Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Komunikasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Yang mana
segala bentuk aktualisasi manusia diawali dengan berkomunikasi antara satu dan lainnya. Hal
inilah yang mendasari kita betapa pentingnya mempelajari komunikasi dalam kehidupan
bermasyarakat dan tuntutan kita sebagai makhluk sosial.
Berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia, karena dengan komunikasi
kebutuhan manusia akan terpenuhi. Menurut Johnson (1981) dalam (Supratiknya, 2003: 9)
mengemukakan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antar pribadi dalam
rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia yaitu: Komunikasi antar pribadi membantu
perkembangan intelektual dan sosial kita, Identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan
lewat komunikasi dengan orang lain, Dalam rangka memahami realitas di sekeliling kita serta
menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang dunia di sekitar kita,
kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain dan realitas
yang sama, Kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas Komunikasi
atau hubungan kita dengan orang lain, lebih-lebih orangorang yang merupakan tokoh-tokoh
signifikan (significant figures) dalam hidup kita.
Diawali dengan komunikasi yang intensif dengan ibu pada masa bayi, lingkaran
komunikasi itu menjadi semakin luas dengan bertambahnya usia individu. Seiring dengan
proses tersebut,perkembangan intelektual dan sosial individu sangat ditentukan oleh kualitas
komunikasi dengan orang lain tersebut. Secara sadar maupun tidak sadar individu
memperhatikan dan mengingat-ingat semua tanggapan dari orang lain terhadap diri individu.
Dengan komunikasi dengan orang lain individu dapat menemukan diri yang sebenarnya.
Komunikasi antarpribadi mengembangkan individu dari dimensi kesosialan. Bersosialisasi
dengan orang lain secara tidak langsung menunjukkan kekhasan diri sendiri, sehingga lebih
mudah menemukan jatidiri. Kondisi mental yang sehat dan tidak sehat ternyata dipengaruhi
juga oleh kualitas komunikasi antarpribadi dengan orang lain. Oleh sebab itu komunikasi
antarpribadi sangat penting bagi kehidupan individu yang hidup di tengah-tengah lingkungan
sosial
2


Proses pengembangan diri manusia juga bisa di titiskan melalui cara dia berkomunikasi.
Hal ini sangat beterkaitan dengan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri karena
mengingat kondisi kehidupan manusia yang bersifat kontinu dan terus melakukan progress
untuk tercapainya tujuan hidup manusia itu sendiri.
1.2.Tujuan Penulisan
- Memenuhi tuntutan tugas
- Sebagai bahan referensi




















3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian komunikasi interpersonal
1
Komunikasi interpersonal didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya The
Interpersonal Communicationtau Book.( devito. 1889:4 ) sebagai: proses pengiriman dan
penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang,
dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik secara seketika( the process of sending and
receiving messages betwen two persons, or among a small group of person, with some effect
and some immediate feedback). Jadi, Komunikasi merupakan proses pemindahan informasi
dan pengertian antara dua orang atau lebih, dimana masing-masing berusaha untuk
memberikan arti pada pesan-pesan simbolik yang dikirim melalui suatu media yang
menimbulkan umpan balik.
2
Komunikasi Interpersonal yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung
antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi,
percakapan melalui telepon, dsbnya.Pentingnya situasi komunikasi interpersonal ialah karena
prosesnya memungkinkan berlangsung secra dialogis. Komunikasi yang berlangsung secara
dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog menunjukan suatu bentuk
komunikasi dimana seorang bicara yang lain mendengarkan, jadi tidak ada interaksi. Yang
aktif hanya komunikatornya saja, sedangkan komunikan bersifat pasif.
Komunikasi Interpersonal berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman
komunikasi dan hubungan antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi
dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman
dan makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya. Hal terpenting
dari aspek psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak
dalam diri individu dan tidak mungkin diamati secara langsung. Artinya dalam komunikasi
interpersonal pengamatan terhadap seseorang dilakukan melalui perilakunya dengan
mendasarkan pada persespsi orang yang mengamati. Dengan demikian aspek psikologis

