Anda di halaman 1dari 23

SPINA BIFIDA

I. PENDAHULUAN
Spina bifida merupakan suatu kelainan kongenital berupa defek pada arkus
posterior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis
spinalis pada perkembangan awal dari embrio.
(1,2,3)

Pada stadium dini pembentukan lempeng neural terbentuk celah neural yang
kemudian membentuk pipa neural. Pipa neural inilah yang kemudian menadi
aringan otak dan medula spinalis. !etika dalam kandungan, aringan yang
membentuk pipa neural tidak menutup atau tidak tertutup secara sempurna. "ni
menyebabkan adanya bagian yang terbuka pada #ertebra, yang mengelilingi dan
melindungi korda spinalis. Proses penutupan pipa neural ini berlangsung selama
minggu keempat kehidupan embrio dan biasanya sebelum wanita mengetahui
kehamilannya dan berakhir. Proses neuralisasi mulai pada garis tengah dorsal dan
berlanut ke arah sefal dan kaudal. Penutupan yang paling akhir teradi pada uung
posterior yaitu pada hari ke$2%.
(3,&)

!adang$kadang alur saraf tersebut tidak menutup, ini oleh karena kesalahan
induksi oleh chorda spinalis yang terletak dibawahnya atau karena pengaruh faktor$
faktor teratogenik lingkungan sel$sel neuroepitel. 'aringan saraf dalam hal ini tetap
terbuka ke dunia luar. (angguan proses ini menyebabkan defek pipa neural yang
kemudian digolongkan sebagai disrafisme. )israfisme terbagi dua yakni kranial dan
spinal.
(3,&)
)israfisme spinal * mielodisplasia adalah anomali kongenital dari spinal yang
diakibatkan oleh kegagalan fusi dari struktur$struktur pada garis tengah. +ila lesinya
hanya terbatas pada tulang (arkus) posterior baik satu atau beberapa le#el, kelainan
ini disebut sebagai spina bifida.
(&, ,, -)
'ika elemen saraf ikut terlibat maka akan menimbulkan paralisis dan
hilangnya sensasi dan gangguan pada sfingter.

)eraat dan lokalisasi defek yang
1
teradi ber#ariasi. Pada keadaan yang ringan mungkin hanya ditemukan kegagalan
fusi satu atau lebih dari satu arkus posterior #ertebra pada daerah lumbosakral.
.erkadang kelainan ini tidak menimbulkan geala klinis yang signifikan.
(1, 2,&,/)
Seringkali apabila teradi defek pada arkus posterior maka akan timbul
gangguan pada permukaan kulit yang menutupinya, yang tampak seperti lesung,
seikat rambut, massa lemak atau sinus kulit.
Spina bifida dapat digolongkan menadi dua tipe yakni, spina bifida okulta
dan spina bifida aperta (cystica).
(1)
II. ETIOLOGI
Spina bifida merupakan kelainan kongenital yang berdiri sendiri tanpa disertai
kelainan lain. 0eskipun peneliti percaya bahwa faktor genetik dan lingkungan
mungkin terlibat dalam penyakit ini begitu uga pada penyakit defek pipa neural lain,
1,2 bayi dengan spina bifida dan penyakit defek neural lain lahir dari orang tua yang
tidak memiliki riwayat keluarga spina bifida. Sementara spina bifida muncul di
keluarga$keluarga tertentu tanpa mengikuti suatu pola tertentu. 'ika dari kehamilan
lahir seorang anak yang menderita spina bifida, resiko berulang pada kehamilan
berikutnya meningkat lebih besar. Spina bifida bisa uga teradi sebagai bagian dari
sindrom dengan kelainan kongenital lain. )isini pola yang teradi mungkin berbeda
dengan spina bifida yang berdiri sendiri.
3anita dengan masalah kronis tertentu, termasuk diabetes dan epilepsi
(dengan obat antikon#ulsan tertentu) memiliki resiko tinggi (rata$rata 14155) untuk
memiliki bayi dengan spina bifida. )efisiensi asam folat pada wanita hamil uga
dihubungkan dengan spina bifida.
(3,&,,)
2
III. INSIDENS

