Anda di halaman 1dari 17

PRINSIP EPIDEMIOLOGI PADA PENYAKIT

INFEKSI DAN NON INFEKSI

1. RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT


Jika ditinjau proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya
penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of
disease) terutama untuk penyakit infeksi. Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan
penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit
berlangsung secara natural. Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :
Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit,
misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan
mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan
awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi
akan lebih baik hasil yang diharapkan.
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :
a. Tahap Pre-Patogenesa
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi
interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh
manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan
adanya tanda tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat
menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.
b. Tahap Patogenesa
1) Tahap Inkubasi.
Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi
gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa
inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa
inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari,
tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan

1
sebagainya. Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus
yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh.
2) Tahap Penyakit Dini.
Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada
tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita
masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat.
Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan,
karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
3) Tahap Penyakit Lanjut.
Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit
lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika
datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.
4) Tahap Akhir Penyakit
Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit
tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :
a) Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna,
artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita
penyakit.
b) Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh.
Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada
pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat
fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat
fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
c) Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala
penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih
ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh
berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya
membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena
dapat menjadi sumber penularan
d) Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak
berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan.

2
Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya
pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
e) Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh,
tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari
setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.

2. KOMPONEN PROSES TERJADINYA PENYAKIT INFEKSI


Menurut John Bordon, model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga
komponen penyakit yaitu Manusia (Host), penyebab (Agent) dan lingkungan (Enviromet). Untuk
memprediksi penyakit, model ini menekankan perlunya analis dan pemahaman masing-masing
komponen. Penyakit dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antar ketiga komponen
tersebut. Model ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad epidemilogi dan
cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab peran agent (yakni mikroba) mudah
di isolasikan dengan jelas dari lingkungan.

a. Pejamu (Host)
Yaitu hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya penyakit pada manusia, antara lain :
1) Umur, jenis kelamin, ras, kelompok etnik (suku) hubungan keluarga
2) Bentuk anatomis tubuh
3) Fungsi fisiologis atau faal tubuh
4) Status kesehatan, termasuk status gizi
5) Keadaan kuantitas dan respon monitors
6) Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial
7) Pekerjaan.
Pada manusia juga memiliki karakteristik yang sangat berpengaruh seperti jenis kelamin
(laki-laki dan perempuan), usia (tua, muda, anak-anak), dll. Semua itu berpengaruh
terhadap timbulnya penyakit. Unsur pejamu secara umum dapat dibagi dalam doa
kelompok yaitu :
1) Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sekat biologis tertentu seperti
Umur, jenis kelamin, ras dan keturunan
Bentuk anatomis tubuh

3
2) Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus seperti :
Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama dan hubungan keluarga
sehubungan sosial kemasyarakatan.
Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk, kebiasaan hidup sehat.

b) Agent
Agent adalah Faktor yang menyebabkan penyakit atau masalah kesehatan, dan penyebab
agent menurut model segitiga epidemilogi terdiri dari biotis dan abiotis.
Biotis, khususnya pada penyakit menular yaitu terjadi dari 5 golongan
1. Protozoa : misalnya Plasmodium, amodea
2. Metazoa : misalnya arthopoda , helminthes
3. Bakteri : misalnya Salmonella, meningitis
4. Virus misalnya : dengue, polio, measies, lorona
5. Jamur Misalnya : candida, tinia algae, hystoples osis
Abiotis, terdiri dari
1. Nutrient Agent, misalnya kekurangan /kelebihan gizi (karbohididrat, lemak,
mineral, protein dan vitamin)
2. Chemical Agent, misalnya pestisida, logam berat, obat-obatan
3. Physical Agent, misalnya suhu, kelembaban panas, kardiasi, kebisingan.
4. Mechanical Agent misalnya pukulan tangan kecelakaan, benturan, gesekan, dan
getaran
5. Psychis Agent, misalnya gangguan phisikologis stress depresi
6. Physilogigis Agent, misalnya gangguan genetik.

c) Unsur lingkungan (Enviroment)


Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan terjadinya
sifat karakteristik individu sebagai pejamu dan itu memegang peranan dalam proses
kejadian penyakit.
1. Lingkungan Biologis
Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia yang antara lain meliputi :
a) Beberapa mikroorganisme patogen dan tidak patogen