1
Joseph A Devito, The Interpersonal Communicationtau Book,1889,hal 4
2
Prof.Dr.Hafidh Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi
4

mencakup pengamatan pada dua dimensi, yaitu internal dan eksternal. Namun kita
mengetahui bahwa dimensi eksternal tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya.
Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui
tindakan atau perilaku yang dapat diamati. Proses interpretasi ini setiap individu berbeda.
Karena setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, yang terbentuk karena
pengalaman yang berbeda pula. Keterampilan komunikasi tidak hanya mengacu pada cara di
mana kita berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi meliputi banyak hal seperti cara
bagaimana kita menanggapi lawan bicara kita, gerakan tubuh serta mimik muka, nada suara
kita dan banyak hal lainnya. Terdapat delapan elemen yang menentukan efektivitas
komunikasi, yaitu :
Pengirim, orang-orang yang mengawali suatu komunikasi.
Penerima, orang-orang yang melalui inderanya menerima pesan-pesan dari Pengirim.
Encoding, proses mengubah gagasan atau informasi ke dalam rangkaian simbol atau
isyarat. Dalam proses ini, gagasan atau informasi diterjemahkan ke dalam simbol-simbol
(biasanya dalam bentuk kata-kata atau isyarat) yang memiliki kesamaan arti dengan
simbol-simbol yang dimiliki Penerima.
Pesan, bentuk fisik dari informasi-informasi atau gagasan-gagasan yang telah diubah oleh
pengirim. Pesan biasanya diberikan dalam bentuk-bentuk yang dapat dihayati dan
ditangkap oleh salah satu indera atau lebih dari penerima. Perkataan dapat didengar,
tulisan tangan dapat dibaca, dan isyarat-isyarat tangan dapat dilihat, dan sentuhan tangan
dapat dirasakan sebagai ancaman atau kehangatan. Pesan-pesan non-verbal merupakan
bentuk yang sangat penting terutama di dalam menekankan arti atau memberikan reaksi-
reaksi secara terbuka.
Decoding, proses penterjemahan terhadap pesan-pesan yang dikirim oleh Pengirim
kepada Penerima. Proses ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau,
penggunaan interprestasi yang bersifat pribadi terhadap simbol-simbol atau isyarat-
isyarat, harapan-harapan, dan saling pengertian dengan Pengirim. Komunikasi lebih
efektif dan efisien apabila pesan yang diterjemahkan oleh penerima seimbang atau sesuai
dengan pesan-pesan yang dimaksudkan oleh Pengirim.
Channel, cara atau saluran atau jalan pengiriman suatu pesan. Hal ini seringkali dapat
dipisahkan dari pesan. Agar komunikasi dapat berjalan secara efisien dan efektif, Channel
haruslah sesuai dengan pesan yang hendak dikirim.
5

Noise, faktor pengganggu jalannya komunikasi. Munculnya gangguan ini bisa pada setiap
tahap komunikasi.
Feedback (umpan balik), reaksi atau ekspresi Penerima terhadap pesan-pesan yang telah
diterimanya, dan dikomunikasikan kepada Pengirim. Dengan adanya umpan balik,
Pengirim dapat mengetahui sejauh mana pesan-pesan yang telah dikirimnya bisa diterima
oleh Penerima.

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal
3
Dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya, komunikasi interpersonal dinilai
paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan.
Alasannya yaitu komunikasi interpersoanal umumnya berlangsung secar tatap muka ( face to
face ). Komunikator dan komunikan saling bertatap muka, maka terjadilah kontak pribadi (
personal contact ) yang menimbulkan keterbukaan antara komunikan dan komunikator.
Ketika komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan, umpan balik akan terjadi
secara seketika ( immediate feedback ). Komunikator akan mengetahui pesan tersampaikan
secara baik atau tidak ketika melihat tanggapan komunikan terhadap pesan yang disampaikan
melalui ekspresi wajah dan gaya bahasa.. apabila umpan baliknya positif artinya tanggapan
dari komunikan tersebut menyenangkan untuk komunikator dan komunikator akan
mempertahankan gaya komunikasi yang sudah terbangun, sebaliknya jika tangggapan negatif
dari komunikan maka komunikator harus merubah gaya komunikasi agar kedepannya dapat
berkomunikasi yang jauh lebih baik.
Oleh karena itu, keampuhan dalam mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku
komunikan maka bentuk komunikasi interpersonal sering dipergunakan umtuk melancarkan
komunikasi persuasif ( persuasive communication ) yakni suatu teknik komunikasi secara
psikologis manusiawi yang sifatnya halus, luwes berupa ajakan, bujukan atau rayuan. Tetapi
komunikasi persuasif interpersonal hanya digunakan pada komunikan yang potensial, dalam
artian tokoh yang mempunyai jajaran dengan pengikutnyaatau anak buahnya dalam jumlah
yang sangat banyak, sehingga apabila tokoh tersebut berhasil diubah sikapnya atau
idiologinya maka seluruh jajarannya akan mengikutinya.


