Anda di halaman 1dari 22

RANCANGAN CAMPURAN BETON

SNI 03-2834-1993
Perhitungan perencanaan campuran beton harus didasarkan pada data sifat-sifat
bahan/ karakteristik agregat yang akan dipergunakan dalam produksi beton.
Data data yang harus dipersiapkan untuk suatu mix-design beton adalah :
1)

Persentase

penggabungan

agregat

kasar

dan

halus

(lihat

cara

penggabungan agregat )
2)

Berat jenis spesifik agregat kasar dan halus ( Laboratorium )

3)

Berat volume agregat kasar dan halus ( Laboratorium )

4)

Kadar air agregat kasar dan halus (Laboratorium )

5)

Penyerapan air agregat kasar dan halus ( Laboratorium )

6)

Kadar Lumpur agregat kasar dan halus ( Laboratorium )

7)

Keausan agregat kasar ( Laboratorium )

8)

Kadar organic agregat halus ( Laboratorium )

9)

Fungsi struktur yang akan didesign betonnya/lingkungannya (tujuan struktur)

10) Diameter maksimum dari agregat sehubungan penggunaannya pada struktur


11) Mutu beton yang didesain campurannya (kuat tekan beton yang disyaratkan).
Metode Rancangan Campuran Beton
Ada beberapa rancangan campuran beton antara lain
a.

Cara DOE ( Development Of Environment )

b.

Cara Simplified Method

c.

Cara ACI (American Concrete Institute)

d.

Cara PCA (Portland Cement Association)

Laboratorium Eco Material

38

PROSEDUR PERANCANGAN BETON CARA DEVELOPMENT OF


ENVORONMENT ( D O E )

a. Penetapan Mutu Beton yang disyaratkan, fc (mutu beton rencana uji


silinder)
Tentukan

mutu

beton

yang

akan

dibuat

(yang

diinginkan),

dengan

pertimbangan pada nilai keausan agregat kasarnya (lihat spesifikasi). Terdapat


korelasi kuat tekan benda uji antara silinder dengan kubus :
fc = 0,76 + 0,2 . log fck/15 fck
fc = kuat tekan silinder (15 x 30 cm ) pada umur 28 hari, MPa
fck = kuat tekan kubus (15 x 15 x 15 cm) pada umur 28 hari, MPa

b. Penetapan target Standard Deviasi Sr (kg/ cm)


Standar deviasi (tingkat kualitas pekerjaan pembetonan), dapat ditetapkan
dengan grafik 1.

Deviasi Standart

100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

A Sr max untuk 20 atau lebih benda uji


C Sr didapat dilapangan
B Sr Min untuk 20 atau lebih benda uji
0

15

45

75

105

135

165

195

225

255

285

315

Kuat tekan karakteristik (kg/cm2)


Grafik 1. Hubungan kuat tekan karakteristik vs Standar Deviasi

Laboratorium Eco Material

39

Tabel 1. Daftar Deviasi Standard


Indonesia

Isi pekerjaan
Satuan jumlah
beton ( m )

Sedang 1000- 3000


Besar > 3000

Tingkat
pekerjaan

Sr (MPa)

Dapat

Memuaskan

2,80

diterima

Baik sekali

3,50

Baik

4,20

Cukup

5,60

Deviasi Standard Sr ( kg /cm )


Baik sekali

Baik

45 < Sr < 55

Kecil < 1000

Inggris

55 < Sr < 65

65 < Sr < 85

35 < Sr < 45

45 < Sr < 55

65 < Sr < 75

Jelek

7,00

25 < Sr < 35

35 < Sr 45

45 < Sr < 65

Tanpa kendali

8,40

c. Menghitung Besarnya Margin M


Dimaksudkan dengan menghitung margin disini adalah nilai yang harus
ditambahkan pada kuat tekan karakteristik beton :
M = 1,64 x Sr jika Sr < 4 MPa
M = 2,64 x Sr

jika Sr > 4 Mpa

d. Menghitung Kuat Tekan Rata Rata ( fcr ) uji selinder umur 28 hari.
Kuat tekan rata rata yang ditargetkan ( fcr ), dihitung sebagai berikut :
fcr = fc + M dimana Margin min = 12 jika jumlah sampel < 15.
e. Penetapan tipe Semen.
Type semen yang dipakai harus dinyatakan dalam desain campuran beton.
Umumnya semen type I dan III yang banyak dipakai. Hubungan type semen,
kuat tekan, umur beton dan jenis agregat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Perkiran Kuat Tekan Beton Pada Faktor Air Semen 0,50
Jenis Agregat
Type Semen
Kasar
Semen Portland Alami
type I

