Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit hidronefrosis adalah suatu penyakit yang sering dalam gangguan system
urinaria atau system perkemihan. Hidronefrosis adalah adalah dilatasi piala dan perifer
ginjal pada satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin
menyebabkan urin mengalir balik sehingga tekanan diginjal meningkat atau dapat
didefinisikan pula sebagai obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih
dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter yang
dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal. Penyakit ini dapat membuat
tubuh klien yang sangat tidak nyaman dan terdapat edema. Penyusunan asuhan
keperawatan ini kami susun agar lebih dapat menjadi bahan pembelajaran yang
berkelanjutan bagi proses belajar mengajar.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana konsep penyakit pada penyakit hidronefrosis?
b. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan pada penyakit hidronefrosis?
C. Tujuan
a. Mengetahui konsep penyakit pada penyakit hidronefrosis
b. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada penyakit hidronefrosis

1 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal
akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik
sehingga tekanan diginjal meningkat (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih
dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter
yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal (Sylvia, 1995).
Apabila obstruksi ini terjadi di ureter atau kandung kemih, tekanan balik akan
mempengaruhi kedua ginjal tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat
adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal yang rusak.
Hidronefrosis adalah penggelembungan ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal
karena aliran air kemih tersumbat. Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari
ginjal dengan tekanan yang sangat rendah.
Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam
tabung-tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat
pengumpulan air kemih (perlvis renalis). Hal ini aka menyebabkan ginjal
menggelembung dan menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhirnya tekanan
hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara
perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
2. Etiologi
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan
ureterpelvik (sambungan antara ureter dan pelvis renalis).
a. Kelainan structural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis terlalu
tinggi
b. Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah
c. Batu di dalam pelvis renalis
d. Penekanan pada ureter oleh :
1) Jaringan fibrosa
2) Arteri atau vena yang letaknya abnormal
3) Tumor
2 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan di bawah sambungan


ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih :
a. Batu di dalam uereter
b. Tumor di dalam atau di dekat uereter
c. Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran
atau pembedahan, rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid)
d. Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih)
e. Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul
lainnya
f. Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretra
akibat pembesaran prostat, peradangan, atau kanker
g. Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera
h. Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangi
kontraksi ureter
Terkadang hidronefrosis terjadi selama kehamilan karena pembesaran rahim
menekan ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk keadaan ini karena
mengurangi kontraksi ureter yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung
kemih. Hidronefrosis akan berakhir bila kehamilan berakhir, meskipun sesudahnya
pelvis renalis dan ureter mungkin tetap agak melebar.
Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot
ritmis yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa
lalu akan menggantikan kedudukan jaringan otot yang normal di dinding ureter
sehingga terjadi kerusakan yang menetap. (Smeltzer dan Bare, 2002).
3. Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala dari penyakit hidronefrosis ini ialah klien akan
merasakan Rasa sakit dipanggul dan punggung, Disuria, Menggigil, Demam, Nyeri
tekan, Piuria, Hematuria.
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi akut
dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi infeksi maka
disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan
piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal
kronik akan muncul, seperti:
a. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).
b. Gagal jantung kongestif.
c. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).
d. Pruritis (gatal kulit).
3 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

e.
f.
g.
h.

Butiran uremik (kristal urea pada kulit).


Anoreksia, mual, muntah, cegukan.
Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.
Amenore, atrofi testikuler
(Smeltzer dan Bare, 2002).
Gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi penyumbatan serta
lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (hidronefrosis akut),
biasanya akan menyebabkan kolik renalis (nyeri yang luar biasa di daerah antara
tulang rusuk dan tulang panggul) pada sisi ginjal yang terkena.
Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis), bisa tidak
menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang
pinggul. Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis
atau karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah.
Air kemih dari 10% penderita mengandung darah. Sering ditemukan infeksi
saluran kemih (terdapat nanah di dalam air kemih), demam dan rasa nyeri di daerah
kandung kemih atau ginjal. Jika aliran air kemih tersumbat, bisa terbentuk batu
(kalkulus).
Hidronefrosis bisa menimbulkan gejala saluran pencernaan yang samar-samar,
seperti mual, muntah dan nyeri perut. Gejala ini kadang terjadi pada penderita anakanak akibat cacat bawaan , dimana sambungan ureteropelvik terlalu sempit. Jika tidak
diobati, pada akhirnya hidronefrosis akan menyebabkan kerusakan ginjal dan bisa
terjadi gagal ginjal.
4. Patofisiologi
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga
tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih,
tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah
satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak.
Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk
di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya. Obstruksi dapat
diakibatkan oleh tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses
atau inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut. Gangguan dapat sebagai
akibat dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang
menyebabkan ureter berpilin atau kaku. Pada pria lansia , penyebab tersering adalah