3
Prof.Dr.Jalalludin Rahmat, Psikologi Komunikasi
6

2.3. Teori Komunikasi Interpersonal
1. Teori-teori Struktural dan Fungsional
Bagian ini memasukkan kelompok utama pendekatan-pendekatan yang tergabung secara
samar dalam ilmu sosial. Meski makna istilah strukturalisme dan fungsionalisme kurang
begitu tepat, tetapi keduanya percaya bahwa struktur sosial adalah hal yang nyata dan
berfungsi dalam cara yang dapat diamati secara objektif.
Sebagai contoh, pengamat komunikasi mungkin berasumsi bahwa hubungan personal
merupakan sesuatu yang nyata dengan bagian-bagian yang disusun secara khusus, seperti
juga rumah yang merupakan suatu yang nyata dengan material yang disusun sesuai rencana.
Disini hubungan dilihat sebagai struktur sosial. Pengamat akan berasumsi lebih jauh bahwa
hubungan yang ada bersifat tidak statis tetapi memiliki atribut seperti ikatan, ketergantungan,
kekuatan, kepercayaan dan sebagainya.
Meskipun strukturalisme dan fungsionalisme seringkali digabung, tetapi keduanya tetap
berbeda dalam penekanannya. Strukturalisme yang berakar pada linguistik, menekankan pada
organisasi bahasa dan sistem sosial. Fungsionalisme yang berakar pada biologi, menekankan
pada cara-cara sistem yang terorganisasi bekerja untuk menunjang dirinya. Sistem terdiri atas
variabel-variabel yang berhubungan timbal balik dengan variabel lain dalam sebuah fungsi
network. Perubahan pada satu variabel akan mengakibatkan perubahan pada yang lain.
Peletakan dua pendekatan ini secara bersama-sama menghasilkan suatu gambaran sistem
sebagai struktur elemen dengan hubungan yang fungsional. Sebagai contoh, beberapa peneliti
komunikasi organisasi menggunakan pendekatan struktural-fungsional dalam kerja mereka.
Mereka melihat organisasi sebagai suatu sistem dimana bagian-bagian yang terkait
membentuk departemen, tingkatan, perilaku umum, suasana, aktivitas kerja dan produk.
Pendekatan teoritik yang paling umum dari komunikasi yaitu teori sistem. Teori sistem
dan dua bidang yang berhubungan, sibernetika dan teori informasi, menyajikan perspektif
yang luas mengenai cara memandang dunia. Teori sistem berkaitan dengan saling
keterhubungan antara bagian-bagian dari suatu organisasi.


7

2. Teori kebutuhan hubungan interpersonal
Salah sastu bagian dalam lapangan komunikasi yang dikenal sebagai relational
communication sangat dipengaruhi oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa
fungsi komunikasi interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan
bahwa hubungan pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Poin ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan
struktur hubungan. Dlaam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak
membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola
yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas
diadopsi dalam lapangan komunikasi. Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang;
saling menentukan satu sama lain.
Seorang Antropolog Gregory Bateson adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya
dikenal dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi
mendasar pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat
mendua dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan report dan
pesan command. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan
command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya
dikenal sebagai isi pesan dan pesan hubungan, atau komunikasi dan
metakomunikasi.
Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command
menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti I love you dapat
dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda
mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi,
submissive, pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama,
tetapi pesan hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.
Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa hubungan dapat dikarakterisasi dengan
komplementer atau simetris. Dalam hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku
diikuti oleh lawannya. Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku
submissive dari partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang
sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan submissif.
Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem.
8

Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki.
Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang
mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur
keduanya adalah berbeda pula.
3. Teori disonansi kognitif
Teori Leon Festinger mengenai dissonansi kognitif merupakan salah satu teori yang
paling penting dalam sejarah psikologi sosial. Selama bertahun-tahun teori ini menghasilkan
sejumlah riset dan mengisi aliran kritik, interpretasi, dan extrapolasi.
Festinger mengajarkan bahwa dua elemen kognitif termasuk sikap, persepsi,
pengetahuan, dan perilaku. Tahap pertama yaitu posisi nol, atau irrelevant, kedua yaitu
konsisten, atau consonant dan ketiga yaitu inkonsisten, atau dissonant. Dissonansi terjadi
ketika satu elemen tidak diharapkan mengikuti yang lain. Jika kita pikir merokok itu
berbahaya bagi kes ehatan, mereka tidak berharap kita merokok. Apa yang konsonan dan
dissonan bagi seseorang tidak bisa berlaku b agi orang lain. Jadi kita harus selalu
menanyakan apa yang konsisten dan yang tidak konsisten dalam sistem psik ologis orang itu
sendiri.
Dua premis yang menolak aturan teori dissonansi. Pertama yaitu bahwa dissonansi
menghasilkan ketegangan atau penekan an yang menekan individu agar berubah sehingga
dissonansi terkurangi. Kedua, ketika dissonansi hadir, indivi du tidak hanya berusaha
menguranginya, melainkan juga akan menghindari situasi dimana dissonansi tambahan bisa
dihasilkan.
Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya. Contoh, semakin
perokok tidak konsisten dengan pengetahuannay mengenai efek negatif merokok, semakin
besar dorongan untuk berhenti merokok. Dissonansi itu sendiri merupakan hasil dari dua
variabel lain, kepentingan elemen kognitif dan sejumlah elemen yang terlibat dalam
hubungan yang dissonan. Dengan kata lain, jika kita mempunyai beberapa hal yang tidak
konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan mengalami dissonansi yang lebih besar.
Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan
kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara aktual.
Sikap, Kepercayaan, dan Nilai. Salah satu teori yang paling komprehensif mengenai
sikap dan perubahannya yaitu milik Milton Rokeach. Dia mengembangkan penjelasan yang
9

meluas mengenai perilaku manusia berdasarkan kepercayaan, sikap dan nilai.
Rokeach percaya bahwa setiap orang mempunyai sistem yang tersusun dengan baik atas
kepercayaan, sikap dan nilai, yang menuntun perilaku. Belief adalah ratusan atau ribuan
pernyataan yang kita buat mengenai diri dan dunia. Kepercayaan dapat bersifat umum
ataupun khusus, dan itu disusun dalam sistem dalam hal sentralitas atau pentingnya terhadap
ego. Pada pusat sistem kepercayaan yang dibangun dengan baik itu, kepercayaan yang secara
relatif tidak dapat berubah yang membentuk inti sistem kepercayaan. Pada pinggiran sistem
terbentang sejumlah kepercayaan yang tidak signifikan yang dapat mudah berubah. Percaya
bahwa orang tua kita bahagia dalam perkawinan kemungkinan cukup penting, karena
dampaknya yaitu banyak hal lain yang kita anggap benar.
4. Teori self disclosure
Disclosure dan understanding merupakan tema penting dalam teori komunikasi pada
tahun 60 dan 70-an. Sebagian besar sebagai konsekuensi aliran humanistik dalam psikologi,
sebuah ideologi honest communication muncul, dan beberapa dari pemikiran kita tentang
apa yang membuat komunikasi interpersonal itu baik dipengaruhi oleh gerakan ini. Didorong
oleh karya Carl Rogers, disebut Third Force begitu dalam psikologi menyatakan bahwa
tujuan komunikasi adalah meneliti pemahaman diri dan orang lain dan bahwa pengertian
hanya dapat terjadi dengan komunikasi yang benar.
Menurut psikologi humanistik, pemahaman interpersonal terjadi melalui self-disclosure,
feedback, dan sensitivitas untuk mengenal atau mengetahui orang lain. Misunderstanding dan
ketidakpuasan dalam hubungan diawali oleh ketidakjujuran, kurangnya kesamaan antara
tindakan seseorang dengan perasaannya, miskin feedback, serta self disclosure yang ditahan.
Banyak riset pengenalan diri muncul dari gerakan humanistik ini. Seorang teoritisi yang
menggali proses self-disclosure ini adalah Sidney Jourard. Uraiannya bagi kemanusiaan
sifatnya terbuka dan transparan. Transparansi berarti membiarkan dunia untuk mengenal
dirinya secara bebas dan pengenalan diri seseorang pada orang lain. Hubungan interpersonal
yang ideal menyuruh orang agar membiarkan orang lain mengalami mereka sepenuhnya dan
membuka untuk mengalami orang lain sepenuhnya.
Jourard mengembangkan gagasan ini setelah mengamati bahwa sakit mental cenderung
tertutup bagi dunia. Dia menemukan bahwa mereka menjadi sehat ketika mereka bersedia
mengenalkan dirinya pada ahli terapi. Kemudian, Jourard menyamakan kesakitan (sickness )
10

