perawatan b. Menetapkan sebab kematian c. Menetapkan cara kematian dan waktu kematian yang penting dan mungkin d. Untuk mendemonstrasikan segala kelaian luar dan dalam, malformasi dan penyakit e. Mendeteksi, menggambarkan dan mengukur luka luar dan luka dalam f. Mendapatkan sampel untuk analisis, pemeriksaan mikrobiologi dan histologi dan infestigasi penting lainnya g. Menahan organ dan jaringan yang relevan sebagai bukti h. Mendapatkan foto dan video untuk keterangan dan pendidikan i. Menyediakan laporan tertulis yang lengkap untuk temuan otopsi j. Memberikan interpretasi ahli terhadap semua yang ditemukan Memperbaiki kondisi tubuh, sebelum diberikan kepada keluarga. 4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai Kehormatan seorang muslim hidup maupun mati Termasuk sesuatu yang sangatbaik jelas hukumnya dalam syariat islam adalah kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati. Maka tidak boleh membunuh, melukai dan menyakitinya serta tidak boleh mematahkan tulang atau mencincang tubuhnya setelah dia meninggal. Banyak dalil yang berhubungan dengan hal ini, diantaranya : 1. Allah Taala berfirman : Dan barang siapa yang membunuh seorang mumin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (QS. An Nisa : 93) 2. Dari Ibnu Umar berkata : Rasulullah bersabda : Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada TuhanYang Berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad adalah utusan Nya, mendirikan sholat serta menunaikan zakat. Maka apabila mereka melaksanakannya niscaya akan terjada darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka pada Allah. Page 6

(HR. Bukhori 1/70, Muslim 22) 3.Dari Abdulloh bin Masud berkata : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan saya adalah utusannya kecuali dengan karena tiga perkara : 1. Orang yang membunuh maka diqishos, 2. Orang yang pernah menikah lalu berzina, 3. Orang yang murtad dari agama (islam) dan meninggalkan jamaah. (HR. Bukhori Muslim) 4.Dari Aisyah berkata : Rasulullah bersabda : Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mumin yang sudah meninggal seperti mematahkan tulangnya saat dia masih hidup. (HR. Abu Dawud 2/69, Ibnu Majah 1/492, Ibnu Hibban 776, Baihaqi 4/58, Ahmad 6/58 dengan sanad shohih, lihat Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 295) Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : Hadits ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang mumin setelah dia meninggal sama sebagaimana tatkala dia masih hidup. Otopsi Menurut Agama Menurut agama Islam, otopsi dalam tinjauan syari : a. Dalam kedaan darurat dan lebih mementingkan manfaat b. Untuk kepentingan pengembangan ilmu kesehatan c. Untuk menegakkan hukum secara adil Macam-macam tujuan membedah jenazah Dilihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi mayat ada beberapa macam. Namun yang paling sering dilakukan ada tiga macam, yaitu : Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas Untuk keperluan ini seorang dokter melakukan otopsi jenazah. Apakah memang dia meninggal karena tindakan kriminalitas atau karena mati biasa, kalau memang karena tindakan kriminalitas maka akan dicari tanda-tanda yang memungkinkan akan bisa mengungkap siapa pelakunya. Namun jika meninggal dengan cara yang wajar maka berarti tidak perlu dicari pelakunya atau kalau mungkin sudak ditangkap pihak kepolisian bisa segera di bebaskan. Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian secara umum. Dengan otopsi ini seorang dokter bisa mengetahui penyakit yang menyebabkan kematian pasien, sehingga kalau memang ini adalah sebuah wabah dan dikhawatirkan terjangkit pada masyarakat lainnya bisa segera dilakukan tindakan preventif agar tidak menyebar. Otopsi untuk keperluan praktek ilmu kedokteran. Otopsi ini diperlukan mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia. Ini sangat diperlukan sekali agar bisa mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat. Dan masih banyak tujuan-tujuan lain. Secara umum hukum dari masalah ini berangkat dari apakah otopsi jenazah seorang muslim itu memang terpaksa harus dilakukan ? karena pada dasarnya tidak boleh melukai, mematahkan tulang dan lainnya dari jasad seorang muslim berdasarkan hadits Aisyahdiatas terkecuali kalau memang dalam keadaan dlorurot harus melakukan itu maka boleh dilakukan berdasarkan firman Allah Taala tentang makanan yang haram dimakan : Tetapi barang siapa dalam keadan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. Al Baqoroh : 173) juga berdasarkan sebuah kaidah fiqh yang masyhur bahwasannya keadaan dlorurot (terpaksa) itu bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah dalam keadaan dlorurot ataukah belum sering terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama yang menjadikan merekapun berselisih dalam hukumnya. Untuk lebih jelasnya, kita bahas satu persatu permasalahan yang ada : Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Apabila ada ibu meningal dunia dalam keadaan mengandung sedangkan bayi yang dikandungnya masih Page 7