4 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

obstruksi uretra pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis
juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus.
Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan
distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu
ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar
secara bertahap (hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu.
5. Pathway
Terlampir

6. Komplikasi
Menurut Kimberly (2011) penyakit hidronefrosis dapat menyebabkan komplikasi
sebagai berikut:
a. Batu ginjal
b. Sepsis
c. Hipertensi renovaskuler
d. Nefropati obstruktif
e. Infeksi
f. Pielonefritis
g. Ileus paralitik
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Urinalisis. Pyura menunjukkan adanya infeksi. Hematuria mikroskopik
dapat menunjukkan adanya batu atau tumor.
Hitung jumlah sel darah lengkap: leukositosis mungkin menunjukkan
infeksi akut. Kimia serum: hidronefrosis bilateral dan hidroureter dapat
mengakibatkan peningkatan kadar BUN dan kreatinin. Selain itu, hiperkalemia
dapat menjadi kondisi yang mengancam kehidupan.
b. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi adalah metode yang cepat, murah, dan cukup akurat untuk
mendeteksi hidronefrosis dan hidroureter, namun, akurasi dapat bergantung pada
pengguna. Ultrasonografi umumnya berfungsi sebagai tes skrining pilihan untuk
menetapkan diagnosis dan hidronefrosis.
c. Pyelography Intravena (IVP)
Pyelography intravena berguna untuk mengidentifikasi keberadaan dan
penyebab hidronefrosis dan hidroureter. Intraluminal merupakan penyebab paling
mudah yang dapat diidentifikasi berdasarkan temuan IVP.
5 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

d. CT Scan
CT Scan memiliki peran penting dalam evaluasi hidronefrosis dan
hidroureter. Proses retroperitoneal menyebabkan obstruksi ekstrinsik dari ureter
dan kandung kemih dapat dievaluasi dengan sangat baik pada CT Scan.
8. Prognosis
Pembedahan pada hidronerosis biasanya berhasil jika infeksi dapat dikendalikan
dan ginjal berfungsi dengan baik.
9. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaannya adalah untuk mengidentifikasi dan memperbaiki
penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan serta
melindungi fungsi ginjal
a. Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau
tipe divertasi lainnya.
b. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan
menyebabkan infeksi dan pielonefritis.
c. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor,
obstruksi ureter).
d. Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan fungsinya hancur jalan satu-satunya
adalah nefrektomi (pengangkatan ginjal).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengumpulan Data
a. Identitas
Meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal masuk
RS, alamat, suku, nomor register, diagnose medis.
b. Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan pasien biasanya nyeri pada daerah perut bagian
bawah tembus pinggang
6 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

c.

Riwayat penyakit sekarang


Bagaimana

serangan

itu

timbul,

lokasi,

kualitas,

factor

yang

mempengaruhi/memperberat keluhan sehingga di bawa ke RS


d. Riwayat penyakit dahulu
Yang perlu dikaji pasien pernah menderita penyakit yang sama atau penyakit
yang berkenaan dengan saluran perkemihan ataupun penyakit lainnya
e. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien atau tidak
atau penyakit menurun atau menular lainnya.
f. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Tanggapan pasien mengenai kesehatan dan kalau sakit di bawa kemana,
pemakaian obat-obatan di beli dari apotik atau took sesuai dengan resep

dokter

2) Pola nutrisi dan metabolisme


Meliputi keteraturan makan pasien dan pasien biasanya mengalami gangguan
kebutuhan nutrisi karena merasa mual
3) Pola aktivitas
Pasien biasanya membatasi gerakan karena merasa nyeri pada perut bawah
dan pinggang
4) Pola persepsi dan kognitif
Mengenai persepsi pasen tentang penyakit yag menimpanya dan sejauh mana
pasien mengetahui penyakit dan kesehatannya
5) Pola tidur dan istirahat