Spina bifida kira$kira muncul pada 2$3 dari 1555 kelahiran, tetapi bila satu
anak telah terkena maka resiko untuk anak yang lain menderita spina bifida sepuluh
kali lebih besar.
(2)
Spina bifida ditemukan uga pada ras hispanik dan beberapa kulit putih di
6ropa, dan dalam umlah yang kecil pada ras 7sia dan 7frika$7merika. 1, 2 bayi
yang lahir dengan spina bifida tidak memiliki riwayat keluarga yang sama.
(1)
Spina bifida tipe okulta teradi pada 15 8 1, 2 dari populasi. Sedangkan spina
bifida tipe cystica teradi pada 1 4 1555 kehamilan. .eradi lebih banyak pada wanita
daripada pria (3 4 2) dan insidennya meningkat pada orang 9hina.
(-)
!elainan ini seringkali muncul pada daerah lumbal atau lumbo-sacral
junction.
(3)

IV. ANATOMI
(ambar 14
Sum$sum .ulang +elakang dan 0edulla Spinalis
3
!orda spinalis manusia memanang dari foramen magnum hingga setinggi
#ertebra lumbar pertama atau lumbar kedua. :ata$rata panangnya &, cm pada pria
dan &2 cm pada wanita, memiliki bentuk seperti silinder pada segmen ser#ikal atas
dan segmen thorakal, dan bentuk o#al di segmen ser#ikal bawah dan segmen lumbar,
yang merupakan tempat pleksus ner#us brachial dan ner#us lumbosakral.
Pada tahap awal pertumbuhan fetal, korda spinalis ini mengisi sepanang
kanalis #ertebra. Saat bayi lahir, korda spinalis ini memanang ke bawah sampai ke
batas bawah dari #ertebra lumbar """. Pada akhir dewasa muda, korda spinalis
mencapai posisi seperti orang dewasa, dimana ia berhenti setinggi discus
inter#ertebra lumbar " dan lumbar "". .empat dimana korda spinalis berakhir berubah
seiring pertumbuhan karena kolumna #ertebralis bertumbuh lebih cepat dari pada
korda spinalis. Panang dari korda spinalis secara keseluruhan adalah /5 cm. !orda
spinalis mengalami pembesaran di dua tempat, yaitu ser#ikal (segmen 9 """$ .h "")
dan lumbar (segmen ;"$S"""). "ni merupakan tempat saraf yang menginner#asi
ekstremitas atas dan bawah. <ung bawah korda spinalis meruncing membentuk
konus medullaris.
!orda spinalis manusia terbagi atas 31 segmen (% segmen ser#ikal, 12 segmen
thorakal, , segmen lumbal, , segmen sacral, dan 1 coccygeal) dimana dari masing$
masing segmen, kecuali segmen ser#ikal yang pertama, memiliki sepasang root
dorsal dan root #entral dan sepasang ner#us spinalis. Segmen ser#ikal pertama hanya
memiliki root #entral. :oot #entral dan dorsal bergabung di foramina inter#ertebralis
untuk membentuk ner#us spinalis. =er#us spinalis meninggalkan kanalis #ertebralis
melalui foramina inter#ertebralis4 Ser#ikal " muncul di atas atlas> ser#ikal ?"""
muncul antara ser#ikal ?"" dan thorakal ". =er#us spinal lain keluar di bawah
#ertebra yang berkesesuaian.
!arena perbedaan tingkat pertumbuhan dari korda spinalis dan kolumna
#ertebralis, segmen korda spinalis tidak sesuai dengan kolumna #ertebranya.
)itingkat ser#ikal, uung spinal #ertebra sesuai dengan tingkat kordanya> tapi tulang
ser#ikal ?" sesuai dengan tingkat korda spinalis ?"". Pada regio thorakal atas, uung
&
spinal berada dua segmen di atas korda spinalis yang berkesesuaian, adi thorakal "?
sesuai dengan korda segmen ke ?". Pada regio thorakal bawah dan lumbar atas, beda
antara tingak #ertebra dan korda adalah tiga segmen, adi spinal thorakal @ sesuai
dengan lumbar ". !umpulan akar saraf lumbosakral di filum terminale disebut cauda
eAuina.
(-)
V. EMBRIOLOGI
(ambar 24
Perbandingan proses embriologi spinal cord normal dan
spinal cord pada spina bifida
Proses pembentukan embrio pada manusia melalui 23 tahap perkembangan
setelah pembuahan setiap tahap rata$rata memakan waktu selama 2 $3 hari. 7da dua