Batu Pecah

Kuat tekan pada umur (hari) kg/cm2


3
7
28
91
200
280
400
480
230

320

450

540

Semen Portland Alami

250

340

460

530

type III

300

400

530

600

Batu Pecah

Laboratorium Eco Material

40

Catatan :
Faktor air semen adalah perbandingan berat air bebas dan semen pada
suatu campuran beton ( disingkat = fas ).

f. Penetapan Tipe Agregat :


Dalam menghitung mix-design beton, perlu dinyatakan tipe agregat yang
dipakai yaitu

agregat alam atau agregat batu pecah, karena hal ini

mempengaruhi kekuatan dan kadar air bebas sebagai mana pada Tabel 2 dan
Tabel 3.
Tabel 3. Tipe Agregat Dan Perkiraan Kadar Air Bebas.
Slump
V. B.

( mm )
( det )

Ukuran maks.
Agregat (mm)
10

20

40

0 - 10

10 - 30

30 - 60

60 - 180

12

6 - 12

3 - 6

0 - 3

Jenis
agregat
Alami

150

180

205

225

Batu pecah

180

205

230

250

Alami

135

160

180

195

Batu pecah

170

190

210

225

Alami

115

140

160

175

Batu pecah

155

175

190

205

Kadar Air Bebas Dalam kg/ m

g. Penetapan Faktor Air Semen


Faktor air semen

adalah perbandingan antara berat air bebas dan berat

semen dalam pembuatan campuran beton.


Kadar air bebas

adalah berat air yang dibutuhkan jika agregatnya jenuh

kering muka ( SSD ).


Besar faktor air semen ( fas ) diambil dari harga terkecil fas yang diperoleh dari

Berdasar kuat tekan rata rata ( fcr ) gunakan Grafik 2 - 5

Berdasar syarat fas maks / lingkungan gunakan Tabel 5.

Laboratorium Eco Material

41

Grafik Korekasi fas vs Fc, Semen Type I


AGREGAT BATU PECAH/SPLIT, UMUR 28 hari
1000
900

Kuat Tekan (kg/cm2) FC

800
700
600
500
400
300
200
100
0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

Faktor air semen

Grafik 2. Semen Tipe I, Agregat Batu Pecah / Split Pada Umur 28 Hari
Grafik Korekasi fas vs Fc, S emen Type I
AGREGAT BATU ALAM, UMUR 28 hari
1000
900

Kuat Tekan (kg/cm2) FC

800
700
600
500
400
300
200
100
0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

Fakt or air semen

Grafik 3. Semen Type I , Agregat Batu Alam, Umur 28 Hari

Laboratorium Eco Material

42

Grafi k Kore kasi fas vs Fc, Se me n Type III


AGREGAT BATU PEC AH/SPLIT, UMUR 28 hari
1050

Kuat Tekan (kg/cm2) FC

900
750
600
450
300
150
0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

Fakt or air semen

Grafik 4. Semen Type III, Agregat Batu Pecah, Umur 28 Hari

Grafi k Kore kasi fas vs Fc, Se me n Type III


AGREGAT BATU ALAM, UMUR 28 hari
1000

Kuat Tekan (kg/cm2) FC

900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

Fakt or air semen

Grafik 5. Semen Type III, Agregat Batu Alam, Umur 28 Hari

Laboratorium Eco Material

43

Tabel 4. Faktor air semen maksimum untuk berbagai kondisi khusus.