7 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

Biasanya pasien mengalami kesulitan dalam pemenuha kebutuhan tidur karena


nyeri yang timbul dan rasa cemas atas apa yang diderita
6) Pola persepsi diri
Adanya perasaan cemas, takut da khawatir dengan apa yang akan dijalaninya
7) Mekanisme koping
Cara dalam mengatasi suatu masalah yang dihadapi dan dengan bantuan siapa
saja pasien mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
8) Pola eliminasi
Biasanya BAB tidak mengalami gangguan dan ada kemungkinan BAK
terganggu
9) Pola reproduksi dan seksual
Menikah atau tidak serta jumlah anak
10) Pola Hubungan dan peran
Hubungan biasanya tidak mengalami gangguan
Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Meliputi keadaan umum px seperti kesadarannya, tanda-tanda fisik dan BAK
b. Kepala dan Leher
Tidak mengalami gangguan
c. Dada dan abdomen
Meliputi bentuk, nyeri tekan pada abdomen
d. Sistem respirasi
Pernafasan beberapa kali dalam 1 menit, ada atau tidak retraksi otot dan bantu
pernafasan, suara nafas tambahan
Sistem kardiovaskuler
Biasanya tidak mengalami gangguan
f. Sistem perkemihan
Meliputi adanya gangguan : keterbatasan aktivitas akibat nyeri yang timbul
g. Sistem pencernaan
Meliputi adanya mual, muntah
h. Sistem Muskuloskeletal
Meliputi adanya gangguan pada pergerakan tubuh
e.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan obstruksi akut
b. Gangguan Keseimbangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan
c. Intoleransi aktivitas behubungan dengan kelemahan dan keletihan
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah
8 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyebab


hidronefrosis
3. Intervensi

No
1.

Tujuan & Kriteria Hasil


Setelah

Rencana Keperawatan

tindakan Mandiri :
1. Catat lokasi, lamanya
keperawatan ...x 24 jam
intensitas skala (0-10) dan
diharapkan nyeri pasien dapat
penyebaran.
terkontrol
dengan
criteria
2.Berikan
tindakan
hasil :
nyaman, contoh pijatan
a. Pasien tampak rileks
b. Pasien mengungkapkan punggung, lingkungan

Rasional

dilakukan

rasa

1.Membantu
mengevaluasi

tempat

obstruksi.
2.Meningkatkan
relaksasi, menurunkan
tegangan

otot,

dan

nyeri

berkurang istirahat
meningkatkan koping
3.Bantu/dorong
dengan
skala
0-3
3.Mengarahkan
penggunaan
nafas
dengan
rentang
kembali perhatian dan
berfokus,
bimbingan
nyeridari 0-10
membantu
dalam
imajinasi da aktivitas
relaksasi otot
terapeutik
Health Education :
4. Jelaskan penyebab nyeri
4.
Memberikan
dan
pentingnya
kesempatan
untuk
melaporkan
ke
staf
pemberian
analgesi
terhadap
perubahan
sesuai
waktu
kejadian/karakterisitik
(membantu
dalam
nyeri
meningkatkan
kemampuan
pasien

dan

koping
dapat

menurunkan ansietas)
Kolaborasi :
da mewaspadakan staf
5. Berikan obat sesuai
akan
kemungkinan
indikasi :
Antispasmodik,
contoh lewatnya batu / terjadi
9 | STIKes Wira Medika PPNI Bali

flavoksat,

Oksibutin komplikasi.

(Ditropan)
6. Berikan kompres hangat
pada punggung

5.

enurunkan

spasme

reflex
dapat

menurunkan kolik dan


nyeri
6.