4
b) Vektor pembawa infeksi
c) Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan
manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan),
maupun sebagai reservoir/sumber penyakit atau pejamu antara (host
intermedia)
d) Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit tertentu
terutama penyakit menular.
Lingkungan biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang
peranan yang penting dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan
unsur penyebab, baik sebagai unsur lingkungan yang menguntungkan manusia
(senbagai sumber kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan / kesehatan
manusia (Nur nasri noor. 2002, Epidemiologi, Univesutas Hasanuddin
Makassar.Hal.28-29)

2. Lingkungan fisik
Keadaan fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara
langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial
manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsur kimiawi serta radiasi) meliputi :
a) Udara keadaan cuaca, geografis, dan golongan
b) Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai bentuk pemencaran pada
air, dan
c) Unsur kimiawi lainnya pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan lain
sebagainya.
Lingkungan fisik ini ada yang termasuk secara alamiah tetapi banyak pula yang timbul
akibat manusia sendiri (Nur nasri noor, 2000, Dasar epidemiologi, Rinika
cipta,Jakarta. Hal.28.)

3. Lingkungan social
Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi. Serta
instusi/peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat
tersebut. Lingkungan sosial ini meliputi :

5
a) Sistem hukum, administrasi dan lingkungan sosial politik, serta sistem
ekonomi yang berlaku;
b) Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat
c) Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat,
dan
d) Kebiasaan hidup masyarakat
e) Kepadatan penduduk. Kepadatan rumah tangga, serta berbagai sistem
kehidupan sosial lainnya.

3. PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI TERHADAP PENYAKIT


Metode Epidemiologi adalah cara pendekatan ilmiah dalam mencari faktor penyebab
serta hubungan sebab akibat terjadinya peristiwa tertentu pada suatu kelompok penduduk
tertentu. Pada dasarnya metode epidemiologi dibagi 3 :
1. Deskriptif
Epidemiologi deskriptif mempelajari tentang frekuensi dan distribusi suatu
masalah kesehatan dalam masyarakat. Keterangan tentang frekuensi dan distribusi suatu
penyakit atau masalah kesehatan menunjukan tentang besarnya masalah itu dalam
pertanyaan mengenai faktor who (siapa), where (dimana) dan when (kapan).
a) Siapa, Merupakan pertanyaan tentang faktor orang yang akan di jawab dengan
mengemukakan perihal mereka yang terkena masalah. Bisa mengenai variable umur,
jenis kelamin, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Faktor-faktor ini
biasa disebut sebagai variabel epidemiologi/demografi. Kelompok orang yang
potensial atau punya peluang untuk menderita sakit atau mendapatkan resiko,
biasanya disebut population at risk (populasi berisiko).
b) Dimana, Pertanyaan ini mengenai faktor tempat dimana masyarakat tinggal atau
bekerja atau dimana saja ada kemungkinan mereka menghadapi masalah kesehatan.
Faktor tempat ini dapat berupa kota (urban), dan desa (rural), pantai dan pegunungan,
daerah pertanian, industri, tempat bermukim atau bekerja.
c) Kapan, Kapan kejadian penyakit berhubungan juga dengan waktu. Faktor waktu ini
dapat berupa jam, hari, minggu, bulan, dan tahun, musim hujan dan musim kering.
Contoh : Banyaknya penderita TBC di daerah Sulawesi Selatan adalah 25.000 lelaki
pada tahun 1992.

2. Analitik
Metode analitik merupakan metode yang dilakukan denagn cara menegakkan
hipotesis tentang hubungan sebab akibat terjadinya keadaan kesehatan atau penyakit serta
menguji hipotesis melalui pengamatan langsung dengan menilai sifat penyebaran alamiah
dalam masyarakat. Menjawab : Why. Epidemiologi Analitik berkaitan dengan upaya
6
epidemiologi untuk menganalisis faktor penyebab ( determinant) msalah kesehatan.
Disini diharapkan epidemiologi mampu menjawab pertanyaan kenapa ( why ) apa
penyebab terjadinya masalah itu. Contoh : Setelah ditemukan secara deskriptif bahwa
banyak perokok yang menderita kanker paru, maka perlu dianalisis lebih lanjut apakah
rokok itu merupakan faktor determinan/penyebab terjadinya kanker paru.