Jenis
beton

Bertulang
pratekan

Kondisi
lingkungan

f.a.s.
maks

Kadar semen minimum


( kg/m) beton
40
mm

20
mm

14
mm

10
mm

Air tawar

0,50

260

290

--

--

Air payau/laut

0,45

320

360

--

--

Air tawar

0,50

300

300

--

--

Air payau/laut

0,45

320

360

--

--

Ringan

0,65

220

250

270

290

Sedang

0,55

260

290

320

340

Berat

0.45

320

360

390

410

Ringan

0,65

300

300

300

300

Sedang

0,55

300

300

320

340

Berat

0,45

320

360

390

410

Ringan

0,70

200

220

250

270

Sedang

0,60

220

250

280

300

Berat

0,50

270

310

330

360

Bertulang

Pratekan
Tak
bertulang

Faktor Air Semen Maksimum Berdasarkan Lingkungan


Untuk

berbagai

kondisi

lingkungan

dimana

beton

yang

dirancang

campurannya akan dikonstruksikan, disyaratkan suatu faktor air semen


maksimum yaitu fas yang tidak boleh dilewati, hal ini sudah ditetapkan oleh
beberapa pedoman pedoman beton seperti pada Tabel 4.
Dari nilai faktor air semen berdasar kuat tekan rata rata dan faktor air semen
lingkungan

( Grafik 2-5 dan tabel 4, 5 ) diatas, lalu diambil faktor air semen

yang terkecil untuk dipakai pada perhitungan selanjutnya

( fas kecil lebih

aman dari fas besar ).

Laboratorium Eco Material

44

Tabel 5. Faktor air semen maksimum pada pembetonan yang umum


Jenis Pembetonan

Semen
Minimum
(kg/m) beton

Faktor
air
semen
maksimum

275

0,60

325

0,52

325

0,60

275

0,60

325

0,55

375

0,52

I. Beton dalam Ruang Bangunan


I.1. Keadaan lingkungan non
korosif
I.2. Keadaan lingkungan korosif
disebabkan oleh uap uap
korosif.
II. Beton diluar ruang bangunan
II.1. Tidak terlindung dari hujan
dan terik matahari langsung.
II.2. Terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung.
III. Beton yang masuk dalam
tanah.
III.1. Mengalami keadaan basah
dan kering berganti - ganti.
III.2. Mendapat pengaruh sulfat
alkali dari tanah.
IV. Beton yang kontinyu
berhubungan dengan air.
IV.1. Air laut.
IV. 2. Air tawar.

tabel 6.
tabel 7.

Tabel 6. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang
mengandung sulfat.
Konsentrasi sulfat
Dalam bentuk SO4
Kadar
Gangguan
Sulfat

TOTAL
SO3 ( % )

SO3 DALAM
CAMPURAN AIR:
TANAH = 2 : 1
(g/l)

SULFAT
(SO3)
DALAM
AIR
TANAH
(g/l)

1.

Kurang
dari 0,2

Kurang
dari 1,0

Kurang
dari 0,3

2.

0,2 0 5

1,0 1,90

0,3 1,2

DALAM TANAH

Laboratorium Eco Material

Type
Semen

Type I dengan
Atau tanpa
Pozoland
(15 40 %)
Type I dengan
Atau tanpa
Pozoland

Kandungan
Semen
Minimum kg/m
Ukuran Max.
Agregat

Fas
max

40
mm

20
mm

10
mm

280

300

350

0,50

290

330

380

0,50

45

(15 40 %)
Type I +
Pozoland
(15 - 40 %)
atau semen
Portland
Pozoland

3.

0,5 1,0

4.

1,2 2,0

5.

Lebih dari
2,0

1,9 3,1

1,2 2,5

270

310

360

0,55

Type II atau
Type V

250

290

340

0,55

Type I +
Pozoland
(15 - 40 %)
atau semen
Portland
Pozoland

340

380

430

0,45

Type II atau
Type V

290

330

380

0,5

3,1 5,6

2,5 5,0

Type II atau
Type V

330

370

420

0,45

Lebih dari 5,6

Lebih dari
5,0

Type II atau
Type V +
Lapisan
perlindungan

330

370

420

0,45

Tabel 7. Ketentuan semen minimum untuk beton bertulang kedap air.