hidup, para ulama berselisih apakah harus di bedah perut ibu atau bagaimana? Imam Malik dan Ahmad mengatakan tidak boleh di bedah perut seorang wanita meskipun bayi yang ada dalam pertnya masih hidup namun dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan farji oleh tenaga medis. (Lihat Syarah Mukhtashor Kholil Syaikh Ahmad Dirdir dan Al Inshof Imam Al Mardawi 2/556, Kasyaful Qina 2/130). Berkata Imam Ibnu Qudamah : Hal ini karena bayi itu belum pasti masih hidup dan memang biasanya tidak bisa hidup, maka tidak diperbolehkan melanggar suatu yang sudah jelas keharamannya demi sesuatu yang masih belum jelas. Rasulullah bersabda : Mematahkan tulang orang mumin yang telah meninggal sama seperti mematahkan tulang seorang mumin yang masih hidup. Juga karena Rasulullah melarang untuk mencincang mayat. Namun Imam Syafii, Ibnu Hazm dan sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu dibedah perut ibu demi keselamatan bayi yang masih dalam kandungannya. (Lihat Al Majmu Syarah Muhadzab Imam Nawawi 5/301, Al Muhalla 5/166) Dan ini adalah madzhab yang Rojih insya Allah. Berkata Syaikh Rosyid Ridlo menanggapi madzhab Imam Malik dan Ahmad : Berdalil dengan hadits Aisyah untuk membiarkan bayi yang masih hidup dalam perut ibu sampai meninggal adalah sesuatu yang aneh bila ditinjau dari dua segi : Bahwasannya membedah perut tidak akan mematahkan tulangnya. Bahwasannya hidupnya janin apabila telah sempurna bentuknya lalu dikeluarkan dengan jalur oprasi bedah. Hal ini sering terjadi. Dari sini ada dua hal yang bertentangan antara menyelamatkan nyawa bayi itu ataukah menjaga kehormatan sang ibu untuk tidak dilakukan pembedahan dan mematahkan tulangnya ? tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan pertana itulah yang lebih rajih. Ditambah lagi bahwasannya pembedahan perut sang ibu untuk tujuan ini bukanlah sebuah bentuk penghinaan terhadap mayat. Maka yang benar adalah pendapat yang mewajibkan pembedahan perut ibu jika para dokter menguatkan kemungkinan bayi itu bisa hidup selepas operasi bedah tersebut. Berkata Syaikh Al Albani : Apa yang dipilih oleh Syaikh Rosyid Ridlo adalah madzhab Syafiiyah sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi, dan beliau mengatakan bahwa ini adalah madzhab Abu Hanifah dan jumhur ulama juga madzhab Ibnu Hazm dan ini adalah sesuatu yang benar Insya Allah. (Lihat Ahkamul Janaiz hal : 297) Berkata Syaikh Ahmad Syakir dalam Taliq Al Muhalla : Adapun mengeluarkan bayi yang masih hidup dalam kandungan sang ibu maka hal ini wajib dilakukan. Adapun bagaimana caranya, hal itu terserah kepada para ahlinya baik seorang dokter maupun dukun bayi. Umpan balik dari pembimbing

TTD Dokter Pembimbing

Dr. Ratna Relawati Sp. KF.

Semarang, 15 Januari 2013 TTD Dokter Muda Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Permana Putra (08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161)

Page 8

Page 9