3. Eksperimental
Adalah melakukan analisis secara langsung tentang hubungan sebab akibat
melalui percobaan-percobaan, baik di laboratorium maupun di masyarakat. Salah satu hal
yang perlu dilakukan sebagai pembuktian bahwa suatu faktor sebagai penyebab
terjadinya suatu luaran ( output = penyakit), adalah diuji kebenaranya dengan percobaan
(eksperimen). Contoh : Jika rokok dianggap sebagai penyebab kanker paru maka perlu
dilakukan eksperimen jika rokok dikurangi maka kanker paru akan menurun atau
sebaliknya. Untuk ini dilakukan perbandingan antara kelompok orang yang merokok
dengan orang yang tidak merokok, kemudian dilihat jumlah penderita penyakit kanker
paru untuk masing- masing kelompok. Dari perbedaan yang ada dapat disimpulkan ada
atau tidaknya pengaruh rokok terhadap penyakit kanker paru tersebut. Ketiga jenis
epidemiologi ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainya saling berkaitan dan
mempunyai peranan masing-masing sesuai tingkat kedalaman pendekatan epidemiologi
yang dihadapi. Secara umum dapat dikatakan bahwa pengungkapan dan pemecahan
masalah epidemiologi dimulai dengan epidemiologi deskriptif, lalu diperdalam dengan
epidemiologi analitik dan disusul dengan melakukan epidemiologi eksperimental. Jenis-
jenis epidemiologi dapat juga dilihat dari aspek lain sehingga ditemukan berbagai jenis
epidemiologi lainya. Misalnya ada epidemiologi penyakit menular, kependudukan,
kesehatan reproduksi, statistik, farmasi, dll

4. PROSES PENULARAN PENYAKIT


Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari tingkat
infeksi, patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan proses perawatan yang
tepat, maka akan meminimalisir penyebaran dan meminimalkan penyakit. Perkembangan infeksi
mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. Secara umum proses infeksi adalah
sebagai berikut:

a) Periode/ Masa Inkubasi


Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama.
Contoh: flu 1-3 hari, campak 2-3 minggu, mumps/gondongan 18 hari
b) Tahap Prodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise, demam ringan, keletihan)
sampai gejala yang spesifik. Selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang
biak dan klien lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain.

7
c) Tahap Sakit
Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi. Contoh:
demam dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan, mumps dimanifestasikan dengan
sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar parotid dan saliva.
d) Pemulihan
Interval saat munculnya gejala akut infeksi
e) Pertahanan Terhadap Infeksi
Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi. Flora normal tubuh yang tinggal di
dalam dan luar tubuh melindungi seseorang dari beberapa patogen. Setiap sistem organ
memiliki mekanisme pertahanan terhadap agen infeksius. Flora normal, sistem
pertahanan tubuh dan inflamasi adalah pertahanan nonspesifik yang melindungi terhadap
mikroorganisme.
f) Flora Normal
Secara normal tubuh memiliki mikroorganisme yang ada pada lapisan permukaan dan di
dalam kulit, saliva, mukosa oral dan saluran gastrointestinal. Manusia secara normal
mengekskresi setiap hari trilyunan mikroba melalui usus. Flora normal biasanya tidak
menyebabkan sakit tetapi justru turut berperan dalam memelihara kesehatan. Flora ini
bersaing dengan mikroorganisme penyebab penyakit unuk mendapatkan makanan. Flora
normal juga mengekskresi substansi antibakteri dalam dinding usus. Flora normal kulit
menggunakan tindakan protektif dengan meghambat multiplikasi organisme yang
menempel di kulit. Flora normal dalam jumlah banyak mempertahankan keseimbangan
yang sensitif dengan mikroorganisme lain untuk mencegah infeksi. Setiap faktor yang
mengganggu keseimbangan ini mengakibatkan individu semakin berisiko mendapat
penyakit infeksi.

5. PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI TERHADAP PENANGGULANGAN PENYAKIT


NON INFEKSI
A. Masalah Epidemiologi Penyakit Non Infeksi
Penyakit tidak menular (PTM) atau penyakit noninfeksi adalah suatu penyakit
yang tidak disebabkan karena kuman melainkan dikarenakan adanya masalah fisiologis
atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Biasanya penyakit ini terjadi karena pola
hidup yang kurang sehat seperti merokok, faktor genetik, cacat fisik, penuaan/usia, dan
gangguan kejiwaan. Contohnya : sariawan, batuk, sakit perut, demam, hipertensi, DM,
obesitas, osteoporosis, depresi, RA, keracunan, dsb.

Penyakit tidak Menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent)
dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan
sekitar (source and vehicle of agent). Penyakit tidak menular biasa disebut juga dengan

8
penyakit kronik, penyakit non-infeksi, new communicable disease, dan penyakit
degeneratif.