Jenis Beton

Kondisi
Lingkungan
Ber Hubungan
Dengan
Air Tawar

Beton

Air Payau

bertulang
atau
prategang

Air Laut

Laboratorium Eco Material

Type Semen

Kandungan Semen
Minimum
( Kg / M )
Ukuran Nominal Maks
Agregat

Fak. Air
Semen
Maks.

40 mm

20 mm

Type I - V

280

300

0,50

Type I +
pozolan
( 15 40 % )
atau semen
Portland
pozoland

340

380

0,45

Type II atau V

290

330

0,5

Type II atau V

330

370

0,45

46

h. Penetapan nilai Slump.


Untuk menetapkan nilai slump memerlukan pengalaman pelaksanaan beton,
tetapi untuk ancang-ancang slump dapat dijadikan patokan seperti pada Tabel
8, penetapan nilai slump sangat tergantung dari :
Cara pengangkutan (belt conveyer, pompa, manual, gerobak, dll.
Cara pengecoran / penuangan pada acuan
Cara pemadatan / penggetaran ( alat getar / triller, hand vibrator )
Jenis / tujuan struktur.
Tabel 8. Nilai slump berdasarkan jenis struktur.
Nilai Slump ( Cm )

Jenis Struktur

i.

MAKSIMUM

MINIMUM

Dinding, plat pondasi

12,5

5,0

Struktur dibawah tanah

9,0

2,5

Plat, balok, kolom dan dinding

15,0

7,5

Pengerasan jalan

7,5

5,0

Pembetonan massal

7,5

2,5

Penetapan Kadar Air Bebas.


Penetapan besar kadar air bebas (air yang diluar air jenuh) ditetapkan
berdasarkan nilai slump yang dipilih, ukuran maksimum agregat, dan tipe
agregat. Dapat digunakan Tabel 9.
Tabel 9. Perkiraan kadar air bebas ( kg / m ) beton.
Slump ( mm )
V. B
Ukuran
maks
agregat
(mm)
10

20

40

( det )

0 10

1030

3060

60-180

12

6 - 12

3-6

0-3

Jenis
agregate

Keterangan

Kadar air bebas dalam ( kg/m) beton

Alami

150

180

205

225

Wf

Batu pecah

180

205

230

250

Wc

Alami

135

160

180

195

Wf

Batu pecah

170

190

210

225

Wc

Alami

115

140

160

175

Wf

Batu pecah

155

175

190

205

Wc

Laboratorium Eco Material

47

Kadar air bebas perlu :


1. Kadar air bebas = Wf jika pasir + kerikil
2. Kadar air bebas = (2/3 x Wf) + (1/3 x Wc) jika pasir alam + batu pecah
3. Kadar air bebas = Wc jika pasir debu batu + batu pecah.

j.

Penetapan kadar semen ( kg/m ) beton


Penetapan kadar semen perlu per m beton ( kg/m ) digunakan rumus sebagai
berikut :
KadarSemen

KadarAirBebas
FaktorAieSemen

kg/m beton.

k. Penetapan perkiraan berat jenis spesifik gabungan


Perkiraan berat jenis gabungan agregat kasar dan agregat halus, dapat
dihitung berdasarkan rumus berikut :
Berat jenis Spesifik gabungan = [a% x B.J spesifik pasir] + [b % x B.J
spesifik kerikil]
dimana :
a % = persentase penggabungan agregat halus terbaik (Penggabungan)
b % = persentase penggabungan agregat kasar terbaik (Penggabungan)

l. Perkiraan berat volume beton segar ( basah ).


Untuk memperkirakan berat volume basah beton digunakan Grafik 6 yaitu
grafik hubungan antara berat volume basah beton , kadar air bebas dan berat
jenis gabungan SSD.

Laboratorium Eco Material

48

Berat vo;ume beton (kg/m3)

2700
2680
2660
2640
2620
2600
2580
2560
2540
2520
2500
2480
2460
2440
2420
2400
2380
2360
2340
2320
2300
2280
2260
2240
2220
2200
2180
2160
2140
2120
2100
100

Komposis :
BJ. Spesifik SSD
relatif agregat

BJS. Gabungan = 2,90


BJS. Gabungan = 2,80
BJS. Gabungan = 2,70
BJS. Gabungan = 2,60
BJS. Gabungan = 2,50
BJS. Gabungan = 2,40
120

140

160

180

200

220

240

260

280

300

Kadar air bebas (kg/m3) beton

Grafik 6. Korelasi kadar air bebas, BJ. spesifik gabungan SSD dan berat volume beton.

