Anda di halaman 1dari 3

UNDESENSUS TESTIS

BATASAN Merupakan kondisi ketika testis tidak berada di dalam kantong skrotum, tetapi berada di salah satu tempat sepanjang jalur penurunan testis yang normal.

PATOFISIOLOGI/ETIOLOGI A. Abnormalitas gubernakulum testis Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang besar akan mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika testis telah berada di kantong skrotum gubernakulum akan diresorbsi. B. Defek intrinsik testis Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini membuat testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin. C. Defisiensi stimulasi hormonal/endokrin Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus inkomplet. Tingginya kriptorkismus pada prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG menstimulasi pelepasan testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan imaturnya aksis hipothalamus-hipofisis-testis.

FAKTOR RESIKO 1. BBLR (kurang 2500 mg) 2. Ibu yang terpapar estrogen selama trimester pertama 3. Kelahiran ganda (kembar 2, kembar 3) 4. Lahir prematur (umur kehamilan kurang 37 minggu) 5. Berat janin yang dibawah umur kehamilan. 6. Mempunyai ayah atau saudara dengan riwayat UDT

GEJALA KLINIS

Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak menjumpai testis di kantong skrotum, sedangkan pasien dewasa mengeluh karena infertilitas. Kadang-kadang merasa ada benjolan di perut bagian bawah yang disebabkan testis maldesensus mengalami trauma, mengalami torsio, atau berubah menjadi tumor testis.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS 1. Anamnesis Tidak adanya satu atau dua testis dalam skrotum. Pasien dapat mengeluh nyeri testis karena trauma, misal testis terletak di atas simpisis ossis pubis. Pada dewasa keluhan UDT sering. 2. Pemeriksaan fisik meliputi : a. Penentuan lokasi testis. b. Penentuan apakah testis palpabel. Bila palpable, ada beberapa kemungkinan yaitu testis retraktil, UDT, testis ektopik, serta sindrom ascending testis. Bila impalpable, kemungkinannya ialah intrakanalikuler,

intraabdominal, atrofi testis, dan agenesis

PEMERIKSAAN PENUNJANG Dilakukan bila testis impalpable atau meragukan beberapa modalitas penunjang diperlukan.

DIAGNOSIS BANDING 1. Testis retraktil 2. Anorkismus 3. Testis atrofi

PENATALAKSANAAN Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan, testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun. Medikamentosa Obat yang sering dipergunakan adalah hormon hCG yang disemprotkan intranasal.

Operasi Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah: 1. Mempertahankan fertilitas 2. Mencegah timbulnya degenerasi maligna 3. Mengurangi resiko cidera khususnya bila testis terletak di tuberkulum pubik 4. Mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis 5. Melakukan koreksi hernia 6. Psikologis Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos.

DAFTAR PUSTAKA 1. Purnomo, Basuki B., dasar-dasar urologi 2nd edition, Malang 2007, Hal 139-140.