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di


Indonesia. Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan
penting dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat
merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan yang harus dihadapi
dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

B. Karakteristik epidemiologi penyakit non infeksi


Penyakit non infeksi memiliki beberapa karakteristik, diantaranya :
1) Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu
2) Masa inkubasi yang panjang
3) Perlangsungan penyakit kronik
4) Banyak menghadapi kesulitan diagnosis
5) Mempunyai Variasi yang luas
6) Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun
penanggulangannya.
7) Faktor penyebabnya multikausal, bahkan tidak jelas.

C. Riwayat alamiah perjalanan penyakit

Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :


a. Tahap Pre-Patogenesa
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi
interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh
manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan
adanya tanda tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat
menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.
b. Tahap Patogenesa
1) Tahap Inkubasi.
Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi
gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa

9
inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa
inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari,
tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan
sebagainya. Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus
yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh.
2) Tahap Penyakit Dini.
Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada
tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita
masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat.
Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan,
karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
3) Tahap Penyakit Lanjut.
Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit
lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika
datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.
4) Tahap Akhir Penyakit
Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit
tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :
a) Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna,
artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita
penyakit.
b) Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh.
Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada
pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat
fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat
fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
c) Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala
penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih
ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh
berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya

10
membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena
dapat menjadi sumber penularan
d) Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak
berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan.
Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya
pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
e) Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh,
tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari
setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.

D. Perkembangan konsep penyebab penyakit dan model kausal penyakit non infeksi

Khusus mengenai pandangan terhadap proses terjadinya atau penyebab penyakit telah
dikemukakan beberapa konsep atau teori. Beberapa teori tentang kausa terjadinya penyakit yang
pernah dikemukakan adalah:
a. Contagion Theory
Di Eropa, epidemi sampar, cacar dan demam tifus merajalela pada abad ke-14 dan
15. Keadaan buruk yang dialami manusia pada saat itu telah mendorong lahirnya teori
bahwa kontak dengan makhluk hidup adalah penyebab penyakit menular. Konsep itu
dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya menyatakan bahwa
penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular (transference) yang
disebut kontagion. Fracastoro membedakan tiga jenis kontagion, yaitu:
1) Jenis kontagion yang dapat menular melalui kontak langsung, misalnya
bersentuhan, berciuman, hubungan seksual.
2) Jenis kontagion yang menular melalui benda-benda perantara (benda tersebut
tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan pada
orang lain) misalnya melalui pakaian, handuk, sapu tangan.
3) Jenis kontagion yang dapat menularkan pada jarak jauh
Pada mulanya teori kontagion ini belum dinyatakan sebagai jasad renik atau
mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak dapat diterima dan
tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro, tetap dianggap sebagai salah satu
perintis dalam bidang epidemiologi meskipun baru beberapa abad kemudian mulai

11
terungkap bahwa teori kontagion sebagai jasad renik. Karantina dan kegiatan-kegiatan
epidemik lainnya merupakan tindakan yang diperkenalkan pada zaman itu setelah
efektivitasnya dikonfirmasikan melalui pengalaman praktek.

b. Hipocratic Theory
Hipocrates (460-377 SM), yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern, telah
berhasil membebaskan hambatan-hambatan filosofis pada zaman itu yang bersifat
spekulatif dan superstitif (tahayul) dalam memahami kejadian penyakit. Ia
mengemukakan teori tentang sebab musabab penyakit, yaitu bahwa :
1) Penyakit terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan
2) Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang. Teori
itu dimuat dalam karyanya berjudul On Airs, Waters and Places.
Hippocrates mengatakan bahwa penyakit timbul karena pengaruh Iingkungan
terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijelaskan kedudukan manusia dalam
Iingkungan). Yang melatarbelakangi timbulnya pernyataan tersebut yaitu karena di
Yunani pada saat itu terjadi banyak penyakit menular dan menjadi epidemik dan saat
menyaksikan pasiennya meninggal, ia sangat frustasi dan putus asa sebagai seorang
dokter. Kemudian ia pun melakukan observasi tentang penyebab dan penyebaran
penyakit di populasi. Hippocrates belajar mengenai penyakit menggunakan tiga metode
;Observe, Record, dan Reflect.
Hippocrates melakukan pendekatan deskriptif sehingga ia benar-benar mengetahui
kondisi lingkungannya. Ia kemudian mempelajari tentang istilah prepatogenesis, yaitu
faktor yang mempengaruhi seseorang yang sehat sehingga bisa menjadi sakit. Metode
yang digunakan Hippocrates adalah metode induktif, artinya data yang sekian banyak ia
dapatkan, ia kumpulkan dan diolah menjadi informasi. Informasi ini kemudian
dikembangkan menjadi hipotesis.
Hippocrates juga merujuk dan memasukkan ke dalam teorinya apa yang sekarang
disebut sebagai teori atom, yaitu segala sesuatu yang berasal dari partikel yang sangat
kecil. Teori ini kemudian dianggap tidak benar oleh kedokteran modern. Menurut
teorinya, tipe atom terdiri dari empat jenis: atom tanah (solid dan dingin), atom udara
(kering), atom api (panas), atom air (basah). Selain itu ia yakin bahwa tubuh tersusun dari