Laboratorium Eco Material

49

m. Penetapan porsi agregat.


Berat agregat halus A = a% x ( D Ws Wa ).
Berat agregat kasar B = b% x ( D Ws Wa )
dimana :
a % = Persentase penggabungan agregat halus ( pasir )
b % = Persentase penggabungan agregat kasar ( kerikil )
D

= Berat volume beton basah ( kg/m )

Ws = Kadar semen ( kg/m ) beton


Wa = Kadar air bebas ( kg/m ) beton
A

= Berat agregat halus kondisi SSD ( kg/m ) beton

= Berat agregat kasar kondisi SSD ( kg/m ) beton

n. Hasil Rancangan Campuran Beton (Bahan Kondisi SSD)


Campuran beton teoritis adalah porsi campuran dimana agregat masih dalam
kondisi SSD ( masih sulit untuk pelaksanaan dilapangan ) yaitu :
Air

= Wa ( kg/m ) beton

Semen

= Ws ( kg/m ) beton

Pasir

= A

Kerikil

= B ( kg/m ) beton

( kg/m ) beton

Berat komponen beton teoritis adalah berat kondisi SSD ( agregat kondisi
jenuh air/ kering permukaan ), jadi masih perlu diperbaiki (dikoreksi) terhadap
kondisi

agregat

lapangan

saat

akan

dilaksanakan

pengecoran

(lihat

pembahasan koreksi campuran beton poin O)

o. Koreksi Campuran Beton.


Untuk prnyesuaian takaran berat agregat sesuai kondisinya pada saat akan
dicampur, maka perlu dikoreksi agar pengambilan agregat untuk dicampur
dapat langsung diambil. Dimaksudkan koreksi tersebut adalah koreksi
terhadap kadar air sesaat agregat (kondisi agregat tidak selamanya SSD
seperti pada hasil campuran tioritis dari poin n tersebut diatas ).

Laboratorium Eco Material

50

Koreksi campuran beton ada dua macam, yaitu :


1. Koreksi secara Eksak ( rasional )
Uraian rumus :
BK

= Berat kering mutlak ( oven )

BL

= Berat lapangan (sesuai kondisi agregat)

W% = Kadar air agregat sesuai kondisi agregat )


R% = Resapan agregat ( terhadap berat kering )
Uraian rumus koreksi cara eksak ( berdasarkan definisi % resapan air dan
% kadar air ) :
BL (W% x BL) = BK

BL = BK + W% x BL

( 1 W% ) x BL = BK
BK
BL =

.. ......(a)
1- W%

BK = SSD - R % x BK

BK + (R % x BK) = BSSD
( 1 + R % ) x BK = BSSD

BSDD
BK =
. . .. . . . . . . ( b )
(1+R%)
dengan menggunakan persamaan ( a ) dan ( b ) diperoleh :

BSSD

BL =
(1+R%)x(1W%)

Dengan memakai index

p untuk pasir dan index k untuk kerikil maka

diperoleh rumusan koreksi secara eksak :


Berat koreksi pasir ( p )
BSSDp
BLp =

(kg/m ) beton
(1 + Rp %) x (1 Wp %)

Berat koreksi kerikil ( k )


BSSDk
BLk =
Laboratorium Eco Material

(kg/m ) beton
51

(1 + Rk %) x (1 Wk %)
sehingga berat komponen beton setelah dikoreksi (kg/m ) adalah :
Semen

= Ws

Pasir

= BLp

Kerikil

= BLk

Air

= Kadar air bebas + ( A BLp ) + ( B BLk)

Berat komponen diatas merupakan takaran berat, untuk pelaksanaan


dilapangan dibagi dengan masing- masing berat volumenya akan diperoleh
takaran volume.