Menghilangkan

tegangan otot dan dapat


menurunkan

reflex

spasme
2

Setelah

dilakukan

tindakan Mandiri :
1. Tingkatkan pemasukan
keperawatan
...x24
jam
cairan sampai 3-4 L/hari
diharapkan
tidak
terjadi
dalam toleransi jantung
gangguan
volume
cairan,
2. Timbang berat badan
dengan criteria hasil :
tiap hari
a. Pasien dapat berkemih

1.

Mempertahankan

keseimbangan

cairan

untuk homeostasis
2. Peningkatan berat
badan

yang

cepat

mungkin berhubungan

dengan jumlah normal

Observasi :
dengan retensi
dan pola biasanya
3. Awasi pemasukan dan
b. Pasien
tidak
3.
Membandingkan
pengeluaran
mengalami
tanda
keluaran actual dan
obstruksi
yang
diantisipasi
4. Awasi tanda vital.
membantu
dalam
Evaluasi nadi, pengisian
evaluasi adanya/derajat
kapilar, turgor kulit, dan
stasis/kerusakan ginjal
membrane mukosa
4. Indikator hidrasi
Kolaborasi :
5. Berikan obat sesuai /volume sirkulasi dan
indikasi

contoh
(Compazin)
3

Setelah

dilakukan

tindakan Mandiri :
1. Berikan

antiemetic, kebutuhan intervensi


prokolperazin

5.

Menurunkan

mual/muntah
lingkungan 1. Menghemat energy

10 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

keperawatan
diharapkan

...x24
pasien

jam tenang

dan

periode untuk

aktivitas

toleran istirahat tanpa gangguan. regenerasi

dan

seluler

terhadap aktivitasnya, dengan Dorong istirahat sebelum penyembuhan jaringan


2.
Memaksimalkan
criteria hasil :
makan
a. Pasien
dapat 2.
Implementasikan sediaan energy untuk
meningkatkan toleransi tekhnik
aktivitas

yang

pengehematan tugas perawatan diri

dapat energy, contoh lebih baik

diukur
b. Pasien

duduk daripada berdiri.


dapat Observasi :
3.
Evaluasi
laporan
berpartisipasi
dalam
kelemahan,
perhatikan
aktivitas
sehari-hari
ketidakmampuan
untuk
sesuai
tingkat
berpartisipasi
dalam
kemampuan
c. Pasien
dapat aktivitas sehari-hari
Kolaborasi :
menunjukkan
4.
Berikan
oksigen
penurunan
tanda
tambahan
fisiologis tidak toleran,

3.

Efek

mungkin

anemia
kumulatif

(khususnya selama fase


pengobatan akut dan
aktif)
4.

Memaksimalkan

sediaan oksigen untuk


kebutuhan seluler

mis nadi, pernapasan,


dan TD masih dalam
batas normal
4

Setelah

dilakukan

tindakan Mandiri :
1. Ukur masa otot melalui
keperawatan
...x24
jam,
lipatan trisep atau prosedur
diharapkan nutrisi pasien dapat
serupa
terpenuhi dengan criteria hasil :
a. Menunjukkan
berat
badan

stabil

peningkatan
tujuan

mencapai

dalam

laboratorium
dan

tak

malnutrisi

ada

nilai

1.

Mengkaji

keadekuatan
penggunaan
melalui

nutrisi
pengukuran

perubahan
2.

Perhatikan

adanya

lemak

yang

normal

adanya/tak

tanda
Berikan

sedikit tapi sering

dapat

memperkirakan

mual/muntah

3.

deposit

makanan

adanya

katabolisme jaringan
2.
Gejala
yang
menyertai

akumulasi

11 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

toksin endogen yang


Observasi :
4.
Awasi

konsumsi

makanan/cairan dan hitung

dapat
mengubah/menurunkan

pemasukan
dan
masukan kalori perhari
Health Education :
memerlukan intervensi
5. Berikan penjelasan 3. Porsi lebih kecil
kepada

pasien

untuk dapat

meningkatka

mempertahankan masukan masukan


makanan harian, termasuk
perkiraan jumlah konsumsi
elektrolit

4.

kekurangan nutrisi atau


kebutuhan terapi
5.