12
empat zat: flegma (atom tanah dan air), empedu kuning (atom api dan udara), darah
(atom api dan air) dan empedu hitam (atom tanah dan udara). Penyakit dianggap terjadi
akibat ketidakseimbangan cairan sementara demam dianggap terlalu banyak darah.
Hipocrates sudah dikenal sebagai orang yang tidak pernah percaya dengan tahayul
atau keajaiban tentang terjadinya penyakit pada manusia dan proses penyembuhannya.
Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan dan perilaku hidup penduduk dapat
mempengaruhi tersebarnya penyakit dalam masyarakat. Yang dianggap paling
mengesankan dari faham atau ajaran Hipocrates ialah bahwa dia telah meninggalkan
cara-cara berfikir mistis-magis dan melihat segala peristiwa atau kejadian penyakit
semata-mata sebagai proses atau mekanisme yang alamiah belaka. Contoh kasus dari
teori ini adalah perubahan cuaca dan lingkungan yang merupakan biang keladi terjadinya
penyakit.

c. Miasmatic theory
Kira-kira pada awal abad ke-18 mulai muncul konsep miasma sebagai dasar
pemikiran untuk menjelaskan timbulnya wabah penyakit. Kosnep ini dikemukakan oleh
Hippocrates. Miasma atau miasmata berasal dari kata Yunani yang berarti something
dirty (sesuatu yang kotor) ataubad air (udara buruk). Miasma dipercaya sebagai uap yang
dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami pembusukan, barang yang
membusuk atau dari buangan limbah yang tergenang, sehingga mengotori udara, yang
dipercaya berperan dalam penyebaran penyakit. Contoh pengaruh teori miasma adalah
timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya
udara yang busuk. Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa
pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim
di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut.
Pada waktu itu dipercaya bahwa bila seseorang menghirup miasma, maka ia akan
terjangkit penyakit. Tindakan pencegahan yang banyak dilakukan adalah menutup rumah
rapat-rapat terutama di malam hari karena orang percaya udara malam cenderung
membawa miasma. Selain itu orang memandang kebersihan lingkungan hidup sebagai
salah satu upaya untuk terhindar dari miasma tadi. Walaupun konsep miasma pada masa

13
kini dianggap tidak masuk akal, namun dasar-dasar sanitasi yang ada telah menunjukkan
hasil yang cukup efektif dalam menurunkan tingkat kematian.
Dua puluh tiga abad kemudian, berkat penemuan mikroskop oleh Anthony van
Leuwenhoek, Louis Pasteur menemukan bahwa materi yang disebut miasma tersebut
sesungguhnya merupakan mikroba, sebuah kata Yunani yang artinya kehidupan mikro
(small living)

d. Germ Theory
Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi dan parasitologi oleh Louis Pasteur
(1822-1895), Robert Koch (1843-1910), Ilya Mechnikov (1845-1916) dan para
pengikutnya merupakan era keemasan teori kuman. Para ilmuwan tersebut
mengemukakan bahwa mikroba merupakan etiologi penyakit.
Louis Pasteur pertama kali mengamati proses fermentasi dalam pembuatan
anggur. Jika anggur terkontaminasi kuman maka jamur mestinya berperan dalam proses
fermentasi akan mati terdesak oleh kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses
pasteurisasi yang ia temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai temperatur
tertentu hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur tidak rusak. Temuan
yang paling mengesankan adalah keberhasilannya mendeteksi virus rabies dalam organ
saraf anjing, dan kemudian berhasil membuat vaksin anti rabies. Atas rintisan temuan-
temuannya memasuki era bakteriologi tersebut, Louis Pasteur dikenal sebagai Bapak dari
Teori Kuman. Robert Koch juga merupakan tokoh penting dalam teori kuman.
Temuannya yang paling terkenal dibidang mikrobiologi adalah Postulat Koch yang
terdiri dari:
1. Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada yang
sehat,
2. Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,
3. Kuman yang dibiakkan dapat ditularkansecara sengaja pada hewan yang sehat
dan menyebabkan penyakit yang sama
4. Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi.