proses pembentukan sistem saraf pusat. Pertama, neuralisasi primer, yakni
pembentukan struktur saraf menadi pipa, hal yang serupa uga teradi pada otak dan
korda spinalis. !edua, neuralisasi sekunder, yakni pembentukan lower dari korda
,
spinalis, yang membentuk bagian lumbal dan sakral. Neural plate dibentuk pada
tahap ke % (hari ke1/$11), neural fold terbentuk pada tahap ke 1 (hari ke 11$21) dan
fusi dari neural fold terbentuk pada tahap ke 15 (hari ke 22$23). +eberapa tahap yang
sering mengalami gangguan yakni selama tahap % 8 15 (yakni, ketika neural plate
membentuk fold pertamanya dan berfusi untuk membentuk neural tube) hal ini dapat
menyebabkan teradinya craniorachischisis, yang merupakan salah satu bentuk yang
arang dari neural tube defect (=.)).
(15,11)
Pada tahap ke 11 (hari ke 23$2-), saat ini teradi penutupan dari bagian rostral
neuropore. !egagalan pada tahap ini mengakibatkan teradinya anencephaly.
0ielomeningocele teradi akibat gangguan pada tahap 12 (hari ke 2-$35), saat ini
teradi penutupan bagian caudal dari neuropore.
(15)
(ambar. 3
()iambil dari kepustakaan
15
)
-
(ambar. &
()iambil dari kepustakaan
15
)
Penelitian pada embrio tikus telah memperoleh beberapa teori unifying yang
dapat menelaskan anomali yang teradi pada =.). )efek yang teradi bersamaan
seperti hidrosefalus dan malformasi otak bagian belakang seperti malformasi 9hiari ""
adalah salah satu contohnya. 0c;one dan =aidich, pada tahun 1112, mengaukan
proposal tentang teori unifying dari defek pada neural tube yang menelaskan anomali
pada otak bagian belakang dan anomali pada korda spinalis. +erdasarkan
penyelidikan tersebut, diketahui bahwa kegagalan lipatan neural untuk menutup
sempurna, menyebabkan defek pada bagian dorsal atau myeloschisis. Bal ini
menyebabkan 9SC bocor mulai dari #entrikel sampai ke kanalis sentralis dan bahkan
mencapai cairan amnion dan mengakibatkan kolaps dari sistem #entrikel.
(15)
!egagalan dari sistem #entrikel untuk meningkatkan ukuran dan #olumenya
menyebabkan herniasi ke bawah dan ke atas dari otak kecil. Sebagai tambahan, fossa
posterior tidak berkembang sesuai dengan ukuran yang sebenarnya, dan neuroblas
tidak bermigrasi keluar sesuai dengan normal dari #entrikel ke korteks.
(15)
7dapun teori yang lain yang menelaskan teradinya spina bifida yakni teori
defisiensi asam folat.
(11)
:esiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan
erat dengan kekurangan asam folat, terutama yang teradi pada awal kehamilan.
/
Bingga kini tidak diketahui mengapa asam folat dapat menyebabkan spina bifida.
(/,15,13)
Malformasi Sistem Saraf Pusat
(15)
e!amila" !ari #e $ e%a&ia" A"omali
5 8 1% Pembentukan ektoderm,
mesoderm dan endoderm,
dan lempeng saraf
!ematian atau efek yang
tidak elas
1% Pembentukan lempeng
saraf
)efek midline anterior
22 8 23 Penampakan optik #essel Bidrosefalus
2& 8 2- Penutupan neuropore
anterior
Anencephaly
2- 8 2% Penutupan neuropore
posterior
Spina bifida sistika dan
Spina bifida okulta
32 Sirkulasi #askular 0ikrosefali
33 3, Splitting dari proensefalon
untuk membentuk
telensefalon
Boloproensefalon
/5 8 155 Pembentukan korpus
kalosum
7genesis korpus kalosum
VI. LASIFIASI
%
(ambar ,4
!lasifikasi Spina +ifida
Spina bifida dapat digolongkan sebagai berikut4
Spina +ifida Dkulta
+entuk ini merupakan spina bifida yang paling ringan. !elainan seperti ini
biasanya terdapat didaerah sacrolumbal, sebagian besar ditutupi oleh kulit dan
tidak tampak dari luar kecuali adanya segumpal kecil rambut diatas daerah yang
dihinggapi. Pada keadaan seperti ini medula spinalis dan saraf$saraf biasanya
normal dan geala$geala neurologik tidak ditemukan.