2. Koreksi cara pendekatan ( estimate )


Koreksi ini berdasarkan nilai pendekatan (estimate), karena pengertian
defenisi resapan & kadar air berorientasi berat lapangan. Koreksi tersebut
adalah dalam (kg/m ) beton :
Semen

= Ws

Pasir

= BLp = A (Rp % - Wp %) x A/100

Kerikil

= BLk = B (Rk % - Wk %) x B/100

A i r

= Kadar air bebas + (A BLp)+(B BLk)

A dan B masing merupakan berat SSD dari pasir dan kerikil.

Laboratorium Eco Material

52

PERANCANGAN CAMPURAN BETON


ACI COMMITTEE 211
The

American

Concrete

Institute

(ACI)

menyarankan

suatu

cara

perancangan campuran yang memperhatikan nilai ekonomi, bahan yang tersedia,


kemudahan pengerjaan, keawetan serta kekuatan yang diinginkan. Cara ACI ini
melihat kenyataan bahwa pada ukuran maksimum agregat tertenttu, jumlah air per
meter kubik adukan menentukan tingkat konsistensi/kekentalan (slump) adukan.
Secara garis besar, urutan langkah perancangan sebagai berikut:
1. Pemilihan angka slump
Jika nilai slump tidak ditentukan dalam spesifikasi , maka nilai slump dapat
dipilih dari tabel 7. berikut untuk berbagai jenis pengerjaan konstruksi.
Tabel 7. Nilai slump yang disarankan untuk berbagai jenis pengerjaan
konstruksi.
Jenis Konstruksi
Dinding pondasi, footing, sumuran, dinding basemen

Slump (mm)
Maksimum Minimum
75
25

Dinding dan balok

100

25

Kolom

100

25

Perkerasan dan lantai

75

25

Beton dalam jumlah yang besar (seperti dam)

50

25

2. Pemilihan ukuran maksimum agregat kasar


Untuk volume agregat yang sama, penggunaan agregat dengan gradasi yang
baik dan dengan ukuran maksimum yang besar akan menghasilkan rongga
yang lebih sedikit daripada penggunaan agregat dengan ukuran maksimum
agregat yang lebih kecil. Hal ini akan mengakibatkan penurunan kebutuhan
mortar dalam setiap satuan volume beton.
Dasar pemilihan ukuran agregat maksimum biasanya dikaitkan dengan
dimensi daripada struktur. Sebagai contoh:
D d/5
D h/3
D 3/4C
Laboratorium Eco Material

53

Dimana : D = ukuran maksimum agregat


d = lebar terkecil diantara 2 tepi bekisting
h = tebal plat lantai
C = jarak bersih antar tulangan
3. Estimasi kebutuhan air pencampur dan kandungan udara
Jumlah air pencampur persatuan volume betonyang dibutuhkan untuk
menghasilkan nilai slump tertentu sangat tergantung pada ukuran maksimum
agregat, bentuk serta gradasi agregat dan juga pada jumlah kebutuhan
kandungan udara pada campuran.
Jumlah air yang dibutuhkan tersebut tidak banyak terpengaruh oleh jumlah
kandungan semen dalam campuran. Tabel 8. memperlihatkan informasi
mengenai kebutuhan air pencampur untuk berbagai nilai slump dan ukuran
maksimum agregat.
Tabel 8. Kebutuhan air pencampur dan udara untuk berbagai nilai slump dan
ukuran maksimum agregat.
3

Jenis Beton

Slump
(mm)

25-50
75-100
150-175
udara yg
tersekap,%
25-50
75-100
Dengan
150-175
penambahan kandungan
udara
udara yg
disarankan,
%
Tanpa
penambahan
udara

Air (kg/m )
10 mm

12.5
mm

20 mm

25 mm

40 mm

50 mm

75 mm

205
225
240
3

200
215
230
2.5

185
200
210
2

180
190
200
1.5

160
175
185
1

155
170
175
0.5

140
155
170
0.3

180
200
215
8

175
190
205
7

165
180
190
6

160
175
180
5

150
160
170
4.5

140
155
165
4

135
150
160
3.5

4. Pemilihan perbandingan air-semen


Untuk ratio air-semen yang sama, kuat tekan beton dipengaruhi oleh jenis
agregat dan semen yang digunakan. Oleh karena itu hubungan ratio air semen
dan kekuatan beton yang dihasilkan seharusnya dikembangkan berdasarkan
material yang sebenarnya akan digunakan dalam pencampuran. Terlepas dari
hal di atas. Tabel 9. berikut bisa dijadikan pegangan dalam pemilihan nilai
perbandingan air semen.
Laboratorium Eco Material

54

Tabel 9. Hubungan ratio air-semen dan kuat tekan beton.