14
e. Epidemiology Triangle
Model tradisional epidemiologi atau segitiga epidemiologidikemukakan oleh Gordon dan
La Richt (1950), menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment. Gordon
berpendapat bahwa:
1. Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan manusia
(host)
2. Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan
karakteristik agent dan host (baik individu/kelompok)
3. Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut
akan berhubungan langsung pada keadaan alami dari lingkungan (lingkungan
sosial, fisik, ekonomi, dan biologis).

f. The Web of Causation


Model ini dicetuskan oleh MacMahon dan Pugh (1970). Prinsipnya adalah setiap
efek atau penyakit tidak pernah tergantung hanya kepada sebuah faktor penyebab,
melainkan tergantung kepada sejumlah faktor dalam rangkaian kausalitas sebelumnya
sebagai akibat dari serangkaian proses sebab akibat. Ada faktor yang berperan sebagai
promotor, ada pula sebagai inhibitor. Semua faktor tersebut secara kolektif dapat
membentuk web of causation dimana setiap penyebab saling terkait satu sama lain.
Perubahan pada salah satu faktor dapat berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit.
Kejadian penyakit pada suatu populasi mungkin disebabkan oleh gejala yang sama
(phenotype), mikroorganisme, abnormalitas genetik, struktur sosial, perilaku, lingkungan,
tempat kerja dan faktor lainnya yang berhubungan. Dengan demikian timbulnya penyakit
dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik. Model ini
cocok untuk mencari penyakit yang disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup individu

15
E. Berbagai penyakit non infeksi yang ditemukan di Indonesia

Transisi kesehatan terjadi karena adanya transisi demografi dan transisi


epidemiologi(henry,1993). transisi demografi merupakan akibat adanya urbanisasi,
industrialisasi, meningkatnya pendapatan, tingkat pendidikan, teknologi kesehatan dan
kedokteran di masyarakat. Hal ini akan berdampak pada terjadinya transisi epidemiologi yaitu
perubahan pola kematian yaitu akibat infeksi, angka fertilitas total, umur harapan
hidup penduduk dan meningkatnya penyakit tidak menular atau penyakit kronik transisi
epidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola
penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi
(penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin
meningkat.

Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi dan meningkatnya
umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya Transisi
epidemiologi dan demografi, juga perkembangan ekonomi mengakibatkannegara-negara
menghadapi peningkatan beban akibat Penyakit Tidak Menular (PTM).Pada 1999, PTM
diperkirakan bertanggung jawab terhadap hampir 60% kematian di dunia dan 43% dari beban
penyakit dunia (WHO, 2000a). Diprediksikan pada tahun 2020 penyakit ini akan mencapai 73
persen kematian di dunia dan 60 persen dari bebanpenyakit dunia (WHO, 2002).

Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, data
Pola Penyebab Kematian Umum di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah dianggap
sebagai penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. Gangguan jantung dan pembuluh darah
seringkali bermula dari hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang
merupakan suatu kelainan vaskuler awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja
mata, dan menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat
pemanfaatan kemampuan intelegensia secara maksimal. Hipertensi atau yang disebut the silent
killer merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh sebagai penyebab penyakit jantung
(kardiovaskular). Penderita penyakit jantung kini mencapai lebih dari 800 juta orang di seluruh
dunia. Kurang lebih 10-30% penduduk dewasa di hampir semua negara mengalami penyakit
hipertensi, dan sekitar 50-60% penduduk dewasa adalah mayoritas utama yang status
kesehatannya akan menjadi lebih baik bila tekanan darahnya dapat dikontrol.

16
DAFTAR PUSTAKA

Kasjono, Heru Subraris dan Heldhi B. Kristiawan. 2009. Intisari Epidemiologi.


Yogyakarta : Mitra Cendekia
Muliani, dkk. 2010. Segitiga Epidemiologi. http://id.scribd.com/doc/136
Soemirat, Juli. 2010. Epidemiologi, Wabah Penyakit, Lingkungan, Sumber Daya Alam.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Timmreck, Thomas C. 2001. Epidemiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit BukuKedokteran
EGC.
Bustan M . N . 2007 . Epidemilogi Penyakit Menular . Jakarta : Rineka Cipta
Bustan M. N . 2002 . Pengantar Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta
Budiarto , Eko . 2003 . Pengantar Epidemiologi . Jakarta : EGC

17