dengan ketertutupan dan kesehatan dengan transparansi. Jourard melihat pertumbuhan
pergerakan orang menuju cara berperilaku yang baru- sebagai hasil langsung dari
keterbukaan pada dunia. Orang yang sakit sifatnya tetap dan stagnan; pertumbuhan orang
akan sampai pada posisi hidup baru. Selanjutnya, perubahan merupakan esensi dari
pertumbuhan personal.
Personal growth melekat pada komunikasi interpersonal sebab dunia merupakan sosial
yang sangat luas. Untuk menerima perubahan seseorang itu sendiri meminta kita untuk
menetapkan bahwa kita juga diterima oleh orang lain. Pertumbuhan akan sulit jika orang-
orang di sekitar kita tidak membuka untuk penerimaan kita sendiri.
Sekarang kita mengerti self-disclosure sebagai proses yang lebih kompleks daripada yang
dilakukan pada tahun 60 dan 70-an. Sebagai contoh pemikiran terbaru atas subyek ini,
Sandra Petronio meletakkan secara bersamaan serangkaian ide mengenai kompleksitas self-
disclosure dalam relationship. Teori ini berdasar pada risetnya sendiri dan survey pada
sejumlah banyak kajian lain dengan topik pengembangan hubungan dan disclosure. Dia
menerapkan teori ini pada pasangan yang menikah khususnya, selain juga dapat diterapkan
pada bermacam-macam; hubungan.
Menurut Petronio, individu terlibat dalam hubungan secara konstan menjadi bagian
dalam proses pengaturan yang membatasi antara publik dan privat, antara perasaan dan
pikiran yang mereka mau berbagi dengan sang patner dengan perasaan dan pikiran yang tidak
mau mereka bagi. Permainan diantara kebutuhan untuk berbagi dan kebutuhan untuk
melindungi diri ini sifatnya konstan dan mendorong pasangan untuk membicarakan dan
mengkoordinasi batasan mereka.







11

BAB III
PENUTUP

Pada dasarnya , ada banyak metode untuk kita berkomunikasi. Baik itu dalam
lingkungan sosial maupun secara personal. Namun di sekian banyak metode tersebut kami
mencoba untuk membahas metode komunikasi interpersonal. Karena asumsinya bahwa
metode komunikasi interpersonal inilah yang paling efektif.
Konteks kita berkomunikasi juga didasari oleh beberapa sistem dan skill setiap
individu. Tentu kita sering mendengar orang melakukan lobby proposal ? hal itu juga
mengacu kepada skill seseorang untuk menarik perhatian dan mencapai tujuan yang ingin
dituju. Maka penting juga kita mengenali skill dan kemampuan kita untuk berkomunikasi
dengan seseorang. Karena mengingat sifat komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi
yang dilakukan antara dua orang (komunikator dan Komunikan).













12

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jallaludin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Cangara, Hafidh.1998.Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Erlangga
Devito,A,Joseph.1889.The Interpersonal Communicationtau. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
www.google.com