Kolaborasi :
6. Rujuk ke ahli gizi

Mengidentifikasi

Membantu

pasien

untuk menyadari garis


besar

dan

memungkinkan
kesempatan

untuk

mengubah pilihan diet


untuk

memenuhi

keinginan

individu

dalam pembatasan yang


diidentifikasi
6.

Berguna

untuk

program diet individu


untuk

memenuhi

kebutuhan budaya /pola


hidup

meningkatkan

kerja sama pasien


5

Setelah

dilakukan

keperawatan
diharapkan

tindakan Mandiri :
1. Diskusikan program 1.
...x24
jam
obat-obatan, hindari obat diberikan
pasien
dapat

Obat-obatan
untuk

12 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

mengerti tentang penyakitnya, yang dijual bebas dan mengasamkan


dengan criteria hasil :
membaca semua label
a. Pasien
menyatakan
produk / kandungan dalam
pemahaman
proses
makanan
penyakit
b. Pasien
dapat 2. Mendengar dengan aktif
menghubungkan gejala tentang program terapi /
dengan factor penyebab perubahan pola hidup
c. Pasien dapat melakukan
Observasi :
perubahan
perilaku
3. Kaji ulang proses
yang
perlu
dan
penyakit dan harapan masa
berpartisipasi
dalam
dating
program pengobatan
4. Identifikasi tanda/gejala
yang memerlukan evaluasi
medic
berulang,
oliguria

contoh

nyeri

hematuria,

atau

mengalkalikan

urine,

tergantung

pada

penyebab

dasar

pembentukan batu
2. Membantu pasien
bekerja

melalui

perasaan

dan

meningkatkan

rasa

control

apa

terhadap

yang terjadi
3.
Memberikan
pengetahuan

dasar

dimana

dapat

pasien

membuat

pilihan

berdasarkan informasi
4. Dengan peningkatan
kemungkinan
berulangnya

batu,

intervensi segera dapat


mencegah

komplikasi

serius

4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan keperawatan
5. Evaluasi
Dx 1

a. Pasien tampak rileks


b. Pasien mengungkapkan rasa nyeri berkurang dengan skala 0-3 dari
rentang 0-10

Dx 2

a. Pasien dapat berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya


b. Pasien tidak mengalami tanda obstruksi
13 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

Dx 3

a. Pasien dapat meningkatkan toleransi aktivitas yang dapat diukur


b. Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat
kemampuan
c. Pasien dapat menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran,
mis nadi, pernapasan, dan TD masih dalam batas normal

Dx 4

a. Menunjukkan berat badan stabil / peningkatan mencapai tujuan dalam


nilai laboratorium normal dan tak ada tanda malnutrisi

Dx 5

a. Pasien menyatakan pemahaman proses penyakit


b. Pasien dapat menghubungkan gejala dengan factor penyebab
c. Pasien dapat melakukan perubahan perilaku yang perlu dan
berpartisipasi dalam program pengobatan

14 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Hidronefrosis adalah penggelembungan ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal
karena aliran air kemih tersumbat. Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari
ginjal dengan tekanan yang sangat rendah.
Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabungtabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat pengumpulan
air kemih (perlvis renalis). Hal ini aka menyebabkan ginjal menggelembung dan
menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhirnya tekanan hidronefrosis yang
menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan
kehilangan fungsinya.

15 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth.2002. Keperawatan Medical Bedah.Jakarta :EGC


Doenges Marilyn E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC
Heather,H.
Isi rongga
2012.
ususNANDA International Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
meningkat
2012-2014.
Jakarta: EGC
Herdman, T. Heather. 2012. NANDA Diagnosa keperawatan : definisi dan klasifikasi 20122014. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aeus Calpius Medika
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi: 8. Vol: 2. Jakarta:
EGC.
Sylvia & Lorraine.2006.Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Vol. 2.Jakarta :
EGC

16 | S T I K e s W i r a M e d i k a P P N I B a l i