Spina +ifida Dkulta sering
didiagnosis secara tidak sengaa saat seseorang mengalami pemeriksaan @$ray
atau 0:" untuk alasan yang lain.

Pada neural tube defek (=.)) enis ini, tidak
teradi herniasi dari menings melalui defek pada #ertebra.

;esi yang terbentuk
terselubung atau tersembunyi di bawah kulit.

Pada tipe ini uga tidak disertai
dengan hidrosefalus dan malformasi 9hiari "".
(3,-,15,12,13)
Seringkali lesi pada kulit berupa hairy patch, sinus dermal, dimple,
hemangioma atau lipoma dan kadang$kadang timbul gangguan neurologik pada
regio torakal, lumbal, dan sakral. Pada masa pertumbuhan anak$anak dapat pula
ditemukan paralisis spastik yang ringan.
(1,15)

)eteksi dini pada spina bifida okulta sangatlah penting mengingat bahwa
fungsi neurologis hanya dapat dipertahankan dengan tindakan inter#ensi bedah
secara dini dan tepat.
(-)

1
(ambar. -
(Diambil dari kepustakaan
7
)
!elompok ini mencakup kelainan$kelainan 4 lipoma spinal, sinus dermal,
lipomielomeningokel, diastematomielia, hipertrofi filum terminale dan
meningokel sakral anterior.
(&, -)
a. ;ipoma spinal
Perkembangan embriologis lipoma spinal tidak diketahui secara
terperinci. Pada kasus8kasus ini, elemen spinal normal tetap ada namun
lokasinya abnormal. ;ipoma spinal adalah keadaan di mana terdapat aringan
lemak yang masuk di dalam aringan saraf, sehingga teradi kerusakan dan
mengakibatkan disfungsi neurologis.
(-)
Pada umumnya tidak ada kelainan neurologis, tetapi kadang teradi,
karena dengan bertambahnya usia, lipoma akan membesar dan menekan
sistem saraf. ;ipoma seperti ini dapat berupa lipomeningomielokel atau
melekat pada meningomielokel.