Kuat tekan beton
umur 28 hari (Mpa)
48

Ratio air-semen (dalam perbandingan berat


Tanpa penambahan
Dengan
udara
penambahan udara
0.33
-

45

0.38

40

0.43

0.32

35

0.48

0.40

30

0.55

0.46

28

0.57

0.48

25

0.62

0.53

20

0.70

0.61

15

0.80

0.71

Nilai kuat beton yang digunakan pada tabel 9. di atas adalah nilai kuat tekan
beton rata-rata yang dibutuhkan, yaitu
fm = fc + 1,64 Sd
dimana : fm = nilai kuat tekan beton rata-rata
fc = nilai kuat tekan karakteristik (yang disyaratkan)
Sd = standar deviasi (dapat diambil berdasarkan tabel 13)
5. Perhitungan kandungan semen
Berat semen yang dibutuhkan adalah sama dengan jumlah berat air
pencampur (step 3) dibagi dengan nilai ratio air semen (step 4).
6. Estimasi kandungan agregat kasar
Rancangan

campuran

beton

yang

ekonomis

bisa

didapat

dengan

menggunakan semaksimal mungkin volume agregat kasar (atas dasar berat isi
kering) persatuan volume beton. Data eksperimen menunjukkan bahwa
semakin halus pasir dan semakin besar ukuran maksimum partikel agregat
kasar, semakin banyak volume agregat kasar yang dapat dicampurkan untuk
menghasilkan campuran beton dengan kelecakan yang baik.
Tabel 10. memperlihatkan bahwa derajat kelecakan tertentu, volume agregat
kasar yang dibutuhkan persatuan volume beton adalah fungsi daripada ukuran
maksimum agregat kasar dan modulus kehalusan agregat halus.

Laboratorium Eco Material

55

Berdasarkan tabel 10., volume agregat (dalam satuan m3) per 1 m3 beton
adalah sama dengan fraksi volume yang didapat dari tabel 10. Volume ini
kemudian dikonversikan menjadi berat kering agregat

kasar dengan

mengalikannya dengan berat isi kering dari agregat yang dimaksud.

Tabel 10. Agregat kasar persatuan volume beton untuk beton dengan slump
75-100 mm.
Ukuran
maksimum
agregat kasar
(mm)
10

Volume agregat kasar per satuan volume beton


untuk berbagai nilai modulus kehalusan pasir
2.40

2.60

2.80

3.00

0.50

0.48

0.46

0.44

12.5

0.59

0.57

0.55

0.53

20

0.66

0.64

0.62

0.60

25

0.71

0.69

0.67

0.65

40

0.75

0.73

0.71

0.69

50

0.78

0.76

0.74

0.72

75

0.82

0.80

0.78

0.76

100

0.87

0.85

0.83

0.81

Tabel 11. Faktor koreksi Tabel 10. untuk nilai slump yang berbeda
Slump

Faktor koreksi untuk berbagai ukuran maksimum agregat

(mm)

10 mm

12.5 mm

20 mm

25 mm

40 mm

25-50

1.08

1.06

1.04

1.06

1.09

75-100

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

150-175

0.97

0.98

1.00

1.00

1.00

7. Estimasi kandungan agregat halus


Setelah menyelesaikan step 6, semua ingridien beton yang dibutuhkan telah
diestimasi kecuali agregat halus. Jumlah pasir yang dibutuhkan dapat dihitung
dengan 2 cara, yaitu:
a. cara perhitungan berat
b. cara perhitungan volume absolut
Laboratorium Eco Material

56

Berdasarkan perhitungan berat, jika berat jenis beton normal diketahui


berdasarkan pengalaman yang lalu, maka berat pasir yang dibutuhkan adalah
perbedaan antara berat jenis beton dengan berat total air, semen dan agregat
kasar persatuan volume beton yang telah diestimasi dari perhitungan pada
step-step sebelumnya.