Pemeriksaan radiologik dilakukan seperti
pada meningokel.
(&)
15
(ambar. /. ;ipoma Spinal
(Diambil dari kepustakaan
14
)
c. Sinus dermal
Sinus dermal merupakan lubang terowongan (traktus) di bawah kulit
mulai dari epidermis menuu lapisan dalam, menembus duramater dan sampai
ke rongga subarakhnoid. .ampilan luarnya berupa lesung atau dimpel kulit
yang kadang mengandung seumput rambut di permukaannya dan kebanyakan
di daerah lumbal. +iasanya kelainan ini asimptomatik, namun bila menembus
duramater, sering menimbulkan meningitis rekuren.
(-)
11
(ambar. %. Sinus )ermal
(Diambil dari kepustakaan
14
)
c. ;ipomielomeningokel
;ipomielomeningokel sering kali terdeteksi sebagai suatu gumpalan
lemak pada bagian belakang tubuh terutama di daerah lumbo$sakral. !elainan
ini kerap dikaitkan sebagai deformitas kosmetik, namun sebenarnya ia
merupakan suatu kompleks anomali kongenital yang bukan hanya terdiri dari
infiltrasi perlemakan aringan saraf saa, tetapi uga mengandung meningokel
atau meningomielokel yang besar.
(-)
(ambar. 1. ;ipomielomeningokel
()iambil dari kepustakaan
1&
)
12
(ambar. 15. ;ipomielomeningokel
()iambil dari kepustakaan
1&
)
d. )iastematomielia
)iastematomielia merupakan salah satu manifestasi disrafisme spinal
yang arang teradi dan terdiri atas komponen$komponen 4
$ .erbelahnya medula spinalis menadi dua hemikord. )uramater dapat
tetap satu atau membentuk septa.
$ 7da tulang rawan yang menonol dari korpus #ertebra dan membelah
kedua hemikord diatas.
$ ;okasi diastematomielia biasanya di daerah toraks atau torako$lumbar,
dan uga biasanya ada abnormalitas #ertebra (hemi#ertebra). 9iri khas dari
kelainan ini adalah adanya seumput rambut dari daerah yang ada
diastematomielia.
(-)
(ambar. 11. )iastematomielia
(Diambil dari kepustakaan
14
)
13
Spina +ifida 7perta (cystica)
.ipe ini merupakan salah satu bentuk dari spina bifida yang kehilangan
lamina #ertebranya dan seluruh isi dari kanalis #ertebralis mengalami prolaps
membentuk sebuah defek dan defek tersebut membentuk kantung pada menings
yang berisi 9SC, defek yang terbentuk inilah yang disebut dengan meningocele.
Sedangkan bila berisi korda spinalis dan akar saraf disebut mielomeningocele.
!orda spinalis tersebut biasanya berasal dari bentuk primitif, yakni lempeng
neural yang belum mangalami lipatan, hal ini disebut open myelomeningocele
atau rachischisis. )an pada closed myelomeningocele, yakni apabila lempeng
neural telah terbentuk sempurna dan tertutup oleh membran dan kulit, meskipun
tetap terlihat arkus posterior dari #ertebra.
(2)
(ambar.12
()iambil dari kepustakaan
1&
)
1&
a. 0eningokel
Spina bifida enis ini mengalami simpel herniasi dari menings melalui
defek pada #ertebra. !orda spinalis dan akar saraf tidak ikut mengalami
herniasi melalui bagian dorsal dari dural sac. ;esi yang timbul pada
meningokel sangat penting untuk dibedakan dengan mielomeningokel karena
penanganan dan prognosisnya sangat berbeda. +ayi yang lahir dengan
meningokel biasanya pada pemeriksaan fisis memberikan gambaran yang
normal. +ayi yang lahir dengan meningokel tidak memiliki malformasi
neurologik seperti hidrosefalus dan 9hiari "". 'enis ini merupakan bentuk yang
arang teradi.
(/,15)
(ambar. 13
(Diambil dari kepustakaan
7
)
b. 0ielomeningokel
0ielomeningokel adalah keadaan di mana teradi herniasi korda
spinalis dan akar saraf membentuk kantung yang uga berisi menings.
!antung ini berprotrusi melalui #ertebra dan defek muskulokutaneus. !orda
spinalis sering berakhir pada kantung ini dan terbuka keluar disertai ekspose
dari kanalis sentralis. Pembukaan dari struktur saraf tersebut disebut neural
placode. =.) tipe ini adalah bentuk yang paling sering teradi. (angguan
neurologis seperti hidrosefalus dan malformasi 9hiari "" seringkali menyertai
mielomeningokel. Sebagai tambahan, mielomeningokel memiliki insidens
1,
yang tinggi sehubungan dengan malformasi intestinal, antung, dan esofagus,
dan uga anomali ginal dan urogenital. +ayi yang lahir dengan
mielomeningokel memiliki orthopedic anomalies pada eEtremitas bawah dan
anomali pada urogenital melalui keterlibatan akar saraf pada regio sakral.
(15)
.ampak benolan digaris tengah sepanang tulang belakang.
!ebanyakan mielomenigokel berbentuk o#al dengan sumbu panangnya
berorientasi #ertikal. ;okasi terbanyak adalah di daerah torakolumbal dan
frekuensi makin berkurang kearah distal. !adang mielomeningokel disertai
defek kulit atau permukaan yang hanya dilapisi oleh selaput tipis. !elainan
neorologik bergantung pada tingkat, letak, luas dan isi kelainan tersebut,
karena itu dapat berupa paraplegia, paraparesis, monoparesis, inkotinensia
urin dan al#i, gangguan sensorik serta gangguan refleks.
(&, -)
(ambar. 1&. 0ielomeningokel
()iambil dari kepustakaan
1&
)
VII. DIAGNOSIS
1-
A"am"esis
)iagnosis spina bifida dapat diketahui melalui analisa riwayat kesehatan
dari indi#idu tersebut (ika bukan bayi), riwayat kesehatan keluarga dan
penelasan yang detail tentang kehamilan dan kelahiran.
(13)
(ealanya ber#ariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda
spinalis dan akar saraf yang terkena. +eberapa anak memiliki geala ringan atau
tanpa geala, sedangkan yang lain mengalami kelumpuhan pada daerah yang
dipersarafi oleh korda spinalis.
(12)
a. Spina bifida okulta
(3,,,/,%)
Sering kali asimtomatik
.idak ada gangguan pada neural tissue
:egio lumbal dan sakral
)efek berbentuk dimpel, seberkas rambut, ne#us
(angguan traktus urinarius (mild)
b. Spina bifida aperta
(1,-)
0eningokel
.ertutupi oleh kulit
.idak teradi paralisis

0ielomeningokel
.idak tertutup oleh kulit, tetapi mungkin ditutupi oleh membran yang
transparan
.eradi paralisis
Pemeri#saa" Fisis
Pemeriksaan neurologis pada bayi cukup sulit> terutama untuk
membedakan gerakan #olunter tungkai terhadap gerakan reflektoris. )iasumsikan
bahwa semua respons gerakan tungkai terhadap rangsang nyeri adalah refleksif>
1/
sedangkan adanya kontraktur dan deformitas kaki merupakan ciri paralisis
segmental le#el tersebut.
(-)
9ara pemeriksaannya 4 bayi ditelungkupkan di lengan pemeriksa, anggota
gerak bawah bayi disisi lengan bawah pemeriksa. Fang dinilai adalah letak
scapula, ukuran leher, bentuk tulang belakang dan gerakan.
(1, %)
Pemeri#saa" Pe"u"%a"'
)iagnosis ditegakkan berdasarkan geala dan hasil pemeriksaan fisik.
)iagnosa dini spina bifida bisa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
prenatal. Pada trimester pertama, wanita hamil menalani pemeriksaan darah yang
disebut triple screen. .es ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida,
sindrom dan kelainan bawaan lainnya. Triple screen merupakan tes yang terdiri
atas pemeriksaan alfa fetoprotein (7CP), <S( tulang belakang anin, dan
amniosentesis.
(1,12)
%, 2 wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida, akan memiliki
kadar serum alfa fetoprotein yang tinggi. .es ini memiliki angka positif palsu
yang karena itu ika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanutan untuk
memperkuat diagnosis. )ilakukan <S( yang biasanya dapat menemukan bayi
dengan spina bifida. !adang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban).
(12)
Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut 4
@$ :ay tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan
9. scan memungkinkan untuk melihat secara langsung defek pada anatomi
dan tulang. Pemeriksaan ini uga digunakan untuk menentukan ada atau
tidaknya hidrosefalus atau kelainan intracranial lainnya.
1%
(ambar. 1,
()iambil dari kepustakaan
1&
)
9. scan atau 0:" tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan luas
dan lokasi kelainan
(12)
0:" merupakan pemeriksaan pilihan untuk aringan saraf dan untuk
mengidentifikasi kelainan pada bayi baru lahir. Pemeriksaan ini
memungkinkan untuk melihat anomali yang berkaitan baik intraspinal
maupun intrakranial
(ambar. 1-
()iambil dari kepustakaan
1&
)
VIII. PENANGANAN
11
Penanganan pasien dengan spina bifida dengan operasi penutupan pada defek
yang terbentuk, saat ini masih kontro#ersial. +anyak bidang keilmuan menghindari
pelaksanaan urgent operasion bila le#el neurological lesinya tinggi (diatas ;1), ika
teradi deformitas spinal yang arang, atau ika teradi hidrosefalus, selebihnya ika
teradi lesi pada kulit dilakukan penutupan defek secara dini.
(2)
Penanganan berikutnya, adalah dengan kera tim. .im yang idel merupakan
kombinasi dari neurosurgery, ortopedi, urologi, pediatrik, fisioterapi. Seiring
pertumbuhan anak, ia membutuhkan pemasangan splint dan fisioterapis. .api diatas
semua itu, anak$anak tersebut membutuhkan pengertian dari kedua orang tuanya dan
perhatian mereka.
(2)
Pe"a"'a"a" A(al
Penutupan defek pada kulit
)ilakukan ika pasien memiliki prognosis yang baik, dilaksanakan dalam &% am
setelah kelahiran. =eural plate ditutup dengan hati$hati dan kulit diinsisi luas.
Banya dengan cara ini ulkus dapat dicegah.
Bidrosefalus
0erupakan prioritas selanutnya. )ilakukan setelah beberapa hari. )ilaksanakan
#entriculo ca#al shunt.
)eformitas
Barus tetap dikontrol. Dperasi ortopedi biasanya tidak dilakukan sampai minggu
ke$3, selanutnya pada masa pertumbuhan anak.
Pe"a"'a"a" Paralisis &a" Deformitas
<ntuk - 8 12 bulan pertama deformitas diterapi dengan strecthing dan strapping.
!oreksi dengan menggunakan plester tidak dibenarkan. 6fek 4 tulang dapat patah
dan muncul ulkus di kulit.
25
Open methods adalah koreksi yang terbaik untuk deformitas, tetapi harus ditunda
sampai anak berumur beberapa bulan.
)eformitas proksimal dikoreksi sebelum deformitas distal teradi. 'ika sudah
seimbang maka deformitas residu yang teradi ditangani dengan osteotomi.
Splint tidak pernah digunakan tunggal dalam mengkoreksi deformitas. Banya bisa
digunakan untuk mempertahankan deformitas, pelaksanaannya diperkuat dengan
strecthing