Tabel 12. Estimasi awal untuk berat jenis beton segar


Ukuran maksimum
agregat (mm)
10

Estimasi awal berat jenis beton (kg/m3)


Tanpa penambahan
Dengan penambahan
udara
udara
2285
2190

12.5

2315

2235

20

2355

2280

25

2375

2315

40

2420

2355

50

2445

2375

75

2465

2400

150

2505

2435

Tabel 13. Klasifikasi standar deviasi untuk berbagai kondisi pengerjaan


Kondisi pengerjaan

Standar deviasi (Mpa)


Lapangan

Laboratorium

Sempurna

<3

< 1.5

Sangat baik

3-3.5

1.5-1.75

Baik

3.5-4

1.75-2

Cukup

4-5

2-2.5

Kurang baik

>5

> 2.5

8. Koreksi kandungan air pada agregat


Pada umumnya, stok agregat dilapangan tidak berada dalam kondisi jenuh dan
kering permukaan (SSD). Tanpa adanya koreksi kadar air, harga ratio air
semen yang diperoleh bisa lebih besar bahkan lebih kecil dari harga yang telah
ditentukan berdasarkan step 4 dan berat SSD agregat (kondisi jenuh dan
Laboratorium Eco Material

57

kering permukaan) menjadi lebih kecil atau lebih besar dari harga estimasi
pada step 6 dan 7.
Urutan rancangan beton step 1 sampai 7 dilakukan berdasarkan kondisi
agregat yang SSD. Oleh karena itu, untuk trial mix, air pencampur yang
dibutuhkan dalam campuran bisa diperbesar atau diperkecil tergantung
dengan kandungan air bebas pada agregat. Sebaliknya, untuk mengimbangi
perubahan air tersebut, jumlah agregat harus diperkecil atau diperbesar.

9. Trial mix
Karena banyaknya asumsi yang digunakan dalam mendapatkan proporsi
campuran beton di atas, maka perlu dilakukan trial mix skala kecil di
laboratorium. Hal-hal yang perlu diuji dalam trial mix ini adalah:
-

Nilai slump

Kelecakan dan segregasi

Kandungan udara

Kekuatan pada umur-umur tertentu

Contoh perancangan campuran beton


Karakteristik material yang digunakan

Modulus kehalusan

Agregat halus

Agregat kasar

Semen

Berat relatif

2.68

2.75

3.15

Berat isi (kg/lt)

1.696

1.339

Peresapan %

1.836

2.3

Laboratorium Eco Material

58

Rancangan campuran beton normal fc = 350 kg/cm2 menurut ACI


No.

Uraian

Tabel/Grafik

Nilai

350 kg/cm2

Kuat tekan yang disyaratkan

Standar deviasi

Tabel 13

25 kg/cm2

Nilai tambah

K = 1.34

1.34x25 kg/cm2

Kuat tekan yang hendak dicapai

(1) + (3)

383.5 kg/cm2

Jenis semen

Ditentukan

Tipe I

Jenis agregat kasar

Batu pecah

Jenis agregat halus

Alami

Slump

Tabel 7

2.5-5.0 cm

Ukuran agregat maksimum

Ditentukan

25 mm

10

Kadar air bebas

Tabel 8

175 kg/m3

11

Faktor air semen bebas

Tabel 9

0.45

12

Jumlah semen

(10) : (11)

389 kg/m3

13

Volume agregat kasar

Tabel 10

0.71

14

Faktor koreksi

Tabel 11

1.08

15

Berat agregat kasar yg dibutuhkan

(13)x(14)x berat isi

1027 kg/m3

16

Volume air

(10) : BJ air

0.175

17

Volume semen

(12) : BJ semen

0.1235

18

Volume agregat kasar

(15) : BJ batu

0.3735

19

Volume udara

Tabel 8

0.015

20

Volume agregat halus

1-(16)-(17)-(18)-(15)

0.313

21

Berat agregat halus yg dibutuhkan

(20)x BJ pasir

839 kg/m3

22

Berat jenis beton

(10)+(12)+(15)+(21)

2430 kg/m3

Laboratorium Eco Material

59