berulang$ulang.
(2)
I). PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari tipe spina bifida, umlah dan beratnya abnormalitas,
dan semakin elek apabila disertai dengan paralisis, hidrosefalus, malformasi 9hiari ""
dan defek kongenital lain. )engan perawatan yang sesuai, banyak anak dengan spina
bifida dapat hidup sampai dewasa.
(-)
0ielomeningokel merupakan spina bifida dengan prognosis yang elek.
Setelah dioperasi mielomeningokel memiliki harapan hidup 12 2 ( %- 2 dapat
bertahan hidup selama , tahun).
(-)
21
DAFTAR PUSTAA
1. :asad, 9hairuddin. Penyakit Akibat Lesi edula !pinalis dalam4 Pe"'a"tar
Ilmu Be&a! Ort!o*e&i. 6disi !etiga. 'akarta4 Farsif 3atampone>
2551. Bal 2,/$1.
2. Solomon, ;ouis. Neuromuscular disorder in4 A*le+,s S+stem of
Ort!o*ae&i- a"& Fra-tures. %
th
ed. ;ondon4 7rnold> 2551. P 21&$-.
3. Sadler, ..3. "entral Ner#ous !ystem in 4 La"'ma",s Me&i-al Em.riolo'+/
%
th
ed. 0ontana4 .win +ridges> P.11&$,, &&3$%
&. )e 'ong,3im. !istem !araf dalam4 Bu#u A%ar Ilmu Be&a!. 6disi 2. 'akarta4
Penerbit +uku !edokteran 6(9> 255&. Bal %11$&.
,. Scwarts, S. ". Neurosurgery in 4 Pri"-i*les of Sur'er+. 1
th
ed. <S7> 2515. P.
15&, 122
-. Satyanegara. $isgrafisme !pinal dalam 4 Ilmu Be&a! Saraf. 6disi !etiga,
'akarta4 Penerbit P. (ramedia Pustaka <tama> 111%. Bal.351$5,.
/. (riffin, 0ike. Occupational Therapy %e#ision Notes & !pina 'ifida GDnlineH
'une ,
th
2552> 7#ailable from <:;4 http4**www.otdirect.co.uk
%. 7nonim. !pina 'ifida GDnlineH 2515> 7#ailable from <:;4
http4**www.wikipedia.com
22
1. !ugler, 0ary. !pina 'ifida GDnlineH 'une 2&
th
255%> 7#ailable from <:;4
http4**www.raredisease.about.com
15. 6llenbogen. :ichard.(. Neural Tube $efects in the Neonatal Period. GDnlineH
'an 35
th
2515> 7#ailable from <:;4 http4**www.emedicine.com
11. 7nonim. yelodisplasia GDnlineH 2515, Gcited 7pril ,
th
, 2515H> 7#ailable
from <:;4 http4**www.posna.com
12. 7nonim. !pina 'ifida (!umbing Tulang 'elakang) GDnlineH 2515, Gcited 7pril
,
th
, 2515H> 7#ailable from <:;4 http4**www.medicastore.com
23